=don't leave me=
daragon couple
rate M
slight: SangRa!incest
Seminggu sudah ia di rumah ini,dan tak pernah selangkahpun keluar dari kamar Jiyoung. Dia mulai menggerakkan kakinya meski hanya berjalan keliling sudut kamar seluas 10x10 #gede ga tuh?
. ini adalah kali pertamanya setelah sebulan lalu ia hanya bisa tinggal di RS karena depresi,harusnya dia melakukan ini sejak dulu...menjemput noona'nya...
"Sanghyun" panggil seseorang dari arah pintu. Sanghyun menoleh dan mendapati Sandara sedang berdiri di ambang pintu dengan membawa segelas susu coklat ditangan kanannya.
Dia bereaksi dengan cepat,langsung jatuh terduduk di dekat jendela dan memeluk lututnya erat. Sandara membuang wajahnya,mencoba mempercayai apa yang ia lihat sekarang,siapa yang ada di hadapannya ini.
"kau berfikir aku bisa melindungimu setelah cacian yang kalian berikan padaku?" sandara mencoba mendekati tubuh Sanghyun meski ia tahu rasanya seperti menginjak ribuan paku ditelapak kakimu.
Sanghyun mendongak menatap sepasang mata indah Sandara yang ia rasa tak pernah berubah dari terakhir ia lihat. Mencoba menebak apa yang Sanghyun pikirkan,Sandara jongkok di depan Sanghyun dan mengamatinya. Rambutnya sedikit panjang dan kusut sekali,kulit wajahnya mengering,namun masih terlihat tampan menurutnya...persis seperti melihat refleksi ayahnya...
"apa yang terjadi padamu Tuan Sanghyun?harusnya kau sedang duduk di ruangan presdir dan menikmati segala kemewahan yang ada,menghamburkan uang,berjudi,mencari wanita PSK di jalanan—"
"cukup!" ucapan mirip gumaman itu berasal dari Sanghyun,dia menyela ucapan Sandara
Kini sandara diam,dia fikir Sanghyun sudah bisu tapi dalam hati Sandara dia lega. Sejak pembicaraannya dengan Jiyoung kemarin membuatnya sadar,jika kebahagiaan tak kunjung datang maka ia akan buat kebahagiaan itu sendiri,dia tau Sanghyun belum begitu mengenalnya sebagai noona,karena semenjak Sanghyun Sekolah Dasar ia sudah berada di London,tak pernah ia bicara intens dengannya. Sandara juga yakin,Sanghyun tidak membencinya.
"noona... mianhae... appa dan umma tak pernah membencimu... sungguh! Aku tak tau harus katakan apalagi padamu...aku sudah mencoba mencarimu tapi kakek dan paman Sunji selalu menghalangiku...aku tau dosaku,appa,umma begitu banyak padamu...kami menyesal tidak lebih mempertahankanmu di rumah...kami menyayangimu..." susah payah Sanghyun berkata di tengah derai air matanya sesenggukan,sesak sekali rasanya mengucapkan kata-kata yang meyakinkan Sandara. Ya.. inilah Sanghyun,dongsaengnya yang begitu dewasa di usianya sekarang... bahkan Sandara tak mempedulikan perkataan Sanghyun,dia hanya membelai lembut rambut Sanghyun.
"ketika Tuhan mengambil sesuatu dari genggamanmu,Dia tak bermaksud untuk menghukummu, Dia hanya membuka tanganmu untuk menerima sesuatu yang lebih baik lagi...tak apa,aku sudah memaafkan kalian semua...aku juga berharap Appa dan Umma ada disini sekarang,bersama kita" senyuman hangat terlukis di bibir Sandara. Sanghyun menatap Sandara dalam,secara berangsur hatinya mulai menghangat,tak lagi dingin seperti dulu.
Entah siapa yang memulai mereka sudah berciuman lembut,saling menghisap bibir pasangan masing-masing. Sandara makin menekan kepala Sanghyun untuk memperdalam ciumannya, sedang tangan Sanghyun mengelus leher putih sandara. Decakan bibir terdengar begitu cepat saat Sanghyun lebih memainkan bibir Sandara,ini pertama kalinya dia mencium yeoja,dan dia tak menyesal meski Sandara menjadi ciuman pertamanya. Naluri Sanghyun menuntun lidahnya untuk masuk ke bibir Sandara yang masih tertutup,dia tarik sedikit dagu Sandara dan mulai menjelajahi lidah Sandara. Seolah sengatan yang ditumbulkan dari ciuman membuat Sanghyun menginginkan lebih,dia menggendong tubuh Sandara dan membaringkannya di ranjang king size milik Jiyoung.
"nnhh...mmhh..ahhh..." sandara mendesah hebat saat Sanghyun menghisap kuat lehernya dan tentu meninggalkan kissmark. Sanghyun berhenti,entah kenapa dia ingin memandangi wajah Sandara saat ia sentuh. Sandara yang menyadari sanghyun sedang menatapnya akhirnya membalas tatapan Sanghyun dengan aneh. "sudah?" tanya sandara kikuk
"gumawo noona...terima kasih karena sekarang kau disisiku...maukah kau tinggal dirumah kita lagi?"Sanghyun tersenyum manis sekali
Jiyoung terduduk di depan pintu kamarnya,ia menengadah ke atas,mencoba menenangkan dirinya sendiri sejak 30 menit lalu. Jiyoung mengambil apel merah di plastik belanjaannya dan menggigitnya.
Sandara pov
Akhirnya dia tertidur juga,Park Sang Hyun tumbuh dengan baik. Aku tau,akhirnya aku menyayanginya...
"Jam berapa ini?" kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam, ah pasti Jiyoung sudah pulang. Dan tadi itu saat Sanghyun menciumku kurasa dia hanya butuh belaian dariku,yahh... sudah kuduga dia akhirnya malah tertidur pulas setelah seminggu ini mungkin dia begitu lelah.
Mwo? Aku terkejjut melihat Jiyoung duduk menyandar di pintu. Matanya tertutup
Astaga...sudah berapa lama dia disini?apa dia mendengar kami tadi?
"jiyoung~aa..."kupanggil namanya,tapi dia bergeming
Aku jongkok dihadapannya dan melihat kantong belanjaannya,dia membeli apel kesukaanku dan aku telah melakukan hal bodoh padanya!
"mianhae...sungguh hanya kau...hanya kau yang kucintai...aku bersumpah" kugenggam erat tangannya,aku tak mau kehilangan Jiyoung...bagaimana pun sudah kukatakan dari awal...dia lebih berharga di banding nyawaku.
Brukk! Jiyoung menarik tanganku hingga aku jatuh menindihnya. Otteokke?
kudongakkan kepalaku agar memastikan Jiyoung sadar,ya!matanya terbuka dengan wajahnya menghadapku. "boleh kita teruskan hal yang sebelumnya tertunda?"
Aku terdiam mencoba mencermati kata-kata Jiyoung. Belum sempat kubicara dia mendekatkan bibirnya ditelingaku "hnn...jebal..." dia berbisik pelan hingga membuat bulu kudukku meremang.
Jiyoung menjilat leherku dengan gerakan lambat dan itu sangat geli,tanganku yang terlipat didadanya tak mampu bergerak karena jarak kami sangat dekat. Kurasakan sesuatu yang basah di bahuku,ahh...dia menjilatnya
Kemudian dia berhenti,sedikit menjauhkan tubuhku darinya. Mata indah Jiyoung membuatku takluk dan debaran jantungku makin tak karuan. Tangannya terulur meraih daguku,tatapan itu kemudian beralih ke bibirku. Jiyooung mengusapnya pelan dengan jempol. Tak perlu menunggu lama jiyoung menyerang bibirku dengan ciuman yang dalam dan terkesa menuntut. Lidahnya menerobos masuk ke rongga bibirku
"euhh..annhh..." tubuhku memanas merasakan sentuhan mematikan jiyoung.
"jiyounghh..kitaa...hhh...ke kamarkuhh..ahnn"
Kurasakan tubuhku terangkat dan Jiyoung menggendongku sampai kamar tanpa melepas ciumannya. Dengan sekali tendangan dia menutup rapat pintu kamarku. Dia perlahan menurunkanku ke ranjang.
"hhh...mengganggu!"dia kesal melihat kaosku dan langsung melucuti bajuku hingga naked,kemudian dia juga menanggalkan semua bajunya. Tak kusangka Jiyoung sangat sexy meski tubuhnya terlihat mungil, 'milik'nya pun terlihat sempurna.
Entah kenapa aku begitu tegang melihatnya berada diatasku sedang mengocok ''milik'nya dengan tempo sedang. Ini bukan pertama kali,tapi...
"jangan melamun chagi,nanti kau bisa melewatkan bagian paling asyik" tak kusangka dia bisa menggodaku dengan evil smirk'nya. Kwon Ji Young bersiaplah!
Dia memulai dengan menciumku dan menyesap bibir atasku,tubuh kami yang bersentuhan membuatku merasa geli di selangkanganku karena 'milik' Jiyoung bergesekan dengan kulitku. Astaga,akupun sudah basah sekarang.
Kepala Jiyoung turun ke dadaku dan mulai menghisap dada kananku sementara yang kiri ia cubit bagian putingku hingga membuatku menggelinjang nikmat. Aku pun menegang saat lidahnya memainkan putingku dalam mulutnya. "ahhnn...amm..mmahhh" desahku bergairah
Setelah bermain lama di dadaku dia turun ke perutku,mengelusnya dengan lidah basah itu tangan kanannya diusapkan ke kemaluanku dan tangan kirinyameremas pantatku keras.
"aamhh..ahhh.." nafasku tercekat saat kurasakan jarinya menerobos paksa ke lubang kemaluanku. Dia menggerakkan jarinya lalu mengocoknya cepat. Aku berorgasme
"..langsunghh..langsungg sajahh chagii..."desahku kenikmatan,ah belum...ini belum inti
Jiyoung tampak bingung melihatku,segera ku angkat punggungku dan berpegangan pada paha Jiyoung #posisi jiyoung bersimpuh gitu diatas sandara# ku ambil 'milik'nya dan mengulumnya hingga sedalam kubisa,ku masuk keluarkan barang jiyoung
"ahhnnn..mmhh...nice...good,," jiyoung mendesah sambil merem melek
Crott!cairan spermanya keluar dan kutampung dimulutku,dia menatap bibirku yang dikelilingi spermanya lalu menciumku,memagutnya dengan dalam
"aahh!" suaraku melengking saat kurasakan 'milik' jiyoung sudah masuk di miss v ku tanpa aba-aba.
"sakitkah?" tanya Jiyoung cemas,aku menggeleng lemah dan kupastikan aku baik-baik saja.
Jiyoung mulai menggerakkan pinggulnya dan dia juga menarik pinggulku berlawanan,sensasi luar biasa menjalar di sekujur tubuhku. Decakan kulit kami yang beradu terdengar sexy dan menggairahkan.
"aku ..mau...keluarr" kataku saat dindingku mulai berkedut cepat
"together...ahhnnn,,,"
Croot! Crott!
Cairan kami bersatu di rahimku,dia langsung jatuh menindihku. Nafas kami tersengal meski hanya 1 ronde saja. Dia berbaring disebelahku dan melirikku dengan ekor matanya.
"ada yang ingin kukatakan padamu..." kata jiyoung
Jiyoung pov
"ada yang ingin kukatakan padamu..."
Dia membalikkan tubuhnya menghadapku "aku juga"
Deg! Entah kenapa aku tak mau dengar penjelasan apapun darinya tentang apa yang ia lakukan dengan sanghyun tadi,aku lebih baik tidak tau. Sungguh!
"katakanlah dulu..."ujarku
Dia menatapku dalam dan menyandarkan kepalanya di dadaku.
"aku...ingin pulang...aku ingin pulang dengan Sanghyun..."
Nafasku tersangkut di tenggorokan,apa katanya? Kumohon jangan pergi dariku selangkahpun Sandara...
"aku akhirnya bisa terlepas dari mimpi burukku,aku tak bisa memungkiri bahwa aku juga butuh keluarga,karena hanya ada sanghyun maka aku akan bersamanya hingga ajalku nanti..." kurasakan nafas hangatnya menyentuh permukaan dadaku. Jantungku...dia pasti sedang kerja keras memompa darahku karena Sandara
Bagaimana ini?dia memberiku 2 pilihan seolah kau memilih kuburan atau rumah sakit #aduh author bhasanyaa# ,dia memang berhak atas semua ini,dan aku tak boleh egois!memang aku siapa? Suaminya? Ah..cincin itu...
"baiklah,kau boleh pulang...tapi ingatlah...kau harus bahagia..." dasar jiyoung bodoh!apa yang kau katakan huh?kau pecundang!
Dia mendongak menatapku gelisah "kau akan ikut denganku kan?"
Aku menggeleng " aku harus menyelesaikan skripsiku,aku harus cepat lulus..."
"aku akan menunggumu!" pekiknya keras
Tidak Sandara... mungkin sekali setelah ini kita tak pernah bertemu...itu pasti...
"sebenarnya yang ingin kukatakan padamu adalah aku akan pindah ke London...aku menetap disana" bibirku bergetar mengatakannya,padahal aku sempat menolak mentah-mentah ajakan dari appa untuk melanjutkan magister di London,tapi...ini bisa kugunakan
"kapan kau kembali?"wajahnya menegang dan kulihat matanya berkaca-kaca
"molla...mianhae...kita tak mungkin bersama Sandara..."
Plakk! Kurasakan pipiku memerah karena tamparan Sandara. Kupejamkan mataku menarik nafas panjang,Sandara menangis tertahan dengan tatapan benci padaku.
"berani sekali kau permainkan kebahagiaan seseorang dokter Kwon!" bentak Sandara . dia berdiri dan mengambil bajunya yang berserakan,memakai seadanya dan pergi dari kamar. Aku masih terpaku di ranjang. Menyenderkan kepalaku kebelakang dan menahan sekuat tenaga air mata yang mendesak keluar.
"mianhae..."
Sebuah kotak perhiasan di sebelah lampu tidur menemaniku hingga pagi menjelang,dan bulan selanjutnya.
Suasana sebuah RS swasta besar di tengah kota Seoul begitu ramai,pasien berdatanganmendapatkan perawatan dan adapula yang menjenguk sanak saudaranya yang terbaring di RS.
Keramaian itu tak membuat seorang dokter muda –KWON JI YOUNG- jemu,dia saat ini sedang menggendong seorang balita yeoja mungil dan berjalan berkeliling taman RS.
"Appa...aku lapar!" dia merengek sambil menarik jas putih kebanggaan sang dokter.
"eoh? Kau baru saja makan bubur tadi!ahh..kau tak takut perutmu meledak eoh?"
Si balita yang tak terima mulai menekuk wajahnya,mengeluarkan jurus terakhirnya.
"UMMAA!... APPA JAHAT...!AAAA...HUAAA" pekikan si balita membuat jiyoung ngeri.
Menangis adalah jurus andalan balita mungil berambut keriting gantung. Jiyoung memutar bola matanya ,tak peduli kau seorang yang pintar bicara pasti tangisan bayi bisa membuatnya mati kehabisan kata-kata (?)
"Aish... Jinra! Kenapa kau menangis?" seorang suster mengambil yeoja kecil bernama Jinra dari Jiyoung dan menggendongnya.
"umma...hiks...appa..." baby Jinra menunjuk Jiyoung dengan muka bete.
"Aaa...mianhae bommie~a..." jiyoung mengusap tengkuknya dan tersenyum polos.
Suster bommie tersenyum manis pada Jinra buah hatinya. "Appa Jiyoung benar, kau masih sakit chagi,jadi jangan makan banyak,arraseo?" ucap bommie lembut disusul anggukan kecil Jinra
Jiyoung terpesona melihat kedekatan bommie dan bayi mungil Jinra. Setidaknya dalam sepersekian detik ia lupa pada masa lalunya,dia bertekad akan membuat hari-harinya lebih berguna dengan menjadi dokter. Sebuah profesi yang ia dambakan saat kanak-kanak. Dia tentu bangga...
" ah! Umma sudah bilang kan kau harus memanggil Ahjussi-bukan Appa,memang kau mau punya Appa dua?"
Tawa jiyoung pecah mendengar ucapan bommie –teman kuliahnya di London-. Jinra memang suka sekali memanggilnya Appa karena sering bertemu Jiyoung yang menangani penyakit aritmia Jinra.
"mm,mianhanda Ahjussi" jinra membungkukkan tubuhnya dan tersenyum tiga jari.
"gwenchana...aku tak keberatan koq.." jiyoung mengacak rambut Jinra gemas. Kemudian bommie menanyakan hal yang paling sulit ia jawab
"kau sudah cukup lama di Seoul,apa tak berniat menemui yeoja itu?"
Kemana lagi arah pembicaraan bommie kalau bukan Sandara...belahan jiwanya
"aku belum siap,entahlah...aku tak berani menemuinya" mata Jiyoung menerawang jauh, ada sedikit sesak di dadanya.
"kau tak boleh...tak boleh menatap masa lalumu dengan cara seperti ini...kau tak bisa pungkiri lagi Jiyoung~aa...kau mencintainya...amat mencintainya bukan?"
Jiyoung menunduk dalam,dan menatap sepatu hitamnya yang senantiasa ikut bersamanya melangkah kemanapun ia pergi,sepatu ini pula yang dengan gagahnya menuntun tangan halus Sandara kedalam dekapannya... jiyoung merasakan kebodohan di dalam dirinya,kenapa dia jadi sangat pengecut dan dengan tenangnya meninggalkan Seoul.
I'm singing my blues...
Jiyoung menatap layar ponselnya yang menyala-nyala memaksanya menatap dengan lekat nama pemanggil yang tertera di ponselnya...
Mulutnya menganga lebar,berulangkali mengerjapkan matanya tak percaya. Dia menarik tangan bommie paksa dan menunjukkan layar ponselnya tepat di depan wajah bommie..
"ah! Oh my gosh! Sa-sandara?jinjja?ayo angkat pabo!" bommie kesal melihat Jiyoung yang masih asyik dengan shocknya. Dengan gemetar Jiyoung menekan tombol hold.
"yeobseo..." nafas Jiyoung tersengal,ia mencoba menghirup udara sebanyak mungkin.
"..." tak ada suara apapun.
Jiyoung masih menunggu,ia melihat tanda signal di ponselnya, ada sinyal koq...
5 menit...
"hei..." panggil Jiyoung putus asa. Bommie juga ikut cemas dengan raut wajah Jiyoung. Jiyoung menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangannya. Dia tak tahan dengan dirinya sendiri. Apa ini hanya fatamorgana di gurun pasir?tidak,disini seoul kota indah yang memiliki pemandangan yang luar biasa. Mimpikah ini? Tapi dia merasa semua yang ia lihat adalah realistis. Jangan-jangan dia gila...skizopren bahkan bisa terjadi pada anak-anak. Siapapun tolonglah Jiyoung...
Bruk! Jiyoung jatuh terduduk di rumput,sambungan terputus! Dirinya benar-benar kacau sekarang.
"kajima...jebal kajima dara~aa...saranghae..." jiyoung memegang dadanya erat,saat ini bernafaspun sulit baginya.
"Annyeong dokter Kwon,ada seorang bayi yang harus kau jaga..."
s-suara ini...
jiyoung mendongak dan mendapati dihadapannya seorang bayi 1 tahun berdiri dihadapannya menggapai-gapai wajah Jiyoung,bayi namja yang sehat dan tampan...tunggu,ada bayangan di belakang bayi itu. Dengan gerak lambat kedua wajah itu saling bertemu dan seolah semua kupu-kupu di dunia ini terbang mengitari keduanya menimbulkan perasaan sangat hangat dan penuh sensasi aneh.
"nah... Kwon shin jae,dokter ini adalah Appa-mu" bidadari itu tersenyum memberikan bayi Shinjae ke pangkuan Jiyoung. Yeoja itu mengelus pipi Jiyoung lembut membuat semburat merah di pipi Jiyoung.
"Aku adalah kebahagiaanmu bukan?"
-end-
#jambak rambut#
Inilah happy ending! Yeiyy!
RCL CHINGUreviewwww pweaseee
go DARAGON!
huft...
