Maaf yha kemarin melody nggak ngepublish chap yang ini itu semua karena kemarin melody tuh plang sekolahnya sore terus, Maaf juga kalau fic yang chap ini pendek karena melody masih capek hari inipun melody pulang sekolahnya sore lagi . -_-''
Jadi mohon dimaklumi yha... q^_^p
RAIN
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
This fic belong to : hasukari melody
Pairing : Uchiha Sasuke X (female)namikaze Naruko
haruno sakura X sabaku no gaara
Rate : T
Genre : Romance,angst
part 4...
SASUKE POV
seperti biasanya, sore ini kami kembali dduduk diatas rumput taman belakang, langit sore hari ini terlihst begitu cerah dan lembut. Langit sore hari ini melihat begitu cerah dan lembut. Awan-awan bergerak dengan indah seperti membentuk lukisan mahakarya. Sakura merebahkan tubuhnya diatas rumput iitu tanpa peduli pada rambutnya yang kotor terkena rumput kering. Dia menggerak-gerakan tanganya seperti ingin menggapai langit sore itu. Aku hanya bisa tertawa kecil disampingnya sambil terus sibuk dengan cat dan kanvasku.
"nii-san tadi siang disekolahan chouji hampir menjahiliku," ceritanya sambil memandangi langit dengan tatapan menerawang.
Aku yang tadinya masih serius dengan kanvas dan kuas langsung mengalihkan pandangan kearahnya. Aku menatapnya dengan serius tanpa berkedip. Sementara sakura yang kupandangi hanya tersenyum ringan seakan tak terjadi apa-apa. "kenapa kau baru mengatakan itu padaku sekarang? Apa yang sudah dia lakukan? Katakan padaku biar kuhajar dia nanti," ujarku penuh emosi.
"nii-san kau sudah berjanji tidak akan berkelahi lagi," omelnya. "tapi aku tidak bisa terima jika dia mengganggumu. Aku akan..". "tidak terjadi apa-apa. Dia belum sempat melakukan apa un. Ada senpai yang menyelamatkanku," potongnya sambil tersenyum mencoba untuk menenangkanku. Aku langsung terdiam mendengar ceritanya. Apa yang dikatakanya tadi? Senpai. "nii-san, dia itu baik sekali. Namanya...uhm...siapa ya..? ah.. aku lupa namanya"
" aku tidak peduli siapa namanya!" lanjutku ketus sambil kembali menfokuskan pandangan ke kanvas dan lukisanku. Sakura tertawa pelan mendengar reaksiku. Sementara aku hanya mendegus pelan mendengar ceritaya. Entah mengapa aku tak suka mendengarnya memuji orang lain.
"nii-san" ujarnya pelan aku menoleh sedikit kearahnya tanpa melepaskan perhatian dari lukisanku. "apa menurutmu ini kita ditakdirkan untuk bersama?". Tanganku menghentikan pergerakan saat mendengar ucapan itu. Aku menatapnya. Melepaskan perhatian dari lukisanku. "kenapa?"
sakura mengatupkan bibirnya dan memutar bola mata yang emerlad. "aku hanya ingin tahu. Apa kita teta akan bertemu bila saja kaa-san tidak menikah dengan tou-sanmu?" tanyanya dengan kedua mata yang menatap luus langit sore.
"tentu saja," jawabku tanpa bepikir panjang. Entah mengapa hal itu yang segea terlintas dikepalaku. Sakura memandangku dengan penasaran. "kita tetap akan bertemu, kurasa memang ini takdir kita. Kita mungkin akan bertemu tanpa sengaja dipinggir jalan. Aku tidak sengaja menabrakmu dan kita berkenalan. Atau kita kan bertemu disalah satu restoran milik keluargaku dan aku tidak sengaja memvuat minumanmu tumpah. Bisa jadi, aku akan melihatm disalah satu pusat perbelanjaan dan tanpa sengaja barang belanjaan kita tertukar. Lalu mungkin kau akan..."
"nii-san" potongnya pelan. "kau tinggal di konohagakure sedangkan aku di sunagakure. Kurasa kemungkinan itu sangat kecil."
aku ingin membuka mulut tetapi sedetik kemudian kembali ku bungkam. Aku kesal dengan kenyataan bahwa ucapan sakura benar. Aku ignin menyanggah jawabanya namun otakku tak mampu bekerja sejauh itu. "setidaknya," ucap sakura memulai jawaban hingga aku menoleh terlalu cepat, "walaupun kita tidak akan bertemu, kita akan tetap menatap langit sore. Kau akan melukis langit sore dan aku akan bernyanyi untuk langit sore."
aku terdiam memandanginya. Sakura bangkit dari posisi tidurnya dan duduk disampingku. Dia mulai menyanyikan lagu favoritnya dengan suara merdu miliknya yang selalu berhasil menenangkan hatiku. Lantunan lagu 'A WHOLE NEW WORLD' mengiringi tanganku yang kembali bergerak melanjutkan lukisanku yang sempat terhenti.
"A whole new eorld, a dazzling place i never knew. But now from way up here, it's crystal clear. And i need a whole new world with you."
ujung mataku menangkap sesosok malaikat kecilku itu bersenandung dengan tenang. Sakura mungkin tak pernah tau bahwa sebenarnya aku menginginkan pilihan pertemuan lain lah yang benar terjadi. Karena dengan begitu mungkin segalanya akan terasa mudah. Dan sakura tak pernah tau, bahwa obyek lukisanku perlahan mulai berubah dari hari kehari. Kini bukan lagi langit sore melainkan wajah manisnya, wajah manis ssakura yang sedang bersenandung menatap langitsore.
q^_^p
sesuatu yang tidak diperdengarkan padamu, mungkin seharusnya memang tidak kau dengar.
Ya, sekarang aku setuju pada kata-kata itu. Karena mungkin sesungguhnya mereka sudah menyaring apa yang bisa kau dengar karena itu memang keputusan terbaik bagimu, walaupun itu terlihat sedikit tidak adil. Kita memang berhak tau segalanya, tapi tidak semua kenyataan itu bagus untuk diketahui.
Malam itu, aku melakukan kesalahan pada diriku sendiri. Telingaku telah mendengarkan sesuatu yang seharusnya tidak kudengar, pembicaraan serius antara tou-san dan kaa-san tanpa sengaja kudengar saat lapar menuntun kakiku berjalan keruang makan. Samar-samar, kulihat sosok tou-san dan kaa-san yang sedang duduk berdampingan dimeja makan dari kedua mataku yang masih setengah terpejam. Bibir tipis kaa-san menyesap cangkir ditanganya yang aromanya seperti teh hijau, mungkin itu memang teh hijau. tou-san terlihat memandangi cangkirnya dengan murung.
"kapan kau akan kembali ke sunagakure.?" tanya tou-san dengan suaranya yang berat dan sedikit tersedat ditenggorokan.
Kaa-san terdiam agak lama. Diletakanya cangkir itu pelan-pelan ke meja, berusaha meminimalisir suara benturanya. "minggu depan. Kau tidak apa-apa kan?" tanya kaa-san hati-hati.
Tou-san menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis. "aku tau kesehatan baa-chan semakin memburuk dia sangat membutuhkanmu daripada aku." jawab tou-san bijaksana. Kaa-san terlihat sedikit lebih lega mendengarnya. "tapi...". Posisi kaa-san kembali menagang setelah mendengar satu kata yang mendadak masih ada satu masalah. Tou-san membuka mulut debgan susah payah. "haruskah sakura ikut denganmu?". Sepertinya saraf-saraf diotakku sudah terlatih untuk lebih peka pada nama 'sakura'. Maka seketika aku mendengar nama itu disebut, seluruh tubuhku yang sebagian masih melayang dialam ini langsung berkumpul seketika dan membuatku berdiri dengan kesadaran penuh. Seluruh pendengaraanku terfokus pada percakapan itu. Percakapan yang telah menyangkut nama sakura.
"baa-chan ingin sekali bertemu dengan sakura. Dia sangat merindukan sakura. Dia sering bercerita padaku, ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan hidup bersama sakura disuna." jawab kaa-san berusaha menjelaskan alasanya. "aku sudah menawarkan baa-chan untuk pindah ke konoha. Tapi baa-chan tetap tidak mau meninggalkan kota kelahiranya itu.". Tou-san menarik napas dengan berat. Dia meminum lebih banyak teh hijau dari cangkirnya. "rin kau sangat tau hal ini bukan? Ini tentang sasuke. Aku...aku merasa hidupnya membaik setelah kehadiran sakura dan kau. Terlebih lagi dengan sakura, aku bisa merasakan kedekatan mereka. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi sasuke bila dia tahu kalau sakura harus kembali tinggal di suna. Aku masih bisa mengunjungimu setiap bulan sasuke...dia tidak bisa . Akan mengganggu sekolahanya jika dia bolak balik sepertiku. Dia pasti sangat kehilangan kau dan sakura." ujar tou-san cepaat-cepat. Aku merasakan dadaku mulai memanas. Seesuatu yang tidak baik akan terjadi . Aku merasa hal buruk itu sudah didepan mata. "tou-san demi baa-chan. Dia sangat menyayangi sakura. Dia ingin bersama sakura." mohon kaa-san sungguh-sungguh. Kurasakan kakiku makin melemas. Aku berpegangan erat pada dinding sebelum aku terjatuh kelantai. Perlahan aku menjauh dari ruang makan aku melupakan laparku. Aku tak lagi perduli dengan teriakan diperutku. Yang aku rasakan sekarang adalah ketakutan yang begitu besar. Ketakutan akan kehilangan hal yang paling berharga bagiku sekali lagi. Tanpa sadar ternyata kini pintu kamar sakura sudah berada didepan mataku. Kecemasanku telah menuntunku untuk mendekatinya. Kubuka pintu kamarnya perlahan. Dengan napas yang terengah-engah dan jalan yang sempoyongan, aku melangkah masuk kekamarnya. Perasaan lega menyusupiku saat aku melihat sosok mungil sakura yang tertidur pulas ditempat tidurnya. Aku luar biasa lega karena masih bisa melihatnya ditempat tidur itu. Kupandangi wajah manis itu dalam-dalam sampai tiba-tiba aku tersadar bahwa air mataku mulai berjatuhan diselimutnya. Aku melihat tubuh sakura bergerak pelan karena mendengar suara tangisanku. Kedua matanya yang emerlad terbuka perlahan. Dia sedikit terkejut melihatku berada tepat didepan wajahnya dengan air mata yang meleleh di pipi. "nii-san?" ucapnya pelan.
"tidurlah!" seruku sambil mencegahnya untuk bangun. "nii-san, kau kenapa?" tnya sakura dengan nada khawatir melihat penampilanku yang begitu berantakan dan menyedihkan. "sudahlah kubilang tidur!" seruku lagi. Sakura masih belum bisa menerima perintahku begitu saja. Dia masih memandangiku dengan tatapan tak mengerti. "tidur!" bentakku lebih keras hingga sakura tersentak. "kali ini kumohon turutilah ucapanku. Aku hanya ingin melihatmu tidur.".
Dengan ragu dan wajah takut, sakura mulai memejamkan kedua matanya. Aku masih tak mampu menahan air mataku yang mendesak keluar. Kugenggam tangan sakura yng terulur didekat wajahnya erat-erat. "kami-sama aku tidak mau kehilangan sekali lagi," ucapku pelan dengan sunggu-sungguh. Kurasakan tangan sakura digenggamanku sedikit bergerak resah. Matanya sedikit terbuka tetapi dengan sigap dia berusaha memejamkanya lagi.
TO BE CONTINUTED
