balasan review
zhoa mei mei : hahaha :D kebiasaan saya kalau TBC nya menggantung, oke trimakasih banyak karena sudah menyemangati melody .
febri even : panggil melody saja karena melody masih baru disini. saya selalu semangat kok :D, melody terima masukan dari senpai febri, tapi nanti mereka nggak akan ketemu di sma tpi dilain tempat, yahh cari inspirasi baru lahh . hehehe :D
zoccshan : kalau pair utamany tuh mereka ber-4
disini naruko tidak mempunyai 3 garis tanda lahir di pipinya dan warna kulit naruko disini agak putihlah kalau dibandingkan ama sasuke kira-kira 11, 12 lahh, yahh, cari inspirasi baru.
RAIN
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
This fic belong to : hasukari melody
Pairing : Uchiha Sasuke X(female)namikaze Naruko
haruno sakura X sabaku no gaara
Rate : T
Genre : Romance,angst
sasuke: 20 tahun
naruko: 19 tahun
lee: 20 tahun
kiba :20 tahun
part 6...
SASUKE POV
"sasuke-kun" teriak seorang gadis histeris ketika melihatku terpental karena serangan dari lima lelaki didepanku. Lima lawan satu, jelas bukan suatu pertandingan yang adil. Namun, sikap percaya diriku yang berlebihan membuat akal sehatku tidak bekerja dengan baik. Kini aku harus menerima resiko dari keputusan bodoh ku menerima tantangan mereka. Luka dan darah mengalir di ujung bibir, memar dipipi kiri dan kepala atas. Luka disiku dan celana jens biruku yang sobek dibagian lutut.
"hentikan-hentikan!" teriak para mahasiswi yang tak tega melihatku babak belur oleh serangan mereka. Hal itu terlihat tak sinkron dengan teriakan dari pihak mahasiswa yang terlihat begitu semangat dan bahagia melihat wajahku yang dihancurkan. "hancurkan saja pipinya! Bagus, biar hidung mancungnya rusak sekalian!" teriak mereka bersama-sama dengan nada tinggi rendah yang bercampur seperti paduan suara yang kurang berlatih. Para mahasiswa itu mungkin memang sudah lama ingin menghancurkan wajahku. Karena bagi mereka, aku ini ancaman besar, karena aku, banyak dari mereka yang kehilangan kekasihnya. Alasanya, tergila-gila padaku begitu melihatku. Aku sendiri tak ta, at pun ingin tau, mengapa gadis-gadis itu bisa tergila-gila padaku. Yang jelas, wajah selalu menjadi sasaran utama para mahasiswa saat menghajarku. Sialnya, walaupun berpuluh-puluh perkelahian telah melukai wajahku, tetap saja tak ada pengaruh yang berarti. Para gadis itu tetap menjerit histeis tiap melihatku, seperti melihat idolanya diatas panggung.
Pandanganku mulai mengabur. Mereka berlima benar-benar menyerangku dengan seius. Mataku menyipit untuk menatap lawan-lawanku itu. Kepalaku pening karena pukulan-pukulan keras yang mendarat disana. Tanganku mulai mengepal dan otoku mengejang. Dengan sekuat tenaga kutonjok perut lawan yang berada tepat didepanku. Secepat kilat, kutendang perut lawan disebelahnya.
"kyaaa!sasuke-kun!" teriak mahasiswi semakin histeris melihatku mulai bangkit. Baru saja kepalanku terancung untuk segera didaratkan dengan mulus kewajah salah satu lawanku itu, mendadak para mahasiswa yang sedari tadi mengelilingi kami mulai berhamburan pergi. Lawan-lawanku pun mulai berlari pergi secepat yang dia bisa. Aku melepaskan lawan dicengkramanku itu begitu melihat wajah yang ketakutan seperti melihat setan. Aku berdiri seorang diri sambil meringis menahan perih yang terasa diujung bibirku. Sampai suara itu membuat kepalaku menoleh secepat mungkin. "uciha sasuke!mau berapa kali kau melakukan hal ini!?".
q^_^p
kakashi melirikku dari kaca depan mobil. Dia membuang napas dengan lelah saat melihatku menyeka darah yang mengalir dibibirku dengan tangan kotorku. "sebaiknya anda menunggu dokter membersihkanya, tuan muda," ucapnya datar tanpa menoleh kearahku.
Aku membuang muka dan menatap jalanan lewat jendela mobil. Aku sudah terlalu terbiasa pada keadaan ini. Terluka diberbagai tubuh adalah makanan pokok sehari-hari. Obat yang diberikan dokter tiap hari bahkan rasanya sudah kebal ditibihku. Omelan dekan yang sampai memarahiku. Semua peristiwa itu tak lagi istimewa bagiku.
Aku segera membuka pintu mobil dengan cepat dan melangkah sembarangan. Tak peduli pada para pelayan yang berjajar menyambutku. Sambil memegangi kepalaku yang masih terasa pening, aku berjalan cepat menuju kamar dan tas yang kugendong dengan asal. Langkahku baru saja mencapai tangga pertama sampai suara tegas membekukan langkah k. Aku menoleh cepat dan tertegun sejenak, "tou-san?".
q^_^p
"apa definisi bagi remaja sekarang adalah babak belur? Kalau benar begitu mka kau adlah laki-laki paling keren dikonohagakure." ujar tou-san sengaja menyindir begitu melihat luka-luka yang bertebaran diwajahku.
Aku melongos malas mendengarkanya. Kuangkatsebelah kakiku ke paha. Tou-san tercekat melihatnya, mulutnya terbuka dengan emosi. Namun, belum sempat dia mengatakan apapun, mulut itu terkatup rapat kembali. "kau tahu? Umurmu sekarang sudah 20tahun. Dan kau sudah kuliah. Tapi kelakuanmu masih sama seperti anak sekolah dasar. Apa kau tidak ingin mengubah sikapmu sama sekali?"
tak ada respon dariku. Aku mendelik dari bangkuku. Tou-san menarik napas dalam-dalam. Aku masih menatapnya sinis, tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku, karena aku tak ingin obrolan ini semakin panjang. Tou-san mendesah putus asa saat melihatku dan berkata lirih, "kembali kekamarmu,"
"tou-san bisa berkata begitu karena tou-san tidak tahu rasanya," ujarku pelan.
Tou-san menangkat wajahnya dan menatapku penuh tanda tanya. Aku memberanikan diri menatap kedua mata onyx tou-san tanpa berkedip. "setiap bulan, tou-san selalu kembali ke konoha dengan wajah yang berseri. Sepertinya, tou-san sangat senang dapat bertemu dengan kaa-san untuk mengisi energi tou-san. Tapi, apa tou-san pernah memikirkan aku? Tou-san terlalu sibuk dengan diri sendiri hingga tak pernah berbagi mereka disuna padaku. Tou-san selalu tidak ada waktu. Aku hanya bisa bertanya-tanya tentang mereka sambil melihat wajah cerah tou-san. Sementara aku disini merasa sendiri,kosong,hampa dan kehilangan pegangan. Apa tou-san tau itu semua?" ucapku dengan emosi tertahan.
Tou-san menatapku dengan rahang yang mengeras. Aku masih menatapnya tanpa berkedip, tak ingin terlihat lemah dihadapanya. Tou-san mulai menyerah dan menghembuskan napasnya. "cepat masuk kekamar!" ujarnya mengulang perinta.
Dengan gesit aku beranjak dari bangkuku sebelu aku resmi menghilang dari ruang tamu ini, aku menoleh dengan wajah dinginku. "perlu tou-san tau." ucapku datar "aku tidak pernah ingin dianggap keren." dan aku akhiri pertemuan langka itu dengan bantingan pintu yang keras, cukup membuat tou-san terlonjak.
q^_^p
aku menyeret langkahku dengan malas-malasan menuju limosin yang biasa menjemputku. Aku membuka pintu dengan cepat dan segera melempar tas rangselku dengan asal dibangku belakang. Kakashi duduk dibangku depan sebelah sopir melirikku dari kaca depan . Dia menunduk dengan sopan seperti biasa tanpa ekspresi yang jelas. Aku mendengus dan membuang muka tanpa banyak bicara.
Hari ini berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Datar, membosankan tanpa satu pun hal yang istimewa. Aku meletakkan kepalaku yang terasa berat dan berusaha memejamkan mata, sampai aku menyadari satu hal.
"hei, ini bukan jalan kerumah!" seruku heran melihat jalan yang tak biasa aku lewati.
"kakashi menoleh kearahku dengan tatapan tenangnya. "kita memang tidk langsug pulang. Ada satu tempat yang harus tuan muda kunjungi," ujarnya datar.
Aku mengeriyitkan dahi dengan bingung. Tempat? Tempat apa? Biasanya aku langsung pulang setelah kuliah. "aku tidak memintamu mengantarkanku ketempat apapu." protesku.
"ini perintah ayah tuan." jawab kakashi singkat.
Mulutku terbungkam. Apapun itu, entah mengapa aku merasa bukan sesuatu yang bagus. Tou-san terkadang punya jalan pikiran yang tidak bisa diterima akalku mulai dari membayar salah satu dosen untuk selalu mengawasiku dikampus hingga aku merasa masih seperti anak disekolah dasar. Memaksa agar layanan antar jemput kakashi masih terus berlanjut sampai aku sebesar ini. Tou-san mungkin berpikir bahwa aku masih anak kecil karena terlalu lama tak bertemu denganku. Hingga ingatanya tentangku kurang diperbarui.
Limosin itu akhirnya berhenti didepan restoran kecil dipinggir jalan kota konoha. Aku menatap restoran itu tanpa berkedip. Bentuknya terlalu sederhana. Cat warna biru muda yang mendominasi terlihat kurang mencolok dibanding bangunan sekitarnya. Restoran kecil itu terlihat tenggelam diantara padatnya kota konoha dan kendaraan yang lalu lalang didepanya. Pikiranku berhenti berkomentar saat aku membaca plankat nama yang tertulis besar didepan restoran itu. Little uciha restauran. Uciha? Jadi ini salahsatu restoran milik tou-san kenapa tempat ini terlihat sungguh berbeda dengan restora uciha lainnya. Restoran ini bisa dibilang yang paling kecil dan sederhana diantara yang lain. Hmm, Little. Ya, mungkin ini adalah salah satu alasan penamaan restoran jepang ini.
kakashi mempersilahkan aku untuk memasuki restoran itu. Pikiranku kembali disibukan oleh pertanyaan baru. Lalu untuk apa tou-san menyuruhku datang kerestoran ini? Memangnya, ada urusan apa? Apa tou-san memerintahku untuk menggantikannya melakukan peninjauan rutin? Tapi sepertinya itu tidak pernah dilakukan tou-san kepadaku.
Suasana dalam restoran ini ternyata berbeda dari dugaanku sebelumnya. Rasanya tempat ini cukup nyaman. Warna biru muda yang tadinya kupikir kurang menonjol ternyata menimbulkan hawa sejuk dan tenang yang terasa menyenngkan. Ruangan bersih dan rapi. Terlihat meja dan kursi yang dipenuhi pelanggan. Sepertinya restoran ini cukup diminati.
"ternyata anda lebih tampan dari dugaan saya," ujar suara besar dan tegas yang bersumber dari lelaki didepanku. Badanya tegap dan bidang. Kulitnya kecokelatan segar. Kuperkirakan usianya dibawah tou-san. Dia tersenyum lebar padaku, memperlihatkan deretan giginya yang putih rapi. Raut wajah hangat terpancar dengan jelas. Aku tersenyum tipis menatapnya. "konochiwa" ujarnya ramah sambil menunduk sopan.
"konichiwa" balasku sambil ikut menunduk tanpa melepaskan wajah dinginku. Aku menatap lelaki itu lekat-lekat. Memperkirakan jabatan apa yang dipegang lelaki itu. Mungkin dia manajer disini? Ya, sepertinya begitu. Lalu sekarang apa yang harus aku bicarakan dengannya? Apa aku harus menanyakan berapa jumlah pengunjung bulan ini? Atau berapa keuntungan yang kita dapatkan? Oh, tou-san...kau membuatku terlihat bodoh.
Kakashi tersenyum sopan pada lelaki itu. "iruka-sama mari kita bicarakan hal ini didalam," ujarnya pada lelaki itu. Lelaki bernama iruka itu mengangguk setuju dan berjalan menuju ruang kerjanya. Baru saja aku handak mengikuti mereka saat kakashi berkata, "tuan muda, lebih baik anda menunggu disini." aku pun terdiam ditempat melihat dua punggung itu menghilang dibalik pintu putih didepanku.
Aku duduk disatu-satunya kursi dan meja yang tersisa. Aku melirik jam tanganku dengan taksabar. Jadi apa tujuanku untuk datang kemari? Untuk menunggu? Sepertinya hal ini sungguh tak penting.
"masih ada tempat, tidak perlu khawatir." kudengar suara riang seorang gads yang berjalan mendekat kemejaku bersama seorang wanita paruh baya. Gadis itu memandangku bingung. "maaf, apa anda pengunjung disini?'
aku mengangkat wajahku dengan malas. Kutatap gadis itu dengan pandangan dingin. Gadis itu mengenakan clemek biru yang membuatku yakin dia adalah salah satu pelayan direstoran ini. Aku membuang muka sembil menggeleng pelan. "bikan," jawabku singkat.
"kalau begitu, bisa anda memberikan meja ini pada nyonya ini?" tanyanya dengan sopan.
Aku mendengus tanpa semangat. "ini mejaku, cari saja meja lain," ujarku dengan nada dingin seperti biasa.
Gadis itu mengeriyitkan dahinya saat mendengar jawabanku. "maaf, tapi apa anda berniat memesan sesuatu?" tanya gadis itu lagi.
Aku memandangnya dengan nada datar. "aku tidak akan memesan apapun."
empat buah siku-siku mulai terlihat di pelipisnya dan sepertinya kesabarannya mulai menipis. "kalau begitu sabaiknya anda berdiri dan memberikn meja ini pada yang berniat makan direstoran ini," ujarnya dengan nada yang terlihat jelas berusaha menahan luapan emosi.
"kau tidak bisa memerintahku," jawabku tanpa memandangnya.
"meja ini disediakan untuk pengunjung yang maka direstoran ini," ujar gadis itu dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya. "jadi anda tidak berhak duduk disitu apabila anda tidak punya kepentingan."
"apa kau tidak bisa cari meja lain saja?" tanyaku malas.
"apa kau tidak bisa lihat?" tanya gadis itu dengan sedikit membentak. Sepertinya kali ini gadis itu benar-benar marah. "kau bisa lihat kan,? Apa ada tempat yang tersisa.? Hanya meja ini yang tersisa."
aku menarik napas panjang dan membuangnya tana semangat. " kalau begitu suruh saja dia pergi dan mencari restoran lain."
"apa kau bilang!?" seru gadis itu dengan amarah yang siap meledak.
"sudahlah, tidak apa-apa," ujar wanita itu dengan lemah lembut. Dia terlihat menetralkan suasana yang mulai menegang. "aku sebaiknya mencari tempat lain saja."
dengan sigap tangan gadis itu menahannya. "tidak, nyonya!" serunya tegas. "dia yang harus pergi. Biar saya yang membereskannya."
"hei, kau pikir kau ini siapa?" tanyaku yang mulai tak terima.
"aku pelayan disini. Karena itu aku punya kewajiban untuk memperlakukan pelanggan dengan sebaik-baiknya," jawabnya tanpa ragu.
"kau bahkan sama sekali tidak punya perilaku baik padaku," balasku tak mau mengalah.
Gadis itu mencibir dengan sinis. "hei, kau bukan pelanggan disini. Aku tidak punya kewajiban apa pun padamu."
aku menatap gadis didepanku itu dengan pandangan putus asa. Emosiku mulai ikut naik. "aku memang bukan pelanggan disini. Tapi aku adalah pemilik restoran ini dan juga restoran uciha lainya."
"hah? Kau mabuk?" ujarnya ringan sambil tertawa menyepelekan.
Gadis ini sedang mencari masalah rupanya. Kalau saja dia bukan perempuan, mungkin pukulanku sudah melayang diwajahnya yang menyebalkan itu. "jadi kau tidak percaya?"
"untuk apa aku harus percaya?"
"tuan muda," panggil kakashi yang berhasil sedikit mengalihkan perhatianku. Aku menatap kakashi dengan lega. Setidaknya aku bisa langsung membuat gadis ini kalah telak karena dapat membuktikan bahwa aku adalah pemilik restoran ini. Pewaris seluruh jaringan restoran uciha yang sukses itu.
"hei, tolong. jelaskan pada gadis ini siapa diriku," ujarku tanpa minat.
Iruka-sama yang muncul dibelakang kakashi memandangku dan gadis itu bergantian sambil tersenyum ramah. " tuan uciha sasuke," panggilnya sopan.
Aku merasa puas melihat ekspresi terkejut diwajah gadis itu begitu mendengar namaku. Matanya terbelalak dan menatapku tanpa ragu. Aku masih ingin membalas semua perlakuanya kepadaku.
"malai hari ini...," ujar iruka-sama pelan. "amda resmi menjadi...," ya, mungkin kalimat selanjutnya cukup membuat gadis itu terkulai lemas. Aku akan segera membuktikan semua ucapanku dan membuat gadis menyebalkan itu tidak dapat berkutik. "pelayan di little uciha restauran.". "apa?"
q^_^p
"sebenarnya apa yang tou-san pikirkan?" serangku langsung ketika tou-san mengangkat telponku dengan cepat. Tou-san bahkan belum sempat berkata apa-apa. Aku terus melanjutkan protes keraku tanpa banyak basa-basi.
"menjadikan aku pelayan di resotan milik tou-san? Tou-san pikir aku ini boneka yang bisa tou-san mainkan seenaknya? Aku tidak mengerti jalan pikiran tou-san selama ini. Tapi hal ini mulai tak bisa kutolerir."
kudengar suara tawa ayah yang terkekeh geli. Begitu kontras dengan omelan penuh emosi yang barusan kulancarkan. "kau belum pernah bicara sebanyak ini sebelumnya," ujarnya ringan seakan-akan aku baru saja bercerita bahwa aku memenangkan pertandingan basket.
Aku semakin tak dapat menerima keadaan ini. Kugenggam ponselku dengan lebih keras, takut apabila kemarahanku membuat tanganku membantingnya tanpa sadar. "tou-san pikir ini lucu?"
"bukan,bukan begitu," ujar tou-san sambil berdehem dan kembali kenada bicara yang penuh wibawa seperti biasaa.
"tou-san melakukan ini semua demi kau," ujar tou-san pelan dan hati-hati. "tou-san ingin kau menjadi dewasa."
"ini semua tidak ada hubunganya dengan kedewasaan," balasku cepat tanpa pikir panjang. "apa menurut tou-san ada satu korelasi positif antara bekerja direstoran kecil dan menjadi dewasa?"
"tentu saja," jawab tou-san tanpa ragu. "setidaknya dengan begitu kau akan lebih menghargai hidup. Lagi pula, bukankah kau bilang akhir-akhir ini merasa bosan dengan semuanya. Setidaknya kau akan menciba hal baru."
aku membuang napas kesal. "bukan seperti ini maksudku, tapi..." terdengar nada putus diponselku yang menandakan tou-san telah mengakhiri pembicaraan sebelum aku menyelesaikan kalimat pembelaanku. "ini tidak bisa dipercaya," gumanku tak jelas.
"tuan uciha sasuke," panggil iruka-sama tiba-tiba berada dibelakangku. Aku menoleh dan mendapati iruka-sama berdiri dengan senyum lebar sambil membawa bungkusan berisi sesuatu yang bewarna biru. Disampingnya berjajar 3 orang pelayan. Satu lelaki yang bertato segitiga diwajahnya sedang tersenyum kepadaku. Disebelahnya seorang lelaki yang tersenyum lebar kepadaku sambil menjulurkan jempol kanannya. Dan paling ujung kulihat gadis menyebalkan yang barusan membuat masalah denganku sedang berdiri ogah-ogahan dengan wajah yang ditekuk. Kedua mata safirnya menatapku sinis. Aku semakin tak tahan berada disini. "ini seragam untuk anda. Dan ke-3 orang ini adalah pelayan-pelayan restoran kami yang akan membantu anda belajar untuk melayani pelanggan." lanjut iruka-sama bersemangat.
Aku mendengus tanpa semangat. Menatap mereka satu persatu dan membalikan badanku dengan cepat. "aku tidak mau bekerja disini," ujarku dingin dan melangkah menjauhi mereka. Namun, belum sempat aku pada pintu keluar, 2 bodyguard-ku yang berbadan tegap dan besar mengadang dan segera mengamit lenganku kuat-kuat. "hei, apa-apaan kalian?" protesku keras. 2 bodyguard-ku itu tetap menarikku kembali kedalam tanpa memperdulikan teriakanku. "lepaskan aku!"
"maaf, tuan. Tapi ini sudah menjadi perintah," ujar kakashi yang muncul dari balik pintu tanpa menatapku.
TO BE CONTINUTED
