Keesokan harinya, di jalan ke sekolah, aku melihat teman sekelasku yang juga murid pindahan dari kota seperti Yu. Hanya saja dia pindah kesini pada semester kemarin. Yosuke Hanamura namanya. Ayahnya adalah pemilik Junes, supermarket besar yang ada di Inaba. Dia merupakan salah 1 teman dekat Chie, mereka terkadang suka bertengkar, tapi pasti baikan dan akur lagi. Tidak lama ini, dia pernah ditendang oleh Chie lho! Karena dia mematahkan kaset film kungfu kesukaan Chie. Apa ya judulnya? Trial of The Bacon atau Trial of The Dragon? Entahl- ASTAGA! Dia menabrak tong sampah! Masuk ke dalamnya dan bergelinding ke turunan yang ada di depan sana! Gawat, kalau tidak ada yang menolongnya bisa mampus berantakan dia di bawah!
Untung saja aku bisa lari cepat, jadi mungkin saja aku bisa menangkapnya sebelum tong itu menabrak dinding yang ada di bawah.
Aku langsung berlari mengejarnya untuk menghentikan tong yang berisi Yosuke tersebut, dan hap! Aku berhasil menangkap tongnya sebelum menabrak dinding.
"Fuh, hampir saja.." Dan aku tersadar kalau di samping tanganku ada tangan seseorang yang juga menangkap tong tersebut. Bersamaan denganku. Pantas saja tongnya terasa tidak terlalu berat. Aku sedikit mendongakkan kepalaku untuk melihat orang tersebut, yang ternyata.. Yu. Ya, Yu yang menangkap tong ini bersamaan denganku.
"Kau.. tidak apa-apa, Yukiko?" tanyanya dengan santai.
"Emm, bukankah kau harusnya menanyakan pertanyaan itu kepada orang yang ada di dalam tong sampah ini..?" aku menjawab sambil mengalihkan pandanganku ke kaki Yosuke.
"Oh, jadi ada orangnya. Pantas saja kau mengejar-ngejar tong sampah ini sampai ke bawah." Dia tertawa kecil sambil mendirikan tong sampahnya dan membantu Yosuke keluar dari tong itu.
"Terima kasih ya kalian sudah membantuku. Dan astaga! Tong itu bau sekali! Dosa apa yang kuperbuat sampai-sampai aku bisa masuk ke dalam tong terkutuk itu di pagi hari yang cerah ini?!"
Syukurlah, tanpa ditanya pun aku yakin kalau Yosuke baik-baik saja. Aku dan Yu hanya bilang 'sama-sama' sambil tertawa kecil mendengar Yosuke berkata begitu. Kamipun mulai berjalan ke arah sekolah. Aku hanya diam saat Yu dan Yosuke berkenalan sambil berjalan.
"Anu.. bukankah kita harus cepat-cepat? 4 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup." kataku sambil melihat jam dan mempercepat langkah kakiku.
"Oh ya? 4 menit lagi? Baiklah, kurasa kita harus berlari.." kata Yu, menyarankan agar tidak telat. Kami bertiga langsung mulai berlari. Dan tepat setelah kami memasuki gerbang sekolah, bel berbunyi dan gerbang ditutup. Untung saja kami tepat waktu!
Kami memasuki kelas bersamaan dengan guru geografi kami, pak Yamada. Pak Yamada menjelaskan di kelas tentang ngarai Valles Marineris, yaitu ngarai terbesar yang ada di tata surya.
Tiba-tiba Pak Yamada memanggil Yu. "Yu Narukami. Dari pada kau melamun, lebih baik menjawab pertanyaan saya."
Aku langsung menengok sedikit ke arahnya. Dan benar saja dia sedang melamun, bahkan dia belum sadar kalau dia dipanggil Pak Yamada.
"Yu Na-ru-ka-mi.." Pak Yamada memanggilnya sekali lagi, lebih lambat dan lebih kencang suaranya daripada sebelumnya. Tapi kali ini Yu langsung sadar kalau dia dipanggil. Kurasa Pak Yamada akan menanyakan yang tadi ia jelaskan.
"Ya, Pak?" kata Yu, langsung melihat ke depan.
"Apa nama ngarai terbesar yang ada di tata surya?" Pak Yamada mengulangi pertanyaannya lagi.
"Valles Marineris, Pak." Whoa, dia menjawab tanpa ragu, dan jawabannya juga benar. Tak kusangka kalau Yu pintar. Padahal tadi dia melamun dan sepertinya tidak mendengarkan penjelasan Pak Yamada. Atau mungkin dia suka baca buku pelajaran ya?
"Hoh, bagus-bagus. Benar. Seperti yang saya jelaskan tadi, Valles Marineris adalah ngarai terbesar yang ada di tata surya. Baiklah, apa ada yang tahu ukuran dari ngarai ini?" Pak Yamada bertanya lagi.
Wah, ini aku tahu! Saat dijelaskan Pak Yamada tadi, aku sambil baca buku sedikit-sedikit, dan aku sempat membaca ukuran ngarai ini. Jadi aku langsung menunjuk tanganku untuk menjawab pertanyaan Pak Yamada.
"Baiklah, silahkan jawab, Narukami." lah? Bukannya aku yang tunjuk tangan..? Aku melihat ke arah Yu dan ternyata dia juga menunjuk tangannya. Kampret, aku didahului.. Aku langsung memutar bola mataku dan menurunkan tanganku.
"Kedalaman lebih dari 7 kilometer, lebar lebih dari 200 kilometer, dan panjangnya 4000 kilometer, Pak." dan jawabannya benar.. Well, aku agak sebel karena didului, tapi aku kagum. Cowok seangkatanku jarang ada lho yang pintar. Mungkin hanya 2, 3 orang. Dalam kategori pintar, maksudku cowok-cowok yang masuk ke peringkat 10 besar seangkatan.
Pelajaran selanjutnya adalah matematika yang diajar Bu Nakayama. Lagi-lagi Yu menunjukkan kebolehannya dalam pelajaran, dia mengerjakan tugas yang diberikan Bu Nakayama dengan cepat dan benar. Yah, tugas kali ini lumayan susah, tapi aku bisa mengerjakannya, walaupun Yu sudah selesai lebih dahulu, tapi sekitar 3menit setelah itu aku sudah selesai mengerjakan tugasnya. Karena kami berdua sudah selesai, Bu Nakayama memberi kami soal masing-masing 2 soal dan menyuruh kami untuk mengerjakannya di papan tulis. Aku dan Yu mengerjakannya tanpa salah.
Saat kami berjalan menuju tempat duduk aku mendengar Yu berkata "Pintar juga kau." sambil tersenyum
Aku membalas dengan "Hm, begitu? Kau juga kok." lalu aku duduk.
Saat istirahat aku duduk sendirian di kelas sambil membaca buku, sedangkan Yu, Chie, dan Yosuke ke kantin bersama untuk membeli makanan. Tiba-tiba ada lelaki yang datang menghampiriku. Aku belum pernah melihatnya sebelum ini. Dia tinggi dan berambut coklat.
"Amagi.. Anu.. Bisakah kau ikut aku ke belakang sekolah?" dia bertanya, menatapku. Wajah dan telinganya tiba-tiba berwarna merah dan dia langsung menatap lantai. Dia kenapa ya? Apa jangan-jangan demam?
"Eh? Ngapain? Aku masih ingin membaca.." Bukannya ke UKS, kenapa malah mengajakku ke belakang sekolah..?
"Baiklah, aku akan mengatakannya disini, sekarang juga." katanya. Aku menaikkan alisku dan memiringkan kepalaku sedikit. Dia mau bilang apa ya?
Sebelum berkata apa-apa, dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Lalu membungkukkan badannya. "Aku.. Namaku Daisuke Nagase!"
Setelah memperkenalkan dirinya, ia berbicara dengan sedikit jeda dalam kalimatnya. "Maukah...Ma-maukah kau me-menjadi p-" sebelum dia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba ada suara perempuan menjerit dari pintu kelasku.
"YUKIKOOOOO! Kami sudah kembali, non." aku langsung melihat ke arahnya. Ternyata Chie. Ya, siapa lagi yang memanggilku dengan panggilan 'nona' kalau bukan Chie? Padahal sudah kubilang berkali-kali untuk tidak memanggilku seperti itu, huh. Yu, Chie, dan Yosuke berjalan ke arahku dan melihat Daisuke.
"Wah, ada Daisuke. Ada urusan dengan Yukiko?" Chie bertanya, Daisuke hanya bilang "Eh, p-permisi, tadi aku dipanggil." dan langsung pergi terburu-buru. Chie menatap Daisuke dengan tatapan bingung.
Jujur, aku tidak mengerti apa maksudnya tadi. Menjadi p-? P- apa? Jangan bilang kalau dia ingin menyuruhku jadi pempimpin upacara untuk minggu depan...
Ah entahlah.
"Menyatakan cinta?" Yu yang habis menaruh roti di mejanya, bertanya sambil berjalan ke arahku.
"Pastinya!" Yosuke langsung menjawab pertanyaan yang ditujukan untukku itu.
"Hah? Tidak! Mana mungkin aku menyatakan cinta padanya, bahkan ini adalah pertama kalinya aku melihat dia."
"Yukiko, maksud Yu itu, dia yang menyatakan cinta padamu." Chie menjelaskan. Aku tidak tahu benar atau tidak. Tapi kalau memang benar... Fuh, untung saja Chie dan yang lain datang ke kelas tepat waktu.
Aku hanya diam dan menunggu mereka bertiga menghabiskan roti yang mereka makan. Lalu kami berganti baju, tentu saja terpisah! Aku dengan Chie dan Yu dengan Yosuke. Setelah seragam olahraga Yasogami kami pakai, kami langsung berjalan menuju ke gym sekolah. Hari ini kami main voli, anak perempuan dan laki-laki digabung. Dan beruntungnya aku, satu tim dengan Yu, Chie dan Yosuke. Setiap tim hanya terdiri dari 5 orang karena keterbatasan pemain. Di tim kami ada 1 orang lagi, namanya Labrys. Gadis cantik bermata merah dengan rambut panjang yang dikuncit dan berwarna biru keabu-abuan.
"Whoa, lihat siapa yang ada di tim kita! Wakil ketua osis!" Kata Yosuke sambil tertawa kecil.
"Dan lihat siapa anggota di tim ini! Tong sampah berjalan!" Labrys langsung tertawa, disusul oleh Yu. Dan aku, tentunya. Chie kebingungan dan aku menjelaskan kepadanya kalau kemarin pagi Yosuke masuk ke tong sampah. Chie ikut tertawa, lalu meledek Yosuke. Setelah itu kami mengobrol sebentar, menunggu giliran tim kami main.
Aku dan Labrys cukup dekat. Karena kami selalu sekelas waktu masih SMP. Makanya aku asik-asik saja mengobrol walaupun ada dia. Labrys sama seperti Chie. Ceria dan sangat perhatian dengan teman dekatnya. Hanya saja, Aku dan Chie sudah jarang bermain dengan Labrys. Dikarenakan kesibukannya sebagai wakil ketua osis.
Tidak lama kemudian, tim kami, dipanggil. Aku bertugas sebagai tosser, Yu sebagai spiker, Yosuke sebagai libero, serta Chie dan Labrys sebagai defender. Dan tak kusangka kalau Yu jago olahraga. Berkat anggota tim kami semuanya jago olahraga, kami unggul dibanding tim 4. Di babak pertama dengan skor 25 – 12, dan babak kedua dengan skor 25 – 7. Dan di pertandingan melawan tim 1, kami menang di babak pertama dengan skor 25 – 18. Dan di babak kedua, kami memimpin dengan skor 23 – 14. Tepat setelah aku mengoper, kami mendapat skor 24 berkat smash dari Yu. Aku melihat Yu tertawa senang.
"Ya ampun! Sudah berapa lama aku merasakan sesenang ini? Seru sekali!" katanya, sambil tersenyum lebar.
Manis. Untuk kedua kalinya, aku mengatakan kalau dia manis. Senyumannya manis. Aku terpana. Baru kali ini aku melihat seorang lelaki tersenyum semanis itu. Namun apes, saat aku sibuk melihatnya, ternyata saat Yosuke melakukan servis, bolanya meleset dan mengenaiku, tepat di wajah. Pandanganku buram dan menjadi gelap.
Aku terbangun di tempat tidur. UKS sepertinya. Dan aku kaget mendapati Yu yang sedang duduk di sampingku, membaca buku..
"Sudah bangun ya.. Kau tidak apa-apa?" katanya, mengalihkan pandangannya dari buku dan menatapku.
"Erm.. Tidak apa-apa kok. Yang lain, dimana..?" tanyaku sambil melihat sekeliling.
"Mereka sudah pulang. Ini sudah jam 7, kau tahu?" dia menutup bukunya dan mengambil minum di dispenser yang ada di meja.
"...Pantas saja diluar sudah gelap." ...Jadi dia menungguiku dari tadi?
"Yang lain tadi mengkhawatirkanmu. Yosuke meminta maaf. Tapi karena sudah terlalu sore aku menyuruh mereka pulang dan bilang kalau aku akan menungguimu. Ini. Minumlah." Kata Yu sambil berjalan ke arahku dan memberikan gelas yang ia isi tadi. Aku mengangguk dan langsung meneguk air yang ada di gelas tersebut.
"Oh, dan maaf. Tadi aku menggendongmu kesini dan memegang wajahmu tanpa izin terlebih dahulu. Hidungmu mimisan, jadi aku bersihk-"
"Uhk!" aku tersedak! Astaga, mereka semua melihatku mimisan! Aku malu. Tapi masabodo lah, lagipula bolanya tadi tepat mengenai hidungku, sangat kencang pula. Dan mengetahui Yu yang menggendongku.. Aku merasa darahku semuanya naik ke wajah. Wajahku terasa panas. Aku langsung menundukkan wajahku, takut dia melihat wajahku memerah. Detakan jantungku tiba-tiba jadi cepat. Perasaan apa ini..?
"K-kau tidak apa-apa?" Yu langsung mendekatiku, memegang bahu kananku sambil melihat wajahku.
"Astaga, apa kau demam? Wajahmu merah begitu." katanya, disusul dengan punggung tangannya yang menyentuh keningku.
"Tidak, tidak. Aku.. tidak apa-apa. Hanya masih pusing.." kataku sambil menutupi wajahku.
"Begitu? Apa perlu aku menggendongmu pulang? Ini sudah malam, aku takut orang tuamu khawatir. Aku akan mengantarmu. Sini." Yu membalik badannya, memunggungiku. Bersiap-siap menggendongku.
"...Tidak perlu repot-repot kok. Aku bisa jalan sendiri." jawabku. Yu hanya bilang "Hm, baiklah kalau itu maumu."
Jalan dari sini kerumahku kan jauh. Dan lagipula kalau digendong begitu, bisa-bisa yang merah bukan hanya wajahku. Tapi seluruh badanku! Aku membereskan kasur dan membawa tasku. Kami berdua jalan beriringan keluar sekolah.
Jujur, aku memang pusing, kurasa aku berjalan sempoyongan. Dan tiba-tiba ada tangan yang memegang tanganku, menggenggamnya. Kulihat Yu dan dia tersenyum ke arahku. "Kau tidak mau digendong, tapi kalau begini tidak apa kan? Dengan begini, aku tidak perlu khawatir kalau kau akan jatuh."
Aku langsung menunduk dan mengangguk. Jantungku berdegup dengan cepat.. dan kurasa wajahku merah padam. Lagi.
Aku sedikit mencuri pandang melihatnya dari ujung mataku. Tunggu, untuk ke sekian kalinya aku ingin katakan kalau aku benar-benar familiar dengannya. Ya ampun Yukiko kau bisa menanyakan padanya sekarang. Kenapa malah pusing-pusing berpikir sih?
"Hey, Yu.. Apakah.. apakah kita pernah bertemu sebelumnya..?"
Yu mengangguk. "Ya, pernah kok. Kau tinggal di Amagi Inn, bukan?"
Karena Yu tinggi, aku sedikit menengadah ke atas, melihatnya lalu mengangguk. Lalu kulihat Yu mengerutkan alisnya.
"Kau tidak ingat? 5 tahun yang lalu, saat aku masih berumur 11 tahun tepatnya.. Aku pernah kesini dan menginap di Amagi Inn. Disitu aku menemukan sahabat pertamaku di dunia ini. Dan itu kau, Yukiko." ia tersenyum pada akhir kalimatnya. Tanpa melepaskan tanganku..
"AHHH! Sekarang aku ingat! Jadi kau si rambut mangkok! Pantas saja aku merasa seperti pernah melihatmu! Yah, rambutmu tidak begitu berbeda dari pada dulu sih hahahahahahaha!" Aku tertawa terbahak-bahak, sampai perutku sakit. Aku melihat Yu terkekeh, lalu dia mengacak-acak rambutku.
"Kau ini... Kau sendiri yang menyuruhku untuk tidak melupakanmu.. nyatanya kamu yang lupa. Tapi untunglah aku bertemu lagi denganmu. Kalau bukan kau, aku tidak mungkin bisa banyak bicara seperti ini, apalagi sampai menggandeng tanganmu begini.." dia juga berhenti dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan tangannya yang kosong, sambil melihat kebawah lalu terkekeh.
"Maaf, mungkin ini berlebihan. Tapi sampai saat ini, orang yang mau berteman denganku tanpa melihat siapa diriku..hanya kau."
"Ah.. Maaf maaf. Memang, saat aku pertama kali melihatmu di kelas, aku merasa familiar. Aku ingat dengan seseorang yang berambut abu-abu sepertimu, yang ternyata kau.. Tapi aku lupa namamu. Karena aku ragu, makanya aku bertanya begitu, tadi. Tapi sekarang aku sudah ingat kalau kau adalah orang yang pernah menolongku waktu dulu.. Dan lagi-lagi kau menolongku.."
"Hm, jadi kau masih ingat bagian yang itu?" kata Yu, menggodaku. Aku meninju bahunya keras-keras, Yu merengek kesakitan.
"Aduhh, sakit! Astaga kebiasaanmu dari dulu tidak berubah-berubah ya.." katanya sambil memegangi bahunya.
"Apa itu buruk..?"
Yu menggelengkan kepalanya "Tidak. Kau adalah wanita paling kasar yang pernah aku temui, tapi sifatmu yang itu lucu.."
Aku mencubitnya, lalu kami berdua tertawa.
Aku menghela nafas, lalu tersenyum dan berkata "Tapi..makasih ya..."
Sekarang aku ingat dengan jelas. Yu adalah sahabatku waktu kecil.. Memang hanya sebentar, tapi kejadian 5 tahun yang lalu itu sangat berarti bagiku.
Yu bilang "Ya, tentu." dan tersenyum lebar, lagi. Sama seperti waktu aku pertama kali bilang terimakasih padanya dulu...
Sepanjang jalan, kami tertawa-tawa mengingat masa kecil kami dimana Yu datang ke Inaba, mendatangi acara ulang tahun sepupunya. Seingatku namanya Nanako. Aku juga sempat bertanya-tanya tentang bagaimana kehidupan di Tokyo. Yu mengantarku sampai ke depan rumah. Wajahku panas lagi saat aku sadar kalau Yu masih menggenggam tanganku. Dan aku langsung melepaskan genggamannya dan sedikit menunduk, sambil bilang terimakasih lagi.
"Sampai jumpa besok. Cepat sembuh ya!" dan aku menjawabnya dengan "Iya. Hati-hati!"
Dengan begitu, ia membalikkan badannya sambil melambaikan tangan ke arahku dan berjalan sampai menghilang dari pandanganku.
Aku langsung menuju ke kamarku dan mandi. Untung saja hari ini tidak ada PR, jadi aku bisa langsung tidur. Sebelum tidur, aku mengingat kejadian tadi. Jantungku tiba-tiba berdetak cepat dan lebih keras..
Untuk bertemu dengannya lagi.. Apakah ini mimpi..? Aku mencubit pipiku, dan terasa sakit. Sepertinya bukan mimpi. Ya Tuhan, terimakasih untuk mempertemukanku dengannya lagi. Sebelum tertidur, aku menyadari satu hal..
Aku jatuh cinta.
