Disclaimer: I don't own Gundam Seed/Destiny but this story is mine.
A/N: Firstly, sebelum sy di protes, untuk fans KiraxLacus, maaf kalau chappie ini membuat Anda kecewa. *bow*gulp*
Maaf sekali lagi untuk sangat sangat keterlambatannya para reader (terutama UL dan Alyazala), bagaimanapun juga RL comes first. Terima kasih atas pengertiannya. *bow*
Chapter ini sedikit lebih panjang dari chappie2 sebelumnya.
Warning: Idem plus possibility for crack pairing. DLDR!
-oOoxnelxoOo-
Hari ini aku membolos. Selama bertahun-tahun aku bekerja di perusahaan paling ternama di PLANTs, baru kali ini aku tak masuk kerja. Walaupun sakit, aku selalu berusaha datang. Meski terlambat atau pulang lebih awal.
Tidak, aku tidak mengajukan cuti kerja. Aku -murni tidak mengajukan ijin apapun, tidak ada pemberitahuan ke kantor atas ketidakhadiranku hari ini, simple, membolos.
Athrun Zala membolos? Yzak pasti mendidih mendengar ini, terlebih lagi, hari senin! Ingat slogan "I hate monday"? Ya ... itu berlaku bagi para sahabatku. Senin, saat paling sibuk di kantor -menurut Yzak, tapi menurut Dearka, yang namanya bekerja di kantor, tiap hari adalah hari senin alias hell! Sedangkan aku ... malah tak menampakkan diri.
Aku dapat membayangkan ponselku akan berdering tiap detiknya. Maka kumatikan. Aku hampir mematikan (sementara) semua akses komunikasi.
Then, di mana aku sekarang? Tidak kemanapun, hanya di tempat tidurku. Menatap keluar jendelaku. Menatap langit biru tanpa awan. Begitu bersih. Begitu biru. Birunya langit. Biru.
Mengingatkanku pada matanya.
Hhh ...
Sendiri? Ya.
Manna? Aku menghubunginya, segera setelah kepulanganku dari kediaman Zala. Yup, dari kediaman orang tuaku. Tepatnya setelah pertemuan 'weekend lunch' kami. Makan siang antara aku, kedua orang tuaku tercinta dan seseorang yang lama tak kudengar kabarnya.
Akhirnya aku bertemu dengannya. Kami berbicara. Banyak yang tak berubah darinya. Ia masih senang bersenandung, masih senang menanam dan merawat sendiri bunga kesayangannya, white rose. Ia masih suka melakukan kegiatan amal terutama pada anak yatim dan piatu.
Siapa dia sebenarnya?
Siapa sebenarnya seorang Lacus Clyne?
Teman masa kecilku. Mantan kekasihku -bukan, mantan soon-to-be-tunanganku. Tepatnya saat aku akan memintanya untuk menjadi pasangan hidupku ... kami berpisah.
Setelah aku begitu yakin selama dua tahun ini bahwa, she's the one. Setelah bertahun-tahun mengenalnya. Hanya butuh beberapa menit untuk sebuah ... perpisahan.
But, kurasa ... aku tak ingin lebih mengingatnya untuk sementara ini.
Mengapa kami berpisah? Baiklah, ingatan itu sekarang telintas di benakku. Ia kembali berputar dalam pikiranku.
Sampai di mana tadi? Ah, iya, mengapa kami sampai berpisah bila aku sudah begitu yakin, aku akan memiliki dirinya utuh?
Apakah secara finansial dan mental, kami belum siap ke tahap selanjutnya? Kurasa, aku siap tapi ... dia? Kurasa aku salah mengartikannya, dia tidak berpikir sama denganku.
Apakah karena itu perjodohan (resmi) antar keluarga? Tidak. Meskipun Ibu sangat mendukung ketika kami mendeklarasikan hubungan kami saat makan malam seluruh anggota keluarga saat itu. Ayah dan Paman Siegel, ayah Lacus sangat senang, terlebih lagi, ibuku. Kontan, perpisahan kami, membuatnya sangat terkejut. Ia sangat menyayangkan. Tapi ia mencoba mengerti.
Apakah karena tak ada cinta (lagi) di antara kami?
"Aku mencintaimu Athrun ... tapi aku juga mencintainya."
Kalau mengingat itu -jawabku, entah -aku sendiri tak yakin.
Apakah karena ada seseorang atau pihak ketiga di antara kami? Hmm, mungkin.
Siapa orang ketiga itu?
Siapa yang memutuskan lebih baik berpisah?
Siapa -
Aku menggeleng cepat, menghilangkan pemikiran itu. Karena aku sendiri tak yakin. Aku masih tak tahu jawabannya dengan pasti.
Lalu ...
Apakah aku masih mencintainya sampai saat ini?
Kupejamkan mataku erat. Kucoba mencari (lagi) jawaban atas pertanyaanku sendiri.
Cinta?
Apakah masih ada?
Kurasa iya, karena jantungku berdetak kencang sama seperti saat aku meminta ia menjadi kekasihku dulu, dan itu terjadi, hanya ketika memandang wajahnya saat makan siang kemarin. Hanya dengan memandangnya!
Pathetic!
Tapi ...
Tak seperti dulu.
Terasa berbeda dan tak sesakit dulu.
Aku ikut bahagia ketika ia menceritakan kehidupannya yang sekarang dengan begitu bersemangat. Ia lebih terlihat dewasa secara penampilan dan pemikiran. Seolah ia telah mengalami peristiwa terburuk dalam hidupnya lalu berhasil bangkit kembali.
Bila mendengar dari apa yang di alaminya selama tahun-tahun terakhir ini, kurasa iya. Aku merasa iba padanya, ingin rasanya kutarik ia dalam pelukanku. Tapi, itu sudah tak mungkin.
"Jangan mengasihani aku Athrun."
Pasti berat baginya. Pengakuannya membuatku cukup shock. Setelah makan siang dengannya, ia langsung kembali ke Orb. Walaupun orang tuaku bersikeras memintanya untuk menginap di sana, secara lembut ia menolak.
Ia mengatakan pada orang tuaku akan berkunjung kembali ke PLANTs, setelah ia menyelesaikan 'pekerjaannya' di Orb. Dan ia berjanji, tak perlu menunggu bertahun-tahun lagi untuk itu.
Lacus, cukup pandai dalam menyakinkan orang lain tanpa memaksa. Ibuku (yang terkenal di keluarga Zala sebagai orang paling 'berkuasa') saja 'takluk' padanya.
Yang tak bisa ku tolak adalah, Ibu memintaku atau lebih tepatnya, memaksaku untuk mengantarnya ke bandara. Sebenarnya, tanpa di paksa pun aku pasti mengantarnya.
Setelah beberapa tahun tak bertemu dan berhubungan dengannya -dengan masih tersisa perasaan khusus terhadapnya, aku masih ingin berada di sisinya lebih lama lagi tapi juga, rasanya ingin menghindarinya. Dan segera menjauh darinya.
Sudah kukatakan bukan? Aku masih tak yakin dengan hatiku sendiri.
Saat mengantar Lacus ke bandara, kami mulai bercerita kembali tentang kehidupan kami, terutama kehidupan pribadi kami. Ia bertanya, apa aku sudah mempunyai kekasih dan ... holy shit! Dari mana ia tahu tentang kebiasaanku, one-night-stand dan minuman.
Selama berhubungan dengannya aku tak pernah merokok dan minum. Hanya sedikit, tapi hanya pada acara resmi. Tak pernah kutunjukkan di depannya, sangat tak gentleman, begitu ajaran ibuku.
Aku meyakinkan bahwa itu bukan salahnya, tetap saja ia terus meminta maaf. Damn! Ia membuatku seperti lelaki lemah dan lembek saja.
Kuakui itu dulu! It was! Masa lalu! Past tense! Saat ini semua sudah berkurang ... kurasa.
Tapi, seperti yang kukatakan tadi pengakuannya lah yang sungguh membuat kami hampir celaka di jalanan. Aku hampir membuat my baby-ku tertabrak dari belakang bila tak ada teknologi yang di sebut "klakson".
Klakson? Kenapa bukan rem?
Penjelasannya adalah kami bukan terselamatkan oleh rem, justru hampir terbunuh olehnya, karena tiba-tiba saja aku memberhentikan mobilku tepat di tengah padatnya jalan bebas hambatan. Beruntung, klakson kendaraan di belakang kami cukup lantang untuk mengembalikan kesadaranku.
"Aku sudah menikah dengan Kira."
Itu tak mengejutkan. Bahkan aku sudah memprediksinya. Bahwa Kira menikah diam-diam dengannya seperti yang belakangan ini santer diberitakan di mana pun.
Tapi, kenapa baru 'tercium' sekarang?
Lacus menikah, ketika ia baru meninggalkanku! Itu cukup membuat alisku terangkat tinggi. Itu beberapa tahun yang lalu, dan media baru mencurigai sekarang?
Sebenarnya, walau Kira tak mempercayaiku sepenuhnya (dengan tak menceritakan 'rahasianya') lagi, aku sudah menebak hal semudah itu. Mengingat kami mempunyai masa lalu bersama.
Walau wajahnya terlihat ceria tapi matanya terpancar kesedihan. Ia berusaha menutupinya. Ia tak ingin membaginya denganku (lagi), sama seperti Kira.
Saat mendengar langsung dari mulutnya, aku tahu ... aku tak berhak marah. Tapi pengakuannya cukup membuatku ingin menghajar Kira. Dan setelah itu, membuatku ingin menghajar diriku sendiri.
"Aku sudah menikah dengan Kira." Ia tersenyum getir. "Tapi, kami tak pernah bertemu selama setahun ini. Mungkin selama ini, ia masih belum ... mencintaiku seperti aku mencintainya."
Bila mengingat itu, Oh Tuhan, semua itu salahku! Salahku? Entahlah. Atau ... salah wanita itu? Entahlah, aku makin bingung. Kami masih sangat muda saat itu. Aku sangat tak dewasa ketika aku melakukan ... kesalahan itu. Kesalahan bodoh!
Mereka menikah diam-diam. Ayah Kira masih belum mengetahuinya, hanya Paman Siegel. Paman Siegel terlihat tak senang dengan keputusan mereka, tapi keadaanlah yang membuat ia (terpaksa) menerimanya.
"Sepertinya ia memiliki hubungan dengan wanita lain. Setidaknya begitulah yang kudengar," akuinya lirih. Sedikit terbata-bata. "Aku tak ingin mempercayainya."
Yang aku tahu dengan mataku sendiri saat ini, Lacus tak bahagia. Ia menderita. Bagaimana Kira bisa melakukan ini? Apa ia masih dendam padaku? Tapi mengapa harus Lacus? Goddammit! Wanita ini sangat mencintainya!
Apa aku harus bicara dengan Kira?
Tapi, Lacus tak ingin Kira mengetahui ini. Ia hanya ingin berbagi kisah seperti saat kami masih berteman baik. Kalau aku ikut campur, Lacus mengancam takkan bicara padaku lagi.
Oh, tidak!
Aku menggeleng keras.
Ya! Aku harus bicara dengannya, suka atau tidak! Bagaimanapun juga mereka berdua sahabatku. Setidaknya aku menganggap begitu.
Terserah ia menganggapku ikut campur masalah pribadinya, tapi Lacus pernah menjadi bagian dari diriku, ia pernah memiliki hatiku. Atau ... sampai saat ini (?).
Melihat ia seperti ini -menyembunyikan kesedihannya, kekasih atau mantan, aku merasa harus melakukan sesuatu dan aku tau itu berhubungan dengan Kira.
"Aku tak ingin mempercayainya Athrun, tapi -saat melihat matanya. Aku sadar, tak ada cinta dari Kira, untukku."
Semoga saja yang ia katakan tak benar, karena Kira bukanlah orang seperti itu. Ia hanya berubah dan itu semua ... karenaku. Dalam lubuk hati terdalam, aku masih mempercayai bahwa Kira tidak seperti itu. Dan ... aku juga percaya banyak rahasia yang dipendam olehnya.
-oOoxnelxoOo-
.
Taken by You
...
Chapter 8
.
-oOoxnelxoOo-
Sial! Suara apa itu?
Lagi-lagi benda itu mengeluarkan bunyi 'beep-beep' cukup kencang.
Oh God, adakah yang bisa menghentikan bunyi itu, berisik sekali!
Ketika aku membuka mataku, aku terkejut. Gelap! Ruangan ini gelap. Di mana aku? Oh, tentu saja rumahku. Tapi yang jelas ini bukan kamarku.
Hmm, ini ... sofa di ruang perapian. Mengapa aku -ah, iya, aku ingat.
Shit! Kepalaku sakit. Seharusnya aku mengangkatnya perlahan tadi. Kulirik botol vodka yang tergeletak tak beraturan di meja, tepat di depan tempatku berbaring.
Kutolehkan kepalaku pada sumber suara itu. Akhirnya kutemukan di atas meja bar-ku. Dengan malas, aku meninggalkan sofaku yang nyaman.
Ketika tanganku meraih ponsel-ku, benda brengsek itu berhenti berbunyi. Oh great!
Kenapa benda sial ini menyala, bukankah aku sudah mematikan semua alat komunikasi? Ah, mungkin ... luput.
Saat kucoba melihat siapa yang baru saja menghubungiku, aku tak terlalu terkejut saat melihat deretan nama-nama familiar mulai Dearka, Yzak, Ayah dan sebagainya. Mengingat ini nomor pribadi dan hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Tapi ... ada nomor asing?
Alisku terangkat.
Siapa?
Hah, lupakan. Saat aku mencoba melangkah, sakit di kepala mulai menyerang. Another great, aku terkena hung over.
Kopi hitam, itu yang kubutuhkan.
Beep-beep!
Aku mendesah panjang. Lagi-lagi benda sial itu berbunyi. Eh? Ponselku tak menyala juga tak bergetar bukan?
Beep-beep!
Kepalaku menengok ke kanan dan kiri perlahan, kepala ini makin tak membantu, makin sakit. Sial!
Jam berapa ini? Jam digital di dapur menyala terang. Ternyata sudah pukul tujuh malam. Holy shit, berapa lama aku tertidur?
Ah, rupanya intercom.
Kucoba bangkit dari nyaman dan halusnya sofaku, dengan langkah gontai dan sedikit pusing, kuhampiri orang brengsek yang menganggu 'istirahatku'.
Bila itu laki-laki terutama Dearka, kutonjok saja tanpa ampun. Apalagi Yzak, kututup saja pintu itu keras-keras tepat di muka juteknya -yang aku yakin ia pasti memasang muka seperti itu.
Tapi bila itu wanita, hmm ... entahlah, menciumnya? Dan mendapat tamparan dan tendangan tepat ke tengah? No! Atau mungkin sex kilat luar biasa? Hmm, sounds good.
Aku langsung saja membuka pintu tanpa melihat lebih dulu siapa yang 'mengetuk' pintuku malam ini. Anggap saja menguji keberuntunganku setelah peristiwa kemarin.
Oke!
Pintu sudah terbuka.
Dan ... kurasa aku masih bermimpi!
Aku mengerjap beberapa kali memastikan aku tak terlalu mabuk dan terlalu sadar untuk melihat sosok di depanku.
"GM Zala? Anda baik-baik saja?"
Bahkan suara dolpenganger ini pun mirip!
Alkohol ini benar-benar sangat terasa efeknya!
"Siapapun itu, jangan main-main denganku." Akhirnya aku menemukan suaraku walau agak serak.
Ia mengangkat alisnya tinggi, merasa aneh dengan apa yang baru saja kuucapkan. Yang tak kusangka lagi adalah ia memegang keningku dengan punggung tangan mungilnya.
"Tak panas. Tapi ... kau terlihat tak baik."
Tentu saja aku tak demam, aku hanya kebanyakan minum.
"Apa kau tak mempersilahkan aku masuk?"
Tidak, kalau kau dalam penyamaran, assasin! Buka penyamaranmu segera atau aku ...
"Athrun?"
"... C-Cagalli?"
"Ya? Aku? Ada yang kau ingin katakan?"
"... apa kau nyata?"
Ia mendekatkan wajahnya pada wajahnya dan mengendusku.
"K-Kau ... minum?"
Ya! Sampai mabuk! Hingga aku tak mengetahui berapa botol yang kuhabiskan! Mungkin delapan atau sembilan? Hei, namanya juga mabuk!
"Ya. Sedikit." Aku berbohong. "Ehm, apa benar ini kau ... Cagalli?"
Ia terkekeh kecil, "kau mabuk bos."
"Hei! -ah baiklah aku memang mabuk," akuiku. "Kau sendirian? Bagaimana resepsionis itu membiarkanmu masuk?"
"Iya aku sendirian. Bagaimana aku masuk? Hm, menyelinap?"
"Huh?"
"Bercanda. Aku punya caraku sendiri bos."
Aku tertawa kecil, "Masuklah ..."
"Kukira kau akan membiarkanku berdiri mematung di sini."
"Untuk wanita secantikmu? Aku pasti kehilangan kewarasan."
Saat ia melewatiku -sambil memutar matanya, aku bisa mencium bau parfumnya yang lembut. Campuran antara vanila dan lili.
Hmm ...
Minum, wanita, sendirian dan kesempatan? Damn! Kombinasi yang buruk untuk keadaan seperti ini.
Kututup pintu perlahan dan mempersilahkan ia duduk di sofaku yang agak berantakan. Sebenarnya seluruh ruang tamuku berantakan.
Aku berjalan dengan rasa sakit di kepala yang ku tahan. "C-Cagalli, jika kau tak keberatan, a-aku ingin berganti pakaian dan mencuci mukaku."
Ia mengangguk dan tersenyum, tentu saja aku tak membuang-buang waktuku. Ketika aku turun dan telah berganti pakaian, aku tak mendapatinya duduk dengan nyaman di sofa. Tapi aku mencium bau harum. Bau favoritku di pagi hari. Bau yang memikat. Bau ... kopi.
"Cagalli?"
"A-ah, GM Zala m-maafkan saya telah lancang menggunakan dapur Anda."
Cagalli di dapurku? Dengan apron? Hanya apron. Tentu aku tidak keberatan! Oh sial, hilangkan imajinasi liarmu Zala! Dan kuharap teman kecilku di sana juga menahan hasratnya.
Sigh ...
Malam ini merupakan malam yang berat. Selesai dengan mantan, datang wanita yang sedang kau incar untuk menemani tidurmu di ranjang-super-lebar-tapi-tak-ada-siapapun-di-sampingmu tapi tak bisa kau sentuh.
Mengerikan ...
Dan ... kau sangat menyedihkan Zala.
"Kopi?"
"Hmm ya. Thanks." Aku segera duduk di kursi meja bar-ku, kuhirup baunya dalam-dalam. Perfect! Obat mujarab penghilang hungover.
Cagalli mengelap tangannya dan bergabung di sampingku. Makin perfect!
Eh?! Tunggu sebentar!
"Jadi nona sekretaris apa yang membuatmu kemari? Kuharap kau menjawab "mengkhawatirkanmu"."
Cagalli tertawa geli, "Well, setengahnya."
Alisku terangkat satu, "Hanya ... setengah?"
Cagalli tersenyum tipis, "Presdir Zala yang mengutusku kemari."
Ah, itu sebabnya resepsionis membiarkan ia masuk. Dan kuakui, jawabannya sedikit membuatku kecewa dan senyumanku menghilang entah kemana -tertelan oleh gravitasi bumi, mungkin.
"Pekerjaan. Seharusnya aku tak terkejut." Aku menggumam kecil seraya meminum sedikit kopi panasku. Tentu saja, terasa intonasi kekecewaan di sana.
Ekspresi Cagalli pun berubah, "Setengahnya lagi ... karena aku ehm, m-maksudku kami, mengkhawatirkanmu. Ehm, k-kau tahu? D-Dearka menanyakanmu, Manajer J-Joule, M-Manajer Almarfi dan b-beberapa staff juga terkejut dengan ketidakhadiranmu. M-mereka mengatakan kau ... tak pernah tak masuk kerja." Aku bisa melihat ia tersipu saat menjelaskan bla-bla-bla tadi.
Senyumku pun kembali. "Terima kasih -"
"B-bukan aku, m-mereka juga -"
"Kau tak perlu sungkan. Justru aku suka kalau kau merindukan kehadiranku."
"J-jangan besar kepala." Ia merona dan buru-buru meminum kopi panasnya, tak lama ia tersedak.
Aku hanya tertawa. Tertawa lepas. Terbahak-bahak. Ia lucu sekali. Oh God, ia luar biasa lucu sekali. Sesaat aku melupakan kegelisahan pada 'masa laluku'. Di sela membersihkan mulutnya, ia memasang muka cemberut termanis yang pernah aku lihat.
"K-kau menikmatinya ya?" sindirnya sambil mendesis tajam padaku.
"Kopi? Ya, thanks."
"Bukan itu yang ku maksud!" Ia makin memincingkan matanya padaku.
Mulutku berkedut menahan seringaiku, aku takut menyinggungnya lebih dalam lagi. "Ma-maaf ..."
"Diterima." Ia menghela nafas panjang, "Kelihatannya kau baik-baik saja. Mengapa kau 'membolos'?"
"Apakah ini interogasi seorang guru terhadap muridnya yang ketahuan membolos?" godaku. Ia hanya memincingkan matanya sekali lagi, "Baiklah-baiklah, aku bercanda. Bagaimana kalau ku jawab liburan?"
"Zala!"
"Oke-oke, hanya malas saja."
"Uh-huh." Ia menatapku tak percaya.
"Ehm ... dan agak demam, kurasa ... ta-tadi pagi." 'Lame, lame, lame.'
"Berbohonglah lebih baik dari itu Zala! -"
"Aku patah hati karenamu."
Ia hampir menyemburkan kopinya. Dan ... kembali terbatuk. Aku menepuk-nepuk punggungnya lembut. Wow, hanya menyentuhnya seperti ini, aku seolah bisa merasakan kulit punggungnya tanpa sehelai benang pun. Oke, tarik tanganmu Zala sebelum terlambat.
"Cu-cukup bercandanya Athrun."
Aku mengangkat tanganku tanda menyerah tapi seringai jahilku masih menempel di wajahku.
Cagalli melirik jam tangannya cepat, "Hh, kurasa aku harus pulang. Dokumen dan beberapa file-nya kuletakkan di atas meja di sana, tinggal kau pelajari dan menandatanganinya saja. Kalau besok Anda masih suka mengurung diri di sini, tinggal hubungi saya, maka saya akan kemari untuk mengambilnya kapanpun Anda selesai memeriksanya."
"Se-secepat itu? T-tunggu kau sudah makan? -"
"Akan kulakukan itu saat tiba di apartemenku nanti." Ia memasukkan sesuatu ke dalam tas-nya.
Kenapa aku begitu panik, bila ia meninggalkanku.
Kuraih pergelangan tangannya, "Ba-bagaimana kalau ma-makan malam denganku?"
Cagalli terkejut. Ia memandangku curiga, "M-Makan malam?"
"Ya."
Ia terlihat berpikir. Kumohon jawablah "iya!", kumohon! Kumohon! Kumohon! Semoga ucapan ala shaman-ku berhasil?! Kumohon.
"K-Kau yakin, um ... tidak lebih dari itu?"
Thanks God, ada sedikit harapan untukku. Kupasang senyuman terbaikku -walau sedikit mabuk, agar ia percaya padaku. "Y-Ya tentu, kecuali ... kau mengharapkan lebih dari itu babe." Oke, secara natural seringai genitku muncul. 'Dan aku mengharapkan lebih dari itu.'
Syukurlah ia hanya tertawa geli memandang wajahku yang terlihat hopeless. "Baiklah -tapi kau yang traktir dan aku yang memilih tempatnya Tuan Zala!" ucapnya di sela-sela tawanya.
Yang benar saja bila aku membiarkannya membayar apa yang kami makan! Di mana letak kejantananku -duh tentu saja di bawah, tersimpan di balik celana jeans-ku setengah mengeras karena wanita berambut pirang- tapi yang kumaksud bukan itu! Yang ku maksud adalah, demi image gentleman terhormat yang melekat padaku, tak kubiarkan seorang wanita seksi mengeluarkan uang sepeserpun untukku walau itu untuk membayar tip valet sekalipun!
"As you wish milady ..."
.
.
.
.
.
Apakah kalian tahu sebesar apa mataku saat ini? Mungkin bila kau meletakkan bola kasti, itu akan muat di dalamnya.
Selesai makan malam yang -err hampir romantis, mengingat restoran yang kami datangi jauh dari kata 'lux', well, terbayar dengan perbincangan kami seperti layaknya kawan lama -damn, Cagalli seriously pribadi yang menarik bila kau sudah mengenal dan dia percaya padamu, pantas Dearka cepat akrab dengannya- lalu kami kembali ribut.
Ia bersikeras pulang dengan kereta malam sendirian! Sendirian! It's a big no! Tak mungkin aku membiarkan wanita yang belum kutiduri -ehem- maksudku wanita lemah sepertinya pulang larut sendirian.
Setelah berdebat dengan disaksikan beberapa orang yang berada di restoran, ia menyerah karena aku menggunakan kekuasaan sebagai 'bos'nya. Setidaknya kekuasaanku masih berguna di luar jam kantor. Rasanya aku ingin berteriak "Puji Tuhan!" dan tertawa lepas karena Cagalli begitu mudahnya luluh dengan jabatan 'GM'ku ... untuk saat itu.
Sepanjang perjalanan, ia lebih sedikit bicara, ia membuka suara untuk menunjukkan alamat apartemennya dan aku tinggal mengikuti arahannya. Sebenarnya ia tinggal memberitahukan alamatnya saja dan biarkan mesin bernama GPS yang bekerja memutar otak err, itupun kalau ia punya, oke, lelucon itu cukup garing. Bila aku menggunakan GPS, dan kehilangan kesempatan mendengar suara malaikatnya lebih lama lagi? Hahaha, no way!
Sampai dimana aku tadi, oh ya, aku mengantarkannya dan keperawanannya selamat sampai di apartemennya. Lalu ...apa yang membuat mataku sebesar bola sepak saat ini?
Sebelum menjawab itu, coba kutanyakan pada diriku sendiri, berapa sebenarnya gaji sekretaris pirangku ini? Atau benda itu adalah pemberian keluarganya? Atau ...
Oke, pikiranku melayang ngawur dan ngelantur.
Tapi ...
Demi apapun itu.
Holy fucking shit!
Apartemennya harganya hampir setara penthouse-ku! Aku bahkan belum sanggup membelinya di tahun pertama aku berkerja!
Setelah aku mengatakan itu, apa cuma aku saja yang mempunyai rahang terbuka lebar saat ini?
Asumsiku adalah, satu, Cagalli mampu membeli apartemen itu, kedua, keluarga Cagalli yang membelinya, ketiga ... prediksi yang bahkan aku tak sanggup membayangkannya, bahwa ia tak 'sesuci' yang kukira, bahwa ia adalah err, wanita si-simpanan pria tua hidung belang.
Kalau boleh aku memilih, pilihan kedua paling wajar.
Mudah-mudahan ...
"Ada apa?"
Suara berat bidadari membangunkan aku dari imajinasi gilaku. Reaksi pertamaku adalah menutup rahangku, mengembalikan bola mataku seperti semula dan memasang postur cool kebanggaan Zala.
Menjernihkan suaraku, aku menjawabnya, "Ti-tidak."
"Reaksimu sama seperti Dearka."
"Huh?"
"Saat mengantarkanku kemari, Dearka juga memasang tampang aneh sepertimu."
"Hei!" protesku pura-pura tak suka.
Ia terkikik kecil, "M-Maaf, aku bercanda. Tapi ...tenang, ini memang apartemen tempatku tinggal. Hanya ... pinjaman. Aku ehm, tinggal bersama temanku. Selagi aku mencari tempat tinggal lain, ia ...mengijinkanku tinggal di sini sementara, jadi, jangan berpikir yang aneh!"
Thanks God!
Rasanya ingin melompat kegirangan karena seolah dapat membaca 'rasa penasaran'ku ia menjelaskan semuanya.
Kau tahu rasanya itu? Rasanya aku kembali menginjakkan kakiku ke bumi lagi.
Seringaiku kembali muncul setelah mendengarkan penjelasannya.
"Dan ehm, maaf aku tak bisa menawarkanmu masuk ke dalam. Kau tahu alasannya dan kuharap kau mengerti."
"Aku sangat mengerti." Kuanggukkan kepalaku sekali. "Tapi, boleh kuantar sampai lobi bukan?"
Ia seperti akan protes tapi mengurungkannya, "Ba-baiklah, hanya sampai lobi, gentleman," sindirnya.
Segera saja, kubukakan pintu untuknya dan kuantarkan ia tepat pada lobi apartemennya. Setelah kuperhatikan, sepertinya daerah ini tak asing bagiku. Kurasa aku pernah datang kemari sekali dua kali beberapa tahun lalu.
Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
Cagalli menjernihkan suaranya. Lagi-lagi ia membuatku tersadar. Kami sekarang berdiri tepat di pintu lift. "Terima kasih untuk malam ini."
Aku hanya mengangguk sekali dan ku berikan senyumanku paling mempesona padanya. Ia merona. Well, siapa yang bisa menolak Zala's charm?
Ia berbalik ragu, lalu kembali menatapku. "Ehm, sampai jumpa besok?"
Aku memandangnya lekat, ia agaknya tak nyaman dengan itu. "Ya."
Ia sedikit menunduk, kelihatannya ia ...gugup lalu membasahi bibirnya. Apakah itu ...undangan? Bila iya, kau tak tahu bagaimana aku sangat menginginkan bibir mungil itu.
Mengecupnya, melumatnya, merasakan tiap sudut mulutnya. Aku begitu merindukan kelembutan bibirnya.
Sial! Aku harus bersabar menunggu hal itu.
"Se-selamat malam."
Saat ia akan berbalik, aku menghentikannya. "Ca-Cagalli."
Ia mendongak, "Y-ya?"
"Hati-hati."
Oke tampar diriku yang mengatakan hal bodoh itu!
Sepintas kukira ia terlihat kecewa. Cagalli mengangguk ragu lalu tersenyum lebar. "Hmm, aku akan berhati-hati memencet tombol lift dan semoga aku tak tersesat," godanya.
Duh, tentu saja ia begitu, salahku mengatakan hal sebodoh itu.
"Y-ya hati-hati ..."
Oke, sekarang pukul aku.
"Athrun, apakah ada yang kau inginkan lagi dariku?"
Ya! Tentu saja! Menciummu sampai kau sadar betapa kau sangat membutuhkan oksigen, mendorongmu tubuh mungilmu itu pada dinding dingin lift di belakangmu, membuka kemejamu sampai kancing itu menggelepar di lantai lift, menyentuh, menghisap dadamu yang lembut itu, menyikap rok pendek yang menggoda itu. Lalu aku ingin kedua kaki jenjangmu itu di pinggangku, sementara biarkan aku mendengar suara rintihan, desahan dan teriakkan dari bibirmu mengucap namaku kencang dan membawamu pergi jauh ke nirvana bersamaku. Dan, oh, kita bisa melakukan berulang-ulang di kamar apartemenmu.
"Selamat malam."
Kau pikir itu akan terjadi bukan? Tentu saja itu akan terjadi di dalam mimpiku malam ini.
Cagalli tersenyum, "Selamat malam, Athrun." Lalu ia berbalik dan aku kehilangan kesempatan lagi merasakan 'dirinya'. Mataku melirik sebuah angka yang berhenti di angka tujuh.
Lantai tujuh.
Semakin familiar.
Entah berapa lama aku berdiri mematung di depan lift sampai ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang.
"Permisi tuan ada yang bisa saya bantu? -ah, Anda Tuan Zala bukan?"
Bagaimana staff keamanan ini mengetahui namaku. Aku memasang raut wajah bingung padanya.
"Ma-maaf Tuan Zala, sepertinya Anda lupa. Anda teman Tuan Kira Yamato bukan? Beberapa tahun yang lalu saat saya masih menjadi petugas yang membukakan pintu, Anda bersama Tuan Yamato, Nona Allster dan beberapa teman Tuan Yamato yang lain sering datang kemari."
Aku? Sering kemari? Beberapa tahun lalu? Benarkah?
Aku tak ingat, sial! Sejak kapan aku berubah menjadi pikun?
"Wajar bila Anda lupa, itu sudah terjadi beberapa tahun lalu dan banyak dari tempat ini yang sudah berubah. Bahkan semenjak lima tahun lalu kepemilikan dan nama apartemen ini juga berubah."
Ah! Itu menjelaskan segalanya.
"Apakah Anda bermaksud mengunjungi Tuan Yamato?"
"Huh? -oh, i-iya, tapi kupikir b-besok saja," kilahku. Mengapa aku berbohong? "Ba-bagaimana kau bisa mengingatku?"
Ia tersipu dan terlihat canggung, "I-itu ka-karena Anda dan Tuan Yamato sering memberikan saya t-tip yang tidak biasa."
Ho ... itu lebih menjelaskan segalanya!
Ia membuka suara lagi, "Ta-tapi maaf Tuan Zala, menurut jadwal yang kami terima ..." Ia mencondongkan wajahnya dan berbisik, "... baru akan tiba besok sore. Ini antara Anda dan saya, tolong jangan sampai siapapun tahu, kalau tidak saya pasti dipecat. Kuharap Anda mengerti, Tuan Yamato orang yang sangat terkenal saat ini."
"Ah," anggukku perlahan pura-pura antusias. Sebenarnya tanpa ia mengatakanpun aku bisa menanyakan sendiri pada Kira.
Tiba-tiba terlintas sesuatu yang menggelitik di pikiranku, "Ehm ... kau tahu ehm, siapa yang - m-maksudku apakah Ki-Kira selalu sendiri bila datang kemari?"
Ia melihatku dengan tatapan curiga dan waspada. Shit, aku terlihat seperti paparazi amatir.
"Ma-Maaf Tuan Zala apakah Anda seorang ... wartawan?"
Hell no! Apa pria ini tak pernah mendengar nama besar 'Zala'? Apa selama ini ia hidup di pedalaman Amazon? Apa ia tak membaca berita soal bisnis dan finance? Apa ia selalu membaca tabloid gosip murahan?
Tsk, whatever, kelihatannya ia mempunyai informasi yang penting. Kubuka dompetku, kulirik matanya berbinar. Aku memutar mataku. Inilah yang dinamakan 'uang berbicara'.
'Kupamerkan' ia dua lembar tepat di depan wajahnya. "Ini, untukmu, bila kau bisa memberitahuku sebuah 'rahasia Kira Yamato' apalagi bila itu menyangkut seorang ... wanita." Ia memincingkan matanya, kuputar mataku lagi, kuambil selembar uang seratus, matanya terbelalak. Kulihat ia menelan ludah dan menimbang-nimbang keputusannya, "Aku bukan wartawan. Aku bekerja sebagai GM di perusahaan milik ayahku. Aku adalah teman lama Kira. Dan aku tak berniat memberitahu masalah ini pada siapapun."
Akhirnya ia mengambil uang itu dan menarikku ke suatu tempat, mungkin ruangan staff.
"Maaf Tuan Zala, banyak dinding bisa mendengar."
Aku mengangguk mengerti.
"Well, apa yang ingin Anda ketahui soal Kira Yamato?"
"Seperti yang kukatakan tadi. Suatu rahasia atau perilaku aneh di mana tak tercium media manapun."
Ia memulai gugup, "B-Baiklah, ehm ... Tuan Kira jarang sekali kemari setelah beberapa tahun ini. Well, bagi saya wajar karena ia terkenal dan kaya. Apartemennya pasti bukan hanya ini saja. Kelihatannya ia hanya kemari untuk menyendiri." Aku ingat sekarang, setiap mengerjakan tugas dan membolos kuliah, kami selalu kemari, untuk menyendiri, apartemen ini adalah salah satu pemberian Paman Haruma, Ayah Kira. Tapi Kira jarang tinggal di sini dan memilih tinggal di asrama. Kami hanya memakainya beberapa kali karena letaknya yang agak jauh dari pusat kota.
Ia melanjutkan lagi, "Tapi ... beberapa minggu belakangan ia dan Haruma Yamato-sama mulai sering datang kemari, mengunjungi seseorang."
Aku tersentak, "Kira menyimpan wanita di tempat ini?"
"Pe-pelankan suara Anda Tuan. Sepertinya begitu. Sebenarnya ada empat wanita muda dan cantik yang sering datang kemari silih berganti."
'Empat?! Fucking Four! Fucking fantastic four! Wow Kira, kau berhasil mengejutkanku!'
"Nona Alster, tapi ia tak pernah kemari lagi. Lalu Nona berambut panjang berwarna merah jambu, ia anggun sekali, kalau tak salah, ia pernah kemari bersama Anda."
'Ya, aku tahu dan sangat ingat! Tak perlu di teruskan!'
"Selanjutnya asisten pribadi Tuan Kira, mungkin bagi Anda wajar tapi kalau sampai menginap berdua saja selama berhari-hari pasti Anda mencurigai sesuatu bukan? tapi ia pun sudah jarang kemari semenjak wanita berambut pirang itu tinggal di apartemen Tuan Kira."
'Asisten? Lalu wanita berambut pirang?'
Ia mendesah perlahan, "Walaupun berganti-ganti, Tuan Kira termasuk pria yang cukup setia, terbukti ia menjalin hubungan yang lama dengan para wanita itu. Aku iri padanya, ia selalu dikelilingi wanita cantik."
'Like hell I care! Tunggu sampai ia mengetahui daftar one night stand-ku! Err, sebenarnya aku sendiri tak mengingat jumlah dan nama mereka!'
"Siapa nama asisten dan wanita berambut pirang itu?"
Manik matanya membesar, "I- itu -"
Kubuka dompetku lagi, yang membuatku terkejut adalah ia menghentikanku.
"C-Cukup T-Tuan Zala, saya tak bisa memberitahukan Anda lebih lanjut. T-Tuan Kira dan wanita itu bergitu baik kepada saya. J-jadi itu ... a-anu ..."
Aku menghela nafas panjang, "Ya ya ya, aku mengerti. Baiklah, terima kasih. Selamat -"
"Ehm, Tuan Zala, yang bisa kukatakan padamu adalah mereka mengenalkan wanita berambut pirang itu padaku dengan marga ... Yamato."
"Huh? Keluarga Kira kah?"
"Kalau menurut pendapat saya ..." Ia menatapku serius dan mengambil jeda panjang, "... sepertinya bukan. Karena kartu pengenal wanita itu masih memakai nama lain."
"A-apa?!"
-oOoxnelxoOo-
"Kira? Kira?"
"Hm?"
"Ponselmu berbunyi."
"Biarkan. Aku masih mengantuk. Ayo kembali tidur."
Kira mengeratkan pelukannya di balik selimut tebal itu. Tapi wanita itu melepaskan pelukan Kira dan ia mengerang.
"Kira ... dari dia."
Kira makin mengerang, dengan sedikit kesal, ia mengambil ponsel itu kasar dari tangan wanita di sampingnya. Ia memencet tombol 'reject' lalu melempar ke sembarang tempat.
"Kira!" wanita itu menegurnya.
"Kalau kau masih berusaha meyakinkanku untuk menerimanya maka ... lupakan!" Kira bangun, memakai jubah mandinya, berjalan mendekati sebuah meja lalu menuangkan dan meminum wine sekali teguk.
Wanita itu menyusulnya, di usap lembut punggung Kira seolah berusaha untuk menenangkannya. "Maafkan aku." Kira masih tak menatapnya. "Tapi ... ia benar-benar mencintaimu."
"Tidak. Mereka semua sama saja! Ayah dan wanita-wanita itu juga! Pembohong! Pencari keuntungan!"
"Lalu aku? Apa bedanya aku dengan mereka?"
Mata Kira melembut, ia menarik wanita bersurai cokelat itu dalam dekapannya. "Ma-maaf, maafkan aku ... ti-tidak kau berbeda dengan mereka, maaf ..."
Wanita itupun tersenyum lembut, "Aku sama saja dengan mereka Kira, aku ... memanfaatkanmu."
Kira tak menjawab, hanya mendekapnya. Ia membutuhkan ketenangan. Ia membutuhkan sesuatu yang membuat ia lupa. Dengan kesibukkannya bekerja, minuman keras sampai dengan wanita ini.
Kira melepaskan pelukannya, memandangnya, mengecup lembut kening wanita itu. Kira tersenyum getir padanya, "Aku juga memanfaatkanmu ..." Ia mencium wanita itu tepat di bibirnya. Membuka jubah mandinya. Melucuti selimut putih yang menutupi tubuh wanita itu. Tanpa melepaskan bibir mereka, Kira menggendongnya kembali ke ranjang.
'Kalian dan aku sama ... Ayah ... Athrun.'
"Kira ..." Wanita di bawah Kira, mendesah parau, memanggil namanya saat pria bermata amethyst itu mencium setiap lekuk tubuhnya.
Kuku tangan wanita bermahkota cokelat itupun tak henti-hentinya mencakar punggung polos milik Kira. Makin membuat Kira mengerang, saat Kira dengan sempurna memasukinya, ia mengucapkannya namanya dengan lembut, "Miri ..."
-oOoxnelxoOo-
"Kau melamun lagi."
"Huh?"
"Kau menghilang lagi GM."
"Oh. S-sorry ... apakah kau mengatakan sesuatu?"
"Persiapan kenaikan jabatanmu bagaimana?"
"O-Oh i-itu, baik." Siapa yang peduli dengan itu sekarang.
"Benarkah?" dengusnya. "Aku tak melihat persiapan apapun. Sedangkan para kandidat lain terlihat 'sibuk dan bekerja keras'."
Seringai jahilku muncul, "kau mengakhawatirkanku, sayang?"
Ia kembali mendengus, "Dalam mimpimu Zala."
"Oh, aku sering memimpikanmu dalam ... berbagai posisi." Aku mengerling genit.
"Ath-Athrun!"
"Hahaha ...
kenapa? Kau juga menginginkannya?" Cagalli hanya memincingkan matanya tajam. Membuatku mengangkat kedua tangan sebatas dada tanda menyerah di sela-sela tawanya. "Woi easy there, tigress, hanya bercanda!" Aku masih menyayangi wajahku yang rupawan.
Saat ini kami tengah makan siang di sebuah cafe dekat dengan kantor. Yup, setelah sehari sebelumnya berhibernasi, kini aku kembali menggerakkan otot dan memaksa otakku untuk berputar lagi.
Sebenarnya -walau sangat ingin, kami tidak hanya berdua, ada Dearka dan Nicol. Tapi ... Nicol harus kembali ke kantor karena Yzak tiba-tiba mengamuk tak jelas di depan ruangannya yang menyebabkan sekretaris Nicol menghubungi ponsel Nicol berkali-kali.
Ketika mendengar penjelasan Nicol mengapa ia terburu-buru sekali kembali ke kantor, aku hanya memutar mataku, Dearka tertawa terpingkal-pingkal sedangkan 'bidadari'ku memandang kami dengan mulut sedikit menganga.
Lalu kemana Dearka saat ini?
Entahlah, setelah menggoda salah satu waitress cafe ini, ia menghilang. Kalau naluriku benar, sepertinya bersama pelayan wanita tadi. Dan ... sungguh aku tak mau tahu ia pergi kemana dan sedang melakukan apa.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, "Cagalli ... kalau tak salah kau tinggal di apartemen di lantai tujuh bukan?"
Kedua alis pirangnya terangkat, menatapku dengan raut wajah bingung. "... Ya," jawabnya singkat, seolah tak tertarik dengan pertanyaanku.
"Hm, mungkin agak aneh bagimu. Tapi bisakah aku meminta bantuanmu?"
Ia menatapku seolah aku akan memberinya sebuah tugas untuk membunuh seseorang. "... t-tergantung."
"Hhh," aku menghela nafas sangat panjang bagai orang yang terkena depresi karena kenaikan inflasi tak terkendali -well, aku terlalu berlebihan. Lebih baik aku menyewa detektif saja. "Sepertinya ... tak perlu, aku akan -"
"Athrun. Katakan dulu sebenarnya apa yang ingin kau katakan."
Cagalli menatapku intens dan itu terlihat seksi. Sangat seksi. Pipinya mulai berubah warna sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya. Sungguh cantik. Senyum kecil tersungging di wajahku.
"Apa aku bisa percaya padamu?" gumamku lirih tanpa melepas tatapanku padanya walaupun ia tak memandangku.
"Huh? Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak." Kuangkat cangkir dan ku minum seteguk black coffee-ku. "Oke. Kau menang babe. Kupikir aku akan meminta sedikit bantuanmu."
"Apa itu?"
"Di lantai apartemenmu ada seseorang yang ku kenal."
Apakah hanya perasaanku saja? Kupikir ia terkejut mendengar ucapanku barusan.
"L-lalu?"
Semoga hanya perasaanku, tiba-tiba ia merasa sangat tegang.
"... Sahabatku." Setidaknya dulu kami pernah sangat dekat dan saling mempercayai. Mengatakan itu sekarang, terasa aneh di mulutku.
Cagalli mengangguk perlahan seraya menegak white coffee-nya. Oke dan ini bagian paling memalukan. Oh gosh, meminta bantuan pada seorang wanita ada dalam urutan terakhir 'daftar pertolonganku'.
"Tenang Cagalli, kuyakinkan ini tak gratis dan tak melanggar hukum." Semoga saja. "Well, tentu saja kau bisa menolaknya." Aku menelan ludah.
"Silahkan lanjutkan." Ia kembali meminum minuman perlahan.
"Aku ingin kau mencari informasi tentang siapa yang tinggal bersama ... Kira Yamato saat ini?"
Dan ... ia tersedak sangat hebat.
TBC
A/N2: Me: Sudah merasa hangat?, Readers: Sudah hangat malah kelewat panas (baca: emosi) *ambil parang*, Me: *gulp*.
Maaf untuk Lacus fans *bow* tapi kisah KL belum berhenti sampai di sini. Masih ada kelanjutannya x) maaf untuk Kira fans membuatnya seperti itu, sedikit penjelesan di sini, Kira mengalami kekecewaan berat yang tak mampu dibaginya dengan siapapun dan selama ini ia hanya menutupi perasaannya yang sebenarnya. Sepertinya peran utama (klo diperhatikan) cocoknya dipegang Kira *disepakAthrun*.
Maaf membuat kecewa fans KL. *bowdeeply*
Hampir semua karakter di sini mempunyai bad side. :p
Scene ini sebenarnya (menurut kerangka) ada di sekitar chapter belasan tapi sy cepatkan hahaha ... kebiasaan lama & buruk kumat, mempercepat dan mempersingkat cerita. :p
Kalau ada yang mengganjal atau tiba-tiba berubah alur (Author gak teliti) feel free to PM me.
Mind to review? *kittyeyes*
Special Thanks to: (maaaf belum bisa balas satu per satu saya usahakan akan membalasnya di chappie depan) Popcaga, Mrs. Zala, October Lynx, Alyazala, Ojou Rizky, Lenora Jime, UL, NN, Cyaaz, Dewi Natalia, Guest dan silent readers (bila ada). (maaf bila ada yang belum tersebutkan).
Many Thanks,
Fighting!
Nel. ^o^)9
06-04-2014
