2nd Chapter: Jongdae and the God of Death

Rating: K

Pairing: JongdaexSomeone, KrisxSuho

Disclaimer: Exo belongs to their agencies, their parents, and God

Warning: typo(s), sho-ai, lil' bit religious theme (mention of God), tiny bit violence at the end

note: this story is mine, i do not copy other's. Moreless inspired by 07-GHOST by Yuki Amemiya and Yukino Ichihara.

DLDR! Do not bash or flame, or i swear you're life will be miserable. And i'm serious.

.

.

.

"Semoga Tuhan mengampuni dosamu." Sabit hitam tersebut menyabit tubuh yeoja tua di hadapan seorang namja berambut pirang. Bukannya terluka keluar darah, tubuh yeoja itu terbaring begitu saja, tidak bergerak sama sekali. Namja itu melihat asap tipis yang terbang, menguap begitu saja ke angkasa.

"Ah! aku capek." Namja itu meregangkan otot-ototnya. Sabit itu menyusut, menghilang masuk ke telapak tangan kanannya. Tiba-tiba, hidungnya menangkap bau harum. Ia menjilat bibirnya, menyeringai.

"Sepertinya pekerjaanku yang berikutnya akan menyenangkan." ucapnya sebelum berjalan keluar gang, berbaur dengan keramaian kota Seoul.

.

.

.

.

"Joonmyeonnie hyung~!" Seorang namja menepuk pundak Joonmyeon dari belakang, mengagetkannya.

"HUAAA!" teriak Joonmyeon, menarik perhatian murid lain di koridor. Ia menoleh ke belakang dan melihat namja manis berambut cokelat gelap dan sedikit ikal yang tersenyum polos. Melihat namja itu, Joonmyeon langsung memeluknya erat. "Huaa! Dae-ie~! Bogoshipposo!"

"Nado hyung, dan em.. pelukanmu terlalu erat." ucap Jongdae. Joonmyeon melepaskan pelukannya dan mengucapkan 'mianhaeyo'. "Jadi, apa saja yang terjadi selama aku pergi? Dan siapa namja di belakangmu yang mendeathglareku seperti itu."

"Tidak banyak, hanya saja ada murid ba-"

"Kenalkan, Wu Yifan imnida, tapi kau bisa memanggilku Kris, aku namjachingu Joonmyeon." Kris menjabat tangan Jongdae dengan wajah yang berbinar (sumpah, kebayangnya tampang mesumnya Frau terus -_-). Joonmyeon menggeplak belakang kepala Yifan keras, hampir membuatnya jatuh. "Aww~ Joonmyeonnie, appoyo~"

"Jangan percaya dia, Dae-ie. Dia memang murid baru yang tadi kubicarakan, tapi dia hanya orang mesum. Lebih baik kita ke kantin bersama, kajja!" Joonmyeon menggengam tangan Jongdae dan menariknya ke kantin. Diikuti Kris yang mengejar sambil berteriak 'Joonmyeonnie'.

Kim Jongdae, 16 tahun, murid kelas 1 Gyeong-il High School. Sejak saat baru masuk, dia sudah menarik perhatian karena sifatnya yang cheerful, easy going, dan suka mentrolling (?) orang. Jangan lupakan suaranya yang indah saat menyanyi. Ia pertama kenal dengan Joonmyeon saat baju olahraga mereka tidak sengaja tertukar dan sejak saat itu mereka bersahabat. Tapi tetap saja setiap orang mempunyai rahasia. Jongdae adalah seorang pengidap hemofilia, dan Joonmyeon juga tahu itu.

.

.

.

Hup

Seorang namja pirang meloncat turun dari pohon. Ia menatap bangunan sekolah di gedungnya.

"Lumayan, meskipun sekolahku lebih bagus." Ucap namja itu.

.

.

.

"Annyeong, Jongdae-ya!" Joonmyeon melambaikan tangannya ke Jongdae yang masuk ke kelasnya. Ia-dengan diikuti Kris di sampingnya- berjalan menuju kelasnya.

"Jongdae tadi itu siapa?" tanya Kris.

"Kau jangan berani mengancamnya atau apa, dia sahabatku." ucap Joonmyeon. Kris menghentikan langkahnya, merajuk. "Jangan kekanakan, toh kau kan bukan siapa-siapaku. Ayo jalan."

Kris masih merajuk, saat indra penciummannya menangkap sesuatu. Ia familiar dengan bau ini. Dia menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran tersebut saat matanya menangkap sesuatu di jendela.

"Joonmyeon!"

PRANG

Jendela di koridor pecah berkeping-keping. Beruntung, Kris sempat menarik tubuh Joonmyeon menjauh. Firasatnya betul, bau dewa kematian.

"Y-ya! Kris! Tadi itu apa?!" teriak Joonmyeon, menatap pecahan kaca di hadapannya. Ingatkan ia untuk berterima kasih pada Kris nanti. Kris menghela nafas berat dan menggelengkan kepalanya.

"Dewa kematian."

.

.

.

"Whoopsie! Nyaris saja!" ucap namja pirang itu, menyeringai. Ia meloncat ke pohon di samping gedung sekolah. Dari situ, dia bisa melihat salah satu kelas yang tengah berlangsung. Seringainya makin lebar saat melihat aura hitam yang menguar dari salah satu namja di kelas itu.

"Gotcha."

.

.

.

Sesampainya di kelas, Jongdae duduk di tempatnya yang biasa. Kursi kedua dari belakang di samping jendela. Ia memandangi pohon besar yang terlihat dari jendela. Mengingatkannya dengan pohon pinus di rumah neneknya.

DEG

Ia menggelengkan kepalanya kuat, menganggap bahwa dirinya berhalusinasi. Tadi, ia seperti melihat seorang namja pirang di atas pohon itu. Jongdae mengangkat bahunya dan mendirikan buku pelajarannya, untuk menutupi dirinya dari pandangan sang seonsaengnim.

Ia terbangun dari tidurnya saat Joonmyeon membangunkannya. Melihat sekelilingnya, dan menyadari bahwa ini sudah istirahat.

"Jongdae, kau tertidur? Kau sakit? Kulitmu agak pucat." tanya Joonmyeon dengan nada yang khawatir, sangat. Jongdae menggelengkan kepalanya dan tersenyum meyakinkan.

"Kris hyung mana?"

"Dia dihukum karena tertidur. Ayo kita ke kantin! Aku berani bertaruh kau merindukan bubur buatan ahjumma!" Joonmyeon menggandeng lengan Jongdae, dan mereka berjalan menuju kantin. Mereka berjalan sambil berbicara. Joonmyeon banyak menceritakan tentang hal-hal yang terjadi selama Jongdae pergi. Tapi, tentu saja dia tidak menceritakan perihal vampire, Kris, Chanyeol, dan sekolah mereka. Pertama, dia tidak ingin disangka gila. Kedua, dia tidak ingin sahabatnya itu takut.

"Jongdae-ah! Annyeong~!" Saat Jongdae baru memasuki kantin, dia disambut oleh Baekhyun. Baekhyun, teman Joonmyeon sekaligus sunbae Jongdae, manusia yang sangat jago dalam hal ramalan.

"Ah, baek-hyung. Annyeong."

"Jongdae, ramalan untuk virgo hari ini peringkat terakhir. Berhati-hatilah dengan pisau dan kegelapan, kau juga ada masalah dengan warna hitam. Dan sepertinya seseorang tengah mengawasimu."

"Jinjjayo? Baiklah, aku akan berhati-hati saat pelajaran tata boga nanti." Baekhyun mengangguk senang, lalu berlari meninggalkan Joonmyeon dan Jongdae. Anak itu memang agak aneh. Joonmyeon duduk di meja, sementara Jongdae pergi memesan bubur.

"Hyung, apakah sunbae di sekolah ini ada yang pirang dan berwajah sangar?" tanya Jongdae tiba-tiba, membuat Joonmyeon tersedak ludahnya sendiri, ia tidak bisa menahan tertawa. Mendengar pertanyaan tentang 'namja pirang berwajah sangar', ia teringat dengan vampire yang tengah menjalani hukuman itu. "Wae hyung?"

"Hehe, ani. Aku hanya teringat sesuatu, hehehe." Joonmyeon menghentikan tertawamya terlebih dulu. "Maksudmu 'namja pirang berwajah sangar' itu Kris, bukan?"

Jongdae memikirkan kembali wajah namja yang sempat ia lihat sekilas itu.

"Sepertinya tidak, kalau tidak salah postur tubuhnya lebih kurus dan rambut pirangnya tidak semencolok Kris hyung. Rambutnya itu agak ke arah krem."

"Hmm, sepertinya 'namja pirang berwajah sangar' itu hanya Kris. Mungkin kau salah lihat, Jongdae-ah."

"Ya, mungkin."

.

.

.

"Aish! Dammit! Kenapa bisa ketahuan?!" Kris menggerutu. Ia mengepel lantai gymansium dengan kasar. Ia lebih memilih mengepel lantai gymansium daripada membuat makalah, saat tadi 'ditawarkan' oleh Choi seonsaengnim. "Lain kali aku akan menggunakan atlas dunia saja untuk menutupiku."

Kris kembali mengepel lantai gymnasium. Bolak balik keliling lapangan tidak membuatnya capek, asal kau tahu. Ingat, dia sudah mati.

"Hatchih!" Kris bersin saat merasakan sesuatu menggelitik hidunganya. Ia melihatnya, bulu berwarna hitam. Bulu itu jatuh tepat di depan kakinya, sebelum ia memungutnya. "Hei, aku tidak tahu apa urusan dewa kematian di sini, tapi keluarlah sebelum aku mematahkan sabit sialanmu itu."

"Ok ok, aku mengalah." Pintu gudang peralatan di sisi lapangan, tergeser. Seorang namja berambut pirang yang mengenakan kemeja putih tanpa lengan dan blazer abu-abu tanpa lengan berjalan keluar. Ia menyeringai melihat Kris.

"Apa maumu? Seingatku, jarang ada dewa kematian yang bertugas di sekolah." sindir Kris.

"Hei, itu dulu. Sekarang hal itu sudah biasa." jawab namja itu. "Lagipula terakhir kali kau berhubungan dengan dewa kematian atau pergi ke dunia langit kapan?"

"Saat aku mati."

"Which is, 290 years ago." Namja itu berdecak kagum saat teringat sesuatu. "Wow, kau hebat bisa menahan nafsu untuk tidak menghisap darah manusia selama itu."

"Kalau kau masih basa-basi seperti ini, akan kuhisap darahmu sampai habis." Bola mata Kris mulai berubah, dari cokelat gelap menjadi merah menyala.

"Kau lupa, kita ini kan sama-sama sudah mati." bantah namja itu. "By the way, the name's Tao. Tidak enak rasanya tidak berkenalan."

"Kau pasti sudah tahu namaku." balas Kris sengit. Tao menganggukkan kepalanya. "Apa tujuanmu ke sini? Dan kenapa tadi kau menyerang Joonmyeon?"

"Yah, tugas dewa kematian, mencabut dan mengumpulkan nyawa." jawab Tao. "Dan kalau perihal namja-mu itu, sepertinya aku hanya kehilangan kendali. Kau tahu kan kalau dia salah seorang darah murni?"

"Sudah tahu. Biar kuperingatkan, kalau kau berani menyentuh bahkan seujung rambut Joonmyeon dan juga Jongdae, kupastikan kau tidak bisa kembali ke dunia langit." ucap Kris. Ia berjalan melewati Tao, meletakkan pel tersebut di gudang peralatan. Setelahnya, ia berjalan keluar gym meninggalkan Tao.

"Hey, kenapa Jongdae?"

"Karena dia orang yang berharga bagi Joonmyeon." jawab Kris sebelum benar-benar keluar dari gym. Tao tersenyum canggung dan mengacak rambutnya.

"He~ sayang sekali, Kris. Aku tidak bisa berjanji."

.

.

.

"Kerja bagus untuk hari ini!" Jongdae membungkukkan badannya kepada staff-staff di studio. Memang sesekali dia bekerja sebagai model untuk perusahaan kakaknya yang bergerak di bidang fashion. Ia melirik ke arah jam tangannya, pukul 9 malam. Ia buru-buru mengganti pakaiannya dan mengambil tasnya. Setelah berpamitan dengan kakanya dan staff-staff yang lain, ia beranjak keluar dari gedung itu. Rumahnya dekat sini, jadi ia bisa berjalan kaki.

"Lebih baik lewat taman saja." Jongdae mengambil jalan menuju taman. Ia lebih suka lewat situ ketimbang lewat jalan raya. Di taman, ia melihat seorang namja terbaring di jalan setapak, dan langsung menghampirinya. "Ya! Gwaenchanayo?!"

"Ugh.." Jongdae mendirikan tubuh namja itu lalu membopongnya menuju rumahnya.

Lee ahjussi kaget saat melihat tuan mudanya -aka Jongdae- membopong namja asing yang well, pakaiannya kurang layak ke rumah. Jongdae menghiraukannya dan langsung merebahkan namja itu di sofa ruang keluarga. Ia melihat bekas sobekan-sobekan di kemeja, blazer, dan celana panjang namja itu. Wajahnya juga terdapat banyak bekas -sepertinya- cakaran.

"Lee ahjussi tolong ambilkan air putih, kapas, dan obat merah." Tidak lama kemudian, namja paruh baya itu kembali dengan benda-benda tadi. Jongdae membangunkan namja itu, menyuruhnya minum. Tangannya membubuhkan obat merah di bekas cakaran-cakaran tersebut dengan kapas. "Gwaenchanayo?"

"Gomawo." ucap namja itu dan menenggak airnya hingga habis. Jongdae tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya.

"Tunggu di sini, ne? Akan kubuatkan roti. Kau tidak alergi kacang kan?" tanya Jongdae. Namja itu menggelengkan kepalanya lalu Jongdae beranjak ke dapur, meninggalkan namja itu sendirian.

"Hah~ Jadi sulit." ucap Tao. Tao? Yap, Tao adalah orang yang tadi ditolong Jongdae, Tao si dewa kematian. Kenapa dia bisa seperti ini? Sepulang dari Gyeong-il high school, ia tidak sengaja menculik seekor anjing kecil di depan induknya sendiri, mengakibatkannya berada dalam keadaan seperti ini ditambah dengan keseleo. Sebenarnya dia bisa saja menyembuhkan lukanya dengan sendiri, tapi dia tidak mempunyai tenaga untuk melakukannya, dia lapar.

Tidak lama kemudian, Jongdae datang dengan sepiring besar sandwich di tangannya. "Tadinya aku mau membuat roti manis tapi kami kekurangan bahan, ehe~'"

"Ini sudah lebih dari cukup." Tao langsung melahap sandwich-sandwich itu, mengakibatkan Jongdae senang.

"Hei, kalau kau tidak keberatan, bisakah kau menceritakan kenapa kau seperti ini?"

"Aku keberatan."

"Ooh, geuraeyo? Kalau begitu tidak apa-apa. Bagaimana kalau kau mandi dan ganti baju?" Jongde bangkit, hendak mengambil baju milik hyungnya. Tao menarik belakang kaus Jongdae, membuatnya menoleh.

"Kau tidak takut?"

"He?"

"Kau dengan gampangnya menolong orang yang tidak kau kenal bahkan membawanya ke rumahmu. Padahal, belum tentu dia itu orang baik." ucap Tao. Jongdae tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Menolong orang kan sudah sewajarnya, lagipula menurutku kau itu orang baik kok." Jongdae meninggalkan Tao, berjalan menuju kamar hyungnya. Ia teringat sesuatu, dan memanggil Tao. "Hei, kau kan harus mandi. Ikuti aku!"

Tao bangkit dan berjalan mengikuti Jongdae. 'Padahal ini baju favoritku.' gumamnya. Jongdae menyuruhnya masuk ke ruangan berpintu cokelat tua, sementara dirinya masuk ke ruangan di sebelahnya. Tao mengamati kamar mandi tersebut. Hei! Meskipun dia sudah mati, bukan berarti dia tidak pernah mandi! Bahkan dia punya rumah sendiri.

"What a tough day."

.

.

.

"Permisi, di mana baju gantiku?" Tao keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, mengagetkan Jongdae. Jongdae mengangguk dan menunjuk ke arah meja di samping kamar mandi, di situ ada kemeja putih dan celana panjang hitam yang dilipat rapih. Tao menatap Jongdae yang sedari tadi melihat ke arahnya. "Waeyo?"

Pluk

"Gunakan ini, jangan sampai masuk angin." Jongdae memberikan handuk kecil ke Tao, sebelum berlari menuju kamarnya. Tao memang belum sempat mengeringkan rambutnya. "Kau bisa tidur di kamar hyungku di sebelah kamar mandi!"

Tao hanya menggelengkan kepalanya. Ia mengambil pakainnya lalu masuk ke kamar hyung Jongdae. Kamar itu penuh dengan sketsa-sketsa dan di pojok kamar terdapat sebuah manekin. 'Sepertinya pekerjaan hyungnya berhubungan dengan fashion.' gumam Tao. Tao mengenakan celana panjang tersebut lalu merebahkan dirinya di kasur. Ini musim panas, baginya terlalu panas untuk mengenakan baju. Ia membolak-balikkan badannya. Dewa kematian jarang sekali tidur, karena itu sekarang ia tidak bisa tidur, minggu lalu dia sudah tidur berhari-hari.

"Ugh.." Ia menggerutu saat merasa tangan kanannya panas. Ia menggunakan tangan kanannya sebagai wadah untuk menyimpan sabitnya. Nyawa manusia yang buruk, dijadikannya makanan untuk sabitnya. Jika tidak, sabitnya akan merasukinya, menguasai tubuhnya dan memakan nyawa orang-orang yang tidak bersalah. "Sabarlah sampai besok."

"Grrhh..!"

"Aish, sialan. Terpaksa aku harus berburu malam ini." Tao bangkit dan mengenakan kemejanya. Ia keluar dari kamar tersebut, saat sebuah aura menarik perhatiannya. Aura milik Jongdae. Ia berjalan menuju kamar Jongdae, dilihatnya Jongdae sudah tertidur. Ia menghampiri tempat tidur Jongdae, berdiri di sampingnya.

"Rrraahh...!"

"Sabit sialan, kontrol rasa laparmu. Dia bukan makanan, jiwanya terlalu bersih. Dan lagi, waktunya bukan sekarang, masih ada sehari." ucap Tao. Ia menatap aura hitam yang mengelilingi Jongdae, aura tersebut bertambah pekat. Tao berbalik dan berjalan meninggalkan kamar Jongdae.

"Gomawo dan mianhae."

.

.

.

"Tuan muda, bangun. Hari sudah pagi." Jongdae membuka matanya dan menegakkan dirinya di kasur. Matanya menangkap sebuah bulu hitam di atas selimutnya.

"Lee ahjussi, apakah kau yang meletakkan ini?" Tanya Jongdae, tang dijawab dengan gelengan oleh Lee ahjussi. Entahlah, ia seperti teringat sesuatu. Jongdae mengabaikannya dan meletakkan bulu itu di nakas. Ia masuk ke kamar mandi, mandi, dan mengenakan baju seragamnya.

Ia berangkat dengan berjalan kaki. Meskipun kaya, dia jarang menggunakan fasilitas keluarganya. Ia tersenyum saat melihat bangunan sekolahnya. Ia mempercepat langkahnya menjadi berlari. Sesampainya di sekolah, ia berlari menuju kelas Joonmyeon.

"Myeonnie-hyung!" teriak Jongdae, lalu memeluk Joonmyeon. Joonmyeon tertawa dan balas memeluk Jongdae.

"Hei, kenapa kau bahagia sekali huh?"

"Entahlah, sepertinya ini hari keberuntunganku." jawab Jongdae. Mereka terus mengobrol, hingga bel berbunyi.

"Kembalilah ke kelasmu."Jongdae dengan sangat terpaksa, kembali ke kelasnya. Bersamaan dengan perginya Jongdae, Baekhyun datang.

"Joonmyeon! Mana Jongdae?!"

"Dia baru saja pergi, wae Baekhyun?"

"Entahlah, aku punya firasat buruk tentangnya."

Di koridor, Jongdae berpapasan dengan seorang namja pirang.

"Gomawo untuk semalam."

Jongdae langsung berbalik, menoleh ke arah namja itu yang sudah menjauh. Ia merasa familiar.

.

.

.

"Annyeong, Kris." Kris menoleh, melihat Tao yang bersandar di atap. Dia memang tengah membolos di atap.

"Wae? Apa maumu?" tanya Kris dingin. Tao berjalan mendekat dan menepuk pundak Kris.

"Hanya ingin menyapa sesama makhluk tidak bernyawa." jawab Tao. "Dan menyelesaikan tugas."

"Neo! Siapa targetmu, hah?!"

"Bagaimana kalau kujawab bahwa marganya Kim dan namanya berawalan huruf 'J'?" goda Tao. Memang menyenangkan menggoda vampire, mereka tidak bisa mengontrol emosi mereka.

"Joonmyeon?!"

"Aniyeo, kontrol emosimu. Tapi jawabanmu mendekati, sih." Tao berjalan mundur, menuju pintu. "Hint, dia adalah sahabat Joonmyeon yang berharga, dan dia manusia biasa."

"Targetmu Kim Jongdae?!" teriak Kris.

"Bingo!" Tao menyeringai sembari mengedipkan matanya. Tao merogoh sesuatu di kantungnya dan melemparnya ke hadapan Kris. Benda tersebut langsung mengeluarkan asap. "Mian, tapi aku tidak ingin kau mengahalangiku. Tolong nantikan berita kematian Kim Jongdae besok pagi." Itulah ucapan Tao, sebelum menghilang. Kris merasa kelopak matanya berat, pandangannya mengabur. Ia tidak tahu kalo Tao punya obat bius.

'Ini juga sulit bagiku, vampire sialan.'

"Sial, Joonmyeon." ucapan Kris sebelum kelopak matanya tertutup sepenuhnya.

.

.

.

"Joonmyeon hyung, aku pulang duluan ya. Sudah mau gelap." ucap Jongdae. Ia dan Joonmyeon baru pulang pukul 6 karena mereka ada kegiatan ekskul. Joonmyeon awalnya agak ragu, tapi menganggukkan kepalanya. Toh, Jongdae sudah biasa pulang sendiri. Hanya saja, dia teringat ucapan Baekhyun tadi pagi.

"Aku punya firasat buruk tentangnya."

Joonmyeon menggelengkan kepalanya kencang, lalu melambaikan tangannya ke Jongdae. Sekarang tinggal ia sendiri. Oiya, ia tidak melihat vampire pirang mesum (re: Kris) itu seharian ini.

Puk

"Huaaa!" Joonmyeon refleks berteriak saat sesuatu (atau seseorang) menyentuh pundaknya. Ia menoleh dan melihat Kris yang pucat.

"Kris! Gwaenchana?! Kemana saja ka-"

"Jongdae! Di mana dia?!" potong Kris cepat.

"Dia baru pulang."

"Sendirian?!"

"N-nde. Waeyo?" tanya Joonmyeon. Yifan mengambil nafas terlebih dahulu sebelum berbicara.

"Kau ingat dewa kematian yang kemarin?"

"Eum."

"Targetnya adalah Jongdae."

.

.

.

Jongde berjalan sambil sesekali menendang kerikil. Mulutnya sibuk menggumamkan bait demi bait lagu favoritnya. Otaknya tengah memikirkan sesuatu, ia merasa melupakan sesuatu yang penting semalam. Dan ia juga bingung dengan ucapan namja yang tadi berpapasan dengannya.

"Gomawo untuk semalam."

'Semalam? Memang ada apa semalam?' Pikirnya. Ia berjalan melewati sebuah gang dan mendengar sesuatu. Suara langkah kaki. Ia menoleh ke arah gang dan tidak melihat apa-apa.

"E-eh? Apakah ada orang?"

Sunyi, tadi cuma perasaanya. Ia menghela nafas lega saat suara itu terdengar lagi. Ia masuk ke dalam gang itu.

"S-siapa di sana?!" teriaknya. Ia melangkah lebih dalam lalu melihatnya. Seorang pria, berdiri di depan seorang wanita yang terbaring, darah menggenang di sekitar tubuh wanita itu dan sebulah pisau berlumuran darah berada di genggaman pria itu. Jongdae refleks menutup mulutnya saat sadar apa yang sedang terjadi.

"U-uwaa!" Jongdae hendak berbalik, tetapi pria itu lebih cepat dan sudah lebih dulu menangkap Jongdae dan mendorongnya ke dinding.

"Aku tidak menyangka bahwa ada tikus kecil yang akan memergokiku." ucap pria itu. Jongdae berusaha kabur, tetapi orang itu terlalu kuat. Ia merasa nafasnya tercekat saat ujung pisau itu sudah menembus seragamnya, menyentuh permukaan kulitnya. "Selamat tinggal, tikus kecil."

Pria itu menusuk dada Jongdae dengan pisau tersebut, membuat darah Jongdae terciprat ke wajah dan bajunya. Jongdae terbatuk, mengeluarkan darah dari mulutnya. Pria itu menikamnya lebih dalam lalu mencabut pisau itu. Ia meneyeringai sebelum tiba-tiba wajahnya memucat. Seseorang mencengkram kepala dan lehernya.

"Mati." ucap seseorang itu lalu memutar kepalanya, mematahkan lehernya. Mayat pria itu terjatuh dan menampakkan Kris di belakangnya. Suho buru-buru menghampiri Jongdae, meletakkan kepalanya di pangkuannya.

"J-Jongdae-ya! Buka matamu, jangan tidur! Irreona!" teriak Joonmyeon.

"H-hyung... Appo.. uhuk!" Jongdae terbatuk lagi, darah itu mengotori kemeja Joonmyeon.

"Kris! Tolong gendong Jongdae! Di dekat sini ada rumah sakit! Ikuti aku!" perintah Joonmyeon.

Kris menggangguk dan menggendong Jongdae di kedua lengannya. Ia berlari mengikuti Joonmyeon, dan tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Joonmyeon langsung meminta tolong kepada para perawat yang merebahkan Jongdae di kasur rawat dan membawanya ke UGD, meninggalkan Joonmyeon dan Kris. Joonmyeon merasa tubuhnya oleng dan langsung ditangkap oleh Kris. Kris mendudukkan dirinya dan Joonmyeon di kursi tunggu.

"Jongdae... dia mengidap hemofilia.." Joonmyeon mulai terisak. Ia merasa ini semua salahnya, tidak seharusnya ia membiarkan Jongdae pulang sendirian. Kris mengelus punggung Joonmyeon dan melihat namja itu di hadapan mereka.

Tao.

Kris menatap Tao dingin, Tao hanya balas menatapnya datar. Matanya kosong, tidak ada emosi. Tao memutuskan untuk menampakkan dirinya di depan mereka berdua, langsung mengundang kemarahan Joonmyeon. Joonmyeon bangkit dan langsung meninju pipi Tao keras.

"Kau sialan! Dewa kematian sialan! Kenapa harus Jongdae?!" teriak Joonmyeon. Beruntung rumah sakit sedang sepi sehingga mereka tidak menarik perhatian.

"Itu bukan kehendakku, Tuhan yang memutuskannya." jawab Tao datar.

"Saat Jongdae ditikam pria itu kau ada di sana kan?! Kenapa kau tidak menolongnya?!" tanya Joonmyeon lagi. Tao hanya menggelengkan kepalanya.

"Seberapa inginnya kami menolong seseorang, kami tidak boleh menampakkan diri di depan manusia biasa. Bahkan saat ini aku sudah melanggar peraturan karena menampakkan diri di hadapanmu." jawab Tao.

"Kenapa aku?! Kenapa kau tidak menampakkan dirimu di depan Jongdae saja?!" Tao hanya terdiam, tidak menjawabnya. "Kenapa Jongdae?.."

"Jeosonghamnida, tapi adakah di sini yang kerabat dari Kim Jongdae?" seorang uisanim memotong pembicaraan mereka. Joonmyeon langsung memgangkat tangannya, tidak perduli bahwa ia berbohong. "Mianhamnida, tapi kami tidak bisa menyelamatkannya. Lukanya terlalu dalam dan bahkan hampir mengenai jantungnya. Darah yang keluar terlalu banyak apalagi dia pengidap hemofilia."

"Uisanim, anda berbohong kan?" tanya Joonmyeon. Uisanim itu menggelengkan kepalanya.

"Kau boleh menemuinya kalau mau. Dia masih hidup, tapi sekarat, tinggal menunggu kehendak tuhan." ucap sang uisanim. Tanpa basa-basi Joonmyeon langsung masuk ke ruangan Jongdae.

"Kris, tunggu di situ!" Teriak Joonmyeon.

"Izinkan aku masuk." Pinta Tao. Tidak mungkin dia tiba-tiba menjadi tak kasat mata saat ada manusia di hadapannya.

"Maaf, tapi hanya-"

"Aku tunangannya."

.

.

.

Ckrek

"A-ah.. Joonmyeon hyung..." Ucap Jongdae lirih. Bibirnya melengkung tersenyum melihat hyung kesayangannya. Joonmyeon tersenyum sendu dan duduk di kursi di samping kasur Jongdae. Tangannya menggenggam tangan kanan Jongdae.

"Gwaenchana, Dae-ah?" Joonmyeon berusaha tersenyum meskipun ia yakin wajahnya berkata lain.

"Ah ya... Agak sakit sih..." Jongdae meringis. "Hyung, kau menggegamku terlalu erat!"

"Ah! Mian!" Joonmyeon langsung melepaskan genggamannya.

"Bercanda, hehe..." Jongdae menyengir tanpa dosa tangan kirinya membentuk huruf 'V' dengan perlahan.

"Bodoh, kau tidak tahu kalau kau Joonmyeon-ssi sangat mengkhawatirkanmu? Kau malah bercanda." Jongdae dan Joonmyeon menoleh ke pintu mendapati Tao di situ.

"Siapa dia?"

"Dewa kematian."

"Bagaimana kau bisa masuk?"

"Cara uang sama denganmu, Joonmyeon-ssi. Aku bilang aku tunangannya." jawab Tao lalu berjalan mendekat.

"Mian, hyung... Aku malah-uhuk-bercanda.." Jongdae batuk lagi, darah keluar dari mulutnya. Joonmyeon menggelengkan kepalanya, tidak peduli dengan air matanya.

"Ani, Jongdae yang kukenal akan selalu bercanda dan berusaha membuat semua orang senang." ucap Joonmyeon.

"Tapi sekarang aku akan membuatmu menangis, hyung... Ugh!" Jongdae merasa sakit di dadanya. Nafasnya sudah tersendat-sendat, ia hanya punya beberapa menit lagi.

"Kau, kau namja yang semalam kutolong kan?" Tanya Jongdae yang dijawab dengan anggukan oleh Tao. "Semalam... Aku berterima kasih pada Tuhan, telah membuatku bertemu denganmu... Aku tahu ini sangat singkat, tapi-uhuk- aku menyukaimu. Siapa namamu?"

"Tao."

"Tao, gomawo." ucap Jongdae yang diakhiri dengan senyuman. "Dan Joonmyeon hyung... kau sudah bagaikan seorang kakak... bagiku. Terima kasih sudah hadir... dalam hidupku. Saranghae, hyung... semoga kau-uhuk- bahagia dengan Kris, ne?"

"Jangan bicara seperti itu, -hiks-..."

"Tao, tolong cabut nyawaku sekarang."

"Jangan Tao!" larang Joonmyeon. Tao menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan sabit tersebut dari tangannya. Ia mengarahkan sabitnya ke arah Jongdae lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Semoga Tuhan mengampuni dosamu."

.

.

.

A few years later.

'Here lies Kim Jongdae, a filial son and a loyal friend. 21st September 1992 until 29st September 20xx. May God blessed your soul.'

Seorang namja pirang mengenakan coat hitam panjang meletakkan sebukat bunga di atas sebuah batu nisan.

"Bahkan aku belum sempat menjawab 'nado'." gumamnya. Tuntutan pekerjaan membuatnya baru bisa mengunjungi makam ini sekarang. "Nado."

Makam orang pertama yang menyentuh hatinya, si dewa kematian.

Tuk

"Bola?" Ia memungut bola itu. Seorang namja kecil berambut dark brown berlari menghampirinya.

"Ahtjucci! Bica tolong kembalikan bola punya DaeDae?!" pinta anak kecil itu. Tao tertegun melihat wajah namja kecil itu.

DEG

"Tao, jiwa makhluk hidup yang sudah kembali ke dunia akan mengalami reinkarnasi dan hidup kembali di dunia ini."

Sekarang ia percaya ucapan chief-nya.

Karena ia sedang menatapnya sekarang.

Reinkarnasi dari Kim Jongdae.

'Bahkan warna jiwa dan auranya mirip.' gumamnya.

"Igo!" Tao memberikan bola tersebut. Ia mengambilnya kembali saat anak itu ingin mengambilnya. Anak itu menpoutkan bibirnya. 'Bahkan duck lips-nya juga sama.' gumam Tao. "Apa yang harus kau ucapkan kalau ada yang menolongmu, heum namja kecil?"

"Oh iya! DaeDae lupa!" Namja itu menepuk kepalanya. Ia tersenyum ke arah Tao. "Gamtchahamndia, atjuchiii!"

DEG

Hey hey! Dia tidak mungkin jadi seorang pedo kan?!

"Cheonma, igo." Kali ini Tao betul-betul memberikan bolanya. Namja itu tersenyum lalu memeluk pinggang Tao.

"Annyeong atjuchii!" Namja itu berlari menjauh.

"Tunggu! Siapa namamu namja kecil?"

"Park Jongdae!"

.

.

.

"Tao! Kenapa kau tidak membaca bukumu hah?!"

"Membosankan, hyung~"

"Bab reinkarnasi? Ini bab kesukaanku."

"Apa reinkarnasi itu? Tolong jelaskan."

"Reinkarnasi adalah-"

"Singkat saja, hyung~"

"Aish. Tao, jiwa makhluk hidup yang sudah kembali ke dunia akan mengalami reinkarnasi dan hidup kembali di dunia ini."

"Tetap tidak mengerti."

"Itu karena kau yang bodoh."

"Ya, hyung!"

.

.

.

.

Fin

Ffnya terinspirasi habis nonton 07 ghost

RnR, annyeong!