Copyright Fifty Shades of Grey adalah milik E.L. James. Cerita Budak Seks Anthony adalah milik anastasiagracia21. Enjoy! Xoxo
CHAPTER 3
Mataku terbangun. Hari ini hari minggu dan aq masih tertidur di tempat tidur Anthony sendirian. Mataku sembab dan air mataku seakan habis. Kemarin setelah kejadian itu, aq hanya menangis di tempat tidurnya dan tertidur. Mataku menerawang jauh. Aq tidak boleh begini, pikirku. Aq membuang-buang waktu. Dalam berbisnis Oma tidak pernah mengajariku menjadi lemah. Aq rindu oma.
Aq membuka pintu yg ternyata sudah tidak terkunci. Aq berjalan ke arah kamar mandi. Terlihat Anthony menyiapkan sarapan dan tersenyum padaku, "Selamat pagi Anastasia.."
Aq hanya melengos dan langsung menuju kamar mandi dengan tetap menutup tubuhku dengan berselimut.
Air hangat shower membasahi kulit dan kepalaku. Badanku terasa rileks. Tiba-tiba aq terbayang oma. Oma pernah berkata jangan pernah memperlihatkan emosi jika kau ingin mengakuisisi. Jika terlihat, kau sudah kalah. Aq menangis seharian kemarin dan aq mengaku sudah kalah. Bagaimanapun Anthony sudah mendapatkanku 4 tahun ke depan. Aq takut apa yang akan terjadi padaku. "Jika tak ada peluang mengakuisisi, maka jadilah partner yang baik" kata Oma dulu. "Partner yang baik akan cepat memperoleh kepercayaan". Iya! Benar sekali. Hanya itulah yang bisa aq lakukan. Aq akan mengambil peran itu. Sejurus kemudian aq mematikan shower. Di kloset sudah tersedia handuk dan dress putih yang aq pakai 2 hari yg lalu.
"Duduklah Anastasia. Kau harus sarapan" ujarnya tersenyum hangat. Bagaimana dia bisa setenang itu. Aq harus mencari background check Anthony William.
Aq menatapnya tajam. Aq duduk dan memulai sarapan. Kami hampir terdiam selama sarapan. Karena amarah aq lebih dulu menyelesaikan sarapan. Aq tutup garpu dan pisaunya. Kuminum habis air putih di sebelahku. Anthony terkejut dengan sikapku. Dia berhenti makan dan menatapku. Aq menunduk. Aq tak tahu harus mulai darimana.
"Aq...maafkan sikapku yang...mmm..tidak dewasa itu..."
Suasana hening.
"Aq setuju dengan NDA nya..." ucapku menunduk, lirih hampir sperti berbisik. "Aq siap menanggung akibatnya jika...melanggar..."
Tiba-tiba tangan Anthony meraih daguku. Dia ingin aq menatapnya. Mata kami saling bertemu.
"Aq. Setuju. Dengan. NDA nya, Anthony" dengan seluruh keberanian aq memperjelas kata2ku. Setiap katanya.
Matanya menembus tajam menatapku. Beberapa detik kemudian berkilat menari-nari seperti cahaya api.
Anthony kembali memakan makanannya.
"Apakah itu berarti, di poin 1, kau setuju untuk mematuhi segala perintahku, Anastasia?" Di akhir pertanyaan dia menatapku.
"Iya"
"Apakah berarti, di poin 2, aq bisa selalu tahu dengan siapa, kapan, kemana, dan bagaimana kau berinteraksi di kehidupanmu?"
"Iya. Tentu saja. Kau bisa memberiku alat pelacak di pantatku jika kau mau" ucapku tenang membalas perkataannya.
"Apakah di poin 3, kau akan selalu menerima apapun pemberianku, yang berarti juga mengatur life stylemu?"
"Yahh. Tentu saja. Kau juga boleh menentukan bra dan celana dalamku" ucapku asal. Takkusangka matanya menjadi sangat berkilat. Sial! Aq malah memberikan clue yg salah.
"Apakah berarti di poin 4, kau tidak memberitahu siapapun apa yang kau alami denganku?"
"Iya" aq kembali serius.
"Baguslah, poin terakhir, itu berarti kau hanya boleh berhubungan seks denganku. Apa kau keberatan?" Kali ini ucapannya tajam, tidak ada ragu-ragu di dalamnya.
Aq terdiam sesaat. "Apa?" Otakq berputar. Orang ini brengsek. "Apakah ini semua tentang hal itu?" Aq takut beasiswa ini makin takjelas saja. "Ah maaf.." Aq kembali fokus dan menarik napas "dalam NDA sepertinya tidak mengatakan seperti itu" aq memandangnya sambil meremas tanganku.
Anthony masih terus saja memakan makanannya, "tetapi semuanya bergantung pada pihak ke 2, yaitu donor beasiswa. Dan aq menghendaki seperti itu, Anastasia..."
SHIT!
Anthony tersenyum. Suasana yang tegang menjadi hangat kembali. "Beasiswa ini sangat memprioritaskan prestasi, Anastasia" jelasnya seakan-akan bisa membaca pikiranku. "Kami tidak memilih kandidat kami sembarangan. Tapi... Hanya kau satu2nya yang menjadi kandidat favoritku. Aq mengikuti hasil semua ke-8 tes seleksimu dan hasilnya...excellent!" Dia tersenyum mengkilat. "Aq menyukaimu Anastasia. Aq memilihmu di uji tes yang ke-8. Dan aq orang yang monogami, aq tidak berbagi pada orang lain apa yang aq pilih..."
Aq terdiam melihat kilatan di matanya. No way...dia tertarik padaku dengan cara yang aq tidak ingin tahu.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" Sembari melanjutkan sarapannya.
"Apakah kandidat lain juga menandatangani NDA ini?"
"Iya. Semua dewan komite mahasiswa membuat NDA dan NDA itu tentu saja harus disetujui olehku. Jika kandidat menandatngani diatas materai dilembar terakhir itu berarti dia menyetujui semua isinya"
"Dan isinya?"
"Kebanyakan hampir sama. Ada beberapa komite yang menambahi beberapa poin".
"Jadi, mereka juga akan diperlakukan sepertiku? Ahh maksudku..."
"Aq tidak tahu. It's not my bussiness Anastasia"
Aq terdiam.
"Kau bisa bertanya lagi lain waktu. I'm always available for you, Anastasia" Anthony membereskan sarapan sembari mencium dahiku. Bau bathsoap Anthony tercium. Lalu dia pergi ke dishwasher.
Aq melihat punggung Anthony yang sedang mencuci piringnya. Aq harus bersiap menata hatiku untuk orang ini selama 4 tahun ke depan. Setidaknya dia tidak ingin melukaiku. Ntah kenapa punggungnya yg terkena kilatan cahaya matahari balkon terlihat kesepian. Aq menghampirinya.
"Anthony..biar aq saja.." Aq tersenyum meraih piring2 di tangan Anthony. Aq mencucinya, dia mencuci tangannya. "Terima kasih sarapannya, Anthony" aq tersenyum sambil menatapnya. Matanya hangat dan dia mendekat mencium bibirku. Ciuman itu lama sekali seakan dia merindukannya. Lalu kami terdiam saling memandang. Aq mengedipkan mata. Wow! Hot!
"Kau lupa mematikan airnya Anastasia..."
"Ah iya" ujarku tersipu.
"Aq akan membereskan yang lain. Hari ini kita jalan2 dengan mobilku. Bersiaplah" dia tersenyum dan berlalu.
Ketika kami keluar dan Anthony mengunci pintu kamarnya, aq melihat ke arah berseberangan menuju kamarku. Tunggu sebentar, sejak kapan pintu kamarku terbuka? Lalu beberapa orang keluar dengan membawa dua bongkahan tas kresek hitam besar. Ketika aq akan berlari Anthony memegang tanganku. "Mereka adalah tim wardrobe ku. Mereka sedang mengganti isi lemari pakaianmu, Anastasia".
"Apa? Bagaimana bisa..."
"Aq memiliki kunci cadangan kamarmu. Aq memberikannya pada mereka".
Ah iya! Sejak aq menandatangani NDA, hilang sudah privasiku. "Tetapi.. Disitu ada barang2ku.."
"Tenang saja. Semua timku profesional. Ayo qt berangkat.." Ujarnya berlalu.
"Anthony, tunggu.. Kenapa harus isi lemari pakaianku?" Tanyaku ketika kami sudah di basement. Mobil mazda dua pintunya berdecit membuka keduanya otomatis.
Kami berdua sudah berada di dalam mobil. Sebelum Anthony menghidupkan mesinnya dia terdiam memandangku, "Semua dewan komite tahu kau milikku Anastasia. Kau cantik. Aq ingin apa yang melekat di tubuhmu adalah yang terbaik. Termasuk bra dan celana dalammu." Ujarnya diplomatis sambil memandang kedua dadaku.
Otomatis aq menyilangkan kedua tanganku disana sambil merengut.
Anthony terkekeh dan menjalankan mobilnya.
