Balasan review

haruno yuwi: yang sabar ajh.

ranra kimawari : narukonya ada di chap depan kok. :)

kaname: pokoknya harus rela (MAKSA :D ), naruko dan gaara ada di chap depan.

RAIN

Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei

This fic belong to : hatsukari melody

Pairing : Uchiha Sasuke X (female)namikaze Naruko

haruno sakura X sabaku no gaara

Rate : T

Genre : Romance,angst

part 5...

SASUKE POV

"nii-san, bisa kita beristirahat?" pinta sakura yang mulai terengah-engah sambil memegangi sepeda pinknya dengan erat. Wajhnya penuh dengan peluh. Bibirnya cemberut menahan rasa lelah.

Aku memandandinya dengan tatapan dingin. "tidak!" jawabku singkat "kau belum berhasil."

sakura tampak kecewa mendengar jawabanku yang bernada dingin. Dia kembali menaiki sepedannya dengan melas-malasan. Aku menuntunya dengan hati-hati . Sesekali sakura melirikku ang sedari tadi tak mengeluarkan seulas senyum. "lihat kedepan." ujarku dingin. Sakura melengos kesal dan kembali menatap lurus kedepan. Kakinya mengayuh pedal dengan hati-hati. Kulepaskan tanganku perlahan agar sakura tidak menyadarinya. Namun, begitu tanganku melepaskanya. Mendadak sepeda itu oleng. Sakura panik tak dapat mengendalikanya.

"nii-san!" serunya dengan takut memanggilku. Dengan cekatan, aku segera berlari dan meraih stang yang dicengkram sakura dengan kuat. Aku berusaha menahan sepeda dan berat tubuh sakura dengan sekuat tenaga. Jantungku berpacu dengan cepat. Kulihat sakura juga panik dan ketakutan. Namun, sepertinya akal sehatku sedang tidak berkerja dengan baik. Disaat aku seharusnya menenangkanya, justru bentakan yang keluar dari mulutku. "kenapa kau bisa jatuh lagi? Apa selamanya kau akan mengandalkanku untuk menyanggamu?"

"nii-san!" panggilnya dengan suara bergeter menahan tangis. "aku tidak bisa selamanya ada didekatmu.!". "nii-san kau ini kenapa.?" tanya sakura yang lebih tegas dari sebelumnya. Kulihat dengan jelas mata emerlad sakura yang mulai berair. Kualihkan pandanganku dengan cepat sebelum wajah polosnya berhasil membiusku.

Aku menarik napas dengan berat sambil mencari jawaban yang terbaik untuk pertanyaan sakura. Sakura masih memandangku dengan banyak tanya. "aku... aku hanya ingin ada sesuatu yang berhasil aku ajarkan padamu. Setidaknya sebelum kau pergi, aku berhasil membuatmu bisa mengendarai sepeda ini. Karena disuna tidak akan ada aku yang menemanimu dengan sepeda itu," jawabku tersedat-sedat. Mata emerlad itu membuat lidahku terasa kaku. "makanya kau latihan dengan benar,!" bentakku dengan dingin lagi.

Sakura tersentak mendengarnya. Dengan wajah ditekuk seribu, dia kembali manaiki sepedanya. Aku menuntun dibelakangnya tanpa berani memandangnya. Aku tak ingin larut dalam perasaan nyaman karena tatapan sakura. Senyuman sakura yang adiktif itu, aku tak mau terlalu terpenjara olehnya. Aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri hingga tanpa sadar tangan kuatku melepaskan peganganya dari sepeda sakura. Seperti biasanya sepeda itu mulai oleng dan sakura tak mampu mengendalikanya. Saat aku menyadarinya, sakura sudah terperosok masuk kedalam jalanan yang curam. "aaa!" teriak sakura saat sepeda itu ambruk kesamping menimpa tubuh mungilnya yang lebih dulu jatuh ketanah.

"sakuraaa!" teriakku panik sambil berlari dengan cepat mendekatinya. Sakura meringis menahan sakit ditubuhnya. Dengan kecemasan tingkat dewa(?), kuangkat sepeda itu dari atas tubuh sakura. Kupegangi lututnya yang berdarah. Dengan katakutan yang menaungi wajahku, aku bertanya kepada sakura, "kau tidak apa-apa sakura? Apa rasanya sangat sakit? Tahan, tahan sebentar". Sakura hanya terdiam sambil terisak memeluk lututnya yang berdarah. Aku terlalu panik untuk berpikir pertolongan apa yang hrus kuberikan kepadanya sekarang. Otakku terasa beku dan pikiranku buntu. MaKA dengan terburu-buru aku mendekatinya dan berjongkok didepanya. "ayo naiklah kepunggungku! Biar kuminta kakashi mengurusi sepedamu," ujarku cepat.

Tanpa ragu, sakura melingkarkan kedua tanganya ke leherku. Dia sandarkan kepalanya dipunggungku. Aku berjalan dengan hati-hatinsambil menahan berat badan sakura. Sakura masih sedikit terisak kesakitan. Aku bahkan dapat merasakan air matanya yang menga;ir di punggungku. "maaf. Maafkan aku, sakura. Aku...aku takbisa menjagamu. Aku membuatmu terluka. Maafkan aku," ujarku begitu pelan hingga aku yakin hanya aku yang bisa mendengarnya.

Kutolehkan kepalaku untuk melihat keadaan sakura. Tangisnya mulai mereda. Napasnya yang terengah mulai kembali normal. Tanganya mencengkram bahuku dengan lebih kuat seakan takut terjatuh disana. Aku meruntuki diriku dalam hati. Aku merasa begitu berdosa telah melukai malaikat kecilku itu.

"nii-san..." panggilnya lirih. Ujung mataku melirik kearahnya. Kudapati bibir mungil itu melukis seulas senyuman manis. Matanya yang emerlad menatap wajahku dari samping dengan lekat. Dagunya tersandar dibahuku dengan nyaman. "arigatou" ucapnya singkat.

Langkahku melambat ketika mendengarnya. Waktu serasa berjalan dengan kaki pincang saat itu. Aku mengulum senyum tipis untuknya. Ku angkat wajahku perlahan. Kulihat langit sore hari ini menampakkan awan yang berbenuk sayap. Aku menhela napas dalam. Mungkin sayap malaikat kecil dipunggunggku itu memang tertinggal dilangit itu.

q^_^p

dan sekarang, tinggalah aku disini. Berdiri dengan kaki yang bergetar dibalik jendela. Mengintip dibalik gorden merah marun ini dengan hati-hati. Mataku menahan bulir air nata yang mendesak sekuat tenaga untuk berjatuhan. Aku mengamatinya dari sini, sosok mungil sakura dengan pita berwarna merah marun yang menghiasi rambut pendek baby pink ny. Bahkan darijauhpun aku dapat melihat bekas air mata yang mengering dipipinya yang halus. Aku dapat melihat wajah cerianya yang berubah menjadi mendung suram.

Sakura berdiri menatap kakashi dengan penuh tanda tanya. Diterimanya kado dariku yang telah kutitipkann kepada kakashi dengan ragu-ragu. Sakura memeluk kado pemberianku itu dengan erat. Wajahnya yang kelihatan redup menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu. Atau lebih tepatnya seseorang.

Ya, aku bersembunyi disini. Memilih untuk menjadi seorang pengecut dengan menghindari bertemu langsung denganya. Karena aku takut, aku takut tak mampu melepaskanya pergi. Keegoisanku memilih untuk tetap berdiam diri disini, memandanginya dari jauh. Aku tak mau jadi cengeng untuk hal yang seperti ini, ini memalukan.

Aku mendengar deru esin mobil yang mulain dinyalakan. Diikuti dengan suara mobil yang bergesekanbdengan aspal. Mendadak dadaku terasa sesak. Dan entah apa yang telah mendiringnya, kakiku terasa bergerak sendiri. Dorongan tak tentu ini membuatku berlari secepat yang aku bisa. Aku hanya berlari, terus berlari dan berlari. Berharap keajaiban dapat menghentikan mobil itu, dan aku punya kesempatan untuk melihat malaikat kecilku dadi dekat untuk terakhir kalinya.

Aku terus berlari tanpa memperdulikan kakiku yang mulai meronta karena bekerja terlalu keras. Aku terus berusaha memperceat gerakku sebelum mobil itu makin menghilang dari mataku. Namun, sebelah kakiku mulai melemah dan...BRAK! Aku terjatuh dari aspal panas itu. Aku hanya bisa melihatnya menghilang dari pandanganku. Menghilang, pergi seiring dengan jejaknya yang mulai tak nampak lagi disisiku. Dia pergi dan kini satu kenyataan harus kuhadapi. Aku sendiri. Aku kembali sepi.

TO BE CONTINUTED