Disclaimer: I don't own Gundam Seed/Destiny but this story is mine! I don't own the quotes too.


A/N: *sembunyidibelakangAthrun*gemetaran* err, ada yang nunggu fic ini? :p

Maaf terlambat lagi teralihkan oleh pekerjaan, dll di real life *bow* dan Makasih buat doa and perhatiannya *hug*terharu* buat yang ujian: Semangat! Buat yg liburan: Senangnya! X')

Happy Holiday~

Enjoy~

-oOoxnelxoOo-

.

Taken by You

...

Chapter 7

.

-oOoxnelxoOo-

.

A man cannot free himself from the past more easily than he can from his own body

-Andre Maurois-

.

-oOoxnelxoOo-

Previous:

Dearka bersuara tapi aku masih menatap Cagalli. "Dude, kau tak salah dengar, aku dan this hot chick, akan pergi minum."

.

.

.

"Kau siap hon~ ayo kita pergi -nite dude~" Dearka menarik paksa tangan Cagalli. Cagalli sempat memberiku tatapan 'maaf/menyesal' serta tersenyum singkat.

.

.

.

Screw with friendship if that asshole laid one finger on her!

-oOoxnelxoOo-

"Deedee honey~ play with me~" wanita itu berbisik seduktif di telinga Dearka.

Pandangan Dearka masih terfokus dengan wanita dihadapannya. "Sorry babe, I'm taken tonight, later then …"

Wanita itu kesal karena penolakan halus Dearka, tapi kelihatannya ia belum menyerah. Kelihatannya ia malah makin tertantang.

Bagus! Kubayar kau mahal untuk itu!

"Please hon~ you won't regret it. Just a … quickee." Ia mulai menggigit kecil telinganya. Dearka mulai risih -dalam arti baik tentunya. Simpelnya, ia menyukai. Perhatikan saja wajah bodohnya yang mulai menyeringai nakal itu. Wanita itu mulai menyelipkan tangan fresh manicure-nya pada pinggang si pria hitam sialan dan memainkan kancing di kemejanya.

Cagalli menatap wanita itu singkat lalu kembali pada Dearka, alisnya terangkat, "Kau mengenalnya?"

Alisnya bertautan, "Apa kau bercanda? Semua wanita cantik di sini mengenal 'The Mighty Dearka Elsman'." Seringai khas the ladiesman muncul.

Oh Tuhan, aku hampir muntah mendengarnya!

Cagalli terkikik kecil. "Pergilah."

"Nope babe, I'm with you now." Jawab Dearka enteng tapi tangannya mulai meraih tangan wanita yang memeluknya dari belakang itu. Ia malah tak ada tanda-tanda mengusir wanita itu.

Teman kencan macam apa dia?

"Come on D, she's looking fine, but I'm not. I'm so … desperate for you. I could feel you too." Suara berat dan mendesah tepat di telinga Dearka? Very good. Wanita itu mulai melancarkan aksinya yang bisa membuat Dearka menyerah. Tentu saja, si bodoh itu tak bisa menolaknya. Pasti! Dearka menyukai wanita cantik yang straightforward merayunya, apalagi dengan ucapan yang menggoda dan nakal.

Tangan wanita itu mulai mengusap lembut perut Dearka, menyelipkan di balik kemejanya. Cagalli berkedip berkali-kali memastikan apa yang dilakukan wanita tak tahu malu itu. Tidak hanya Cagalli yang mulai risih, Dearka juga mulai terganggu kenyamanannya. Dalam artian terbalik tentunya. Cagalli tidak suka, Dearka sangat-sangat menyukainya. Garis bawahi kata 'sangat'.

"Um … kau yakin tak mengenalnya? Ia kelihatannya sangat … sangat membutuhkanmu?" Cagalli tersenyum kecil dan terlihat jelas dipaksakan. Saat ia mengatakan "membutuhkan", aku yakin ia mengatakan dalam arti yang positif alias pemikiran yang polos. "Atau … aku yang akan pergi –"

"Babe, hell no! kau di sini, beri aku lima menit. Kuselesaikan masalah ini lebih dulu. Stay here, jika ada yang mendekatimu, siram saja dan tendang tepat di tengah. Aku yakin kau lebih berpengalaman dalam hal tendang-menendang, Oke?" Dearka mulai berdiri, berkedip pada Cagalli seraya meraih tangan wanita penggoda itu, keduanya menyeringai dengan penuh arti.

Benar-benar playboy kelas teri. Ia sedang bersama seorang gadis luar biasa malah meninggalkannya untuk wanita nakal tak jelas asal-usulnya.

Standing applaus for you, stupid-Elsman!

Cagalli tersenyum lebar. "Kau gila! Pergilah sana cepat."

Dearka menatap Cagalli singkat, "lima menit, max!" Lalu menatap wanita itu, merangkul pinggangnya, "Siapa namamu cantik?" Tanyanya dengan nada merayu.

"Abby, D~, kita bersama seminggu yang lalu~" Pandangan wanita menggelap, nafasnya terasa berat, kurasakan dari kejauhan Dearka juga sama. Matanya tak memandang wajah wanita itu, matanya melihat tepat bagian tengah tubuh wanita berambut pirang dihadapannya. Ia seperti tak sabar meletakkan jari-jarinya menari di sana, meremas dan memilinnya.

"Benarkah? Pasti ... karena pekerjaan membuatku teralihkan sementara oleh keseksianmu sayang~" kilahnya, mereka pun melenggang pergi entah kemana. Ke toilet mungkin? Atau kamar di atas club ini? Aku jelas tak mau tahu apa yang akan mereka lakukan di sana.

Yang terpenting sekarang, gadisku sendiri di meja dengan minumannya. Ada yang bertanya di mana aku? Aku berada sekitar … lima belas langkah darinya. Kami hanya bertukar tempat saat pertama kali aku melihatnya. Aku hampir tertawa lantang saat tahu Dearka pasti membawa Cagalli ke bar regular kami. Di antara semua bar, ia membawanya kemari? Sungguh sangat terbaca. Kupikir ia akan membawanya ke tempat yang lebih sulit kutemukan tapi ternyata … kini aku meragukan kemampuan Dearka dalam menarik Cagalli ke pelukannya.

Tinggalkan si moron itu. Kalau ia mengatakan lima menit itu berarti lima puluh menit. Syukurlah ia tak melihatku saat berjalan melewatiku, hanya wanita bayaran asal comot di bar ini saja yang sempat menyeringai kemenangan padaku.

Thanks to Rusty too, yang memberiku informasi soal ini. Rusty memang informan terhebat di bar ini. Bartender favoritku. Kupastikan ia mendapatkan ekstra tip nanti!

Untuk wanita bernama Abby itu, ekstra bayaran untukmu sayang, jika kau bisa membuat Dearka melupakan Cagalli unuk semalam. Kalau bisa, selamanya!

Bagaimana aku bisa mendengar percakapan mereka? Mudah saja lewat teknologi, kupastikan wanita itu harus berhasil merayu Dearka. Ponselnya harus aktif saat berbicara dengannya. Kuperhatikan smartphone hitamku. Untuk menghilangkan jejak, aku sudah tak perlu ponsel ini lagi. Kemana? Entahlah kucelupkan saja di gelas bir milik orang sebelahku. Untuk ia tak melihatnya. Toh, itu bukan nomor pribadiku juga. So, no prob at all!

"Saatnya menemui gadisku." Kulangkahkan kakiku padanya. Aku harus bertindak cepat bila tidak, laki-laki hidung belang di bar ini akan segera mendekatinya.

Wajahnya memang terlihat cantik bila di lihat dari dekat. Sangat bersinar, sangat seksi dengan semburat warna merah alami di kedua pipinya. Apa ia mulai mabuk? Mudah-mudahan tidak.

Ia masih memperhatikan puluhan pasangan yang larut di lantai dansa. Mungkin akan kuajak nanti. Well, let's see later.

Ternyata bukan aku saja yang melihatnya, mata genit pria di sekitarku mulai menatap dengan padangan haus seks.

'Time to play some acts!'

"Cagalli?" Kubuat suara sekaget mungkin.

Ia mengangkat kepalanya. Terkejut pastinya. Ia memandangku seolah apakah aku berada ada atau berupa bayangannya saja?

"Ath-Athrun?"

Yep, this is me darling. "Hai, tak kusangka kau di sini? Bukankah kau bersama Dearka? Di mana dia?" Susah payah aku menahan seringaiku.

"Oh itu entahlah, ia hanya mengatakan akan pergi selama lima menit." Ia mengatakan itu dengan polosnya. Dan menutupi bagian Dearka pergi tak sendiri. Mulutku hanya membentuk 'o', aku takut bila aku menjawabnya maka penyamaranku akan terbongkar. "Kau sendiri, apa kau lakukan di sini? Sendirian juga?" Kudengar ia bertanya.

Ini dia. "Aku … reguler di sini. Aku, Dearka dan Yzak berkumpul setiap minggu di sini, di tempat kau duduk. Ya, aku sendirian. Yzak sibuk dengan istrinya yang hamil dan Dearka … bersamamu, melupakanku." Apa ia tak mengingat pertemuan pertama kita. Aku agak kecewa, ternyata begitu mudah ia melupakannya.

Matanya membulat. "B-benarkah? Ma-maaf." Matanya terpancar rasa bersalah. Ia sangat manis.

Aku terkikik, "Untuk apa kau meminta maaf?"

Ia mengangkat bahunya. "Entahlah. Karena mengambil pasangan minummu mungkin?"

"Boleh aku duduk?" aku tak sabar berada di dekatnya dan tanganku terasa ngilu memegang apple martini yang esnya mulai mencair.

Manik cokelat madunya membesar. Ia menggeleng cepat. "Oh Haumea! Apa yang kulakukan, tentu saja. Duduklah di mana pun kau suka kecuali di atas meja."

"Bagaimana kalau di atas pangkuanmu?"

Ia tertawa. Sangat mempesona. Aku menyukai seyumannya tapi aku mencintai tawanya. Setidaknya hari melelahkan ini terbayar dengan suara tawanya padaku. Karena aku. Akulah yang membuatnya tertawa.

"Kau mau meremukkan tubuhku." Balasnya.

Rupanya ia sudah mulai mabuk, aku duduk tepat disebelahnya. Jarak kami hanya berjarak sekitar satu jengkal telapak tanganku.

"Atau kau mau di pangkuanku?"

"Zala, kau mabuk!" itulah yang dikatakan oleh pemabuk. Ia tersenyum kecil dengan wajah merona karena minum.

"Red wine? Merlot? Apa kau dan Dearka merayakan sesuatu?" aku teringat pertemuan pertama kami. Aku menebak dengan tepat minuman kesukaannya. Jangan katakan ia merayakan kencan pertamanya dengan Elsman. Ia menggeleng kecil. Terima kasih Tuhan. "So?"

Walau mabuk ia masih bisa berpikir jernih. Ia tampak ragu menjawab. "Um … sebenarnya iya tapi juga tidak – maksudku aku senang aku masih mendapatkan pekerjaanku. Lalu … sebenarnya … a-aku tak terbiasa minum. Aku hanya sedikit mengetahui beberapa jenis minuman. Tapi yang paling kusuka adalah, -" ia mengangkat gelasnya singkat, "- ini. Dan kau berhasil dengan mudah menebaknya."

Huh?! Dia ingat? Dia ingat! Haruskah aku memanggil cheerleaders untuk bersorak merayakannya, I'm so freakin' happy. "Kau ingat? Lucky guess, i thing." Kuteguk sedikit martiniku sebelum berbicara lagi. "Saat itu ... A-aku minta maaf."

"Saat itu?"

"Ketika aku menciummu." Balasku cepat. Ku minum sedikit minumanku. Kenapa aku tiba-tiba membicarakan ini?

Mungkin sekarang ia melihatku seperti kepalaku bertambah satu lagi. Ia cukup lama memandangku. Memang banyak wanita yang memandangku dan mengagumi diriku, seperti menelanjangi diriku dalam fantasi liar mereka. Aku tahu mereka suka melihatku berlama-lama. Tapi ini berbeda, ia melihatku seolah ingin membaca apa yang ada dihatiku.

"Apa ... kau mabuk?" Tanyanya, alisnya bertautan.

Aku menoleh padanya. Ia melihat penuh pertanyaan. Aku mengunci pandangannya. Ia juga tak berniat mengalihkan mata indah padaku. Aku juga tak ingin berpaling -aku ingin seperti ini ... selamanya. Terdengar sangat mushy tapi itulah yang kurasakan saat ini.

"Kau ... sangat cantik." Kuucapkan tanpa sadar.

Ia tersenyum, wajahnya makin merona. Ia menggeleng kecil dan cepat. "Kau mabuk Athrun."

'Mabuk karenamu.' Aku balik tersenyum lebar padanya. "Tidak, aku masih sadar. Sangat sadar Cagalli."

"Sedetik sebelumnya kau meminta maaf, lalu sekarang kau melihatku seolah ingin ... mengulangi lagi."

"Dan kau tidak?"

Senyumnya otomatis menghilang. "Kau benar-benar mabuk Athrun." Ia berpaling, menegak sedikit minumannya. "Apa kau lupa aku sudah memaafkanmu. Kau adalah ... temanku bukan?"

"Jadi aku sudah menjadi temanmu?"

"Mungkin, entahlah, aku tidak -Haumea, pasti aku sudah mabuk." Bicara Cagalli sudah tak karuan.

Aku tertawa kecil. "Ya kurasa kau mabuk."

"Kau juga." Ia cemberut. Itu sangat menggemaskan.

Aku menggeleng, bila kuteruskan, kurasa kami akan terus berdebat tentang siapa yang paling mabuk. Aku tak berniat mabuk hari ini, bila aku mabuk, besok aku pasti merasakan akibatnya dan kepalaku pasti akan pecah karena Ibu pasti ikut mengomel. Lagipula, aku ingin menikmati saat ini bersama Cagalli dalam keadaan sadar.

"Lihat pasangan itu, musiknya begitu kencang tapi mereka berdansa seolah ini musik yang slow." Kuikuti mata Cagalli.

Seringai nakalku muncul. Kutatap ia sekali lagi, "Kau mau berdansa?"

Bola matanya membulat sempurna. "Apa? Dansa -tidak, aku tidak bisa!" Akuinya seraya menegak lagi minumannya.

"Aku tak percaya. Ayolah satu lagu saja. Tenang, aku takkan macam-macam, kecuali kau yang mengajak." Kuulurkan tanganku.

Ia masih bersikeras menggeleng cepat, "Tidak Athrun. Sungguh! Kau hanya akan mendapat malu bila berdansa denganku."

Aku merenggut, tapi tak sungguh-sungguh. "No babe, aku takkan merasa malu bersama wanita cantik sepertimu. Ayolah, satu lagu saja. Atau aku harus memohon, berlutut dengan satu kaki dihadapanmu."

Cagalli tertawa lagi, matanya berbinar. So fucking adorable. Tidak ada yang lebih seksi dari wanita setengah mabuk dengan wajah merona, tertawa lepas karena leluconmu. "Jangan marah bila kakimu terinjak olehku." Ia menyelipkan rambut di belakang telinganya.

Oh sayang biar aku yang melakukannya!

Lalu menerima ajakanku, meletakkan tangannya di atas tanganku yang terulur. Kuremas lembut, mataku tak pernah lepas darinya.

"Takkan pernah." Aku juga takkan pernah melepaskan tanganmu yang terasa sempurna dalam genggamanku.

Kuajak dia tepat di tengah lantai dansa. Tepat, kami berhenti musik mulai terdengar lembut. Slow music? what a fucking good timing! Aku sungguh beruntung.

Kami berhadapan. Meski minim cahaya di sini, aku bisa melihat wajahnya yang memerah. Efek yang ditimbulkan wanita pirang ini sangat kuat padaku. Ia menggigit bibir bawahnya. God ... bagaimana ia bisa membuatku seperti ini. Kurasakan di bawah sana sangat ... keras. Oh tidak, bayangkan sesuatu yang menjijikkan Zala. Kalau tidak, sebelum kau berdansa, kau akan menyerangnya di sini tepat di tengah lantai dansa, di antara kerumunan manusia.

Kucoba menutup mata dan membayangkan sesuatu. 'Menjijikkan? Baiklah? Ehm, Dearka? Dearka dan Yzak berciuman saat SMA -ketika mabuk saat pesta di tempatku? Ya itu, oh Tuhan, tidak! Itu lebih dari menjijikkan, aku merasa mual hanya dengan mulai membayangkannya.'

Kurasa itu cukup membuat yang di bawah sana ... tenang. Untuk sementara. Kubuka mataku, bertemu dengan mata cokelat kesukaanku yang menatapku bingung. Aku tersenyum simpul, kuraih kedua tangannya, kukalungkan pada leherku. Ia cukup terkejut. Kuletakkan kedua tanganku pada pinggang mungilnya. Seperti ada sengatan, secara reflek, bagian tubuh bawahku mengeras kembali.

Fuck!

Entah beruntung atau tidak, jarak kami masih dibilang cukup aman. Tubuh kami masih belum bersentuhan. Bila kutarik pinggangnya menyentuh tubuhku, ia pasti bisa merasakan betapa kerasnya sesuatu di bawah perutku. Betapa aku menginginkannya.

Wajah Cagalli terlihat sedikit gugup. Aku mendekat berbisik di telinganya dengan suara serak seksi khasku. "Rileks babe. Cukup ikuti langkahku."

Ia mengangguk lemah. Tubuh kami mulai bergerak mengikuti irama. Mata ambernya masih terkunci dengan mata emerald milikku. Ia cepat belajar, ia berhasil mengikuti langkahku. "See ...

kau takkan menginjak kakiku. Kau sangat pintar dan berbakat sayang."

Ia sedikit cemberut. "Sudah berapa kali kukatakan tentang jangan memanggilku dengan sayang atau apapun. Hanya Cagalli."

"Dearka juga memanggilmu begitu?"

"Karena dia gila dan mabuk. Bagaimana kau bisa -"

Kupotong cepat sebelum ia menyadarinya, "Di kantor?" Whoa, hampir saja.

Ia melupakannya dan menjawab, "Kuulangi, itu karena dia tak waras. Ia hampir memanggil semua wanita di kantor dengan panggilan itu. Biar kutebak kecuali pada ibu dan neneknya!"

Cagalli memang setengah mabuk. Aku tertawa kencang mendengar jawabannya. "You're amazing babe!"

Ia langsung mendelik padaku. Aku tersenyum kecil dengan ekspresi tanpa dosa.

"Ups sorry. Terselip. Don't mean it, really. Maaf?"

Ekspresi wajahnya melunak, "Diterima. So, bagaimana dengan calon wakil presiden kita yang baru?"

Aku menggeram, "Kau serius ingin membicarakan itu di sini?"

"Mengapa?"

"Kita di lantai dansa say -err, Cagalli. Kita sedang bersantai. Aku tak mau membicarakan masalah kantor di tempat seperti ini."

"Ehm ... baiklah? Lalu -"

"Bagaimana wanita sepertimu tak mempunyai kekasih?" Jujur, aku sangat penasaran, Cagalli sangat menarik. Hanya dengan melihat matanya, kau seperti terhipnotis olehnya. Penuh semangat, berapi-api, jujur dan sangat polos. Walaupun terkadang seperti terlihat ada sesuatu yang disembunyikannya tapi selalu tertutupi oleh cahaya di matanya.

Sekali lagi ia melihatku bingung. Seperti bertahun-tahun aku menunggu jawabannya, "Tak tertarik."

"Pembohong. Kau tak pintar berbohong. Katakan sejujurnya Cagalli, aku akan menutup mulutku rapat."

"Sungguh, tak tertarik. Aku hanya ingin ... ingin mandiri, itu saja." Ia mengangkat bahunya singkat.

"Berapa kali berpacaran?"

"Apa kau menginterogasiku?"

"Tergantung. Aku hanya ingin mengetahui dirimu lebih banyak sebagai ... teman."

Ia menatapku aneh. "Apa itu yang ditanyakan seorang teman? Kupikir sebagai permulaan, ia akan menanyakan tentang pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan, dan bla-bla-bla."

"Klise Cagalli. Aku berencana menanyakan setelahnya." Aku sudah tak sabar ingin mengetahui seperti apa pria yang disukainya. Pertanyaan umum seperti yang ia sebutkan, nanti saja, itupun -kalau aku ingat. Tapi sungguh, aku ingin mengetahui lebih banyak tentang dirinya.

"Alasan bagus." Ia menarik nafas panjang. "Hanya sekali. Dan baru putus saat datang ke kota ini."

Wow! Benarkah!? Sekali!? Baru putus!? Siapapun pria yang meninggalkan Cagalli, pasti menyesal melepaskan wanita sehebat ini.

"Sekali? Kau bercanda? Lalu ... fling err -"

"Stop, aku mengerti maksudmu. Tidak. Kau boleh ejek aku dengan kuno tapi aku tipe berhubungan serius dengan satu orang pria. Jangan samakan aku sepertimu Tuan Playboy."

"Hei! Tapi aku tak seburuk itu. Aku bukan playboy, aku tak mempunyai hubungan khusus dengan mereka. Lagipula ..." 'Mereka kubayar penuh dan ...mereka menginginkanku.'

"Lagipula?"

"T-tidak -maksudku, itu untuk pengalaman -err, untuk istri kita nantinya. Kau tahu 'kan maksudku?" Penjelasan macam apa itu. Kau buruk Zala! Apa tak ada alasan klasik lain selain itu? Mana mungkin Cagalli percayalah dengan bullshit itu!?

"Kau pintar berkilah, Zala." Lihat Zala, Cagalli tak mungkin percaya dengan alasan lame-mu itu.

Kucoba membela diri. "Hei! Itu benar." 'Setengahnya!' Tambahku dalam hati.

"Terserah padamu." Ia mengangkat bahunya lagi seakan tak peduli pada apapun alasanku.

"Mengapa kalian putus?"

"Tidak akan kujawab, karena sekarang giliranku bertanya padamu -"

"Apa kita sedang bermain pertanyaan-jawaban Cagalli?"

"Aku hanya mencoba fair. Kau bertanya satu kali, sudah kujawab dan bukankah aku harus mengetahui tentang dirimu lebih banyak sebagai ... teman."

Ia membalikkan perkataanku sebelumnya. "Pintar bicara."

"Untuk itulah kau membayarku GM Zala."

Aku tertawa lepas. Aku sangat menyukai gadis ini. Ia dan aku seperti berteman lama. "Oke, shoot!"

"Sama. Mengapa pria sepertimu tidak mempunyai kekasih?"

"Karena aku tak tertarik."

"Athrun jangan mengkopi jawabanku."

"Itu benar. Kurasa," cengiran muncul di bibirku. Ia menyipitkan matanya, membuatku menahan erat senyumku. "Oke aku serius, mungkin ...," aku mendekat dan berbisik di telinganya, "... karena aku belum bertemu denganmu."

Ia menoleh membuat hidung kami hampir bersentuhan. Pandanganku jatuh pada bibir mungilnya yang mengundang. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Mint bercampur wine.

Aku tak bisa berfikir apapun selain menciumnya, right here and now. 'Teman kecilku' di sana juga meminta keluar dari persembunyiannya. Persetan dengan orang-orang sekitar! Kurasa mereka juga larut dalam dunia mereka sendiri. "Apakah ini saatnya kita berciuman?" Tanyaku lirih, nafasku makin berat. Pandanganku masih di bibirnya.

Cagalli berhenti bergerak. Kurasakan matanya juga turun melihat bibirku dan ia -secara reflek membasahi bibir bagian bawahnya.

'Biarlah kehormatan itu untukku sayang, aku bisa membasahinya untukmu dengan bibirku.'

"Kalau kau ingin wajah tampanmu itu merasakan pukulanku maka mendekatlah." Ujarnya lirih. Membuatku menarik wajahku menjauh darinya dan ia sangat serius. Lalu terkikik kecil. Aku menghela nafas, ia bercanda rupanya. "Seriuslah Athrun. Aku bertanya dan kau menjawab jujur." Kami kembali menggerakkan tubuh kami.

"Hmm ... berarti kau jujur saat mengatakan baru putus? -" ia menghadiahiku death glare-nya. "Ma-maaf. Aku hanya terkejut di jaman milenium seperti ini masih ada yang -hei, oke, aku jawab." Ia memukul dadaku keras dan percayalah, wanita ini bisa memukul. "Aku bercanda babe, ups, sorry. Ini jawabannya ... hanya sekali sepertimu."

"Kau bercanda?" Ia tertawa. Ekspresinya seperti meremehkanku.

Mimik wajahku berubah serius, tapi aku berhasil mempertahankan senyumanku. "Tidak. Aku hanya sekali berpacaran. Lainnya ... terserah kau mengatakan apa." Aku menatapnya tajam.

Itu memang benar, aku sekali berpacaran dan itu lama sekali, setelah itu aku sempat berkencan dengan beberapa wanita dan beberapa tahun belakangan ini (kata Shiho makin parah) dengan one night stand-ku -dengan wanita yang berbeda. Kata Shiho lagi, bahwa aku memperlakukan wanita-wanita itu seperti barang sekali pakai.

Tak bisakah mereka mengerti, aku hanya mencari yang tepat. Aku bukan playboy, aku mencoba untuk selektif, berhati-hati. Apalagi di jaman sekarang ini, dimana gadis perawan bisa di hitung dengan jari. Wanita sekarang dengan mudahnya membuka celana mereka dengan hanya melihat tampang tampan, tubuh atletis dan dompet tebal sepertiku.

Sekarang aku tanya, saat kalian -para wanita berbelanja, entah pakaian atau sepatu, apa kalian tak mencobanya dulu? Heck, bahkan sebelum membeli parfum, kalian menciumnya lebih dulu bukan? Anggaplah aku, something like that.

Senyumnya perlahan menghilang. Ia menatapku seakan mencoba mencari kebenaran di mataku. Melihatku sampai ke dalam. "Apa yang terjadi?" Kami berhenti lagi. Tapi tangan kami masih di tempatnya.

"Hanya ... tidak berhasil. Dia ... meninggalkanku." Suaraku masih datar dan tenang.

Ia tercekat. Aku merasa ia seperti tak bernafas. Ia menatapku antara bingung dan merasa ... iba. Tiba-tiba ia tersenyum kecil, "Itu pasti karena kau punya wanita lain dibelakangnya. Dengan sifatmu yang playboy."

Aku tahu ia hanya bercanda. Aku hanya ... hanya tak bisa tertawa saat mengingat itu. Senyumnya kembali menghilang saat aku tak membalas gurauannya. "Mungkin ...," aku tertawa kecut, mengendikkan bahuku.

Musik berganti menjadi kencang kembali. Save by the music! Berapa lama kami berdansa? Wanita 'pengalihan' itu dan Dearka mungkin sudah kembali.

Aku melepaskan Cagalli. Ia terlihat ragu melepaskan tangannya. Entahlah, aku tak bisa melihat jelas, aku tak bisa berpikir jernih. Yang bisa kupikirkan adalah keluar dari sini. Aku sendiri bingung, keluar dari tempat ini atau keluar dari tatapan iba Cagalli atau melarikan diri dari pertanyaannya?

Damn! Samar aku masih mengingat saat itu. Perasaan waktu itu. Padahal ... ini sudah bertahun-tahun. Kau, menyedihkan Athrun Zala.

Kuraih tangannya dan kami melangkah kembali ke kursi kami.

"At-Athrun?" kudengar Cagalli berteriak (karena suara musik yang kencang) di belakangku. Aku tak membalasnya. Kulihat Dearka dengan wajah 'puas'nya tampak bingung seperti mencari Cagalli, wanita 'bayaran' itu tak ada bersamanya.

Akhirnya, ia melihat kami, "A-Athrun, kau di sini juga?" Sedikit terkejut walau masih sempat menampakkan giginya yang putih.

Aku tak membalas sapaannya juga. "Dearka, kau sudah selesai?"

Wajah Dearka kembali terkejut. Kali ini tanpa senyum. Ia menatapku horor. "Ba-bagaimana kau bisa tau -"

"Sori dude, aku meminjam Cagalli." Ucapku cepat. Aku berpaling padanya. "Thanks for the dance, babe. See you at work on monday." Aku mencium punggung tangannya agak lama sebelum kulepaskan. Cagalli hendak mengatakan sesuatu, tapi aku kembali berpaling pada Dearka. Menepuk bahunya. Berbisik lirih padanya. "Jangan macam-macam padanya! Dia. Milikku." Ancamku serius. Lalu wajahku berubah santai kembali. "Semua minuman di sini masuk tagihanku, nikmati malam kalian. Nite." Setelahnya, aku pergi meninggalkan mereka berdua. Aku bahkan tak melihat wajah Cagalli saat mengucapkan itu.

.

.

.

.

.

Tiba di Penthouse-ku, aku langsung mengguyur tubuhku dengan shower hangat. Membungkus tubuhku dengan bathrobe putihku. Ku set alarm-ku. Aku tahu Manna akan membangunkanku, kurasa ia sudah membaca note-ku di dapur. Bahwa aku ada makan siang dengan ibuku besok. Tapi lebih baik kalau aku tak terlalu merepotkannya.

Hari ini memang bukan hariku. Setelah lelah dengan pekerjaan di kantorku. Dan omelan tiada henti dari Yzak dan Ayah, kupikir minum dengan Cagalli, akan menyenangkan. Memang, kuakui minum, berdansa dan ngobrol dengannya memang menyenangkan tapi ... membawa masa lalu itu sedikit -entahlah aku tak bisa menggambarkan, yang jelas aku tak suka memikirkannya.

Cepat lambat aku harus menghadapinya ... aku akan mendengarnya lagi.

Apa yang sebenarnya kupikirkan? Bukan aku saja yang tersakiti. Ia juga. Mereka juga. Memikirkannya pun tak menyelesaikan apapun. Mereka bahagia, aku pun bahagia ... 'kan?

Aku menuju mini bar-ku. Kubuat minuman favoritku saat aku memikirkan sesuatu. Apalagi memikirkan 'mereka'. Vodka on the rock. Kuhabiskan sekali teguk. Kuisi lagi. Liquid jernih ini mengingatkanku pada Cagalli. Mengingatkanku pada matanya yang jernih. Keduanya mempunyai warna yang sama.

'Hhh ... seharusnya aku tak meninggalkannya begitu saja. Lelaki macam apa aku ini? So much for being gentleman huh, Zala!'

Aku menertawakan kebodohanku sendiri. Mungkin ia berpikir aku pria yang sama brengseknya dengan pria itu. Bagaimana pria itu bisa meninggalkan Cagalli? Aku tersenyum pahit pada diriku sendiri, mengamati es yang terbungkus liquid jernih itu mulai melebur. Mulai hancur. Hancur ...

"Aku mencintaimu Athrun, tapi ... aku juga mencintainya."

Bagaimana ia bisa melakukan itu? Dua tahun. For two damn years!

"Maafkan aku."

Maaf? Begitu mudah mengatakan itu. Maaf? Aku juga mengatakan itu padanya. Tapi tetap saja,

Sigh...

Kuhela nafas panjang. Kuhirup dalam dan menghembuskannya. Cukup untuk menenangkan debaran jantungku.

"Hanya ... tidak berhasil. Dia ... meninggalkanku."

Lalu mengapa aku mengatakan hal sepribadi itu pada Cagalli? Aku hanya mengenalnya for fucking few days! Dan dia hanya sekretarisku!

Mengapa aku mengatakan ... sampai sejauh itu? Hal yang bahkan aku sendiri tak mau mengungkitnya. Kuminum habis vodka-ku. Saat gelas ke sembilan, aku berhenti. Efek minuman itu mulai terasa. Tapi aku masih bisa mengendalikan diriku.

Sial, bagaimana aku bisa lupa, aku tak ingin mabuk malam ini. Ibu pasti kesal bila mengetahui aku mabuk. Saat melangkah pun aku hampir sulit berdiri tegak. Lantai ini serasa bergoyang.

Shit! Shit!

Ketika akan merebahkan tubuhku ke ranjang. Ponselku bergetar. 'Text mail? Dearka?' Meski agak kabur, aku masih bisa membacanya.

Dearka: Dude, ada apa denganmu? Si blonde chick sangat khawatir, ia tak henti-hentinya memohon agar aku menyusulmu. Ia takut bila ada sesuatu yang menyinggungmu. Ia tak bisa menghubungimu karena tak mengetahui nomor pribadimu. Aku juga tak bisa memberikannya tanpa ijinmu! Aku sudah mengantarnya pulang. Ia utuh luar dalam, sesuai permintaanmu! Sumpah demi wanita seksi dan telanjang sedang antri menantiku di luar sana!

'Hhh -setidaknya Dearka mengantarkannya pulang.'

Aku merasa lega. Tak kubalas text-nya. Kulemparkan saja ponselku ke tengah ranjang bersama dengan tubuhku. Tak lama, kegelapan datang menyapaku. Bersama dengan suara itu. Suara dari masa lalu yang tak ingin kudengar lagi. Tapi terkadang selalu berputar dipikiranku.

"Kau sahabatku Athrun! Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku!?"

Kira...

-oOoxnelxoOo-

.

Masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang. Untuk itu ia menitipkan surat -kadang kepada sesuatu yang tidak kita duga. Kita menyebutnya kenangan

-M. Aan Mansyur-

.


TBC


Pojok Curcol/Bacotan Nel: ada hint lagi *lirik atas* ttg Kira-suaramisterius-Athrun di masa lalu. Pasti reader sudah bisa menebak siapa 'suara misterius itu' dan apa yang terjadi dengan mereka di masa lampau, sy memang gampang ditebak xp~

Chap depan mungkin agak *ehem* sedikit *cough* bikin ge-gerah, bukan panas tapi hanya gerah (mungkin*hajared*) *gulp*.

Seperti yang sy ktkan di chap sebelumnya, chap ini kelar sekitar akhir Oktober lalu dan re-readnya ekstra cepat, feel free to PM me klo ada yg mengganjal ato share di review's box. :D

Special Thanks to:

(Maaf semua PM baleznya di sini cz inet lemoth bgtz T^T dan sekali lagi maaf buat telat updet m(_ _)m)

Mrs. Zala: Lucu? Wkwk :v makasih, makanya klo bikin Angst, sy mundur *plak* iya iya yang penname-nya bikin ngiri T_T semua pertanyaan terjawab di sini (semoga). Thx R&R, mampir lagi ya~ x)

Alyazala: maaf telat ya, makasi buat doa dan reviewnya *hug*terharu* mampir lagi ya~ x)

Cyaaz: Nie orang malah seneng liat Athrun cembukor -..-" makasih koreksian typo-nya sy emang misstypo :p kadang ngetik aja gak nengok kanankiri padahal uda ada 'peraturan'nya T_T makasih doanya *hug*kiss* makasih buat R&R, mampir lagi x). Updet SII Anda, hoho *tawalaknat*

October Lynx: hehe, I love u too? Lho!? *abaikan* wah bisa menebak suara itu y? Sy memang mudah di tebak! Wkwkk, sekarang dah kelihatan 'kan? :p bagaimana sesuai tebakan? *wink* syukur klo suka *tariknapaslega* klo yg chap ini? *gulp* makasih doanya ya~ *hug*. Salam buat lil sis y, lov ya~ thx R&R, mampir lagi x)

Ojou. Rizky: heh, berperang? :v lol. Makasih R&R-nya, mampir lagi ya x)~

Yuza: thanks for your compliment *blush* hot chapter? Sorry you'll not find in this chapter maybe later :p thanks for R&R, come again x)

RenCaggie: Maaf belum bisa jawab soal Kira, mungkin chappie depan :p makasih R&R, mampir lagi x)~

TheHouseOfAthhaZala: hi cousiz, thx R&R, come again (if u have time, i knew u so busy :p) jaa ne~

Lezala: sista, yg quickie2an udah kejawab di chappie ini 'kan? :p maaf klo mengecewakan. Thanks for R&R, mampir lagi ya~ x)

UL: thanks for R&R, nie dah updet. Hope you'll like it. Mampir lagi ya~ x)

Natsumi Kyoko: Ini uda updet, thx R&R, mampir lagi ya~

And, Silent readers (klo ada).

*bow&hugtoyouall*

Many Thanks,

Fighting!

Nel. ^o^)9

26/12/2013