balasan review

hotaru keiko : anu senpai itu lho itachinya tidak saya tiadakan di fic ini, yah sekali-kali sasuke jadi anak tunggal lahh (hehehe). terimakasih atas pujianya senpai . ^_^

RAIN

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei

This fic belong to : hasukari melody

Pairing : Uchiha Sasuke X (female)namikaze Naruko

haruno sakura X sabaku no gaara

Rate : T

Genre : Romance,angst

part 2...

SASUKE POV

aku masih berbaring di tempat tidurku yang besar dan empuk sambil memainkan mobil yang dibelikan oleh tou-san sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-8, 2 tahun yang lalu. Hadiah itu mungkin memang yang paling murah diantara hadiah yang lain yang diberikan tou-san kepadaku. Robot itu ayah beli di pinggir jalan saat mengajakku berjalan-jalan seharian. Hari itu mungkin adalah hari terindah sepanjang hidupku. Setelah ibu meninggal dua hari sebelum aku genap berusia tujuh tahun, tou-san nyaris tak pernah benar-benar bicara padaku. Aku melihat wajahnya yang kusut di pagi harisaat sarapan dan buru-buru pergi sekolah yanpa mengantarkanku sekolah. Dia hanya tersenyum sekilas dan mengucapkan "ohayou" sebelum berlalu dan menghilang dari pandanganku . Tou-san baru pulang saat aku sudah tertidur lelap, aku hanya akan merasakan kecupan hangat didahiku dan terbangun dengan selimut yang menyelimuti tubuhku. Membuatku merasa sedikit tenang, karena aku masih merasa bahwa aku adalah anak tou-san . Namun, hari-hari berlalu dan perhatian kecil itu makin lama semakin terkikis hingga akhirnya hilang sama sekali. Aku bahkan tak pernah lagi melihat tou-san di pagi hari. Setiap hari aku melewatkan sarapan di meja besar dan panjang itu seorang diri, merasa hampa melihat beraneka ragam masakan lezat itu hanya akan terlahap olehku sendiri. Hingga aku tak semangat lagi untuk menyentuh makanan favorit ku. Tou-san juga lebih sering berpergian keluarnegeri, membuka cabang restoran hingga ke eropa. Meninggalkanku sendiri yang tetap merasa kedinginan walaupun selimut hangat menutupi seluruh tubuhku .

Aku menghela napas panjang. Mungkin hari itu adalah hari bahagia satu-satunya yang kumiliki setelah perhatian kecil tou-san menghilang. Dan saat itu perasaan ketakutan membayangiku dengan hebat. Aku menangis kencang di pelukan ayah saat malam mulai menjelang. Aku takut setelah hari itu aku berlalu aku akan kembali sendiri dan kesepian. Aku takut aku akan kembali kehilangan tou-san dan merasaka kekosongan di rumah mewah itu seorang diri. Saat itu tou-san hanya tersenyum dan berkata bahwa aku tak perlu khawatir. Namun, ternyata ketakutanku terbukti adanya. Kini, aku berusia 10 tahun dan belum seklipun bericara dengan tou-san setelah hari bahagia itu berlalu. Aku hanya melihatnya sesekali saat tou-san pulang dari luar negeri dengan wajah yang lelah yang membuatnya terlihat jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya.

Aku nayris membanting robot itu saat suara ketukan pintu itu mengalihkan perhatianku "masuk", ucapku singkat .

Wajah datar kakashi terlihat dibalik daun pintu yang terbuka. Aku mendegus kesal dan membuang tatapan malasa padanya. "tuan muda, tou-san anda ingin tuan muda bersiap-siap untuk makan malam."

tou-san pulang? Sedikit rasa gembira terbesit didalam daku. Namun rasa pesimis kembali menyarap dan menenggelamkan rasa senang yang kurasakan. "untuk apa bersiap-sia.?" tanyaku dingin.

"tuan bilang ada hal yang sangat penting hari ini," jawabnya.

Aku mengangkat sebelah alisku karena heran dan penasaran. "penting? Ada apa?"

langkah kakiku terhenti saat aku berjalan mendekati meja makan besar itu. Tou-san tampak begitu rapi dan lebih segar dari biasanya. Dia duduk di ujung meja sambil tersenyum. Senyuman riang yang sudah lama tak kulihat. Dia mengenakan salah satu kemeja terbaiknya. Hampir saja aku berlari untuk memeluknya, kalau saja aku tak melihat wanita itu .

Aku berdiri mematung memandangi wanita seusia ayahku yang duduk disampingnya sambil tersenyum lembut kearahku. Dia mengenakan baju biru muda yang lembut. Aku mengeriyitkan kening dan melangkah dengan ragu.

"SASUKE!" seru tou-sanku dengan riang. Aku merasakan ada nada bahagia yang tak bisa kudengar. Atau hanya karena aku sudah terlalu lama tak mendengar suaranya? Namun, entah mengapa sapaan riang padaku justru mebuatku ragu untuk mendekat.

"SASUKE!" seru ayah lagi, kali ini sambil berjalan mendekat. Wanita itu mengikutinya dari belakang sambil menggandeng tangan seorang gadis kecil disampingnya.

"hari ini tou-san unya berita bagus untukmu"

aku berjalan mundur selangkah. "apa?" tanyaku pelan.

Tou-san melirik wanita itu sambil tersenyum penuh arti. Wanita itu juga turut membalas senyuman tou-san dengan lembut. Aku mulai khaatir dan mendapati perasaan takut dan cemas mulai menghinggapiku. Gadis kecil seumuranku yang berdiri dibelakang wanita itu tersenyum sekilas kepadaku. Namun, aku terlalu cemas untuk memperhatikanya. Aku hanya memandangi eksprsi aneh ayah pada wanita itu.

"sebentar lagi, kamu tidak akan kesepian lagi," ujar tou-san sambil tersenyum lebar dan menggenggam bahuku kuat-kuat. "ini adalah ibu haruno rin," ujar tou-san sambil menunjuk wanita itu . Wanita itu tersenyum hangat kearahku. Aku hanya menatapnya dengan pandangan dingin seperti biasanya. "ibu haruno rin dan tou-san akan...menikah".

Aku merasakan ucapan itu seperti pisau yang menikam punggungku. Menikah? Apa maksud tou-san dengan semua ini? Apa tou-san main-main?

"ibu haruno rin akan menjadi kaa-san mu," lanjut tou-san tanpa memperhatikan reaksiku, sepertinya hal ini bukan suatu permainan. Aku bisa merasakan dari nada bicaranya, tou-san benar-benar serius. Tou-san tidak main-main, tou-san benar-benar serius. Sekarang aku tak tau lagi harus berbuat apa. Wanita itu membungkuk sambil menatapku dengan kedua matanya yang teduh. "sasuke, salam kenal, sayang," ucapnya lembut sambil mengacungkan tanganya untuk menggapai tanganku. Namun, sebelum tanganya menyentuh kulitku, aku bergarak mundur dengan cepat. Wanita itu terlihat sangat terkejut dengan responku yang sepertinya tidak sesuai dengan harapanya. Tou-san juga ikut tersentak melihat sikapku.

"sasuke, kau kenapa?" tanya tou-san panik.

"aku...aku..." ujarku terbata-bata . Aku merasakan emosi kemarahan yang menbuncah didadaku. Namun, aku tak menemukan satu pun kosa kata yang bisa mewakilinya. Otakku bagai berhenti berkerja untuk menyusun kalimat dengan baik. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdegup diluar batas frekuensi normal, aku mencoba membuka mulutku. "aku... aku tidak butuh kaa-san baru!" seruku bersamaan dengan tangisku yang pecah.

Tou-san daan wanita itu mengeluarkan ekspresi yang serupa, mereka terdiam menatapku dengan mata sendu yang berkaca-kaca. Aku yang merasa kakiku makin lemas, memilih untuk segera berlari dari situasi aneh ini tanpa memperdulikan teriakan ayahku, "sasuke!".

TO BE CONTINUTED