Thanks to : ZeeMe, Namikaze achiles, Nasako Uzumikawa, alfancyank claloe, AL Blue Blossom, Fumiko Miki NaSa, agusajisaputro, Riela nacan, Reina Murayama, dll
Naruto : Masashi Kishimoto
Warning : OOC, AU, Typo(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dll, dsb, dst *dibantai rame-rame*
Dont Like Dont Read
~Happy Reading~
.
.
.
.
.
Sepi.
Gelap. Ia biarkan ruangan itu gelap di malam yang belum begitu larut. Susana malam ini begitu tenang—bukan, melainkan sepi. Sama sepinya dengan suasana hatinya saat ini. Lampu kuning dari jalanan merayap begitu lemah dari luar.
Tubuhnya tampak bergelimang cahaya yang mencuri arah dari tirai jendela setengah tertutup, bergerak-gerak tertiup angin malam yang dingin.
Ia terduduk di tepi ranjang milik seorang pemuda yang belum lama dikenalnya. Wajahnya tertunduk dalam. Beberapa helai rambut soft pinknya ia biarkan terjatuh menutupi wajahnya.
Sejak sepekan lalu ia seperti tak ingat lagi dengan dirinya. Sama tak ingatnya dengan semua tugas yang ia emban sebagai malaikat maut. Yang ia lakukan hanya berdiam diri, memikirkan sesuatu yang tak ia mengerti, berjalan tak tentu arah, hingga kaki-kakinya yang lelah menuntunnya kembali pulang ke apartemen sahabat suaminya—yang mungkin sebentar lagi akan melepas statusnya sebagai suaminya. Karena bagaimanapun juga, lelaki itu sudah meminta persetujuan resmi atas kegagalan hubungan mereka.
Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Perasaan asing tidak mengenakkan yang tiba-tiba menampar batinnya. Ia merasa jiwa malaikat mautnya yang biasanya kejam kini melemah. Sama lemahnya dengan manusia-manusia bodoh yang beberapa waktu lalu ia cabut nyawanya. Manusia-manusia cengeng yang rela mengakhiri hidupnya hanya karena cinta. Ha. Ia tertawa hambar. Ironisnya, seseorang yang mereka cintai sama sekali tidak mempedulikannya. Seolah kematian seseorang merupakan sebuah lelucon bagi mereka.
"Ugh," tangannya meremas dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang menjerat jantungnya, membuatnya kesulitan bernafas.
Wanita itu tak pernah menyangka, kalau hidupnya sebagai manusia akan sesulit ini. Ia pikir akan menyenangkan ketika ia mencoba bercinta dengan lelaki lain selain suaminya. Ia pikir akan menyenangkan ketika tubuhnya yang haus dimanjakan oleh orang lain. Ia pikir akan mudah melakukannya. Membiarkan tubuhnya menari-nari dengan orang-orang yang diinginkannya. Membiarkan suaminya kesepian seorang diri tanpa tahu kapan dirinya akan tiba.
Tapi tidak. Pada kenyataannya semua itu tak mudah baginya. Ia tak bisa melakukannya meskipun jiwanya menuntut. Ia tak bisa bercinta dengan lelaki lain. Bahkan ketika orang itu berada dalam satu ranjang dengan dirinya setiap malamnya. Membuatnya tak bisa melakukan apa-apa selain hanya tidur dengannya. Membuat perasaannya gusar tak menentu. Perasaan yang masih tak ia mengerti hingga saat ini.
'Cklek,'
Pintu kamar itu terbuka. Seorang pemuda berambut raven masuk ke dalam kamar yang sama dengan wanita itu. Tangan kekarnya merayap, menekan sesuatu yang ada di dinding putihnya.
'Ctek,'
Bersamaan dengan bunyi itu, ruangan yang sebelumnya gelap itu kini terlihat jauh lebih terang. Hal yang begitu kontras.
Pemuda itu menghela nafas. Tangannya sibuk melonggarkan dasi kerjanya lalu mencopotnya, dan meletakkannya kembali di tempat semula—di meja rias. Begitu pula dengan jas hitam yang sempat membungkus tubuhnya seharian ini. Ia melepaskannya, lalu menaruhnya lagi di tempat semula. Tipikal lelaki yang menyukai kerapian.
Entah sudah berapa malam ia disuguhi pemandangan yang sama di kamar tidurnya. Oh, tentu ia tak lupa. Mungkin sekitar tujuh malam. Pemandangan seorang wanita berwajah murung, terduduk putus asa.
Kalau mengingat lagi hari itu, sebenarnya ia bisa saja mengacuhkan wanita itu. Wanita yang sama sekali tak ia ketahui tentang latar belakang keluarganya. Sebenarnya ia bisa saja membiarkan wanita itu sendirian, setelah insiden yang tak mengenakkan sepekan lalu. Insiden dimana wanita itu bertengkar hebat dengan sahabat sekaligus rivalnya.
Namun tak bisa. Pemuda itu merasa tak tega, ia merasa harus bertanggung jawab entah karena apa, hingga ia harus menampung wanita itu di apartemennya. Membuatnya harus mau berbagi ranjang dengan wanita itu, mengingat memang hanya ada satu ranjang di apartemennya.
Jangan berburuk sangka. Meskipun pemuda itu hanya tinggal berdua dengan wanita itu, bahkan satu ranjang dengannya, namun keduanya enggan untuk melakukan hal-hal yang dianggap dewasa.
Bukannya pemuda itu tak tertarik, hanya saja ia tak mau memaksa seseorang hanya untuk menurutinya mendapatkan kepuasan belaka. Ia akan menerimanya, jika orang itu sama suka relanya dengan dirinya. Tapi tidak dengan wanita yang masih memunggunginya itu. Raut wajahnya nampak sedih. Dan orang yang menyedihkan takkan bisa membuat hasratnya terpenuhi. Yang ada hanya akan menambah masalah baru baginya.
Lagi, lelaki beriris hitam pekat itu menghembuskan nafas lelah. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya mendekati wanita itu, ikut bergabung dengannya, duduk di sampingnya.
"Kau belum menandatanganinya?" tanyanya sembari melirik map berwarna hijau yang masih tertata rapi di meja riasnya. Sebuah map yang beberapa waktu yang lalu diantar ke apartemennya oleh seseorang yang tak dikenalnya, yang ia yakini orang suruhan dari si pencetus isi dari map tersebut.
Wanita itu menggeleng lemah. "Belum," gumamnya pelan, hampir-hampir tak terdengar.
Untuk kesekian kalinya pria bermarga Uchiha itu hanya bisa menghembuskan nafas berat.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi wanita itu hanya menggeleng lemah sebagai jawabannya.
"Katakan padaku," pintanya, mirip seorang polisi yang memaksa tawanannya agar mau memberitahu motif dari kejahatan yang dilakukannya.
"Aku tidak tahu, aku hanya... hanya..." Kalimatnya terdengar berantakan. Pemuda berambut raven itu mengisyaratkan agar wanita itu menarik nafas sejenak, lalu menghembuskannya perlahan. Terkadang cara seperti itu memang ampuh untuk mengatasi kegugupan dan kebingungan.
"Aku hanya belum bisa memutuskannya, Sasuke-kun," ungkapnya kemudian.
"Hn, aku sudah menduganya,"
"Eh?"
Respon tenang dari pria yang dipanggil Sasuke itu membuatnya terkejut. Mata hijau emeraldnya menatap lekat-lekat mata hitam onyx milik pemuda Uchiha itu. Tergambar kesedihan yang tidak begitu kentara. Kesedihan yang berhasil disembunyikan dengan sikap angkuhnya.
"Pulanglah," kata Sasuke datar.
Mata green forestnya membulat sempurna. "Kau mengusirku Sasuke-kun?" tanyanya tak percaya. Hanya karena ia belum membuat keputusan atas surat perceraiannya dengan suaminya, bukan berarti lelaki di hadapannya ini boleh menyuruhnya pergi kan? Dangkal sekali pemikirannya.
Sasuke menggeleng pelan. "Tidak, pulanglah pada suamimu."
"Itu tidak mungkin Sasuke-kun, Naruto pasti..." Terdengar berat untuk diucapkan. "Naruto pasti sangat membenci—"
"Dobe masih mencintaimu," potong Uchiha bungsu itu cepat. Ia sangat lelah, akhir-akhir ini begitu banyak kalimat-kalimat keputusasaan yang memasuki indera pendengarannya, yang entah dari siapa saja.
Untuk kesekian kalinya, pemilik nama Sakura itu hanya bisa menganga mendengar jawaban Sasuke yang singkat, namun cukup jelas baginya. Benarkah suaminya itu masih mencintainya? Benarkah suaminya itu mau memaafkannya? Benarkah suaminya itu masih mau menerimanya untuk kembali di sisinya? Benarkah? Benarkah? Apakah itu mungkin?
"Sakura, dengarkan aku," suara Sasuke menariknya kembali dari alam pikirannya. Tangan kekar lelaki itu membingkai pundak seorang wanita yang kini nampak rapuh di matanya.
"Aku hanya akan mengatakannya sekali." Ya, sekali. Sekali ini saja ia akan ikut andil dalam drama konyol sahabatnya yang baka itu. Pikirnya.
"Percayalah padaku bahwa Dobe-mu itu masih mencintaimu. Dan aku yakin, dia tidak akan bisa mencintai wanita lain selain dirimu. Karena aku belum pernah melihatnya sekacau itu sampai dia bertemu denganmu. Jadi... kembalilah padanya, dia pasti sedang menunggumu," jelas Sasuke panjang lebar, nyaris tidak percaya akan apa yang baru saja ia katakan. Tangannya masih memegang pundak wanita berambut soft pink itu, seolah berusaha menenangkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
Biarlah untuk kali ini saja ia membiarkan sahabat masa kecilnya itu merasa menang. Tak akan ada bedanya. Menang ataupun kalah takkan ada yang peduli. Tak ada yang menilai mereka. Sasuke hanya merasa harus ikut campur dalam perkara ini.
Untuk pertama kalinya, pria yang digilai para kalangan remaja itu mengakui bahwa dirinya berada di pihak yang bersalah—yang bahkan tak dapat ia jelaskan apa kesalahannya itu. Yang pasti ia merasa harus bertanggung jawab. Dan rentetan perkataan yang baru terlontar dari mulutnya untuk wanita itu merupakan wujud dari tanggung jawabnya.
Sementara itu wanita yang memiliki nama serupa dengan nama bunga musim semi itu masih bergeming, mencerna perkataan Sasuke. Hingga akhirnya sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Sebuah senyuman yang membuat Sasuke menghela nafas lega karena pria itu merasa ceramah panjangnya tidak sia-sia.
Perlahan tangan mungilnya menurunkan tangan kekar lelaki itu lalu menggenggamnya. "Aku mengerti Sasuke-kun, tapi bagaimana denganmu?" nadanya terdengar khawatir.
Sasuke memandangnya aneh. Seolah wanita itu baru saja mengatakan hal tabu baginya.
"Apa tidak apa-apa kalau kau kutinggal sendiri?" jelas Sakura lagi, menyadari kebingungan yang tersirat di wajah Sasuke.
Pemuda bermata onyx itu mendesah pelan. Tak suka dengan nada wanita itu. Kekhawatiran Sakura nampak berlebihan baginya. Seolah dirinya itu adalah anak kecil yang akan ditinggal pergi jauh oleh Ibunya.
"Hn, tidak apa-apa. Lagipula aku sudah terbiasa sendiri," sahutnya kemudian. Sakura menatapnya penuh simpati. Terlihat ketegaran di sana—atau hanya berusaha tegar. Entahlah, wanita itu tak tahu pasti. Tapi yang jelas, ia bangga karena lelaki di hadapannya ini adalah sahabat suaminya yang berarti sahabatnya juga. Sahabat? Kedengarannya menyenangkan.
Tanpa ragu lagi Sakura memeluk Sasuke yang terperanjat akibat kelakuannya. Namun pada akhirnya lelaki itu membalas pelukannya, sembari menepuk pelan punggung wanita itu. Sebuah pelukan persahabatan.
Pelukan singkat itu terlepas. "Arigatou Sasuke-kun," ujar Sakura seraya mengelap bulir air mata di sudut matanya. Ia terharu, hingga bulir mata yang keluar dari irisnya pun terasa menyenangkan.
Sasuke tak menjawab. Pemuda itu kemudian menarik tangan Sakura, agar wanita itu mau berdiri sama seperti dirinya. Membuat malaikat pink itu menautkan alisnya.
Seolah mengerti, pria Uchiha itu berkata. "Aku akan mengantarmu pulang,"
"E-eh? Tidak usah Sasuke-kun, aku bisa pulang sendiri."
Dahi Uchiha muda itu berkerut. "Sakura, malam sudah larut." Sasuke melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sebelas lebih—bukan, hampir dua belas. "Bagaimana mungkin aku bisa membiarkanmu pergi sendi—"
"Sasuke-kun, percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja. Aku ingin pulang dengan caraku sendiri," potong Sakura cepat. Ya, tentu saja malaikat pink itu akan menempuh perjalanannya dengan caranya sendiri—terbang tinggi dengan menggunakan kedua sayapnya yang sejak sepekan lalu seperti diabaikan olehnya.
Pemuda berwajah tampan itu nampak berpikir sejenak sebelum kemudian ia menghembuskan nafas berat yang berarti menyerah. Membuat wajah malaikat pink itu kian berbinar-binar bahagia.
"Hn, berhati-hatilah. Kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku,"
Sakura mengangguk pelan sebagai jawabannya. Wanita berambut soft pink itu kemudian beranjak dari kamar lelaki yang nyaris membuatnya kehilangan suaminya. Tangannya terulur memegang kenop pintu lalu memutarnya, membuat pintu itu terbuka. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia membalikkan badannya, menatap Sasuke yang kebingungan. Bibir peachnya tersenyum—bukan, melainkan menyeringai.
"Uchiha Sasuke, aku hanya akan mengatakannya sekali." Seru Sakura meniru perkataan Sasuke beberapa saat yang lalu.
Sasuke memutar bola matanya bosan. Ia membatin, apa-apaan wanita itu. Lalu bergumam. "Hn,"
Seringaian di bibir Sakura semakin mengembang. "Menurutku ada baiknya kau menemui mantan kekasihmu itu. Aku yakin, perasaannya padamu belum berubah, sama seperti perasaanmu padanya. Jadi... sebaiknya kau bergegas Sasuke-kun."
Dan setelah mengatakan hal itu wanita yang tadinya berwajah murung itu berlalu dari pandangan Sasuke yang entah sadar atau tidak menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
***{+_+}***
Malam semakin larut. Kesunyian semakin melanda. Hembusan angin malam terasa lebih dingin dari biasanya walaupun sebenarnya musim dingin belum tiba.
Langit malam nampak indah dengan berjuta-juta bintang yang menghiasinya. Kerlap-kerlipnya seperti glitter yang biasa digunakan untuk membuat kulit atau rambut nampak berkilauan seolah bercahaya.
Bulan dan Bintang. Seperti dua sejoli yang tak terpisahkan. Bintang senantiasa menemani bulan walaupun terkadang bulan tak menunjukkan dirinya secara utuh.
Bumi dan Langit. Dua hal kontras yang tak mungkin bersatu. Bumi selalu dipandang rendah, sedangkan langit selalu dipandang tinggi. Sama seperti hitam dan putih. Hitam berarti buruk, dan putih berarti baik. Dan juga, sama seperti hubungan antara malaikat dan manusia. Malaikat nampak nyaris sempurna, sementara manusia penuh dengan kekurangan namun masih bisa congkak.
"Hhh..."
Pemuda itu menghela nafas untuk kesekian kalinya entah untuk apa. Sisa-sisa malamnya hanya ia habiskan untuk memandangi langit malam. Sama seperti malam sebelumnya, ia akan menghabiskan jam tidurnya malam ini di atas balkon sebelah kamar tidurnya.
Ia masih berdiri, seolah kakinya tak pernah lelah. Kedua tangannya ia letakkan di tepi balkon yang ia gunakan untuk menopang dagunya.
Ia biarkan dada telanjangnya diterpa oleh angin. Kaki-kaki telanjangnya ia biarkan menyentuh lantai dingin walau tak sedingin tubuhnya, juga hatinya.
Matanya terasa berat walau enggan terpejam. Matanya terasa terbakar dan perih walau tak seperih hatinya. Terdapat lingkaran hitam di sekitar area matanya, menandakan kalau ia tak cukup tidur.
Ia lelah, sangat lelah. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya, ia ingin memejamkan matanya sebentar saja namun tak bisa. Jika ia melakukan hal itu, batinnya akan tersiksa. Yang ada dalam mimpinya hanya malaikat itu saja.
Bahkan indera penciumannya tak mampu membodohinya saat tiba-tiba sosok yang menjadi pengkhianat hatinya itu menapakkan kaki-kaki ringannya di belakangnya, setelah sekian waktu ia tak melihat keberadaannya. Membuat pemuda itu sempat tersentak kaget, sebelum kemudian kembali ke ekspresi sebelumnya yang tenang.
"Kau belum tidur?" tanya malaikat pink itu basa-basi seraya menyembunyikan sayap mungilnya di balik punggungnya. Wanita itu berjalan perlahan mendekati suaminya, lalu ikut bergabung di sampingnya. Hatinya kian mencelos mendapati wajah sang suami tampak lebih tirus dari biasanya. Guratan kesedihan sekaligus kelelahan terpampang jelas di wajah tampannya.
"Menurutmu?" tanya balik pria itu tanpa menatap wajah seseorang yang masih menyandang status sebagai istrinya.
"Kau kelihatan tidak baik, apa kau sakit?" tanya malaikat pink itu cemas. Tangannya terulur hendak menyentuh wajah suaminya.
"Aku baik-baik saja," sahutnya seraya menepis pelan tangan wanita itu tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.
Wanita beriris green forest itu menghela nafas. "Naruto, ada yang ingin kukata—"
"Aku tahu, kau sudah menandatanganinya kan? Itu bagus. Selanjutnya akan kita selesaikan di pengadilan." Potong pemilik nama Naruto itu cepat.
Wanita itu memandangnya tak percaya. Suaminya sungguh-sungguh ingin lepas darinya. Ternyata memang tak bisa. Sudah tak bisa lagi untuk menerimanya kembali. Terang saja, pria bodoh mana yang masih mau dengan seseorang yang jelas-jelas berkhianat di hadapannya.
Apa yang harus dilakukannya? Apa dengan pernyataan maaf bisa meluluhkan hatinya seperti sedia kala? Tidak-tidak, sepertinya itu tidak akan cukup. Pemuda itu akan tetap bersikukuh pada pendiriannya—menceraikannya.
"Naruto, apa kau serius menginginkan hal itu?"
Akhirnya Naruto mau menolehkan wajahnya. Lelaki itu memandangnya aneh. "Apa aku kelihatan bercanda Sakura-chan?"
"Kau... kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita?" lirihnya pelan. Ia menggigit bibir bawahnya entah karena apa.
"Hubungan kita, eh?" pria blonde itu tersenyum meremehkan. "Kupikir selama ini kau tak pernah menganggap adanya hubungan diantara kita. Lagipula..." Ia mendongakkan wajahnya menatap bulan sabit. "Kau dan aku berasal dari dunia yang berbeda. Kau malaikat maut dan aku manusia. Sampai kapanpun kau dan aku takkan bisa bersatu."
"Itu tidak benar Naruto, tak ada yang tak mungkin di—"
"Mulai saat ini kita akan menjalani hidup kita masing-masing. Kau menjalani hidupmu sebagaimana dirimu, dan aku juga akan melanjutkan hidupku dengan caraku. Kalaupun kau ingin bersenang-senang di dunia manusia, itu adalah hakmu," ujar Naruto panjang lebar memotong perkataan wanita yang bernama Sakura itu tanpa menatapnya.
Wanita beriris hijau emerald itu bergeming. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia tak menyangka kalau lelaki yang dulunya selalu bersikap hangat padanya kini berubah menjadi sosok yang dingin. Bahkan untuk menatap wajahnya saja enggan dan jijik. Rasanya sakit. Kali ini lebih sakit daripada ditamparnya beberapa waktu yang lalu.
Ia memejamkan matanya sejenak sebelum kemudian menampakkan bola matanya kembali.
"Aku mengerti Naruto,"
Dan setelah mengatakan hal itu, Sakura berbalik hendak pergi meninggalkan lelaki yang sampai saat ini masih memunggunginya, seolah tak peduli. Ia mengepakkan kedua sayapnya, berniat melambung tinggi menggunakan benda halus berwarna putih itu sampai kemudian suara maskulin suaminya bergema di gendang telinganya.
"Ada satu hal lagi Sakura-chan," seru pria blonde itu seraya membalikkan tubuhnya, menatap tajam seorang wanita yang sempat membuatnya putus asa.
"Katakan saja Naruto," sahut Sakura berusaha setegar mungkin. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan mangsanya.
"Temui aku lagi saat kau benar-benar akan mencabut nyawaku."
Wanita itu nampak berpikir sejenak sebelum kemudian ia berkata. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Aku pasti akan—"
'Deg'
Sakura tak mampu melanjutkan perkataannya. Suaranya tercekat di tenggorokannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia terlampau terkejut mendapati sosok lain di belakang—di atas Naruto. Sosok yang sangat familiar baginya. Sosok itu melayang di udara, memiliki sayap seperti dirinya, hanya saja kedua sayapnya terlihat lebih kokoh, besar, dan berwarna hitam. Mata coklat hazelnya menatap dingin ke arahnya. Rambut merah darahnya sedikit melambai tertiup angin.
"Disitu kau rupanya," serunya tanpa ekspresi apapun yang terlukis di wajahnya.
"S-Sasori-senpai?" ucap Sakura takut-takut, tubuhnya sedikit gemetar.
Naruto yang menyadari ekspresi keterkejutan Sakura segera menoleh ke belakang dan mendongak ke atas mengikuti arah pandang wanita itu. Namun ia tak melihat apapun kecuali langit malam yang gelap. Ia berbalik lagi menatap wanita yang kini nampak ketakutan. Dahinya berkerut, tak mengerti. Mungkinkah ada roh gentayangan di dekatnya? Yang mungkin hanya bisa dilihat oleh malaikat pink itu? Ah, tidak-tidak. Di jaman yang serba canggih seperti ini, ia sama sekali tak percaya akan adanya makhluk gaib yang bernama hantu.
"Nyalimu sungguh besar. Berani melalaikan tugasmu dan memberi laporan palsu hanya karena laki-laki itu," malaikat maut yang dipanggil Sasori itu berkata dengan tenangnya walaupun tatapan matanya cukup menusuk jiwa.
Sakura mengiba, nyaris menitikkan air mata. Ia menangkupkan kedua tangannya yang bergetar lalu berkata. "Kumohon... kumohon jangan cabut nyawanya. Beri dia kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Aku mohon Sasori-senpai... aku mohon padamu..."
Pria blonde itu tertegun mendengarnya. Kini ia tahu dengan siapa wanita itu bercakap. Malaikat pink itu tengah berbincang-bincang dengan malaikat maut lain yang tak mampu ia lihat dengan mata telanjangnya. Terlebih saat ini mereka—atau siapapun itu yang tak nampak oleh indera penglihatannya sedang memperdebatkan soal kematiannya. Dan wanita itu nampak tak berkutik. Apa sebegitu menakutkannya rupa daripada malaikat maut yang lainnya itu?
Sial. Brengsek. Ia mengumpat dalam hati. Kenapa matanya tak bisa menangkap sosok lain yang ada di antara dirinya dan istrinya. Kenapa sosok lain itu seolah menjadi pecundang yang tak berani menampakkan batang hidungnya di hadapannya. Perlahan kaki-kakinya melangkah pelan mendekati sang istri yang masih tak berani mengalihkan pandangannya.
"Lancang bicaramu. Kau tidak pantas menjadi malaikat maut. Tidak mau mengakui kesalahanmu dan sekarang kau malah mengemis padaku, eh?" seringaian terpampang jelas di wajah polos Sasori. Seandainya ia bisa terlihat oleh mata manusia, siapapun takkan menyangka kalau pria baby face itu adalah malaikat kejam yang doyan memisahkan jiwa dari raga manusia.
"Sasori-senpai, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya—"
"Baiklah, mungkin aku tidak akan mengakhiri hidup laki-laki itu sekarang. Tapi sebagai gantinya, aku akan menghukummu atas perintah Pein-sama. Kau memang sama hinanya dengan mereka. Nikmatilah keinginanmu," lanjutnya memotong perkataan malaikat pink itu.
"Sasori-senpai tung—"
Terlambat untuk memprotes karena malaikat maut lain yang sempat menjadi rekannya itu kini telah pergi—menghilang dari hadapannya.
Tiba-tiba Sakura merasakan tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit yang teramat sangat menjalari seluruh tubuhnya. Terasa panas, perih, terbakar, bercampur menjadi satu. Seperti ada jarum-jarum kecil yang menusuk-nusuk saraf-sarafnya. Seperti ada tangan besar yang meremas-remas jantungnya. Membuatnya kesulitan bernafas, membuatnya tak mampu lagi untuk berdiri. Ia berlutut, hampir-hampir merangkak. Ia ingin berteriak, namun tak bisa, tak ada suara yang keluar dari mulutnya meskipun bibirnya sudah menganga. Yang bisa ia lakukan hanya menahan mati-matian rasa sakit luar biasa yang belum pernah ia alami sebelumnya.
"Sakura-chan, apa yang terjadi?" tanya Naruto panik, berbeda dengan sikap acuhnya yang sebelumnya. Ia berusaha menahan tubuh wanita itu agar tidak bertabrakan langsung dengan lantai. Kekhawatirannya semakin bertambah tatkala mendapati tubuh sang istri tak lagi meronta-ronta.
"S-Sakura-chan?" ucapnya terbata seraya menggoncang berkali-kali bahu wanita itu. Namun percuma, wanita itu tetap diam dengan menyembunyikan dua bola mata hijau emerald dibalik kelopaknya. Ia memeluk tubuh wanita yang tampak rapuh dan tak berdaya itu.
Kulit wajah tan-nya kian pucat. Kengeriannya semakin menjadi-jadi ketika mata birunya menangkap hal lain di tubuh wanita itu. Bercak-bercak merah nampak terlihat jelas di sekujur tubuh wanita itu, seperti darah yang mengering.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh telapak tangannya. Dengan perasaan takut ia menatap tangannya yang basah dan merah.
'Deg'
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"D-daraaah..."
Darah kental menetes pelan dibalik punggung wanita itu. Warnanya menghitam, membuatnya seperti tak memiliki cahaya. Membuat lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya, menekan punggung wanita itu, agar darah yang keluar dari tubuh wanita itu berhenti meleleh.
Air matanya mulai menetes lagi setelah sekian waktu ia tahan. Bergulir pelan melewati wajahnya, melipir pelan membasahi wajah penuh luka milik istrinya, lalu bercampur menjadi satu dengan tetesan darah yang sempat mengenai lantai.
"Sakura-chan?" desisnya pelan. Wajahnya basah oleh peluh dan air mata. Ia mendekap erat tubuh seorang wanita yang selalu dirindukannya, selalu ia cintai hingga saat ini. Ia menangis seperti seorang kekasih patah hati, seperti gadis cengeng merana.
"Sakura-chan? Bukalah matamu, aku di sini bersamamu," bisik Naruto tepat di telinga wanita berambut soft pink itu, namun tak ada jawaban.
"Aku mencintaimu Sakura-chan, kumohon... kumohon jangan seperti ini,"
Suaranya terdengar parau dan putus asa. Rahangnya mengeras, giginya bergemeretak, ingin marah, ingin murka tapi pada siapa? Siapa yang patut disalahkan dalam hal ini? Pandangannya mulai buram akibat air yang tak pernah ia komando keluar dari mata biru sayunya. Pelukannya semakin erat, jauh lebih erat dari pelukan sebelumnya, berharap agar wanita itu mau membalas pelukannya. Namun sayangnya, tubuh wanita itu masih enggan untuk bergerak.
"SAKURA-CHAAAAAAAAN...!"
Teriakan Naruto setelah itu bagaikan lolongan manusia serigala di saat malam bulan purnama, terdengar memilukan dan memekakkan telinga.
~TBC~
Fiuh~ *ngelap keringat* Alhamdulillah tinggal 1 chap lagi semua akan berakhir, tamat, owari, fin, the end, *Plakk!*
Alhamdulillah (lagi) Rey kini sudah bisa upload file melalui hp. *dasar ketinggalan jaman* Jadi, mulai sekarang Rey gak usah lari pontang-panting ke Warnet lagi deh. Horeeee~ *nebar bunga sakura* *dishannaro*
Maaf kalau chap ini kesannya terburu-buru n maksa gitu. Maaf juga kalau chap ini lebih pendek dari chap sebelumnya, soalnya Rey udah mulai kehilangan feel ngerjain fic ini. *dibantai rame-rame*
Oh iya, jangan sungkan-sungkan buat mengunjungi fic Narusaku terbaru Rey. Judulnya 'Karena Cinta?' *promo gaje* *dilempar kebo*
Yosh! Akhir kata, mind to 'REVIEW' please? *ditampol berjamaah*
~Thanks For Reading~
