Balasan untuk ang ngereview ;
Orenji Fokkusu : salam kenal juga senpai, oh ya saya memang author baru disini. Nggak terlalu rajin juga sihh mengikuti mood saya hehehe :D .
karena pada saat itu saya nggak tau nama ibunya sakura, yasudah saya namai rin saja hehehe :D
kalau thypo memang bertebaran dimana-mana, iya senpai kalau saya nggak malsa saya bakal cek ulang kok.
Oke, maklumlah saya ngepublish nya udah malam jadi kadang salah nulis 'continued' .
Makasih ya senpai atas perhatianya dan reviewnya :)
febri feven : belum waktunya sakura untuk keluar, mungkin keluarnya pada episode 11 .
mengikuti mood saya, hehehe .
Ohya hampir lupa jangan panggil saya melody-nee, saya ini masih author baru + amatiran, jadi panggil melody saja ya .
Makasih ya senpai atas perhatianya dan reviewnya :)
temedobe : maaf ya senpai kalau kependekan, haisnya saya capek ngetik teruss.
Moga" episode ini cukup membuat senpai puas ya . :)
Makasih ya senpai atas perhatianya dan reviewnya :)
Semoga episode ini membuat para reader puas ya !
Oke langsung saja !
RAIN
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
This fic belong to : hatsukari melody
Pairing : Uchiha Sasuke X(female)namikaze Naruko
haruno sakura X sabaku no gaara
Rate : T
Genre : Romance,angst ( sedikit drama mungkin )
part 9...
NARUKO POV
aku memasuki rumah dengan langkah lemas dan duduk disamping meja tanpa semangat. Namikaze karin, adik perempuanku yang masih berusia 7 tahun berjalan mendekatiku sambil mendekap boneka kelincinya erat-erat. Dia tersenyum riang .
"nee-chan, apakah kau bawa oleh-oleh untukku hari ini ?" tanyanya polos .
Aku menarik napas panjang dan tersenyum lembut padanya. Dalam hati aku menggerutu, menyalahkan diri sendiri. Bagaimana aku bisa lupa membelikan sesuatu untuk adikku? Kejadian hari ini terlalu menyita pikiranku.
Aku menatap adikku dengan hati-hati. "karin, maaf ya, hari ini nee-chan sangat lelah. Tidak enak badan. Besok saja, ya, nee-chan belikan sesuatu untuk kamu," ucapku sambil tersenyum .
Karin mengangguk mengerti. Dia tersenyum dan berlari menuju kamarnya bersama boneka kelinci miliknya satu-satunya. Aku bernapas lega. Setidaknya karin tidak marah dan ngambek. Aku tidak boleh lupa membelikanya sesuatu besok. Aku harus memberinya hadiah karena nilai matematikanya yang bagus.
"naruko," ppanggil suara lembut dibelakangku.
Aku segaera menoleh dan mendapati tou-san berdiri disana dengan tatapan teduhnya. "tadi, gaara kemari. Dan mencarimu. Dia bilang kau tidak mengangkat teleponnya. Benarkah begitu?" tanya tou-san seakan berusaha mengintrogasiku.
Aku membuang napas pelan. "aku...aku tadi sangat sibuk. Restoran...hari ini penuh," jawabku mengarang alasan. "tou-san, aku kekamar dulu ya," ucapku sambil berjalan menuju pintu kamarku.
"masa lalu jangan kau jadikan sekat untuk hidupmu," ucap ayah tiba-tiba. Langkahku berhenti saat itu juga. Badanku terasa kaku untuk menoleh. "kau mungkin memang sakit hati karena orang kaya. Tapi, kau tidak boleh terus membencinya. Apalagi menyamakan semua orang kaya. Tidak semua dari mereka seperti yang ada dipikiranmu." "masalah ibumu, biarkan saja hanya menjadi masalah antara kau dan ibu. Jangan kau bawa pada seluruh kehidupanmu. Apalagi sampai membuat orang lain sakit hati karena kebencianmu yang irasional itu. Gaara itu lelaki yang baik. Dia tidak mempunyai niat buruk sedikitpun kepadamu. Dia sangat menyayangimu," ucap tou-san dengan hati-hati.
Satiap kata-kata ayh terasa menusuk hatiku. Aku menahan napasku yang mulai tak beraturan. Tiap aku mengingat hal itu, segalanya terasa memuakkan. Aku ingin membuangnya jauh-jauh, namun kebencian itu selalu kembali menyergapku.
Aku membuka mulutku perlahan, mencari kata yang tepat untuk menjawab ucapan tou-san. Namun segalanya mulai terasa tidak tepat. Aku hanya berputar untuk mecari pembenaran bagi diriku sendiri. "aku hanya...aku tak bisa embalas perasaanya," ucapku pelan sambil kembali berjalan, bahkan mempercepat langkahku untuk memasuki kamar. Kepalaku terasa semaki sakit/ kapan semua masalah ini akan selesai?
q^_^p
4 missed called...sabaku no gaara
aku menatap tulisan besar yang tertera dilayar ponselku. Aku melemparkanya diatas kasur dan berbaring sambil mengambil napas panjang. Kata-kata tou-san barusan mau tak mau membuatku berpikir. Apa selama ini aku terlalu banyak berbuat salah pada lelaki sebaik gaara?
Semua orang selalu berkata bahwa aku adalah gadis yang amat beruntung karena berhasil mendapatkan hati gaara yang bisa dibilang nyaris sempurna.
Tampan, baik, pintar, dan sukses dalam karir. Dia benar-benar impian setiap gadis. Dia berhak mendapatkan gadis yang paling tidak mendekati kesempurnaanya. Namun, kenapa harus aku yang dia pilih untuk dicintainya?
Kenapa harus aku yang jelas-jelas membencinya sebelum sempat mengenalnya? Hanya karena statusnya yang terlahir dan hidup sebagai orang kaya.
Aku menatap sepatu silver berpita cantik yang tergeletak di dekat lemariku. Tak sekalipun kakiku ini menyentuhnya. Walaupun berkali-kali aku terkagum-kagum pada keindahanya. Hanya karena sepatu itu pemberian gaara. Ya, memang hal itu terdengar tidak adil .
Aku masih teringat dengan jelas saat itu. Saat gaara, sang pangeran dizaman modern itu berlutut dihadapanku untuk memakaikan sepatu di kakiku yang kasar. Tak sedikitpun kakiku ini mau terangkat untuk mencobanya sekali saja. Hanya karena egoku yang terlalu tinggi.
"apa kalimat itu teralu mahal dimulutmu?" suara penuh kemarahan itu terngiang kembali ditelingaku. Hal ini sungguh sangat mengganggu. Aku berusaha memejamkan mataku yang terasa berat ini. Namun, wajah gaara yang tersenyum putus asa tiba-tiba terbayang dipikiranku. Aku berusaha keras menghilangkannya, tiba-tiba wajah yang terlihat justru ekspresi kesal sasuke yang meninggalkanku dengan penuh emosi. Aku menghembuskan napas perlahan. Mencoba melepaskan rasa bersalah yang berdesakan didadaku.
q^_^p
aku berjalan memasuki dapur sambi membawa tumpukan piring kotor dengan hati-hati. Mendadak, langkahku melambat saat melihatnya. Sasuke sedang mencuci piring-piring kotor dengan peralatan ajaib yang dibawanya, seperti sarung tangan agar tanganya tidak panas dan juga spons khusus yang lebih lembut.
Aku berjalan mendekatinya dengan perasaan yang tak menentu. Dia sama sekali tak memandangku , melirikpun tidak. Aku meletakkan piring-piring dengan agak keras sehingga menimbulkan suara agak berisik. Namun, ternyata sasuke tetap terdiam seakan aku ini hanyalah lalat yang sibuk berdersing di telinganya.
"hei," ucapku berusaha mengambil perhatianya. Namun dia masih saja berfokus pada piring-piring didepanya. "hei, aku memanggilmu," seruku tidak sabar.
Kulihat bibirnya terangkat kesamping diiringi dengan tatapan puas. "hei, itu bukan namaku. Kau pikir aku tidak punya nama?"
"sasuke, aku serius," ucapku kesal.
"aku juga serius. Aku memang punya nama," jawabnya tanpa ragu.
Aku mendesis kesal. Dia memang sangat menyebalkan. Aku meratapi nasibku yang harus bertemu denganya dan punya masalah denganya. "aku...aku mau minta maaf padamu. Soal kemarin itu...maafkan aku," ucapku tersendat-sendat.
Sasuke tertawa kecil, terdengar sinis di telingaku. "kau tidak perlu minta maaf kalau kau mengatakanya dengan tidak ikhlas," ucapnya mencibirku.
"aku sungguh-sungguh!" seruku sambil memukul meja dengan keras. Namun yang ada justru tangan ku yang sakit. Aku mengaduh dan meniup tanganku yang terasa panas karena benturan tadi.
Sasuke terkekeh di sampingku. Matanya terlihat begitu puas melihatku kesakitan. "sudah kubilang, jangan sok jagoan," ucapnya dengan nada yang menyebalkan.
Aku membuang napas dengan kesal. "kau tahu? Harusnya aku tidak pernah merasa bersalah pada orang seperti kau. Kau hanya bisa membuat orang kesal," ujarku marah sambil berjalan menjauhinya cepat-cepat.
"naruko!" panggilnya asal. Aku menoleh masih dengan wajah yang ditekuk seribu. "foto siapa itu?" tanyanya sambil mengarahkan pandanganya pada selembar foto yang terjatuh dilantai. Mataku terbelalak, 'ya ampun, kenapa aku bisa lupa untuk membuang foto ini, perasaan foto ini berada dirumah tapi kenapa sekarang...?' aku menggeleng cepat dan segera mengambilnya lalu memasukanya di kantong clemek,
"ini hanya foto ibuku," jawabku cepat.
Lagi-lagi sasuke tertawa geli. "ibumu itu terlihat cantik dan baik ya? Berbeda sekali dengan anaknya."
aku menatapnya tajam begitu mendengar dua kalimat terakhir yang diucapkanya. Otot-ototku mulai menegang . Aku menatapnya tak terima. "jangan pernah berkomentar tentang ibuku kalau kau tidak tau apa-apa," ucapku dingin.
Dia memandangku heran. Sedikit terkejut dengan kemarahanku yang mendadak kembali muncul di permukaan. Aku hanya bisa berjalan meninggalkanya sebelum ingatan-ingatan itu membuatku hilang kendali
q^_^p
aku menelusuri rak penuh boneka ditoko mainan ini. Aku mengamati deretan boneka kelinci beraneka bentuk , warna dan, tentu saja, harga. Wajah senang karin sudah terbayang dipikiranku. Aku harus memilihkan yang terbaik untuknya.
"mama, aku mau boneka beruang itu," rengek seorang anak kecil disebelahku. Wanita yang dipanggilnya mama itu segera mengambil boneka beruang yang diminta anaknya dan mengamatinya dengan seksama.
Wanita itu memandangi boneka beruang yang lain dan berjongkok didepan anaknya. "menurut ibu yang ini lebih bagus," ucapnya sambil mengulurkan boneka beruang cokelat itu pada anaknya. "warna putih nanti cepat kotor. Lagi pula kau suka cokelat kan?"
anak itu memandangi boneka beruang cokelat didepanya. Dia terdiam sambil memegangi boneka itu. Sedetik kemudian, senyumnya mulai merekah dibibir anak itu dan dia mengangguk tanpa ragu. Sang ibu mengelus kepalanyapelan dan menggenggam tangan mungil anak itu dengan erat menuju kasir.
Ada satu rasa aneh yang terasa menyesakkan didadaku. Aku merasa monster yang bersarang didadaku mulai menggeliat. Bahkan, aku sudah lupa rasanya berjalan disamping kaa-san. Rasanya semua itu sudah terlalu lama untuk dikenang. Apalagi bila mengingat perasaan benci yang muncul tiap mengingat kaa-san.
Kaa-san yang seharusnya kusayangi dan kupuja. Namun dia meninggalkan kesan buruk dihatiku sejak lama. Sejak dia pergi melupakan tou-san dan anak-anaknya. Dia pergi meninggalkan keluarganya demi sesuatu yang bernama uang. Keegoisanya akan dirinya sendiri telah membutakan matanya. Kekayaan telah membuatnya lupa akan arti kehidupan yang sebenarnya. Semua ini mungkin tak akan pernah terjadi jika saja kaa-san tak pernah bertemu dengan pria kaya itu. Pria kaya yang telah merusak keluarganya, merusak kebahagianya. Apa dia pikir hata bisa membeli segalanya? Sejak saat itu aku tak dapat memaafkanya. Dan kebencianku merembet pada semua orang kaya yang kutemui.
Naruko, apa malam ini kau pulang cepat? Aku ingin makan bersama kau, tou-san mu dan karin.
Sender: sabaku no gaara
aku menatap pesan yang muncul dilayar ponselku. Kubaca nama pengirimnya dalam hati. Ya, kebencianku memang berkembang terlalu liar. Tak terkecuali padanya, gaara, lelaki yang terbaik yang pernah kutemui .
TO BE CONTINUED
sasuke di episode ini dan selanjutnya akan saya buat sedikit OOC (hahahaha#tersenyum devil).
bagaimanakah untuk episode kali ini bagus atau tidak?
Oke, selamat tinggal dan kita akan bertemu lagi di episode depann, okeee :D
