Tomoko Takami: makasih banyakk ^^/ siap boss, untuk selanjutnya aku usahain update secepatnya:))
Ruci: hahahah iyaiya ci, ini udah update=))
Disclaimer: Persona milik ATLUS 'w'
"S-Shouko..?"
Shouko? Siapa..?
Aku melihat Yu menjatuhkan makanan yang telah ia beli. Matanya membelalak, terarah ke Keiko-senpai yang ada di sampingku. Aku memalingkan pandanganku ke arah Keiko-senpai yang terlihat terkejut. "Souji...nii-chan..?"
Yu yang tadi berdiri membeku di depan pintu Marukyu, kini berjalan melewatiku. Aku mendengarnya berkata dengan suara kecil, "Akhirnya aku menemukanmu.." yang sudah pasti ditujukan bukan untukku. Dengan wajah tersenyum bahagia, Yu memeluk Keiko-senpai. Seakan aku tak pernah ada disini.
Kami dekat, tapi jauh.. Yu memeluknya, erat sekali. Kini giliranku yang terbelalak.
Shouko..? Souji nii-chan? Apa maksudnya..? Aku sama sekali tidak mengerti. Tiba-tiba Yu melepaskan pelukannya, kemudian menggandeng Keiko-senpai yang sedari tadi terdiam. Lalu ia mengarahkan pandangannya padaku.
"Yukiko.. Maaf, tapi bisakah kau pulang sendiri? Aku.. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
Baiklah, jadi aku mengganggu ya.. Aku hanya mengangguk, lalu membalikkan badanku. Berjalan tanpa menengok ke belakang. Dadaku sesak.
~o~o~O~o~o~
Keesokan harinya, sepulang sekolah, aku pulang sendirian. Sesaat setelah aku keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba Yu menghampiriku.
"Yukiko, maaf ya kemarin.. Kau jadi pulang sendiri." katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aku hanya mengangguk.
"Err, Yukiko.. anu.. bisakah kita bicara sebentar? Ngg.. maksudku, maukah kau mendengarkanku..?"
"Tentu.. Ada apa?"
"Kurasa ini akan sedikit lama. Jadi, bagaimana kalau kita cari tempat yang nyaman untuk duduk?"
Akhirnya kami memutuskan untuk ke Samegawa. Suasana sungai Samegawa sore ini tampak begitu damai. Kami duduk di tepiannya, dengan hembusan angin lembut yang menerpa wajah. Yu berada di sampingku, duduk menumpukan tangannya diatas lutut.
"Yukiko.. Aku harus apa..?" aku melihat matanya memandang lurus ke depan, tanpa ekspresi.
"Hm? Maksudmu? Kau belum cerita.. Aku tidak mengerti."
Yu terdiam, lalu tertawa pelan lewat hidung. "Heh, aku ini.. bodoh. Bodoh sekali.. Mengharapkan yang tak ditakdirkan untukmu itu, menyakitkan. Aku tahu itu, tapi aku masih terus saja mengharapkannya. Bodoh bukan?"
Aku hanya memandanginya, terdiam dan menyimak. Menunggu Yu menyelesaikan ceritanya, dengan rasa nyeri yang ada di dadaku. Aku sudah cukup mengerti dengan apa dan siapa yang sedang ia bicarakan sekarang ini.
Yu masih menumpukan tangannya diatas lutut, kini menatap langit dengan mata sendu. Tersenyum hambar..
"Hey, Yukiko. Kau... apa kau pernah jatuh cinta? Mengerikan, bukan? Cinta membuatmu membuka hatimu, membiarkan seseorang masuk ke dalamnya dan mengacaukanmu. Kau tahu? Sebagian dari diriku sakit memikirkan dirinya yang berada begitu dekat tapi juga begitu tak tersentuh."
"Apakah dia tahu..?"
Yu menatapku, kembali tersenyum hambar, lalu menggelengkan kepalanya. Sedangkan aku hanya bisa terdiam melihat dirinya berharap.
"Kurasa.. tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menunggu, karena aku bahkan tidak tahu apa yang aku tunggu lagi."
Yu kembali menatap langit, mengerutkan alisnya. Aku bisa mendengar suara gemertak gigi yang dibuatnya. Kulihat kedua tangannya kini sudah terkepal dan Yu langsung menyembunyikan wajahnya di balik lekukan lututnya yang ia peluk. Menahan sesak yang ia rasakan sekarang. Ya, kurasa sih begitu.
"Ini sungguh menyakitkan.." Katanya, dengan suara yang hanya bisa terdengar jika kau ada tepat di sampingnya.
Tak tahan melihatnya begitu, aku merangkulnya. Lalu memeluknya sambil mengelus rambutnya, berharap kalau itu dapat menenangkan dirinya. Dan kau tahu apa yang terjadi? Aku malah menangis. Walaupun tanpa suara. Rasa nyeri di dadaku tadi, kini menjadi nyeri luar biasa. Sesak, seperti terhimpit batu besar. Tak dapat ku pungkiri, hatiku remuk.
Melihat orang yang ku cintai tersakiti, lebih menyakitkan daripada aku sendiri yang tersakiti.
Ya Tuhan, aku tidak peduli jika cintaku ini bertepuk sebelah tangan, atau hatiku akan tersakiti lebih lama. Tapi tolong, jangan membuatnya menderita seperti ini. Walaupun mungkin jika ia tidak membalas cintaku, melihatnya tersenyum bahagia sudah cukup bagiku. Untuk kali ini saja, tolong kabulkan permohonanku..
Aku dapat merasakan kedua tangannya menelusup ke punggungku. Ia kemudian membenamkan wajahnya ke bahuku. Lalu berbisik "Dasar Yukiko bodoh.. Kenapa kau yang menangis?"
Aku hanya diam.
Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik. Seolah ikut menangis bersamaku.
Ia mengeratkan pelukannya. Hujan yang tadi hanya rintik-rintik kini menjadi semakin deras.
Air mataku masih tetap mengalir. Yu melepaskan pelukannya dan menatapku.
Dia terkekeh. Lalu memegang kedua sisi pipiku. Setengah tersenyum, ia menyeka air mata yang mengalir dari kedua mataku dengan lembut. Kemudian menaruh tasnya di atas kepalaku, tanpa mengalihkan tatapannya.
"Kamu ini memang lucu... Aku yang sedih tapi malah kamu yang menangis. Lama, pula."
Aku tidak menjawabnya. Kemudian ia tersenyum.
"Orang bilang semua wanita yang menangis itu jelek. Tapi aku pikir, tidak juga. Buktinya wajahmu sama kok seperti biasanya. Hanya saja dengan hidung dan mata yang merah."
"Uuuu.. J-jadi maksudmu aku jelek? Begitu?!" Aku memukulinya. Kali ini pelan..
Kemudian Yu tertawa keras.
"Bukan, bukan begitu. Maksudku, kau tetap manis." Disusul dengan cengirannya yang berhasil membuatku tersipu.
Hujan semakin deras, ditambah dengan angin yang lumayan kencang. Kami berlari ke gazebo yang ada di sana untuk berteduh.
"Wah, hujan dan anginnya kencang juga. Rumah pamanku dekat dari sini, sebaiknya kau mampir dulu dan menunggu bajumu kering."
"Apa tidak merepotkan..? Aku bisa kok berlari ke tempat pemberhentian b-"
"Tidak." Yu kini sedang mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
"Pakai ini." Ia memberiku sebuah payung kecil berwarna hitam, dan jaket yang sewarna.
"Eh..? Itu kan milikmu. Kau saja yang pakai."
"Pakai." Yu menatapku sambil mengerutkan alisnya. Memberikan kedua barang itu padaku secara paksa, berjalan menjauhiku dan duduk membelakangiku. Memberiku waktu untuk berganti.
Aku hanya melepas sweater merahku saja tanpa melepas baju seragamku yang basah. Lalu memakai jaket yang diberikan olehnya, yang tentunya berukuran sangat besar untukku. Kemudian aku mengembangkan payung hitam yang ada di tanganku. Payung itu memang kecil. Hanya cukup untuk satu orang. Kurasa jika aku pakai jaket hoodie ini, tidak masalah apabila aku tidak menggunakan payung.
"Anu.. Yu.."
Yu hanya menengok ke arahku
"Kurasa lebih baik kau yang pakai payung ini.." kataku, sambil berjalan ke arahnya, menyodorkan payung yang kupegang.
"Sudahlah, biar kau saja yang pakai. Aku tidak apa-apa." Yu kemudian mulai berjalan keluar gazebo. Menuju ke rumah pamannya.
Kami jalan berdekatan. Aku yang berada di bawah payung ini tidak terkena hujan dan tidak kedinginan berkat jaket yang dipinjamkannya. Kulihat Yu menggigil, kehujanan, namun terus berjalan. Aku memperkecil jarak di antara kami. Menadahkan payung yang kupegang di atas kepalanya.
"Astaga, Yukiko. Sudah kubilang, aku tidak apa-apa." Yu kembali menadahkan payung tersebut ke atas kepalaku.
Aku mengerutkan alisku. "Tidak apa-apa? Ya ampun, Yu. Wajahmu pucat, dan kau menggigil. Hujan ini cukup deras. Jangan keras kepala dan pakai saja lah."
"...Aku hanya tidak ingin kau sakit, bodoh. Kau saja yang pakai." Yu masih tetap bersikeras untuk tidak memakai payungnya. Akhirnya aku memutuskan untuk membagi dua payung tersebut. Tenang, tidak aku gunting atau apa kok. Hanya saja aku mendekati Yu lagi, menadahkan payung tersebut di antara kami berdua. Yah, walaupun badan kami setengahnya basah terkena air hujan, lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?
Walau tidak memilikinya, berjalan di sampingnya seperti ini membuatku tenang dan nyaman. Seharusnya aku merasa dingin walaupun memakai jaket. Tapi entah kenapa rasanya badanku hangat.
Tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku. Tangannya dingin sekali! Aku tidak dapat membayangkan rasanya kalau jadi dia. Hujan-hujanan tanpa payung, dengan baju yang basah kuyup.
"Tanganmu hangat sekali.." katanya, tetap memandang ke depan.
"Salah. Tanganmu yang dingin." jawabku. Yu terkekeh.
"Terima kasih, Yukiko."
"Untuk apa..?" tanyaku. Aku menoleh padanya, tetap berjalan.
Yu mengalihkan pandangannya ke arahku, menatap mataku, lalu tersenyum.
"Untuk semuanya."
Belum sempat aku berkata-kata, kami sudah sampai di rumah pamannya. Tanpa melepaskan tangannya, Yu membuka pintu rumah.
"Ayo masuk.."
Aku kemudian masuk dan siapa sangka kalau kami akan dikejutkan seperti ini?
Keiko-senpai dan tunangannya sedang berada di dalam rumah ini.
