Disclaimer: I don't own nothing except TbY.

Warning: idem dengan sebelumnya plus Cruel/Bad Athrun! Lil' steamy scene xp; Hati2 kecewa dengan chappie ini :p

A/N: Maaf terlambat updet, baru saja sy kehilangan salah satu anggota keluarga sy, sehingga disibukkan oleh hal tsb dan kegiatan RL lainnya. Mohon maklum... Thanks :)

Makasih buat mai sista yang mengedit bagian awal chappie ini sehingga tidak terlalu vulgar :p

Special Thanks to: Popcaga, Mrs. Zala, Ojou. Rizky, UL, Lennethia, Lezala/Horibblesista, Ryuukou/Horsy, Pandamwuchan/beibhmucumucu, NN, Loly jun, October Lynx, Rencaggie and Silent readers (bila ada). *hug to you all*

Maaf belum bisa balaz dan jawab pertanyaan para reviewer semuanya karena Author sgt terburu-buru dan curi2 waktu (melarikan diri sejenak dari istirahat makan siang, inet masih di blokir :p) di chappie depan akan sy usahakan balas semua. Mohon maklum skali lagi. Thx. :)

Enjoy then~

-oOoxnelxoOo-

To live is to suffer, to survive is to find some meaning in the suffering

-Friedrich Nietzsche-

-oOoxnelxoOo-

Previous:

Her first time should be... Perfect! Unforgetable! Aku yang akan memberikan kesempurnaan itu! Aku yang akan memberikan pengalaman itu! Aku akan membuatnya ingat untuk seumur hidupnya! Sampai ia takkan melupakan dan menginginkan lelaki lain selain... Athrun Fuckimazing Zala!

"Apa itu?" Tanyanya, matanya memandang bibirku.

Aku menyeringai... Penuh kemenangan. "Kiss me baby." 'Hard.' Setelah itu aku mendekatkan wajahku padanya.

.

.

.

.

.

Bibir kami menempel. Hanya menempel pada awalnya lama kelamaan menjadi intens.

Bibir kami beradu. Nafas kami memburu.

Hangat...

Panas...

Basah...

Ketika aku menjilat bagian bawah bibirnya untuk meminta ijin masuk, dengan senang hati ia membukanya. Aku hampir tertawa di sela ciuman kami atas ijinnya itu, tapi hanya seringai kecil yang muncul.

Tanpa keraguan, lidahku masuk dan mengoyak seluruh mulutnya. Kurasakan seluruh isi di dalamnya. Rasanya seperti mint bercampur rose tea. Kurasa, ia sempat minum teh kesukaan ibuku pagi ini. Lidah kami pun menari bersama, bertukar saliva. Ada yang mengatakan itu menjijikkan tapi aku merasakan ini... Memabukkan.

Melumat, mengulum, menjilat, menggigit...

Oh... God!

Begitu nikmat...

Sedangkan tanganku pun tak mau kalah dengan mulutku. Tanganku ada di rambutnya, lehernya, wajahnya, punggungnya, pinggulnya, pantatnya. She's sure have a sexy ass... Aku meremas lembut pantat seksinya itu. Cagalli sendiri saat ini meremas kasar rambut halusku, ia pun menikmatinya.

Saat bibirku meninggalkan bibirnya, pindah pada leher mulusnya, ia mengerang. Erangan kenikmatannya itu bagai alunan melodi indah di telingaku. Hormon di tubuhku pun mengakui.

My Goddess...

Cagalli memiringkan kepalanya, memberiku akses lebih -mengeksplorasi lehernya. Menjilat, mencium lehernya sampai basah. Tidak, aku tak mau meninggalkan jejak -tidak sekarang, tidak di kantorku. Walaupun beberapa karyawan di luar sana mengetahui aksi nakalku. Tapi setidaknya biarlah aku mengurangi pemberitaan miring itu...

Tuhan... Bau Cagalli sangat lembut, sangat memabukkan. Bila aku vampire -sudah kuhisap habis darah gadis ini. Begitu memabukkan... Tanganku akhirnya menuju bagian depan tubuh gadis ini. Tanpa membuka kancingnya -langsung saja aku menyikap kemejanya. Kusentuh kulit perut telanjangnya. Apa gadis ini tak mempunyai lemak? Selulit? begitu rata. Begitu halus. Aku tak sabar ingin melihatnya.

Tanganku makin ke atas, menuju belahan dadanya. Aku bermain-main lebih lama dan lambat di sana. Ia memakai bra berenda? Harus kukatakan 'wow'.

Persetan dengan semuanya!

Ia sangat... Oh Tuhan... Sangat lembut! Sangat asli, maksudku aku tahu mana yang sengaja melakukan operasi pada tubuh mereka terutama -ehem- dada agar terlihat menarik dan tidak. Sedangkan Cagalli sangat natural... Alami... Asli... Sangat menarik. Air liurku saja bisa menetes hanya dengan melihatnya tertutup pakaian, apalagi bila tidak.

So fucking soft! Dari puncak tubuhnya -yang sedang kupilin dengan jariku, aku bahkan bisa merasakan bahwa ia juga...terangsang. Dan Cagalli mengerang lebih kencang, semakin menikmatinya. God... Mendengar suaranya saja aku bisa kel- kau tahulah, istilahku... Terbang ke langit ke tujuh.

Kutekan tubuhku pada tubuh mungilnya, agar ia dapat merasakan betapa ia bisa membuatku... hidup, betapa aku sangat menginginkannya, betapa... kerasnya aku.

Fuck! Yang di bawah sana, tenanglah! Jangan buat malu aku. Belum apa-apa kau sudah mencapai batasmu. Ini namanya... Menjatuhkan egoku sebagai laki-laki sejati. Tak pernah ada yang membuatku seperti ini.

Tak pernah...

"At-Athrun..." Akhirnya... Ia mendesahkan namaku dengan sedikit tersengal-sengal. Dengan suara serak khasnya. Fucking sexy! Sial! Sial! Sial! Aku tak tahan lagi. Aku sampai mengepalkan tanganku erat.

Aku harus segera...

-oOoxnelxoOo-

Taken by You

.

.

.

Chapter 4

-oOoxnelxoOo-

"Athrun?" Ia mendongakkan kepalanya. Dengan wajah merona. Nafas memburu. Rambutnya sedikit acak-acakan. Bibirnya sedikit bengkak dan makin merah akibat ciuman panas kami.

Dada kami bergerak naik turun bersamaan. Aku masih memeluknya erat.

Kalian bertanya, apa yang terjadi? Aku menghentikan ciuman kami. Jarak kami hanya beberapa inchi, sesekali aku mengecup kecil bibirnya seraya mengambil pasokan udara. Mengatur segala syaraf di tubuhku.

Cagalli sendiri, melihatku penuh rasa khawatir dan sedikit kecewa. Tatapannya berbeda, begitu lembut.

Sedangkan aku...

Ada rasa dan sensasi aneh didadaku. Seharusnya aku senang, seharusnya aku bangga, seharusnya aku puas.

Seharusnya... Kata 'seharusnya' itu, seharusnya tak pernah ada. Lalu... Mengapa?

Kenapa sekarang?

Aku pernah merasakan ini sebelumnya. Dulu, sangat dulu sekali... Aku tak begitu mengingatnya, aku berusaha untuk tak mengingatnya. Aku tak mau mengingatnya.

"Athrun? Kau baik-baik saja?" Kudengar suara berat seksinya menyadarkanku. Mata itu... Mata coklat madunya... Semakin dekat melihatnya semakin indah. Semakin mempesona. Begitu jernih. Semakin aku menatapnya, semakin aku tenggelam didalamnya.

Ini tidak boleh, sangat berbahaya. Aku tak boleh jatuh ke lubang yang sama kedua kalinya.

Kupejamkan mataku sejenak. Dahi kami saling menempel. Ku mencoba mengatur nafasku. Ku coba mengontrol hormon dalam tubuhku. Ku coba menahan hasrat dan nafsuku. Aku dapat merasakan Cagalli menatapku. Memandangku...

Irama jantung dan ritme nafasku mulai teratur. Tubuhku yang sempat menegang mulai terasa rileks. Pikiranku mulai tenang dan kembali... Jernih.

Kubuka mata emerald milikku. Mata amber menatapku penuh tanya, sedikit berharap, terbesit kekhawatiran, ada... Aku merasa ada... Suatu tatapan yang ku kenal... Walaupun kecil aku dapat memahami arti tatapan itu...

Bukan! Ku harap aku salah walau dalam hatiku -mengakui merasa sedikit senang.

Aku mundur selangkah tanpa meninggalkan pandanganku padanya dan telapakku menempel di kedua lengannya. Aku mengamatinya lagi, mungkin aku salah mengartikannya. Aku bersumpah aku mengenal pandangan itu. Wajahku tertunduk mengenangnya.

Walau hanya secuil... Arti tatapan itu adalah... Tatapan kasih sayang. Kasih sayang? Benarkah? Hanya dengan dua kali ciuman, Cagalli mulai -pfft!

Pundakku mulai bergetar hebat. Mulutku mengatup erat menahan setiap suara yang mencoba keluar. Aku yakin wajahku memerah karenanya. Cagalli melihatku bingung. Tentu saja, justru terlihat aneh jika ia tak bertanya-tanya melihat sikapku ini.

"Ath -"

"Hahahahaha..." Aku tak kuat lagi. Aku tertawa saja sekencang mungkin. Sangat keras, sangat kencang. Again... Beruntung ruanganku kedap suara bila tidak, selain hancurnya image cool-ku -mereka pasti mengira aku orang gila lepas kendali atau menjadi GM di usia muda membuat tekanan batin dan beban di pikiranku.

Tanganku terlepas, aku makin menjauh darinya.

Oh God, this is... So entertaining. Sudah berapa lama aku tak melakukan ini? Kalau Dearka tahu kami pasti ber-high-five, kalau Yzak tahu ia pasti memakiku habis-habisan -lebih baik dia jangan sampai tahu, kalau Kira tahu ia akan...um...hanya menggeleng saja dan pergi ke tempat lain.

"Athrun apa yang kau -sebenarnya apa yang terjadi?" Kudengar suara khawatir setengah kesal Cagalli bertanya padaku di sela tertawaku.

Perutku sakit sekali. Air mataku rasanya seperti akan tumpah. Dan jelas bukan air mata kesedihan. Melainkan kegembiraan yang berlebihan. Oh God, it's so... Refreshing.

"Athrun! Berhentilah tertawa dan jelaskan padaku brengsek!"

'Brengsek!?'

Aku memang sering mendengar kata-kata itu tapi keluar dari mulut Cagalli itu sungguh sedikit menyakitkan.

Tawaku sontak berhenti tapi aku masih menyeringai kecil. "Hmm... Jadi... Aku brengsek sekarang?" Alisku terangkat satu. "Setelah... Apa... Yang kita lakukan baru saja -kau masih menganggapku brengsek?"

Raut wajahnya berubah kembali dari sebegitu kesalnya padaku menjadi begitu... Khawatir. Dalam hati aku berteriak senang. Sangat senang.

"Ma-maaf a-aku Athrun aku..." Ia menyentuh satu pipiku, membelainya lembut.

Kututup mataku, aw... Tangannya begitu kecil, begitu lembut, begitu harum. Sejenak aku berfikir parfum dan sabun apa yang ia kenakan? Semuanya yang dikenakannya -entah ia menyadari atau tidak begitu... Natural... Alami. Sangat mencerminkan dirinya, sangat... Cagalli.

Oke Athrun tahan hormonmu, tahan hasratmu, bukan waktunya ber'aw-aw' setelah apa yang ia lakukan pada 'harga diri'mu kemarin.

Tenang... Tenang... Tenang...

Kusentuh tangannya, aku sedikit meremasnya lembut, mataku terbuka perlahan. Saat kupandang wajahnya yang bagai malaikat itu, aku meremasnya lebih kuat dan kutepis tangannya menjauhi kulitku.

Kupandang wajah terkejutnya sebelah mata. "Athrun...?" Ia bertanya.

"Hmm?"

Ia menatapku tak percaya, meminta penjelasan dalam diamnya. "Apa yang kau -"

"Kembalilah ke mejamu, aku sedang tak membutuhkanmu... Ms. Athha." Potongku dengan nada profesional GM-ku.

Kau membuatku menjadi bodoh dengan permainan tarik-ulurmu itu. Aku bukan mainanmu. Aku juga tak bodoh untuk menjadi bonekamu sayang...

Ia hendak mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya. Ah, dia menangkap maksudku. Gadis pintar...

'It's call payback hon~'

Wajahnya memerah, kurasa karena marah dan malu. Bibirnya mengatup rapat. Matanya jelas memancarkan kebencian. Aku sudah terbiasa dengan hal itu.

"Hhh... Tunggu apa lagi nona..." Ucapku datar sedikit sinis seraya berbalik menuju mejaku. Ekspresi wajah kupancarkan seolah tak ada apapun diantara kami kecuali hubungan atasan-bawahan. Aku bosnya dan dia hanya... Karyawan biasa. Orang yang bisa aku perintah dan aku pecat sesukaku... Bahkan jika pekerjaannya baik sekalipun.

Ironis? Tragis? Egois? Hhmmm... Pfft... Like I give a damn care about it!

"Kau -" langkahku terhenti seketika mendengar suaranya. Tanpa menatapnya, ia meneruskan. "Rumor yang beredar ternyata benar. Aku coba membuktikan apakah benar Athrun Zala seorang playboy brengsek, egois dan arogan! Semua sekretarismu kau perlakukan sebagai sampah. Kau permainkan mereka, jika kau puas dan bosan, kau bisa membuang mereka sesuka hatimu. Hari pertama aku menemukan itu benar... Tapi, kukira seburuk apapun itu pasti ada sisi yang... berbeda. Ayahmu menyanjung tinggi perubahanmu. Hh... Ternyata kau tak jauh beda dengan -"

"Cukup!" Potongku. Cukup aku mendengar pengakuan tak penting. Kepalaku sedikit menoleh, kulirik ia dari bahu sisi kananku. Ekpresi kupertahankan se-calm mungkin. Aku menyeringai tipis dengan sinis seraya melanjutkan, "Terima kasih atas kepercayaanmu Ms. Athha. Atau perlu kuingatkan kembali bahwa kau sendiri yang melemparkan dirimu... Padaku seperti wanita... Murahan. Ingatanmu sungguh buruk nona ck...ck...ck... Sayang sekali karena kelihatannya kau sangat cerdas dan di rekomendasi tinggi oleh ayahku tetapi... Kurasa aku punya penilaian sendiri tentangmu nona sekretaris. Jangan senang dulu, karena penilaianku terhadapmu jauh dari kesan... Baik. Ah~ Maaf jika aku melukai egomu." Permintaan maafku jelas tak sungguh-sungguh.

Coba kalian lihat wajahnya. Binatang saja enggan menatapnya apalagi manusia hampir sempurna sepertiku. Ia sungguh murka, kalau diibaratkan gempa bumi mungkin sudah mencapai 10 schala richter dengan tambahan tsunami tentunya.

"Well... Jika kau ingin berdiri di sana sepanjang hari, terserah padamu. If you don't mind, aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku." Wow, apa kalian juga merasakan kesinisan di nada bicaraku. Aku melangkah lagi, sedetik terhenti kembali. "Ah, hampir lupa, bila kau memutuskan berhenti dari pekerjaanmu, pastikan kau membayar uang putus kontrakmu dan... Jangan kembali lagi kemari." Aku sangat serius sekalian menguji kesabaran dan ketangguhannya.

Kutambahkan lagi seraya melangkah ke mejaku. "Dan... Bila... Kau masih tertarik pada pekerjaanmu... Tolong jadwalkan pertemuanku hari ini dengan Manajer Joule, Presdir Zala dan reschedule pertemuanku dengan Archangel Corp. besok. Aku mau laporan tahun kemarin di mejaku hari ini. Antarkan dokumen di mejamu ke ruangan Nicol sebelum makan siang. Dan aku mau semua diselesaikan hari ini. Harus. hari. ini!" Sesampainya di mejaku, aku duduk dan menatap wajah tidak senangnya dengan ekspresi sangat oh-I'm-so-innocent-you've-a-problem? "Apa ada pertanyaan lagi? Atau kau tak menangkap apa yang kukatakan baru saja? Maaf tapi aku tak ada niat mengulangi. Silahkan kembali ke meja Anda, Ms. Athha. Jangan lupa aku minta semuanya hari ini di meja sebelum jam pulang kantor." Oh Yeah, I'm the winner baby.

Pandanganku padanya sangat meremehkan. "Satu lagi... Rapikan dulu penampilanmu itu... Aku tak mau karyawan lain tahu tampilanmu yang acak-acakan itu... Aku tak mau di cap mempunyai sekretaris yang... Gampangan."

'Walau harus kuakui, penampilannya yang seperti itu sangat sexy.'

Bagaimanapun juga... Kau salah mencari musuh sayang. Ia masih tak bergeming. Masih berakar di posisinya.

Beberapa detik, ekspresinya mulai... Berubah, aku mulai tak bisa membacanya. Apa dia menyerah? Atau memilih bertahan? Atau -

Cagalli menatapku tajam. Mata amber indahnya terasa hidup kembali. Sangat berapi-api... Sangat menyala. Mungkin... Sepertinya aku salah lihat, ada yang salah dengan mataku. Mungkin karena airmata... Bahagiaku. Tak mungkin 'kan dia -

Tiba-tiba saja ia menyeringai, tersenyum penuh percaya diri. Baiklah, ada yang salah dengan indera penglihatanku. Pasti salah. "Baiklah GM Zala akan segera saya kerjakan." Sekarang pasti ada yang salah dengan pendengaranku. "Bila tak ada yang Anda perlukan lagi, saya permisi."

Oke... Tak ada yang salah dengan kedua inderaku. Ia memang... Berbeda. Tampak lebih percaya diri, no doubt. Kalau aku tak berhasil mempertahankan wajah stoic-ku pasti saat ini rahangku sudah terbuka sangat lebar. Ternyata... Cagalliku memilih untuk bertahan dan... Melawan.

Saat ia masih memegang kenob pintu, aku berkata sedikit keras tapi masih terkesan datar dan berhasil membuatny berhenti sejenak, punggungnya membelakangiku. "Ms. Athha... Satu saja ada yang tidak terlaksana dengan baik." Mataku menyipit padanya, "kau... di pecat."

Aku menghitung, sekitar angka ke lima ia berbalik dan tersenyum ramah. 'Aneh.' Bila seseorang mendengar kata "pecat" setidaknya ada rasa ragu dan takut. Tapi... Mata cokelat madunya itu tak ada keraguan, tak ada ketakutan.

Wanita pasti bercanda? Ia pasti berpura-pura 'kan? Apa ia sedang memainkan sebuah lelucon? Topengnya itu begitu sempurna. Aku jadi curiga... Jangan-jangan wajah polos dan mata jernih itu hanya sebuah kepalsuan. Mungkin... Ia lebih lihai, ahli dan cerdik dari yang kupikirkan.

Tsk!

"Pasti GM Zala, Anda tidak perlu khawatir. Tapi... Terima kasih atas... Saran dan... Peringatannya. Permisi."

What the hell!

Sosoknya pun menghilang di balik pintu ruanganku. Jujur, aku masih termenung tak percaya dengan sikap yang... Um... Keras kepala itu.

Hhh!

Tapi... Bagaimana pun juga aku masih memegang kartu As-nya. Kita lihat saja hasil akhirnya, waktunya hanya sampai sore ini.

Andai kau tahu Cagalli sayang, butuh waktu lama untuk menenangkan diriku -terlebih sesuatu di bawah perutku, menahan hormon dan hasrat untuk tidur dengamu baby. Tidak, aku tidak butuh pelampiasan lagi. Aku harus bisa bertahan. Harus!

Senyumku melebar siang itu.

Kuakui...

"Cagalli Yula Athha, kau sungguh menarik. Sangat menarik... Luar biasa menarik..."

Hanya kau, my goddess yang mampu membuatku seperti ini...

-oOoxnelxoOo-

"Mana si hot blonde itu Athrun? Aku tak melihatnya lagi?" Dearka bicara, sedetik kemudian nafsu makan siangku melayang. Saat mengantakan "hot blonde" aku bisa menebak siapa yang dimaksudkannya.

'Tentu saja istirahat makan siang bodoh!'

Kuletakkan cangkir cappucino-ku yang tinggal setengah itu. "Mana Yzak?" Kualihkan pembicaraan kami tentang sekretarisku yang menyebalkan sekaligus menggairahkan dan keseksiannya yang ilegal itu. Belum lagi wangi tubuhnya dan bibir pink alaminya yang kissable itu dan -oh... Great, sekarang aku memikirkannya lagi.

Dearka mengangkat alisnya. "Kenapa? Kau merindukannya?" Kembali ke topik 'Yzak'.

"Aku merindukan mulut lebarnya itu." Jawabku asal menanggapi gurauan Dearka. Sesekali kami makan siang bersama-sama. Aku, Yzak, Dearka dan kadang Nicol juga ikut. Tapi itu sangat jarang sekali...

"Tsk... Kau tidak asyik Zala." Ia memutar matanya.

Tinggal setengah hari lagi, tepatnya beberapa jam lagi aku bisa melihat hasil permainan kecil dengan si pirang itu. Aku sangat... sangat... Tidak sabar menanti hal itu. Sementara itu biarlah aku menikmati istirahat makan siangku di restoran -masih di gedung yang sama dengan kantorku.

"Hei Zala, ada apa dengan wajahmu itu?" Dearka memandangku dengan tatapan aneh.

"Hmm?" Memang ada yang salah? Ada apa memangnya? Makanan? Bekas lipstick? Jerawat? Flek? Komedo? Kerutan? Sejak kapan aku peduli dengan masalah kulit. Kulitku ini dari kecil tak pernah mempunyai masalah, anggaplah "beruntung karena gen".

Gen 'cantik' ibuku sedikit menurun padaku. Kadang beberapa orang berfikir bila aku tak mempunyai tubuh tinggi dan atletis serta suara berat dan serak pasti aku sudah di kira seorang wanita.

"Mukamu itu... Seperti orang bodoh... Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Seringai nakal khas Dearka mulai muncul seraya akan meneguk black coffee-nya.

Mulutku hanya membentuk huruf 'o'. Benarkah? Aku tersenyum? Well... Aku tak menyadarinya.

"Apa karena si sekretaris pirang pantat seksi itu?" Dearka menggodaku, masih dengan menyeringai.

"Kenapa dengannya?" Ya sudahlah, aku takkan mengalihkan lagi. Cepat lambat ia akan bertanya lagi hal yang sama. Ku jawab saja datar, seakan tak tertarik.

"Apa kau sudah tidur dengannya huh, Zala? Bagaimana dia?"

Aku mendesah kecil. Akhirnya pertanyaan itu keluar juga.

Dearka's talk. Man's talk. Equal chicks and sex's talk!

Then... Aku harus menjawab apa? Haruskah aku jujur.

Sigh...

Merepotkan!

"Tidak." Jawabku singkat dan jelas.

Tanpa menatap Dearka, aku tahu -matanya sudah membulat dan melebar tak percaya. "Kau bercanda, k-kau tak mungkin tak tertarik pada -tunggu... Apakah dia menolakmu... Athrun?" Ia bertanya dengan sangat hati-hati. Tapi aku tahu benar itu hanya di buat-buat.

Aku memilih tak menjawab, tak menatapnya pula, raut muka kesalku pasti terlihat jelas di matanya yang memancarkan rasa penasaran itu. Ia masih menunggu jawabanku. Lagi-lagi, aku memilih diam dengan meneguk sekali lagi minumanku.

Seraya dapat membaca gerak-gerik tubuhku, ia berkata. "Hahaha... Ternyata benar! Hahaha... Dia menolakmu!"

Sial, ia tertawa. Oh great... Sekarang 'penghuni' restoran ini menatap kami. Ujung bibirku berkedut. Sambil mempertahankan ekspresi datarku, aku membalasnya. "Elsman... Kecilkan suaramu atau kau menyesal nanti." Aku berkata setengah berbisik dan meliriknya. Menggertakan gigiku.

Melihat tatapanku yang penuh 'arti' itu, akhirnya tawabnya perlahan menghilang. "M-maaf dude... K-kau t-tahu itu sangat... Um... L-lucu..." Ia masih bisa menyengir. Si brengsek ini cari mati!

"Itu tidak lucu." Aku berdesis setengah menggumam. Nada suaraku sedikit mengancam. Tapi si bodoh ini malah tak perduli.

Sial!

"Ada wanita seksi menolak pesona seorang Athrun Zala itu namanya..." Dearka bersiul mengejek, "Berita besar..."

"Hh... Berkatalah sesukamu."

"Lalu?"

"Lalu apa?" Aku mulai tak suka arah pembicaraan ini.

"Bagaimana cara ia menolakmu?" Dan aku mulai terganggu oleh cengiran mengejeknya itu. Ia mulai memainkan alisnya. Andai aku tidak berada di 'public area' sudah kutendang ia dengan sepatu Armani limited edition yang sedang kupakai ini.

"Bukan urusanmu." Kuteguk kembali cappucino-ku yang hampir habis itu.

"Owh... Ayolah Athypoo~ jangan menjadi grumphy seperti Yzak, kau tak mau tumbuh uban di rambutmu itu 'kan?" Ia bersikeras ingin membuatku malu rupanya. "Atau kau sudah tidur dengannya tapi... Ia tak... Memuaskanmu?"

Aku mengangkat mataku menatapnya. Aku menyerah, menghela nafas berat. "Tidak dan belum."

"Lalu-lalu?" Tanyanya begitu bersemangat. Ada apa dengannya? Sigh...

"Kenapa kau terlihat antusias sekali?"

"Lanjutkan Zala..."

"Kami berciuman -"

Ia mengangguk cepat tidak sabar dengan kelanjutan 'cerita'ku, "Ya, lalu?"

Aku menghela nafas kecil. "Tak adakah kata selain 'lalu' di kamusmu?"

"Baiklah... Kemudian?" Jawabnya sok polos. Dearka seolah tak mengindahkan apa yang kukatakan.

Kenapa dia begitu menyebalkan hari ini. "Itu saja." Aku mengangkat cangkirku pada sang waitres, menandakan aku meminta secangkir lagi.

"Hanya... Itu...?" Ia menatapku curiga. "Kau tak menutupi sesuatu 'kan Zala?"

"Tidak. Kami berciuman dua kali. Pertama kali, saat kami akan melanjutkan ke tahap berikutnya, ia menolakku. Kedua, aku yang menolaknya. Kupikir ia menyerah, mengundurkan diri tapi tidak. Ia melawanku, jadi kuputuskan untuk 'mengujinya' sedikit."

Dearka mengangguk perlahan. Seakan ia mencoba menelaah ceritaku perlahan. "Begitu...? Kau membalasnya dengan 'pekerjaan' 'kan?"

"Hn." Dearka mengerti sekali pikiranku.

"Sampai kapan batas waktunya?"

"Jam kantor."

"Apakah ia pencium yang ulung?"

"..." 'I want more so badly hard!'

"Apakah kau menginginkan ia di tempat tidurmu Athrun?"

"..." 'More than you imagined.'

"Tapi dia menolakmu dan kau membalasnya, betul 'kan? Sayangnya ia tak minta belas kasihanmu dimana... Kau tak akan mendapatkan ciuman menggairahkan darinya lagi."

Syukurlah Dearka berkata sedikit berbisik dan sedikit mendekat sehingga tak ada yang mampu mendengar kami. Kecuali jika kau sengaja ingin mendengar percakapan kami.

Kuakui... Ya! Aku takkan mendapatkan lagi. Setelah apa yang kulakukan padanya. Rasanya seperti tidak melakukan seks selama sebulan karena terdampar di pulau asing tak berpenghuni. Sakit sekali...

"Hn." Begitulah jawaban super singkatku.

Ia diam sejenak tapi aku mengenal ekspresinya yang menggelikan itu. "Hahaha... Luar biasa! Wanita itu luar biasa! Kau licik Zala! Tunggu sampai Yzak mendengarnya! Dengar Athrun, kau harus mengenalkanku padanya." Dearka benar-benar cari masalah denganku. Aku mencoba menahan rasa hangat yang mulai terasa di wajahku.

Brengsek kau Dearka! Kalau sampai Yzak tahu -sebelum ia tahu akan kupastikan kulit hitam yang kau banggakan itu menjadi kuning langsat!

"Mengenalkannya? Kalau aku saja tak bisa, kau pun begitu?" Balasku meledeknya.

Ia mengayunkan telunjuknya. "Ck,ck,ck... Kau belum tahu kharisma seorang Elsman!" Ia berkata dengan angkuhnya.

'Whatever!' Kucoba tak memutar bola mataku, tapi susah untuk tak melakukannya. Aku membuat ekspresi tak tertarik.

"Mau bertaruh?" Dearka berkata lagi.

"Tidak." Jawabku singkat. Seraya mengucapkan "terima kasih" pada pelayan pria yang mengantarkan pesananku. Untunglah ia datang di saat yang tepat. Mau di taruh mana wajahku sangat ia mendengar percakapan kami tadi.

"Don't be a pussy, Zala!" Saat pelayan itu pergi, kudengar Dearka melanjutkan.

"Jika kau lupa, I don't have a pussy." Balasku lagi, malas.

"Kau takut kalah 'kan?"

"Aku tak tertarik. Lagipula aku akan menang!"

"Hmmpphh... Aku meragukannya! Karena itu... Ayo bertaruh sebagai laki-laki sejati."

"No!" Jawabku lagi, lebih tegas.

"Tsk, loser..." Dearka membuat mimik wajah aneh.

"Dengar Dearka..." Aku menantap lurus bola mata lavendernya. "Kau boleh berkenalan, mendekati, merayunya, tapi..."

Aku mendekatkan wajahku padanya, agar ia dapat merasakan bila aku benar-benar serius. Dan untuk lebih meyakinkanku bahwa ia mendengarkanku.

"Dia milikku. Ia takkan pernah menjadi milikmu!"

'Cagalliku takkan pernah jatuh ke siasatmu yang bodoh itu Elsman! Takkan pernah!'

Setelah mengatakan itu, aku bersandar nyaman kembali ke kursiku.

"Ya, baiklah! Ekstra clear buddy! Tapi jangan menangis bila ia jatuh ke pelukanku, blueboy!" Ia menyeringai lalu meminum kembali kopinya penuh semangat dan kenyakinan.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. 'As If!' Hanya dalam mimpimu.

Kita lihat saja... Dearka. Cagalli Yula Athha bukan wanita yang seperti kau kira. Ia... Istimewa. Sangat istimewa. Terlalu istimewa untuk dilepaskan.

-oOoxnelxoOo-

Normal POV

"Kira ada apa? Kau tak bisa tidur?" Tanya wanita pemilik manik biru cerah yang masih terbaring di ranjang king-sized.

Sang pemuda bersurai cokelat -yang hanya memakai bathrobe itu pun menoleh ke arah ranjang di belakangnya setelah sekian lama ia berdiri menatap pemandangan laut di depannya.

Mata amethyst Kira melembut. Senyum tipis tersungging dibibirnya seraya mendekat pada wanita itu.

Kira mengecup lembut kening wanita didepannya yang terlihat masih mengantuk akibat aktivitas ekstra mereka sebelumnya. "Tidurlah."

Sang wanita pun cemberut manja. "Kau tak tidur?"

"Nanti." Kira tersenyum dan mengusap lembut pipit wanita itu.

Mendengar suara lembut Kira, ia pun tersenyum lemah. Tenaganya sudah benar-benar terkuras akibat kegiatan maraton mereka. "Baiklah, jangan terjaga terlalu lama. Kau ada pemotretan sore nanti." Kedua lengannya meraih leher Kira, menarik untuk ciuman yang panjang, panas dan basah -yang mungkin bisa membuat kedua bermain kembali.

Tapi... Tidak, banyak pekerjaan yang masih menunggu mereka di luar sana. Sebelum ia tertidur kembali.

Saat Kira akan kembali menutup matanya, ponselnya bergetar. Tentu saja ia mengerang kesal. Ia sangat membutuhkan tidur walau hanya beberapa jam.

Ia bersumpah, kalau itu dari manajernya Kira akan mengumpat habis-habisan. Kira sudah berpesan untuk jangan diganggu, satu jam sebelum pemotretan, mengingat hal itu dilakukan di gedung yang sama.

Dengan malas ia meraih ponsel Blackberry miliknya, nomor yang tak di kenal? Siapa? Hanya beberapa orang-orang tertentu saja yang mengetahui nomor telepon pribadinya itu? Haruskah ia menjawabnya? Bagaimana kalau itu hanya telepon nyasar? Atau ulah orang iseng? Fans? Paparazi? Serial Killer? Atau... Dia?

Kira menggeleng lemah. Menghilangkan firasat aneh yang ada. 'Hh... Tidak mungkin...'

Takut membangunkan wanita disebelahnya. Ia memilih menekan tombol reject. Beberapa detik kemudian, masih dengan nomor yang sama bersikeras menghubungi.

Kira mengerang kesal. "Keras kepala!" Kira bergumam. Wanita disampingnya mulai merasa terganggu.

Kira meraih kembali ponsel yang masih bergetar itu dan berjalan ke balkoni agar tak mengganggu sang penghuni kamar.

Ia menghela nafas berat. "Ya?" Akhirnya ia pun menjawabnya. Dengan perasaan malas dan kesal yang berhasil ia tutupi. Beruntung ia telah terlatih untuk hal seperti itu. Terima kasih pada pekerjaanya yang seorang selebritis itu.

"K-Kira?" Tanya sebuah suara asing yang terkesan familiar. "K-Kira Yamato? Apa benar ini nomor ponselnya?"

'Lucu... Dia menelfon tapi tak yakin siapa yang di telepon?' Kira berpikir. 'Tapi... Sepertinya aku kenal suara ini?'

"Benar, siapa ini?" Kira membalas.

"Um..." Sepertinya suara di ujung sana menunjukkan keraguan. "M-maaf bila aku mengganggu... T-tapi... A-aku sangat butuh bantuanmu..."

Perlahan Kira mulai mengenal suara yang cukup berat untuk ukuran seorang wanita. Raut wajahnya dari kesal berubah warna menjadi terkejut. Manik lavendernya membulat sempurna. Pada akhirnya... Ia benar-benar mengenali pemilik suara itu.

"Um... I-ini aku Cagalli..."

Ternyata dugaanya benar. Mau apa wanita ini menghubunginya? Apakah terjadi sesuatu? Tidak setiap hari 'kejadian langka' ini terjadi. Rasa sedikit panik dan penasaran berkecamuk dibenaknya.

Kira melirik cepat ke arah ranjang, sang wanita (sebelumnya) masih tertidur pulas. Ia menghirup udara, sempat menahan beberapa detik sebelum menghembuskannya. Lalu dipandangnya lagi laut biru dihadapannya. Ekspresi wajahnya menjadi serius.

"Ya... Aku tahu." Balas Kira lirih. "Cagalli... Cagalli Yamato."


TBC


Pojok Bacotan/Curcol Nel: tuh kan kecewa? Maaaaaf... *sembunyi*

Mulai pertengahan bulan lalu sy mulai bekerja lagi. Maka, updetnya (untuk semua fic) akan berjalan lambat. Maaf m(_ _)m sy usahakan untuk curi2 waktu buat menuliz (walau di tempat kerja :p don't try at your workplaces guys!)

Chappie selanjutnya tinggal ngedit aja. Untuk fic yang lain, mohon sabar. J

Pliz ripiu~

Many Thanks,

Semangat!

Nel. ^o^)9