Disclaimer: I don't own Gundam Seed/Destiny.
A/N: Setelah terombang-ambing mengenai rate fic ini sehingga re-read ulang ternyata "oh gosh it's so steamy!" *blush* (Author gak sadar *hajaredmassal*)
Dengan sangat terpaksa saya merubah rating ini ke M, itupun saya sudah tanya kanankiri depanbelakang dengan yang berpengalaman di bidang bangunan *hantamedmissil* dan tentu saja para reviewer-lah yg paling membantu saya! (Hanya dengan melihat pada plot dan bahasa sangat sangat mature dan very harsh) :)
Dan hal yang mengecewakan atau melegakan lagi (mungkin) adalah no lemon (sorry guys) maybe lil bit steamy limey and many harsh/strong words. :p
Chapter 3 saya bagi 2 karena sangat panjang. Mungkin minggu depan/weekend (atau lebih cepat lagi, hopefully) akan saya updet :p bersama dengan Leggi Alba (mungkin). Sekalian hemat uang warnet :p *geplakedberjamaah*
Warning 1: Fokus pada Athrun's POV. Sangat OOC, AU, Un-beta-ed, tata bahasa kacau, typo(s), mature plot, dsb.
It is intended for adult readers!
Rate: M for strong language, nudity, mature theme, alcohol, etc. Please beware~
-oOoxnelxoOo-
There is a difference between asking for one favor, and just taking advantage of someone. People need to learn that fine line
-unknown-
-oOoxnelxoOo-
Warning 2: banyak konten dewasa, tolong yang di bawah umur dan yang tak suka untuk tak membacanya!
You've been warning...again!
Please bewise... Enjoy~
-oOoxnelxoOo-
Drrt! Drrt!
"Urg..." Aku merasakan getaran tapi entah apa itu, aku masih malas membuka mataku. Berharap wanita cantik disampingku -menggodaku lagi -untuk entah keberapa kalinya dalam semalam ini kita bermain.
Yeah, it would be interesting!
Drrt! Drrt!
Kenapa rasanya berbeda? Tak terasa...bergairah. Datar. Oke, malah terkesan mengganggu. Kucoba membuka mataku. Shit! Rasanya berat. Dan...damn! Kepalaku sedikit pusing. Seharusnya aku tak minum semalam.
Drrt! Drrt!
Oke brengsek! Asshole! Aku bangun! Seratus persen! Thanks to you, well...itu ledekan. Aku bangkit dan mencoba menemukan 'sang pengganggu'. Kulihat disampingku wanita itu masih tertidur pulas dengan punggung putih nan mulusnya membelakangiku. Selimut hanya menutupi dari pinggang ke bawah.
Sedikit kecewa karena bukan dia yang menggangguku.
Oh well, dalam keadaan biasa mungkin menggairahkan tapi tidak hari ini. Tidak sekarang! Tidak dengan kepala yang sakit akibat kurang tidur dan minuman brengsek itu! Kenapa juga aku minum semalam!? Aku punya alasan untuk itu tapi cukup memalukan. Aku minum agar melupakan sekretaris pirangku tapi malah membayangkannya. Tsk!
Nanti saja itu, aku harus menemukan apapun yang menggangguku tidurku.
Drrt! Drrt!
Benda sialan! Di mana -ah, itu dia tepat di atas meja di sebelah ranjangku -maksudku ranjang milik wanita disampingku. Ponsel sial itu berhenti bergetar tepat saat aku berhasil memegangnya. Ku tekan emosiku untuk tak membanting ponsel layar sentuh itu. Ku lihat jam dan tanggal di lock on wallpaper handphone-ku.
Shit! Shit! Shit!
Aku terus mengumpat dalam hati seraya ku sibak selimut yang membungkus setengah tubuhku tadi. Wanita disebelahku mulai terganggu. Ia mulai mengerang. Ditariknya selimut sampai di atas kepalanya.
Siapa peduli! Aku terlambat. Err... Bukan! Bukan terlambat datang bulan! Geez man, aku seratus satu persen pria sejati!
Dalam hidup Athrun Zala tiada kata terlambat. Aku tak pernah terlambat ke kantor walau sesibuk atau mabuk sekalipun.
Ku perhatikan ada beberapa panggilan tak terjawab dari Yzak, Dearka dan kantor. Membuatku makin mengerang.
Ada satu pesan dari Manna menanyakan keberadaanku. Damn, aku lupa memberitahukannya aku tak pulang. Bukan masalah kunci atau uang belanja, hanya aku selalu memberitahukan Manna bila aku tak pulang. Tentu saja alasanku adalah kunjungan bisnis dan sebagainya. Dan kurasa Manna cukup percaya, lepas benar tidaknya itu. Setidaknya ia tak mengusik masalah pribadi. Kuharap ia tak panik dan menghubungi '911' atau Secret Service maupun tim SWAT.
Gosh. That will be hectic for sure!
Brengsek! Ini hal baru lagi! Dan hal baru itu sangat tak baik. Kusalahkan ini semua pada wanita itu. Bukan! Bukan wanita sexy yang tertidur tanpa sehelai benang menutupi tubuh sintal diranjangnya tapi...dia!
Siapa lagi? Sekretaris baruku. Mungkin segera menjadi mantan?
Wanita sok jual mahal dan munafik.
Wanita yang menolakku secara tegas.
Cagalli...
Cagalli Fuck You-la Athha!
Ku pungut pakaianku yang tergeletak tak karuan di lantai bercampur pakaian wanita disampingku. Ku pakai tergesa-gesa. Ku acuhkan sakit di kepalaku. Ku pakai jam, sepatu. Ku ambil tasku. Kurapikan rambutku. Tak ada waktu untuk ke mampir kamar mandi. Kulakukan saja di penthouse-ku.
Ternyata, suara berisikku berhasil membangunkannya. Karena kudengar ia memanggil namaku lirih. "Athrun?" Sepertinya ia bangkit dari tidurnya. Aku mendengar suara ranjang berdecit.
"Kembalilah tidur," ucapku datar tanpa menoleh seraya mengancingkan kancing terakhir kemejaku.
Ia mengerang protes dengan nada manja, "ayolah sayang~ tak usah bekerja, ayahmu pasti mengerti. Naiklah kemari~" tawarnya sambil menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya.
Aku menoleh. Senyum tipis mengembang di wajahku. Dan...yeah...tawaran yang benar-benar menggoda dan kurasa...bisa dipertimbangkan. Bagaimana tidak!? Rambut sehabis bangun tidur, pandangan penuh nafsu, seringai tipis nakalnya dan tubuh bagian atas yang sengaja tak ditutupinya. 'Sexy,' belum lagi bercak merah dariku semalam yang masih terpampang jelas dan menjadi saksi kegiatan kami semalam.
Oh no,no,no!
Senyumku menghilang.
Not now Zala. Duty comes first. Don't ruined your image and hard works just because of mere woman, yang bisa kau tiduri kapanpun dan kau tinggalkan begitu saja. Ingat, she's not worth for your carrier and life.
-oOoxnelxoOo-
Taken by You
.
.
.
Chapter 3 Part I
-oOoxnelxoOo-
Ku datangi saja dia. Ku perhatikan seringainya makin melebar. Kudekatkan diriku, dengan sergap ia menangkup wajahku dan melumat bibirku ganas. Tangannya mulai bergerilya. Satu tangan meremas halus rambutku dan satu lagi mencoba membuka kancing kemejaku.
Entah sudah berapa lelaki yang pernah tidur dengannya selain aku. Untungnya ia sama sepertiku, tak asal comot dalam hal meniduri pria. Sehingga aku tak perlu khawatir tentang...kesehatanku, walaupun aku selalu memakai pengaman.
Merasakan sendiri semalam sepertinya ia tak pernah melakukan lagi. Well, itu hanya firasatku atau mungkin aku salah. Mengingat aku di bawah pengaruh minuman keras.
Kuakui ia pintar bahkan...ahli dalam hal ini, berciuman sampai kehabisan nafas. Aku bahkan bisa mengulangi kejadian semalam sekali lagi.
Tapi...sungguh bukan waktu yang tepat. Aku bersyukur dengan self control-ku.
Masih berusaha keras membangkitkan hormonku, ia melumat bibir atasku sedikit menggigitnya lalu menjilat bibir bawahku meminta persetujuan memasuki mulutku.
Bagaimanapun juga... Aku tak membalas ciumannya. Mulutku tertutup rapat. Ia akhirnya menyerah dan melepaskan wajahku. Ku lihat wajahnya masam karena 'penolakan' halusku. Sebagai laki-laki 'terhormat' yang telah mengambil keuntungan darinya aku hanya bisa tersenyum tipis. Kurapikan kemeja dan rambutku.
"Aku harus pergi sayang." Ku kecup singkat pipinya dan berhasil membuat raut wajahnya makin suram. "Ini...pakailah sesukamu." Kuletakkan kartu kredit unlimited di meja samping ranjangnya.
Ia menatapku kesal. "Sudah kukatakan padamu Athrun, aku tak butuh benda seperti itu. Aku malah...kelihatan seperti pelacur." Gumamnya sambil menaikan selimut menutupi tubuh bagian atas yang polos.
Aku meliriknya. "Kau tahu aku tak bermaksud begitu." Aku mendesah kecil. Aku sedang tak mood berdebat. Beruntung, ia mematuhiku. Ku langkahkan kakiku beranjak menuju pintu, "aku pergi."
"A-Athrun, bag-bagaimana Ki-Kira?" Langkahku terhenti tepat di depan pintu.
'Bagaimana dengan Kira?'
Kira? Sahabatku? Kira Yamato? Tentu saja siapa lagi? Siapa lagi yang dia maksudkan!
Aku sengaja tak menoleh padanya. "Hmm?" Ucapku datar. Seolah tak antusias dengan pertanyaannya.
"Aku...aku lama tak berhubungan dengannya, jadi...itu..." Aku memang tak dapat melihat ekspresi wajahnya, tapi dari suaranya terdengar sedikit kekhawatiran, kesedihan, dan...kerinduan. Aku sendiri kurang yakin pada hal terakhir.
Aku menghela nafas sekali lagi. Kututup mataku singkat lalu kubuka lagi. "Aku rasa kau sudah mendengar 'berita' itu." Ia tak langsung menjawab. Membuatku berpaling padanya. Wajahnya sedikit tertunduk. "Apa kau baik-baik saja?" Tanyaku sedikit khawatir. Hey! Aku bukan manusia es, walaupun kuakui kami bertemu hanya untuk berakhir di tempat tidur bukan berarti aku tak perduli padanya.
Ia menggeleng cepat. "Athrun, apa kau menyesal?"
Kuangkat alisku. 'Menyesal? Apa maksudnya? Memang apa yang ku sesali?'
"Maaf Athrun." Ucapnya lirih.
Oh tidak, cukup dengan suasana melankolis ini. Aku terlambat tak ada waktu untuk ber'galau'ria. "Dengar." Suaraku yang sedikit tegas berhasil membuatnya berpaling padaku.
Dan...benar, ekspresi menampakkan penyesalan. Aku hanya berharap ia tak menangis. Well, bukan apa-apa, aku hanya malas untuk menghibur seseorang sekarang. Bahkan kurasa akulah yang butuh hiburan saat ini. Lagipula, airmata tak cocok untuknya.
For her fans, no offense please!
"Kurasa semua yang kau ucapkan baru saja adalah yang seharusnya ku ucapkan." Aku melanjutkan. "Apakah aku menyesal? Mungkin. Lalu bagaimana denganmu? Dan...aku juga bersalah padamu. Aku minta maaf. Jangan bersedih oke? Hubungi aku jika kau butuh bantuan. Aku pergi -"
"Tu-tunggu." Potongnya.
Pintu sudah terbuka tinggal melangkah dan... good bye lalu...apalagi? Sigh... "Ya?" Jawabku malas tapi ku coba tutupi agar tak menyinggungnya.
Ya,ya...silahkan menilai aku brengsek, bajingan, egois dan bla-bla-bla. Tapi sungguh, aku sedang terburu-buru. Pernah dengar 'kan kewajiban dulu baru hak? Saat ini aku hanya ingin melaksanakan itu.
"A-aku men-mendengar berita itu. Ap-apakah i-itu benar?" Ku tahan agar aku tak memutar bola mataku.
Lagi-lagi, kupejamkan mataku sejenak, 'berita mengenai pernikahan Kira? Apa yang harus kujawab? Walaupun aku sahabatnya, ia tak membagi kebenaran padaku secuil pun. Kuakui aku sedikit sakit hati. Tapi -tsk... Cukup! Sekali lagi aku memikirkan itu, aku merasa seperti mantan pacar Kira! For God's sake, aku juga bukan babysitter yang mengawasinya 24 jam.'
"Athrun?" Mungkin karena tak kunjung menjawab, ia memanggilku lagi. Terbukalah mata hijauku.
Tanpa memandangnya aku menjawab lugas. "Aku tak tahu. Meski aku tahu, kurasa itu bukan urusanmu. Yang aku tahu, Kira mungkin...sudah tak mempercayaiku...seperti dulu." Ujarku jujur dan...aku pergi begitu saja dari apartement-nya.
Aku tak tahu lagi bagaimana ekspresi wanita itu. Mungkin kurasa aku juga tak perlu mengetahuinya.
-oOoxnelxoOo-
Aku terlambat satu jam lebih tiga puluh menit. Tapi terlalu cepat untuk menganggap hari ini adalah hari sialku. Aku hanya tersenyum kecil seraya menjawab sapaan orang-orang yang berpapasan denganku.
Sedikit kupercepat langkahku saat aku melihat lift. Sesampainya di dalam kutekan angka 15, lantai ruanganku berada. Syukurlah, tak ada siapapun di dalam lift. Kusandarkan punggungku pada dinding dingin mesin kotak berjalan itu. Jujur, kepalaku berputar, masih terasa pusing. Bertambah pening saat Manna mulai 'ceramah' paginya saat aku membuka pintu penthouse-ku. Baiklah, itu bukan ceramah melainkan omelan seperti ibu pada anaknya. Entah karena terburu-buru, sakit di kepalaku atau aku terlalu malas menanggapinya. Aku tak begitu jelas menangkapnya. Tapi kurasa lebih rumit dari mata kuliah standar derivatif keuangan atau rumus algebra di mana hanya huruf x dan y yang bertebaran di antara angka-angka.
Terpaksa kukeluarkan jurus lama mengangakhiri sesi ceramah itu dengan kecupan selamat pagi dan senyum semanis madu. Anggap aku berlebihan tapi -setidaknya itu berhasil. Manna kembali ke dapur setelah aku meminta hot black coffee dan beberapa potong sandwich yang rencananya ku makan di mobil atau kantor.
Sesampainya di kamar setidaknya aku tak perlu khawatir dengan kemeja, dasi dan jas yang aku pakai nanti. Manna dengan pengertian, seperti biasa, telah menyiapkan semuanya, kecuali underwear, tentunya.
Dan ada lagi...call me momma boys, I don't fucking care, ini nasehatku untuk kalian anak-anak, don't skip breakfast okay? Itu penting. Salah satu nasehat ibu yang kuingat jelas dikepalaku. Tapi kuyakinkan sekali lagi, yang tepat untuk panggilan 'momma boys' adalah Yzak.
Why?
Meskipun ia hot-headed bak letusan gunung vulkanik aktif tapi selalu kalah atau mengalah dengan sengaja bila berurusan dengan wanita yang ia sayangi. Ya siapa lagi? Tentu saja ibunya...dan sekarang bertambah satu, yakni istrinya. Aku terkikik kecil mengingat itu, ternyata...cinta dapat mengalahkan dan membutakan segalanya.
Aku...jadi penasaran. Bagaimana rasanya jatuh cinta?
Sedetik kemudian, aku tersentak oleh pikiran konyolku sendiri.
WTF! Damn Zala! Ingat terakhir kali kata terlarang itu. Apakah kau ingin berakhir seperti dulu lagi.
'Sial!'
Ting!
Bunyi itu menyadarkan lamunanku atau mungkin menyelamatkanku? Entahlah. Ku langkahkan kakiku menuju ruangan pribadi yang berjarak beberapa meter saja. Beberapa orang menyambutku serta memberi salam. Sebagian menatapku heran dengan ketidakbiasaanku, sebagian lagi bersikap sangat biasa. Mungkin mereka berfikir, aku baru saja datang dari 'tugas luar'. Kuacuhkan saja mereka secara halus, dengan tersenyum membalas sapaan mereka tanpa kata.
Aku hanya ingin berada di kursiku. Sendiri. Tanpa penganggu. Tebali kata 'sendiri', bila perlu garis bawahi itu. Hanya untuk meredakan sakit sialah ini.
Barulah aku akan mengecek ulang jadwalku hari ini bersama sekretaris baruku yang can -Damn! Bagaimana aku bisa lupa dengan apa yang kulakukan -err...ralat maksudku -yang kami lakukan kemarin!
Tentu saja si pirang keras kepala tapi menggairahkan dan sayang untuk dilewatkan itu pasti sudah mengundurkan diri. Bagaimana bisa aku melupakan itu. Tsk, sebenarnya berapa banyak aku minum kemarin, sampai membuatku lupa hal ini.
See...told ya, dari jauh, mata emerald-ku tak melihat keberadaannya. Kursi itu memang terisi oleh seseorang berambut pirang tapi bukan dia, bukan Cagalli melainkan...
"Ms. Gladys?" Jelas ini membingungkanku. Untuk apa sekretaris kebanggaan ayah berada di sini? Entah kenapa aku tak suka kelanjutannya.
Menyadari siapa yang memanggilnya ia segera bangkit dari kursi, menyambutku dengan senyum dan begitu hormat. "GM Zala. Selamat pagi."
'Selamat pagi? Apa dia meledekku? Aku terlambat, jelas ini tidak pagi lagi!' Ku balas saja dengan ramah, tak ada salahnya 'kan!? "Selamat pagi. Tolong...Athrun saja. Lalu, apa yang Anda lakukan di sini?"
"Saya minta maaf atas kelancangan saya, tapi perintah dari Tuan Zala -maksud saya Presdir Zala agar Anda segera ke ruangannya segera setelah Anda tiba."
'What!? Aku baru pertama kali ini terlambat dan Pak Tua itu ingin menegurku secara langsung!?' Aku mencoba agar senyumku tetap mengembang dan sikapku tetap terlihat tenang. Lagipula ini bukan akhir dunia. Hadapi saja. "Baiklah. Terima kasih Ms. Gladys." Saat aku beranjak pergi ia membuka suara.
"Sama-sama...Athrun. Apakah ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanyanya ramah, menunggu dengan sabar.
Seharusnya itu perkataanku bukan. Kalau dia hanya menyampaikan pesan sesimpel itu tak perlu ia sendiri datang kemari. Cukup kurir atau sekretaris ayah yang lain atau OB/G atau cleaning service atau...benar-benar ada hal penting yang harus ayah sampaikan.
Firasatku mengatakan ini ada hubungan dengan Cagalli sang sekretaris aktratif yang menolakku tegas lalu mengundurkan diri Yula Athha.
'Selain keterlambatanku, pasti soal pengunduran dirinya. Fucking shit! Aku akan menerima ceramah panjang lagi hari ini. Daripada itu, lebih baik segera pecat saja aku!' Kurasa...itu sangat lebay! Daripada berfikir tak jelas lebih baik kutanyakan pada wanita pirang di hadapanku ini. "Boleh aku tahu, apa yang ingin ayah bicarakan padaku? Kelihatannya penting? Apakah tak bisa di tunda? Aku harus melihat jadwalku terlebih dahulu hari ini." Elakku bertubi-tubi berharap ia mau menjelaskan padaku atau sekedar memberi sedikit petunjuk.
Ia hanya tersenyum lebar lalu menjawab, "maaf Athrun aku benar-benar tak tahu."
Jawabannya sedikit terduga, tak membuatku terkejut juga. "Baiklah." Saat aku akan kembali meneruskan langkahku. Ku lirik Ms. Gladys kembali duduk di kursi sekretarisku. Alisku mengernyit. Apa dia pengganti Cagalli untuk sementara ini?
'Kenapa tak kutanyakan saja apa susahnya?'
Tunggu. Ku rasa tak ada salahnya Ms. Gladys menjadi pengganti Cagalli. Dari segi pekerjaan, jangan di tanya, dia ahlinya. Kemampuannya sama hebat dengan Ms. Murrue La Flaga.
Tapi...
Cagalli berbakat dan cerdas dalam waktu singkat ia bisa beradaptasi dengan pekerjaannya.
Oh ya, ada yang bertanya soal penampilan Ms. Gladys? Well, wanita usia 30-an menginjak 40 kurasa, cantik, seorang janda dan kuakui cukup...hot! Ku bayangkan saat muda ia sebelas duabelas dengan Cagalli. Apalagi bagian, ehem, dadanya. Hampir sebesar Mrs. La Flaga dan Meer, padahal mereka belum mempunyai anak.
Alisku terangkat satu dan seringai tipis muncul di wajahku. Kau tahu 'kan...bila wanita mempunyai anak maka maka bagian itu akan semakin...err...besar, mengembang? Lalu kenapa tak kukencani? Apa pertanyaan itu terlintas di benak kalian? Mengingat ia tidak terikat pernikahan dan cukup hot? Kalau benar tolong lupakan! Ia dan aku profesional. Aku tak mau cari masalah dengan ayahku. Ia sudah bekerja lama sekali pada ayah dan perusahaan ini. Ia seperti tangan kanan ayah.
Apakah ayahku dan dia pernah err...tidur bersama? No! Bahkan aku bisa naik ke Menara Eiffel dan berteriak bagai orang gila bahwa mereka berdua murni atasan dan bawahan! Sahabat! Tidak lebih! So... Jangan pernah ada bayangan itu!
Ayahku seorang loyalis sejati! Ayahku adalah fans berat dari Ibuku. Bahkan di usia mereka yang tidak muda, mereka tidak malu menunjukkan their lovey-dovey scene yang kadang membuatku memutar bola mataku dan kadang hampir muntah.
Dan aku tak mau cari masalah dengan anak lelakinya. Dan yang terpenting kami hanya saling mengagumi, kami saling tidak menginginkan.
Tidak seperti apa yang kurasakan pada si pirang yang lain, Cagalli Yula Ath-
Um... Kenapa aku memikirkannya!? Shit. Hapus namanya. Hapus wajahnya. Hapus ciuman menggairahkan darinya. Hapus kulitnya yang halus. Hapus sentuhannya di tubuhku. Oh Tuhan, kenapa aku harus mengingat bagian itu sekarang, Ms. Gladys ada di depanku. Atau mungkin karena rambut pirang mereka yang menyebabkan aku mengingatnya kembali?
The Hell with fucking blonde!
"Athrun? Apa ada yang kau butuhkan lagi?" Suara khas Ms. Gladys menginterupsi pikiranku.
Aku berkedip cepat. Kurasakan pipiku sedikit hangat. Fuck! "Ah y-ya ta-tapi...ku-kurasa ti-tidak." Congrat Zala, kau memperbodoh dirimu sendiri. Lihatlah betapa dungu dan konyolnya dirimu.
Untungnya Ms. Gladys tak memperpanjang dan menanyakan sikapku yang konyol. "Sepertinya kau butuh kopi hitam?" Sarannya seolah dapat membaca kebutuhanku.
Benar! Aku butuh itu. Lagi. Dan aspirin... Kurasa. "Ya." Jawabku singkat dan cepat. Aku benar-benar ingin segera pergi ke ruanganku.
"Oh ya, Athrun, kau benar tak ingin menanyakan mengapa aku berada di sini?"
Oh, great, sejak kapan ia menjadi mind-reader, seorang cenawang!? Sebenarnya sejauh mana ia dapat membaca pikiranku? Kuharap jangan sampai pemikiran kotorku tentangnya juga terbaca olehnya. Oke tenang Zala. Remember cold, calm and collected! Ku pasang wajah stoic-ku. "Mungkin..."
"Aku pengganti Ms. Athha untuk satu hari ini." Ujarnya, membuatku makin bingung. Hanya satu hari, dia menjadi pengganti Cagalli? Lalu besok? Seterusnya? Apa begitu cepat perusahaan ini menemukan penggantinya? "Ah iya hampir lupa..." Terlihat ia mencari sesuatu di laci meja seraya aku mendekati mejanya kembali. Ia memberikan selembar amplop putih tersegel dan dua lembar note berwarna kuning padaku dengan senyum lebar.
Alisku terangkat. Sangat jelas aku memandangnya bingung. Tapi bila mengingat soon-to-be-my-ex-secretary (maybe) aku takkan akan terkejut pada isinya kelak sebelum aku membuka dan membacanya.
"Note itu pesan dari Tuan Elsman dan Manajer Joule. Mereka sudah menghubungimu di ponsel pribadimu tanpa nampaknya kau begitu sibuk pagi ini." Pandangannya sedikit menyindirku.
Aku hanya mengucapkan kata "ah" tanpa membuat suara. "Akan kuhubungi mereka nanti." 'Itupun jika isi pesan ini sangat penting! Mengingat Dearka pasti bisa ditebak isi pesannya, sedangkan Yzak pasti cuma ingin meminta tanda tanganku saja pada laporan keuangannya.'
Setelah itu, ia menjadi sedikit serius, "dan amplop itu dari Ms. Athha. Kelihatannya sangat penting ia memintaku agar segera kau baca setelah kau terima."
Aku menyipitkan mataku pada amplop putih ditanganku. 'Apa menariknya surat pengunduran diri? Paling juga permintaan maaf, terima kasih atau bla-bla-bla.' Meskipun begitu kenapa aku merasa ada perasaan yang aneh."Apakah divisi HRD sudah mendapatkan informasi ini?" Tanyaku sambil mengangkat surat itu.
Ms. Gladys nampaknya sedikit terkejut. Ia menatap seolah "apa kau bercanda?" Dan yang jelas aku tak bercanda. "Hmm... Mungkin?" Jawabnya ragu seolah untuk apa HRD harus menerima surat macam ini. Atau mungkin ini imajinasiku?
Kusudahi saja daripada aku tampak makin idiot di matanya. "Baiklah Ms. Gladys terima kasih, dan tolong kopinya." Aku mengedipkan mata dan masuk ke ruanganku yang tenang... Mungkin?
-oOoxnelxoOo-
Aku tak langsung menuju kursi 'panas'ku di balik meja mahoni besar dan lux di antara kaca besar dengan pemandangan tengah kota Aprilius yang tak pernah tidur itu.
Aku lebih memilih sofa empuk tepat di tengah ruanganku. Kurebahkan tubuhku yang lelah. Kupijit pelipisku ringan. Seharusnya aku tak minum di saat weekday. Dan melakukan kegiatan ekstra non-stop layaknya semalam.
Kuangkat amplop itu tepat di mataku. Ku terawang, ku bolak-balik, ku raba layaknya meneliti keaslian selembar uang kertas. Lalu... Kulemparkan saja pada meja di hadapanku.
Nanti saja kuurus!
Mungkin seharusnya kemarin aku lebih bersabar. Lebih berhati-hati. Harusnya aku lebih pelan-pelan menghadapinya. Kuakui otakku berhasil mempengaruhi daya kontrolku tapi tidak dengan hormon dan terutama tubuhku.
Setiap kali melihatnya. Setiap kali memperhatikannya. Setiap kali mendengarnya. Tanpa perintah, seluruh tubuh ini serasa dikendalikan olehnya. Membutuhkan sentuhan lembutnya.
Sigh...
Sampai sekarang aku masih bisa merasakan sentuhan bibirnya di bibirku. Begitu lembut, begitu...basah, begitu...addictive, begitu tak teralakkan, begitu...menginginkanku, begitu...
Aargh! Fuck Cagalli! Apa yang kau lakukan padaku! Sebenarnya apa yang terjadi padamu!? Aku bersumpah kau juga menginginkanku! Aku bersumpah aku dapat merasakan saat kita berciuman. Bagaimana kau melumatku bibirku seolah takkan ada hari esok. Meskipun awalnya kau menolakku dengan tak membalasnya.
Aku jarang merasakan madu.
Aku tak pernah merasakan kokain dan teman-temannya.
Yang ku tahu Cagalli mempunyai sentuhan manis dan membuatmu...ketagihan. Meminta lagi dan lebih lagi...
Tapi...
Tanganku terkepal, kuhantamkan pada sofa yang kududuki.
"Brengsek! Sial! Apa yang kau lakukan padaku!?" Erangku menggema ke seluruh ruangan. Bersyukur ruangan ini sedikit kedap suara bila tidak, entah berapa pekerja di luar sana mendengar rasa frustasiku.
Tok! Tok!
Kudengar suara ketukan pintu dan tanpa menunggu balasan dariku Ms. Gladys masuk dengan nampan berisi secangkir black coffee sesuai permintaanku.
Aku sedikit panik. Tak mungkin aku membiarkan ia melihat sesuatu mengeras di bawah sana akibat fantasy liarku dengan Cagalli tadi.
Akting di mulai!
Saat ia masuk, aku segera beranjak ke kursi 'kebesaran'ku. Kalau kemarin aku mengutuk meja mahoni ini karena menjadi pengganggu antara aku dan Cagalli tapi sekarang... Menjadi penyelamatku karena kalau tidak Ms. Gladys bisa melihat hasil imajinasiku tadi.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku harus berhadapan lagi dengannya. Sungguh memalukan.
Di balik hormonku yang sedikit memuncak aku mencoba tenang. Benda ini perlu ditenangkan dan Ms. Gladys harus segera pergi dari sini. Kenapa juga harus Ms. Gladys sendiri yang mengantarkannya? Di mana office boys/girls? Apa mereka minta di pecat?
Sigh...
Aku ini sebenarnya kenapa? Ingin rasanya membenturkan kepalaku ini ke dinding terdekat.
Sigh...
Lebih baik, aku pura-pura saja sibuk dengan kertas, map, laptop dan whatever yang ada di meja ini. Daripada berpikir makin tidak jelas arahnya.
Kudengar suara Ms. Gladys seraya ia mendekati mejaku. Which is... Not good! "Kopimu Athrun."
Sebelum ia mengitari mejaku, aku membuka suara. "Taruh saja di sana." Sengaja aku tak menoleh padanya. Kupura-pura saja menandatangi dokumen entah apa itu, aku sendiri tidak melihatnya. Kuharap isinya tak penting.
"Athrun...bukan maksudku ikut campur masalahmu." Mendengar perkataannya itu membuat kepalaku terangkat. "Lebih baik kau membaca dulu isi pesan Ms. Athha." Kuikuti pandangannya yang jatuh tepat pada sesuatu di samping kopi pada meja sofa.
Ya, amplop itu. Surat pengunduran diri sekretarisku yang hanya berumur sehari itu.
Aku mendesah kecil. "Kurasa nanti saja." Jawabku datar, terkesan tak tertarik.
"Athrun..." Entah kenapa nada bicaranya barusan seperti menasehati anak lelakinya berumur delapan tahun. "Kau ada masalah dengannya atau...kau memang...telah bermasalah dengannya?"
Ting tong! Tepat sekali! Sial, apa aku begitu terbaca?
Aku memandangnya seolah berkata "dari mana kau tahu".
Ia tertawa kecil melihatku. "Woman's insting sayang. Dan record-mu sebagai playboy lajang paling diinginkan oleh semua wanita sudah tersebar ke seantero kota ini."
Oh, Yeah! Aku bukan playboy hanya... Selektif. Dia memang memperlakukanku bagai anak lelakinya. It's hurt my pride. Tapi kuterima pujiannya sebagai the most wanted bachelor ever.
Tapi... Itu semua privacy-ku so...
"Kecuali itu surat cinta dan permintaan maaf darinya akan kupertimbangkan." Candaku.
Ia hanya mengangkat bahunya. Senyumnya makin melebar. "Mungkin. Tapi kurasa Ms. Athha bukan tipe wanita yang suka mengejarmu atau tipe wanita yang mudah didekati pria sepertimu..."
Baiklah, kurasa aku mendengar nasehat ayah dan ibuku melalui Ms. Gladys. Terlihat sekali aku memandangnya dengan tatapan "what the fuck!". Jujur aku bosan mendengar hal ini!
Lalu... Mengapa ia bisa menilai Cagalli dalam waktu yang singkat? Tsk, wanita sama saja. Dekati, rayu, dan kau akan mendapatkanya. See...simple.
Well, kecuali... Cagalli. Dia agak sedikit tidak simpel.
Kurasa sudah cukup aku mendengar bullshit ini. "Ms. Gladys tolong sampaikan pada Ayahku maksudku Presdir Zala aku akan ke ruangannya sekitar...lima belas menit lagi." Kuberikan senyuman ala pengusaha muda-ku. Ini caraku untuk mengusirnya secara halus.
Seakan membaca pikiranku ia mengangguk sekali. "Baiklah Athrun aku mengerti akan segera kusampaikan. Apakah ada lagi yang kau butuhkan?" Tanyanya dan ku jawab dengan menggeleng sekali. Saat akan berbalik, ia berkata sekali lagi dengan senyum tipis. "Satu lagi, for some man, woman is indeed complicated with their feeling but...for some woman, man is the one who caused that."
And then she left, meninggalkan aku dengan qoute yang membuatku terbengong. Setelah kembali dengan logikaku. Kukatakan ini pada diriku sendiri. "Men are simple. Kalau itu sampai terjadi..." Kurebahkan tubuhku di kursi senyaman mungkin lalu kuputar menghadap pemandangan Aprilius City. Mataku menyipit dan aku menyeringai kecil. "...Aku hanya perlu...meninggalkannya saja."
'Karena...masih banyak yang menginginkan seorang Athrun Zala di luar sana.'
TBC
Pojok Bacotan/Curcol Nel: Siapakah wanita itu? Hayooo... Siapa? Sia-*plak* malah balik nanya'? -..-a"
Membosankan ya?! *pundung* Maaaaaaaaaaf belum ada Cagalli. Part berikutnya ada AsuCaga kok! :) apakah Cagalli memang benar mengundurkan diri?
Please ripiu :) *bungkuk2* review kalian bikin sy makin semangat! Berkat ripiu kalian semua, sy mendapatkan ide baru dan pengetahuan sy bertambah :) Makasi uda share pengalaman & pengetahuan kalian *hug*
Yosh!
Next part, Ngintip dikit joz! ;p
"Jadi? Kau lebih memilih untuk diam di sana sepanjang hari atau menjelaskan padaku apa yang kau lakukan dengan ayahku di ruangannya?" Nadaku terkesan tegas tapi aku tak meninggikan suaraku.
.
.
.
"Oh ayolah Cagalli. Seperti yang kau katakan padaku tadi. Kau mengklaim bahwa aku berhutang padamu. Di dunia ini tak ada yang gratis sayang. So, spill it out!"
.
.
.
"Sentuh aku."
Special Thanks to:
Pandamwuchan: my beibh-beh I miss yu :3 :'( kenapa semua jadi merah? Jangan mimisan! Siapa yang akan menjaga dan mengobatimu beibh, tempat yu nan jaoh di sana :( dhek Panda klo gak kuat baca jangan dipaksakan apalagi sampe korek2 hidung dan angkat sayur lodeh tetangga! :p ripiu yu semangatku. Semua review dari readers semangat tersendiri buat Author so gak da ripiu gj /sok demokratis :p/ anyway I miss your fic :'( Mana soul? Mana LP? Segera bangkit dr hibernasihiatusmu! Semangka! Makasi ripiunya~ lov ya~ mampir lagi :) (klo kuat :p)
Dewi Natalia,
Ichirukilover30,
Cyaaz/Wolfy/Puppy,
Popcaga,
Ryuukou/GirlyHorsly,
Asuka Mayu,
NN: sy harus panggil apa nih? NN-san? :p maaf ya... Err... Echi/Hentai? Lol. Ngakak abis sy. XD maaf ya menciptakan Athrun sperti itu, semua gara2 otak sy yang pervy :p. Anyway makasih ya ripiunya~ mampir lagi :)
Lezala/Horiblesista,
Mrs. Zala,
Lennethia,
Reinaryuzaki/Bunny/MyTwin,
Yang nge-fave and nge-follow,
And Silent Readers (Kalau Ada).
*bow to yu all*
Many Thanks,
Semangat!
Nel. ^o^)9
