Yukiko's POV
"Hey, hey. Apa kau sudah tahu? Hari ini akan ada murid pindahan!"
"Apa iya? Wah, cowok atau cewek?"
"Dari yang aku dengar sih cowok."
"Ganteng, tidak?"
Ya, itu adalah perbincangan yang tidak sengaja kudengar pagi ini. Kelasku sedang heboh dengan adanya berita murid pindahan yang akan masuk di kelas ini. Apalagi para ceweknya, karena dengar-dengar murid pindahannya laki-laki, jadi mereka pada berisik bertanya seperti 'ganteng, tidak?' 'kaya, tidak?' 'pintar, tidak?' dan semacamnya deh. Ahh, aku sampai pusing mendengarnya..
"Oi, Yukiko!" tiba-tiba ada yang memanggilku dari belakang.
"Hai, selamat pagi Chie." kataku, sambil membalikkan badan ke arah sumber suara tersebut.
"Pagi! Cewek-cewek itu berisik sekali ya.." Cewek berjaket hijau-kuning ini langsung duduk setelah meletakkan tasnya di meja, tepat di belakangku.
Oh ya, namaku Yukiko Amagi. Murid Yasogami High School yang berduduk di kelas 2-2, dan murid yang bertempat duduk di belakangku ini bernama Chie Satonaka. Dia adalah sahabatku sejak kecil. Dia ini orangnya ceria sekali! Keren, jago bela diri, dan punya banyak teman. Berkebalikan denganku, aku tidak punya banyak teman. Ya bukan karena aku kuper sih. Hanya saja aku diharuskan membantu pekerjaan orangtuaku, jadi aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mencari teman. Jangankan mencari teman, setelah bertahun-tahun aku tinggal di Inaba pun tidak terlalu banyak orang yang aku tahu, kecuali orang-orang yang ada urusannya dengan usaha orang tuaku.
"Ya gitu deh. Soalnya aku dengar-dengar ada murid pindahan, cowok pula. Tentu saja mereka heboh." kataku sambil melanjutkan membaca novel yang sedang aku baca.
"Hmm, begitu ya.. cowok ya.. menarik perhatianmu, tidak?" Chie menatapku sambil cengar-cengir.
"Hm? Menarik perhatianku bagaimana maksudmu?" Aku bertanya, tidak menghentikan kegiatan membaca novelku.
"Ya begitu. Kau ini sudah 16 tahun, Yukiko. Tidak pernah punya pacar, padahal kau populer. Jadi aku berpikir, mungkin saja murid pindahan ini menarik perhatianmu. Maksudku, bikin kamu penasaran, begitu nona." Chie masih cengar-cengir sambil menaik-turunkan alisnya.
"Chieeeee! Jangan menggodaiku terus dong! Pakai nona-nona segala lagi. Lagipula aku tidak populer dan aku belum butuh pacar, jadi hentikan pembahasan mengenai cowok ataupun pacar-pacar apalah itu. Dan justru pipimu itu yang menarik perhatianku!" aku langsung menaruh novelku di meja dan mencubiti pipi Chie sambil tertawa-tawa kecil.
"Adwuuwhh, syakwit nown!" (baca: aduuuhh, sakit non!) Chie ikut tertawa dan kamipun lanjut bercanda sampai akhirnya bel masuk sekolah berdering.
Tidak lama kemudian, wali kelasku, Pak Kinshiro Morooka yang biasa dipanggil King Moron oleh anak-anak sekolahan pun datang dan membuat hujan heboh di kelas ini. Aku lihat murid di depanku sudah menyiapkan buku cetak sejarah yang super besar dan tebal untuk dijadikan payung. Untung saja aku bawa kipas anti badaiku, jadi aku tak perlu khawatir kecipratan air hujannya King Moron.
"DIAM KALIAN SEMUA! Kalian tidak lihat apa kalau ada saya disini?! Malah berisik ngobrol sendiri-sendiri. Sudah, saya tidak mau buang-buang waktu. Oi, murid pindahan! Maksudku, sampah pembuangan dari kota! Sini kau!"
Ya, jangan heran kenapa dia dijulukin King Moron. Dia itu dikabarkan tidak suka dengan murid. Dia juga sangat galak. Kalau ada yang berisik saat pelajarannya, siap-siap saja mendapatkan air hujan dadakan.
Lalu murid pindahan yang dimaksud itu langsung masuk ke dalam kelas dan jalan ke arah King Moron. Hm? Aneh, atau bisa kubilang, unik? Rambutnya silver. Tapi entah ini hanya perasaanku saja atau gimana, aku merasa dia mengingatkanku kepada seseorang. Tapi siapa ya? Ah, entahlah. Aku lupa.
"Cepat perkenalkan dirimu, pecundang!" King Moron mulai menghina-hina lagi.
"Yu Narukami." Kata murid pindahan itu. Berdiri di depan kelas. Memperkenalkan dirinya tanpa menghiraukan perkataan King Moron.
Hoh, jadi namanya Yu, ya.. Baiklah, dia membuatku kagum. Dia tidak menghiraukan King Moron, saudara-saudara! Tidak menghiraukan! Biasanya kalau ada murid yang dihina begitu oleh King Moron, paling tidak mereka kesal, ada yang melawan dan berakhir di ruang guru, tapi banyak juga yang menangis, apalagi para murid ceweknya. Sedangkan murid baru ini malah tidak menunjukkan emosi sama sekali. Dia hanya memperkenalkan dirinya sambil sedikit membungkuk ke arah kami, lalu dia melihat ke sekeliling kelas. Seperti ada yang dicari.
Tiba-tiba King Moron ngomel "Oi! Mengapa kau melihat sekeliling begitu? Mencari gadis cantik? Kau pikir akan ada gadis yang mau denganmu?! Ini sebabnya aku benci orang kota. Sudah ku duga, orang-orang kota memang berisi orang ganjen seperti kau! Baru juga mengenalkan diri, sudah mencuri-curi pandang dengan cewek di kelas ini! Ka-"
"Pak! Anu, kursi di sebelah saya kosong. Boleh dia duduk disini?" Chie memotong pembicaraan King Moron.
"Ya sudah, kau dengar dia kan?! Sana duduk!" Dengan semangatnya King Moron menunjuk-nunjuk murid pindahan itu dan menyuruhnya duduk.
Lagi-lagi dia tidak menghiraukan King Moron dan langsung berjalan ke kursi di samping kiri Chie.
Pelajaran hari inipun dimulai, dimulai dengan kebawelan King Moron dan diakhiri dengan pelajaran Sejarahnya Bu Sofue.
Setelah bel pulang berdering, seperti biasa, aku pulang bersama Chie.
"Yukiko, ayo kita pulang."
"Iya, ayo."
"Eh, gimana kalo kita ajak murid pindahan itu pulang bareng juga? Kelihatannya dia sendirian." kata Chie sambil menunjuk murid pindahan tersebut dengan dagunya.
"Hmm, tentu. Kalau mau mu begitu." aku mengiyakan saja. Kami langsung berjalan menghampiri Yu Narukami.
"Oi! Namamu Yu Narukami kan? Aku yang duduk di sampingmu tadi, Chie Satonaka. Salam kenal ya!" Ini sebabnya Chie punya banyak teman. Dia ramah dan tidak pilih-pilih teman.
"Oh.. Ya, ya. Tentu aku ingat. Salam kenal ya Satonaka. Err, dan gadis di sampingmu ini?" tanyanya, menaikkan alisnya sebelah sambil melihatku dan Chie, bergantian.
"Ini Yukiko Amagi! Sahabatku. Dan jangan formal begitu! Kau bisa memanggilku Chie saja kok."
"Ya, aku Yukiko Amagi. Salam kenal ya Narukami. Maaf kami sudah mengganggumu." kataku, sambil sedikit membungkuk.
"Yukikoooooooo, kau membuatku merasa tidak enak.."
"Tidak, tidak. Tidak mengganggu sama sekali kok, lagipula senang rasanya mendapatkan teman baru di hari pertama pindah ke sekolah ini. Kalian bisa memanggilku Yu. Kurasa lebih mudah diucapkan." kata Yu.
Tidak lama dari itu, tiba-tiba handphone Chie berdering. Kami pun berhenti sejenak menunggu Chie mengakhiri pembicaraannya di telpon.
"Wahh, maaf! Barusan ibuku yang menelpon, dan aku disuruh ke Junes sekarang juga. Maafkan aku ya! Kalian bisa pulang berdua kan? Aku duluan ya, dadahh! Hati-hati!" sambil terburu-buru, Chie menjelaskan dan langsung lari ke arah Junes. Chie itu larinya cepat lho! Aku bahkan belum sempat bilang apa-apa dan dia sudah menghilang dari pandanganku.
Tinggal ada aku dan Yu. Kami melanjutkan perjalanan kami pulang dan sepanjang perjalanan... Awkward. Aku jarang mengobrol dengan laki-laki seumuranku, apalagi pulang bersama! Harus ngomong apa nih? Aku kebingungan, takut salah omong.
"Err, anu... Rumahmu dimana, Yu?" dan akhirnya aku membuka pembicaraan.
"Nanti belok kiri di pertigaan pom bensin."
"Oh, kalau aku belok kanan, ke tanjakan itu. Samping pom bensin." Mampus aku, aku malah memberitahunya! Padahal dia kan tidak menanyakan rumahku dimana. Gimana... gimana kalau dia tiba-tiba jawab 'ga nanya' begitu?!
Tapi Yu hanya memegang dagunya sambil menganggukkan kepala. Sambil bilang ''Hoo.."
Untung saja perkiraanku salah. Aku tidak tahu lagi harus bicara apa. Selama perjalanan kami hanya diam. Sampai akhirnya ada seseorang yang memanggilku dari belakang.
"Yuki!"
Aku langsung membalikkan badan ke arah suara tersebut, begitu juga Yu. Tiba-tiba ada seorang cowok yang tidak aku kenal berjalan ke arahku dan memelototi Yu.
"Yuki.. Kau.. apa kau mau pergi bersamaku?"
"Maaf?" aku kebingungan, kenapa tiba-tiba dia mengajakku pergi? Lagipula aku tidak kenal. Melihat dia pun aku tidak pernah.
"Cepat jawab! Mau pergi bersamaku, tidak?!"
"...Maaf, tapi tidak." aku menolaknya dengan halus. Apa sih maunya?
"Tch. Pasti ini semua gara-gara kau! Sialan!" katanya sambil menunjuk-nunjuk Yu dan berjalan pergi.
Yu tidak menghiraukan orang aneh tersebut, tapi memasang wajah bingung, walaupun tidak terlalu kentara.
"Err, maaf ya Yu.. Omong-omong, dia itu mau apa sih? Kenapa tiba-tiba.."
"Tidak, tidak apa-apa. Kau.. benar-benar tidak mengerti? Dia itu mengajakmu kencan. Ayo jalan lagi, nanti kesorean." kata Yu, mulai berjalan lagi.
"Hah? Mengajak kencan? Ya ampun, aku benar-benar tidak paham kalau tadi dia mengajak aku kencan." Aku benar-benar tidak paham. Dan kalaupun benar dia mengajakku kencan, apa cara menolakku tadi kasar, makanya dia bilang begitu kepada Yu?
"Ketidak pekaanmu itu bisa membuat banyak orang patah hati lho.. Baiklah, sudah sampai." Tak terasa sudah sampai di pom bensin. Dari sini aku harus naik bus kurang lebih 15 menit sampai ke rumahku.
"Ya, aku akan menunggu bus disini. Hati-hati dijalan pulang, Yu." kataku sambil melambaikan tangan ke Yu yang mulai berjalan.
Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku sambil teriak "Ya, kau juga!" dan lanjut berjalan tanpa menengok ke belakang lagi, tanpa sadar, mataku mengikutinya sampai dia hilang dari jarak pandangku.
Senyumnya tadi.. manis.
Aku baru tersadar saat bus yang akan kunaiki telah tiba tepat di depanku. Ah, kenapa aku malah mikirin dia sih? Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku, berharap itu dapat menghapuskan dia dari pikiranku ini sekarang. Aku langsung naik ke dalam bus dan duduk di kursi penumpang paling belakang. Di pojok belakang tepatnya. Selama di jalan, aku melanjutkan membaca novel yang tadi kubaca di kelas. Well, aku tidak terlalu peduli dengan soal cinta-cintaan, tapi aku suka membaca novel atau komik romance, lucu ya?
Sesampai dirumah aku langsung disapa oleh staff-staff yang bekerja di rumahku dan aku menyapa mereka kembali. Hm, lebih tepatnya lagi penginapan sih, bukan rumah. Keluargaku mempunyai usaha penginapan di Inaba. Namanya Amagi Inn. Namun, khusus keluargaku, kamar kami terdapat di lantai 2. Lantai 1 adalah lobby, ruang makan tamu, dan ada hot springnya juga. Dan lantai lainnya adalah kamar-kamar tamu penginapan ini.
Sampai di kamar, aku langsung mandi lalu membantu pekerjaan ibuku, dan makan malam setelahnya. Selesai itu, aku langsung mengerjakan semua tugas yang tadi diberikan disekolah dan beranjak ke tempat tidur. Aku melihat jam, sudah jam 9. Entah kenapa tapi hari ini aku capai, dan rasanya kalau aku memejamkan mata 3 detik saja, mungkin aku akan tertidur pulas.
Hm, tapi kenapa aku merasa familiar dengan Yu ya? Mata abu-abunya, rambut silvernya juga. Entahlah, aku merasa terlalu lelah untuk berpikir. Tapi yang jelas, aku tahu kalau dia orang baik. Aku memejamkan mataku dan langsung tertidur.
