Thanks to : Ariya 'no' miji, gui gui M.I.T, Riexoluce, Anonymous, Guest, Meika NaruSaku, dan silent Readers (kalau ada)
Naruto : Masashi Kishimoto
Warning : OOC, AU, Typo(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD
berantakan, dll, dsb, dst *dibantai rame-rame*
Dont Like Dont Read
~Happy Reading~
.
.
.
.
.
"Naruto... aku tak ingin hanya bercinta denganmu
saja,"
Lelaki itu memandang malaikat itu setengah tak percaya. Seperti sebuah halilintar di siang hari bolong, kata-kata itu mengagetkannya dari sebuah mimpinya yang sangat indah.
"Kenapa... kenapa kau berbicara seperti itu, Sakura-chan?" tanyanya lirih lebih mirip sebuah bisikan.
"Hmm, entahlah, aku ingin bisa merasakan bagaimana bercinta dengan laki-laki lain. Aku ingin merasakan pelukan yang lain. Aku ingin merasakan degup jantung yang lain. Perasaan-perasaan yang lain. Aku ingin menyerah dengan cara yang lain, aku ingin tahu sesuatu yang lain saja..." Jawab wanita itu polos tanpa mempedulikan perasaan seseorang yang kini tengah terluka.
Dari dalam hati Naruto seperti bergulir setetes darah yang begitu menyakitkan. Mata birunya masih menatap ke arah mata emerald istrinya, berusaha menggali kebenaran di balik tatapan itu. Apakah memang ada cinta di sana? Apakah cinta itu nyata? Apakah layak sebuah cinta seperti itu sanggup membuat banyak hati jadi gembira dan di saat yang sama jadi terluka, bahkan pedih tak terhingga. Apakah begitu dalamnya sebuah cinta sampai pemuda itu tak peduli lagi dengan harga dirinya, seperti seorang pengemis yang meminta belas kasih.
"Apakah aku tak cukup untukmu?"
Wanita berambut pink itu memandangnya dengan aneh. Seakan laki-laki itu berbicara dalam bahasa asing yang tak pernah dikenalnya. Namun sebentar kemudian raut wajahnya menghalus. Merasa kasihan kepada laki-laki yang tak lain adalah suaminya. Tangannya meraih wajah tampan yang malam ini tampak begitu lelah. Mengelusnya lembut, menciumnya dengan iba. Wanita itu tak berkata apa-apa. Dengan perlahan ia berjalan meninggalkan pria itu sendirian di dalam kamarnya yang kini terasa begitu lenggang.
Seperti sebuah mimpi buruk, malam itu Naruto terbangun dari dunia fiksinya. Sadar bahwa ia hanyalah seorang laki-laki bodoh tak berdaya yang sudah menyampaikan sebuah janji. Perjanjian tak adil dengan seorang malaikat yang kini jadi tampak seperti iblis di mata nanarnya. Naruto menangis seperti seorang anak kecil, seorang bayi yang kehilangan ibunya. Seorang kekasih patah hati yang sering terlihat di film-film cengeng.
Keesokan harinya, tubuh tegap Naruto terbaring lagi di tempat tidurnya. Aroma malaikat itu masih tercium harum di atas sarung bantal. Membuatnya semakin mengingat momen-momen indah yang pernah dilaluinya bersama malaikat pink itu. Tubuhnya melemah lagi, jauh lebih lemah dari seharusnya seorang laki-laki seusianya. Walaupun tidak selemah ketika ia masih sakit. Namun kali ini, tidak seperti kali yang lalu, ia hanya ingin mati. Seperti ia tak memiliki lagi alasan untuk hidup. Seperti ia tak tahu lagi bagaimana harus bermimpi. Bahkan mungkin ia tak tahu lagi apakah ia masih punya mimpi. Sisa-sisa kekuatannya hanya digunakan untuk memikirkan malaikat itu.
Sampai suatu malam, entah mendapatkan kekuatan dari mana, kaki-kakinya membawanya melangkah keluar dari tempat tidur. Membawanya ke sebuah tempat yang mungkin bisa membuat hatinya bahagia lagi. Membuatnya merasa tidak kesepian lagi, membuatnya tertawa lagi, membuatnya tak hanya memikirkan seorang istri—yang entah masih pantas disebut sebagai seorang istri atau tidak.
Sudut bibirnya terangkat ke atas tatkala ia menyadari tempat yang menjadi tujuannya sudah berada tepat di depan mata. Dengan senyum mengembang ia melangkahkan kakinya ke dalam tempat tersebut. Melupakan sejenak segala kegundahan dalam hatinya yang sempat membawanya pada keputusasaan. Ketampanannya mulai terpancar kembali di wajahnya, meskipun masih ada sisa-sisa kesedihan di sana.
"Wah, Naruto-kun! Akhirnya kau kembali...," pekik seorang gadis berdecak kagum, seolah dirinya baru saja mendapati seorang pangeran dari negeri dongeng yang baru turun dari kereta kuda.
"Naruto, bermainlah sebentar denganku..."
"Bagaimana kalau kita berdansa saja, Naruto?"
"Naruto...! Kau semakin menawan saja,"
"Naruto-san?"
"Naruto..."
"Naru-kun..."
Naruto hanya menanggapi sapaan-sapaan para gadis itu dengan tersenyum. Sesekali ia mengibaskan tangannya pelan, pertanda ia tidak tertarik dengan ajakan-ajakan gadis-gadis itu. Ini pertama kalinya Naruto kembali menginjakkan kakinya di tempat ini setelah pria itu sempat melangsungkan pernikahannya beberapa pekan lalu. Jadi, wajar saja kalau para kaum hawa itu begitu merindukan sosoknya.
Pria blonde itu terus melangkah mengabaikan suara-suara yang terus-menerus meneriakkan namanya hingga akhirnya suara-suara itu menyerah—tertelan keramaian.
"Lama tidak bertemu... hei bocah," seru seorang bartender yang lebih dewasa dari Naruto ketika melihatnya berjalan mendekat ke arah mejanya. Rambut pirang panjangnya membingkai wajahnya yang khas. Beberapa helai rambutnya ia biarkan menutupi sebelah matanya, membuatnya begitu mudah dikenali hanya dalam sekali pandang.
Naruto mendengus, tak tahukah pria yang begitu lihai memainkan botol itu kalau dirinya sudah melepas masa bujangnya, menjadikan ia pria dewasa yang sering terlintas dalam mimpi-mimpi indahnya.
"Aku sudah bukan bocah lagi... Dei-Dei," sahut Naruto asal sembari mendudukkan pantatnya di kursi tepat di depan meja pria dengan warna bola mata yang senada dengan miliknya.
Bartender muda itu hanya tersenyum mendengar namanya diubah seperti itu. Kemudian ia kembali berujar. "Baiklah lupakan, ada yang ingin kau pesan?" tawarnya kemudian.
"Beri aku minuman terbaikmu."
Pemuda itu kembali tersenyum. "Dengan senang hati," serunya seraya meracik minuman yang dimaksud. Tak lama kemudian ia menyodorkan minuman buatannya di depan Naruto.
"Nikmati saja, jika masih ada yang kurang jangan sungkan-sungkan untuk memanggilku lagi," jelasnya masih dengan tersenyum.
"Baik, terima kasih," jawab Naruto disertai dengan anggukan pelan pertanda ia mengerti. Pria berambut panjang itu kemudian berlalu menuju seseorang yang melambai padanya.
Naruto mulai menyesap pelan minumannya sebelum kemudian ia letakkan kembali di atas meja. Ia mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Terdengar suara tawa-tawa genit tertahan sambil membuang muka, takut kalau terlihat oleh seseorang yang sedang dijadikan topik pembicaraan. Semua masih nampak sama. Bahkan meskipun ia sudah beberapa pekan tidak menampakkan batang hidungnya di tempat ini, pikirnya.
Tapi tunggu, ada hal berbeda yang menarik perhatiannya. Sebuah sosok yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya. Sosok itu seperti tidak asing baginya, seperti ia sangat mengenal sosok itu. Namun, apakah benar dia adalah sosok yang dimaksud olehnya?
***{+_+}***
Wajahnya begitu cerah seperti mentari pagi, bagaikan satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Kaki-kakinya yang lincah bergerak kesana kemari mengikuti sebuah irama lagu. Sesekali bibir tipisnya mengulum senyum mendengar puji-pujian yang terlontar dari mulut orang-orang yang tidak dikenalnya. Bisik-bisik dari para gadis atau wanita yang iri hati kepadanya juga tak luput dari indera pendengarannya. Tatapan tak suka, jengkel, seolah ingin menelan wanita berambut pink itu hidup-hidup.
Ia terus menari dan menari, membiarkan nafasnya terengah, membiarkan peluh membanjiri tubuhnya, membiarkan kaki-kakinya lelah, hingga ia tak sanggup lagi untuk berdiri apalagi berjalan. Oh tidak, kedengarannya itu sangat berlebihan.
Berkali-kali gaun pendek pink pucatnya terangkat ke atas yang secara tak sengaja mengekspos paha putihnya, membuat para kaum Adam menggumamkan kata 'wow' disertai dengan seringaian tidak jelas apa maksudnya.
Diam-diam mata emeraldnya melirik ke arah seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan dengan tatapan dingin, cukup dingin untuk membekukan hatinya malam ini. Seseorang yang ia yakini adalah sahabat suaminya. Seseorang beriris onyx tajam yang masih setia dengan exspresi datarnya, bahkan ketika wanita beriris emerald itu berjalan mendekat ke arahnya hingga ia sudah berdiri tepat di depan mejanya.
"Kau..." Wanita itu nampak berpikir sejenak, "Sasuke Uchiha?" lanjutnya kemudian seraya mendudukkan pantatnya tanpa dikomando di samping pria berambut raven itu. Bibirnya tak henti-hentinya mengulum senyum, wajahnya nampak bahagia, seolah seseorang yang ada di hadapannya itu adalah kerabat dekat yang sudah lama tak ia jumpai.
"Hn,"
Dan hanya jawaban singkat itulah yang keluar dari bibir pemilik nama Sasuke tersebut. Lagi, pria itu menegak habis minumannya dalam sekali teguk yang entah sudah ke berapa kali.
Wanita itu hanya mengamatinya dalam diam. Sebelah tangannya terulur meraih segelas minuman beralkohol yang hampir menyentuh bibir pemuda itu kalau saja ia tak merebut dari tangannya.
"Kurasa kau sudah terlalu banyak minum, Tuan Uchiha,"
Malaikat itu berujar dengan santainya, mengabaikan tatapan tak suka dari Uchiha junior. Seolah menggodanya, minuman itu akhirnya ia teguk hingga tandas sebelum kemudian ia letakkan kembali gelas kosong tersebut di atas meja. Menimbulkan bunyi gesekan yang nyaris tertelan oleh keramaian di sekitarnya.
"Dan kurasa, kau sudah salah tempat, Nyonya Namikaze."
Wanita itu hanya tersenyum kecil menanggapinya, membuat pemuda di hadapannya mengernyit keheranan. Apakah ia salah bicara? Ada rasa penasaran, keingintahuan yang tersirat dengan jelas di wajah tampannya. Siapa sebenarnya wanita ini? Benarkah dia adalah istri sahabat pirangnya? Jika itu memang benar, lantas apa yang dia lakukan sendirian—sama seperti dirinya di tempat yang bisa dibilang cukup liar dan bebas ini. Bukankah seharusnya saat ini wanita itu berada di atas ranjang empuk bersama suaminya? Eh, tapi apa pedulinya? Semua itu bukan tanggung jawabnya, sama sekali bukan urusannya.
"Aku hanya ingin bermain sebentar," seru wanita itu membuyarkan lamunan Sasuke. Jemari tangannya meremas pelan sebelah tangan Sasuke yang tergeletak di atas meja, membuatnya tertegun sejenak, membuat aliran darahnya berdesir halus, membuatnya terasa nyaman.
Bermain? Ya, bermain. Pria yang berasal dari klan Uchiha tersebut bukanlah pria bodoh yang tidak mengerti akan apa yang dibicarakan wanita itu. Hanya saja ia tak mengerti, apa yang membuatnya seperti itu? Munginkah suaminya itu tidak memberinya kesempatan? Mungkinkah suaminya itu tidak memberinya kepuasan, kenikmatan, atau karena wanita itu tak pernah puas, atau mungkin karena sebab yang lain? Entahlah. Dan sekali lagi, pria itu lebih memilih untuk tidak memusingkannya.
Bukan tipikal Uchiha yang banyak bicara. Tanpa pikir panjang lagi, dalam sekali hentakan pria itu berhasil membuat malaikat pink itu terduduk di atas pangkuannya. Mata onyxnya menatap intens mata emerald yang balik menatapnya dengan tersenyum. Bohong kalau lelaki itu tidak tertarik dengan pemandangan di depannya ini. Bohong kalau lelaki itu tidak suka dengan keadaan seperti ini. Terkadang ia memang merindukan saat-saat di mana ia menjadi seperti seorang pemburu yang menerjang mangsa. Dan, inilah saatnya.
Perlahan tangan wanita itu memanjang mencoba meraih leher laki-laki berambut raven itu dari belakang. Rambut-rambut halusnya terasa bergetar sejenak, menggemakan suara detak jantung masing-masing yang semakin lama semakin cepat seperti sebuah irama bersahut-sahutan, membawanya sekejap ke sebuah perasaan yang tak terkira. Jarak antara keduanya semakin menipis tatkala wajah keduanya semakin berdekatan satu sama lain. Terus dekat dan dekat hingga udara yang mereka hirup seperti berasal dari satu nafas.
Hidung keduanya bersentuhan hingga akhirnya tak ada lagi jarak yang memisahkan keduanya, yang ada hanya kedua bibir yang nampak sibuk bergelut mewakili perasaan membuncah yang mulai menuntutnya lebih dan lebih. Mengabaikan berpasang-pasang mata yang seperti bosan melihat kelakuan keduanya, walaupun sebenarnya hanya iri hati saja yang membelenggu mereka.
"Kau lebih liar dari yang kukira... Sakura," bisik pemuda itu di sela-sela ciumannya. Seringaian khas Uchiha terpampang jelas di wajah tampannya.
"Dan kurasa kau lebih liar dariku... Sasuke-kun," balas Sakura tak kalah menyeringai dari Sasuke. Tangannya masih setia mengalung di leher Sasuke, bersamaan itu pula tangan kekar Sasuke semakin merapat di pinggangnya. Membuat keduanya beradu bibir kembali. Tanpa peduli, tanpa malu, seolah hal itu memanglah pantas untuk diperagakan di hadapan publik. Toh, hal-hal seperti itu memang bukan hal yang tabu lagi untuk di lakukan di klub malam ini.
Layaknya dua insan yang sedang dimabuk cinta, keduanya enggan untuk memisahkan diri. Nafasnya terengah-engah, wajah malaikat pink itu nampak memerah, nyaris kehabisan udara kalau saja ciuman yang tidak bisa dibilang singkat itu terlepas. Merasa masih belum cukup, hingga akhirnya Sasuke berinisiatif untuk menggiring Sakura ke sebuah tempat yang lebih nyaman—ke dalam kamar pribadi di lantai atas dari tempatnya sekarang ini.
Wanita berambut pink itu mengangguk pelan pertanda menyetujui isyarat lelaki yang kini berjalan selangkah di depannya. Ia menurut, seperti seekor anak ayam yang dengan patuh mengikuti induknya ke manapun dia pergi. Tak lupa disertai dengan genggaman tangan yang semakin lama semakin erat, seolah takut terlepas.
Lampu-lampu kecil menempel sangat redup pada dinding berwarna lebih kuning di sisinya. Nampak sebuah kamar bertuliskan nomor 14, terletak di sudut paling ujung koridor merah itu. Pintu kamarnya terbuat dari kayu tebal berwarna coklat gelap nyaris menyerupai warna hitam.
'Cklek'
Pintu kamar itu terbuka perlahan. Kamar itu terlihat rapi, indah, dan luas. Karpetnya tebal dan empuk, berwarna biru tua. Berbagai nuansa emas terlihat di sana-sini. Perabotnya pun tebal, tidak melengking jika tersentuh. Tidak seperti kayu murahan tipis yang ada di kamar-kamar hotel lain di luar sana. Aroma kamar itu sendiri seperti bau alam yang menyegarkan, membuat sang penghuni di dalamnya akan merasa terbuai, dan akan betah untuk tetap tinggal di sana.
Dengan pelan Sasuke kembali menutup pintu itu, tak lupa untuk menguncinya terlebih dahulu. Dengan tenang ia kembali menuntun Sakura untuk duduk di tepi ranjang tepat di sampingnya. Seperti terkena hipnotis atau semacamnya, wanita yang kini bermarga Namikaze itu hanya menurut tanpa membantah.
"Kau tidak mengkhawatirkan suamimu?" tanya Sasuke dengan mimik wajah yang serius. Jujur, ia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada sepasang pengantin yang masih cukup baru tersebut.
Wanita itu mendesah pelan. "Untuk apa aku mengkhawatirkannya?" tanyanya balik, nadanya terdengar ketus. "Lagipula aku cukup yakin, dia bisa menjaga dirinya dengan baik," lanjutnya kemudian. Mirip seorang Ibu yang mengatakan bahwa anaknya akan baik-baik saja di hari pertamanya menuntut ilmu di sekolah, meskipun tanpa ditemani olehnya.
Dahi Sasuke mengernyit. "Hn, begitu. Bagaimana kalau ternyata dia ada di sini?"
Wanita berambut pink itu malah tertawa, seolah pria itu baru saja menceritakan sebuah lelucon yang mampu membuatnya tertawa. Membuat kerutan di dahi Sasuke semakin menebal, ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu. Dan untuk ke sekian kalinya, pemuda yang digilai para remaja itu berusaha untuk tidak mempedulikannya. Lagipula ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Wanita itulah yang menggodanya lebih dulu. Jadi, ikuti saja permainannya.
"Kenapa kau menanyakan hal itu Sasuke-kun? Atau jangan-jangan..." Sakura sengaja menggantung kata-katanya, membiarkan pangeran es itu dilanda rasa penasaran sesaat sebelum kemudian ia melanjutkan, "kau takut kalau tiba-tiba kekasihmu itu... ah, Shion, datang kemari dan melihat—"
"Cih! Aku tidak peduli." Sasuke memotong perkataan Sakura.
"Lagipula..." Kini giliran lelaki itu yang menggantung kata-katanya. "Dia bukan kekasihku lagi," lanjutnya sembari menarik malaikat pink itu ke dalam dekapan hangatnya. Membiarkan wanita itu menempel di dada bidangnya, membiarkan Sakura terkejut sejenak sebelum kemudian wanita itu ikut membalas pelukan Sasuke. Bahkan wanita berambut pink itu dapat mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh lelaki yang masih mendekapnya. Aroma yang sama yang selalu berhasil membuatnya bergairah. Hangatnya hembusan nafas Sasuke begitu terasa menggelitik di cuping telinganya. Detak jantung Sakura kian berdebar-debar tidak terkendali ketika dirasakan bibir Sasuke mengecup singkat puncak kepalanya.
Pelan-pelan lelaki itu melepaskan pelukannya. Sebelah tangannya masih melingkar nyaman di pinggang wanita itu, sementara sebelah tangannya yang lain beralih memegang dagunya, membuatnya menengadah untuk sekedar menatapnya.
Keduanya masih membisu, enggan untuk berbicara. Seolah jika ada yang membuka suara, maka berakhir pula kebersamaan mereka. Seolah jika ada yang berbicara, hanya akan merusak momen indah itu. Seolah tatapan mata mereka mampu untuk untuk berbicara, berkomunikasi satu sama lain. Saling mencari tahu, benarkah ada cinta di sana, atau hanya sekedar pemuas hasrat yang bersifat sementara? Entahlah.
Kedua tangan kekar Sasuke kini beralih membingkai wajah Sakura yang memerah. Wanita itu menahan nafas saat pria itu mendekatkan wajahnya. Seolah mengerti dengan maksud Sasuke, ia memejamkan kedua matanya, berharap ia akan bisa lebih menghayati setiap keping momen jika kedua matanya tertutup seperti itu. Bersamaan itu pula ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Sasuke yang menerpa wajahnya, hidung mancung Sasuke yang menabrak hidungnya, hingga akhirnya bibir tipis Sasuke menyentuh bibir peachnya. Namun kali ini ciuman keduanya tak lagi lembut seperti sebelumnya, melainkan mengganas. Lidah Uchiha bungsu itu mulai menggila ketika tangan mungil Sakura meremas pelan rambut ravennya, dan Sakura nampak tidak mau kalah. Ia biarkan lidah Sasuke yang menerobos masuk ke dalam mulutnya dengan bebas tanpa penjagaan, dan—
'Brakkk!'
Terdengar bunyi pintu kamar yang dibuka paksa oleh seseorang. Sontak keduanya terpaksa menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke asal suara. Entah kenapa Sasuke sama sekali tidak terkejut mengetahui pelaku perusak pintu tersebut atau lebih tepatnya seorang pengganggu yang secara tak langsung melibatkan diri dalam permainannya. Seolah ia tahu bahwa akan ada orang lain yang ikut andil dalam dramanya.
Namun berbeda dengan Sasuke, wanita itu justru nampak terkejut dengan kehadiran orang yang tak diundang itu. Berbanding terbalik dengan ekspresi sebelumnya yang lebih terkesan santai dan meremehkan. Mata emeraldnya membelalak lebar, mulutnya menganga melihat orang itu balik menatap dirinya dan Sasuke secara bergantian dengan mata berkilat-kilat penuh amarah. Sangat berbeda dengan tatapan matanya yang biasanya penuh kehangatan.
Orang itu masih mematung di tempatnya. Tak ada tanda-tanda bahwa dia akan mengucapkan atau melakukan sesuatu. Hanya saja terlihat kedua tangannya yang semakin mengepal erat. Orang itu adalah seseorang yang sangat dikenal oleh Sakura, seseorang yang pertama kali memperkenalkannya pada kehidupan manusia, seseorang yang beberapa hari ini tidak ditemuinya dan diabaikannya, seseorang yang sudah menikahinya, seseorang yang sampai saat ini masih menyandang status sebagai suaminya. Orang itu adalah—
"N-Naruto?" ucap Sakura terbata. Seperti ada sebongkah batu besar yang mengganjal di tenggorokannya hingga membuatnya sulit untuk berbicara, bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan sebuah nama.
Pria yang dipanggil Naruto itu tidak menjawab. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya yang entah kenapa terasa lebih berat dari biasanya. Ia terus melangkah mendekat ke arah Sasuke dan Sakura. Ia mengabaikan tatapan dingin sahabatnya yang kini tampak seperti serigala berbulu domba di matanya, seolah mencuranginya, menikamnya dari belakang di saat ia lengah.
Pria itu kemudian menghentikan langkahnya tepat di depan istrinya. Mata birunya memandang mata emerald yang dalam sekejap mampu membuatnya serasa melambung tinggi di angkasa, dan dalam sekejap pula ia merasa dihempaskan sekeras-kerasnya di bumi. Naruto sudah tak mampu lagi untuk berpikir ketika tiba-tiba tangannya menjadi ringan dan—
'Plakkk!'
Mata onyx Sasuke membelalak lebar seolah ingin meloncat dari kelopaknya, dibiarkannya mulutnya menganga lebar sepersekian detik. Ia terlampau terkejut melihat aksi Naruto hingga tak mampu lagi menyembunyikan keterkejutannya.
Mungkin pemuda Uchiha itu akan biasa saja kalau tiba-tiba Naruto melayangkan pukulan padanya, sama seperti ketika Naruto memukulnya lantaran ia secara terang-terangan berciuman dengan kekasihnya—Shion, tepat di hadapannya. Namun kali ini sungguh di luar logikanya. Pria berambut pirang jabrik itu tidak memukulnya, melainkan dia memukul atau lebih tepatnya menampar wanita yang notabene adalah istrinya sendiri.
Sasuke seperti tidak mengenal sahabatnya itu. Yang ia tahu, Naruto memang sering menyakiti hati para gadis atau wanita yang tiba-tiba jadi membosankan baginya dan kemudian ditinggalkannya begitu saja. Namun meskipun begitu, Sasuke yakin kalau sahabat masa kecilnya itu bukanlah tipe pria pecundang yang suka melakukan kekerasan fisik pada lawan jenisnya apapun masalahnya.
Lantas siapa pria gila di hadapannya ini? Apa Naruto sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya hingga dia tega melakukan hal itu? Sebenarnya Sasuke sudah merasa aneh sejak awal kehadiran Naruto tadi. Tidak seperti biasanya sahabatnya itu nampak tak banyak bicara. Biasanya Naruto lebih suka berteriak-teriak tidak jelas ketika dirinya sedang marah atau dilanda kekesalan. Oh sial, Sasuke mengumpat dalam hati. Kenapa ia harus terlibat dalam persoalan rumah tangga yang bahkan belum pernah dialaminya.
Entah sadar atau tidak, Sasuke berniat akan membalas perlakuan tidak adil Naruto terhadap wanita yang ada di sampingnya. Namun ia terpaksa mengurungkan niatnya itu ketika ekor matanya menangkap Sakura yang meringis kesakitan sambil menundukkan wajahnya, membuat Sasuke yakin kalau Naruto menamparnya cukup keras. Dan belum sempat tangan Sasuke menyentuh wajah malang itu, lagi-lagi ia dikagetkan oleh tindakan Naruto yang terkesan tiba-tiba.
Pria blonde itu berlutut di depan Sakura yang masih duduk di tepi ranjang dengan wajah menunduk seolah menyembunyikan sesuatu. Membuat Naruto yang berlutut di atas lantai mendongakkan wajahnya untuk menatap malaikat pink itu. Ia terhenyak beberapa saat ketika menyadari wanitanya itu menitikkan cairan bening—oh, apakah malaikat pink di hadapannya ini masih wanitanya? Bahkan Sakura nampak tidak peduli ketika tangan Naruto terulur untuk menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya yang kini nampak memerah akibat tamparannya.
"Maafkan aku Sakura-chan... aku... sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku," gumam Naruto pelan. Tangannya kini beralih mengusap pelan setitik darah segar di sudut bibir istrinya, berharap akan mampu mengurangi rasa sakitnya, meskipun ia sendiri yakin itu tidak akan cukup.
Sementara itu Sasuke yang merasa tidak dianggap tidak tahu harus berbuat apa. Ia lebih memilih untuk diam. Seperti ia tengah memerankan seorang tokoh pembantu atau sampingan yang tidak begitu berguna dalam sebuah film melankolis yang membosankan.
"Aku sudah menyakitimu Sakura-chan. Untuk itu aku mohon..." Kini kedua tangan kekar Naruto beralih menggenggam kedua tangan malaikat pink yang akhirnya membalas tatapannya. "Cabut nyawaku sekarang juga..."
"Eh?"
Sakura terperanjat. Ia baru ingat kalau pria itu pernah mengikrarkan sebuah janji padanya. Bukan janji sehidup semati yang biasa diucapkan pengantin baru di altar, melainkan janjinya yang lain.
"Terima kasih Sakura-chan. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Aku janji, aku akan selalu membahagiakanmu. Dan kalau sampai aku mengingkarinya... aku siap mati saat itu juga."
Itulah janji yang sudah Naruto buat untuknya. Namun waktu itu ia sama sekali tak mempedulikannya, seolah semua yang diucapkan oleh Naruto hanyalah sebuah lelucon belaka. Ia tak menyangka kalau pria itu benar-benar serius dengan ucapannya. Dan Sakura tidak tahu apa yang harus ia lakukan, haruskah ia menuruti keinginan Naruto, atau ia bisa melakukan hal lain?
"Dobe, ternyata kau memang sudah gila," ujar Sasuke pada akhirnya. Ia lelah membungkam sedari tadi dan masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Naruto. Seingatnya Naruto bukanlah tipe pria yang suka mendramatisir penderitaan. Sasuke tahu betul kalau sahabat blondenya itu bukanlah seseorang yang suka berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi hanya karena seorang wanita. Bahkan ketika dulu Shion mengkhianatinya Naruto tidak terlihat sehancur ini. Meskipun pria itu marah dan sempat memukulnya namun kemudian semua nampak baik-baik saja, begitu pula dengan persahabatannya.
Tapi sekarang Sasuke seperti melihat sisi lain dari Naruto. Dia terlihat lemah dan rapuh, guratan keputusasaan terpancar jelas di wajahnya. Naruto yang sekarang jauh lebih mirip seorang gadis cengeng merana yang ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya. Mungkinkah perubahan sifat Naruto disebabkan karena pria itu sudah tak lagi lajang, sehingga dia harus mengerti akan makna tanggung jawab sebagai seorang suami, kepedulian, atau mungkin karena Naruto yang sekarang memang sudah menjelma menjadi pria dewasa yang harus mengutamakan kesetiaan pada sang istri, dan mengenal arti kata cinta yang sesungguhnya? Cih! Omong kosong, batin Sasuke sarkastik.
Naruto menoleh ke arah sahabat—yang mungkin lebih pantas disebut sebagai rivalnya. Ia mengernyit, lupa kalau masih ada orang lain selain dirinya dan Sakura. Sasuke, kenapa harus pria itu yang harus terlibat dalam urusannya? Kenapa bukan orang lain yang tidak pernah dikenalnya? Bukan berarti Naruto berharap istrinya itu akan tergoda oleh lelaki lain selain Sasuke. Hanya saja Naruto heran, kenapa kisah asmaranya harus berakhir di tangan sahabatnya sendiri? Seandainya saja tadi ia tidak datang tepat waktu, mungkin saat ini sahabat dan istrinya itu sudah melakukan—oh, Naruto tak sanggup membayangkannya. Betapa ia ingin menghajar pria dingin itu. Tapi untuk apa? Tidak akan ada gunanya, hanya akan membuang-buang tenaganya saja. Terlebih ia sudah bukan lagi remaja SMA yang sebentar-sebentar hanya memikirkan tawuran.
"Teme, tenanglah sebentar. Aku sedang berbicara dengan istriku," sahut pria blonde itu santai mirip seorang ayah yang baru saja menyuruh orang lain untuk tidak berisik karena ia akan menidurkan anaknya, membuat Sasuke mendengus.
"Hn, terserah," ucap Sasuke sedikit kesal. Dengan santainya ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang seolah tidak terjadi apa-apa di sekitarnya mengabaikan Naruto yang menatapnya tak percaya. Ia menyilangkan kedua tangannya di belakang kepalanya sembari memejamkan kedua matanya. Sebenarnya ia bisa saja langsung meninggalkan sepasang suami istri aneh itu. Hanya saja ia tidak bisa, lebih tepatnya tidak mau. Ia takut kalau-kalau Naruto akan berulah lagi. Karena itulah ia lebih memilih untuk tetap tinggal, berjaga-jaga, meskipun ia sendiri tidak mau ikut campur terlalu jauh. Terlebih karena ia merasa sedikit banyak juga bersalah dalam hal ini.
Naruto beralih lagi pada istrinya yang masih memandangnya dengan tatapan yang tak ia mengerti. Ia menghembuskan nafas berat.
"Sakura-chan, katakan sesuatu. Jangan diam seperti itu, aku rela menerima hukuman apapun darimu Sakura-chan,"
"Aku..." Sahut Sakura, suaranya terdengar parau. "Aku membencimu Naruto," desisnya nyaris tak terdengar oleh Naruto.
Kekecewaan tergambar jelas di wajah pria blonde itu. Sama sekali bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan. Lantas jawaban seperti apa yang ia harapkan? Masihkah ia berharap wanita itu akan memaafkannya, kembali pulang bersamanya, kembali ke dalam pelukannya, bahkan setelah ia menyakiti fisiknya? Entahlah, Naruto sendiri tidak tahu pasti apa yang sebenarnya ia inginkan. Tapi yang jelas, hatinya kian terasa sakit, dadanya terasa sesak, bahkan pedih tak terhingga. Mengingatkannya pada gadis-gadis belia atau para wanita yang sempat menjadi teman tidurnya, lalu ia tinggalkan begitu saja di saat ia sudah bosan, disaat ia sudah tidak menginginkannya lagi. Seperti inikah rasanya? Seperti seonggok sampah yang dibuang begitu saja.
Naruto memejamkan matanya sesaat sebelum kemudian ia membukanya kembali, seolah berusaha memantapkan hati.
"Baiklah, aku mengerti," ucapnya seraya berdiri dan menatap Sasuke yang masih menyembunyikan dua buah bola mata onyx di balik kelopaknya.
"Teme, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu pada Sakura-chan."
Penuturan Naruto sukses membuat Sasuke membuka matanya walaupun sedikit enggan. Dengan malas lelaki berambut raven itu bangkit dari rebahannya dan kembali duduk seperti sebelumnya. Ia mendecih pelan. "Apa maksudmu, Dobe?" tanyanya tak mengerti.
Pria beriris blue sky itu menghela nafas. "Jika kau memang serius dengan Sakura-chan, aku mohon padamu untuk tidak menyakitinya sama seperti yang telah kulakukan padanya," lanjutnya seraya tersenyum miris.
Meskipun Sasuke tidak menjawab, namun Naruto tahu pasti kalau sahabatnya yang cerdas itu bisa mengerti perkataannya. Begitu juga dengan Sakura yang kini menatapnya penuh keheranan. Detik berikutnya pria bermarga Namikaze itu berbalik hendak pergi meninggalkan dua insan yang masih bergeming. Namun tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.
"Kau tak perlu cemas Sakura-chan, aku akan menyiapkan surat perceraian kita besok."
~TBC~
Tolong maafkan Rey yang nyaris saja menelantarkan fic gaje ini (bungkuk-bungkuk).
Jujur, sebenarnya Rey ragu untuk melanjutkan semua fic Rey, karena Rey merasa kemampuan menulis Rey berkurang drastis, nyaris tidak ada, nihil, nol besar... T_T
Tapi berhubung Rey ini orangnya bertanggung jawab *sok bijak*, maka dengan sisa-sisa semangat yang masih Rey miliki *lebe*, Rey akan berusaha untuk tidak lagi menelantarkan semua fic Rey yang belum rampung XDD
Rey sangat berterima kasih pada semua yang sudah menyemangati Rey #peluk satu-satu# *Plakk!*
Mohon dimaklumi kalau ficnya semakin gaje dan tidak nyambung *nyengir*
Tapi meskipun begitu, silahkan para pengujung sekalian yang baru saja mampir ke sini untuk menekan tombol 'REVIEW' dengan keikhlasan hati yang luar biasa *ditampol berjamaah*
~Thanks For Reading~
