Rabu, 14 April 2011.
Hari ini aku berangkat ke sekolah pagi-pagi. Saat aku berganti sepatu di loker sekolah, aku terpeleset dan jatuh, tapi untungnya ada yang menangkapku. Dan saat aku menengadahkan kepalaku keatas untuk melihat siapa yang menangkapku.. Sungguh, aku kaget bukan main. Yu. Wajahnya mungkin hanya berjarak 5 cm dari wajahku.
"Hati-hati. Untung saja aku menangkapmu." katanya, disusul dengan cengiran khasnya. Sama seperti waktu masih kecil.
Aku langsung berdiri terburu-buru. Ya ampun, dia benar-benar berbahaya untuk jantungku!
"...makasih."
Akhirnya kami berjalan berdua menuju ke ruang kelas setelah aku menunggunya berganti sepatu. Saat Yu membuka loker sepatunya, aku dapat melihat beberapa surat. Cukup banyak sih. Mungkin 6? Dan suratnya dipenuhi dengan hiasan-hiasan seperti gambar hati begitu. Apa lagi kalau bukan surat cinta? Kejadian itu sukses membuatku terkejut. Yang benar saja, Yu baru pindah kesini 2 hari yang lalu dan dia sudah sepopuler ini?
"Surat-surat tadi.. tidak kau ambil?" tanyaku, penasaran.
"Nanti saja saat pulang sekolah." jawabnya, acuh tak acuh.
Tepat saat kami menaiki tangga, secara tidak sengaja aku mendengar pembicaraan adik-adik kelas yang kami lewati.
"H-hey... kenapa Yukiko-senpai dan Yu-senpai jalan berduaan begitu?"
"Jangan-jangan mereka pacaran?"
"Masa? Padahal kan Yu-senpai baru saja pindah kesini lusa kemarin! Kalau benar mereka pacaran, pupus deh harapanku.."
Dan ada juga yang bilang
"Tsk, murid pindahan itu bisa-bisanya memenangkan Amagi Challenge! Yang benar saja!"
Tiba-tiba lelaki disebelahnya tertawa dan berkata "Tentu saja, dilihat dari fisikmu, tentu kau kalah dengannya!" yang kemudian disusul dengan pukulan dari temannya tersebut.
Tapi aku dan Yu tidak peduli, kami berjalan dan sesampai di depan pintu kelas, tiba-tiba ada seorang gadis berambut hitam sepundak memanggil Yu. Aku memutuskan untuk masuk ke kelas duluan. Karena aku tahu, pasti dia suka Yu dan akan mengutarakan perasaannya. Kenapa aku tahu? Wajah merona dan gerakan badan yang kaku. Sudah cukup jelas, bukan?
Entah kenapa aku was-was sendiri. Akan diterima atau tidak ya? Menurutku gadis tadi cukup manis..
"Mungkin diterima.." Secara tidak sengaja aku bilang begitu. Dengan suara pelan tentunya.
"Apanya?" Yu sukses membuatku kaget. Tiba-tiba dia sudah ada di belakangku.
"Ah, maaf. Aku mengagetkanmu ya?" katanya, lalu menyiapkan buku-buku yang akan dipakai di pelajaran pertama.
"Ya tentu saja aku kaget, secara tiba-tiba kau ada di belakangku begitu. Seperti ninja saja.. Eh, tunggu. Bukannya itu tempat duduk Chie?" aku tidak mau menanyakan hal tadi. Bukan urusanku.
"Maaf kalau begitu. Hmm, ya. Kemarin Chie mangajakku bertukar tempat duduk. Katanya kau tinggi, jadi dia susah untuk melihat papan tulis. Dan aku setuju." Yu menjelaskan sambil menatap mataku. Dan lagi-lagi aku salah tingkah. Gawat, kenapa aku jadi tidak bisa mengendalikan diriku begini sih? Aku langsung menghadap ke papan tulis, memunggunginya, dan langsung menyiapkan buku-buku juga.
"Hmm, begitu." aku menjawabnya sambil mengangguk-angguk.
Tidak lama kemudian, Chie dan Yosuke datang. "Selamat pagi!" kata mereka serentak.
Tumben-tumbennya mereka datang bersamaan..
"Hoo..Jadi kalian berangkat ke sekolah bersama? Pdkt nih? Atau jangan-jangan sudah pacaran?" Aku menaikkan alisku sambil melihat mereka berdua, bergantian.
Tepat sasaran! Wajah Chie dan Yosuke memerah. Mereka buang muka dan bilang "Tidak mungkin lah!" bersamaan.
Aku menahan tawa dan melanjutkan kejahilanku..
"Mencurigakan... bagaimana menurutmu, Yu?" aku mengerutkan alisku sambil memegang dagu, melihat Yu, lalu mengalihkan pandanganku lagi ke arah Yosuke dan Chie.
"Seperti yang kau bilang. Mencurigakan.." Yu mengikutiku mengerutkan alis dan memegang dagu.
"Astaga, kalian ini ya.. Mana mungkin aku menyukai gadis yang berjiwa laki-laki seperti ini!" Yosuke mengatakannya sambil menunjuk Chie.
"Jadi begitu... KAU INI YA!" disusul dengan tendangan keras di perut Yosuke yang sukses membuat Yosuke merengek kesakitan.
"Urgh..M-ma...af.." Yosuke langsung duduk di kursi terdekatnya, memegangi perutnya. Pasti sakit..
"Hmph, rasakan tendangan gadis berjiwa laki-laki se-per-ti-i-ni." Chie melipat tangannya dan meninggalkan Yosuke begitu saja dan duduk di kursi Yu yang sekarang menjadi kursinya.
Aku dan Yu mau membantu Yosuke, tapi aku dimarahi Chie. "Ngapain kamu membantu si bodoh itu?" katanya. Akhirnya aku duduk kembali di kursiku. Melihat Yu membawa Yosuke ke UKS.
"Err.. Mungkin aku menendangnya terlalu kuat ya.."
"Sepertinya begitu.."
"Tapi dipikir-pikir, Yu itu baik ya.. Mungkin dia terlihat cuek, tapi tidak saat bersama kita. Dan..kalian terlihat dekat. Bagaimana kalau kamu dengan Yu saja, Yukiko?" Apa yang dikatakan Chie itu benar. Tapi aku tahu kalimat terakhir yang Chie katakan hanya bermaksud untuk bercanda. Tapi hatiku menjawab, mau. Begitu.
Dan pada akhirnya aku menjawab dengan suara kecil, mungkin hampir tidak terdengar. "kuharap.."
"Hm? Kau mengatakan sesuatu?" Chie menatapku dan aku hanya tersenyum "Tidak kok."
Yu kembali ke kelas bersamaan dengan berderingnya bel sekolah. Pelajaran pertama adalah pelajaran matematika. Dan seperti biasanya, kami diberikan berbagai macam soal yang harus diselesaikan hari ini juga. Hanya saja, kali ini tugasnya dikerjakan secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 3 orang yang ditentukan oleh Bu Nakayama.
Beruntung aku satu kelompok dengan Chie dan Labrys. Sedangkan Yu sekelompok dengan 2 orang gadis. Apa itu dikategorikan sebagai 'beruntung' juga? Pasti jawabannya adalah ya untuk beberapa laki-laki.
"Tsk.." aku mendecak secara tidak sengaja.
"Kenapa, Yukiko?" Chie menanyaiku, disusul dengan Labrys yang menatapku, menunggu jawabanku. Mungkin heran, jarang-jarang aku berdecak.
"Ah, anu.. T-tugasnya.. hahaha banyak juga ya dikasihnya." Tidak mungkin kan aku jawab kalau aku mendecak karena aku kesal melihat Yu digodai oleh cewek-cewek itu? Aku bisa mendengar mereka memuji-muji kepintaran Yu, juga ketampanannya. Minta diajari tapi malah menempel-nempel sambil memandangi Yu, disusul dengan wajah yang kemudian merona.
Tunggu, kenapa aku kesal..? dan lagi, kenapa aku peduli? Karena tadi aku fokus memerhatikan Yu, aku baru sadar kalau sedari tadi Chie memanggilku..
"..ko...Yukikoooo!" tangannya memukul-mukul pelan pundakku.
"Y-ya, Chie? Maaf, aku melamun tadi." kulihat Labrys sudah mulai mengerjakan tugasnya.
"Hoh, aku malah sempat berpikir kalau kau tidur dengan mata terbuka!"
"...Baiklah, ayo kita kerjakan tugasnya. Labrys sudah sampai nomor 3 tuh." Chie terdiam sebentar, lalu mengangguk sekali. Dan kemudian menatapku dengan tatapan 'tolong aku!'
Ya, matematika adalah pelajaran yang paling tidak disukai oleh Chie. Biasanya kalau sedang dijelaskan oleh Bu Nakayama, dia tidur. Dan sepertinya Labrys juga mengerti.
"Begini saja, aku mengerjakan soal nomor 1 sampai 17, Yukiko 18 sampai 34. Dan sisanya kau, Chie. Kerjakan sekarang." Labrys membagi tugas, memberikan 6 soal lainnya untuk Chie.
"T-tapi..."
"Astaga, aku hanya memberimu 6 soal saja. Dilarang protes dan kerjakan sekarang!" Ya, walaupun ceria seperti Chie, di saat-saat seperti ini, Labrys menjadi sangat serius.
Chie tidak protes lagi dan langsung mengerjakan tugasnya.
Sekitar 35 menit, aku menyelesaikan soal-soal tersebut. Dan memberikannya kepada Labrys untuk ditulis ulang di kertasnya. Aku melihat Chie dan dia baru selesai di soal nomor 39. Namun, saat aku lihat jawabannya, yang benar hanya 2. Jadi aku membantunya menyelesaikan dan membenarkan jawaban-jawabannya.
"Chie... Kau harus belajar!" Chie malah cengengesan.
Karena menunggui yang lain selesai, kami bertiga akhirnya mengobrol sedikit. Dan Labrys tiba-tiba mengajakku untuk bergabung dengan OSIS.
"Hey, Yukiko. Kau mau tidak, masuk OSIS?"
"Hm? Kenapa tiba-tiba?"
"Kami kekurangan anggota. Sedangkan tugas semakin banyak, jadinya kewalahan. Makanya aku butuh bantuanmu. Dan juga, kamu pintar. Jadi sudah pasti kamu mudah mengerti tugas-tugas yang kami kerjakan."
"Aku mau saja membantu kalau aku ada waktu, tapi sepertinya aku tidak bisa bergabung dengan OSIS. Ya kamu tahu kan, aku harus membantu Ibuku di penginapan juga.." jelasku.
Labrys setuju dan bilang terima kasih, aku hanya mengangguk. Chie hanya diam mendengarkan kami sambil makan steak yang sudah terpotong kecil-kecil. Secara diam-diam dan tidak ketahuan Bu Nakayama tentunya. Dasar karnivora.
Labrys menanyaiku tentang Yu. Seperti "Kira-kira dia mau tidak ya masuk OSIS?" tentu saja aku tidak tahu jawabannya! Aku kenal dengan ketua OSIS SMA ini, dia sudah seperti kakakku sendiri. Dan akhirnya Labrys bilang kalau ketua OSIS pernah bercerita bahwa keponakan dari tunangannya ada di kelasku. Ya, dia sudah punya tunangan dan berencana untuk menikah setelah tamat kuliah.
Tanpa sadar, mataku lagi-lagi mengarahkan pandangannya ke serong kananku. Walau aku hanya bisa melihat punggungnya.. Aku masih bertanya-tanya kepada diriku. Kenapa aku jatuh cinta padanya? Atau mungkin ini hanya rasa suka saja? Yang akan hilang di kemudian hari. Dan lagi-lagi aku melihat salah satu dari 2 cewek tersebut memegang-megang lengan Yu. Apaan sih? Aku saja yang sudah kenal dia dari kecil belum pernah memegangnya! Eh, pernah sih.. Baru saja kemarin.
Aku mendengar Yu mendecak dan bilang kalau mereka annoying. Dan kemarin dia membiarkanku memegang tangannya? Dalam sekejap aku bisa merasakan wajahku menjadi panas dan langsung menutupnya dengan kedua tanganku, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari Chie dan Labrys. Mereka berdua hanya menatapku bingung.
Langsung saja. Sepulang sekolah, lagi-lagi aku pulang bersama Yu. Chie sudah pulang duluan, dengan Yosuke tentunya. Di jalan, kami berdua mengobrol seperti biasa. Dan Yu cerita kalau pamannya yang paling muda menyuruhnya untuk menjagai tunangan pamannya.
Yu itu, walaupun biasanya diam dan terlihat cool, dia juga merupakan orang terusil yang pernah kukenal! Dia mengambil bandoku dan tiba-tiba mengacak-acak rambutku. Untungnya pelan, jadi tidak terlalu berantakan. Aku merapikan rambutku, lalu mengejarnya untuk mengambil bandoku. Tapi dia berhenti di depan Marukyu. Toko tahu yang menjual berbagai macam makanan berbau tahu. Mulai dari yang belum dimasak, sampai yang sudah. Biasanya penginapanku beli tofu disini.
"Ini, ambil!" Yu nyengir dan mengangkat bandoku tinggi-tinggi di tangannya.
"Yang benar saja, itu terlalu tinggi! Kembalikan.." protesku, mengerutkan alis.
"Iya, iya. Nih, ambilah. Aku beli ganmodoki dulu. Tunggu ya, aku akan membelikan fried tofu kesukaanmu." dia tertawa, mengembalikan bando merahku dan kemudian berjalan menuju ke dalam toko. Aku memasangnya lagi di kepalaku dan menunggunya di depan seperti yang ia minta.
"Wah, Yukiko. Kebetulan sekali bertemu denganmu disini." aku melihat ke arah sumber suara yang ternyata milik ketua OSIS.
"Ah, selamat sore senpai." sapaku.
Keiko Sakamoto, ketua OSIS yang sangat ramah dan pandai bergaul dengan siapa saja. Berwajah mungil, cantik dengan mata hitam, sewarna dengan rambutnya yang panjangnya hanya sepundak. Berhidung mancung dan berbibir tipis. Bergaya elegan selayaknya seorang Tuan Putri. Dia adalah wanita yang aku kagumi. Waktu kecil, aku suka bermain dengannya. Ia sudah seperti kakak bagiku.
"Aku sudah dengar dari Labrys, kamu mau membantu kami. Terima kasih ya. Oh ya, Yukiko. Apa di kelasmu ada yang bernama Yu Narukami?" tanyanya.
"Sama-sama, Keiko-senpai. Iya, ada kok. Bahkan, sekarang dia sedang ada di dalam Marukyu." kataku, lalu mengalihkan pandanganku ke toko tersebut dan kembali memandang Keiko-senpai. "Memang ada apa, senpai?" tanyaku penasaran.
"Kebetulan sekali.. Tunanganku bilang kalau keponakannya, Yu Narukami, pindah dari Tokyo dan bersekolah di Yasogami. Dan aku dengar-dengar dari Labrys kalau dia pintar. Jadi aku berpikir untuk mengajaknya masuk ke Organisasi Siswa juga.. Jadi a-" sebelum Keiko-senpai selesai menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara seperti belanjaan jatuh. Aku membalik badanku untuk melihat, mendapati Yu yang menjatuhkan kantong berisi makanan dengan mulut menganga kecil, matanya membesar seakan kaget melihat hantu.
"S-Shouko..?"
