Preview :

"Baiklah ini memang kesalahan Hae, sebagai gantinya maukah Hae berjanji pada eomma kalau Hae sudah besar, Hae akan jadi namja yang tak menyusahkan eomma dan juga orang lain ?" nyonya Lee mengeluarkan jari kelingkingnya yang langsung digaet oleh kelingking Donghae.

"Ne, eomma Hae janji. Nah, eomma istirahat lagi ne, kata dokter, eomma harus banyak-banyak istirahat." Donghae menyelimuti eommanya dan mengecup dahi sang eomma.

.

.

.

Title : The Second Chance

Disclaimer : Donghae milik Eunhyuk, Eunhyuk milik Donghae. Mereka saling memiliki. Cerita dan Plot ASLI milik saya.

Pair : HaeHyuk

Rating : T

Genre : Romance and Hurt (?)

Warning : Shonen – Ai, BL, Boy x Boy, GaJe, Abal, Typo dimana-mana dll.

.

.

.

Don't Bashing and Flame Chara !

.

.

.

If U Hate Sho-Ai, Please don't Read !

.

.

.

Enjoy it^^

.

.

.

Suzume Saezuri Present

The Second Chance

oOo

"Dan setelah eommaku tertidur, aku tak pernah melihat beliau menampakkan iris hazelnya lagi." Donghae telah mengakhiri kisah sedihnya.

Donghae menghela nafasnya panjang sembari melirik ke arah Eunhyuk. Matanya terbelalak ketika melihat Eunhyuk tengah menahan air matanya agar tak keluar.

"Hiks..hiks...hiks...," isak Eunhyuk dengan mengigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara yang terlalu keras.

Di rengkuhnya tubuh ramping Eunhyuk kedalam pelukan penuh kasih sayangnya dan mengelus punggung yang masih bergetar.

"Sssttt..., uljima Hyukkie, gwaenchanayo,"

"Hae, mianhaeyo... jeongmal mianh-"

Belum sempat Eunhyuk meneruskan kata-katanya. Bibir semerah strawberry itu telah dibungkam oleh bibir tipis milik Donghae. Ciuman yang penuh dengan rasa cinta.

Merasa kalau Eunhyuk sudah berhenti menangis. Donghae langsung melepaskan tautan bibir mereka. Eunhyuk merasa sangat malu sehingga ia menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah strawberry.

Donghae tersenyum tipis melihat tingkah Eunhyuk yang sangat menggemaskan. Dan menebak, bahwa ciuman yang baru saja di lontarkannya adalah ciuman pertamyanya Eunhyuk.

"Tapi, aku telah menemukan seorang dengan mata yang sama denga eommaku," Donghae meraih dagu Eunhyuk dan mengangkatnya agar ia dapat memandangi wajah Eunhyuk yang kelewat manis.

"Nuguya?" tanya Eunhyuk penasaran.

"Kau Hyukkie~" ujar Donghae yang gemas akan kepolosan Eunhyuk.

"T-tapi iris mataku 'kan warnanya darkbrown." Balas Eunhyuk yang merasa bahagia sekaligus kecewa di saat yang bersamaan.

"Hyukkie~, yang kumaksud bukanlah warna akan iris mata eommaku, tapi kedamaian yang terpancar dari iris mata itu." Donghae mengacak rambut halus milik Eunhyuk.

"Sudah siang, ayo kita kembali saja." Usul Donghae yang di tanggapi dengan anggukan oleh Eunhyuk. Donghae lalu jongkok di depan Eunhyuk.

Dengan muka merah Eunhyuk langsung naik ke punggung tegap milik Donghae. Melingkarkan tangannya pada leher Donghae dan memeluknya dengan erat.

OoOoOoOoOoO

Sepanjang perjalanan, banyak orang yang memandang pada pasangan HaeHyuk. Tentu saja dengan pandangan yang berbeda-beda. Dan itu membuat Eunhyuk malu.

"H-Hae, turunkan aku," pinta Eunhyuk yang menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Donghae.

"Kita hampir sampai Hyukkie." Balas Donghae yang masih melangkah tanpa mempedulikan sekitar mereka yang mulai membicarakan keromantisan mereka.

Eunhyuk pun mengalah dan kembali menyembunyikan wajahnya.

OoOoOoOoOoO

"Hyukkie~ kau istirahat dulu ne, aku tak mau melihatmu kelelahan." Donghae yang selesai menyuapi Eunhyuk segera menyelimuti Eunhyuk sebatas dada Eunhyuk dan mengecup dahi Eunhyuk.

Blushh

Lagi-lagi pipi Eunhyuk merona merah.

Dialihkannya pandangan matanya kearah jendela agar tak menatap mata sendu miik Donghae.

Eunhyuk POV~

Ada apa denganmu Hyuk? Kenapa akhir-akhir ini mukaku sering memerah? Apalagi kalau Donghae ada di sampingku.

Ugh, aku benar-benar merasa aneh.

Kupejamkan mataku, berusaha agar tertidur, tapi usahaku gagal.

Hey, kalian juga akan merasakan apa yang aku rasakan ketika kau tidur dan terus di tatap dengan intens. Ya, aku dapat merasakan Donghae yang terus memandangiku. Entah apa yang tengah dipikirkan olehnya.

Cklek

Terdengar pintu terbuka. Aku berusaha menajamkan pendengaranku. Mencari tahu siapa yang baru saja masuk keruangan ini.

"Apa dia sudah tidur?"

Ini 'kan suara eomma.

"Kudengar Hyukkie sudah mendapatkan donor ginjal ya?" aku merasa nada bicara eomma sedikit bergetar.

"Ne,"

Tap tap tap.

Terdengar derap kaki mendekatiku.

Kurasakan sebuah tangan yang kuyakini adalah milik eomma, menggenggam erat tanganku.

"Hyukkie~ mianhaeyo ne,"

Eomma, kau tak bersalah. Karena merasa tak enak dengan eomma yang dilanda rasa bersalah. Aku berpura-pura terusik olehnya.

"Ugh" aku 'pun memulai aktingku.

Kukerjapkan mataku, berpura-pura membiasakan mataku dengan cahaya yang ada.

"Hyukkie~, mianhae ne chagi," ulang eommaku.

"Eomma, ini bukan salah eomma," balasku dengan mengeratkan genggaman tangannya.

"Kenapa kau tak mau membicarakan ini pada eomma?"

"Aku hanya tak ingin membuat eomma khawatir akan keadaanku," jawabku dengan jujur tanpa berani memandang iris matanya.

"sayangnya aku masih mengkhawatirkanmu chagi~" beliau mengelus surai redbrownku dengan lembut.

"Sudahlah eomma, aku sudah mendapatkan donor ginjal," kataku, yang tak ingin mendengar yeoja yang mengandungku terus mengkhawatirkan keadaanku.

"Apa kau tahu siapa yang mendonorkan ginjal untukmu?"

Sejenak aku terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan eommaku.

Betapa bodohnya diriku yang langsung menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih. Dan juga tak mau menanyakan siapakah gerangan yang rela mendonorkan ginjalnya untukku.

Apa dia sudah meninggal? Apakah masih hidup?

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang masih berkeliaran didalam otakku.

"Hyukkie~ gwaenchanayo?"

"E,eh ne, eomma," balasku yang masih berpikir siapa yang mendonorkan ginjal untukku.

"kau tahu siapa Hyukkie?" ulang eomma.

Aku tak menjawab.

Kulihat yeoja yang kini menginjak usia 50 tahun, tengah menghela nafasnya. Mungkin dia sudah menebaknya kalau aku tak tahu orangnya.

"Besok, berterima kasihlah padanya, kudengar orang yang mendonorkan ginjal padamu masih hidup," eomma membenahi letak selimutku.

"Eomma pulang dulu ne, makan yang banyak."

Besok... besok...

Ah, besok 'kan operasinya akan dimulai. Kenapa aku tak berpikir sejau itu?

"Dasar pabo," rutukku.

"Tapi aku mencintaimu,"

Eh, kudongakkan kepalaku.

Seketika itu, mukaku terasa panas. Kutundukkan lagi kepalaku.

Normal POV~

Donghae menarik dagu Eunhyuk agar memandang kearahnya.

Entah sengaja atau tidak, jarak antara wajah Eunhyuk dan Donghae sangatlah dekat. Bahkan masing-masing dari merka dapat merasakan deru nafas yang menerpa wajah mereka.

Donghae berusaha mengeliminasi jarak yang ada.

Tinggal selangkah lagi.

"Hyaa~ Hyukkie~" tapi na'as sebuah suara menginterupsi aktivitas mereka.

Dengan segera Eunhyuk langsung menundukkan wajahnya.

"Hyukkie~," goda sang pengganggu, yang ternyata adalah Kibum.

"Mianhaeyo ne, Hyukkie, aku tak bermaksud mengganggu acara first kissmu," tanpa merasa bersalah, Kibum yang memang datang sendirian langsung melenggang pergi.

Terlihat Donghae masih terbengong dengan apa yang diucapkan oleh Kibum.

"Hyukkie~ benarkah yang ditaman, adalah first kissmu?" tanya Donghae syok.

Eunhyuk hanya menganggukkan kepalanya tanpa mau menganggkat kepalanya.

Greb

"Gomawo ne," ujar Donghae memeluk Eunhyuk dengan sangat erat.

"Ugh, Hae~ sesak~," rengek Eunhyuk.

"Mianhae~ aku terlalu senang,"

"Ne, cheonmaneyo."

.

.

.

_TBC_

Annyeong semuanya /

Mianhae, mungkin kalian lupa dengan cerita ini.

Tapi saya amat sangat berterima kasih pada orang yang mau membacanya.

Terima kasih banyak*BOW

Mainhae yang menunggu epep ini*BOW

Ma'af saya tak dapat membalas review-an kalian, tapi semuanya udah saya baca kok. jeongmal kamsahamnida and jeongmal mianhae*BOW

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal aidzin wal faidzin...