CHAPTER 2

DISCLAIMER : Bunda J.K. Rowling, kalau HP punya saya bisa saya jamin dunia terbalik.

RATED : T (semoga gak bersemi)

GENRE : Romance, Family.

PAIRING : DRAMIONE

WARNING : Gaje, ide pasaran, menyababkan pusing, mual, muntah, gak nafsu makan (?) (hamil kali ya?)

Dalam chapter ini adalah tahun ketujuh, dimana semua siswa/siswi kembali melanjutkan sekolah mereka yang terhambat karna perang besar Hogwarts. Di sini hubungan keluarga Malfoy kembali seperti awal bahkan lebih hangat. Bagaimana bisa? Baca sampai kelar ya...

"Cepatlah masuk ke dalam kereta kalau kalian masih ingin melanjutkan sekolah kalian, nak." Ucap Lucius dengan nada seperti biasanya, datar.

"Baik, Dad." Ucap Draco dan Hermione bersamaan.

"Pastikan kalian selalu bersama dan jika kalian sudah sampai jangan lupa kirimi kami surat, Dear." Kini giliran Narcissa yang buka suara.

"Pasti, Mom." Ucap Hermione girang

"Aku akan selalu menjaga Mione, Mom. Percayalah" Sambung Draco

Lengkaplah kebahagiaan Hermione kali ini. Perang telah selasai dan si-kepala-botak-tanpa-hidung-itu telah tewas ditangan sahabatnya sendiri. Semua terasa sempurna sekarang. Walaupun, masih ada beberapa hal yang mengganjal hatinya.

Aula besar kini terasa sangat hangat. Semua murid makan dengan riang diselingi senda-gurau yang lama tak mereka rasakan (salahkan si-kepala-botak-tanpa-hidung yang telah membuat mereka kehilangan saat-saat berharga seperti ini).

Hermione kini tengah duduk menghadap meja Slytherin memandangi kembarannya itu. Bahagia memang tengah ia rasakan tetapi kini hati justru semakin hancur jika menatap kembarannya itu. Bagaimana tidak? Draco dengannya sungguh berbeda. Bukan hanya Draco, Ibu dan Ayahnya juga tidak memiliki kemiripan sama sekali dengannya. Yah. Mereka semua pirang. Sedangkan dia, coklat bergelombang. Mereka semua Slytherin sedangkan dia? Gryffindor. Dan banyak lagi perbedaan lainnya.

Itulah yang dulunya (pada tahun pertama) membuatnya merasa tidak betah berada di sekolahnya itu. Ia selalu dilecehkan dengan sebutan rasis yang menyakitkan. Syukur saja, Draco dan orang tuanya sangat menyayanginya sehingga mereka tak segan-segan melakukan segala cara agar Hermione tidak diperlakukan seperti itu lagi.

"Mione? Apa kau masih berada di dalam tubuhmu?" Ucap Ginny sambil melambaikan tangannya di depan wajah Hermione disertai tatapan khawatir dari sahabat-sahabatnya yang lain.

"Bukan, aku adalah si-kepala-botak-tanpa-hidung yang merasuki tubuh gadis Malfoy ini." Ucap Hermione dingin dan datar, sontak sahabat-sahabatnya menatapnya dengan horror, "Oh, ayolah. Apa yang kalian pikirkan? Aku Hermione Jean Malfoy dan aku masih berada di sini bersama kalian." Lanjut Hermione, sahabat-sahabatnya pun menghela napas lega.

"Syukurlah, Hermione. Kupikir roh-mu tengah berjalan-jalan dan tak bisa pulang." Sahut Luna yang kebetulan makan di meja Gryffindor.

"Luwna Bewnar, Miowne. Kau tamfak mengewrihkan tawdi." Ucap Ron yang dipenuhi oleh ayam panggang.

"Telan dulu makananmu, Ron."

Harry hanya nyengir, Ginny menggeleng-geleng, dan Ron dengan susah payah menelan makanan yang memenuhi mulutnya. "Luna benar, Mione. Kau tampak mengerikan tadi. Apalagi saat kau berkata 'aku adalah si-kepala-botak-tanpa-hidung yang merasuki tubuh gadis Malfoy ini' kau tampak mengerikan. Sangat." Ucap Ron mengikuti nada bicara Hermione tadi. Obrolan mereka pun terhenti oleh Profesor McGonagall yang sepertinya siap memberikan mereka ucapan selamat datang.

"Selamat malam untuk kalian semua. Aku berdiri di sini untuk mengumumkan suatu hal penting untuk kalian semua." Siswa/siswi kini tengah menebak-nebak apakah yang akan diumumkan animagus satu ini.

"Seperti pada tahun-tahun sebelumnya saat penerimaan murid baru, malam ini akan diumumkan siapa saja pasangan ketua murid terpilih." Pengumuman ini adalah pengumuman paling ditunggu-tunggu, murid-murid tahun ketujuh pun berdoa dalam hati agar merekalah yang menjadi ketua murid.

"Dan Ketua Murid Putra dan Putri tahun ini diraih oleh, Mr. dan Miss. Malfoy." Mata Hermione berbinar-binar menatap kembarannya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan sama.

"Silahkan maju kedepan Mr. dan Miss. Malfoy."

Mereka saling berpelukkan sebelum menyampaikan pidato mereka di atas panggung(?)

"Bukankah ini sempurna? Asrama khusus untuk Putri dan Pangeran Malfoy." Draco duduk di sebuah sofa besar yang empuk sambil memperhatikan ruangan khusus mereka itu. Hermione mendekat dan duduk disebelah Draco.

"Draco." Panggilnya

"Kenapa, Dear?" Hermione langsung memeluk Draco sehingga membuatnya kaget. "Maafkan aku. Aku begitu bodoh dan egois, sehingga waktu itu aku tidak mau mendengarkan penjelasanmu dan pergi begitu saja. Waktu itu aku sedang dalam kebimbangan sehingga..."

"Sssttt... kau tak perlu meminta maaf. Seharusnya aku, Mom, dan Dad yang meminta maaf padamu karna kami tidak memberitahukan bahwa kami berpura-pura menjadi Death Eater dan menjadi mata-mata Orde."

"Tetap saja aku yang salah."

"Apa yang harus disalahkan darimu?"

"Aku... masih merasa bersalah karna malam sebelum aku meninggalkan Manor, aku tidak mendengarkan ucapanmu sampai selasai. Aku tidak bisa sepertimu yang bisa menunjukkan sifat seorang Malfoy yang sempurna. Aku memiliki banyak perbedaan dari keluarga ini, dari fisik sampai sifat, semuanya berbeda. Aku bahkan masih terpengaruh oleh ejekkan rasis saat pertama kali kita menjadi murid sekolah ini, apalagi saat aku tahu bahwa aku tidak masuk Slytherin. Apa kau tahu? Sampai sekarang aku belum bisa melupakannya."

"Jadi, ini lebih mengarah pada perbedaan daripada kesalahpahaman itu?" Hermione hanya diam. "Kau cemburu padaku? Kau cemburu karna aku lebih menunjukkan sifat seorang Malfoy, begitukah?"

"A-a-aku tidak cemburu, aku merasa... bersalah. Ya. aku merasa bersalah bukan cemburu."

"Hahaha... kau tak bisa menipuku, Mione. Apa kau tahu saat menjadi mata-mata aku sangat tersiksa? Setiap saat aku harus latihan dan jika salah sedikit saja aku akan di-Crucio, itu sangat menyakitkan. Dan itukah yang kau cemburui?"

"Oh, Draco. Bukan itu maksudku."

"Lalu?"

"Aku ingin sepertimu yang bisa masuk Slytherin sama seperti nenek moyang kita, kau tahukan hanya aku yang melenceng dan masuk Gryffindor. Aku memiliki rambut coklat keriting, mata hazel dan kulitku juga berbeda. Sungguh sangat tidak Malfoy. Bukan sepertimu dan seluruh keluarga kita yang berambut pirang lurus, mata kelabu yang tajam dan kulit putih pucat."

"Hahaha..." Draco tertawa lepas dan membuat Hermione merasa omongannya tidak dihargai dan dianggap sebagai lelucon padahal ia sangat serius mengatakanya. "Akhirnya kau mengaku juga kalau kau cemburu padaku." Hermione memandang tajam pemuda pirang dihadapannya, "Oh, maafkan aku, Mione. Ehem... pertama, apa kau menyesal menjadi singa dan menjadi salah satu dari Golden Trio?"

"Tidak."

"Lalu, apa yang kau sesali? Kau begitu sempurna, Mione. Hanya saja kau tidak pernah menyadarinya. Kau pemberani dan pantang menyerah seperti asramamu. Kau sangat jenius dan setara dengan Rowena pendiri Ravenclaw. Kau setia kawan dan rendah hati seperti para Hufflepuff. Dan kau juga tak kalah cantik dan licik seperti para Slytherin..."

"Licik?"

"Kau dan temanmu, si Pothead dan si Redhead, sudah berkali-kali melanggar peraturan keluar malam terutama pada tahun pertama kita dan sialnya saat aku membuntuti kalian dan melaporkan kalian pada Proffesor McGonagall, aku juga dihukum dengan alasan aku juga melanggar jam malam." Hermione nyengir mengingat kejadian itu.

"Itu salahmu sendiri, Pangeran. Seharusnya kau tidak melakukan hal bodoh itu."

"Yayaya, Putri. Aku bodoh dan kau pintar." Hermione menahan tawanya, takut jika Draco marah dan semuanya menjadi semakin kacau. "Oh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengatakanmu bodoh."

"Ya, lupakan sajalah. Kedua, rambutmu ikal bukan keriting. Dan... aku lebih menyukai semua yang kau miliki daripada aku. Maksudku, coba kau lihat aku! Aku seperti mayat hidup, dan apakah kau juga menginginkan menjadi seperti mayat hidup sepertiku?"

"Terimakasih atas pujianmu, Drake. Dan kau tidak tampak seperti mayat hidup, kakakku tersayang. Yang kau miliki itu adalah warisan keluarga dan aku suka itu."

Draco menyeringai, "Kau suka?" Hermione mengangguk. "Apa karna ini warisan keluarga atau karna aku memang sungguh menawan sehingga adikku sendiri tidak bisa menahan pesona yang ada dalam diriku?"

Blush...

Hermione mengerti dengan arah pembicaraan Draco. Draco memang seperti ini, ia selalu menggoda adiknya ini dan selalu memuji dirinya sendiri, "Oh, apa kau gila karna terlalu sering di-Crucio sehingga otakmu menjadi sedikit terganggu? Sepertinya kau harus ke St. Mungo sekarang juga."

"Jangan mengelak, sayang. Aku tahu diam-diam kau juga merupakan salah satu fans-ku. Atau jangan-jangan kau yang mengusung berdirinya Draco Fans Club?"

"Kakakku sayang, apa kau masih berada di alam mimpi? Tidak mungkin aku menjadi salah satu dari fans-mu yang maniak dan gila itu, apalagi menjadi pengusung club gila itu."

"Sudahlah, kau tak usah malu untuk mengakui jika aku ini tampan."

"Ckckck... segitu inginnyakah kau kukatakan tampan?"

"Tantu saja, aku tak ingin kau hanya menyimpannya dalam hati. Lagipula, selama ini aku sering memujimu anggap saja ini sebagai balas budi."

"Baiklah, akan kukatakan walaupun dengan sangat terpaksa. Kau, kakakku yang paliiiing kusayang dan kucinta, aku adikmu yang berada satu peringkat di atasmu ingin mengatakan dengan sangaaaat terpaksa bahwa kau adalah orang yang tampan karna aku tidak ingin kau dikatakan cantik dan menjadi saingan banyak gadis di sini."

"Setidaknya kau mengakui jika memiliki kakak tampan sepertiku dan aku rasa kau harus bersyukur karna aku, kau juga ikut terkenal."

"Terserah kau sajalah, aku mau mandi." Hermione bangkit dari sofa yang ia duduki dan berjalan ke arah kamar mandi. Namun, sebelum ia memasuki kamar mandi ia berbalik, "Hmmm, Draco. Terimakasih untuk ini, kau kakak yang sangat peduli padaku dan mengerti aku, aku menyayangimu."

DEG

Jantung Draco berdebar kencang tak seperti biasanya, wajahnya memanas dan sudah bisa dipastikan ada semburat merah memenuhi wajahnya. Perasaan apa ini, batinnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hhhwwwuuuaaaa, selesai juga *sujud syukur* di fic ini udah aku usahain supaya semakin mendekati romance, gimana? Uhm, aku gak tau mau ngomang apa lagi, mungkin cuma ucapan maaf dan terima kasih dari aku yang bisa aku sampaikan pada kalian semua.