Yo~ Rey619 balik lagi #lambai-lambai gaje# *dilempar kulit pisang*
Setelah sekian lama Rey menghilang dari peredaran(?) akhirnya Rey bisa bangkit(?) dan dengan bangga mempersembahkan 'My Angel' chap 2. Hwahahaha...xxx *dibuang ke laut*
Masih adakah yang ingat dengan fic ini? (Readers : Tidak!) T_T
Thanks to :
Alp Arslan no Namikaze
Miya-hime Nakashinki
Lillya Hozikawa
Mugiwara 'Yukii' Uzumaki Sakura galogin
Wi3nter
yahiko namikaze
Deidei Rinnepero13
edward
Narusaku 4ever
akasuna no hataruno teng tong
.Phantom
Silent Readers (kalau ada)
Summary : Keputusasaan seorang bad boy ketika dihadapkan pada kematian. Keinginan untuk hidup yang begitu kuat memaksanya harus mengemis belas kasih pada sang malaikat maut. Pernikahan adalah jawabannya. Akankah kesempatan terakhir itu datang padanya?
Disclaimer : Masashi Kishimoto forever
Warning : OOC, AU, Typo(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dll, dsb, dst *dibantai rame-rame*
Dont Like Dont Read
~Happy Reading~
"Aku malaikat penjemputmu...," jawab gadis cantik itu perlahan, seraya mengibas-ngibaskan pelan sepasang sayap mungil berwarna putih yang kini tampak kelihatan di mata Naruto yang sudah tidak buram lagi.
Lelaki itu terkejut sejenak, tak percaya terhadap telinga bahkan matanya sendiri. Mulutnya menganga, membiarkan darah-darah kering yang mengeras di sudut-sudut bibirnya seperti ia peragakan tanpa malu ke seluruh dunia.
"Ah... kau mau membawaku mati?" tanya Naruto hampir putus asa.
Malaikat itu mengangguk pasti. Wajahnya seperti berpendar putih penuh cahaya. Senyumnya masih menghias wajahnya yang jadi tampak semakin nyata, seperti ruang besar yang berpendar kilau di sekitar laki-laki berambut pirang itu. Naruto merasakan butir-butir air mata kini berguguran tanpa kendali mengaliri pipinya. Ia tak mau mati. Ia belum mau mati. Ia takut mati.
"Tapi, tapi aku belum mau mati... aku tak ingin mati... aku...," suaranya terdengar tersendat-sendat diantara desah nafas yang tak teratur. Sesunggukan seperti gadis-gadis merana yang ia tinggalkan ketika cinta mereka sedang merekah indah seperti sekuntum bunga mawar di awal musim semi yang mulai panas. Wajah malaikat itu sekejap mengiba kasihan, sebelum kemudian tersenyum manis lagi, menunggunya dengan sabar untuk berhenti tersedu sedan.
"Aku belum siap untuk mati... aku... aku... aku belum mencapai semua mimpiku...," kata laki-laki itu lagi.
"Tapi waktumu sudah habis... maafkan aku kalau kau belum mencapai semua impianmu, tapi aku harus segera membawamu pergi," malaikat pink itu berkata lembut.
Naruto menangis lebih keras, bahkan sesekali tersedak. Malaikat itu mengelus perlahan anak-anak rambut yang melekat di kening laki-laki itu, merapikannya sedikit, seperti hendak membuatnya sedikit lebih rapi sebelum ia siap untuk beranjak.
"Malaikatku yang cantik, aku mohon. Tolong beri aku kesempatan... satu, hanya satu kali lagi... hanya satu keinginanku yang belum kucapai... hanya satu... satu saja...," suara Naruto tiba-tiba saja seperti telah kembali. Kembali tegas dan kembali laki-laki, tegap dan gagah seperti dirinya belum lama ini.
Di dalam mata birunya nampak seberkas sinar yang redup perlahan kembali bercahaya. Namun malaikat itu tak berkata apapun. Hanya saja jemarinya berhenti menyentuh kening laki-laki itu. Memandang wajahnya dengan tanda tanya.
"Aku tak bisa memberikan itu. Tugasku hanya membawamu pulang kembali," seru malaikat itu kini dengan lebih tegas.
Seperti memiliki sebuah kekuatan dari sebuah sudut antah berantah, Naruto perlahan berusaha bangkit dari tempatnya tidur, berusaha meraih kedua belah tangan malaikat itu yang kebetulan belum beranjak terlalu jauh dari tempatnya berbaring. Bibir keringnya dengan susah payah mencoba mencium jari jemari lembut bidadari itu, seperti yang sering dilakukannya terhadap teman-teman wanitanya, setiap kali ia menyapa mereka.
Membuat pipi mereka sesekali merona merah dan hati mereka berbunga. Hal yang sama yang mungkin membuat malaikat itu seperti mengubah ekspresi wajahnya. Membuatnya mundur selangkah seperti hendak menarik kembali tangannya dari kecupan bibir kering lelaki tersebut.
"Tolong, tolonglah aku, sekali ini saja, aku berjanji akan mengembalikan kebaikanmu ini berkali lipat yang tak terkira. Membuatmu menjadi malaikat cantik paling bahagia di belahan dunia ini. Membuatmu tak akan pernah menyesal kalau kau mau memberiku kesempatan yang satu ini. Tolong, tolonglah aku... aku mohon... aku mohon pada hatimu yang baik. Pada hatimu yang putih. Pada dirimu yang suci...," ucap Naruto panjang lebar.
Ia mulai tersungguk-sungguk lagi. Air matanya menetes basah diatas gemulai lembut jemari sang bidadari yang kini hanya bisa memandangnya heran dari kejauhan. Walaupun kemudian laki-laki itu sadar untuk segera bangkit dari kesedihannya, berusaha menghapus air matanya dan berusaha menjadi pria yang sebenarnya kembali.
Pria gagah yang sering membuat gadis-gadis itu merana, pria tampan yang sering jadi bahan iri hati dan cemburu teman-temannya. Sebuah senyum tipis tampak mulai merekah di bibirnya. Senyum tipis yang sering membuat gadis-gadis takluk dan mau bercinta dengannya. Senyum sexy yang selalu jitu, seperti menyihir setiap mangsanya, seperti sebuah hipnotis yang membuat orang lain tunduk padanya.
Malaikat itu beranjak mendekat lagi ke arahnya. "Mengapa kau masih begitu ingin hidup lelaki nakal? Tubuhmu saja sudah sulit untuk bicara. Biasanya manusia-manusia sepertimu malah berharap supaya aku segera menjemput mereka. Membawa mereka beristirahat agar tidak usah menderita lagi." Malaikat itu bertanya panjang kepadanya.
"Aku hanya ingin bisa menemukan pasangan sejatiku. Yang sudah begitu lama kucari dimana-mana. Pasangan yang akan menemaniku di setiap keadaanku. Mengikutiku dengan patuh di setiap langkahku. Membuatku menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia... hanya itu keinginanku malaikat cantik. Hanya itu..."
Lelaki pirang itu mengiba dengan sepenuh hati, bahkan mungkin dengan berlebihan. Hanya untuk bisa lebih meyakinkan malaikat maut itu untuk tidak membawanya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Malaikat bermata emerald itu mengernyit. Sebuah keraguan seperti tersirat di wajahnya. Membuat Naruto sedikit hilang harapan.
"Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa sebagai gantinya kau bisa memberiku sebuah kebahagiaan seperti yang kau janjikan?" Malaikat itu bertanya ingin tahu. Wajahnya tampak sedikit mendekat ke arahnya.
Naruto diam sejenak, berpikir cepat untuk bisa meraih satu kesempatan yang bisa menyelamatkan dirinya. Sebuah kilat seperti berkelebat di kepalanya, membuat pendar cahaya di mata birunya yang cenderung redup berkilat menggelegar seperti sebuah halilintar cepat yang mematikan.
"Aku akan menikahimu..."
Menikah? Dia bukanlah malaikat bodoh yang tidak mengerti akan apa yang diucapkan oleh lelaki pirang tersebut, meskipun dia sendiri belum pernah mengalaminya. Wajah malaikat itu berpendar lebih terang. Seperti sebuah lampu berkilau tersorot indah di wajahnya yang cantik.
"Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa itu akan membuatku bahagia?"
"Malaikatku, tak tahukah kau, bahwa semua makhluk hidup di dunia ini diciptakan untuk berpasang-pasangan. Dan untuk meresmikan suatu hubungan yang syah, mereka harus menikah. Pernikahan adalah keinginan setiap insan." Jelas Naruto asal, berusaha meyakinkan malaikat pink itu. Meskipun ia sendiri ragu dengan jawabannya.
"Hmm... aku masih tak yakin dan masih belum yakin kalau aku akan mengabulkan permintaanmu."
"Malaikatku, kau baru akan merasakan sebagai wanita yang sesungguhnya ketika seorang laki-laki mendekapmu erat dengan sepenuh jiwanya, seakan itu adalah dunia kalian berdua, seakan kau adalah satu-satunya cinta dalam hidupnya, seakan tak ada hari lain lagi dimana kalian bisa bertemu. Ketika kau biarkan dirimu hanyut dalam sebuah percintaan, dalam sebuah kisah asmara, ketika kau biarkan tubuhmu hanya mengikuti saja, ketika kau biarkan dagingmu menyerah dan pasrah, ketika jiwamu jadi satu dengannya. Ketika kau merasa hidup kembali saat kau tidak memiliki kebebasanmu lagi. Ketika semua ketakutan dan nafsumu terhadap hidup tumpah jadi satu, membuatmu jadi mabuk dan tak sanggup sadar lagi. Ketika semua mabuk kepayang itu bisa membuatmu bahagia."
Naruto seperti kehabisan nafas di akhir kata-katanya, terengah-engah dan cemas, kalau saja ia kurang meyakinkan dalam ceramah panjangnya. Walau terlihat di matanya kalau ia tidak bohong, tidak kali ini. Ia sendiri heran, darimana ia bisa mengatakan hal seperti itu. Darimana ia bisa tahu bahwa menikah adalah hal yang paling membahagiakan, sementara ia sendiri juga belum pernah mengalaminya. Entahlah, semua kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir pucatnya bagai air mengalir.
Sebuah senyum tipis tampak mulai merekah di bibir pink malaikat tersebut. Seperti senyum tipis yang kini mulai tampak menghiasi wajah Naruto. Membuat wajahnya tampak tidak begitu sedih lagi. Membuat mata biru sapphirenya bersinar lagi bagaikan matahari. Hm, sepertinya malaikat pink itu harus membuat laporan palsu pada dewan kematian. Mencoba untuk menjadi manusia bukanlah hal yang salah bukan? Begitulah pikirnya.
Tiba-tiba ada sebuah kilatan cahaya yang mengelilingi tubuh malaikat itu. Sangat terang bagai surya tepat diatas kepala, hingga membuat Naruto harus memejamkan matanya karena tak kuasa menahan sinar terangnya.
"Naruto, bagaimana sekarang? Apa aku sudah mirip manusia?" tanya malaikat itu pada Naruto yang masih memejamkan mata.
Perlahan-lahan Naruto mulai membuka matanya begitu mendengar suara sang malaikat pink memanggilnya. Mata birunya membelalak lebar disertai dengan bibirnya yang menganga seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia terlampau kaget, ia takjub, ia kagum, ia sulit mempercayainya.
Benarkah yang ada dihadapannya ini adalah malaikat maut? Dia lebih nampak seperti seorang gadis manis dan cantik. Tidak menyeramkan dan bertaring seperti sosok malaikat maut yang biasa ia tonton di film-film horror.
Bagaimana mungkin dalam sekejap semua telah berubah? Malaikat bersayap itu kini nampak seperti orang biasa, sama seperti dirinya. Pakaiannya tidak putih seperti tadi melainkan biru muda dengan rok berenda yang panjangnya kira-kira sebatas 5 senti diatas lutut. Dan sayapnya? Sayapnya menghilang. Dimana dia menyembunyikan sayapnya? Pemuda itu terus bertanya-tanya entah pada siapa.
"Kalau kau tidak suka, aku bisa mengubah diriku menjadi orang lain."
Malaikat itu masih memandang Naruto dengan tatapan menuntut. Seakan ingin tahu bagaimana pendapat pemuda blondie itu tentang perubahan penampilannya saat ini. Sudah pantaskah? Atau masih begitu banyak kekurangan yang harus dibenahinya.
"Oh tidak, tentu saja tidak. Maksudku, kau sudah terlihat seperti manusia seutuhnya. Kau sangat cantik malaikatku. Aku suka dengan dirimu apa adanya. Jadi... jangan mengubah dirimu seperti orang lain..."
Lelaki itu akhirnya menjawab, berusaha menghilangkan semua keraguan yang tersirat di wajah sang malaikat, membuat wajah malaikat pink itu sedikit merona merah meskipun tidak begitu kentara. Bibirnya tersenyum riang ketika menyadari segala rasa sakit di tubuhnya telah sirna. Hatinya ikut gembira tatkala mendapati gadis pink itu tersenyum manis padanya.
"Mulai sekarang jangan memanggilku dengan sebutan malaikat lagi Naruto. Panggil aku Sakura," seru malaikat pink itu meminta persetujuan dari lelaki bermata blue sky yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya.
"Apapun yang kau inginkan, Sakuraku." Jawab Naruto mantap. Seperti seorang pangeran yang biasa diceritakan dalam sebuah dongeng, ia berjalan tegap menuju sang putri yang masih menatapnya dengan bingung.
"Terima kasih Sakura-chan. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Aku janji, aku akan selalu membahagiakanmu. Dan kalau sampai aku mengingkarinya..." Lelaki itu memberi jeda sesaat. Diraihnya kedua tangan gadis bermata emerald itu yang kini hanya berjarak beberapa senti saja dengannya. Digenggamnya erat jari-jemari mulus itu seakan takut terlepas.
"Aku siap mati saat itu juga." Lanjutnya kemudian, membuat gadis berambut soft pink itu sedikit terkejut dengan ucapannya. Membuat sang gadis kembali tersenyum manis disertai dengan sebuah anggukan pelan yang sudah cukup untuk menandakan bahwa dia percaya pada lelaki itu, pada Naruto.
***{+_+}***
'PLAKKK!'
Sebuah tamparan keras meluncur dengan sukses mengenai seorang pria berambut pirang, membuatnya tersentak kaget. Membuat gadis berambut pink yang berdiri disampingnya menyentuh wajah malang itu perlahan. Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan pribadi Uchiha itu hanya bisa memandangnya dengan penuh keheranan.
"Menikah kau bilang? Dimana kau selama seminggu ini? Apartemenmu kosong, ponselmu tidak bisa dihubungi, lalu tiba-tiba kau muncul dengan orang asing ini dan berkata kau akan menikah dengannya hah?" teriak seorang gadis berambut pirang panjang seraya menunjuk orang asing yang dimaksud. Mata lavendernya berkilat-kilat penuh amarah. Sementara yang lain masih bergeming, enggan angkat bicara. Seolah-olah takut mengganggu penonton lain yang tengah mengikuti jalannya pertunjukan di sebuah theatre.
"Dia bukan orang asing Shion. Dia adalah Sakura, dan sebentar lagi akan menjadi istriku yang berarti menjadi sahabat kalian juga." Sergah lelaki yang wajahnya sempat menjadi korban tamparan seorang gadis bernama Shion. Mata birunya memandang semua teman-temannya bergantian, seolah meminta dukungan.
"Sahabat kita kau bilang? Aku tidak akan pernah mau menyebut dia sebagai sahabat!" Mata lavendernya beralih memandang gadis bermata emerald itu dengan penuh kebencian.
"Sudah berapa kali kau tidur dengan Naruto? Atau jangan-jangan... kau mengaku hamil hingga Naruto mau menikah dengan wanita jalang sepertimu," ejek Shion seraya tersenyum meremehkan.
"Cukup Shion! Jangan menghina Sakura-chan lagi!" Pemuda blondie itu sudah akan mendaratkan tangannya pada Shion kalau saja tangannya tidak ditahan oleh gadis berambut pink disampingnya. Membuat gadis berambut pirang tersebut membelalak tak percaya dan makin disulut api kemarahan yang membuncah.
"Oh jadi begitu, kau memang sama rendahnya dengan dia Naruto!" geram Shion belum mau mengakhiri perdebatannya. Sebenarnya apa yang membuat gadis itu begitu marah pada lelaki blondie itu. Mungkinkah lelaki itu pernah melakukan suatu kesalahan yang fatal hingga tak bisa dimaafkan.
"Kau sendiri apa? Kau tega mengkhianatiku dan menjalin cinta dengan Sasuke saat kau jelas-jelas masih bersamaku. Kalau ada yang berhak marah disini seharusnya itu aku, bukan kau Shion!"
Pernyataan Naruto yang gamblang sukses membuat semua mata disekelilingnya membelalak tak percaya, kecuali Sakura malaikat polos yang tak tahu apa-apa serta tiga orang bergelar pangeran es yaitu Sasuke, Gaara, dan Neji. Ketiganya masih tampak tenang tak menunjukkan reaksi apapun seperti yang lainnya. Hanya ekspresi datar yang sulit diartikan. Kalau memang benar apa yang dikatakan Naruto, kenapa Shion terlihat begitu cemburu, marah, dan dendam. Seakan-akan masih ada perasaan khusus yang tersisa di hatinya untuk ditempati oleh sang pangeran matahari.
Rahasia itu terungkap. Kenangan buruk yang sudah lama dikubur dalam-dalam itu terpaksa digali lagi demi menunjukkan kebenaran. Kebenaran yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh siapapun termasuk para sahabatnya. Cukup Naruto sendiri, Sasuke, dan Shion yang tahu. Tapi kini, misteri itu terpecahkan. Bagai bangkai menguap yang hanya menyisakan bau menyengat.
Tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Tak ada gunanya lagi, tak ada yang akan berubah. Toh semua sudah berakhir. Dan sebentar lagi lelaki beriris blue sky itu akan membuka lembaran baru dengan malaikat pink manis disampingnya.
Hening. Hanya suara dentang jam dinding saja yang mengiringi kebisuan mereka. Semuanya nampak tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terlalu tegang untuk ukuran pertunjukan nyata didepan mata. Hingga sebuah suara bosan memecah keheningan, mengendurkan ketegangan, dan membuyarkan lamunan.
"Naruto, dan kau gadis pink... aku merestui kalian. Sekarang apa aku boleh pulang?" tanya seorang lelaki berambut model nanas yang tengah memandang bosan kearah pasangan blondie dan pink. Matanya terlihat mengantuk seolah-olah dia belum tidur selama beberapa hari.
"Apa yang kau katakan Shikamaru? Itu sangat tidak sopan. Pokoknya kau tidak boleh pergi sebelum aku mengijinkanmu," bisik seorang gadis berambut pirang panjang dikuncir kuda pada lelaki berambut nanas disampingnya yang tak henti-hentinya menguap sedari tadi.
"Terserah kau Ino, aku mau pulang." Ucap Shikamaru malas seraya beranjak meninggalkan tempat tersebut. Namun belum sempat ia melangkah tangan Ino sudah menahan lengannya.
"Dengar ya Shikamaru, kalau kau tetap nekad maka aku tidak akan memberimu 'jatah' selama satu bulan." Ancam gadis itu pelan dan hanya dapat didengar oleh Shikamaru.
"Ck, troublesome." Pemuda berambut nanas itu hanya bisa pasrah sementara Ino menyeringai penuh kemenangan.
Naruto yang sejak tadi melirik kearah Shikamaru hanya bisa menahan senyum. Pemuda blondie itu sudah hafal betul dengan gelagat sahabat jeniusnya itu. Dia selalu haus akan cinta seorang Yamanaka. Naruto tak pernah menyangka kalau sahabatnya yang pemalas itu bisa takluk oleh seorang gadis cerewet seperti Ino.
"Terima kasih Shikamaru," seru Naruto seraya memamerkan cengiran lebar andalannya yang hanya dibalas dengan anggukan malas dari Shikamaru.
Gadis bermata emerald itu memandang Naruto heran. Inikah pribadi seorang Naruto Namikaze yang sebenarnya? Nampak ceria dan penuh kharisma. Tidak lemah dan tak berdaya seperti saat ditemuinya di rumah sakit. Entah kenapa perasaannya ikut senang ketika melihat pemuda blondie itu tertawa.
"Hn, Dobe. Silahkan kalau kau mau menikah. Aku tidak peduli," ucap seorang lelaki berambut raven model emo. Mata hitam pekatnya bagai malam gelap tanpa bintang. Sikap dinginnya sudah menjadi ciri khas klannya, klan Uchiha.
"Oi Teme, kau mau kemana?" teriak Naruto ketika menyadari sahabat sekaligus rivalnya itu berjalan menjauhi dirinya dan teman-temannya.
"Bukan urusanmu!" jawabnya sarkastik seraya terus berjalan menuju pintu. Langkahnya terhenti saat tangan kekarnya sudah memegang kenop pintu dan membukanya.
'Cklek'
"Dan kau Shion. Kalau kau masih peduli pada Naruto, jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Kata Sasuke tanpa menoleh sesaat sebelum ia benar-benar enyah.
"Sasuke-kun tunggu..." Gadis bermata lavender itu berlari mengejar sang pangeran es seakan takut kehilangan hal berharga lain dalam hidupnya.
'BLAMM!'
Bersamaan dengan bunyi keras itu keduanya benar-benar menghilang dibalik pintu. Menyisakan beberapa orang yang masih setia dalam ruangan tersebut. Diluar dugaan, respon dari sahabat Naruto lebih terkesan rumit. Berbeda sekali dengan sambutan hangat dari kedua orang tuanya, Minato Namikaze dan Kushina Namikaze yang baru saja ditemuinya sebelum ia meluncur di tempat ini. Beruntung kedua orang tuanya itu langsung merestui hubungannya tanpa harus melontarkan berbagai macam pertanyaan diluar nalar. Lagipula Naruto memang sudah cukup umur untuk membina hubungan rumah tangga. Jadi, tak ada lagi yang perlu dipermasalahkan. Terlebih karena keluarga Namikaze itu yakin, bahwa putranya tidak akan salah pilih.
"Hhh... syukurlah penyihir itu sudah pergi," helaan nafas lega terdengar dari seorang gadis berpony tail.
"I-Ino jangan bicara seperti itu..." Sahut seorang gadis berambut indigo panjang, tidak terima kalau salah satu sahabatnya disebut 'penyihir'.
"Memangnya kenapa Hinata? Dia itu memang penyihir kan? Seenaknya saja menghina calon istrinya Naruto, padahal dia sendiri pengkhianat."
"Ta-tapi Ino, meskipun begitu kau ti-tidak boleh ber_"
"Kalian berdua hentikan! Jangan ribut terus!"
Gadis bersuara lembut itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena ada suara lain yang menelan suaranya. Seorang gadis berambut pirang dikuncir empat terpaksa berteriak agar kedua sahabatnya itu berhenti memperdebatkan hal yang tidak berguna.
"Kenapa Temari? Apa kau juga membela wanita sihir itu?" Ino masih bersikeras sementara Hinata lebih memilih bungkam. Sejujurnya, gadis bermata lavender itu memang payah dalam hal berdebat. Dia benci pertengkaran. Terlebih benci jika melihat sahabatnya saling bertengkar, gadis pecinta damai.
"Aku tidak membela siapapun Ino. Tapi kalian semua harus tahu, Naruto sengaja mengumpulkan kita semua disini bukan untuk membuat kita saling beradu mulut. Aku yakin, kau pasti juga tahu hal itu kan Ino?" jelas Temari yang sudah sangat kesal pada teman-temannya. Semuanya terlihat tak peduli dan tak bersahabat, berbeda dengan hari biasanya mereka berkumpul yang selalu dipenuhi dengan canda dan tawa.
"Kau benar Temari, maafkan aku..." Ucap Ino menyesal sementara Temari mengangguk sebagai balasannya.
"Ck, troublesome." Gumam Shikamaru seraya berjalan pelan kearah Naruto dan Sakura. Membuat yang lain menatapnya bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Barulah semuanya mengerti saat lelaki nanas itu menjabat tangan gadis berambut pink disamping Naruto.
"Kalian semua, berhentilah bersikap tak acuh!" teriaknya sedikit ogah-ogahan menatap teman-temannya malas. Ayolah, cepat selesaikan ini. Yang dia inginkan hanya segera pulang dan tidur. Perlahan-lahan para sahabatnya itu berjalan mendekatinya. Bagaikan zombie yang berusaha meraih jiwa baru. Satu-persatu mulai memperkenalkan diri pada gadis bermata emerald itu seraya menjabat tangannya.
"Sakura, kau tidak terlihat seperti gadis-gadis yang biasa ditiduri Naruto?" Ucap seorang lelaki berambut hitam dengan polosnya disertai dengan senyuman aneh yang sulit ditebak. Kulitnya yang putih pucat mengingatkan Naruto pada bangsal rumah sakit yang baru saja ditinggalkannya. Tak dihiraukannya teman-temannya yang tengah memelototinya tak terkecuali Naruto.
"Ah benarkah? Aku memang belum pernah tidur dengan Naruto," jawab malaikat pink itu tak kalah polosnya. Membuat semua yang hadir memandangnya dengan penuh keheranan. Childish? Atau memang dia tidak mengerti apa-apa tentang kehidupan calon suaminya. Sebenarnya gadis itu tak harus menjawab pertanyaan lelaki bermata onyx itu yang lebih terkesan hanya menggodanya saja.
"Berapa usiamu?" tanya salah seorang bergelar pangeran es mewakili apa yang dipikirkan teman-temannya. Rambut coklatnya yang panjang sering menipu lawannya, mengira kalau dirinya adalah perempuan jika dilihat dari belakang.
"Usiaku_"
"Usianya sama dengan kita semua Neji." Jawab Naruto mewakili Sakura. Takut-takut kalau gadis itu salah berucap lagi.
"Kau aneh," ujar seorang pangeran es yang satunya lagi. Rambut merahnya bagaikan darah segar yang selalu membuat haus mangsa-mangsanya. Mata jade pucatnya seolah menyihir para kaum hawa untuk memasuki penjara 'es'nya. Ketampanannya sering dibanding-bandingkan dengan Sasuke Uchiha.
"Apa maksudmu Gaara?" tanya balik Naruto, tidak mengerti siapa yang dimaksud aneh oleh pria Sabaku.
"Gadismu itu, sepertinya dia tidak mencintaimu." Ujar lelaki bertato 'Ai' seraya menatap datar gadis yang memiliki mata yang sama seperti miliknya. Belum sempat Naruto menjawab, lelaki berambut merah itu sudah berkata lagi.
"Tak ada emosi, tak ada amarah, tak ada kekecewaan saat Sai menyebutmu hypersex." Pandangannya beralih menatap Naruto yang tengah menahan amarah. Tangan pemuda blondie itu mengepal erat, bersiap memukul Gaara kalau lelaki itu masih berpidato hingga membuat telinganya panas. Tak seperti biasanya Gaara berbicara banyak. Justru dialah yang pantas disebut aneh.
"Kalau gadis itu memang masih utuh, dia tidak akan mau menikah denganmu. Kecuali ada hal lain yang direncana_"
'Buagh!"
"Akh! Gaara," pekik seorang gadis yang tak lain adalah saudara kandung dari lelaki bertato 'Ai' tersebut.
"Ga-Gaara, kau tidak apa-apa?" seru seorang gadis bermata lavender. Pria berambut merah itu menggeleng pelan seraya mengelap darah segar disudut bibirnya.
"Rileks Naruto, itu berarti... semua yang kukatakan memang benar?" tantang Gaara seolah-olah dirinya tengah mengikuti permainan menarik hingga membuatnya enggan menghentikannya sebelum ia benar-benar merasa lelah.
"Cukup Gaara! Berhentilah mencampuri urusan orang lain!" bentak Shikamaru sambil memegangi Naruto yang sudah siap untuk melayangkan pukulannya lagi pada Gaara. Pemuda Nara itu bukan orang bodoh yang tidak mengerti dengan ucapan Gaara. IQnya yang diatas rata-rata menyebabkan otak cemerlangnya mampu menganalisa berbagai macam persoalan hanya dalam hitungan detik. Gaara benar, memang ada yang aneh dengan calon istri Naruto. Tapi apa pedulinya, ia bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Terlebih karena ia tak suka melibatkan diri pada hal-hal yang merepotkan.
"Naruto, tenangkan dirimu." Malaikat pink itu ikut menahan Naruto. Dia tak pernah tahu kalau dunia manusia itu penuh dengan pertengkaran dan amarah. Di dunianya sana jauh lebih tenang dan damai. Sebuah keraguan mulai muncul dalam benaknya. Apakah ia sanggup menjalankan hidup sebagai manusia?
"Cih! Payah," ucap Gaara seraya beranjak pergi meninggalkan teman-temannya.
"Gaara, kau juga mau pergi?" teriak Temari saat adik laki-lakinya itu sudah mencapai kenop pintu.
"Santapanku sudah menanti," sahut Gaara menyeringai sambil melangkahkan kakinya keluar. Para sahabatnya hanya bisa maklum mengetahui maksud Gaara, kecuali Sakura yang tak tahu apa-apa serasa tersesat di dimensi lain. Hanya Temari saja yang memandangnya nanar. Apakah Gaara akan sembuh? Pikir gadis itu prihatin.
Sesaat setelah kepergian lelaki bermata jade itu Naruto bisa menghela nafas lega. Tak ada lagi yang bertanya macam-macam pada calon istrinya. Tawa canda mulai terlihat saat Sakura mulai menceritakan hobinya. Hobi yang sama seperti yang dimiliki beberapa sahabatnya. Terlihat sekali Ino yang paling aktif diantara yang lainnya. Membuat keduanya nampak akrab meskipun baru bertemu. Kini Naruto tahu satu hal. Dibalik sikap Ino yang cerewet, dia memiliki sifat ramah dan penyayang. Maka tak heran jika sahabat jeniusnya itu bisa takluk pada gadis Yamanaka tersebut.
Sesekali mereka tertawa apabila menemukan suatu hal yang dirasa menggelikan. Lelaki blondie itu jadi berpikir, apakah di dunia malaikat mereka juga melakukan aktivitas seperti manusia?
"Na-Naruto-kun?"
"Eh,"
Panggilan lembut seorang gadis berambut indigo panjang membuyarkan lamunan Naruto. Pemuda itu menoleh pelan menatap sang empunya iris lavender tersebut.
"Ya, Ada apa Hinata?" sahut lelaki beriris blue sky itu.
"Se-semoga kau bahagia," ucap Hinata seraya tersenyum. Sudah menjadi ciri khasnya, wajah putihnya selalu memerah ketika ia berada dalam jarak rawan dengan Naruto. Namun lelaki blondie itu tak pernah tahu penyebab perubahan warna yang begitu kentara pada wajah sang gadis.
"Terima kasih Hinata," ujar Naruto senang tanpa menyadari bagaimana perasaan gadis Hyuuga itu yang sesungguhnya. Pria itu tak pernah tahu kalau dibalik senyum gadis itu tersembunyi luka hati yang mendalam. Sakit karena lelaki yang dicintainya tak pernah menyadari perasaannya, tak membalas cintanya, dan malah sering bercinta dengan gadis-gadis lain, tapi tidak dengan dirinya. Sakit ketika yang bisa dilakukannya hanya menunggu dan berharap tanpa ada ujung jalan yang terang. Sakit ketika lelaki itu tiba-tiba datang dan mengatakan pada semuanya bahwa dia siap menikah, tapi bukan dengan dirinya. Sakit ketika ia harus berpura-pura tegar dihadapan lelaki itu dan mendoakan kebahagiaanya.
Perasaannya begitu hancur, dadanya sesak, hatinya perih, seperti ada sesuatu yang menggerogoti jiwanya sampai habis tak tersisa hingga ia tak sanggup bangun, dan tak sanggup bernafas lagi. Bagaimana mungkin ia membiarkan pria yang dicintainya menikah dengan gadis lain. Benarkah ia sudah merelakannya?
~TBC~
Hadeh, kenapa ceritanya makin ngawur dan ancur kayak gini sich? Tidaaaaak! #jambak-jambak rambut# *frustasi berat*
Ehem! *plak* Rencananya chap depan Rey bakal munculin malaikat cowok buat...? Hahaha... #tawa nista# *dibacok*
Terus rencananya(lagi) malaikat cowoknya itu Rey ambil dari anggota Akatsuki. Kira-kira siapa ya yang pantas jadi malaikat? #sok misterius# *ditabok*
Rey bingung bakal milih siapa? (Akatsuki : Eh! Kita-kita gak ada yang mau dipilih sama elu tauk!) #Rey pundung ngorek-ngorek harta(?)# *dipanggang Mr. Krab(?)*
Huwaaa...Gaara...? Entah kenapa Rey suka banget bikin Gaara jadi antagonist, *disabaku+disate Gaara FG*
Oh iya, bagi yang penasaran sama penyakitnya Naru, anggap saja itu adalah semacam penyakit kutukan buat Naru karena melebihi dosis(?) dalam bergelut dengan dunia malam. #Author tidak bertanggung jawab# *dirasengan+dikeroyok massa*
Buat yang nunggu romancenya Narusaku harap bersabar, mungkin chap depan bakal Rey munculin, (kayak ada yang mau nunggu aja) *Rey pundung(lagi)*
Akhir kata, bolehkah minta kritik, saran, dll berupa review please? XD
~Thanks for reading~
