Sad Love Song
Last chapter
Chapter 8: Songs for You
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, OC, alur cepat
.
.
Summary: Sakura gadis miskin bersuara emas bertemu Pemuda Tampan kaya raya yang manja dan kesepian, sebuah lagu membawa mereka ke dalam perasaan yang asing bernama 'cinta'. Banyak rintangan yang harus mereka jalani, namun kenyataan tak semanis perasaan, dan takdir tak semulus keinginan.
.
.
.
-~oOo~-
.
2 tahun kemudian...
"Tuan Sasuke, apakah benar rencananya anda akan syuting untuk album ke-3 anda di Tokyo?" Seorang wartawan dari salah satu stasiun TV menyodorkan alat recorder ke arah seorang Pemuda tampan yang memakai kaca mata hitam.
"Ya." Sasuke hanya menjawab singkat.
"Kapan dan berapa lama anda akan syuting di Tokyo? Kabarnya ini akan menjadi album teranyar, apakah album ini sudah anda rencanakan sejak lama?" Seorang wanita yang ternyata wartawan juga menanyakan perihal album terbaru Sasuke.
"Aku tidak tahu kapan aku berangkat, mungkin 1-2 bulan, ya, mungkin ini akan menjadi album terbaikku, aku sudah menyiapkan konsepnya sejak lama, ini pertama kali aku sendiri yang membuat konsepnya, menciptakan beberapa judul lagunya dan mengaransemennya sendiri." Sasuke menjelaskan dengan nada yang terkesan agak dingin, meskipun ia berbicara agak panjang kali ini.
Para wartawan dan paparazi semakin mengerubungi Sasuke, Kakashi dan beberapa bodyguard lain berpakaian serba hitam secepat kilat membentengi Sasuke, membuka pintu mobil dan mempersilahkan penyanyi muda yang tengah naik daun itu masuk ke dalamnya.
"Kakashi, persiapkan semuanya, besok aku akan pergi ke Tokyo, pastikan media tidak mengetahui keberangkatanku, aku malas meladeni pertanyaan mereka." Sasuke memejamkan matanya, merebahkan kepalanya di atas jok mobil mewahnya.
"Baik Tuan muda." Kakashi kemudian mengambil I-pad nya, melihat jadwal dari Tuan muda nya, ya, kini Kakashi menjadi assisten pribadi Sasuke sekaligus bertanggung jawab pada kemanan dan keselamatan Tuan muda Uchiha itu.
.
.
Sasuke kini tengah berada di bandara internasional Tokyo, ditemani beberapa bodyguard di belakangnya dan kakashi yang setia mendampinginya kemanapun ia pergi
"Hmmmh Tokyo..." Sasuke menghembuskan nafasnya panjang.
Disela-sela Sasuke menikmati udara di Tokyo, Kakashi yang berdiri di belakangnya tiba-tiba menghampiri Tuan muda Uchiha itu. Memberitahukan serentetan jadwal Sasuke selama berada di Tokyo yang telah rapi disusunnya.
"Maaf, Tuan Sasuke, hari ini jadwal anda adalah mengunjungi beberapa lokasi syuting dan menemui produser Jiraiya untuk melakukan pembicaraan tentang konsep dari album anda, setelah itu jadwal anda kosong."
"Hn, lekas berangkat, aku ingin segera berkeliling kota Tokyo, banyak tempat yang ingin ku kunjungi." Sasuke menjawab malas, malas karena hari pertamanya di Tokyo harus diisi lagi dengan rutinitas kerjanya sebagai penyanyi yang tengah populer saat ini, sudah konsekensi profesi yang mau tak mau Sasuke jalani.
Dengan kesibukannya kini, Sasuke dapat melupakan sesuatu, sesuatu yang pernah mencabik hatinya dan sebuah pembuktian untuk kedua orang tuanya bahwa ia ingin diakui, seperti kakaknya, Itachi yang menjadi penerus keluarga Uchiha, kakaknya yang selalu dibangga-banggakan orang tuanya selama ini.
.
"Oh, kau sudah sampai rupanya, Sasuke!" seorang pria paruh baya, berambut putih panjang, agak jabrik menjabat tangan Sasuke antusias.
"Hn, cepat pak tua, aku tak ingin berlama-lama."
"Seprti biasa, kau ini tidak sabaran sekali Sasuke." Jiraiya terkekeh geli.
Sasuke dan Jiraiya melakukan pembicaraan mengenai konsep dari album Sasuke, setting dan model juga tak luput dari pembicaraan mereka.
"Hmm, baiklah, mari kutunjukkan lokasi untuk pengambilan gambar syuting album terbarumu, karena aku sudah menerima dokumen yang kau berikan beberapa waktu lalu mengenai konsep album mu ini, kami berinisiatif untuk menyiapkan beberapa tempat yang kami rekomendasikan, hari ini aku akan menunjukkan setting indoor yang tengah kami kerjakan." Jiraiya mengajak Sasuke mengunjungi lokasi syuting indoor yang telah disiapkan agency milik Jiraiya, agency yang tak terlalu besar memang, namun kualitasnya cukup bagus. Sasuke sendiri yang memilihnya, ia kenal dekat dengan Jiraiya, bisa dibilang Jiraiya adalah paman dari sahabatnya, Naruto.
Sesampainya di tempat yang dimaksud, Sasuke dan Jiraiya melihat-lihat tahap pengerjaan setting untuk album Sasuke, saat Jiraiya sibuk menjelaskan mengenai setting tempat, Sasuke tak sengaja berpapasan dengan seorang pemuda, pemuda berambut merah, pemuda yang pernah dilihatnya bersama Sakura, pemuda itulah yang telah memeluk Sakura dua tahun lalu.
Sasuke tersenyum sinis sedikit meremehkan, tatapan matanya juga terlihat tajam dan angkuh. Tanpa melewatkan kesempatan berharga ini Sasuke berinisiatif untuk menyapa Pemuda yang telah menyebabkan kesalahpahamannya selama ini terhadap Sakura.
"Cih kau bekerja disini rupanya, ta kusangka bisa bertemu denganmu di Tokyo, ngomong-ngomong dimana kekasihmu itu, ohh, tunggu dulu, bukankah kalian sudah kaya, uang dari ibuku cukup banyak bukan untuk biaya hidup kalian di Tokyo? Aaa..apa jangan-jangan uangnya sudah habis karena setiap hari kalian hambur-hamburkan untuk berpesta." Nada bicara Sasuke sungguh tak enak didengar, terdengar seperti sedang mengintimidasi.
Gaara memperhatikan Sasuke sejenak, ia ingat, Sakura seringkali membaca sebuah majalah yang memuat berita tentang pemuda emo itu, tatapan mata Sakura mendadak sedih ketika melihat gambar seorang pemuda dengan gaya rambut mencuat ke belakang yang tergambar jelas dalam majalah yang dibaca gadis itu, Saat Gaara menanyakannya kepada Sakura, gadis itu hanya bercerita sedikit mengenai Sasuke, saat Gaara ingin menanyakan lebih jauh tentang hubungan antara Sakura dan Sasuke, Sakura hanya diam. Tak salah lagi pemuda yang ada dihadapan Gaara sekarang adalah pemuda yang sama, pemuda yang waktu itu Sakura ceritakan.
Sakura tak pernah menceritakan tentang Sasuke kepada Gaara, Gaara pun tak pernah bertanya kepada Sakura tentang siapa orang yang telah memintanya menjadi partner duet dalam acara ulang tahun sekolah Konoha Art High School.
Gaara tak menggubris perkataan intimidasi yang dilontarkan Sasuke, ia hanya menatap datar pemuda yang mungkin pernah ada hubungan dengan Sakura.
Ditengah tatapan tajam yang masing-masing dilotarkan Sasuke dan Gaara, tiba-tiba Jiraiya tanpa rasa bersalah menghentikan adegan tersebut. "Gaara-san! Kebetulan sekali kau ada disini." Jiraiya menepuk-nepuk bahu Gaara.
"Ya, ada apa Jiraiya-san?" Gaara menolehkan wajahnya ke arah Jiraiya, mengabaikan Sasuke yang masih menatapnya intens.
Jiraiya memperkenalkan Gaara kepada Sasuke "Perkenalkan, ini Gaara, penanggung jawab setting, ia yang menangani setting indoor maupun outdoor syuting album mu selama kau berada di Tokyo, Sasuke, mungkin kau akan banyak bersama dengan Gaara, kalian harus menjalin komunikasi dengan baik, agar syuting album ini berjalan lancar."
"Ck! Apa tak ada orang lain Jii-san, aku malas bekerja sama dengan orang ini, melihat mukanya saja aku sudah muak." Sasuke kembali menatap tajam Gaara yang ekspresi mukanya tetap terlihat datar.
Jiraiya berusaha membujuk Sasuke, dia tak ingin kehilangan proyek besar ini. "Di agency ku, Gaara lah, satu-satunya orang yang sangat ahli dalam bidang ini, kau pasti puas dengan hasil kerjanya nanti, kalau aku harus mencari orang lain lagi, entah berapa lama aku akan menemukannya, kau tak ingin syutingnya tertunda bukan?"
Sasuke sangat kesal dengan dengan keputusan Jiraiya, bekerja sama dengan si kepala merah ini? Hah, jangan bercanda, atas dasar ingin menghormati paman tua yang satu ini dan Sasuke tak ingin menunda-nunda syuting albumnya, ia akhirnya menerima keputusan Jiraiya.
"Hn, apa boleh buat, aku setuju karena kau adalah paman si dobe, aku tak enak kalau aku harus ganti agency untuk album ini." Sasuke menyetujui perkataan Jiraiya dengan berat hati.
"Bagus, kau memang anak baik Uchiha, ha ha ha." Jiraiya tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Sasuke.
"Berhubung kalian baru saja kenal, dan hubungan kalian sedikit kurang akrab, bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu, ah Gaara-san, bagaimana kalu ngobrol di rumahmu, rumahmu kan hanya beberapa blok dari sini, setuju tidak?" Jiraiya meminta izin kepada Gaara.
"Aku tak sudi paman! Kenapa tidak di cafe saja sih, bukankah lebih nyaman?" Sasuke menggerutu kesal, tak setuju dengan usulan Jiraiya.
"Kau ini, tampaknya kau sangat tak menyukai Gaara, aku curiga, apa kalian sudah kenal sebelum ini?" Jiraiya mengurut-urut dagunya, terlihat bingung dengan tingkah Sasuke yang terlalu terlihat emosi sejak bertemu Gaara, berbeda dengan Gaara yang tak menampilkan ekspresi apapun.
"Bukan urusanmu Jii-san, aku hanya tak suka dengan orang ini." Jawab Sasuke masih dengan nada bicaranya yang terdengar kesal.
Gaara kembali bersuara, semenjak dirinya hanya terdiam mendengarkan perdebatan antara Sasuke dan Jiraiya. "Mungkin lain kali saja Jiraiya-san, lagipula aku masih banyak pekerjaan lain yang harus kukerjakan bersama crew-crew lainnya, aku permisi dulu, Jiraiya-san, Sasuke-san." Gaara membungkuk hormat kemudian pergi meninggalkan Jiraiya dan Sasuke.
"Hah! Sudahlah, aku mau jalan-jalan dulu sebentar." Sasuke berjalan ke arah pintu keluar meninggalkan Jiraiya yang masih setia berdiri di tempat.
"Hei! Hei! Kalian ini sungguh tidak sopan, ku ajak ngobrol malah pergi seenaknya, dasar anak muda jaman sekarang, tidak menghargai orang tua." Jiraiya marah-marah sendiri, ia tidak sadar banyak crew yang terkikik kecil menertawakan tingkahnya yang seperti anak-anak.
.
"Hari ini aku ingin jalan-jalan, jangan mengikutiku Kakashi." Sasuke memerintahkan Kakashi, seolah tak ingin diganggu oleh keberadaan asisten pribadinya yang selalu mengikutinya kemanapun ia pergi.
"Ta-tapi Tuan muda." Kedua matanya sedikit menampilkan raut kecemasan, cemas kalau terjadi apa-apa pada Tuan mudanya.
"Kau tak perlu khawatir Kakashi, aku bisa menjaga diriku, lagipula aku akan menyamar, mustahil ada orang yang mengenaliku."
Sasuke bersiap-siap melakukan aksi penyamarannya, pemuda berambut raven itu mengenakan topi rajut berwarna biru gelap untuk menutupi rambut pantat ayamnya, mengenakan kacamata dengan bingkai yang cukup besar, bertengger manis di hidung mancungnya, tak lupa menggunakan softlens berwarna biru sapphire, menggunakan syal berwarna hijau tua dan jaket tebal mengingat ini adalah musim dingin.
"Tak usah mengantarku, aku akan menghubungimu nanti." Sasuke beranjak dari hotel tempatnya menginap selama berada di Tokyo.
Kakashi bangkit kemudian membungkukan badannya. "Baiklah, Jaga diri anda tuan Sasuke."
"Hn"
.
Setelah berjalan beberapa blok, Sasuke menemukan sebuah halte bis, ia pikir tak ada salahnya berjalan-jalan menggunakan alat transportasi yang satu ini. Setelah perjalanan yang cukup jauh dari hotel dimana tempatnya menginap, Sasuke berniat mampir di sebuah cafe, sekedar menghilangkan rasa dingin dengan meminum secangkir kopi panas. Belum sempat Sasuke tiba di tempat tujuan, tiba-tiba seseorang menabraknya, cukup keras hingga Sasuke sedikit oleng karena sempat kehilangan kendali atas keseimbangan tubuhnya.
Bukannya meminta maaf orang yang barusan menabrak Sasuke malah pergi berlari entah kemana.
Alih-alih tak mempedulikan kejadian tadi, Sasuke dengan cuek melangkah pergi, melanjutkan perjalanan ke tempat tujuannya.
Sasuke tiba di sebuah cafe yang tak terlalu ramai pengunjungnya, ia memesan espresso seperti biasa, pahit, tanpa gula. Setelah selesai Sasuke memanggil seorang pelayan cafe tersebut, hendak membayar espresso yang tadi dipesannya, ketika ia merogoh saku jaketnya, ia menyadari ada sesuatu yang salah telah terjadi di sini.
'Ck! Kuso! Dompet dan ponselku hilang, pasti ini ulah orang yang tadi menabrakku.' Sasuke membatin kesal, menyadari kelengahannya.
Ditengah kebingungan yang melanda Sasuke, ia tak mungkin kembali ke hotel dengan berjalan kaki dan ia tak dapat menghubungi Kakashi karena ia tak hafal nomor ponsel Kakashi. Uchiha Sasuke yang terkenal jenius itu menyadari kebodohannya sekarang.
"Bagaimana Tuan?" Sang pelayan bertanya kepada pemuda raven yang tak kunjung membayar pesanannya.
Sasuke mau tak mau mendongak dan menatap pelayan yang sempat diabaikannya, pada saat yang bersamaan ketika melihat kearah pelayan, Sasuke melihat seorang pemuda berambut merah berjalan memasuki cafe tersebut. Tanpa berfikir panjang Sasuke berjalan menghampiri pemuda tersebut, merangkulnya sok akrab, sedangkan pemuda berambut merah tersebut hanya sedikit kaget dengan perlakuan pemuda asing yang dengan seenaknya merangkulnya.
"Gaara, tolong bayar pesananku ya, aku lupa membawa uang." Sasuke tersenyum kikuk, senyum yang terlihat sangat dipaksakan, baik Gaara dan pelayan yang melihat senyum Sasuke pun hanya tersenyum aneh. Sasuke mendekatkan wajahnya, berbisik pelan ke arah telinga kanan Gaara. "Ini aku, Sasuke, aku sedang menyamar."
Gaara hanya mengangguk singkat, kemudian menyodorkan beberapa lembar uang untuk membayar espresso yang tadi dipesan Sasuke.
.
"Arigatou, mau membayarkan minumanku, nanti ku ganti uangmu." Sasuke berbicara dingin seperti biasa, kembali ke sifat aslinya.
"Hn, tak perlu, ngomong-ngomong kenapa kau ada disini?" Gaara berbicara tanpa berniat mengalihkan pandangannya ke arah pemuda raven yang kini berjalan disebelahnya.
"Aku hanya iseng jalan-jalan."
"Mau mampir sebentar? Apartemenku hanya beberapa blok dari sini."
"Hn, baiklah kalau kau memaksa."
Sasuke dan Gaara berjalan menuju ke kediaman Gaara, sebenarnya Sasuke agak kesal dan risih karena tindakan bodohnya meminta bantuan kepada Gaara, apa boleh buat, siapa suruh Gaara muncul di cafe tadi, spontan saja Sasuke meminta bantuan Gaara, satu-satunya orang yang dikenalnya di cafe itu, ia tak mau merusak wajah tampannya ataupun melakukan pekerjaan rendahan seperti mencuci piring jika ia tak membayar kopi pesanannya itu.
.
Sasuke melepaskan topi rajutnya dan mencopot softlens yang mulai terasa perih dimata, memperlihatkan wujud asli sang pemuda yang memiliki helaian raven dan mata onyx yang tajam.
"Sepi sekali, mana pacarmu itu? Bukankah kalian tinggal bersama?" Bukannya berterima kasih karena Gaara mempersilahkannya singgah sebentar di apartemennya, pemuda raven yang kini duduk manis di sofa merah marun itu malah mengajukan pertanyaan penuh selidik yang terkesan mengintimidasi sang empunya apartemen.
Gaara yang kini berhadapan dengan Sasuke mau tak mau sedikit tertohok dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan pemuda raven di depannya, terlihat dari ekspresi wajah Gaara yang sedikit berubah, rahangnya mengeras dan mata jade-nya sedikit membesar, tangannya mengepal kuat di bawah sana, perasaan nyeri tiba-tiba datang. Mencoba bersikap tenang, Gaara tak mau mempermasalahkan pertanyaan Sasuke.
"Maksudmu apa?"
"Tak usah pura-pura bodoh Gaara-san, gadis mur—, maksudku Haruno itu?"
Gaara enggan menjelaskan perihal hubungan sebenarnya antara ia dan Sakura, Gaara merasa tak perlu menjelaskan kepada pemuda asing yang baru dikenalnya dua hari itu.
Gaara terdiam cukup lama, tak ubahnya Sasuke, keadaan ini membuat suasana menjadi canggung, tak ingin berlama-lama berdiam dalam suasana ini, Gaara menjawab pertanyaan Sasuke yang belum dijawabnya tadi, sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang pemuda raven didepannya, Gaara banyak berfikir, apakah ia harus jujur atau bohong tentang Sakura.
Dan Gaara akhirnya memilih-
"Sakura belum pulang, mungkin ia masih sibuk di studio musik milik Tsunade baa-san."
-Bohong
Sasuke sedikit tersentak dengan jawaban yang dilontarkan Gaara, 'ini sudah malam, dan si bodoh itu masih bekerja, apa uang yang diberikan Kaa-san nya tak cukup untuk membiayai hidup mereka, si merah ini juga nampaknya tak punya apa-apa. ' Sasuke mengedarkan netranya ke sekeliling apartemen Gaara, meneliti setiap bagian di dalam apartemen sederhana milik Gaara dan Sakura. 'Terlalu sederhana.' Pikir Sasuke dalam hati.
"Ini sudah malam Uchiha-san, apa kau tak berniat kembali ke penginapanmu?" Gaara nampak terlihat malas melihat Sasuke yang masih setia duduk di atas sofanya.
"Hn, dompet dan ponselku hilang, aku tak dapat menghubungi Kakashi, aku juga lupa alamat dan nama hotel tempatku menginap." Sasuke menjelaskan kepada Gaara, memang ia sedikit berbohong tentang alasan nomor dua, tapi dengan begini ia punya alasan untuk menginap di rumah gadis pink dan pemuda merah ini, ia malas kembali ke hotel, lagipula ini sudah malam dan tubuhnya juga lelah, tak ada salahnya menginap di rumah orang yang ia benci. Lagipula ini menyenangkan, ia ingin melihat ekspresi yang akan ditunjukkan Sakura saat mengetahui dirinya menginap di apartemennya.
.
08.00 AM waktu Tokyo
"Aku mau ke tempat Jiraiya Jii-san, mungkin Kakashi ada disana, ia pasti kerepotan mencariku semalam, kau juga mau kesana kan?" Sasuke bersiap-siap pergi tanpa mandi dan sarapan terlebih dahulu, ia terlalu malas melakukannya, ia tak terbiasa sarapan dan mandi di tempat seperti ini, oh ayolah, tak mungkin ada shower yang mengeluarkan air hangat di apartemen sederhana seperti ini.
"Hn, kita akan naik bis." Gaara berbicara sambil bersiap-siap meninggalkan rumah, setelah mengecek apartemen miliknya.
"Ngomong-ngomong, dimana Haruno, kenapa aku tak melihatnya?" Sasuke berbicara dingin, sambil mengulas evil smirk miliknya. Beruntung Gaara tak melihatnya.
Gaara sedikit tersentak, tak disangka Sasuke menanyakan hal itu lagi. Mencoba bersikap tenang Gaara kembali melanjutkan kebohongannya tentang Sakura. "Dia sudah berangkat pagi-pagi sekali, saat kau belum bangun."
Sasuke sedikit merasa aneh, semalam ia menginap di apartemen milik Gaara, apartemen itu hanya memiliki dua kamar, baik Sasuke dan Gaara tidur di kamar terpisah, apa mungkin Sakura tidur seranjang dengan Gaara.
Satu kesimpulan di benak Sasuke
'Dasar gadis murahan.'
.
Sekarang Sasuke sedang menjalani proses syuting hari pertama untuk album ketiganya di Tokyo, mengambil setting di tempat outdoor sedikit membuatnya kewalahan, apalagi ditengah cuaca musim dingin seperti ini, tentu tak mudah baginya.
"Kakashi, cepat kau urus kartu-kartu yang hilang di dompetku, dan juga belikan ponsel baru untukku, pokoknya kau urus sajalah apa saja yang dibutuhkan. Maaf semalam aku tak menghubungimu, ponsel dan dompetku hilang, aku lupa nomor ponselmu."
Kakashi tak mempermasalahkan kejadian yang dialami Sasuke, ia pikir tuan-nya hanya membutuhkan waktu untuk bersenang-senang, tanpa banyak bertanya Kakashi mengiyakan perintah Sasuke. "Baik Tuan muda."
.
"Yo Sasuke, bagaimana kalau kita minum-minum? Kau pasti lelah kan karena menjalani proses syuting tadi, ayolah Sasuke, kemarin kau menolah tawaranku, kuharap kau tak menolaknya lagi kali ini" Jiraiya sang produser sekaligus pemilik agency mengajak Sasuke untuk ikut minum bersamanya. Sekedar acara penyambutan akan kedatangan Sasuke ke Tokyo.
"Kau ini berlebihan sekali Jii-san, aku malas pergi ke tempat ramai, merepotkan." Sasuke hendak pergi meninggalkan Jiraiya, namun langkahnya terhenti, Jiraiya memegang bahu Sasuke.
"Aaa aku tahu, kau takut nanti akan ada gadis-gadis yang tiba-tiba mengerubungiku karena ketampananku ini dan mereka mengabaikanmu kan?" Percaya diri sekali pria tua satu ini berbicara kepada Sasuke yang kalian tahulah, tak diragukan lagi ketampanannya, gadis manapun bertekuk lutut jika melihat wajah milik Uchiha satu ini, apalagi sekarang ia penyanyi terkenal, dan jangan lupakan ia adalah anak dari keluarga Uchiha yang kaya raya.
"Terselah kaulah Jii-san, aku lelah, aku mau pulang, jangan menggangguku."
Saat Jiraiya sedang sibuk membujuk Sasuke, tiba-tiba Gaara datang menghampiri mereka berdua.
"Jiraiya-san, aku pamit pulang dulu." Gaara membungkukan badannya
Alih-alih menanggapi ucapan Gaara, Jiraiya malah menarik paksa pemuda merah itu, merangkulkan tangan besarnya ke atas bahu Gaara.
"Ah, kau kan tidak suka keramaian Sasuke, bagaimana kalau minum-minumnya kita lakukan di apartemen milik Gaara, ayolah Gaara-san, apartemenmu kan dekat dari sini." Jiraiya berbicara sambil menampilkan senyum tiga jari andalannya.
Gaara tak dapat menolak permintaan Jiraiya, mengingat Jiraiya adalah atasannya yang sangat ia hormati. Sasuke mau tak mau mengabulkan permintaan Jiraiya kali ini, ia tak mau kerepotan lagi menanggapi ajakan bodoh pria tua satu ini.
Dengan berbekal beberapa botol sake dan beberapa bungkus makanan ringan, Jiraiya, Sasuke dan Gaara melakukan ritual minum-minumnya, melakukan sedikit obrolan ringan seputar pekerjaan dan pembicaraan absurd lainnya yang didominasi oleh Jiraiya.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, mereka bertiga sudah dalam keadaan tak sadarkan diri, mabuk akibat terlalu banyak meminum minuman beralkohol bernama sake, apalagi Jiraiya, entah sudah berapa gelas ia minum. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tak satupun antara Sasuke dan Jiraiya menunjukkan tanda-tanda ingin beranjak dari kediaman Gaara, pulang ke tempat mereka masing-masing.
Gaara yang masih agak sadar, karena ia hanya minum beberapa gelas bergegas membuat teh herbal untuk menetralisir mabuk yang dialaminya, ya, Gaara memang tak kuat minum, minum beberapa gelas saja sudah membuatnya mabuk.
Sekarang Gaara sudah tidak terlalu mabuk, kesadarannya kini berangsur pulih. Teh herbal yang dibuatnya sungguh ampuh.
Sasuke yang perutnya sedikit merasa mual segera meminum teh herbal buatan Gaara yang ada di atas meja.
Sasuke sendiri juga sama seperti Gaara, tidak kuat minum. Setelah meminum teh herbal, perasaan Sasuke sedikit lebih baik kesadarannya kembali pulih seperti semula.
"Ngomong-ngomong, dimana si pinky, dari tadi aku tak melihatnya, jam segini bukankah ia sudah pulang?"
Pertanyaan itu lagi, pertanyaan yang membuat Gaara bingung setengah mati untuk menjawabnya.
"Dia tadi memberikan pesan padaku, ia lembur lagi malam ini, mungkin akan pulang pagi ini, mungkin sekitar jam 5 pagi."
Alasan yang sama lagi.
"Oh" Sasuke hanya menggumam singkat, namun di dalam hatinya ia sedikit curiga dengan perkataan Gaara tentang keberadaan Sakura yang selalu Sasuke tanyakan, alasan, ya, alasannya selalu sama. Di dalam hati kecil Sasuke ia masih peduli dengan gadis bersurai musim semi yang dikenalnya dua tahun lalu itu, masih ada perasaan yang mengganjal dihatinya ketika gadis itu pergi bersama Gaara kala itu.
"Nampaknya kami akan menginap di rumah mu Gaara-san." Sasuke memejamkan mata menyusul Jiraiya yang entah sudah berapa lama terbang ke alam mimpi.
.
Sasuke bangun lebih awal dibandingkan dua partnernya, Jiraiya yang masih terlelap di atas sofa yang terlihat agak keras untuk ditiduri dan Gaara yang mungkin masih tidur di kamarnya.
Sasuke berjalan menuju toilet apartemen milik Gaara yang terletak di sebuah kamar, kamar yang pernah ia tiduri saat menginap kemarin.
Sasuke merasakan kejanggalan, ini aneh, ia tak melihat Sakura, mengingat jam menunjukkan pukul 5 pagi, seharusnya Sakura sudah pulang. Sasuke melihat keadaan kamar yang kemarin malam ditidurinya, tak berubah, masih sama sejak ia meninggalkan kamar itu kemarin.
Sasuke bergegas melangkahkan kakinya menuju arah kamar Gaara, sedikit tergesa-gesa membuka pintu kamar tersebut, tak elak menimbulkan suara yang cukup keras, suara debaman pintu kamar yang sukses membuat Gaara terjaga dari tidurnya.
"Kemana Sakura? Jangan bilang ia sudah pergi pagi-pagi sekali."
Gaara yang tersentak kaget segera membelalakan matanya, sekali lagi dirinya merasa tertohok dengan pertanyaan yang dilontarkan pemuda beriris onyx di hadapannya. Mencoba bersikap tenang, Gaara menjawab pertanyaan Sasuke. "Semalam Sakura bilang ia akan pulang malam lagi hari ini, puas kau!" Ucap Gaara sedikit emosi.
Sasuke tersenyum miring, sedikit menundukkan wajahnya, menyembunyikan kedua onyx miliknya dengan poni yang kini sedikit menutupi wajahnya. "Jangan berbohong lagi Gaara, aku tahu selama ini kau berbohong."
Sasuke berjalan ke arah ranjang milik Gaara, dilihat dari ukuran ranjangnya, tak mungkin Sakura tidur sekamar dengan pria merah di hadapannya.
Sasuke mengepalkan tangannya erat-erat. Menatap kembali iris jade milik Gaara. "Sakura tak pernah pulang kan? Jujur padaku brengsek!" Sasuke membentak Gaara.
"Ada apa ribut-ribut, mengganggu saja, hoaamm..." Jiraiya muncul di ambang pintu sambil menggaruk-garuk rambut dan mengucek matanya yang masih terlihat mengatup rapat sambil sesekali menguap.
"Tak usah ikut campur Jii-san, ini urusan kami berdua." Sasuke sedikit membentak Jiraiya.
Tak ingin keadaan berlanjut ke arah yang tidak diinginkan, Jiraiya yang sudah sadar sepenuhnya berusaha mengambil alih. Ia melihat keadaan sudah tidak kondusif lagi, terlihat tangan Sasuke yang sudah mengepal, bersiap menonjok wajah innocent Gaara yang tersuguh dihadapannya.
"Hei, hei, tunggu dulu bocah, kita selesaikan permasalahan ini baik-baik, pertama-tama ceritakan padaku apa permasalahnnya, mungkin aku bisa membantu kalian." Jiraiya bersikap bijak, menengahi suasana tidak nyaman yang sempat tercipta.
Alih-alih menanggapi perkataan Jiraiya, Sasuke malah menarik kaos Gaara, meremasnya kasar dan melontarkan pertanyaan yang sama perihal si gadis musim semi.
"Dimana Sakura? Jawab aku brengsek!"
Jiraiya tersentak kaget akan pertanyaan Sasuke, ya, ia mengenal gadis itu, gadis dengan bakat luar biasa yang sempat ia temui beberapa kali di lokasi syuting dan kantor tempat dimana Gaara bekerja bersama Jiraiya sebagai atasannya.
Air muka Jiraiya mendadak berubah sendu, ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, sifat keingintahuan yang besar terhadap seseorang membuat Jiraiya mudah berkomunikasi dengan siapa saja, termasuk dengan Gaara yang notabennya irit bicara, Gaara menceritakan kehidupannya pada Jiraiya, termasuk Sakura, ia tahu benar apa yang dialami gadis itu setelah Gaara menceritakan keadaan dirinya dan Sakura pada Jiraiya. Belum sempat Jiraiya berbicara, Gaara terlebih dahulu membuka suaranya, semenjak dirinya bungkam dicecar pertanyaan Sasuke.
"Tiga bulan yang lalu—Sakura..." ucapan Gaara terhenti, tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"..Meninggal— akibat kanker otak yang dideritanya." Jiraiya melanjutkan kalimat Gaara yang sempat terhenti, ia tahu Gaara tak mampu melanjutkan perkatannya.
Ya, Gaara kehilangan cahaya hidupnya semenjak kepergian gadis musim semi itu, Gaara menjadi lebih pendiam dan tidak banyak bergaul dengan sekitarnya. Jiraiya tahu betul selama ini Gaara bekerja keras untuk membantu membiayai pengobatan Sakura, dirinya juga sempat membantu Gaara, namun takdir berkata lain, hidup gadis itu begitu singkat, Tuhan lebih dulu memanggilnya.
Sasuke terbelalak, iris onyxnya nampak membesar, tak percaya akan kebenaran yang baru saja didengarnya dari mulut Jiraiya.
Sasuke mengguncang-guncangkan tubuh Gaara, berharap pemuda merah itu menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya disini.
"Ceritakan, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi..." Onyx Sasuke menatap nyalang iris jade milik Gaara, menuntut penjelasan darinya, ini terlalu rumit bagi Sasuke, otaknya yang jenius itu pada saat ini tak mampu memecahkan potongan puzzle yang kini berseliweran di pikirannya, layaknya sebuah film, banyak adegan-adegan yang terlewatkan dan tidak dimengerti oleh Sasuke.
Gaara mulai membuka suara.
"Lebih dari dua tahun Sakura menderita."
Kini baik Sasuke dan Jiraiya terpaku mendengarkan cerita Gaara, cerita yang mungkin terlalu pilu untuk diceritakan.
"Penyakit itu mulai menggerogotinya beberapa tahun lalu, meskipun gejalanya baru terjadi dua tahun ini, saat ia memutuskan untuk ikut bersamaku di Tokyo, penyakit turunan dari ibunya."
"Satu tahun yang lalu penyakit Sakura sudah bertambah parah, ia kehilangan fungsi dari kelima indranya, kehilangan kemampuan motorik, dan sering kejang-kejang, saat itulah Sakura mulai dirawat di rumah sakit."
"Sakura ingin menjadi penyanyi dan pencipta lagu terkenal, namun semua itu tak pernah terwujud."
"Semenjak mulai kesulitan berbicara, Sakura tak pernah bernyanyi lagi, setiap hari ia hanya menulis."
Gaara beranjak dari ranjangnya, berjalan menuju lemari kecil di sebelah lemari pakaian, mengambil dua buah kotak segi empat berukuran 40x30 cm dan 25x20 cm.
Gaara memberikan kotak itu pada Sasuke, Sasuke membuka kotak yang diberikan Gaara, betapa terkejutnya ia ketika mengetahui isi kotak itu, sebuah gaun, sepasang sepatu, serta beberapa hiasan tersemat di dalamnya. Ya, semua itu adalah pemberian Sasuke untuk Sakura dua tahun lalu.
Sasuke membuka secarik kertas yang terselip diantara lipatan gaun berwarna pink pastel itu.
Gomen ne, aku tak dapat mengembalikan pemberianmu ini Sasuke, semua ini akan kusimpan sebagai kenang-kenangan.
Hati Sasuke mencelos, membaca kalimat sederhana yang ditulis Sakura. Sasuke terdiam cukup lama. Gaara kembali membuka suara, melanjutkan ceritanya yang sempat tertunda.
"Ketahuilah Uchiha, Sakura selalu menyebut-nyebut namamu, ketika dia bermimpi ataupun sedang merasa kesakitan, meskipun sulit, aku dapat mengerti perasaan Sakura sesungguhnya kepadamu."
"Ia merasa bersalah karena telah membohongimu, membohongi perasaanya terhadapmu."
Sasuke berbicara lirih menanggapi pernyataan Gaara tentang Sakura. "Bersalah? Apa maksudmu sebenarnya?"
"Bukalah kotak yang satunya, disana tersimpan diary milik Sakura dan beberapa lirik lagu ciptaannya, kurasa itu semua ditujukkan untukmu, aku pernah membacanya sekali." Gaara meminta Sasuke untuk membuka kotak berukuran 25x20 itu.
Sasuke menuruti perintah Gaara, benar yang dikatakan Gaara, di dalam kotak itu berisi sebuah buku diary dan beberapa lembar kertas yang berisikan lirik beberapa lagu yang dilengkapi not-not balok yang tergambar di atasnya.
Sasuke mulai membuka diary terlebih dahulu, tenggorokannya tercekat saat mengetahui semua kata yang tertulis di dalam diary itu ditujukan untuk dirinya.
20 Juni 20xx
Sasuke...sekarang aku tinggal Tokyo, maaf aku tak memberitahumu,aku tak ingin kau mengetahui alasan sebenarnya kenapa aku pindah kesana, terima kasih Sasuke atas kebaikanmu selama ini...maafkan aku karena selalu bersikap kasar padamu, semua itu kulakukan karena sebuah alasan...
24 Desember 20xx
Sasuke...malam ini malam natal, malam natal di Tokyo sangat ramai, semua pasangan pergi ke toko-toko untuk membeli hadiah natal, Sasuke bagaimana malam natal di Konoha? Kuharap kau tidak kesepian lagi, kuharap kau menemukan seseorang yang baik untukmu, tidak seperti aku...
Sasuke terus membaca diary milik Sakura, halaman demi halaman, Sasuke menyadari tulisan tangan Sakura mengalami perubahan, pada lembar-lembar pertama tulisan-tulisan itu masih tergores dengan rapi, beberapa halaman berikutnya tulisan-tulisan itu sudah agak sulit dibaca, bahkan ada banyak kata yang tak dimengerti Sasuke, ya, Sasuke ingat kata-kata yang diucapkan Gaara, Sakura...kehilangan kemampuan motoriknya.
Sakit...
Tak terasa liquid bening yang entah sudah berapa tahun tak pernah keluar, hari ini keluar begitu saja, meski tidak banyak, tapi itu cukup membuktikan bahwa bungsu Uchiha ini merasakan kesedihan yang mendalam dalam setiap kalimat yang ditulis Sakura dalam diary itu.
Gaara berjalan ke arah jendela, menerawang kejadian yang terjadi beberapa bulan lalu, saat Sakura menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Sasuke, saat dimana Sakura menceritakan semuanya. Sambil menatap awan, Gaara mulai berbicara pada Sasuke, menjelaskan kebenaran.
"Dia merasa bersalah karena jatuh cinta padamu."
"Sakura tidak ingin kau memiliki nasib yang sama seperti ayahnya, ayahnya yang meninggal karena tenggelam dalam kesedihan karena ditinggal mati istrinya, Mebuki Haruno, karena terlalu mencintai wanita itu. Maka dari itu Sakura menghindarimu, ia tak mau jatuh cinta kepada siapapun, ia tak ingin orang yang mencintainya harus tersakiti, karena Sakura sadar akan penyakitnya, ia yakin hidupnya takkan lama lagi, ia menghindarimu karena tak mau itu terjadi padamu juga Uchiha, ia mengorbankan dirinya sendiri, mengorbankan perasaannya terhadapmu. Bagi Sakura tak apa jika perasaan sakit itu hanya ditanggung dirinya seorang."
Mata onyx Sasuke terbelalak.
"Merasa bersalah karena telah membohongimu tentang perasaanya kepadamu"
"Asal kau tahu Uchiha, Sakura tak pernah menerima uang sepeserpun yang pada saat itu ditawarkan oleh Nyonya Uchiha, Sakura juga mengembalikan semua uang yang kau beri kepadanya saat kau meminta Sakura menjadi partner duetmu, Sakura berbohong kepadamu bahwa ia telah memanfaatkanmu, seharusnya kau tahu itu Brengsek! Sakura tak mungkin melakukan hal rendahan semacam itu,andai kau tak datang dalam kehidupan Sakura, pasti ia tak akan semenderita ini." Nada bicara Gaara terdengar emosi.
Sekali lagi Sasuke tertohok dengan pernyataan yang diutarakan Gaara, jantungnya berdenyut sakit, mendengar kebenaran yang diucapkan pria merah di depannya.
"Kau tahu Uchiha, sedikitpun Sakura tak pernah melupakanmu, dalam tidurnya ia sering mengigaukan namamu, meminta maaf dan menangis tanpa Sakura sendiri sadari."
Sasuke menundukan wajahnya, menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan, runtuh sudah pertahanan Sasuke, liquid bening kembali merembes membasahi pipi putihnya, Sasuke meremas baju bagian kirinya, tempat dimana jantungnya berada, sakit, ya itulah perasaan yang Sasuke rasakan saat ini, merasa bersalah akan kebodohannya, kebodohan mempercayai kebohongan gadis musim semi yang telah tega mendustainya.
Tak ingin kesedihannya berlarut-larut, Sasuke melangkah gontai, ya ia ingin pergi sejauh-jauhnya, menghilang dari muka bumi ini, pergi meminta maaf kepada Sakura kini sudah mustahil ia lakukan, akibat keegoisannya, Sasuke kehilangan seseorang, seseorang yang yang sangat ia cintai, seorang gadis yang mampu menaklukan hatinya.
.
.
"Jii-san, aku akan mengubah konsep albumku, aku ingin ganti semua lagu dalam album itu."
"Na-nani? Itu akan sangat merepotkan sekali Sasuke...kau ini tega sekali." Jiraiya merengut kesal, mendengar permintaan mendadak yang dilayangkan Sasuke.
Sasuke menunduk, kemudian berbicara lirih. "Ini semua kulakukan untuk Sakura...mohon mengerti perasaanku Jii-san."
Jiraiya tak tega melihat Sasuke jika bersikap melankolis seperti ini, akhirnya hati Jiraiya luluh, ia mengabulkan permintaan Sasuke.
Syuting yang sudah berjalan beberapa hari harus mubadzir, kini syuting dimulai dari awal, semua proses juga harus dilakukan dari nol.
"Baiklah, bocah, aku tak tega melihatmu kalau bersikap melankolis seperti ini."
Sasuke berojigi. "Arigatou, Jii-san"
Sasuke mengulas senyum tipis, kemudian memandang langit musim semi yang sudah berlangsung kurang lebih satu minggu.
'Aku akan segera mewujudkan impianmu, Sakura...'
.
.
-FLASHBACK ON-
.
Sepulang dari apartemen Gaara, Sasuke tak melakukan aktivitas apapun, tidak pergi ke tempat syuting ataupun menghubungi Jiraiya. Sekarang ia hanya membaringkan tubuhnya dia atas ranjang hotel berukuran king size miliknya, memejamkan kedua netranya. Pikirannya kembali menerawang pada masa-masa kebersamaannya bersama Sakura, sang gadis musim semi.
Sasuke dapat mengingat dengan jelas cara gadis itu tertawa, marah, sikap kasarnya, melakukan keisengan terhadapnya, wajah meronanya saat Sasuke tiba-tiba menggodanya, caranya bernyanyi, dan...suara merdunya yang selalu terngiang-ngiang dalam benak Sasuke, meskipun hanya dalam waktu sebulan, waktu yang sangat singkat, Sasuke tak dapat mengelak perasaan yang ia rasakan semenjak ia mengenal gadis itu, gadis yang berbeda, gadis yang dapat mengisi relung hatinya yang kosong, gadis yang telah membuatnya jatuh cinta.
Sasuke bangkit dari ranjangnya, mengambil kotak berukuran 25x20 cm yang isinya belum selesai dieksplorasi olehnya, saat menumpahkan semua isi kotak itu ke atas ranjangnya, Sasuke terkejut karena dalam kotak itu terdapat recorder berukuran mini. Sasuke penasaran dengan isi dari recorder itu, ia pun memencet salah satu tombol di bagian samping recorder, terdengar suara seseorang dari recorder itu, suara yang tak asing lagi bagi Sasuke, meski sudah dua tahun tidak mendengarnya, ia masih mengenal siapa pemilik suara yang merdu itu. Sakura. Haruno Sakura.
Hajimemashite, watashi wa Haruno Sakura desu.
Kali ini aku akan menyanyikan lagu pertama yang aku ciptakan sendiri.
Lagu ini kupersembahkan untuk seseorang yang spesial dalam hidupku, orang bodoh yang membuatku jatuh cinta.
Orang yang telah aku sakiti, orang yang mungkin membenciku
Orang yang tak boleh aku cintai
Karena...
Aku tak ingin menyakitinya sekali lagi
Jikalau ia mengetahui alasanku yang sebenarnya
Harapanku hanya...
Semoga ia selalu sehat
Tidak kesepian lagi
Tetap semangat menjalani hidup
Aku...
Aku selalu berdoa agar dia bahagia
dan...kuharap ia tahu bahwa aku mencintainya
Selamanya, sebanyak yang kumampu
Ahh gomen, suasananya jadi begini
Baiklah aku mulai ya, Ehem...ehem..
itsumade mo kokoro ni kizamu kimi no koto
wasuretai wasurenai kitto
shizuka ni koko kara maiagari
jiyuu ni sora tobu tori no you ni
kurushimi subete tokihanatarete yuku made
kimi ga fureta sono te wo hanasanaide ite
atarashii asa I don't cry, and
nani mo mienakute mo kokoro ni utsushidashi
yasashiku waratteru kimi ga mieru you de
I sing a song for you
oboeteru? kimi no mune ni motare mimi wo ate
onaji you ni utsu kodou wo kiita
ima kono heya mo nemutte iru yo
nando kimi no na wo yonde mo
kikoeru no wa ne subete de watashi mamoru to
kimi ga itta kotoba ga kokoro wo furuwasu no
doushite mo mada I don't say good bye
nani mo mienakute kokoro ni utsushidashi
kimi ga mieru kara itsumo soba ni ite ne
I sing a song for you
I sing a song for you
English Translation Lyrics
I engrave you into my heart for eternity
I want to forget, I won't forget, perhaps
I soar up from here quietly
like that bird flying freely in the sky
until all of my pain releases itself
don't let go of that hand you touched
on a new morning I don't cry, and
even if I can't see anything I'll reflect it on my heart
and it seems as if I can see you with a gentle smile
I sing a song for you
do you remember? I lean against your chest with my ears pressed upon it
and hear a similar heart beat as mines
even this room is asleep now
no matter how many times I called your name
all I hear is that I'll be protected no matter what
the words you said shakes up my heart
no matter what I don't say good bye, yet
I can't see anything so I reflect it in my heart
and because I see you, please stay by my side forever
I sing a song for you
I sing a song for you
Gomenasai...
Sasuke...
Tetaplah tersenyum untukku, janji?
Sasuke menyeka air matanya, mengulas senyum tipis, senyum kebahagiaan, senyuman untuk memenuhi janjinya kepada Sakura.
.
.
-FLASHBACK OFF-
.
.
"Sasuke, besok hari peluncuran album ketigamu, bersiap-siaplah."
Jiraiya berbicara sambil menyunggingkan senyum sumbringah kepada Sasuke yang kini berdiri membelakanginya, menghadap jendela kantor agency milik Jiraiya, memandang pemandangan indah kota Tokyo yang tersaji di luar sana.
"Hn" sasuke hanya menggumam singkat, memejamkan matanya merasakan semilir angin sejuk musim semi yang menyapa kulit putihnya.
'Aku berjanji...Sakura..'
.
.
.
OWARI
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OMAKE
.
.
1 tahun kemudian
Orang-orang berlalu lalang di jalanan kota Konoha, kota yang cukup ramai dengan segala keindahan yang dimilikinya. Tak terkecuali Sasuke, sekarang ia sudah menjadi penyanyi terkenal tidak hanya di Konoha, dalam waktu singkat Sasuke telah menjadi penyanyi internasional yang kemampuan bernyanyinya diakui dunia.
Sekarang, disinilah ia berada, berjalan diantara kerumunan orang-orang yang tengah berlalu lalang di jalanan kota Konoha. Orang-orang sama sekali tak menyadari keberadaan Sasuke, wajar saja, karena saat ini Sasuke sedang melakukan penyamaran, hal yang sering ia lakukan bila ingin mengunjungi tempat-tempat ramai dengan aman, tanpa ada wartawan atau kejaran para fans yang merepotkannya.
"Hei,hei, disana ada pertunjukkan, ayo kita kesana, aku ingin melihatnya." Seorang gadis remaja mengajak teman-temannya pergi ke arah kerumunan orang-orang yang nampak sedang menyaksikan sesuatu.
"Mana? Mana? Ah disana rupanya, itu pasti pertunjukkan Cherry-chan, dia kan musisi jalanan yang sering orang-orang bilang, suaranya merdu sekali, kudengar ia sering menyanyikan lagunya Sasuke-san, penyanyi terkenal itu. "
"Ahh, aku ingin lihat, ayo teman-teman!" Sekumpulan remaja itupun segera berlalu menuju tempat yang mereka bicarakan tadi.
Sasuke yang tadi tak sengaja mendengar percakapan sekumpulan remaja itupun merasa penasaran, segera ia langkahkan kakinya menuju kerumunan itu berada.
Seperti dejavu
Ia hanya tersenyum tipis sambil membenarkan letak kacamatanya yang sedikit merosot.
Petikan gitar mulai terdengar, suara merdupun mulai mengalun indah, para penonton terpaku, hening, hanya suara petikan gitar yang mengiringi suara indah sang gadis.
tomodachi no sodan nante
te ni toru youni wakaru keredo
jibun no koto ha itsumo
me kakushi hazusenai mama
mukashi kitto aishiatta
watashi no shiranai dare ka wo
anata ha konya datte
omoi de ni dekinai mama de iru
miesugita uso wo tsuita
buki youna yasashisa ga
sakura mau youni
watashi no kokoro ni yuki wo furasu
ima hikikaeshite
anata no senaka oi kakete komara setaku nai kara
yume no naka de ha dakishimete ite
watashi wo damashite hoshii
anata ga suki datta eiga ya kyoku ya
ano machi mo
subete wo mune no oku ni narabete
suterarenai mama
futari de aruki hajimeta
ano samui sora no shita
te wo tsunai de ta
sono nukumori made uso ni shinaide
ima furikaette
watashi no sugata hitogomi no naka mitsukete hoshii kedo
mou namida nante misechaikenai ne
tsugi no kado magatte yukou
futari no koi ni owari ga kuru koto
hajime kara wakatte ta kedo
dono hi ka hitotsu yari naoseta nara
nani ka kawatte ta kana
ima hikikaeshite
anata no senaka oi kakete komara setaku nai kara
yume no naka de ha dakishimete ite
watashi wo damashite hoshii
hontou ha ima datte
watashi no sugata hitogomi no naka mitsukete hoshii kedo
mou namida nante misechaikenai ne
tsugi no kado magatte yukou
watashi ni dekiru saigo no koto
English Translation Lyrics
Advice from friends
Is something I know I can get
But when it comes to myself
I'm unable to remove the blindfold
You must have been in love in the past
With a certain someone I never knew
Whose existence, even tonight
You cannot relegate to your memories
Your blatant lies
Borne out of fumbling tenderness
Made it snow on my heart
Like the sakura blossoms
I don't want to make it hard for you
By retracing my steps and chasing after you
So in my dreams hold me tight
And deceive me
The songs and movies
And even that town that you liked
I'll place them in the depths of my heart
Never to be thrown away
Don't deny even the warmth
Of our joined hands
As we walked together
Beneath that cold sky
I hoped you'd turn back
And spot me in the crowd
But I shouldn't let you see my tears anymore right?
So I'll turn at the next corner and move on
I knew from the start
That an end to our love was inevitable
Though I wonder if we chose a day to do over
Would it have changed anything?
I don't want to make it hard for you
By retracing my steps and chasing after you
So in my dreams hold me tight
And deceive me
Even now I really hope that
You'd spot me in the crowd
But I shouldn't let you see my tears anymore right?
So I'll turn at the next corner and move on
It's the last thing I can do
Terdengar riuh yang berasal dari tepuk tangan penonton. Setelah memberikan beberapa uang koin, Sasuke berlalu pergi, menyunggingkan seulas senyum, sebuah senyum kebahagiaan.
Ya, Sasuke tahu, lagu yang dibawakan penyanyi tadi adalah lagu ciptaan Sakura. Lagu yang pernah Sasuke nyanyikan juga di album ketiganya.
'Kuharap kau bahagia, Sakura...'
.
.
.
.
.
.
.
.
A/N:yosh! Akhirnya berakhir sudah perjalanan saya menulis fic ini, maaf gak bisa membuat banyak chapter dikarenakan krisis ide parah yang saya alami. Gomen kalo cerita ini belum memenuhi harapan para reader sekalian ya. Ojigi berkali-kali
Maafkan saya karena banyak terjadi kesalahan typo, kesamaan tokoh, cerita pasaran, alur gaje, de el el. Karena saya hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. #sok bijak lu thor.
Special thanks to:
Reviewer, follower, favoriters,and silent readers yang sudah rela meluangkan waktunya membaca fic ini dan telah sudi mereview fic ini. Meskipun masih jauh dari harapan, author senang karya author masih dihargai. #Nangis tersedu-sedu
Hanazono yuri, desypramitha2, Alifa Cherry Blossom, Racchan Cherry-desu, gadisranti3251, Yuuki Edna, Ryouta Shiroi, &Burung Hantu.
.
.
.
Songs by:
Chapter 1:
YUI – Tomorrow' way
YUI – I Remember You
Chapter 2 :
Rie Fu- I Wanna Go to a Place
Chapter 5 :
TVXQ – Lovin You
Chapter 6 :
Justin Guarini Feat. Kelly Clarkson – Timeless
Chapter 7 :
YUI – Tokyo
Chapter 8 :
Kuraki Mai – I Sing a Song for You
Nana Mizuki – Last Scene
Semoga fic ini dapat menghibur dan bermanfaat ya minna, sampai jumpa di fic saya selanjutnya dan fic saya yang masih on going "My Goddess" (promosi)
Jangan lupa download lagunya juga ya biar kerasa feelnya pas baca fic ini, jiahhh promosi lagi.
Akhir Kata Author Mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H Mohon Maaf Lahir dan Batin
Hontou ni arigatou Minna-san
