CHAPTER 3
DISCLAIMER : Walaupun saya sangat berharap milik saya tapi HP tetep milik Bunda Rowling
RATED : T (semoga gak bersemi, saya belum cukup umur.)
GENRE : Romance, Family.
PAIRING : DRAMIONE
WARNING : Gaje, OOC, typo bertebaran dimana-mana, menyebabkan iritasi pada mata, author newbie, dll.
.
.
.
Ketua Murid Putri berjalan dengan anggunnya ke aula besar yang kini dipenuhi suara dentingan sendok dan garpu yang sedang beradu. Ia nampak berbeda. Bukan kerena lencana Ketua Murid yang dikenakannya. Melainkan, ketidak beradaan Prince of Slytherin di sebelahnya.
"Hai, Mione!" Sapa Harry dan Ginny
"Hai juga!" Balas Hermione
"Kenapa kau lama sekali? Apa yang Malfoy lakukan padamu? Apa dia menyakitimu?" Tanya Ron yang tidak biasanya menelan dulu makanannya sebelum berbicara.
"Merlin! Aku juga Malfoy di sini, ingat? Dan sampai kapan pun Draco tak mungkin menyakitiku, dia sangat menyayangiku begitu pula sebaliknya. Jadi, jangan pernah sekali pun kau menyatakan bahwa dia menyakitiku." Jelas Hermione dalam satu tarikan nafas.
"Berhentilah berkata seperti itu, Mione. Sudah ratusan bahkan ribuan kali aku mendengar itu."
"Kalau kau sudah tahu seharusnya kau tak perlu bertanya lagi."
"Bukan itu yang aku inginkan!"
"Lalu?"
"For Godric Sake! Kenapa otakmu tak berfungsi lagi?" ucap Ron berlebihan, Hermione mendengus, Ginny memutar kedua matanya dan Harry geleng-geleng.
"Pelankan suaramu, Ron. Seisi aula memperhatikan kita." Tegur Harry
"Otakmu yang tidak berfungsi, Ron. Dia seorang Ketua Murid." Ucap Ginny
"Apa hubungannya dengan datang terlambat?" tanya Ron dengan bodohnya.
"Aku harus memindahkan barang-barangku, merapikan asrama baruku, dan mendengar arahan Profesor McGonagall tentang tugas-tugasku sebagai Ketua Murid. Apa itu cukup?" Ucap Hermione dengan sedikit merutuki dirinya sendiri (dalam hati tentunya) karena berteman dengan orang sebodoh Ron.
"Aku menyesal memiliki kakak yang bodoh sepertimu." Ucap Ginny dengan nada prihatin yang ia tujukan pada dirinya sendiri.
"Terima kasih, Ginevra. Kau adik yang sangat durhaka." Ucap Ron sinis.
"Sama-sama, Ron!" balas Ginny tak kalah sinis.
"Kenapa kau datang sendirian, Mione? Mana Mal- maksudku Draco?" Tanya Harry mengawali topik baru
"Dia sedang mengirim surat pada orang tua kami." Jawab Hermione
"Tak biasanya, bukankah kau yang selama ini mengirimi surat jika kalian sudah sampai di sini?" Tanya Ginny
"Ya. Dia memang sedikit aneh hari ini, uhmm... dia lebih bersemangat untuk mengirim surat pada Mom dan Dad, mungkin dia ingin meminta sapu terbang baru atas gelar Ketua Murid ini."
Merlin memberkatinya. Baru saja dibicarakan, ia sudah menunjukkan batang hidungnya. Draco Lucius Malfoy berjalan dengan sebuah senyuman tersungging di wajahnya yang rupawan. Dari wajahnya dapat terbaca sebuah kegembiraan yang ia rasakan.
"Sepertinya si-ferret-pirang-brengsek itu sangat gembira." Ucap Ron yang sedari tadi sibuk dengan makanannya, ia tak menyadari tatapan membunuh dari Miss-Know-It-All ini.
"Jangan pernah katakan Draco brengsek kalau kau tak ingin mendapatkan detensi, Ronald!" ancam Hemione dengan nada dingin dan menusuk ditiap katanya.
"Jangan hiraukan dia, Mione." Ucap Harry berusaha menenangkan sahabat tersayangnya itu.
"Hey, aku belum pernah melihat Mal- Draco sebahagia itu." Ucap Ginny membuat mereka melihat kearah Draco.
Benar. Ia terlihat sangat bahagia. Namun, sahabat-sahabatnya terlihat sedikit, bukan-bukan, bukan sedikit melainkan sangat terkejut. Tapi keterkejutan mereka tak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian mereka menyeringai. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Pssttt... Mione. Apa kau tahu semacam sejarah bahwa semua orang yang menjadi Ketua Murid akan menjadi sepasang kekasih?" Ucap Ron lirih dan sukses membuat Hermione tersedak jus labunya.
"Bodoh! Gara-gara lelucon bodohmu itu aku jadi tersedak!" Ucap Hermione
"Itu bukan lelucon, itu fakta. Kuharap kau menjaga jarak darinya sebelum kau jatuh cinta padanya." Saran Ron sok bijak.
"Oh, bagus sekali. Aku harus menjauh darinya dengan alasan 'aku takut jatuh cinta padamu' aku yakin setelah ia mendengar itu, orang tua kami akan mengirimku ke St. Mungo karena takut Putri mereka terkena gangguan jiwa." Ucap Hermione dramatis
"Bilang saja kau sudah punya kekasih dan ingin lebih dekat dengan kekasihmu." Usul Ron.
"Oh, lebih bagus. Aku yakin Ginny tak akan mau meminjamkan Harry untuk jadi kekasih bohonganku, benarkan Gin? (Ginny nyengir) Lagipula, Draco tahu semua tentangku dan aku tak mau diintrogasi hanya karenamu yang menyarankan agar aku menjaga jarak darinya."
Baru saja Ron membuka mulutnya, Hermione melanjutkan ucapannya yang belum selesai, "Dan jangan mengusulkan siapapun untuk menjadi kekasih bohonganku, termasuk kau."
"Hahahaha, Mione. Tak mungkin ada yang mau hanya menjadi kekasih bohonganmu, mereka bahkan rela bila harus menghadapi si-tuan-tak-berhidup bangkit dari kuburnya hanya untuk mendapatkan Sang-Putri-Emas-Gryffindor." Ucap Harry dan sukses membuat Hermione tersipu.
"Harry benar, Mione. Tapi, tak ada salahnya jika kau bersama Mal-Draco. Maksudku, kau beruntung mendapatkan seorang kakak yang sempurna seperti dia, dia pandai, tampan, seksi dan banyak lagi, beda denganku."
"Tak perlu membandingkanku dengan orang lain jika kau hanya ingin menghinaku, Gin." Ucap Ron dingin
"Uhmm... terima kasih untuk pujianmu padanya, tapi bisakah kau tak perlu terlalu terbuka saat mengatakannya." Ucap Hermione melirik Harry, "Dan Harry, yang berhasil melawan si-botak-tak-berhidung-itu hanya kau dan aku tak mau Ginny salahpaham padaku."
"Err... aku tak bisa bohong, tapi Harry kau tetap tidak bisa menggantikan siapapun di hatiku. Dan ingat, Mione. Aku bukan gadis agresif jadi kau tidak perlu takut aku akan salah paham padamu, lagipula aku percaya kau tak akan merebutnya dariku." Harry nyengir sedangkan Hermione mengedipkan sebelah matanya pada Harry, tepatnya untuk menggoda Harry atas apa yang diucapkan Ginny barusan.
"Gin, kau tak perlu menghinaku dan hey, pengelihataanku saja atau ferret itu memang sedang memperhatikan kita tepatnya kau, Mione?"
"Berhentilah, aku sudah bosan dengan omong kosongmu, Ron. Okay semua aku sudah selesai, jika kalian sempat berkunjunglah ke asramaku." Ucap Hermione sebelum melangkah meninggalkan keramaian Aula Besar.
"Mungkin sabtu ini, Mione." Ucap Harry sambil melambaikan tangannya.
"Hey, lihat." Ucap Ron. Harry dan Ginny mengikuti apa yang ditunjuk Ron.
"Ada apa, Ron?" Tanya Ginny
"Ferret itu mengejar, Mione. Jangan-jangan..."
"Berhentilah. Aku tahu kau mengharapkannya tapi kau tak perlu terlalu berlebihan, mereka hanya saudara tak lebih." Ucap Harry.
Sementara itu, Draco yang melihat Hermione meninggalkan aula besar langsung saja pamit pada teman-temannya untuk menyusul Hermione yang kian menjauh.
'Hahaha... bagaimana bisa mereka berpikiran aku dan Draco akan menjadi sepasang kekasih? Yah, walaupun tak bisa kupungkiri ia memang sempurna. Tapi, Merlin! Ia saudaraku.' Hermione asik dengan pemikirannya sendiri sampai...
"Mione!" Terdengar suara memanggilnya.
'Bagus, Ron! Doktrinmu berhasil.' Batin Hermione
"Mione!"
'Terkutuklah kau, Ron! Jika aku terus berhalusinasi seperti ini, kupastikan serangan laba-laba terus menghampirimu.' Hermione mempercepat langkah kakinya. "Malfoy Bersaudara." Ia mengucapkan sandi asramanya dan segera masuk ke dalam.
"Merlin! Merlin! Merlin!" Ucapnya. Ia berjalan sambil terus mengucapkan nama penyihir legendaris tersebut.
"Merlin! Kenapa ada banyak hadiah di sini?" Jeritnya yang baru menyadari ada bertumpuk hadiah di hadapannya. Bersamaan dengan terluncurnya pertanyaan tersebut dari bibir indahnya, Draco datang.
"Kenapa kau berjalan cepat sekali dan tidak menghiraukanku yang terus memanggilmu, Mione?"
"Tidak kenapa-napa." Sergahnya, 'Sial! Ternyata Draco memang memanggilku tadi!'
"Uhm... Draco darimana asal semua hadiah ini?" Tanya Hermione mencoba mencari topik bahasan lain.
"Tentu saja dari Dad dan Mom, dan beberapa hadiah dari teman muggle Dad dan Mom. Aku yang memintanya, tapi hadiah dari teman muggle Dad itu mereka berikan karena Mom yang memberitahukan bahwa kita menjadi Ketua Murid."
"Tapi, kenapa sebanyak ini? Ini berlebihan, kau tahu?"
"Hey, aku tidak meminta sebanyak ini, mereka yang memberikannya terlalu banyak."
"Terserahlah. Mana surat balasan dari Dad dan Mom?"
"Sayang sekali mereka tidak membalasnya menggunakan surat, Mione. Tadi mereka mampir sebentar (melalui jaringan floo) dan..."
"Merlin! Mereka datang dan kau tidak memberitahukanku?" potong Hermione
"Sabar, dear. Mereka mampir sebentar untuk memberikan semua ini saat kau berada di Great Hall dan langsung pergi begitu memberikan hadiah-hadiah ini."
"Huufftt... Yah, sudahlah. Draco, bangunkan aku dua jam lagi untuk berpatroli, aku ingin beristirahat sebentar."
Menyusuri tiap lorong gelap Hogwarts pada malam hari dengan ditemani cahaya dari obor yang berada di tembok atau dengan cahaya sang rembulan, dimana setiap penghuni Sekolah Sihir ternama itu sudah terlelap bukanlah satu hal yang diinginkan tiap insan penghuni sekolah ini.
Tapi, kedua insan ini harus melakukannya. Yah, mereka harus melakukan tugas mereka sebagai Ketua Murid, mau tidak mau. Yang terpenting adalah mereka selalu menjalankan tugas yang dipercayakan pada mereka dengan baik.
"Permintaanku dikabulkan oleh Dad dan Mom." Ucap Draco memecah keheningan yang terbentuk diantara mereka.
"Apa itu? Sapu terbang baru? Jubah baru? Pena bulu baru?" sahut Hermione
"Lebih dari itu semua."
"Lebih dari itu semua? Permintaan apa yang kau ajukan pada Dad dan Mom?" tanya Hermione penasaran.
Satu belokkan dan mereka memasuki Menara Astronomi, tempat yang sering disalah gunakan oleh para muda-mudi yang sedang kasmaran. Bersyukurlah pada Merlin, tempat itu bersih dari 'kuman' sehingga tugas patroli malam mereka selesai juga.
"Pembatalan pertunangan dengan Astoria Greengrass." Ujarnya
"A-apa? Maksudku, kenapa? Kenapa kau batalkan?"
"Kau tak senang? Bukankah kau tak suka dengannya?"
"Sejujurnya, aku sangat senang. Ini berita menggembirakan. Tapi, aku juga bingung denganmu, mengapa kau batalkan pertunangan itu? Bukankah dulu kau sendiri yang mensetujuinya?"
"Jangan samakan sekarang dengan dulu, Mione. Dulu aku hanya anak kecil yang tak mengerti apa-apa dan sekarang aku sudah bisa memutuskan apa yang terbaik bagiku."
"Dad dan Mom setuju?"
"Tidak pada awalnya, tapi jangan sebut aku Draco kalau tak bisa membalik keadaan." Seringai pun terbentuk di wajah rupawan yang telah diberikan Merlin pada Lucius dan Narcissa.
"Tapi apa alasanmu sehingga mereka bisa mengabulkan permintaanmu itu?"
"Tak ada alasan yang terlalu kuat, sebenarnya."
Hermione memutar kedua bola matanya dengan bosan. Tak ada alasan yang terlalu kuat, sebenarnya. Apa hanya itu alasan yang ia punya, seharusnya ia lebih banyak belajar kosakata, gerutu Hermione dalam hati.
"Aku ingin kembali." Ucapnya hendak melangkahkan kakinya.
"Aku khawatir kita tidak bisa kembali secepat kita datang kemari, Mione." Tahan Draco.
"Apa maksud-" Hermione mengikuti arah pandang Draco. "Ouch, Merlin! Mistletoe."
"Sejak kapan?"
Draco menggeleng, "Entah, aku tak tahu." Ini saat yang begitu rumit dan Hermione tak suka itu.
"Akan kucoba untuk menyingkirkannya."
"Tidak! Jangan!" Hermione mengernyit kebingungan. "Mantra apa yang akan kau gunakan? Mantra penghancur? Kau ingin kita ikut hancur? Kuharap kau mengerti bahwa itu berbahaya."
"Ja-jadi?" ia tergagap. Ia tahu apa yang harus dilakukan orang-orang yang terjebak di bawah Mistletoe. Mendadak wajahnya berubah merah, dan ia yakin bahwa wajahnya bisa memnandingi warna tomat.
"Kita harus berciuman." Ucap Draco dengan nada santai, namun ia dapat menahan rona merah muda yang menjalari pipinya. "Tolong jangan katakan padaku kau tidak tahu itu."
Deg.
Jantungnya berdetak keras, dua kali lebih keras dan cepat dari biasanya. Nafasnya tercekat dan ia kesusahan bernafas, seakan kadar oksigen diruangan itu telah habis. Kakinya terasa lemas dan tak mampu menopang dirinya.
Ia tahu itu. Cara satu-satunya untuk terlepas dari mistletoe yang tersihir adalah dengan berci... ah, sial! Mengucapkannya saja, ia tidak bisa apalagi harus melakukannya.
Tanpa ia sadari wajah Draco sudah semakin mendekat, menyisahkan jarak beberapa senti diantara mereka. Hembusan nafasnya pun terasa diwajah Hermione. Hermione sedikit mendongak, dan wajahnya semakin memerah.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan disini?" suara tegas dan sedikit tak percaya terdengar. Proffesor McGonagall, ditemani Mr. Filch dan kucing kesayangannya itu, berdiri tak jauh dari mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hhhhhwwwwuuuuaaa! Maaf-maaf-maaf-maaf! Maafin aku yang udah kelamaan gak update. Banyak faktor penyebab itu, dan kurasa susah kalo dijelasin satu persatu. Untuk manjaga keamanan, aku gak akan munculin yang aneh-aneh disini. Terima kasih buat kalian semua yang udah kasih review buatku, saran dan kritik saya terima dengan lapang dada. Sekali lagi terima kasih!
