Balasan review :
ranra himawari/typo: ini udah lanjut kok, nggak apa-apa .
Febri feven: ini udah lanjut .
Noorhans: sebenarnya ibunya rin udah meninggal kurang lebih 8 tahun yang lalu. Sebenarnya sasuke selama liburan mau ke suna untuk nemui sakura tapi selalu ada masalah. Intinya selalu ada kendala saat sasuke mau pergi ke suna. Dan setiap kali sasuke ingin meminta no hp sakura pasti ayahnya tidak berada dirumah karena kesibukan ayahnya yang terbilang luar biasa, dan walau pun ayahny sudah sampai dirumah pasti wajaha ayahnya berbinar-binar pastilah sasuke tau kalau sakura dan ibunya pasti baik-baik saja .
Jika belum paham tanya saja langsung ke sasuke ataupun sakura.
Oke selamat membaca .
RAIN
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
This fic belong to : hasukari melody
Pairing : Uchiha Sasuke X(female)namikaze Naruko
haruno sakura X sabaku no gaara
Rate : T
Genre : Romance,angst
{mungkin ini bukan angst tapi drama kali yha}
part 8...
SASUKE POV
aku membawa nampan yang penuh berisi piring, mangkuk dan gelas. Piring dan gelas itu bergetar dan membuat suara gemeletuk seperti alat musik perkusi. Aku berjalan dengan canggung. Takut bila keseimbanganku mulai hilang dan semua bawaanku itu jatuh kelantai. Maka lengkap sudah penderitaanku dihari pertamaku kerja ini.
Aku berjalan pelan dan amat hati-hati menuju dapur. Aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa lee dan kiba mengangkut piring dan gelas kotor itu secepat kilat. Aku berjalan pelan hingga tiba-tiba kurasakan seseorang menyentuh bahuku. Aku mendadak panik dan tanganku bergetar dengan hebat. Aku nyaris berteriak pasrah melihat isi nampanku hampir jatuh. Tangan ku melemah seketika dan otakku bekerja lebih lamban. Tamat sudah riwayatku. Namun dalam sepersekian detik ternyata kekhawatiranku gagal terjadi. Dua tangan halus dengan cekatan memegang nampanku, mencegah isinya berjatuhan dengan tubuhnya. Kedua tangan itu milik naruko. Dia berusaha sekuat tenaga menghalangi tumpukan piring dan gelas itu oleng. Aku masih terdiam dengan tangan yang lemas memegang nampan. Mataku terhenti menatap helai-helai rambut kuning naruko yang berjatuhan menutupi wajah sampingnya. Dengan sibakan pelan dia menghalau rambut-rambut yang menutupi pandangannya. Sekarang, dia menatapku dengan dingin. Bibir mungilnya mengerucut, itu bukan pertanda yang bagus.
"kau ini bisa membawa nampan atau tidak?" gertaknya keras, membuyarkan segala lamunanku. Otakku kini mulai kembali bekerja dengan normal. Benar dugaanku, jangan menilai orang hanya dari wajahnya. Siapa sangka wajah lembut itu bisa membentakku dengan amat tidak sopanya.
"aku kan baru belajar. Aku tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Jadi kau seharusnya memaklumiku," ujarku membela diri.
Naruko mencibirku pelan, "lelaki macam apa kau? Yang seperti ini saja tidak bisa. Orang kaya memang payah." naruko mengambil alih nampan ditanganku dengan hati-hati. "biar aku saja. kau kerjakan hal lain saj," ucapnya memerintah.
Aku tiba-tiba merasa tidak terima pada perlakuanya padaku. Aku segera mengikutinya dari belakang dengan langkah cepat. "hei, kau ini sebenarnya kenapa?" tanyaku keras.
"memangnya aku kenapa?" tanyanya dengan nada datar.
"kau...kau itu...," aku terdiam menatapnya. Mendadak aku tidak mengerti kalimat untuknya. Dia terus memandangku dengan tajam menunggu kelanjutan ucapanku. Aku menarik napas dalam dan memutuskan untuk tidak basa-basi. "kenapa kau membenciku?"
naruko terdiam ditempatnya. Dia mendengus dan membuang muk. Tatapanya kosong menerawang. Sepertinya pertanyaanku terlalu gamblang. Namun tanpa pikir panjang aku tetap meneruskanya. "memangnya apa salahku? Apa karena aku orang kaya? Itu sungguh tidak adil, kau tahu? Lagi pula kenapa kau harus membenci orang kaya?" tanyaku tanpa henti.
Naruko menatapku tajam. Diwajahnya, terpancar perasaan benci yang tidak biasa hingga membuatku menahan napas sejenak. Dia membuka mulutnya dengan berat. Seperti suara itu tersendat di tenggorokannya. "kurasa itu bukan urusanmu," ujarnya dingin sambil berjalan menjauh dariku. Aku menatap punggungnya yang makin menjauh dan akhirnya menghilang dibalik pintu. Entah mengapa rasa ingin tahuku justru semakin membesar.
q^_^p
aku berbaring diatas empat tidurku yang luas dengan tubuh yang terasa akan patah saat itu juga, tidk menyangka pekerjaan baruku itu begitu menguras tenaga. Bahkan berkelahi tiga kali sehari rasanya tidak separah ini. Aku menarik napas perlahan, berusaha mengatur napasku yang terengah-engah karena lelah.
Terlalu banyak hal baru yang kulakuan hari ini. Membawa nampan berisi piring dan gelas yang membuat tanganku pegal. Memcuci piring kotor hingga tanganku terasa panas. Juga mengepel lantai dan menumpahkan airnya hingga terjadi banjir lokal. Kepalaku terasa pusing setiap mengingat suara para pelanggan yang menyebutkan pesanannya. Rasanya begitu banyak hal yang memenuhi pikiranku.
Aku nyais memejamkan mata saat satu hasil jepretanku yang terbingkai manis didinding. Aku bangkit dari posisiku dan berjalan mendekatinya. Jemariku menyentuh wajah manis yang tersimpan disana. Sakura, hanya satu-satunya dia yang bisa menghilangkan rasa lelahku. Mataku menatapnya tanpa berkedip. Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari mata emerlad itu sampai suara itu terngiang ditelingaku,
"nii-san ayo kita lihat langit sore!" aku terduduk ditempat tidur dengan wajah mendung. Aku menyadari satu hal, aku sangat merindukannya.
q^_^p
aku membersihkan salah satu meja kotor, masih dengan gaya canggung. Aku menoleh kebelakang dengan pelan. Kulihat naruko yang juga tengah membersihkan meja dengan gesit. Dia masih memasang wajah dinginya kepadaku. Bahkan, tak sekalipun kedua matanya mengarah kepadaku. Yang benar saja, kenapa dia terlihat marah? Aku masih tak mengerti dimana letak kesalahanku.
Naruko menghampiri salah satu pelanggan yang memanggilnya. Dia tersenyum ramah pada lelaki paruh baya yang duduk disana. "ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sopan.
"bagaimana kalau kau duduk disini dan menemaniku?" ujar lelaki itu sambil tersenyum dengan pandangan aneh pada naruko.
Naruko terdiam sebentar dan bertanya dengan hati-hati, "maaf apa maksud dari ucapan anda tadi?"
lelaki itu terkekeh menyepelekan. "tidak perlu takut. Hanya mengobrol sebentar. Setelah makan, kita bisa berjalan-jalan keluar. Bagaimana? Aku akan membelikan apapun yang kau minta," ujar lelaki itu dengan tatapan menggoda.
Senyuman di wajah naruko mulai redup. Dia menggantikanya dengan ekspresi benci seperti yang kulihat kemarin. Dengan cepat dia membungkukkan badan dan berucap dingin, "maaf, saya masih banyak pekerjaan. Permisi." naruko hendak melangkah menjauh dari meja itu,namun lelaki itu menarik pergelangan tangan naruko untuk mencegahnya. Namun, sebelum lelaki itu sempat membuka mulutnya lagi, tanganku melayang otomatis kewajahnya dan kini mulai meninju perutnya. Aku merasa begitu emosi melihat pemandangan memuakkan tadi. Aku memandangnya tajam. Lelaki itu memegangi perutnya dengan erat. Diujung bibirnya, menglir darah segar yang membuat naruko meringis perih. Lelaki itu ternyata belum menyerah, dia bangkit hendak melayangkan tinjunya ke arah ku.
"sasukeee!" teriak naruko panik.
Aku berhasil menghalau seranganya dengan memukul punggungnya hingga tersungkur dilantai. Aku mendengar derap langkah orang-orang yang mulai mengurumuni kami. Kudengar suara lee yang panik melihat lelaki itu babak belur. Aku menjambak rambutnya keras dan berbisik kepadanya, "kau seharusnya malu kepada dirimu sendiri."
lelaki itu merintih kesakitan. Kulepaskan tanganku dari tubuhnya. Dengan wajah marah menahan malu, dia berlari keluar dari restoran ini. Kiba berteriak kebingungan, "hei, kau belum membayar makananmu!" tiba-tiba suasana tegang digantikan tawa geli para engunjung yang mendengar celetukkan kiba.
Semua pengunjung tertawa, Aku hanya menyeringai. Naruko masih terdiam menatap lantai tempat laki-laki itu tersungkur dengan pandangan kosong. Aku menghampirinya dan menepuk pundaknya pelan, berusaha menenangkan. "kau tidak perlu takut," ujarku lembut.
Naruko masih terdiam kurasakan napasnya tak beraturan. "seharusnya kau tidak perlu ikut campur," bisiknya. Aku mendekatkan telingaku, berusaha mendengar dengan lebih jelas. Naruko mengangkat wajahnya dan menatapku tajam. "kubilang, kau tidak perlu ikut campur tidi. Aku bisa membereskanya sendiri. Kau tidak perlu sok jagoan," ujarnya dingin.
Aku mengangkat alisku dan mengeriyitkan dahi karena heran. Aku membuang napas dengan putus asa. Dadaku mulai terasa panas mendengarnya, "apa itu balasanmu untuk orang yang telah menolongmu?"
naruko memincingkan matanya dengan sinis. "memangnya apa yang kau harapkan?"
"aku tahu, menolong seseorang itu harus dengan ikhlas, tanpa mengharapkan apapun. Tapi apa aku bahkan tidak bisa mendengar ucapan terimakasih yang sederhana?" tanyaku dengan kesal. Naruko membuang mukanya cepat. "apa kaliamat itu terlalu mahal dimulutmu?"
naruko masih terdiam tanpa menatapku. Aku membuang napas dan mendongakkan wajah. "yah, mungkin salah berharap terlalu banyak padamu.n seharusnya aku tahu, kau kan sudah hebat dalam segala hal. Kau sama sekali tak membutuhkan bantuanku."
aku berjalan dengan kesal menuju dapur. Meninggalkan naruko yang masih terdian di tempatnya dan para pelanggan memandangku dengan penuh tanda tanya. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranya. Mungkin memang satu kesalahan aku merasa sedikit simpati padanya.
TO BE CONTINUTED
Di chap yang ini mungkin sasuke sedikit OOC, tapi jangan menyesal telah membaca salah satu karya dari melody ya .
Kalau boleh jujur sebenarnya melody punya satu fic lagi tapi melody masih sedikit ragu apakah para reader suka atau tidak. Jadi nggak melody publish dehh . . . :D
rencananya kalau satu fic ini sudah selesai melody mau ngepublish fic itu tadi .
Kok melody malah curhat ya? Yasudah nggak apa-apa dehh :). oke, melody minta review nya ya ! :D
