Disclaimer: I don't own nothing except TbY.
A/N: bagian kedua chappie tiga :)
Special Thanks to: Ryukou/Horsy: yes she's his secretary, thanks for your review J come again J, Dewi Natalia, Mrs. Zala, Popcaga dan NN: Ospek? Ganbatte J sesuai janji sekarang sudah updet J makasih reviewnya, mampir lagi ya J;buat review bagian pertama *hug*
Warning: Fokus pada Athrun's POV, Sangat OOC, AU, Un-beta-ed, tata bahasa kacau, typo(s), mature plot, banyak konten dewasa, tolong yang di bawah umur dan yang tak suka untuk tak membacanya!
It is intended for adult readers!
You've been warning!
Please bewise~
Rate: M for strong language, nudity, mature theme, alcohol, etc.
Please beware~
Enjoy~
-oOoxnelxoOo-
Previous:
Saat akan berbalik, ia berkata sekali lagi dengan senyum tipis. "Satu lagi, for some man, woman is indeed complicated but...for some woman, man is the one who caused that."
And then she left, meninggalkan aku dengan qoute yang membuatku terbengong. Setelah kembali dengan logikaku. Kukatakan ini pada diriku sendiri. "Men are simple. Kalau itu sampai terjadi..." Kurebahkan tubuhku di kursi senyaman mungkin lalu kuputar menghadap pemandangan Aprilius City. Mataku menyipit dan aku menyeringai kecil. "...Aku hanya perlu...meninggalkannya saja."
'Karena...masih banyak yang menginginkan seorang Athrun Zala di luar sana.'
.
.
.
.
.
.
.
Aku tepat di depan ruangan Ay -ehem- Presdir saat ini. Tanpa perlu mengetuk aku segera masuk. Tentu saja dengan ijin, sekretaris Ayahlah yang mengkonfirmasi kedatanganku. Walaupun aku anak kandung Presdir perusahaan ini, tetap saja aku karyawan di sini. Dan aku harus mengikuti prosedur dan protokol yang ada.
Wangi khas bau lembut cemara, mint dan aroma therapy khas ruangannya Ayah, segera menyeruak pada indera penciumanku setelah aku membuka double door ruangan ini.
Betapa terkejutnya aku ketika Ayah -yang tersenyum dan mengalihkan pandangannya singkat padaku saat aku menutup pintu, ternyata tengah menerima tamu, sangat jelas seorang wanita walaupun posisinya membelakangiku. Berambut pirang lurus tergerai sebahu.
Pirang?
"Duduklah Athrun." Ayah mengisyaratkan kursi di samping wanita itu yang tetap tak bergeming. Kubalas dengan senyuman dan anggukan sekali.
Pirang? Ku ulangi lagi itu dalam pikiranku.
Geez, ada apa dengan hari ini? Sejauh mataku memandang selalu kutemukan wanita berambut pirang. Atau mungkin satu kantor ini isinya wanita rambut pirang? Sejak kapan kantor ini berubah menjadi milik C. Grey [1] Atau sistem syarafku sudah mulai terganggu? Atau mungkin kopi pahit tadi kurang ampuh menghilangkan sakit kepalaku? Atau Cagalli sudah menguasai alam bawah sadarku?
Kurasa...tidak. Karena saat aku berjalan mendekati mereka. Aku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku. "Ca...Cagalli?"
Ia mendongak, memberikan senyuman bawahan pada atasan seramah mungkin. "GM Zala, selamat pagi." Sikapnya yang begitu tenang membuatku sedikit risih. Seakan tak terjadi apapun diantara kami. Seolah wajah tampan dan ciumanku tak berpengaruh padanya.
'Permainan apapun yang diperankannya kali ini... She's sure a really good actreess!'
Taken by You
.
.
.
Chapter 3 part II
Kulirik ayah mulai curiga dengan sikapku yang seperti melihat hantu siang bolong ini. Zala segera rubah sikapmu ini atau ayahmu akan menanyakannya! Dan kau akan berakhir dengan ceramah season tiga hari ini, dan sialnya ini bahkan belum setengah hari!
C3 (Cold, Calm and Collected) muncullah! needs you babes! Kalo Cagalli jadi milikku it would be 'C4'! Um... Kurasa cukup khayalanku! Kembali ke bisnis awal...
"Pagi, Cagalli." Aku duduk tepat di kursi sebelahnya. "Kau makin bersinar hari ini." Pujiku seraya mengedipkan mata.
Memang kau saja yang bisa bersikap seperti itu huh? Kenalkan Athrun Zala, lelaki dengan segudang bakat.
Kulihat senyum terpaksanya itu sedikit berkedut. Matanya menatapku sinis. Sekaligus menggoda. Perilakunya itu makin membuatku bergairah. Feels so alive again. Entahlah saat menggodanya terasa sangat... Menarik. Seringaiku muncul sempurna hanya untuknya...
My goddess, Cagalli...
Mungkin ia berpikir akan mudah mengalahkan seorang Athrun Zala? Pfft, in your dream hon. Bertapalah sepuluh ribu tahun untuk dapat membuatku berlutut dan mencium kakimu!
Sebenarnya apa yang dilakukannya di sini? Berpamitan dengan ayahku? Aku hampir tertawa bila itu terjadi. Seorang karyawan rendahan yang bahkan belum genap seminggu bekerja berpamitan dengan seorang Presdir!
Fuckinglarious!
Ia bercanda 'kan!?
Tunggu! Kalau hanya itu rencananya mengapa ayah yang notabene seorang Presdir membiarkan waktunya terbuang percuma menerima wanita ini?
Alisku berkerut. Sudah berapa lama ia duduk di sana bila hanya sekedar mengucapakan selamat tinggal? Atau jangan-jangan... Bukan hanya itu saja rencananya? Atau ia mengadukan perbuatanku kemarin? Atau -
Ayah berdehem untuk menghentikan perang batin kami. Entah ia menyadarinya atau tidak.
"Athrun." Ayah memanggil namaku tapi mata emerald-ku masih menatap wajah Cagalli yang kini berpaling menatap Ayahku. "Harus kuakui, aku sedikit terkejut mendengar hari ini kau terlambat."
Oh crap! Aku lupa mencari alasan akan hal itu? Atau haruskah kukatakan yang sebenarnya? Yeah riiiiiigghhhhtt... Yang benar saja, sama saja aku bunuh diri dengan memasukkan kepalaku ke kandang macan dengan sukarela!
"I-itu...so-soal...i-itu...ak-aku -"
"Soal itu, Ms. Athha sudah memberitahuku. Kau tak usah terkejut begitu Athrun." Ayah memberitahuku di selingi dengan tawanya.
Ku pandang wanita di sebelahku yang masih menatap lurus ke depan, menghindari tatapanku. Perkataan ayah tadi berhasil membuatku makin bertanya-tanya. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang dikatakannya pada ayah?
Kuikuti saja permainan gadis bermata indah itu. "Ya. Aku tak terkejut, hanya...tak menyangka saja." Jawabku melirik wanita di sebelahku.
"Bisa kita mulai." Ayah bertanya err...tepatnya 'menginstruksikan' kami.
Kami?
"Ya Presdir Zala." Cagalli menjawab mantap terkesan serius. Seakan ia paham dan mengerti maksud 'perintah' ayah.
Kalau hanya sekedar membahas tentang pengunduran diri, tidakkah ini terlalu berlebihan?
Apa mereka merahasiakan sesuatu? Atau aku melewatkan sesuatu? Atau... Mereka ingin memberikanku kejutan? Dengan tiba-tiba berteriak "surprise" lalu muncul beberapa orang entah darimana disertai dengan terompet dan taburan kertas warna-warni bak tahun baru?
Membayangkannya saja sangat konyol. Lagipula hari ini bukan ulang tahunku ataupun hari spesial lainnya.
"-thrun?"
"..." Samar aku mendengar namaku di sebut. Mungkin perasaanku.
"Athrun." Sial...kurasa tidak. Ayahkulah yang memanggil namaku.
"A-ada apa?" Selama aku berpikir dan tak memperhatikan sekitar. Sehingga Cagalli dan ayah sangat intens menatapku.
Alisku terangkat, 'apa aku melewatkan sesuatu?'
"Sepertinya, GM Zala sedang kurang fit hari ini karena lembur semalam dan pertemuan mendadak dengan klien pagi tadi, Presdir Zala." Cagalli berkata pada ayahku.
'Ap-apa? Lembur? Klien? Klien apa? Sejak kapan aku lembur? Ap -Ah! Begitu rupanya?' Tiba-tiba saja pikiranku 'ter-connect' akan sesuatu.
Kepingan puzzle misteri keberadaan Ms. Gladys di tempatku, keberadaan Cagalli di sini serta ayah yang tak menanyakan alasanku keterlambatanku mulai terkumpul.
Kusipitkan mataku. Perempuan ini bukan gadis biasa. Ia lebih cerdas dari yang kupikirkan. Tapi untuk apa dia melakukan itu?
Ayah mengangguk kecil dan perlahan seraya memperhatikan kondisiku seolah aku adalah pasien yang dengan penyakit akut. Aku menahan diri agar tak memutar bola mataku geli.
"Kurasa kau benar, Ms. Athha." Ujar ayahku. Sontak aku terkejut.
WTH!
Ekspresiku seperti ikan mas koki yang sedang berjemur terlalu lama!
Belum sempat aku membalas, ayah menyela lagi. "Baiklah. Kita akhiri saja pertemuan kita hari ini." Ayah menggelengkan kepala padaku. Lalu berpindah pada Cagalli, ia malah memberikan senyuman ramah dan anggukan.
WTFH!
"Kau saja yang menjelaskan semua pada Athrun. Biar kuhubungi Gladys agar kembali ke ruanganku. Jika kalian tak keberatan, silahkan kembali ke ruangan kalian." Ayah berkata lagi padanya, semakin tak memberikan kesempatan padaku. Dan aku merasa seperti pajangan koleksi kristal milik ibuku di rumah. Diam tak dianggap, hanya sebagai hiasan mempercantik ruangan.
Dan tolong jangan katakan aku cantik, aku agak alergi dengan kata itu.
Kembali lagi, pada aku, ayah dan wanita cantik misterius di sebelahku. Misterius? Maksudku yang ada di pikirannya masih misteri bagiku.
Saat ayah menatapnya, kubayangkan ia bagai goddess yang turun mandi ke bumi. Yeah, that would be interesting. Membayangkan tubuh mungilnya yang halus itu tanpa ditutupi sehelai benang pun. Dan memperlihatkan setiap lekuk -Whoa! I-itu ter-terlalu hiperbola! Tak mungkin si tua itu berani berpikir begitu. Mau mati cepat di tangan ibuku!? Lebih tepat bila itu adalah...imajinasi milikku.
Berhenti bersikap idiot Zala! Fokus dengan topik dihadapanmu.
Intinya ayah begitu ramah saat menatap Cagalli dan begitu...bingung, heran dan...sedikit kecewa(?) Saat menatapku.
Kenapa aku merasa terdiskriminasi.
Sigh...
"Baik Presdir Zala. Saya akan menginformasikan segalanya pada GM Zala." Ia sedikit melirikku ketika mengucapkan itu.
Sigh...
Bahkan lirikannya begitu...menggoda.
Wa-wait! Ini salah. Seharusnya aku masih marah padanya.
"Terima kasih Ms. Athha. Dan...Athrun -" Ayah serius memandangku. Aura 'Presdir Zala' terasa menusuk padaku. Membuatku diam-diam menelan ludah di balik senyumku. Ayah memandangku seolah berkata "aku tahu apa yang telah kau perbuat pada sekretaris barumu" atau "perbuatanmu tak bisa di toleransi lagi". Kurasa aku harus menjawab dengan "Cagalli juga tak menolakku" atau "itu yang terakhir kalinya...mungkin". Melainkan ia berkata, "Athrun lakukan yang terbaik dan buatlah tim yang hebat dengan Ms. Athha."
Aku mengerjap sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
THE HELL!
'Ja-jadi di-dia tidak meng -'
"Terima kasih Presdir Zala." Kudengar Cagalli berkata. Lalu melirikku yang masih tercengang.
Thanks to her, ia membuatku tersadar. "Ah -y-ya. Te-terima Ka-kasih Ay -ehem- Presdir Zala."
Oficially aku kelihatan makhluk super idiot hari ini!
"Good day Athrun, Cagalli." Dengan senyum ramah ayah mengakhiri pertemuan kami.
Eh!?
'Ca-Cagalli? Se-sejak kapan ayah memanggil nama depannya sok akrab begitu?'
Aku hampir gila bila mereka tak segera menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Dan aku harus bersabar mendengar penjelasan dari...gadis pirang ini.
-oOoxnexoOo-
Aku menghela nafas ringan.
Selama 'perjalanan' ke ruanganku, kami memilih diam. Tak berbicara dan menjaga jarak. Maksudku, dialah yang menjaga jarak. Ia bahkan tak mau melihatku sama sekali.
Sedangkan aku pun masih malas menanyakan apa maksud semua ini. Bukan tempat yang tepat. Baru sekarang aku merasa save by the headache, karena berkat itu aku merasa kehilangan mood.
Pada saat di depan ruanganku. Ku dengar dan ku lihat ia langsung menuju Ms. Gladys yang menyambutnya bagai sepasang sahabat yang lama tak bertemu. Meninggalkanku berdiri dungu di belakang mereka. Sejak kapan mereka menjadi sok akrab begitu.
Aku memutar mataku bosan. Haruskah aku berkata 'wow' dan bertepuk tangan atas aktingnya yang luar biasa?
Tahan.
Aku menunggu sampai kami berada di ruanganku. Tertutup. Sendiri. Just two of us.
Sabar.
Tunggu sampai Ms. Gladys benar-benar pergi dari lantai ini.
Senyum.
Jujur, ini hal paling sulit kulakukan. Aku memang tersenyum tapi...palsu. Setidaknya kelihatan sempurna di mata orang lain.
Then after a few chitchat...
Akhirnya, hanya kita berdua. Aku dan dia. Athrun dan Cagalli. Di ruanganku. Hanya berdua. Tertutup. Tak terganggu apapun.
Ia tak langsung duduk di kursi atau sofa di ruanganku melainkan berdiri sangat bangga tepat di tengah ruangan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya dan tanpa senyum.
Sedangkan aku sudah pada posisi paling nyaman di kursiku. Menunggu Cagalli agar melakukan hal yang sama. Tapi wanita masih bersikeras untuk berdiri di sana.
"Jadi? Kau lebih memilih untuk diam di sana sepanjang hari atau menjelaskan padaku apa yang kau lakukan dengan ayahku di ruangannya?" Nadaku terkesan tegas tapi aku tak meninggikan suaraku.
"Hanya...jika kau berjanji tak akan mengulangi perbuatanmu kemarin padaku." Ia menantang balik dengan mata bersinar dan berapi-api. Mata favoritku. Penuh dengan semangat.
Ho... Jadi ia sekarang berani padaku secara blak-blakan? Interesting. Seringaiku muncul kembali. Aku suka tantangan. Aku suka wanita keras kepala tapi munafik ini.
"Janji?" Tanyaku malas. Untuk apa aku berjanji? Tak ada keuntungannya buatku?
Entah kenapa rasa sakit kepalaku tiba-tiba menghilang. Mungkin karena aku merasa akan ada sesuatu yang membuatku... Excited?
Ia menggigit bibir bawahnya sekali lagi. Dari sikapnya yang terkesan angkuh malah sekarang terlihat sedikit tegang. Ingatkan aku untuk tak menjilat bibirnya sekarang. "Ke-kemarin itu...sebuah kesalahan. Ke-kesalah itu takkan terulang lagi."
Kesalahan? Kemarin? Pikiranku mencoba menerjemah maksudnya -Oh, itu.
"Apa soal ciuman itu?" Tanyaku santai dan datar.
Ia merona.
Kurasa mendengar kata "ciuman" membuatnya seperti itu. Sungguh menarik. Berani dan pemalu sekaligus. Kutahan tawaku mati-matian.
"Be-benar." Saat ini ia melihat lurus pada mata emerald-ku. "Hal itu takkan terulang lagi. Aku berjanji, karena itu berjanjilah -"
"Aku tak mau." Jawabku tegas. Sangat tegas.
Matanya membulat. Mulutnya sedikit terbuka. Tentu saja ia terkejut dengan pernyataanku tadi.
"Apa?"
"Kau sudah mendengarnya. Apa kau perlu mendengarnya lagi." Kusilangkan kakiku, jemariku bertautan di pangkuanku. Senyum kemenangan kusunggingkan dengan bangga.
"Aku tidak akan berjanji apapun padamu atau pada siapapun juga. Well, dalam hal seperti ini dan... Tak ada untungnya juga bagiku sayang."
Tangannya terjatuh di sisi tubuhnya, terkepal. Ia kesal, wajahnyalah yang mencerminkannya.
"Kau." Ia tersenyum kecut, "kau... Orang kedua paling arogan yang pernah ku temui."
'Jadi ada yang lebih brengsek dariku? Hh... Apa peduliku?'
"Kedua? Haruskah aku merasa berbangga? Terus terang aku suka menjadi yang pertama dalam segala hal untukmu sayang termasuk...di tempat tidur." Aku menyeringai puas. Balasan ringanku untukmu Cagalli.
"Kau -" ia mengurungkan niatannya. Sepertinya ia mengatur nafasnya. "Itulah sebabnya aku membenci orang kaya sepertimu. Sok berkuasa, sok mengatur. Sok memiliki segalanya. Tak pernah kalian pikirkan -"
"Tunggu sayang. Aku tak suka kau membandingkanku dengan orang lain. Kalau kau memang membenciku -" kulirik amplop putih di meja sofa, "kenapa tak berhenti saja dari sini, pergi menjauh dariku. Atau kau memang sudah melakukannya? Hmm?"
Ia menyadari lirikanku. Ia memandang amplop tertutup itu, memandangku seakan tak percaya. Ia berkata lirih. "Jadi kau belum membacanya -"
Aku menyela, "apa itu surat pengunduran diri? Aku sengaja tak membukanya. Kecuali itu rasa penyesalan karena menolakku dan permohonan untuk melakukan...lagi? Kalau bukan aku malas membukanya."
"Mengundurkan diri!?" Ia menatapku tajam dan menusuk dan bertanya-tanya. "Aku mengundurkan diri? Dengar Zala, kau tak tahu apa yang harus ku lalui untuk mendapat pekerjaan ini. Lalu untuk apa aku harus mengundurkan diri hanya karena...karena -"
"Jadi...kau...tidak?"
"Demi Haumea, tidak!"
Hell Yes! -Whoops...kenapa aku merasa lega dan tenang. Seharusnya tidak begini bukan? Setelah penolakan dan merendahkan harga diriku. Ada yang aneh denganku.
Lagipula, sepertinya ada seseorang yang pernah berkata itu sebelumnya.
'Haumea? Aku pernah mendengarnya...tapi...di mana? Ah lupakan -sungguh tak penting saat ini!'
"Lalu...apa itu?" Maksudku isi amplop didalamnya? Apa isi pesan itu?
Ia menghela nafas sedikit frustasi. "Presdir Zala pagi tadi menghubungi ke ruanganmu, karena aku masih sekretarismu -sekedar mengingatkan jika kau lupa -akulah yang menerima telefon itu dan karena kau belum datang juga, kukatakan padanya kau menemui klien baru. Kuinformasikan padanya, aku tak tahu siapa klien itu karena baru semalam saat kau lembur, 'sang klien bayangan' itu menghubungi untuk menemuinya pagi sekali, puas? Kau berhutang padaku Zala, jadi...berjanjilah."
"Aku tak memintamu."
Ia kelihatan kesal. "Kau -"
'Tsk, untuk apa dia berbohong? Melindungiku? Malah makin bikin runyam! Ia meremehkanku.' "Kau pikir aku tak bisa mengatasi sendiri. Kau pikir aku butuh bantuanmu sehingga kau bisa memerasku?"
"Aku tak memerasmu! Aku hanya butuh kau berjanji. Agar kita berdua bekerja lebih tenang dan agar tak mencemari nama baikmu. Agar tak merusak image-mu sebagai salah satu kandidat." Cagalli membalas balik.
'Kandidat?'
"Kandidat apa?" Tanyaku balik. Aku sungguh tak paham dengan semua celotehannya.
Sungguh aneh, ia terkejut. "Selain tak membuka amplop itu, Ms. Gladys juga tak memberitahumu?" Gumamnya. "Karena itu... Saat di tempat presdir kau begitu kelihatan bodoh?" Ujarnya santai.
'Bo-bodoh? Apa orang ini tak bisa mengontrol sedikit perkataan pada bosnya? Wanita ini sungguh tak takut di pecat?' Tapi mau tak mau kuakui, yang tadi itu memang terlihat...sedikit bodoh. Se-di-kit! So uncool! Bahasa gaulnya sih "nggak aku banget!"
Cagalli melanjutkan, "Aku semakin curiga dengan kemampuanmu. Jangan-jangan kau mendapatkan posisi itu karena... Aya -"
"Hold it right there baby~ kau tidak tahu apa yang kau katakan! Aku mendapatkan ini dengan kerja kerasku, kau pikir laki-laki apa aku ini hah? Jangan menilaiku begitu rendah hanya karena aku bersikap bod -seperti itu di hadapan Presdir." Hampir saja aku mengucap kata "bodoh". Hampir aku mengakui sesuatu yang idiot. Aku tak bodoh hanya...um...tanpa persiapan.
Aku berdiri menghampirinya. Ia menatapku dengan pandangan mengejek. Seolah tak percaya dengan perkataanku tadi.
Jarakku hanya berjarak satu lengan orang dewasa dengannya. "Karena kau menanyakannya akan kujawab," jarinya menunjuk tepat di jantungku. "Playboy brengsek, bajingan, egois, tak tahu malu, otak hamster, yang hanya bergantung pada uang orang tua untuk hidup dan tak bisa membiarkan resleting celananya tertutup hanya karena melihat wanita cantik. Oh satu lagi... Arogan!"
Fucking woman! She has gut! Dia sungguh mempunyai keberanian untuk mengatakan itu semua! Kuharap itu tidak berasal dari dalam hatinya! man... Ia mendeskripsikan aku terlalu...um -seakan aku pria paling kotor di dunia ini. Kuharap ia tak terlalu...jujur.
But dia lupa... I'm the fucking boss!
"Watch your fucking mouth babe."
"Untuk orang sepertimu aku bisa mengatakan apa saja yang aku mau! Dan jangan panggil aku dengan itu!"
Mataku menyipit menatapnya. Senyumku menghilang. "Katakan sekali lagi kusumpal mulut berani itu dengan bibirku sampai kau menyerah dan tak mempunyai tenaga lagi untuk membalas setiap perkataanku. Dan jangan lupa sayang, aku adalah atasanmu. Jaga bicaramu dan berkatalah yang sopan. Kau tak tahu apa yang bisa kulakukan dengan posisiku ini!?" Serangku balik.
Ia hanya menatapku tajam dan menusuk dengan mata indahnya itu. Sungguh sayang, mata itu penuh kekesalan. Wajahnya yang cantik ternodai dengan kebencian. Aku pikir ia mulai menahan emosinya karena ia mulai menyadari posisinya. Pipinya sedikit memerah. Nafasnya memburu. Mulutnya mengatup rapat.
Tahan Athrun, bukan tempat dan waktu yang tepat. Tahan nafsumu untuk melumat bibir sexy itu. Kalau kemarin ia akan menamparmu bukan tak mungkin sekarang ia bisa menonjokmu.
Tapi... Mataku tetap bertahan untuk terus memperhatikan bibirnya yang begitu... menggoda. Jarak kami pun tak menolong. Wangi harum tubuhnya makin memuncakkan gairahku terhadapnya. Ku tahan tanganku agar tetap berada di samping tubuhku. Ku tahan agar tak meraih rahangnya dan menciumnya ganas. Aku masih bisa merasakan bibirnya kemarin dan aku masih...menginginkannya.
Ia menghindari berpandangan denganku. Pipinya kembali merona, ia mulai berkata dengan suara lirih. "Ku mohon Athrun. Aku membutuhkan pekerjaan ini. Akan kubantu kau meraih posisi wakil presiden dua. Aku yakin aku bisa membantumu. Ku mohon pekerjaan ini sangat penting untukku."
Mataku membulat sempurna. 'Ap-apa? Wakil pres -Holy shit!'
Jadi Ayah...memasukkan namaku sebagai salah satu kandidatnya. Ia mempercayaiku untuk mengambil kedudukan itu. Wow... Haruskah aku berteriak histeris. Na-ah...
Jadi isi surat itu...?
"Isi surat itu -"
Cagalli menyelaku. "Ya, itulah sebabnya aku ada di kantor Presdir segera. Kupikir tidak etis membicarakan hal itu di telepon. Saat kukatakan alasan keterlambatanmu, Presdir kelihatan simpati pada kerja terlalu kerasmu. Ia meminta Ms. Gladys meng-handle pekerjaanku sampai siang ini, sementara aku d ruangan Presdir. Beliau menjelaskan secara detail calon kandidat lainnya, syarat -"
"Tunggu, mengapa kau? Mengapa ayah tak menungguku?"
"Karena ia khawatir dengan kondisimu." Tatapannya melembut saat memandangku singkat. "Dan... Juga ia bertanya apa kau melakukan sesuatu yang...um...menggangguku? Kujawab tidak."
"Dasar pak tua." Aku berdesis. Pak tua itu sungguh masih selalu saja mencurigaiku. Ia ternyata masih belum sepenuhnya percaya padaku. Sigh...
"Untuk lebih jelasnya tentang promosi itu bisa ku -"
"Tunggu, jelaskan nanti. Kembali pada masalah antara kita sayang." Aku menatapnya setengah lembut setengah nafsu. "Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau melindungiku?"
"Sudah kukatakan untuk membuatmu terpilih menjadi -"
"Selain itu?"
"Tak ada."
"Oh ayolah Cagalli. Seperti yang kau katakan padaku tadi. Kau mengklaim bahwa aku berhutang padamu. Di dunia ini tak ada yang gratis sayang. So, spill it out!"
Uang, kedudukan, tubuhku mungkin. 'Kalau itu benar, service penuh untukmu hari ini sayang.'
Damn! Membayangkannya saja aku jadi...hard!
"Sungguh tak ada! Aku hanya ingin bekerja dengan tenang di sini. Aku hanya memintamu untuk tak mengulangi kejadian kemarin itu saja."
Tsk, hanya itu? You've got to be kidding me!
"Yakin hanya itu?" Tanyaku penasaran.
Tak ada wanita yang berani menolak setelah merasakan ciuman dariku. Heck...justru akulah yang sering menolak mereka.
Mungkin aku cuku beruntung karena Ia sedikit tegang di bawah tatapanku yang tak biasa.
Only lust.
Desire.
God, wanita ini tak terelakkan.
"Um...y-ya t-tentu saja." Ia menghindari tatapanku.
Bagaimana wanita ini bisa? Bagaimana ia bisa tak terpengaruh olehku? Wanita lain akan memohon padaku agar di sentuh olehku. Tapi dia...wanita ini masih bersikeras menolakku, di saat ia begitu responsifnya membalas setiap ciuman, jilatan dan lumatan dariku.
Biasanya aku akan pergi jauh dari tipe wanita munafik macam dia. Tapi mengapa? Mengapa aku tak bisa menjauh darinya? Apakah aku melihatnya sebagai sebuah tantangan saja?
Benarkah hanya itu?
"Tapi kau membalasnya." Aku menjilat kecil bibir bawahku. Hanya untuk...jaga-jaga.
"A-ah -oh -i-itu...aku...sudah kukatakan itu sebuah kesalahan yang takkan terulang lagi...aku berjanji..." Suaranya sedikit bergetar. Ia tegang dengan pandanganku yang mungkin tak terbaca olehnya.
Kutajamkan tatapanku terhadapnya. Kuraih rahangnya lembut agar aku dapat menilai kesungguhan di matanya.
Bola mata amber-nya melebar. Tapi lagi-lagi ia tak menepisku...mungkin. "Kau tahu aku tak suka berjanji yang tak mendatangkan keuntungan..." Ia mencoba membuka suaranya tapi jariku menghentikannya. Suara begitu lirih, sedikit parau. "Dengar sayang aku bisa mendapatkan posisi itu dengan atau tanpa...bantuanmu..."
"Ta-tapi At-Athrun -"
"Shh... Dengar. Aku...akan jujur...padamu. Aku tak pernah begitu menginginkan seorang wanita seperti ini... Cagalli..." Aku menyentuh pipinya lembut, kuusap dengan ibu jariku. "Aku tak pernah...seperti ini..." Ulangku lirih, pandanganku jatuh tepat pada bibirnya yang seksi.
"Ku-kumohon Athrun, pekerjaan ini adalah hidupku. Aku -"
"Shh... Baby..." Aku menelan ludah saat melihat bibir pink-nya. Begitu... Menggairahkan. "Apa kau punya suami?"
"Kurasa itu bukan urusanmu." Jawabnya dengan suara kecil. Masih menolak memandangku.
Kuanggap sebagai "tidak". Kulanjutkan, "Tunangan?"
Ia menggeleng lemah. "Sudah kukatakan bukan urusanmu."
Gelengan kepalanya itu kuanggap lagi sebagai "tidak". "Kekasih?"
Gelengan lagi. "Kalaupun aku punya itu bukan urusanmu." Suaranya mIakin parau. Makin sexy. Makin membangunkan sesuatu di bawah sana.
Jawaban ambigunya kuanggap sebagai "tidak". "Kau menyukai seseorang?"
"A-aku ti-tidak tahu..." Ia menggeleng cepat sekaligus lemah. "Kumohon... Ja-jangan membuat ini semakin rumit... Athrun." Suaranya makin lirih hampir berbisik.
'Kuanggap 'tidak'! Bagus! Lalu... Kenapa ia masih menolakku?'
"Lalu mengapa Cagalli? Mengapa kau menepisku? Kau sendiri, aku sendiri... Aku tahu kau juga menginginkanku. Aku bisa merasakannya sayang."
Kali ini, ia menggeleng kuat dan cepat. "Ti-tidak Athrun. Aku tidak menginginkanmu. Aku hanya menginginkan pekerjaanku. Jadi kumohon." Suaranya terdengar begitu... Desperate?
Tsk. Kenapa ia keras kepala sekali! Apa susahnya mengakui. Aku menyukai sentuhannya, ia juga merasakan hal yang sama. Kita bisa saling...menyenangkan dan memuaskan. Kenapa ia membuat ini begitu rumit.
Last chance!
"Cagalli, lihat aku baby." Satu tanganku masih mengusap lembut pipinya saat ia mematuhi permintaanku. Oh... Aku begitu menginginkannya... Sangat. Salahkan hormonku yang makin memuncak.
Mata itu... Aku bisa melihat mata indahnya itu dengan jelas sekarang. "Satu permintaanku. Bila kau tak suka atau... Kau tak merasakan apapun, aku anggap tak pernah terjadi apapun. Aku akan menganggapmu sebagai bawahanku. And that's it."
Lama ia menatapku. Seakan ia memikirkan penuh penawaranku. Hati kecilku memohon agar ia menerima tawaranku.
Akhirnya kudengar ia bicara. "A-apa itu?"
Aku menyeringai puas, ia mempertimbangkan penawaranku. Lebih baik kau terima Cagalli atau kau akan menyesal. Tidak semua wanita bisa mendapatkan penawaran ini. Kau... Mendapatkan kehormatan untuk itu. Dan aku sudah tak sanggup lagi menahan hormon gila ini.
Haruskah kukatakan "tidurlah denganku"? Tahan... Tahan... Kau tak mau merusak segalanya 'kan, Athrun?
"Sentuh aku."
Akhirnya... Justru itu yang keluar dari mulutku. Ia kembali merona. God, she's so adorable. Kalau aku tidak memiliki self-control ini sudah ku robek kemeja seksinya dan melemparkan ke sembarang tempat. Hell... Bahkan seluruh pakaian yang menutup seluruh asset pribadinya itu.
"Ap-apa? -"
"Kau mendengarku sayang." Sangat jelas! Nafsuku makin berat. Begitu juga ia.
Cagalli menelan ludahnya. Kulihat bibirnya bergetar. "Di-di ma-mana?"
"Di mana saja," jawabku cepat. "Tapi sebelum itu kita mulai dengan hal yang paling mudah baby." Aku tak mau tergesa-gesa. Aku ingin ia juga menikmati setiap inchi tubuhku ini.
Her first time should be... Perfect! Unforgetable! Aku yang akan memberikan kesempurnaan itu! Aku yang akan memberikan pengalaman itu! Aku akan membuatnya ingat untuk seumur hidupnya! Sampai ia takkan melupakan dan menginginkan lelaki lain selain... Athrun Fuckimazing Zala!
"Apa itu?" Tanyanya, matanya memandang bibirku.
Aku menyeringai... Penuh kemenangan. "Kiss me baby." 'Hard.' Setelah itu aku mendekatkan wajahku padanya.
TBC
Pojok Bacotan/Curcol Nel: Ara~ apakah Cagalli akan menerima tawaran Athrun to the next step? Atau malah terjadi dejavu? Hohoho... *tawasinterklas*
Yang nunggu Leggi Alba? Ada nggak ya? Maaf belum update teralihkan dengan permainan PS RPG yang lum kelar ;p Maaaaaaaaffff, masih setengah jalan *bungkuk2*
Chapter 3 terinspirasi dengan novel dewasa (lagi) berjudul Up in the air by R.K Lilley (banyak yang sy skip ketika membaca ini! Terlalu err... Beratz! :p), Tangled by Emma Chase (I love man's POV, woo-hoo~) dan my own fic Move On! Hwehe... :D
Note: [1] C. Grey for Christian Grey di novel Fifty Shades of Grey. Seingat saya di kantor Grey kebanyakan pekerjanya berambut pirang. Maaf kalau salah, karena bacanya sudah lama dan banyak saya skip -.-"
Pliz ripiu~
Many Thanks,
Semangat!
Nel. ^o^)9
