Disclaimer: I don't own Gundam Seed/Destiny, but this story is mine!
A/N: Maaf kalau SMS dari Yzak kemarin agak ... brutal, he xp~ maaf telat updet, pertama, Ibu saya mengalami kecelakaan, maka waktu luang saya, saya habiskan u/ merawat my mom. Kedua, sy sendiri harus merasakan infus dan beberapa suntikan TT_TT selama beberapa hari di RS. Ketiga, hal itu membuat pekerjaan sy menumpuk gila! *nangishisteris*
Terima kasih banyak buat yang uda nyempetin baca dan review fic terbaru saya, The Date.
Chapter ini dan next chappie sendiri sudah selesai akhir bulan lalu (Oktober) hehe ... xp~
Warning: Idem plus possibility of crack pairing.
-oOoxnelxoOo-
.
Taken by You
...
Chapter 6
.
-oOoxnelxoOo-
.
The jealous are troublesome to others, but a torment to themselves
-William Penn-
.
-oOoxnelxoOo-
"Bagaimana?"
Aku mendengar suara familiar, menjijikkan, memuakkan dan sialnya, itu milik salah satu teman baikku. Suara itu jelas miliknya dan sangat jelas -itu ia gunakan untuk menaklukkan lawan jenis.
Tsk!
"Umm ... ya ... seperti yang kau lihat." Suara barusan pun aku juga mengenalnya. Suara dari kahyangan. Suara yang berbanding terbalik dengan suara pertama. Suara dari my Goddess. Ah, heaven.
Tunggu sebentar ... kenapa suara angel terdengar ragu dan sedikit malu-malu. Tak mungkin ia termakan rayuan tak berkelas si idiot itu 'kan?
Kurasakan bibir sedikir berkedut, iritasi dengan percakapan mereka. Dan sejak kapan mereka jadi akrab begitu.
Dearka brengsek, ia tak main-main dengan ucapannya. Apa ia tak bisa menunggu. For heaven's sake, kita sedang ada di tempat umum. Lift ini benar-benar sedang penuh pagi ini. Bagaimana bisa ia menggoda sekretarisku di tempat terbuka seperti ini. Well... kalau kita membicarakan Dearka, urat malunya memang sudah terputus.
'Sabar... Sabar Zala. Bukan waktunya memukul kepala idiot playboy kacangan itu sekarang.'
Salahku juga memberinya lampu hijau untuk mendekati sekretarisku.
Huft...
Terkadang aku sendiri meragukan kepercayaan diriku.
Amuzing... darimana datangnya pemikiran konyol dan idiot itu. Hilangkan itu Zala! Kau tak cocok dengan rendah diri! Seorang Zala adalah pribadi yang kuat! Apalagi seorang Athrun Zala.
Sigh...
Lebih baik dengarkan percakapan mereka. Bila mereka membicarakan hal yang memalukan (melihat sifat tak tahu malu Dearka). Setelah kotak besi berjalan ini berhenti, terbuka, seret Dearka ke ruangan, kunci pintu dan jatuhkan ia dari gedung ini secara brutal tanpa ampun apalagi amnesti. Hah! Take that!
Kulirik si gadis pirang si sebelah kiriku yang masih menatap Dearka di sebelah kirinya. Tak ada tanda bahwa ia sedang merayu balik Dearka. Ia masih seperti Cagalliku. Cagalliku yang polos dan mempunyai hati yang tulus. My pure Cagalli.
"Sudah kubilang 'kan? Kau akan berhasil!" aku makin penasaran, apa yang mereka bocarakan? Dearka sepertinya mempunyai suatu rahasia dengan sekretarisku.
Cagalli tersenyum kecil padanya dan sedikit merona. Cagalli merona!? Fuck! Apa pun di antara mereka akan kuterjunkan Dearka dari atas gedung ini setelah lift ini terbuka. Brengsek!
Kupejamkan mataku dan kutarik nafas dalam-dalam. Kepalan tanganku mengeras. Tapi tetap kupertahankan ekspresi tenangku. Itu sudah pakemnya! Athrun adalah pribadi yang cool. Tenang walau di dalamnya siap untuk meremukkan tulang seseorang bernama Dearka Elsman.
"Hmm ... terima kasih." Untuk apa Cagalli berterima kasih pada si idiot mesum itu.
"O~ honey~ don't be, it's my pleasure~" entah mengapa, suara Dearka makin lama makin membuatku mual.
'My pleasure my ass!' kuputar mataku.
"Sungguh, aku sangat terbantu. Kau membuat pekerjaanku makin mudah. Kurasa ... aku berhutang padamu." Aku menahan agar tak memutar mataku lagi. Dearka brengsek itu pasti merencanakan sesuatu. Ia tak mungkin membantu seseorang tanpa ada imbalan. Atau ... ia mulai melancarkan aksinya? Mataku menipis mengingat pembicaraan kami kemarin.
"Dengar Dearka..." Aku menantap lurus bola mata lavendernya. "Kau boleh berkenalan, mendekati, merayunya, tapi..."
'Wrong move Zala,' pikirku. Sekarang aku merasa ... menyesali perkataanku.
"Ya, baiklah! Ekstra clear buddy! Tapi jangan menangis bila ia jatuh ke pelukanku, blueboy!"
"Tsk, brengsek!" Aku menggumam lirih sehingga hanya aku yang dapat mendengarnya.
"Bagaimana kalau kita kencan?" Saran Dearka yang lantang tanpa keraguan dan basa-basi, langsung membuatku menoleh padanya. Tapi si idiot itu malah masih asyik menatap sekretarisku dengan I-want-this-girl-so-badly-much look!
'Bastard!' Ujung bibirku berkedut.
Tipikal Cagalliku, ia tak tahu apa yang direncanakan serigala berbulu domba ini. "Um ...," Cagalli sepertinya kelihatan resah. Ia agak terganggu juga dengan pembicaraan ini rupanya. "Kurasa ini bukan tempat yang tepat."
'Dengar Dearka, kalau kau pintar, ia menolakmu secara halus buddy!'
"Oke hon~ siang nanti akan kuhubungi lagi." Dearka berkedip tepat lift terbuka. Lantai ini adalah kantor Dearka. Thank's to heaven. Akhirnya ia pergi. Sebelum pergi ia sempat melirikku dengan seringai brengseknya itu. "Permisi GM."
Cih, ia jelas meminta perang! Kuhadiahi ia death glare, si idiot itu malah bersiul kegirangan. Andai ia tahu, kepalaku ini hampir meledak, karena ingin membunuhnya.
Sekarang tersisa kami berempat, aku, Cagalli dan dua orang pekerja di belakang kami, yang mana aku peduli siapapun itu.
Tanpa mengalihkan pandanganku pada pintu lift didepanku, kubertanya. "Kau berhutang berapa pada Dearka?"
Aku bisa merasakan ia sedikit terkejut. "Ehm ... maaf kurasa itu bukan urusan Anda." Ia berbisik lirh agar tak terdengar siapapun.
"Apa itu sebabnya kau begitu membutuhkan pekerjaan ini? Untuk membayar Dearka atau untuk … dekat dengan Dearka?" wow, aku tak menyangka, aku begitu sensitif dan marah seperti wanita datang bulan. Sebenci aku mengatakan ia ingin dekat dengan Dearka, akhirnya pertanyaan itu keluar juga.
"Ap-apa!? I-i-tu, b-bagaimana -Haumea, itu bukan urusan Anda!" Ia menjawab agar keras dan nada suaranya jelas sangat kesal. Ia sepertinya tak peduli lagi dengan sekitar, bahwa kami tak sendirian. Apa aku menyakiti hatinya? Atau aku berhasil menemukan kebenaran?
'Begitukah?' Alisku terangkat satu. Aku masih tak menatapnya.
Terdengar suara pintu lift terbuka, segera aku keluar dari tempat itu menuju ruanganku. Cagalli mengikuti dibelakangku. Beberapa karyawan yang kami lewati mungkin memberi salam padaku. Aku tahu, karena Cagalli berkata "pagi" dibelakangku. Tapi aku tak ada mood untuk menjawabnya.
Akhirnya, ruanganku. Tepat di depan ruanganku. Cagalli berkata. "Maaf GM Zala, jam sembilan nanti ada pertemuan dengan Manajer Joule di ruang meeting -"
"Untuk apa aku harus bertemu Yzak!?" Nada suaraku sangat tak menyenangkan. Mungkin wajah Cagalli saat ini terkejut. Aku hanya menebaknya karena aku masih tak menatapnya.
"Maaf, tapi Anda sendiri yang meminta saya -"
Aku berbalik, aku tahu permintaan itu hanya akal-akalanku saja. Tapi aku masih di ambang rasa kesal. Belum pernah ada yang membuatku begini selain kejadian saat itu, dan itu sudah sangat lama.
"Ms. Athha, aku tahu aku memintamu, tapi apakah kau bertanya untuk apa pertemuan itu?" Kusipitkan mataku. Kugunakan posisiku untuk mengungkapkan kekesalanku.
"Um ... maaf GM Zala." See, I got the point! Ia juga merasa canggung. Karena ia melakukan kesalahan kecil tapi fatal. "S-saya kira Anda menginginkan pembahasan laporan tahunan dengan Manajer Joule seperti pada Manajer Almafi."
"'Saya kira, Ms Athha? Anda melakukan asumsi Anda sendiri?" Aku menyindirnya. "Kau mencoba berspekulasi dengan pikiranmu? Atau Anda mencoba berinisiatif dibelakangku?" Aku tersenyum dan bukan senyum yang ramah. Aku tak peduli beberapa karyawan memperhatikan kami, mengingat kami tepat di depan pintu dengan papan nama "General Manager". Biar saja, ini juga pembelajaran bagi mereka, agar tak berbuat ceroboh terhadap pekerjaan mereka.
"Maaf GM Zala, saya tidak mempunyai pemikiran itu. Saya memang bersalah karena kurang menggali informasi tentang pertemuan dengan Manajer Joule. Saya -"
"Cukup Ms. Athha. Lalu bagaimana Yzak bisa setuju dengan pertemuan ini?" Sepintas pemikiran ini muncul dan membuatku penasaran. Yzak adalah orang yang tak membuat janji sembarangan. Buktinya? Apa lagi kalau bukan sms horor semalam.
Ia sepertinya ragu menjawab. Tak seperti sebelumnya di mana ia bisa menjawab tegas dan cepat. Ia menggigit bibir bawahnya, tanda ia tak yakin akan sesuatu. Bagaimana aku tahu? Aku cukup memperhatikannya. Apa kalian tahu sesuatu? Damn! That's sexy! Rasanya ingin berkata "Persetan dengan pembicaraan ini!" Lalu menciumnya seakan besok adalah hari akhir dunia.
Sial Zala kau teralihkan oleh bibir mungilnya! Alihkan pandanganmu dari sana, ingat kau masih kesal dengannya dan Elsman bodoh itu.
"Seperti yang saya kemukakan baru saja dan ..."
"Dan?" Aku mengulangi ucapannya yang terhenti.
"Dan ... Tuan Elsman membantu saya."
Mataku terbuka lebar, menatap gadis pirang di depanku yang tak berani memandangku. Apa kalian tahu? Saat ia mengakui Elsman membantunya rasanya seperti ada perayaan kembang api di belakang punggungku.
Finally! Aku mengetahui "hutang" itu. Dearka brengsek memanfaatkan kesempatan ini! Seharusnya tak kukatakan padanya, apa saja 'permintaan'ku pada Cagalli.
Aku tak mau yang lain mendengar pembicaraan kami. "Masuk Ms. Athha." Itu perintah mutlak. Aku membukakan pintu padanya. Atasan atau bukan, its just gentleman's habit. Ia ragu sebelum akhirnya menurutiku.
Pintu kututup, aku melewatinya menuju kursiku. Kupersilahkan ia duduk didepanku. "Katakan Cagalli, Dearka membantumu apa lagi?"
Merasa seperti aku makhluk aneh yang tiba-tiba terjatuh dari negeri antah berantah, ia memberiku pandangan bingung. "Maaf, bisa Anda ulangi sekali lagi GM Zala?"
"Athrun." Aku menjawab cepat. "Hanya ada kau dan aku di sini Cagalli, ingat?" Aku tersenyum simpul.
Membuat Cagalli makin melihatku bingung. Well ... aku tak bisa menyalahkannya jika ia sebingung itu, salahkan mood-ku dan makhluk idiot brengsek bernama Dearka Elsman.
Ia menghela nafas dan menggeleng kecil, "Sungguh ... aku bingung menghadapi kecepatan perubahan mood-mu ... Athrun."
Aku hampir tertawa dibuatnya. "Don't be babe, kurasa mulai saat ini, kau harus membiasakannya, dan itu ... perintah." Meski berkata begitu aku sempat berkedip padanya.
Ia tersenyum tipis. Ketegangan diantara kami mencair. Thanks to me, yang membuat tegang sekaligus membuat tenang.
"Sekarang ... katakan padaku, apa saja yang Elsman sial -ehem, bantu untukmu?"
"Ia membantuku bicara dengan Manajer Joule dan Almafi itu saja."
"Bagaimana ia bisa tiba-tiba membantumu?" Aku mulai curiga.
Ia memiringkan kepalanya. Pandangannya menerawang. "Kurasa ... kebetulan."
Kedua alisku terangkat tinggi. "Kebetulan?"
"Hmm ...," ia mengangguk kecil. "Saat aku sedikit ... memaksakan kehendakku pada sekretaris Manajer Joule, Tuan Elsman kebetulan di sana. Dan ... ia mencoba membantuku. Tak ada masalah berarti dengan Manajer Almafi tapi saat menghadapi Manajer Joule, rasanya ingin menutup telingamu -oh Haumea, ma-maaf aku, apa yang kukatakan -"
Aku terkikik kecil. Itu jelas sangat Yzak sekali. "Tak apa Cagalli. Aku juga selalu menutup telingaku bila ia mulai berteriak-teriak atau aku pergi saja menjauh darinya tapi percayalah, justru membuat ia berteriak makin keras. Aku heran bagaimana ia mempunyai pita suara yang begitu kuat?"
Cagalli ikut tertawa kecil. Apakah aku pernah mengatakan bahwa tawanya adalah melodi indah di telingaku? Kurasa ... sering. Dan aku takkan bosan mengatakan dan mendengarnya berulang-ulang. "I've no idea about that." Balasnya.
"So ... bagaimana kau akan 'membayar' Elsman?" Ia tak langsung menjawab, jadi kupotong saja. "Kau tak perlu berhutang apapun dengannya. Biar aku bicara padanya -"
"Oh tidak tidak tidak." Ia menggeleng cepat. "Kau tak perlu repot. Akulah yang berhutang padanya. Aku yang harus membayar kebaikannya."
'Kebaikan? Pft, yang benar saja!' Alisku bertautan, aku hampir dibuat merengut oleh keputusannya. Ia memang wanita mandiri, selalu bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. "Dengan berkencan dengannya?"
Otakku sudah berteriak "tidak", "jangan" atau "tolak".
"Kau mendengar pembicaraan kami?" Tanyanya heran. Manik matanya membesar.
Ups, terselip!
"Tak sengaja terdengar olehku." Kilahku cepat. Smart move Zala, berpikir cepat. Untuk itulah otakmu diciptakan. Berpikir dengan kecepatan cahaya. "Kurasa bukan hanya aku saja yang mendengar, bila suara Dearka sekeras itu."
Ia merona. Mulutnya terbuka. Tak kukira ia begitu malu dengan 'ajakan kencan' Dearka yang terdengar oleh umum. "Benarkah? Haumea, pasti sangat memalukan." Ia menutup matanya erat dan menggeleng cepat seolah ingin mengenyahkan peristiwa tadi. Seperti anak kecil, sangat manis.
"Lalu apa kau menerimanya?" Aku penasaran. Dan ini sangat membuatku tak tenang bila ia menerima ajakan itu. Sampai itu terjadi ... matilah kau Elsman!
Ia masih diam, berusaha mempertimbangkannya. "Aku ... belum menjawabnya."
"Tolaklah." Ucapku datar, tegas dan lantang.
"Permisi?"
"Tolak ajakan kencan itu, Dearka bukan orang yang ... yang ... ehm ... c-cocok." Aku sendiri tak mengerti apa yang akan kukatakan. Seriously! "cocok" itu bukan kata yang tepat dalam menggabarkan seorang Dearka 'Man-Whore' Elsman. Aku tak peduli bila ia sahabatku, touch mine, he's over!
Ia tertawa kecut. "Maaf? Kurasa itu bukan urusanmu, aku akan berkencan dengan siapa. Dan itu bukan keputusanmu untuk menentukan apakah aku harus menerimanya atau tidak." Back to Cagalli's defensive mode. Saat hendak membuka mulut, ia bersuara lebih dulu. "Apa ada yang Anda butuhkan lagi GM Zala?" Hh ...kembali ke pekerjaan. Dia benar-benar tahu cara mengalihkan perhatian di saat yang tepat. Kalau ingin tahu yang kubutuhkan itu adalah kau, babe.
"Kau takkan menolaknya?" Suaraku terkesan memohon, walaupun mimikku wajahku masih stoic. Aku bersikeras membahas ini sampai tak ada yang mengganjal di pikiranku.
Tunggu sebentar! Seharusnya aku tak bersikap seperti ini bukan? Untuk apa aku khawatir, bila aku saja ia tolak maka Dearka akan jelas disingkirkannya dengan mudah. Aku percaya bahwa Cagalli sama sekali tak menginginkan Dearka, tapi Dearkalah yang perlu dikhawatirkan. Ia bisa melakukan apa saja yang ia mau meskipun dengan cara licik.
Shit!
Ia menutup matanya singkat. "Athrun …," suaranya lirih. Ia membuka mulutnya lalu menutupnya kembali. Sebenarnya apa yang ingin dia katakan? "Jam sembilan, Manajer Joule. Makan siang dengan Presdir Zala. Nyonya Zala ingin kau menghubunginya secepatnya. Rapat dengan staff setelah makan siang. Setelah itu kau … free."
Cih, keras kepala. Tak bisahkah ia menjawab pertanyaanku dengan satu kata, tidak – agar aku bisa, setidaknya bekerja dengan tenag seharian ini. Dan tidak memnayangkan bagaimana Dearka tertawa bagai iblis dibelakangku karena berhasil mendapatkannya. Fine, I'll drop it … for now.
Back to paperworks. Pikirkan pekerjaan. Jangan pikirkan mereka. Pikirkan apa yang akan Yzak katakan. Pikirkan apa yang ayah ingin sampaikan. Pikirkan – ah fuck! Screw with this! "Konfirmasi semuanya dengan mereka. Soal Ibu … setelah keluar ruangan ini segera hubungkan aku dengannya." Oh yeah right soal makan siang itu. Kenapa semangatku serasa luntur. Apa karena mengingat text mail semalam. Selain harus berhati-hati bicara dengan Ibu, juga kedatangannya yang tiba-tiba –kembali ke PLANTs.
...Lacus Clyne...
Tiba-tiba menghilang lalu … kembali? Bagaimana keadaannya? Apa ia bahagia? Ck ... pemikiran bodoh apa itu, tentu saja ia bahagia. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Kenapa aku seolah bersikap tak ada apapun diantara kami sebelumnya. Apa karena aku sudah melupakannya atau karena aku sudah bisa berjalan di jalanku atau karena ku telah termaafkan olehnya. Apa yang kupikirkan ini? Mengapa mendadak aku memikirkan ini semua?
Lalu … Kira. Kira Yamato, sahabatku. Ia bersikap aneh, di saat seharusnya ia tak bersikap seperti itu. Entahlah aku merasa ada yang ditutupi dariku. Well … ia berhak, itu hidupnya. Sangat berhak. Karena aku, dia -
"Athrun?" Suara my goddess berhasil membuatku kembali berpijak ke dunia. "Apa semuanya baik?"
"Ah … i-iya ..." 'kurasa.'
Cagalli melihatku bingung, "Ehm … ada lagi yang kau butuhkan?"
Aku berpikir sejenak. Ah iya, benar juga. Sebagai permintaan maaf untuk ibuku karena kemarin aku mengacuhkannya. "Tolong kirimkan selusin bunga lili dan tulip putih untuk ibuku, ke kediaman Zala. Dan … err … selusin mawar … putih, untuk – ke tempat yang sama. Kau boleh kembali Cagalli, terima kasih."
"Um … mawar putih untuk siapa?"
Huh?! Oh, aku agak kaget mendengar pertanyaannya yang tak terduga. Ia sangat menyimak rupanya. Ia menyadari bahwa mawar itu untuk orang yang berbeda. Atau ia penasaran untuk siapa mawar itu keberikan? Nah! Tak mungkin, ia cemburu hanya karena itu. Cemburu? Tunggu sebentar darimana asalnya itu. Cagalli cemburu? Cagalli Yula Athha cemburu? Terdengar mengasyikkan tapi na-ah, tak mungkin.
"H-hanya untuk teman lama, tamu keluargaku." Kenapa aku tak memberitahukan yang sebenarnya. Kenapa aku merasa sedikit takut. Geez … aku bersikap layaknya suami yang sedang selingkuh dibelakang istrinya saja..
"Apa kau tak menyelipkan pesan?"
"Em …," kenapa aku merasa ia menginterogasiku. "Um … t-tak perlu, itu hanya Ibu. Aku selalu mengirimkan setiap minggu, hanya terkadang aku lupa." God, I'm pathetic, kubur dan telan aku sekarang, untuk apa aku mengatakan semua itu padanya.
Ia mengangguk kecil dan bersuara lagi, "Apa kau … berbuat kesalahan?" Tanyanya lagi dengan pertanyaan (lagi) yang tak pernah terlintas di benakku.
Huh!?
Apa ia membaca pikiranku? Apa ia tahu, um … aku … Lacus, um … tak mungkin! Atau Dearka memberitahunya –
"Tulip putih." Potongnya singkat. Apa aku begitu terbaca sehingga di jidatku muncul tulisan 'aku bingung, tolong jelaskan' berukuran besar?
Aku berkedip sekali, "Tulip putih?"
"Hmm-mm …." Ia mengangguk cepat dengan senyum manisnya.
Memang apa yang salah dengan tulip putih? Lili putih adalah bunga favorit ibuku bahkan ibu menanamnya sendiri di halaman rumah, err, maksudku dalam rumah kaca di samping mansion Zala. Sedangkan tulip putih? Entahlah hanya random terlintas di pikiranku karena Ibu menyukai warna putih. Baginya putih melambangkan kesucian, ketulusan. Jangan kalian tanyakan soal mawar putih, itu hanya welcome-flower untuk teman lamaku, itu bunga kesukaannya. Bahkan wangi tubuhnya pun seperti – what the hell! Kenapa malah aku – Zala bukan waktunya!
Alis Cagalli bertautan, lalu berkata, "Aku tebak kau tak tahu arti tulip putih?"
Mulutku hampir menganga terbuka, sejak kapan aku mengerti bahasa bunga, itu pekerjaan wanita. "Ehm, sedikit, mengapa?" oke, aku tahu aku bohong tapi hei, bukankah itu kelihatan romantis? Sedikit.
"Tulip putih melambangkan permintaan maaf." Ia tersenyum tapi matanya tidak. Sepertinya ada sedikit "cerita' di balik itu.
Sebagai respon, kepalaku hanya mengangguk sekali, tapi otakku berteriak "oh begitu!". No way in hell, aku mengatakannya keras-keras. "Hm … sepertinya – maksudku ini karena kemarin, aku mengacuhkan Ibuku." Bagus, I'm the perfect liar.
Matanya kembali bersinar, ia memandangku seperti aku adalah anak yang berbakti dan romantis yang pernah ada. Great, you felt to that too hon.
"Oh, oke. Baiklah. Kalau tak ada yang kau perlukan lagi, aku akan kembali ke mejaku." Ia sedikit ragu mengucapkannya walau tersenyum. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan saja. Ia pergi dan – salahkan otak pervertku, aku masih sempat memeriksa pantatnya. Bagaimana ia menggoyangkannya, saat berjalan -that's hot!
Sial, aku berkedip berkali-kali dan menggeleng cepat. Fokus ke perkerjaanmu Zala! Tapi sebelumnya, deal with my mom first.
.
.
.
.
.
Let's see, biar kurekap kegiatanku di kantor seharian ini.
Dimulai dengan menelpon Ibuku. Kesalahan! Kesalahan mengawali hari. Oh, Tuhan … ia sempat menangis tak henti-henti karena mengira terjadi sesuatu yang buruk denganku. Ia bahkan akan menghubungi ambulance dan polisi. WTF! Untung saja Ayah berhasil menghentikan kekhawatiran Ibu yang berlebihan. Ralat, sangat sangat sangat berlebihan!
Check!
Meeting dengan Yzak, dan berakhir mengelap wajahku dengan saputangan karena terciprat air ludahnya. Aku harus pergi ke salon untuk perawatan. Man … kenapa dia suka sekali berteriak!? Man … bagaimana Shiho bisa bersanding dengan pria ini!? Hhh … kenapa ia bisa menjadi sahabatku!?
Check!
Meeting dengan Ayah atau Presdir Zala saat makan siang. Seharusnya aku menghubungi pemadam kebakaran lebih dulu, Tuhan … Ayahku benar-benar serius saat mengatakan akan membakar telingaku. Maksudku bukan dengan api sebenarnya tapi dengan ceramahnya tentang 'dedikasi dan pengaruh seorang Ibu' tiada henti! Sampai saat ini, telingaku masih berdengung kencang. Thanks to Yzak too …
Check!
Rapat dengan para staff. Boring as usual! Same old, same old. Apa perlu kujabarkan? Oke, be-o-er-i-en-ge, membacanya, boring! Aku tahu kalian kecewa karena itu bukan maksud kalian. Tapi, aku malas menceritakannya. Sorry guys.
Check!
At last, waktunya untuk bersantai sejenak di Penthouse, berendam dengan air panas tidak buruk juga. Membayangkan saja, aku ingin cepat mengendarai my baby pulang ke rumah. Sehingga besok bila aku mendengarkan ceramah lagi dari Ayah plus istrinya, my lovely mom, aku sudah siap dengan tenaga baru. Lagipula … ada Lacus di sana. Kuharap ia bisa menjadi malaikat pelindungku, tembok pertahananku seperti dulu, saat kedua orang tuaku mulai bersuara melawanku.
Dulu...
Itu dulu Athrun...
Kuhirup udara dalam-dalam, sampai semua kenangan itu menghilang.
Sebelumnya biarlah aku menikmati wajah tersenyum my goddess, Cagalli Yu – what the fucking hell! pria hitam ini di sini. Di depan ruanganku, duduk di ujung meja Cagalli, yang sedang membereskan barang-barangnya dan melihat dengan come-baby-fuck-me-now looks?
Aku lupa, seharusnya aku memasukkan Dearka dalam pertemuanku hari ini. Setidaknya di tempat yang terpencil, tak berpenghuni lagi, agar bila seseorang, kebetulan menemukannya, ia sudah menjadi abu.
Seolah 'sensor Elsman' mendeteksi sesuatu yang buruk, ia menoleh padaku dengan wajah polosnya. "Yo dude." Sapanya begitu bersemangat. Membuat telingaku semakin perih.
Tak kubalas sapaanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku iritasi. Si idiot ini mengerti maksudku tapi tetap menghiraukanku. Ia bermain play it cool rupanya.
Sebelum ia menjawab, kudengar Cagalli bersuara memotongku. "GM Zala, selamat sore. Apa Anda sudah mau pulang?"
Pandanganku masih tertuju pada sosok Dearka yang tersenyum lebar penuh arti. "Sore Cagalli. Apa kau juga?"
"Um … ya." Suaranya terdengar ragu. Membuatku berhasil menoleh padanya. Ia melirik Dearka singkat lalu menatapku. "Sebenarnya, Dearka akan mengajakku minum."
Kurasa telingaku ini benar-benar sakit.
Aku seperti salah mendengar sesuatu.
Cagalli dan Dearka pergi minum bersama?
"Maaf?" ulangku memastikan.
Dearka bersuara tapi aku masih menatap Cagalli. "Dude, kau tak salah dengar, aku dan this hot chick, akan pergi minum."
What!?
Holy shit!
Cagalli merona mendengar Dearka memyebutnya 'hot chick', God! That was lame! Rayuan kuno dan ter'prasejarah' yang pernah kudengar.
Tapi bukan itu yang membuatku hampir membalik meja yang diduduki pria moron hidung belang ini. Yang membuatku marah adalah Cagalli menerima ajakan Dearka! Minum? Oh Tuhan, apa ia mengerti maksud undangan minum Dearka? It means, akhirnya ia dapat masuk ke dalam celanamu.
Sial kau Elsman!
"Oh benarkah? Hanya kalian berdua?" aku menggunakan topeng palsu "ketenanganku'. Tak pernah melepaskan tatapanku dari Cagalli. Kupikir ia mulai merasakan bahwa aku terus memperhatikannya, ia bergerak tak nyaman. Matanya seperti seekor kelinci yang akan dimangsa harimau kelaparan.
Lagi-lagi ia melirik Dearka, seperti berharap ia yang menjawab. Tapi saat Dearka hanya terdiam, ia tahu bahwa harus ia sendiri yang menjawab. "Ehm … i-iya. Apa Anda mau iku -" Suaranya lirih.
"Kau siap hon~ ayo kita pergi -nite dude~" Dearka menarik paksa tangan Cagalli. Cagalli sempat memberiku tatapan 'maaf/menyesal' serta tersenyum singkat.
Aku hanya terdiam ditempatku saat mereka pergi tanpa bisa berbuat apapun.
Ulangi, tanpa berbuat apapun? Ya Tuhan, aku hampir tertawa karena suaraku sendiri.
Aku mencapai posisi General Manager bukan tanpa usaha dan keteguhan, itu ... berlaku juga dalam hal ini. Selama aku belum mencicipinya, Dearka juga tak boleh menyentuhnya seujung jari pun.
Screw with friendship if that asshole laid one finger on her!
TBC
Pojok bacotan/curcol Nel: Kesehatan itu tak ternilai harganya. Eaa~ *ngemeng epeh Nel*
Pliz ripiu~
Ngintip dikit next chappie joz:
"Please hon~ you won't regret it. Just a … quickee."
.
.
.
"Red wine? Merlot? Apa kau dan Dearka merayakan sesuatu?"
.
.
.
"Bagaimana wanita sepertimu tak mempunyai kekasih?"
.
.
.
"Hanya ... tidak berhasil. Dia ... meninggalkanku."
.
.
.
"Aku mencintaimu Athrun, tapi ... aku juga mencintainya."
Special thanks to:
NaPpy: penname Anda kali ini lucu sekali xD~ hot-nya? Err, dunno what to say xp~ rujak? Wkwk. Lol. Ngakak gila sy bc ini. Semoga NaPpy-san bisa segera updet, gak sabar pengen baca. Semangat. Makasih reviewnya, mampir lagi ya x)~,
Dewi Natalia,
Mrs. Zala,
Pandamwuchan,
Popcaga,
Guest: sy manggilnya apa nih, he xp~ apa ini termasuk lama? Makasi semangat dan reviewnya, mampir lagi ya x)~,
Mio: makasi kalau suka, jadi tmbh semangat, makasi reviewnya, mampir lagi ya x)~,
Lezala,
NN: Y-Yuno Gasai? -.-" *trembling* Mirai nikki? Wow, kenapa sy jadi takut sendiri xp~ makasi reviewnya, mampir lagi ya x)~
Ojou. Rizky,
October Lynx: I know I already sent you PM, but I couldn't stop to say 'thanks' to you and your lil sis xD~,
Ryuukou: here's the update and where's yours? Thanks for review, come again xD~,
RenCaggie,
Kirana Uchiha88,
Lennethia,
AlyaZala: Amin *berdoa bersama Alya-san* makasi reviewnya, mampir lagi ya x)~,
And, Yang nge-fave dan follow, Silent readers (kalau ada).
Many Thanks,
Fighting!
Nel. ^o^)9
