Merdeka! Dirgahayu Indonesiaku!
Disclaimer: I don't anything except this story!
A/N: Merdeka! Maaf lahir batin minna~ maaf buat terlambat updet. Seharusnya ini di updet minggu lalu berhubung masih sibuk lebaran (mudik) jadi...terlambat. Dan saya harus menghidupi dan berusaha bersikap adil pada 3 fic multichap saya. /utang menumbuhkan jerawat *plak*/ Mohon para reader memakluminya. *bungkuk*
Anyway... Wow! Ternyata banyak yang membaca ini walau nggak ikutan ripiu! :p saya jadi semangat '45 eh '13 ( karena ini tahun 2013)! lepas dari semua itu, terima kasih *bungkuk lagi*
Warning: seperti yang tertera chapt 1 plus sedikit lebih hot! Se-di-kit! :p
Rate: T/M. Strong language. Adult theme. Alcohol.
Please beware and be wise, Enjoy then~
Hari pertama Cagalli bekerja. What a lovely day! Yah...meskipun di luar kaca gedung tepatnya di lantai lima, sedang turun hujan.
Sejak semalam hujan turun dengan deras. Tapi sepertinya akan segera reda. Intensitasnya terlihat sudah mulai berkurang. Cahaya matahari mulai menyeruak keluar menyusupi celah awan gelap.
Bagus...sepertinya alam pun berpihak padaku. Rasanya aku ingin bernyanyi. Menari. Like a high school love-sick teenager.
Thanks God its Heaven!
Tapi aku sendiri tak tahu apakah lagu itu exist atau tidak! Well...siapa peduli!
Berendam air hangat bathtub pagi-pagi tidak jelek juga. Feels so relax and re-charge. Aku tidak terbiasa memakai bathtub ukuran large itu di hari kerja. I'm the shower man! Hari ini pengecualian.
Karena,
Cagalli...
My goddess.
Gadis itu membuatku penasaran. Bila wanita di luar sana hanya dengan sekali melihat, tanpa aku harus susah payah dengan senang hati mereka akan berlutut padaku. Berusaha menarik perhatianku. Memohon sentuhanku.
Tapi...
Cagalli, nama yang begitu sempurna di lidahku, memandangku saja terasa biasa saja baginya. Sangat biasa. Seolah ia (mungkin) sudah melihat bahkan berinteraksi beratus-ratus kali dengan makhluk rupawan nan sempurna sepertiku. And blown them off so easily!
Pfft...sempurna? Sepertiku? Yang benar saja! I'm the only one! Aku sempurna, hanya aku!
Percaya diri bukan? Harus.
Arogan? Hmm...mungkin.
Selamat Cagalli Yula Athha, kau membuatku, Athrun Zala, sangat tertarik padamu!
Jangan salahkan aku jika aku terus 'menghantui'mu bagai wabah penyakit berbahaya. Memakan dan merasakan seluruh tubuhmu seperti zombie di film Resident Evil.
Aku tak bisa bersabar saat aku membayangkan menyentuh kulitmu every single inch! Takkan kulewatkan secuil apapun. Seluruhnya. Yeah, seringaiku makin melebar saat membayangkannya.
Coba aku perhatikan penampilanku hari ini. Hmm... Not bad. Sebenarnya masih seperti biasa. Kemeja, dasi, jas, sepatu, tas kerja, semuanya Armani, jam tangan Rolex, hadiah ulang tahun dari Ibuku dan celana panjang -jangan lupakan itu kalau tidak entah berapa wanita yang akan menjadi gila karena aku tak memakainya. And...I meant it! Percayalah!
Kulirik jam tanganku. Masih ada waktu sekitar lima puluh menit sebelum jam delapan, jam masuk kerja.
Lebih baik aku mengisi perutku terlebih dahulu. Saat turun ke dapur, aku mencium bau harum masakan.
"Selamat pagi Tuan Athrun." Kudengar suara wanita sekitar lima puluh tahunan menyebut namaku. Tangannya masih memegang pisau dapur ketika berbalik, menyapaku.
"Pagi Manna, dan tolong turunkan pisau itu. Kau menakuti." Ia tertawa dengan candaanku. Aku menghampiri dan mencium pipinya singkat, "Panggil aku Athrun, tak ada siapa pun di sini."
Ia tersenyum lembut padaku.
Manna adalah pengurus rumah tangga penthouse-ku yang bekerja untukku selama lima tahun ini. Ia bekerja dari pukul enam pagi sampai pukul lima sore setelah itu, ia kembali ke apartemennya yang berjarak sekitar lima belas menit dari sini.
Manna adalah salah satu orang yang mampu membaca pikiran dan perasaanku hanya dengan melihat wajahku.
Don't get me wrong? Aku sangat menghormati dan menyayangi Manna seperti keluargaku sendiri.
Tak ada wanita lain yang kupercaya selain ibuku tentu saja, menjaga penthouse ini. Sayangnya, insiden 'Meer Campbell' terjadi saat weekend, hari off Manna, kalau tidak Manna pasti sudah mengusir dan memukul wajah palsu hasil operasi plastiknya itu dengan panci kesayangannya.
"Sarapan?"
"Tentu." Jawabku singkat. Aku tak suka makan di ruang makan. Tempat itu hanya kugunakan saat acara 'penting' saja. Aku lebih suka di sini. Di meja mini bar, dapur bersih, sambil melihat Manna memasak. Mengingatkanku pada masa kecilku. Melihat ibu memasak atau membuat kue.
Damn! Kenapa jadi nostalgia begini.
Setelah kulahap habis, say goodbye to Manna, kuambil kunci mobil dan kukendarai my other baby, my black Lamborghini. Kemudian melintasi berbagai gedung pencakar langit di kota Aprilius City.
My new day...here's I come!
Taken by You
.
.
.
Chapter 2
Well... This is it!
Seorang gadis cantik duduk dihadapanku, menungguku dengan sabar yang sedang membaca hasil laporannya. Kami hanya terhalang meja kayu mahoni sialku ini.
Kuakui hasil pekerjaannya tak jelek juga tak sempurna. Tapi cukup memuaskan bagiku di hari pertamanya bekerja.
Memuaskan? Aku menahan seringaiku. Apakah ia juga memuaskan di tempat tidurku.
Shit! Membayangkan saja aku menjadi gerah.
Kulirik sepintas wajahnya. Sikapnya masih tenang sedikit rasa tegang. Namun masih dalam batas wajar. Apa wajah dan penampilanku benar-benar tak mempunyai efek padanya. Tak mungkin!
Gadis ini...ia mempunyai sesuatu... Aku bisa menatapnya seharian ini tapi... Damn fokus Zala!
Kulihat mata amber-nya menatap sepintas mataku. Kualihkan dengan cepat kembali ke hasil laporan yang penuh dengan angka-angka membosankan.
Apa dia menyadarinya? Zala, kau terlalu lama teralihkan oleh matanya yang begitu indah dan jernih itu.
Soal pekerjaannya dibanding Meer? Oh... Pulissss... Pekerjaan Cagalli jauh lebih rapi, lebih profesional, lebih terorganisir dibanding wanita tak kenal malu itu.
Cagalli jelas lebih pintar, cerdas dan berkepribadian dibanding pelacur murahan brengsek itu.
Kalau Luna hanya dapat mempertahankan dirinya dari seranganku setengah sehari setelah mulai bekerja. Meer...dalam jangka waktu satu jam ia sudah berani duduk di pangkuan dan menciumku secara ganas, panas dan panjang.
Kupikir Meer akan dapat menyenangkanku tapi bukan hanya aku saja yang menjadi target pemuas kebutuhannya. Absolutely, bukan tipeku. Ku anggap saja, sekedar desert kecil sehabis sarapan.
Oh no! Athrun Zala tidak seperti itu. Aku selalu memilih dan memperhatikan wanitaku hati-hati walau hanya untuk semalam. Meski hanya one night stand.
Kulirik jam tanganku. Lima belas menit sudah berlalu. Lima menit sebelum istirahat makan siang. Sigh... Sebenarnya ini waktu yang cukup lama bagiku untuk memeriksa laporan harian yang hanya tujuh lembar itu. Sejujurnya...memang sengaja kubuat lebih lama. Aku sudah selesai memeriksa laporan membosankan ini lima menit setelah Cagalli menyerahkannya padaku.
Lalu untuk apa berlama-lama? Tentu saja bermain-main dengan makhluk Tuhan yang begitu indah ini.
So damn gergous!
Rasanya aneh juga aku belum mengeluarkan sepatah kata pun padanya.
Tanpa melihat wajahnya yang manis itu aku mulai bicara. Kupasang wajah ala bos pada bawahannya. Tapi yang kubicarakan jauh dari profesionalitas. "Jadi...sewaktu di bar kau sudah mengetahui siapa aku sebenarnya?"
Kurasakan ia mulai memandangku. Tapi sampai beberapa detik berlalu ia belum menjawab pertanyaanku. Tepat saat kuangkat wajahku, ia membuka suaranya yang berat dan...sexy itu. Suara itu pasti jauh lebih seksi saat ia ada di bawahku.
Oh tidak, aku mulai berfantasi lagi.
"Aku baru menyadarinya...sewaktu kau menyebutkan nama dan perusahaan tempatmu bekerja." Bagus, suaranya membuyarkan pikiran kotorku.
Kuletakkan laporan tak penting itu begitu saja. Perhatianku kini hanya pada si rambut pirang di hadapanku. Kusilangkan kakiku dan bersandar pada kursiku senyaman mungkin.
"Hmm... Begitu... Lalu apa yang menyebabkan kau pergi begitu tergesa-gesa?"
Ia terlihat agak terkejut dengan pertanyaanku. "Ha-hanya urusan...keluarga." Ia menjawab lirih dan ragu.
"Ada apa dengan keluargamu?" Tanyaku lagi.
Mata bak musim gugurnya kini menatapku tajam. Alisnya mengeryit. "Kurasa itu bukan urusan Anda." Ia menjawab lugas.
Wow! Gadis ini! Di hari pertama bertemu denganku di club dengan tegas menolakku. Hari ini...hari pertama ia bekerja. Sekali lagi dengan tegas ia menolak menjawab pertanyaanku. Pada atasannya sendiri! Pada anak Presdir perusahaan tempatnya berkerja!
Kuakui aku sedikit terkejut. Tapi wajahku masih terlihat tenang. Aku melatih ketenanganku bertahun-tahun. Takkan luntur dalam sekejap hanya karena seorang gadis. Mau ku taruh di mana image dan harga diriku!?
Kuakui, baru kali ini ada gadis sepertinya.
Feisty, isn't she?
Menarik...sungguh menarik. Seringaiku khasku muncul kembali. Bersemangat seperti itu berarti mempunyai banyak tenaga. Suatu kelebihan yang dimilikinya.
Bagaimana jika kelebihanmu itu kausalurkan ke tempat lain sayang? Contohnya saat di tempat tidurku, huh?
Tahan Athrun. Ingatlah cool, calm and collected! Akulah yang mengontrol bukan dikontrol. Kutahan segala nafsuku. Kuatur napasku diam-diam. Kuatur ritme debaran jantungku.
"Maaf jika aku menanyakan hal yang tak seharusnya." Balasku tenang. Kali ini kuletakkan kedua sikuku di atas meja dan kutopang daguku di atas punggung telapak tanganku. Kubuat diriku senyaman mungkin.
"Ya." Ia menjawab lirih lagi. Jujur, tak ada lagi yang ingin kutanyakan...saat ini. Kutatap saja wajahnya dengan mata emerald-ku ini.
Pikiranku mulai bermain-main (sekali lagi) membayangkannya. Wajahnya terlihat lebih muda dari usianya. Matanya yang paling menarik perhatianku. Mata besar sewarna dengan whiskey itu seakan dapat melihat jiwaku. Hidungnya mancung, kecil... Sempurna.
Bibirnya oh damn! Saat ini ia menggigit kecil bibir bagian bawahnya. Tuhan... Ingin sekali aku menyingkirkan, mengangkat dan membuang meja pengganggu ini, menariknya dalam pangkuanku.
Akan...Kutarik ia dalam dekapanku. Merasakan dan menyesapi rasa di setiap sudut mulutnya.
Ah... Dia mulai gelisah dengan tatapan penuh artiku serta kesunyian yang tak banyak membantunya. Dua kemungkinan, ia mulai tertarik padaku atau pantatnya mulai panas karena terlalu lama duduk di kursi itu.
Baiklah coret pilihan kedua. Dia pasti mulai menyadari kharisma dan pesonaku. Pasti ia -
"Bagaimana laporan saya?"
Huh!?
Kulihat mulutnya bergerak-gerak. Tapi aku tak mendengar apa yang digumamkannya itu. Kurasakan bibirku mengembang menjadi sebuah senyuman saat melihat wajahnya yang sedikit masam itu.
Saat ia mengeryitkan alisnya, menatapku dengan pandangan aneh dan bertanya-tanya, barulah aku tersadar dari fantasy terindahku.
"Maaf Tuan Zala, bila tidak ada masalah dengan laporan itu, bisakah saya kembali ke meja saya?" Akhirnya aku bisa mendengar suara khas Cagalli.
Tuan Zala!? Dia memanggilku Tuan!? Dan, laporan!? Siapa yang peduli dengan laporan sial dan membosankan itu! Persetan dengan itu semua!
Kulirik hasil laporan harian itu sekali lagi. Kurasa aku harus benar-benar ekstra sabar menghadapi perempuan ini. Mendesah kecil, kuraih beberapa lembaran kertas itu dengan malas tapi tak kutunjukkan. Hanya untuk memuaskannya.
"Athrun... Cagalli." Aku mengingatkannya kembali dengan nama depanku. Kalau ia memanggilku "Tuan Zala", aku selalu merasa memiliki uban di kepala biruku ini. Dan...mengingatkanku pada 'pak tua' itu saja. Tsk! "Laporanmu sangat bagus tapi jauh dari sempurna. Ada beberapa hal yang di hapus dan diperhatikan kembali."
Belum sempat aku berkedip, dia sudah menyelaku. "Boleh saya tahu di bagian mana Tuan Zala?" Suaranya terdengar agak ketus. Nampaknya ia benar-benar ingin segera keluar dari sini. Dari ruanganku. Menjauh dari diriku.
Yang benar saja!
Aku bangkit dari kursiku, kuhampiri saja gadis keras kepala ini. Sebelum ia dapat bertanya dan bereaksi terhadap apa yang akan aku lakukan. Aku sudah berada di belakang kursinya. Dadaku bersentuhan dengan punggung kursi yang didudukinya.
Kuperangkap dia dengan kedua lengan kokohku bertumpu pada meja didepannya. Kudengar napasnya tercekat. Terkejut. Tak siap dengan tindakanku ini.
Bagus!
Bibirku tepat ditelinganya. Aku dapat merasakan harum rambut pirangnya. God, it's so intoxicating.
"Tolong Cagalli, tak ada siapapun di sini. Panggil aku Athrun." Bisikku tepat di daun telinganya. Kubuat suaraku begitu lirih dan sedikit menggodanya.
Kurasakan ia mulai sangat tak nyaman. Kulirik dari ujung mata hijau gelapku, pipinya merona. Lagi-lagi ia menggigit bibir bawahnya.
Ini sangat tidak bagus! Ia bisa meruntuhkan pertahananku dengan sikap natural-nya itu.
Satu tanganku meraih selembar kertas, yang bagiku tak penting itu, tepat didepannya. Aku sengaja menyentuhkan tanganku pada kulit tangannya.
Sungguh halus. Terasa ada sengatan aneh saat menyentuh kulitnya. Hanya begitu saja dia sudah membuatku seperti ini. Apalagi jika nanti seluruh kulitnya bersentuhan dengan seluruh kulitku...tanpa sehelai penghalang pun.
Sial! Aku tak tahan! Kalau bukan karena janji pada si orang tua itu.
Persetan dengan janji itu! Dan bila ia menginginkanku, aku tak peduli saat ini juga di tempat ini pula aku akan -
"Athrun?"
Suara bidadari ini sekali lagi membuyarkan imajinasi liarku.
Kutarik kata-kataku. Sedetik setelah ia mengumamkan namaku. Mata kami bertemu. Mata coklat madunya bertemu dengan mata emerald green milikku. Jarak kami begitu dekat. Aku dapat merasakan wangi sweet vanilla dari rambutnya. Lavender dan mawar dari tubuhnya. Mint dari mulutnya.
Nafasnya yang menjadi berat sedikit tersengal, makin membuat kesadaranku...menghilang.
So damn sexy!
Mataku menyusuri wajahnya. Mulai dari mata, hidung, pipinya yang merona dan bibir dengan polesan tipis lipstick pink peach miliknya. Mataku bertahan di sana.
Mungkin ia menyadari arah tatapanku atau mungkin...ia bisa membaca pikiranku, karena saat ini ia membasahi bibirnya seolah mengundangku untuk menciumnya?
Cukup! Akan kulakukan! Hanya ciuman bukan!? Takkan membuatku mengingkari janji pada ayahku. Kalaupun lebih dari itu...urusan belakangan! Urusan dengan ayah,
Mudah!
Yang jelas sekarang aku ingin merasakan bibir mungilnya itu. Sedikit saja. Sebentar saja.
Kudekatkan wajahku. Reaksinya sangat mengesankan. Sepertinya ia menahan nafas. Karena aku tak merasakan hembusan segar mint darinya. Batinku tersenyum lebar.
Beruntung, ia tak menolakku!
Saat bibirku mengecup tipis bibir bawahnya, rasanya seperti surga. Hanya kecupan tapi seluruh tubuhku merasakan getaran yang hebat.
Hatiku berteriak kencang, Puji Tuhan!
Hanya menyentuh sedikit saja, ia telah membuatku sangat siap! Sangat...hidup!
Aku takkan buru-buru, aku ingin merasakannya perlahan. Aku ingin membuatnya nyaman. Aku tak ingin menyakitinya. Aku ingin semua darinya. Aku ingin semuanya...sempurna!
I want more! I want so badly more!
Kutarik bibirku agar aku dapat melihat reaksinya. God! She's so sexy. Dengan mata terpejam dan wajah merah padamnya.
Baiklah, rencana Zala setelah ini adalah akan kucium dia sampai puas. Sampai ia kehabisan nafas. Sampai ia takkan melupakan siapa yang menciumnya.
Kurasakan, kuresapi, kujelajahi semua rasa dan ruang dalam mulutnya. Akan kubuat ia meminta dan memohon padaku lagi..dan lagi!
Sampai akhirnya...
Kuletakkan satu tanganku di pipinya dan satu lagi melingkar di pundaknya. Aku bersiap untuk merasakan bibir mengagumkan itu sekali lagi -
"Athrun dude! Waktunya makan si -Whoa... Sori dude! Aku tak tahu jika kau sedang memakan santapanmu -Ah maksudku kau sedang sibuk!" Teriakkan Dearka berhasil mengacaukan segalanya.
Demi Haumea yang agung akan kubunuh dia setelah ini, bagaimana bisa ia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Apakah si dungu itu lupa, ini kantor dan I'm his bos!
Fuck!
Cagalli langsung menarik diri saat mendengar suara si brengsek Dearka. Wajahnya tertunduk. Aku tak dapat melihat jelas ekspresi wajahnya. Malu? Kesal? Senang?
Kutolehkan wajahku ke belakang. "Dearka..." Aku berdesis dan kuberikan ia tatapan membunuh paling mematikan.
Sayangnya, ia malah memamerkan deretan gigi putihnya dengan polos, membuatku makin kesal.
Oh, aku sungguh ingin membunuhmu Elsman!
Kudengar ia berkata, "Err... Lanjutkan, aku akan pergi dan kembali setelah urusanmu selesai -"
"Ti-tidak pe-perlu Tu-tuan E-Elsman. Urusan saya sudah selesai di sini, saya permisi." Cagalli beranjak pergi setelah membereskan laporan yang tercecer di mejaku. Sangat tergesa-gesa. Panik. Itu tidak bagus.
Oh tidak! Jangan! jangan pergi! Cagalli jangan pergi!
Shit! Ia bahkan menghindari melihat wajahku. Ia tidak melihatku sedikitpun saat melintasiku. Aku hanya dapat melihat sepintas wajah Cagalli yang memerah. Entahlah dengan raut mukanya. Kurasa aku tidak mau tahu saat ini.
Saat melewati Dearka, Cagalli menganggukkan kepalanya kecil dan bergegas pergi.
Aku masih terpaku di tempatku. Mataku masih mengikuti sosoknya sampai menghilang di balik pintu kantorku.
Dearka menghampiriku dan bersiul panjang. Kuangkat satu alisku dan... Aku masih marah atas 'gangguannya' tadi.
"Man, that was hot! Zala dude~ that chick have a sexiest ass I've ever seen!" Dearka menyeringai lebar
What the hell!
Mata deep green-ku menyipit, penuh ancaman! "Back off Dearka. She's mine!" Nadaku serius, "D-i-a mi-lik-ku!" Aku berdesis kuulangi kata-kataku sekali lagi agar si idiot Elsman ini mengingat dan menjauh dari apa yang menjadi milikku.
"Whoa Zala, kau menyeramkan dude~ Oke, oke she's yours!" Dearka sadar dengan ancamanku. Dia tahu batasan antara rasa humor dan keseriusanku.
Kupijit pelipisku dan kujatuhkan tubuhku di salah satu sofa ruanganku. Otot-ototku yang menegang menjadi sedikit kendur. Tapi aku jauh dari relaks.
Kulonggarkan sedikit dasiku. Kutarik napas dalam-dalam.
Tak lama, Dearka melakukan hal yang sama. Tapi dia duduk didepanku. Tak mengatakan apapun.
"Apa yang kau inginkan? Bicara cepat dan pergilah?" Ujarku.
"Mood-mu sangat tidak baik Athrun."
Kupejamkan mataku, "Dearka..." Aku sedang tidak ingin bercanda.
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Kulihat meja sekretarismu kosong. Jadi...aku masuk saja dan aku tak tahu kau sedang -kau tahulah...sibuk."
"Mana Yzak? biasanya kau dan dia selalu bersama seperti pasangan kekasih tak terpisahkan."
"Tidak lucu Athy-poo. Yzak janji makan siang dengan Shiho. Dan kau tahu wanita yang sedang ngidam permintaan mereka aneh-aneh. Sungguh keajaiban si pemarah itu bisa tunduk di kaki istrinya."
Ya, hubungan Yzak dan Shiho memang unik. Tapi... Yzak bukanlah type yang mengakui perasaan secara langsung dengan romantis. Ia menunjukkan...tapi dengan cara yang aneh. Bahkan terkesan kasar. Setidaknya Shiho suka itu.
"Siapa dia, aku belum pernah melihatnya?" Dearka bertanya padaku. Apakah yang dia maksud...Cagalli?
"Cagalli? Sekretarisku yang baru. Pilihan ayahku." Kujawab malas. Mataku masih tertutup.
"Hahaha... Baiklah itu menjelaskan segalanya. Dude, kau sangat beruntung. Setelah Luna si pembohong, Meer si pelacur dan blonde yang cute itu. Hahaha..." Entah tawanya itu mengejek atau memuji.
Mataku terbuka kembali, perlahan. "Dengar Dearka ia berbeda dengan mereka. Dia..." Virgin.
Aku tak meneruskan perkataanku. Dearka pasti akan sangat senang mendegarnya. Virgin jaman sekarang adalah hal yang sangat langka. Orang-orang tua, bangka, peyot tapi berduit saja bersedia mengeluarkan uang begitu banyak hanya untuk membeli keperawanan mereka.
"Dia?" Ternyata Dearka masih penasaran dengan lanjutan ucapanku.
"Dia...milikku! Bukankah sudah kukatakan sebelumnya!?" Kutatap mata amethyst-nya langsung. Kuyakinkan ia lewat tatapanku.
"Oke Athrun. Man kau sungguh aneh hari ini!"
Aneh? Mungkin. Aku aneh karena belum pernah ada yang membuatku seperti ini. Aku begitu menginginkannya. Darahku berdesis hanya dengan melihatnya. Sampai tak ada yang kupikirkan lagi. Hanya dia.
Cagalli Yula Athha.
Sebenarnya, apa yang telah ia lakukan padaku? Apa yang aku lakukan terhadap diriku sendiri sampai tak bisa lepas dari bayangannya?
"Kurasa kau harus ke club malam ini Athrun. Ku rasa kau terlalu tegang." Saran Dearka. "Bukankah kau mematahkan aturanmu sendiri, have laid only once a week!"
"Tak perlu. Aku sudah..." Menemukan gadis yang ku cari. Demi Tuhan, mana mungkin aku mengatakan hal itu pada Dearka. Ia akan menertawakan dan mempermalukan tepat di depan wajahku. Bahwa aku ke club selama dua hari berturut-turut karena mengharapkan bertemu dengan wanita yang sama!
Tapi, saran Dearka ada bagusnya. Kutunggu sampai jam kerja ini berakhir. Akan kucoba untuk menggoda malaikat kecil itu sekali lagi. Jika ia masih keras kepala tak mau mengakui pesona dan kharismaku. Aku kulakukan hal yang biasa aku lakukan saat stress. Memilih satu atau dua wanita yang bisa memuaskan dan menghilangkan rasa depresiku pada gadis pirang itu.
"Athrun?"
"Kita lihat nanti, Dearka. Kita lihat... Aku sedang ada urusan yang lebih penting. Sangat penting." Ujarku padanya. Pelan. Lirih. Pasti.
Dearka melihatku bingung, "Client baru?"
Aku mengendikkan bahu dan tersenyum kecil. Sedikit licik. "Hanya seseorang yang sangat menguntungkan."
Dearka melambaikan tangannya malas dan lemah. Menyatakan bahwa ia malas membicarakan soal bisnis dan pekerjaan. "Ya... Whatever Zala! Kalau kau butuh teman -kau tahulah... Aku ada 24 jam untukmu!" Ia berkedip padaku.
Teman yang dimaksudkan di sini sudah jelas. Wanita. Wanita untuk tanpa ikatan. Wanita untuk semalam.
"Aku tidak butuh laki-laki." Aku menjawab dengan leluconku.
"Hahaha... Aku juga tidak. Yzak sudah cukup membuatku pusing." Candanya. Dengan itu, ia keluar dari ruanganku.
Konsentrasiku sekarang adalah pada sekretarisku yang manis. Senyumku makin mengembang saat mengingat wajahnya yang seperti mawar merekah tadi.
Mulai saat ini...jika semua berjalan lancar. Aku akan melihat warna itu setiap hari.
Yeah... Membayangkannya saja aku tidak sabar.
Tak lama lagi pekerjaan sial dan membosankan akan berakhir. Satu hari ini. Then... Empat hari membosankan berikutnya. Aku belum pernah mengeluhkan ini sebelumnya. Maksudku, aku belum pernah mengeluh bahwa pekerjaan yang kugeluti terasa begitu amat sangat membosankan seharian ini.
Sebelumnya, selalu ada cara untuk menyiasati kebosanan ini. Jangan berpikir aneh-aneh dulu, aku bisa melakukan hal ini di luar jadwal, bila diperlukan. Hanya untuk menjaga pekerjaan ini tetap in my control! Bukan sebaliknya.
Sekarang aku mengerti perasaan Yzak bila menunggu Dearka yang selalu terlambat bila berjanji. Membosankan. Menyebalkan.
Huft...
Oh No! Ku gelengkan kepalaku, aku tak mau menjadi si kepala putih dan temperamental, the Yzak Joule. No way!
Ya Tuhan, wanita itu membuatku gila! Ini harus dihentikan -
And, speak of the devil... Malaikat kecil memasuki ruanganku dengan aura kecantikannya yang khas. Proud and confident masih mengelilingi dirinya. Aku bisa mencium wangi tubuhnya dalam jarak 50 meter jauhnya.
Bagus? Entahlah. Ini harus dihentikan. Dan akan kucoba.
"Tuan Zala, ini laporan hari ini yang telah saya perbaiki. Dan ini... Data bulan kemarin yang Anda minta. Sudah saya selesaikan. Apakah ada yang Anda butuhkan sebelum jam pulang kantor, Pak?"
Tuan Zala!?
Aku mendesah malas, aku menjadi orang tua lagi!
Kulirik jam digital di atas mejaku. Benar! Sebentar lagi jam kerja akan berakhir.
Selesaikan pekerjaan ini Zala lalu bersenang-senang sedikit. Ingat kata pepatah "bersakit-sakit dahulu, terpuaskan kemudian!" Kukatakan itu pada hatiku dengan tenang.
Kuhela nafas kecil. Harus kuakui sekali lagi, pekerjaan ini sangat impresive. Luar biasa. Laporan bulan lalu dapat ia kerjakan hanya dengan waktu setengah hari. Mrs. Murrue, mantan sekretarisku, bisa menyelesaikan dalam jangka waktu dua hari, Luna empat hari, Meer -ehm... Coba kuingat, seminggu? Itu pun aku terpaksa berlaku sedikit keras terhadap dirinya.
Ku angkat mataku sedikit.
Tunggu sebentar! Ku perhatikan sekali lagi dengan seksama, raut wajah dan gesture tubuhnya masih profesional seakan kejadian tadi tak berpengaruh padanya!
Kuangkat alisku setinggi mungkin.
Ia menarik dirinya sekali lagi? Aku kembali jadi orang asing di club malam itu? Apakah tertangkap basah oleh Dearka membuatnya kembali seperti tak mengenalku sebelumnya. Atau memang ia sungguh tak tertarik padaku?
What the fucking hell!
Wanita nakal ini harus di beri sedikit pelajaran!
Ku tutup laporan. Kuberikan ia senyuman paling menawan. Eits... Tapi tak ada kesan 'flirting' sama sekali.
"Bagus. Sangat bagus Cagalli. Terima kasih atas pekerjaanmu hari ini. Selamat sore..."
Aku menyerah? Aku melepaskan begitu saja? Tsk...tsk... Tidak! Ini yang dinamakan rencana. Dan...menguji!
Then...Bingo!
See... Wajahnya terlihat bingung dan terkejut dengan acting-ku yang mengimbangi sikapnya.
Kutahan seringaiku agar rencanaku tak gagal. Mau tahu? Wanita itu tidak menyukai hal yang simple. Mereka suka dengan kejutan. Kejutan manis.
Nah, yang kulakukan saat ini adalah,
Ulur mereka, maka mereka akan memberikan diri mereka sendiri pada kami, kaum Adam.
Ia tersenyum. Oke, itu di luar rencanaku.
"Te-terima kasih atas pujiannya. Selamat sore..."
Dia pergi. Oke, sangat di luar rencanaku!
Cih, peduli setan dengan self-control. Aku sangat menginginkan wanita ini dan itu...sekarang!
Aku mengejarnya, saat pintu setengah terbuka. Tanganku segera menutupnya dari belakang tubuhnya. Tindakanku yang kasar dan tiba-tiba itu tentu saja mengejutkan.
Kuperangkap ia sekali lagi. Di ruanganku. Di belakang pintu. Hanya dia dan aku.
Saat Cagalli berbalik. Matanya melebar. Ia sangat terkejut. Saat ia akan membuka mulut dan kurasa akan mencaciku kuhentikan saja.
Kuhentikan dia, kubungkam dia, dengan mulutku sendiri. Kucium Cagalli. Hard!
Kutarik mulutku. Jarak bibir kami hanya terpaut beberapa senti saja. Kupandang sekilas, ia masih terkejut. Makin terkejut.
Ku lumat saja lagi bibirnya. Kali ini lebih lembut. Ia masih tak merespon, tapi juga tak menolak.
Ku tarik lagi. Ekspresinya mulai melembut. Ku belai lembut pipinya dengan salah satu tanganku sebelum berpindah ke tengkuk lehernya.
God, She's so soft! Aku menginginkan lagi. Aku menginginkan lebih lagi.
Ku kecup bibir bawahnya. Aku takkan tergesa-gesa. Aku harus membuatnya rileks dan menerimaku. Kucium ujung bibirnya, sekedar menggodanya. Aku berusaha memancingnya.
Dan...
Berhasil. Ia merespon. Ia mengerang kecil, tak sabar dengan tindakanku. Yeah baby, feel it. Kau membutuhkanku pula.
Saat ia mula membalas mengecupku, tak kubuang waktuku. Aku mencium, melumat, sesekali kugigit kecil bibir tipisnya. Ia menyukainya. Kusimpan itu dalam memoriku. Aku menyeringai dalam ciuman panas kami.
Kedua tanganya ada di dada bidangku. Ia meremas erat kemejaku pertanda ciuman kami mulai intens. Mulai dalam.
Aku dapat merasakan ada yang 'on' di bawah sana. Kalau kau bisa merasakan juga Cagalli. I'm so ready for you. Apa kau merasakanku sayang?
Saat ia mengijinkan, kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Kujelajahi mulutnya. Kuresapi sari-sari didalamnya. Aku bisa merasakan rasa dan aroma mint yang kuat.
Lidah kami bertautan. Lidah kami menari bersama. Ia memulai mendesah, mengerang nikmat. Mendengar itu, makin membuatku bersemangat. Makin bergairah.
Tanganku yang bebas melepaskan ikatan rambutnya. Ku belai halus rambutnya. Sesekali kutarik saat aku ingin melumat seluruh mulutnya.
Tanpa melepaskan bibirnya. Ku longgarkan sedikit dasiku. Aku sangat gerah, dalam artian baik. Tanpa kusadari suhu tubuhku memuncak. AC ruanganku tak dapat mendinginkan panas di dalam tubuhku.
Harus kuakui Cagalli cukup hebat dalam hal ini. Untuk ukuran seorang virgin, ia luar biasa.
Ku tarik sejenak bibirku untuk mengambil pasokan udara, ia juga melakukan hal yang sama. Nafas kami memburu. Tapi tak lama aku melumatnya lagi. Ia sangat tak terelakkan. Bibirnya bagai candu bagiku.
Saatnya the next level, di sela ciuman kami ku buka dua kancing di bawah dua kancing teratas yang sudah terbuka sebelumnya. Good...
Ku usap lembut lehernya yang halus itu dengan salah satu tanganku. Ku lepaskan ragu bibir yang menggoda itu. Ku kecup rahangnya. Turun menyusuri leher mulusnya. Ku kecup dan ku tandai ia sebagai milikku. Ia mengerang. Ah, thats spot. Akan kuingat itu!
Cagalli, Cagalli, my Cagalli, my sweet Cagalli, my irresistible Cagalli, my addictive Cagalli, my lovely Cagalli.
"Cagalli-ku." Kusuarakan suaraku yang serak dan berat di sela-sela menandai jejakku dan membasahi lehernya.
Tiba-tiba saja aku merasakan tubuhnya menegang. Kali ini dalam artian tak baik. Tangannya melepaskan kemejaku.
Kuangkat kepalaku. Kupandang wajahnya. Ia merona hebat. Rambutnya berantakan karena aksiku tadi. Bibirnya sedikit bengkak karena ciuman panjang kami. Absolutely so fucking hot and sexy,
Kau tak tahu apa yang ada di pikiranku sekarang Cagalli, selain berada di atasmu, tak ada yang lain!
Tapi yang kuresahkan adalah cara mata indahnya menatapku. Pupil matanya membesar. Ia melihatku seperti melihat aku mengambil sesuatu yang berharga darinya tanpa ijin.
Ia terkejut. Sangat! Ada apa? Apa ada yang salah?
"Kenapa sayang? -"
Belum sempat aku mengatakan ia sedikit mendorongku.
"Apa yang kau laku -"
Sekali lagi ia menginterupsiku. Kali ini bukan dengan kata-kata tapi fisik. Bukan, bukan fisik seperti yang kuinginkan.
Ia akan menamparku.
This little bitch.
Beruntung aku menahannya. Dan baru kali aku di perlakukan seperti ini.
"Luar biasa sayang! Kau akan menamparku setelah membalas ciumanku? Haruskah aku bertepuk tangan untuk ini? Kau membalas ciumanku sayang! Akuilah kau menyukainya! Kau juga menginginkanku Cagalli." Ucapku sinis.
"Hh." Ia melototiku. Sungguh berani. "Tidak sama sekali." Ia tak mengakuinya. Bahkan aku mulai melihat kebencian di matanya. What a shame. Mata indah itu harus ternodai dengan rasa benci.
Aku harus menghilangkannya. Perusak suasana saja. Dan kurasa aku tahu caranya.
Saat aku mendekatkan wajahku untuk melanjutkan permainan kami yang tertunda tadi. Satu tangan bebasnya mendorong tubuhku. Tanganku masih memegang satu tangan miliknya.
Holy shit! Ia benar-benar menolakku!
Baiklah. Ia berhasil membuatku emosi. "Mengapa kau -"
"Sudah kukatakan sebelumnya! Aku tak tertarik! Lepaskan!" Ia mencoba memberontak. Coba saja! Aku lebih kuat darinya. Bisa apa dia dengan tubuh mungil begitu. Makin kueratkan genggamanku.
Ia meringis kesakitan. Aku sadar aku menyakitinya. Tapi penolakannya membuat harga diriku jatuh. Dan itu lebih menyakitkan.
Ku gertakkan gigiku. Aku berdesis tajam padanya, suaraku stabil, "sayang~ harga dirimu terlalu tinggi atau kau terlalu munafik untuk mengakui bahwa kau tertarik padaku." Kutarik rahangnya mendekati wajahku. Satu tangan lagi ku letakkan di atas kepalanya.
Ia masih membelalakan matanya padaku. "Apa!?" Ia menatapku muak, marah.
Tapi...bagaimana mungkin gadis ini terlihat makin seksi dengan wajah memerah setengah marah, setengah malu dan setengah terengah-engah, kehabisan nafas akibat ciuman panas kami.
"Kau tuli? Atau kau ingin aku mengulangi lagi?" Tawarku. Menyeringai.
"Fuck you!" Balasnya.
"Well...saat ini aku siap sayang." Menyenangkan sekali menggodanya.
"Minggir Zala!"
Cih... Keras kepala sekali! Aku jadi malas bermain-main lagi. Mood-ku hilang sudah.
Ku coba memberikan kecupan singkat di bibir sensualnya. Tapi gadis berambut pirang itu malah memalingkan muka. Aku hanya berhasil mencium pipinya saja. Sial!
Sok jual mahal! Gadis keras kepala!
Kusudahi saja.
Kulepaskan genggaman kencangku. Kerapikan kembali dasiku. Aku segera melangkah jauh darinya. Kembali ke kursiku dan seakan tak pernah terjadi apapun. Kuteruskan pekerjaanku yang tertunda. Aku tak menatap si pirang yang kurasa menatapku dengan pandangan bertanya, muak, jijik dan benci. Well... FYI missy, aku sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.
Walaupun sebenarnya, aku masih mengontrol dengan berat nafsuku. Bila gadis ini memohon padaku. Sekarang juga di meja ini akan kupuaskan dia, berteriak keras tanpa malu memanggil namaku sampai ia takkan melupakan siapa Athrun Zala! Yeah... Itu seharusnya terjadi!
Seharusnya... Tapi sekarang aku harus menunggu! Kontrol dirimu, Athrun! Jangan pernah dikendalikan! Kaulah yang harus mengendalikan...segalanya.
Selang beberapa detik aku memperhatikan layar hitam laptop dihadapanku, aku mendengar suara pintu di buka.
Damn! perempuan itu akan pergi.
Kulirik, ekspresi wajahnya tak terlihat, ia sedikit menunduk. Rambutnya yang kini tergerai masih acak-acakan. Kedua tangannya menggenggam erat dan menutupi bagian atas kemeja yang telah lepas kancingnya.
Asalkan ia tak menangis atau melempar asbak ke mukaku mungkin itu cukup.
Segera setelah pintu itu tertutup. Aku menghelas nafas panjang.
Huft...mungkin besok aku sudah menerima surat pengunduran diri darinya di meja ini. Dan...omelan panjang dari ayah.
Kurebahkan tubuhku pada kursiku.
Shit! Perempuan sial itu cukup membuatku frustasi. Bahkan saat fisiknya tak ada, samar bau parfum miliknya masih menyeruak dalam ruangan ini, membuat sesuatu di bawah sana tak kunjung tenang.
Aku tidak bisa begini! Aku butuh wanita! Aku butuh untuk mengalihkan rasa frustasi ini! Dan aku tak punya waktu menyeleksi wanita di club malam ini!
Aku sangat membutuhkan secepat mungkin! Segera!
Seketika aku teringat. Hanya dia yang bisa! Ujung bibirku sedikit terangkat. Soal pelampiasan, pengalihan hanya dia orang yang cocok.
Ku keluarkan ponselku. Ku tekan angka lima cukup lama. Dan langsung terdengar RBT lagu favoritnya.
"Athrun sayang~ lama kau tak menghubungiku? Butuh teman malam ini sayang~"
Kudengar suara manja khasnya. "Seperti biasa babe, kau langsung pada intinya. Aku suka itu." Balasku
"Kau tahu aku Athrun sayang. Aku tak suka yang berbelit-belit. Kau juga tahu aku selalu menginginkanmu. Apartement-ku jam delapan. Dan kau tak usah mengetuk pintu." Sedikit desahan sengaja ia keluarkan untuk menggodaku.
Fucking yeah!
My savior.
"Oke babe. Wear something sexy." Seringaiku muncul sempurna.
"I know baby, bye~" setelah mengatakan itu, sambungan terputus.
Setidaknya ada yang bisa memuaskan kebutuhan biologisku malam ini. I need so fucking badly sex!
Cagalli Yula Athha, kau akan membayarnya nanti. Sekarang, biar aku melupakanmu sejenak, my goddess.
TBC
A/N: errr... Apa ya? *lirik atas* saya buat apa ini!? *blush* eerr... Apa lagi ya? Minta review aja deh. *blush* /
Rate-nya masih amankah di T?
Special Thanks to:
(Sebelumnya maaf balez ripiu yang log-in di sini juga coz inet's problem *bow*)
Pandamwuchan: nie my beibh-beh exist di mana aja XD nih THR kedua-mu! :D ya,ya... Aku akan selalu mem-fave dan mem-follow fic2 yu, akakak XD. Apakah chappie ini frontal dan menjurus beibh~? Saya mencoba agar fic ini tetap di jalur T walau semi M. Jangan meleleh di sana kagak ada kulkas! Lol. Jangan dipaksakan baca klo ada lemon, lho!? *plak* /spoiler -..-"/ dan tolong jangan bawa2 si kepala terong Yuuna, palagi membawa Asuran! Big no no no! Makasih review-nya beibh~ :D maaf telat melulu. Mampir lagi ya :D lovya~
Cyaaz/Wolfy/Puppy: selamat atas kelulusannya ms. Editor :D *hug* Futty mencoba membuat my lovely Athrun dalam bentuk lain. /emang barang!?/ lalu apakah ini masih aman di rate T tanpa melihat fic english? Makasih buat semangatnya! Makasih review-nya :D mampir lagi ya :D
Ichirukilover30: hati2 klo senyum2 sendiri. Xixi... Soal kembaran, mohon Ichirukilover30-san menunggu dengan sabar. Makasih review-nya :D mampir lagi ya :D
RenCaggie: Syukur klo Ren-san menemukan ini menarik. Soal tebakan Ren-san, sy harap Ren-san mo menunggu dengan sabar. Makasih semangatnya! Makasih mo follow fic ini! Makasi review-nya :D mampir lagi ya :D
Reinaryuzaki/mytwin/Bunny: jujur, aku sempat terkejut bunny mo meluangkan waktu membaca the perv Athrun. Hehe... Mimisan? Oh tidak, aku gak mau jadi penyebab anemiamu kambuh. Lol. Kenapa ikutan meleleh? Di sini kagak ada kulkas. Hehe... :p soal penulisan? Masih banyak belajar dan sy rasa bunny lebih bagus :D /kangen fic bunny T^T/ makasih fave, follow dan review-nya :D mampir lagi ya :D
Ryuukou/EvilHorsy: your change your penname, again!? -..-" who's bad? Dunno its still early to decide. Lol. Yes Athrun being playboy or not, you still despise him, isn't it? I'm sorry if i was making you hurt. Anyway...thanks for your review, folowing and your support :D come again :D good luck w/ your school!
Forgot password: firstly, how I'm supposed to call you then? Lol. I'm sorry that will lead a missunderstanding. I really don't have intention to lead that way and to dissapointed foreign readers. Really sorry :) thanks 4 your concern and compliment :)
Alyazala: apakah ini bisa dikatakan lama? Semoga tidak *h2c* /deg2 ser/ maaf... Makasih reviewnya :D mampir lagi ya :D
Popcaga: dewasa? Saya malah gag bau apa2 Pop! *glodak* nih dah lanjut :p makasih reviewnya :D mampir lagi ya :D
Dewi Natalia: saya juga kadang bosan! Lho!? /di gampar Athrun FC/ thanks menemukan Athrun di sini keren :D pindah ke rate M? Ehm... Saya masih berusaha menjaga agar rate fic ini tetap di T walau semi M. Apakah Dewi-san masih mengganggap chapter ini pantas di rate T? /butuh pendapat/ Cagalli masih misterius dan kebal terhadap Athrun kok! :p makasih buat fave, follow dan reviewnya :D mampir lagi ya :D
Lezala/horibblesista: sista say something? T^T already update! Makasih fave, follow dan reviewnya :D mampir lagi ya :D
Nge-fave: Dewi Natalia, Lezala, Pandamwuchan, Reinaryuzaki.
Nge-follow: Dewi Natalia, RenCaggie, Ryuukou, Aluminium, Lezala, Pandamwuchan, Reinaryuzaki.
And Silent readers.
*bow to you all*
Many Thanks,
Fighting,
Nel. ^o^)9
