Thanks to :

Wi3nter

yahiko namikaze

Saruwatari Yumi

Fergie Shappirerald11

Miya-hime Nakakshinki

gui gui M.I.T

Eka

Lollytha-chan

Deidei Rinnepero13

Mugiwara 'Yukii' Uzumaki Sakura

holmes950

Silent Readers (kalau ada)

.

.

.

Naruto : Mashashi Kishimoto forever

Never Say Never : The fray

Warning : OOC, AU, Typo(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dll, dsb, dst *dibantai rame-rame*

Dont Like Dont Read

~Happy Reading~

.

.

.

.

.

Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dan sahabat baik itu berlangsung singkat. Janji kedua insan sudah diucapkan. Kedua cincin sudah bersemayam di jari manis masing-masing. Bibir keduanya juga sudah menyatu selama beberapa saat. Mengundang riuh tepuk tangan dari para saksi mata yang hadir.

Acara pernikahan sudah usai bersamaan dengan kepergian para tamu undangan sesaat setelah mengucapkan selamat pada sang pengantin. Meninggalkan seorang pengantin pria yang tengah menggendong sang malaikat maut dengan bridal style menuju kamar pengantin keduanya.

'Cklek!'

Pintu kamar dari kayu tebal berwarna cokelat gelap itu terbuka perlahan, menampakkan isi dari kamar tersebut. Besar dan luas. Dindingnya berwarna kuning dan merah jambu senada dengan warna rambut keduanya. Karpetnya tebal dan empuk, berwarna merah. Bouquet-bouquet besar berbunga cerah tampak terletak di sudut kamar. Beberapa balon berbentuk hati nampak menggantung disana sini. Belum lagi ranjang ukuran king size dengan taburan bunga mawar diatasnya. Tak lupa disertai dengan dua buah bantal besar berbentuk hati berwarna merah dan pink yang masing-masing bertuliskan 'Love' dan 'Forever'.

Namikaze muda tersenyum puas dengan hasil karya salah seorang sahabatnya. Romantis dan mengagumkan, pikirnya dalam hati. Pelan-pelan ia membaringkan tubuh seorang wanita yang digendongnya diatas ranjang king size. Mata birunya mengamati wajah malaikat yang kini telah resmi menjadi istrinya. Wajah wanita itu nampak bergelimang cahaya kuning keemasan yang menerobos masuk dari tirai jendela setengah tertutup, bergerak-gerak tertiup angin sore.

Tangan pria berambut pirang itu membelai lembut rambut pink malaikatnya. Sebelum kemudian ia mendekatkan wajahnya berniat meraih bibir peach istrinya. Belum sempat ia mendapatkan yang diinginkannya, jari telunjuk malaikat itu terlebih dulu mengiterupsinya dengan meletakkannya dibibirnya.

"Naruto, kupikir kau butuh mandi,"

Pria itu mendesah pelan seraya bangkit dari ranjangnya.

"Ya, baiklah." Ujarnya pasrah.

Kaki-kakinya dilangkahkan menuju kamar mandi yang ada dalam ruangan tersebut setelah sebelumnya mengambil sebuah handuk kuning dari dalam almari. Gadis itu masih mengamati suaminya hingga sosok pria bertubuh kekar itu menghilang dibalik pintu.

Mata emeraldnya beralih menatap tubuhnya sendiri yang masih berlilitkan gaun pengantin. Dalam sekejap saja ia mengubah gaun pengantin berwarna putih itu menjadi t-shirt berwarna putih kuning dengan bawahan rok minim berwarna putih yang mengekspos sebagian paha putihnya.

You can never say never
When we don't know why
Time and time again
Younger now then we were before
Don't let me go,
Don't let me go,
Don't let me go...

Sebuah lagu yang dibawakan oleh The Fray itu mengalun begitu merdu melalui ponsel suaminya yang terletak diatas meja disamping ranjangnya. Menandakan kalau ada seseorang yang menghubunginya. Ia meraih ponsel yang masih bergetar itu. Mata emeraldnya menangkap nama 'Sasu-Teme'. Dengan cepat ia menekan tombol answer dan meletakkan di telinganya.

"Halo Sasuke-kun?" jawabnya pelan. Membuat seseorang di seberang sana terkejut sejenak sebelum kemudian balik menjawabnya.

"Hn, Dobe ada?"

Wanita itu mengernyit, berpikir sejenak.

"Dobe? Maksudmu Naruto?"

"Hn,"

"Dia masih mandi. Ada pesan?" tanyanya dengan suara yang terdengar merdu di telinga Sasuke. Membuat pria bermata onyx itu sedikit iri dengan sahabatnya yang baru saja melepas status single-nya.

"Sasuke-kun? Kau mendengarku?" Suara wanita yang lebih mirip desahan di telinga Sasuke itu menyambutnya kembali ke realita.

"Hn, suruh Dobe segera menghubungiku." Perintah pria itu.

"Baik, aku akan menyampaikannya."

'klik'

Bersamaan dengan bunyi terakhir itu sambungan keduanya telah terputus. Tak lama kemudian sosok yang ditunggunya muncul dari balik pintu kamar mandi. Tubuh bagian bawahnya berlilitkan handuk. Rambut pirangnya yang masih basah membuat beberapa tetes air turun perlahan menelusuri dada bidangnya yang telanjang.

"Siapa yang menelepon Sakura-chan?" tanya Naruto seraya mendudukkan pantatnya disamping istrinya. Tangannya masih sibuk menggosok rambut pirangnya dengan handuk yang lebih kecil.

"Sasuke-kun, dia memintamu untuk meneleponnya." Jawab wanita itu sembari menyerahkan ponsel berwarna hitam itu pada suaminya.

Pria itu mengernyit, tak mengerti. Bukan karena ia tak mendengar perkataan istrinya, bukan pula karena heran dengan pesan yang disampaikannya, melainkan karena panggilan wanita itu pada sahabatnya dengan menambahkan embel-embel 'kun' dibelakangnya. Sementara ia yang notabene adalah suaminya hanya dipanggil dengan namanya saja tanpa hiasan apapun. Ah masa bodoh, yang penting malaikat itu sudah menjadi miliknya sekarang.

Pria beriris blue sapphire itu kini beralih pada ponselnya. Jari jemarinya begitu lihai memainkan beberapa tombol hingga matanya menangkap nama seseorang yang akan dihubunginya lalu ia menekan tombol call.

***{+_+}***

Lagu bernuansa house music menggema di sebuah ruangan yang cukup besar yang dipenuhi oleh lautan manusia. Meja-meja besar tempat khusus memesan minuman nampak tertata rapi di sana sini. Sedikit penerangan yang berasal dari beberapa bola lampu berbentuk bulat nampak bergantung di langit-langit. Memberikan kesan gelap namun tetap meriah. Sebagian orang lebih memilih untuk terjun di lantai dansa, mereka menari, bergerak bebas mengikuti irama lagu. Beberapa ada yang berceloteh sambil minum-minum di meja khusus tamu yang disediakan. Tak sedikit pula yang memilih bermain cinta di dalam kamar-kamar lantai atas.

Nampak dua orang yang diketahui adalah sepasang suami istri tengah memasuki ruangan tersebut. Sang suami menatap istrinya dengan cemas. Terlalu takut kalau-kalau istrinya itu akan di goda oleh pria lain. Oke, mungkin pikirannya terlalu berlebihan. Tapi segalanya bisa terjadi di tempat tertutup namun terbuka ini_klub malam. Tertutup, tempat ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang usianya diatas 17 tahun. Terbuka, tempat ini memberi kebebasan penuh bagi para pengunjungnya kecuali kekerasan.

"Maafkan aku Sakura-chan, aku harus mengajakmu di tempat seperti ini..." Ujar Naruto seraya menggenggam erat jemari istrinya. Wanita berambut pink itu tersenyum menanggapi perkataan suaminya.

Benar-benar sial. Seharusnya saat ini ia menghabiskan malam pengantinnya di ranjangnya yang empuk. Memadu kasih berdua, saling berbagi kehangatan, memanjakan malaikatnya, mengajaknya berdansa, menari diiringi lantunan lagu yang memabukkan, hingga keduanya kelelahan dan tertawa bersama. Tapi apa yang terjadi sekarang sungguh diluar prediksi. Mendadak sahabatnya memintanya untuk datang ke tempat orang-orang dewasa berkumpul.

"Naruto, itu..."

Suara merdu istrinya membuyarkan khayalannya. Mata birunya mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sakura. Dengan cepat ia menuntun istrinya menuju orang tersebut.

"Oi Teme, ada apa kau menyuruhku datang kemari?" tanya Naruto pada sahabatnya yang bermata onyx saat keduanya sudah mendekat.

"Ada kejutan untukmu." Sahut pria raven itu datar. Tangan kekarnya memainkan gelas berisi minuman beralkohol.

"Kejutan? Apa maksudmu? Dimana yang lain?"

Pria berambut pirang itu mengedarkan pandangannya ke segala arah, namun yang tampak di matanya hanyalah orang asing yang tidak dikenalnya. Ia tidak menemukan sahabatnya yang lain kecuali Sasuke.

"Hn, pergilah ke kamar no. 27, mereka ada disana," jelas Sasuke.

"Kalau begitu ayo kita kesana." Seru Naruto menggandeng tangan istrinya seraya melangkah perlahan.

"Tunggu Dobe, kau harus pergi sendiri."

"Eh?" Naruto menaikkan alis.

"Istrimu akan tetap disini bersamaku. Kami akan menyusulmu kalau semua sudah siap," lanjut pria beriris onyx itu.

"Siap apa? Teme, aku benar-benar tidak mengerti," keluh si pirang. Sasuke beranjak dari duduknya, ia mendekati sahabat pirangnya dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Seolah itu adalah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh siapapun termasuk istrinya.

"Kalau kau memang sayang pada istrimu, bantulah mereka menyiapkan kejutan khusus untuknya."

Naruto terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan Sasuke sebelum kemudian ia mengangguk pelan pertanda ia mengerti apa yang disampaikan oleh sahabatnya. Seulas senyum mengembang di bibirnya.

"Sakura-chan, tolong tunggu disini sebentar. Aku akan segera kembali,"

Pria itu lantas mengecup dahi sang istri. Tak sadar kalau ada seseorang yang kurang suka melihat kelakuannya, entah karena apa.

"Aku mengerti Naruto. Pergilah,"

Wanita itu tersenyum manis, menandakan kalau ia tidak keberatan dengan permintaan suaminya. Membuat pria itu tidak khawatir lagi padanya. Toh ada Sasuke yang akan menemaninya.

"Naruto memang selalu bikin iri ya," seru seorang pria berkulit pucat dengan senyum aneh seperti biasa diikuti oleh beberapa orang dibelakangnya.

"Ya, dia memang penakluk wanita yang handal," sahut seorang gadis berambut pirang panjang. Tangannya merangkul mesra seorang lelaki berambut model nanas.

"Bukan. Lebih tepatnya penjilat wanita," timpal seorang pria berambut merah darah. Ekspresi datarnya sulit diartikan. Dengan santainya ia mendudukkan pantatnya disamping Sakura.

"Itu tidak benar. Buktinya Naruto sangat setia padaku saat kami masih bersama," bantah seorang gadis bermata lavender. Rambut pirang panjangnya indah menjuntai.

"Kau mana tahu dia yang sebenarnya. Sudah kubilang kan, Naruto itu pandai sekali merayu wanita, termasuk kau."

Ino tersenyum mengejek. Mengabaikan kekasihnya yang mendecih, tak suka dengan nada bicaranya.

"Kau..."

"Kalian semua berisik! Cepat siapkan peralatannya."

Sasuke sedikit berteriak. Kesal dengan jelakuan teman-temannya yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Memperdebatkan sesuatu yang tidak penting. Atau mungkin sebenarnya ia tak suka dengan topik yang dibicarakan oleh temannya. Ekor matanya melirik kearah Sakura yang duduk diantara dirinya dan Gaara. Wanita itu bergeming, seakan tak memiliki rasa sama sekali. Membuat sang pangeran es sedikit penasaran.

"Yeah, selesai." gumam kekasih Ino.

Semua mata mengamati sebuah media mirip televisi yang terletak diatas meja. Layar monitornya menyala, menunjukkan sebuah ruangan yang diketahui kamar no. 27. Kamar dimana yang akan menjadi tujuan Naruto.

"Itu Naruto?" tanya Sakura entah pada siapa.

"Tentu saja. Apa penglihatanmu bermasalah, hingga kau tak mengenali suamimu sendiri eh?"

"Shion, jangan mulai lagi." Geram Sasuke. Membuat gadis berambut pirang pucat itu mendengus sebal.

"Ck, troublesome."

"Nikmati saja," ujar Gaara datar.

"Dia masuk," ucap Sai. Yang lainnya mengikuti dengan khidmat tak terkecuali Sakura yang masih belum mengerti, namun ia lebih memilih untuk bungkam.

Nampak seorang pria berambut pirang jabrik memasuki ruangan tersebut. Ia mematung. Mata birunya membelalak lebar, mulutnya menganga, ia terkejut. Bukan teman-temannya yang ada di dalam, melainkan tiga orang gadis sexy dengan pakaian minim tengah menari erotic didepannya. Perlahan ketiga gadis itu mulai mendekatinya, menggodanya, membelainya, membisikinya dengan desahan manja.

"Pertunjukan baru dimulai," gumam Sasuke menyeringai.

Entah kenapa, ada perasaan aneh menjalari hati Sakura. Ia merasa cemas, takut, khawatir tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Malaikat itu tidak punya rasa atau nafsu, mereka hanya memiliki pikiran. Lantas perasaan apa ini? Pikirnya dalam hati.

"Kau tenang saja Sakura. Suamimu tidak akan tergoda," bisik Ino pelan yang tidak sengaja melihat kekhawatiran Sakura. Wanita pink itu hanya mengangguk pelan.

Naruto masih bergeming. Kepalanya serasa berputar-putar. Biasanya ia suka sekali dengan situasi seperti ini. Aroma sensual, tarian bergairah, suara-suara genit manja, hingga membuat suhu tubuhnya mendidih, tak mampu lagi menahannya. Tapi tidak kali ini. Perasaannya tak lagi ingin menjamah tubuh-tubuh indah itu. Ia merasa jijik dan malu. Malu pada dirinya, pada istrinya, juga sahabatnya. Ini aneh, sangat aneh. Ia sendiri juga tidak tahu akan apa yang terjadi pada dirinya.

"Jangan paksa aku gadis-gadis nakal, aku sudah memiliki istri yang lebih baik dari siapapun." Ucap Naruto tajam seraya menepis kasar tangan-tangan yang sempat menyentuhnya . Sontak ketiga gadis itu berhenti melakukan aktivitasnya. Perlahan ketiganya berjalan menjauh, meninggalkan Naruto sendiri. Samar-samar pria itu bisa mendengar ucapan gadis-gadis tersebut.

"Cih! Brengsek! Kita ditolak."

Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia berjalan mendekati sudut kamar seraya mengacungkan jempol terbalik kearah benda kecil yang ia yakini merupakan penghubung antara dirinya dan beberapa orang yang melihatnya pada layar monitor.

"Nikmati itu kawan," ujarnya menyeringai sebelum kemudian ia menghilang dari ruangan tersebut.

"Wah, Naruto benar-benar sudah berubah. Kau memang hebat Sakura," puji Ino sembari menepuk pelan pundak Sakura. Yang lain masih tercengang, sulit untuk mempercayainya.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan pada Naruto hingga dia jadi seperti itu?" tanya Shion kesal.

"Aku tidak melakukan apapun,"

"Kau bohong! Pasti ada yang kau sembunyikan!"

"..."

"Cepat kata—"

"Cukup Shion! Aku tak mau memiliki kekasih pembuat malu sepertimu." Bentak Sasuke seraya berlalu meninggalkan teman-temannya.

"Eh?"

Semua mata membelalak kecuali Gaara. Pria itu lebih memilih memainkan gelasnya yang tidak kosong. Tak peduli dengan keadaan sekitar yang menegang. Tujuannya datang ke tempat ini untuk bersenang-senang, mendengarkan alunan lagu. Bukan untuk mendengarkan orang bertengkar.

"Sasuke-kun, tunggu!" teriak gadis lavender itu setengah berlari mengejar seorang pangeran yang baru saja pergi.

"Teman-teman, terima kasih kejutannya." Naruto berjalan perlahan mendekati istrinya.

"Tapi maaf, aku lebih tertarik pada bidadariku yang sebenarnya." Lanjutnya seraya mencium pipi istrinya.

"Ayo Sakura-chan,"

Dan setelah mengatakan itu, ia pun pergi dengan malaikat maut disampingnya. Menyisakan teman-temannya yang hanya dihadiahi siluet punggung saja. Ia bahkan tak sempat menanyakan sahabatnya yang lain. Yang ia inginkan hanyalah malaikatnya. Bukan gadis lain dengan pakaian sexy sekalipun.

***{+_+}***

Naruto memutar salah satu lagu favoritnya. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah tampannya.

"Sakura-chan, berdansalah denganku?" Naruto mengulurkan sebelah tangannya pada Sakura yang duduk di tepi ranjang kamarnya.

Gadis berambut pink itu mengernyit.

"Jangan khawatir Sakura-chan, ini tidak akan sulit..." Ucap Naruto seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya.

Meskipun malaikat maut itu terlihat ragu-ragu, namun akhirnya ia meraih tangan Naruto lalu berdiri mengikuti langkah suaminya.

Kedua sayap putih muncul dari balik punggungnya. Malaikat itu berdansa dengan sayap-sayap kecilnya. Sesekali ia terbang melayang di udara. Pelukan-pelukan mereka terlihat begitu erat. Wajah-wajah mereka seperti begitu pedih menyayat, melekat satu sama lain di pipi. Seperti tak ingin lepas satu sama lain, seakan hari itu merupakan hari terakhir mereka di bumi.

Sayap-sayap mungilnya berkibas perlahan. Sesekali Naruto bisa merarakan bulu-bulu lembut yang bergeser manis di jari jemarinya. Tubuh wanita itu begitu mungil, hampir terasa rapuh seperti sebuah porselen mahal. Wanita itu ia dekap begitu erat, hampir-hampir membuatnya sulit bernafas. Namun malaikat itu seperti tak peduli, ia biarkan nafasnya sesak dan sulit. Ia biarkan tubuhnya lepas dan tak terkendali. Ia biarkan darah dagingnya menjadi milik orang lain.

"Apa aku memelukmu terlalu erat?" tanya Naruto seraya memandang malaikat itu dalam-dalam.

Wanita itu menggeleng perlahan, menggerakkan kepalanya ke arah wajah Naruto, membuat wajah mereka begitu dekat. Udara yang mereka hirup seperti berasal dari satu nafas. Naruto hanya ingin meletakkan wajahnya lebih dekat ke permukaan kulit lembut wanita itu. Perlahan wanita itu mengeratkan kembali pelukannya, tangan kirinya memanjang mencoba meraih leher laki-laki itu dari belakang. Rambut-rambut halusnya terasa bergetar sejenak, membawanya sekejap ke sebuah perasaan yang tak terkira.

"Eratkan lagi pelukanmu, eratkan Naruto..."

Naruto membiarkan tubuh mereka seperti meleleh jadi satu. Gerakan-gerakan kaki mereka seperti sebuah jam dinding antik yang tak pernah rusak. Nafasnya sudah begitu sesak, bahkan ia tak bisa merasakan lagi detak jantungnya. Pelukannya tak pernah renggang satu detik pun, ia bahkan tak melakukan gerakan-gerakan dansa yang lazim ia lakukan dengan gadis-gadis lain, yang membuat mereka bergerak menjauh sedikit untuk kemudian mendekat kembali. Ia peluk dan peluk terus malaikat cantik tersebut. Seperti takut kalau kejauhannya akan membuat ia tak kembali. Wajahnya terlihat begitu pedih, merana seperti seorang laki-laki yang akan patah hati. Kaki-kakinya membawa gadis itu seperti melayang, dari satu sudut ke sudut yang lain. Sebuah perasaan surgawi seperti membuat mereka begitu kagum, haru, gembira, sedih, semuanya bercampur jadi satu.

"Mungkin ini kedengarannya gila Sakura-chan, tapi aku memang mencintaimu... sangat mencintaimu," bisik Naruto pelan di telinga Sakura membuat wanita itu sedikit menggeliat karena deruan nafas Naruto yang menggelitik telinganya.

Perlahan-lahan malaikat beriris emerald itu melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat-lekat mata sapphire di hadapannya. Sebuah senyum manis tersungging di bibir peachnya. Membuat Naruto yakin kalau Sakura juga memiliki perasaan yang sama padanya. Tangan Naruto terulur menyentuh wajah istrinya, membelainya pelan sebelum kemudian ia mendekatkan wajahnya pada malaikat pink itu. Hidung keduanya bersentuhan, deruan nafas saling menerpa, hingga tak ada lagi jarak diantara mereka, yang ada hanya kedua bibir yang masih sibuk mencium dan mengulum satu sama lain. Bahkan ciuman keduanya tak terlepas saat Naruto menggendong tubuh Sakura, membaringkannya di ranjang. Membiarkan desahan-desahan menggema di kamar Naruto memecah kesunyian malam.

***{+_+}***

Satu bulan sudah berlalu semenjak pernjanjian antara seorang manusia dan seorang malaikat maut berlangsung. Tak ada hal lain yang terjadi selain rona kebahagiaan yang menghiasi wajah keduanya. Naruto menjalankan tugasnya sebagai seorang suami pada umumnya. Ia bekerja, hal yang belum pernah ia lakukan semasa hidupnya. Sungguh mengejutkan, mengingat kebiasaannya hanya bersenang-senang dan menghambur-hamburkan uang milik orang tuanya. Minato Namikaze dan Kushina Namikaze patut bangga terhadap perubahan putranya menuju ke arah positif.

Begitu pula sebaliknya. Sakura yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang kehidupan manusia, kini ia mengerti banyak hal atas ajaran dari Naruto. Sebagai seorang istri, setiap hari ia selalu menyiapkan apa yang menjadi kebutuhan Naruto. Tentunya tanpa melalaikan tugasnya sebagai malaikat maut. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Semuanya baik-baik saja, tak ada hal aneh yang menimpa.

Sampai suatu hari, ketika keduanya tengah melakukan aktivitas malamnya di atas ranjang, tiba-tiba malaikat pink itu menghentikan kegiatannya. Membuat pria blonde itu mengernyit bingung.

"Naruto... aku tak ingin hanya bercinta denganmu saja,"

~TBC~

A/N : Hn, sepertinya Rey salah prediksi. Seharusnya chap 3 ini merupakan chap terakhir sekaligus pemicu munculnya malaikat cowok. Jadi, bersamaan dengan munculnya malaikat cowok, maka fic ini juga akan berakhir *nyengir*
Ya-ya-ya Rey tahu chap ini mengecewakan (banget) U.U
Entah kenapa, Rey jadi kehilangan mood buat nulis fic NS *dibacok*
Kalau bukan karena 'gui gui' *nunjuk gui gui* bisa dipastikan Rey belum apdet fic gaje ini.
So, mungkin chap depan apdetnya bakal lama (banget) atau malah gak dilanjutin #Author tidak bertanggung jawab# *dikeroyok*
Yosh. Silahkan tinggalkan 'Review' bagi yang berkenan XD

~Thanks for reading~