.

What is Happiness?

A Naruhina fict by Uzumaki Shizuka

Disclaimer: All characters of Naruto is Masashi Kishimoto's.

Rate: M (for mature theme)

Warning: Plot is focus of the story (jadi informasi mengenai zaman yang menjadi latar fict ini sangat sedikit); standard diction; boring (maybe); no lemon.

Here it is Chapter 3. Please, enjoy. :)

.

.

Chapter 3

Periang namun lembut dan sopan, atau bisa dibilang gadis yang riang tapi dengan caranya sendiri, begitulah pendapat orang-orang di sekitar Hinata tentangnya, baik yang sudah lama mengenal maupun yang baru mengenalnya. Sifat yang membuat orang baru senang kepadanya, dan membuat orang lama semakin sayang kepadanya.

Melihat keriangan Hinata, orang baru biasanya akan selalu mengira bahwa gadis manis bersurai indigo panjang tersebut tumbuh dengan kasih sayang di sekelilingnya, tanpa pernah mengira kenyataan yang bisa jadi kebalikannya. Oleh karena itu, orang baru biasanya akan sangat terkejut saat mengetahui bahwa gadis seperti Hinata hidup sebatang kara. Sama sekali di luar perkiraan, pikir mereka.

Hinata memang pantas dijuluki gadis yang kuat, selain baik hati, pekerja keras, tidak manja, dan sedikit pemalu. Entah memang gadis itu kuat ataukah ia hanya tidak merasa kekurangan kasih sayang hingga tidak perlu meratapi kasih sayang orangtua yang tidak pernah didapatkannya. Tidak ada yang pernah menanyakan hal itu.

Tapi di mata Naruto, Hinata memang gadis yang kuat. Tidak hanya karena kemampuannya menutupi kesedihan atas ketiadaan orangtua yang melahirkannya –yang entah sebenarnya gadis itu sedih atau tidak– melainkan karena sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak banyak, ah ralat. Sesuatu yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Naruto, yaitu sesuatu yang pernah dialami gadis itu di masa lalu –yang mungkin jika orang lain yang mengalaminya belum tentu akan sekuat Hinata. Sesuatu itulah yang membuat pemuda keturunan Namikaze itu memiliki penilaian tersendiri tentang seberapa kuat Hinata. Ya, gadis yang dari luar tampak rapuh itu sebenarnya gadis yang kuat.

Seingat Naruto, Hinata kecil adalah seorang gadis yang bernasib malang. Itulah kesimpulan yang pemuda itu dapatkan dari beberapa pertanyaannya yang pernah dijawab Hinata dulu. Tumbuh di panti asuhan dan diadopsi oleh seorang pemilik kedai sake, bukannya diangkat sebagai anak melainkan dipekerjakan sebagai pelayan kedai. Padahal ia selalu menanti-nantikan sepasang malaikat bernama tou-chan dan kaa-chan yang akan datang menjemputnya.

Tidak hanya itu, Hinata juga tidak jarang menerima pelecehan seksual dari orangtua angkatnya. Hukuman yang selalu diberikan setiap kali ia melakukan kesalahan. Pernah Naruto berpikir hal seperti itu untuk anak berusia sembilan tahun –usia Hinata saat pertama kali bekerja. Entah apa yang dilakukan Hinata hingga ia kuat menghadapi itu bertahun-tahun. Yang tidak sempat Naruto tanyakan adalah kenapa gadis itu tidak mencoba untuk melarikan diri saja. Entahlah, mungkin ia sudah pasrah atas kehidupan yang diterimanya dan menanti keajaiban dari Kamisama.

Sesekali Naruto berpikir memiliki kaa-san yang cerewet tidak buruk juga. Sebab, hal itulah yang secara tidak langsung menjadi sebab pertemuannya dengan Hinata. Yang akhirnya berujung sukses menarik gadis itu dari kehidupan naas-nya. Saat itu, Naruto yang masih berusia remaja masih sangat labil dan mudah tersinggung. Hanya karena ucapan kaa-san-nya yang membanding-bandingkan dirinya dengan Shikamaru sahabatnya, ia merasa sakit hati dan sok-sokan pergi ke kedai sake.

Tanpa pernah disangka-sangka, di sanalah ia bertemu Hinata. Seorang gadis pelayan kedai biasa –ya, hanya pelayan biasa pada awalnya– namun mengundang perhatian Naruto akhirnya karena tindakan sangat berani gadis itu. Tidak hanya itu, tak lama setelah menampar pengunjung yang berlaku tidak sopan kepadanya tersebut, Hinata diseret dan diumpat kasar oleh seorang pria paruh baya bertubuh besar. Padahal tampak jelas di mata Naruto bahwa gadis itu hanya refleks tanpa sengaja menamparnya. Dan anehnya, gadis tersebut menyebut pria tinggi besar yang menyeretnya itu dengan sebutan tou-san. Ne, bukankah seharusnya seorang otou-san justru akan marah pada pria yang sudah mengganggu anak gadisnya?

Memilih tidak peduli, Naruto yang sedang duduk sendirian menunggu pesanan itu telah berusaha meredam kegelisahannya. Tapi, jerit pilu di tengah isakan tangis gadis itu sangat mengganggu pendengarannya, seperti memanggil-manggil sisi heroik dalam dirinya untuk keluar.

Tidak tahan, Naruto pun menyerah dan mengikuti ke arah berlalunya pria bertubuh besar dan gadis malang tersebut. Dan saat tiba di depan sebuah ruangan yang menampung kedua orang tersebut, alangkah terkejutnya Naruto saat dari pintu yang sedikit terbuka iris sewarna sapphire miliknya menangkap suatu pemandangan yang tidak mengenakkan.

Seorang gadis sedang dipaksa mengoral kejantanan pria yang dikira Naruto otou-san gadis itu. Sebuah pemandangan yang membuat matanya terbelalak. Sungguh perbuatan yang sangat tidak senonoh di mata Naruto. Tak perlu otak jenius baginya untuk menyimpulkan bahwa gadis tersebut sedang membutuhkan pertolongan, hanya insting dan sedikit perasaan belas kasihan. Terlebih saat melihat respons dan reaksi gadis tersebut, benar-benar membuat hatinya memanas.

Segera saja ia tarik bagian belakang baju pria itu hingga membuat punggung gemuknya menghantam keras lantai kamar. Perasaan sakit yang Naruto rasakan saat pandangan matanya ia arahkan ke sumber isakan pelan yang tertangkap pendengarannya, seorang gadis yang memojok ketakutan dengan tubuh gemetar serta wajah berurai air mata.

Bagaimana dengan ayah angkat Hinata? Aksi Naruto tersebut tentu memancing kemarahan pria berkulit gelap yang sedikit lebih tinggi darinya itu. Dengan sedikit kesulitan ia berjalan mendekati Naruto, dan menudingnya telah lancang mengganggu aktivitasnya memberi pelajaran anak angkatnya sendiri. Brengsek! Ayah angkat macam apa yang memperlakukan anak angkatnya seperti itu.

Ingin sekali Naruto menghabisi pria tersebut jika saja ia tidak mengancam akan mengundang teman-temannya untuk membalas perbuatannya. Sadar dirinya terjepit, Naruto tidak mau memperumit masalah. Syukurlah di saat genting seperti itu otaknya jalan. Ia mencoba jalan damai, bernegosiasi dengan cara menawar gadis itu dengan harga tinggi. Tidak masalah uang pribadi yang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga itu akan habis yang penting mereka berdua bisa keluar dari tempat itu dengan aman.

Sedangkan ayah angkat Hinata, tentu menyambut tawaran itu dengan senang hati. Lihatlah betapa berbinarnya wajah orang itu dapat menukar anak angkatnya sendiri dengan sejumlah uang yang besar. Laki-laki brengsek seperti itu memang tidak pantas disebut otou-san. Lebih baik gadis ini segera meninggalkan tempat terkutuk itu.

Akhirnya, selepas berakhirnya transaksi di tempat itu, dan mantan ayah angkat Hinata meninggalkan dua sosok muda di hadapannya, Naruto menarik tangan Hinata dan segera membawanya pergi dengan perasaan penuh emosi. Hinata yang ditarik, hanya diam dan pasrah seolah menerima ke mana pun Naruto akan membawanya.

Seperti dugaan Naruto, Hinata hidup sebatang kara dan tidak memiliki tempat tinggal sehingga ia memutuskan akan membawanya ke kediaman Namikaze. Walaupun belum mengenal gadis itu, Naruto tetap bertekad untuk membawa Hinata ke kediamannya, terlebih setelah mengetahui latar belakang gadis itu. Tekad Naruto sudah bulat untuk melindungi Hinata.

Di kediaman Namikaze, Naruto memperkenalkan Hinata sebagai pelayan baru. Dalam pandangan Naruto, pelayan bukanlah pekerjaan yang buruk. Justru ia menganggap semua pekerja keluarga Namikaze sebagai bagian dari keluarganya. Lagipula, dengan begitu ia hanya perlu menjelaskan bahwa Hinata adalah gadis sebatang kara yang ia temukan di jalan dan sedang butuh pekerjaan, tanpa perlu menjelaskan detail pertemuan mereka yang mungkin sangat kelam bagi gadis itu. Dan sejak hari itu, Hinata telah resmi menjadi bagian dari kediaman Namikaze.

Hinata memang tampak bingung dan sedikit pendiam saat baru tiba di kediaman Namikaze, tapi hal itu tidak berlangsung lama. Sosoknya memang tidak terlalu dominan, tapi keunikan dan keramahan yang dimiliki gadis itu mengundang siapa pun untuk melihatnya. Saat itu dialah pelayan termuda keluarga Namikaze, dan sosoknya yang riang namun sopan, bersahaja, serta murah senyum membuat semua orang mudah menyukainya.

Naruto hampir-hampir tidak percaya gadis itu bisa masuk dengan mudah ke lingkungan kediaman Namikaze, entahlah gadis itu seperti sangat menikmati keberadaannya di tempat barunya, terlihat sangat ringan dan tanpa beban, seperti tidak pernah mengalami kejadian buruk apa pun. Sangat kontras dengan keadaan kacau yang Naruto lihat saat ia menolongnya. Hinata benar-benar hebat karena bisa dengan mudah menata hati dan hidupnya. Dari situlah Naruto menilai bahwa Hinata gadis yang kuat.

Pengalaman Hinata sedikit mengajarkan Naruto agar tidak manja dan tidak mudah lemah oleh keadaan. Diam-diam ia mengagumi Hinata, gadis yang membuatnya ingin menjadi kuat. Ia ingin kuat agar bisa melindungi orang-orang terdekatnya. Ia juga ingin kuat agar bisa membuktikan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa ia tidak mudah dilemahkan oleh keadaan.

Bertahun-tahun berlalu sejak saat itu hingga Hinata tumbuh menjadi gadis remaja yang manis dan menarik, hingga kejadian malam itu terjadi. Hah~ Rasanya, Naruto masih tidak percaya ia benar-benar bisa melakukan hal kemarin malam kepada Hinata.

Kalau dipikir-pikir, ia benar-benar jahat, karena sesuatu yang selama ini dijaga anak itu dan harusnya Naruto lindungi malah ia sendiri yang merusaknya.

Masih terbayang di ingatan Naruto raut muka menahan sakit Hinata. Air mata gadis itu yang diharapkan tidak pernah dilihatnya lagi malah mengalir lagi gara-garanya. Anehnya hal itu justru tidak menghilangkan senyuman manis dari wajah manisnya. Benar-benar senyuman yang tulus di mata Naruto.

Ia jadi heran, apa Hinata benar-benar melakukan itu hanya karena merasa bersalah? Silakan tertawa karena efek berpikir seperti itu Naruto merasakan pipinya memanas. Haah aku tidak mau memusingkan hal yang tidak perlu, pikir Naruto. Kemudian ia berbaring menghadap kanan dari posisi semula menghadap langit-langit –seolah-olah menatap langit-langit padahal pikirannya menerawang ke kejadian masa lalu.

Ada sebuah pertanyaan besar yang mengusik Naruto saat ini. Pertanyaan yang terus bercokol di otaknya sejak melangkah keluar dari gerbang, namun belum sempat ia pikirkan dengan baik.

Pasti tidak enak rasanya menyimpan sesuatu yang mengganjal di otakmu dan itulah yang dirasakan Naruto di sepanjang perjalanan menuju ibukota. Itulah sebabnya malam ini, di kamar pribadinya di kediaman Namikaze yang lain, ia berniat memikirkan sesuatu tentang ucapan kaa-san-nya, sesuatu yang berhasil menyentil kesadaran Naruto. Ya, malam ini, sebelum besok ia harus kembali bergelut dengan urusan politik dan ibukota.

.

-What is Happiness-

.

Flashback On

Kaa-san serius?

Cepat sekali.

Huh? Apa kau tidak tahu. Perempuan jika sedang melakukan hal itu dalam masa subur, tentu saja dengan sekali melakukan pun ada kemungkinan ia langsung bisa hamil, Naruto. Mungkin begitulah yang terjadi dengan Suigetsu dan Karin.

Jadi begitu..

Apa? Kau ini sungguh payah. Kupikir usiamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui hal ini.

Hehe..

...

...

Aa.. Kushina, sepertinya Shikamaru sudah lama menunggu. Aku dan Naruto, harus berangkat sekarang.

Baiklah.. Baiklah.. Jaga diri kalian baik-baik, ya.

.

.

.

Naruto PoV

Hah~ Apa kira-kira Hinata benar-benar akan hamil ya. (Naruto mengembalikan posisinya kembali menghadap langit-langit dengan kedua tangan dilipat dan diletakkannya di bawah kepala, lantas memejamkan mata.)

Hinata, andaikan dia masih memiliki keluarga dan orangtua, kira-kira apa yang akan mereka lakukan padaku. Biasanya pihak orangtua akan menuntut laki-laki brengsek yang telah merenggut kegadisan anak perempuannya agar bertanggung jawab menikahi perempuan itu. Yah tapi kenyataannya gadis itu sebatang kara, tidak ada yang akan memaksaku melakukan itu.

Sebenarnya tidak masalah jika aku menikahinya. Lagipula Hinata gadis yang baik. Tapi.. ada satu ganjalan yang masih menggelayutiku, bagaimana aku harus menjelaskan semua ini kepada kaa-san dan tou-san? Apa setelah mengetahuinya mereka bisa semudah itu menerima dan memaafkan perbuatanku? Entah kenapa aku sangat yakin mereka akan sangat kecewa mendengar pengakuanku. Aku yang anak satu-satunya.. pastilah sosok putra yang mereka harapkan bukan pemuda sepertiku ini, yang seenaknya menikmati tubuh seorang gadis tanpa ikatan hubungan yang sah. Aku.. rasanya tidak bisa.

Tapi.. (Mata Naruto kembali terbuka) Bagaimana seandainya Hinata benar-benar hamil? Jika benar, kasihan dia. Bebannya sendiri saja rasanya sudah besar, bagaimana jika ditambah harus mengandung anak tanpa suami. Ya, benar, Hinatalah pihak yang paling dirugikan jika aku bersikap egois. Tidak mungkin aku setega itu kan pada Hinata. Artinya mau tidak mau aku harus berkata jujur kepada tou-san dan kaa-san. Ya Naruto, kau tidak boleh jadi laki-laki yang egois, kaa-san tentu lebih membenci Naruto yang melakukan hal seperti itu.

Baiklah itu seandainya Hinata hamil, tapi bagaimana seandainya dia tidak benar-benar hamil? Apa dia tetap mau menikah denganku? Dan.. bagaimana caraku memastikan Hinata benar-benar hamil? Kaa-san.. Rasanya kalau sudah seperti ini aku ingin bertanya pada kaa-san.

Hinata.. Kau benar-benar gadis yang tidak biasa. Setelah bisa-bisanya melakukan kecerobohan seperti malam itu, kali ini kau benar-benar sukses membuatku bingung. hhh.. Kira-kira apa yang sedang gadis itu lakukan ya, sekarang. Dan bagaimana tanggapannya jika mendengar aku berniat menikahinya. Lalu, apa ia sendiri mau menikah denganku ...

.

.

.

Sementara itu di Kediaman Namikaze di Konoha, seorang wanita yang menjadi objek pikiran Naruto dari tadi juga dalam keadaan yang tak kalah resah. Sama halnya dengan Naruto, ia pun tak bisa menebak bagaimana pandangan pemuda itu tentang masalahnya. Hanya saja, jika Naruto sudah memiliki setitik sinar terang untuk meluruskan benang kusut dalam otaknya, Hinata sama sekali belum. Sekali lagi kali ini ia harus bertahan meniti jalan hidupnya.

.

-What is Happiness-

.

Pukul 06.49

Suasana pagi di kediaman Namikaze tampak seperti biasanya. Kiba dan Chouji yang bertukar posisi dengan Izumo dan Kotetsu yang bertugas menjaga gerbang, para pelayan cuci yang sibuk ke sana kemari mengambil pakaian untuk dicuci, Nenek Chiyo yang memimpin para wanita pelayan dapur untuk menyiapkan sarapan, hingga Ayame dan Hinata yang menata alat makan dan membawa membawa hasil masakan Nenek Chiyo untuk dihidangkan di meja makan.

Huft. fiuuuh..

"Kau sudah selesai, Hinata?" Seru Ayame kepada Hinata yang baru saja selesai menata alat makan.

"Hai," jawab Hinata.

"Bagus, bisakah kau yang memanggil Kushina-sama? Akane sepertinya terlambat masuk lagi," minta Ayame kepada Hinata yang kemudian berjalan menuju ke dapur untuk mengambil beberapa hasil masakan lagi.

"Baik, Ayame-san," sahut Hinata. Ia bersiap melangkah tapi geraknya tertahan begitu melihat Ayame yang mau berkata-kata lagi.

"Oh ya, jika kau tidak menemukannya di kamarnya, kau bisa mencarinya di ruang berdoa," tambah Ayame.

"Hai," jawab Hinata yang hanya dijawab senyum oleh Ayame lantas berjalan menuju dapur.

Hinata pun pergi meninggalkan Ayame yang sesaat kemudian muncul kembali dari dapur dengan mangkuk besar berisi sayur. Mangkuk itu cukup berat sebenarnya karena mangkuknya sendiri yang terbuat dari keramik itu saja sudah lumayan berat, tapi dari dulu Ayame tidak pernah membiarkan Hinata yang membawanya. Entahlah mungkin di matanya Hinata masih saja adik kecil.

.

-What is Happiness-

.

Tok.. Tok..

"Ano.. Kushina-sama, s-sarapannya sudah siap."

Lama tidak terdengar jawaban, baiklah mungkin Kushina memang sedang di ruang berdoa. Tidak masalah karena jaraknya tidak terlalu jauh, ia berada di sebelah kanan kamar Kushina dan hanya bersela dua ruangan, yaitu ruang penyimpanan katana dan kamar Naruto.

Naruto-sama..

Ah ya, jangan harap pikiran Hinata bisa terbebas dari Naruto karena apa pun yang berkaitan dengan pemuda blond itu selalu mengingatkan Hinata akan sosoknya.

Ku harap urusannya di ibukota dapat diselesaikan dengan baik. Kamisama, aku mohon lindungilah Naruto-sama dari siapa pun yang bermaksud jahat kepadanya.

Ya, pengalaman Hinata cukup memberikan pelajaran bahwa tidak hanya orang baik yang ada di dunia ini begitu juga dengan orang-orang di pemerintahan, mungkin saja di antara mereka ada orang-orang yang haus akan kekuasaan dan harta lantas melakukan fitnah atau menusuk Naruto dari belakang. Tapi itu hanya pikiran buruk, eh. Tidak baik menakuti sesuatu yang tidak pasti terjadi, bukan.

Setelah menyusuri pelataran –tambahan, dengan sedikit melamun– kini tibalah Hinata di depan ruang berdoa. Pintunya sedikit terbuka, dan dapat dilihatnya Kushina memang berada di dalam ruangan itu. Di sana terlihat Kushina sedang khusyuk berdoa, mendoakan para leluhur klan Namikaze yang telah membesarkan klan itu hingga seperti sekarang. Kushina tampak sangat khusyuk walaupun yang ia doakan bukanlah leluhurnya sendiri melainkan leluhur suami dan putranya. Tiba-tiba Hinata jadi teringat sesuatu. Anak yang sedang dikandungnya saat ini, bukankah juga seorang keturunan Namikaze. Kemudian ia kembali sedih mengingat masih belum menemukan jalan terang untuk permasalahannya. Sejauh apa aku bisa merahasiakan semua ini dari semuanya.

"Lho, Hinata?" Heran kushina karena melihat Hinata yang berdiri mematung di depan ruang berdoa. Akan tetapi ucapannya sangat pelan untuk bisa menyadarkan Hinata yang secara tak sadar hanyut kembali oleh pikirannya. Walaupun bagian pintu yang terbuka hanya sedikit, tapi Kushina dapat melihat dengan jelas raut wajah setengah menunduk Hinata yang seperti menyimpan kesedihan.

"Hinataa.." Sapa Kushina dengan ramah sembari menggeser pintu.

"Hagh, K-Kushina-sama. O-O-Owari desu ka," ujar Hinata yang canggung dan tergagap karena tertangkap melamun di tempat yang tidak seharusnya.

"Ya, kau bermaksud memanggilku ke ruang makan kan? Ayo!" sahut Kushina masih dengan mimik ramahnya.

"A-a-.." Sungguh momen yang tidak mengenakkan bagi Hinata tapi mau bagaimana lagi. "Hai," akhirnya Hinata hanya dapat menjawab singkat karena masih belum bisa meredam rasa malunya.

"Hm." Sedangkan Kushina hanya tersenyum kemudian mulai berjalan.

Hinata sangat bersyukur karena Kushina tidak marah kepadanya, ya walaupun rasanya tidak mungkin juga wanita itu akan marah kepadanya tapi tetap saja, ketahuan melamun di saat sedang bekerja oleh majikan itu sangat memalukan. Hinata masih merasa sangat malu.

Lain Hinata, lain lagi Kushina. Tanpa Hinata kira, Kushina cukup memahami keadaan Hinata. Jarang sekali anak ini terlihat sedang menyimpan masalah, pikirnya. Dilihatnya sekali lagi gadis pemalu di sebelahnya yang sedang berjalan dengan kepala menunduk itu. Kushina tersenyum, sebuah ide terlintas di pikirannya.

.

-What is Happiness-

.

"Hei Naruto, apa yang sedang kaupikirkan?" tanya Shikamaru tiba-tiba.

"Heh? Apa maksudmu?" sahut Naruto, bingung akan pertanyaan partner sarapannya itu.

Shikamaru mendengus pelan. "Aku hanya bertanya, apa yang sedang kaupikirkan sampai-sampai memelototi gadis pelayan itu seperti itu," jelas Shikamaru.

"Apa? Aku tidak memelototinya," elak Naruto sedikit kesal. Tentu saja ia kesal, karena menurutnya tuduhan itu sama sekali tidak benar. Tapi ia lebih memilih kembali menikmati sarapannya kemudian.

"..."

"..."

Lama tidak terdengar suara di antara mereka, tiba-tiba Shikamaru berkata, "Gadis bernama Hinata itu, kan?"

"Apanya?" ucap Naruto heran.

"Kau merasa gadis pelayan itu mirip dengan seorang pelayan yang bekerja di kediaman di Konoha makanya secara tidak sadar kau terus memperhatikannya," lagi-lagi Shikamaru menjelaskan.

Glek! Naruto menelan habis makanan yang sedang dikunyahnya.

"Ba-Bagaimana kau bisa tahu?" Naruto yang terkejut isi kepalanya dapat diketahui oleh sahabatnya itu, bertanya dengan nada intonasi yang tinggi.

"Hanya menebak," balas Shikamaru santai.

Menebak? Yang benar saja, batin Naruto tak terima. Lalu Naruto menyipitkan pandangannya lalu berkata, "Kautahu, terkadang berada di dekat orang jenius sepertimu itu sangat menakutkan."

Shikamaru balas melihat Naruto melalui ekor matanya, "Kau yang terlalu mudah ditebak, Naruto," ujarnya.

"..."

"..."

"Bagaimana pendapatmu tentang gadis itu?" tanya Naruto dengan nada sedikit ragu, entahlah, grogi mungkin.

"Kautahu, memasukkan orang tak dikenal seenaknya ke kediaman Namikaze itu tindakan yang sangat bodoh," ucap Shikamaru.

"Apa? Itu kan sudah lama sekali. Kenapa kau baru membahasnya sekarang?" ujar Naruto tidak terima. "Lagipula kalau kau mencurigai gadis itu kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?" tambahnya lagi.

"Kau beruntung karena tidak ada sesuatu yang mengancam dari anak itu," jawab Shikamaru singkat.

"Oh. Baguslah," sahut Naruto.

"Kenapa kau lega?" tanya Shikamaru.

"Bukan urusanmu," jawabnya.

"Lalu, apa saja yang kautahu tentang Hinata?" tanyanya lagi.

Shikamaru tampak berpikir, kemudian menjawab, "Dia tidak bohong bahwa dirinya sebatang kara."

"Lalu?" sahut Naruto.

"Tempat tinggalnya sebelum ini adalah kedai sake yang berada di utara desa Konoha," jawabnya.

"Lalu?" pancing Naruto lagi.

"Tapi kehidupannya di sana tidak terlalu baik," jawabnya lagi.

"Kau mengetahuinya?" tanya Naruto dengan nada terkejut.

"Aku menyelidikinya," jawab Shikamaru enteng.

Naruto yang merasa baru mengetahui hal itu terlihat sangat kecewa, "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"

"Untuk apa?" jawab Shikamaru. "Aku hanya melaporkannya kepada Minato-sama," ujarnya lagi yang menyebut ayah Naruto dengan suffiks -sama tapi Naruto tidak.

"Jadi tou-san tahu," ujar Naruto pelan.

"Tentu saja," sahut Shikamaru.

"Kau curang!" balas Naruto yang merasa kesal karena hanya dirinya yang tidak diberi tahu.

"Hn, terserah," sahut Shikamaru tidak peduli.

"Lalu ..." lanjutnya.

"Lalu?" tanya Naruto heran.

"..."

"Kenapa kaudiam?" tanya Naruto lagi.

"Tidak jadi," jawab Shikamaru mengesalkan.

"Heh? Kau ini benar-benar menyebalkan ya, Shikamaru," protes Naruto.

"Aku hanya belum yakin," sahut Shikamaru, "Orang jenius sekalipun tidak bisa memastikan mengenai perasaan seseorang, Naruto," tambahnya.

"Mengenai perasaan ya," lirih Naruto.

"Hm, apalagi seorang wanita," ujar Shikamaru.

"Ya, ya. Kau berpikiran sama sepertiku," ujar Naruto kembali dipaksakan riang.

"Apa? Jangan samakan aku dengan orang tidak peka sepertimu," ujar Shikamaru to the point.

"Kau..," hampir saja Naruto mau protes lagi tapi segera dipotong oleh Shikamaru.

"Sudahlah, percepat makanmu, Naruto. Dan bersiaplah karena pertemuan akan dimulai sebentar lagi," ucap Shikamaru serius.

"Hah.." Mengalah, Naruto melanjutkan kegiatan sarapannya yang terputus karena obrolannya dengan Shikamaru dengan kesal. Perasaan Hinata ya, Naruto sebenarnya sangat penasaran mengenai hal itu. Dan, apa maksudnya dengan perasaan Hinata, apa gadis itu sedang menyukai seseorang? Tiba-tiba Naruto tersentak dengan kemungkinan itu.

Tapi bagaimana mungkin? Seingatnya Hinata tidak pernah dekat dengan seorang pria pun, ya kecuali para pelayan keluarga Namikaze tentunya. Apa mungkin orang itu salah seorang dari mereka? Tapi para pekerja Namikaze yang masih lajang kan hanya Kiba dan Chouj. Tidak mungkin paman Teuchi, Izumo atau Kotetsu kan, pikir Naruto menghibur diri. Ah ingin sekali rasaya Naruto menggali lebih banyak lagi tentang hal itu dari Shikamaru. Tapi ia sangat takut Shikamaru akan semakin mencurigainya.

Ya sudahlah toh Shikamaru sendiri saja belum yakin, buat apa terlalu dipikirkan.

Sementara itu, melihat sikap Naruto Shikamaru menghela napas. Ia tahu Naruto sedang memikirkan perkataannya. Jangan salahkan Shikamaru kalau instingnya mengenai Naruto hampir selalu tepat, ia dan pemuda itu sudah menjadi sahabat sejak balita. Yah risiko para ayah yang bersahabat, sampai-sampai menikah dan membuat anak pun seperti janjian.

Shikamaru dan Naruto telah bersahabat sejak lama, dan secara tak disengaja menjalin garis hubung yang melengkapi. Naruto yang sangat tidak peka, dengan Shikamaru yang ketajaman instingnya melebihi orang biasa. Shikamaru yang jenius tapi lebih lemah, dengan Naruto yang kekuatan fisik dan kemampuannya tak bisa diremehkan. Mereka benar-benar aset penting Konoha yang saling melengkapi, membuat desa itu tak bisa dipandang sebelah mata.

.

-What is Happiness-

.

"Hinata, Ayame, menurut kalian tempat yang bagus untuk menikmati awal musim semi seperti sekarang di mana?" ujar Kushina di tengah kegiatan sarapannya.

"Mungkin jalan-jalan sambil menikmati suasana pilihan yang bagus, Kushina-sama?" ujar Ayame sopan.

"Ano.. bagaimana kalau berjalan-jalan ke pasar?" tambah Hinata.

"Anda juga bisa mencoba onsen yang baru yang sedang dibuka, Kushina-sama," lanjut Ayame.

"Hm." Kushina senang mendengar tanggapan keduanya. "Baiklah, kupikir jalan-jalan ke pasar boleh juga. Nah, Ayame, Hinata, persiapkan diri kalian karena hari ini kita akan berjalan-jalan ke pasar, ya!" seru Kushina dengan intonasi serius. Lantas Ayame dan Hinata berpandangan.

"Apa.. maksud Kushina-sama kami juga ikut?" tanya Ayame.

"Hm, tentu saja. Jalan-jalan para wanita, terdengar menyenangkan, bukan?" jawab Kushina.

"Ano.. Kushina-sama, bagaimana jika sebaiknya kita juga menjenguk Karin-sama? Mungkin kedatangan kita bisa sedikit menguatkan Karin-sama dalam melewati masa kehamilannya," ujar gadis lavender.

"Hm, boleh juga. Idemu bagus, Hinata." Kushina tersenyum, anak ini terkadang mirip seperti Naruto.

"Maafkan saya, Kushina-sama, saya.. sudah membuat janji kepada Nami untuk membantunya membuatkan boneka untuk putrinya," kata Ayame menyesal.

"Begitu ya, baiklah kauboleh tidak ikut. Nah, kalau kaubisa kan, Hinata?"

Hinata melihat wajah Kushina yang berbinar penuh harap. Rasanya ia tak tega menolak keinginan wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu itu. Lagipula berjalan-jalan di awal musim semi tidak buruk juga. Dan akhirnya, "Hai," sahut Hinata, ia bersedia menemani Kushina.

.

-What is Happiness-

.

"Aku selesai!"

"Aku juga," suara Chouji disusul Kiba yang baru selesai menyantap sarapannya di ruangan dapur kediaman Namikaze. Seperti biasa, selepas bertukar posisi dengan Izumo dan Kotetsu, sebelum pulang mereka akan sarapan terlebih dahulu.

"Baa-san, kami ucapkan terima kasih atas makanannya," ujar Kiba bermaksud berpamitan dengan Nenek Chiyo seperti biasa. "Un, makanannya sangat enaak," lanjut Chouji.

"Tidak masalah, aku senang kalian menikmatinya," ujar Nenek Chiyo.

"Oh ya Kiba, bisa kau bertahan sebentar?" tanya Nenek Chiyo. "Ada sesuatu yang mau kubicarakan denganmu," lanjutnya.

Kiba dan Chouji saling berpandangan, kemudian Chouji berkata, "Baiklah kalau begitu aku duluan ya, Kiba. Aa, Baa-san sekali lagi terimakasih. Itte kimasu!" pamit Chouji seraya menunduk kepada Nenek Chiyo kemudian berlalu hingga menyisakan dua penghuni berbeda gender dan generasi di ruangan tersebut.

"Itte rasshai," sahut Kiba pelan.

"Ehm," Nenek Chiyo berdehem menarik perhatian Kiba.

"Ne, Baa-san, ada yang bisa kubantu?" tanya Kiba seraya mengarah menghadap Nenek Chiyo.

"Tidak, sebenarnya aku hanya ingin memastikan sesuatu," ujar nenek memulai dengan serius. "Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu, hanya kepadamu karena kaulah yang tidak pernah absen berjaga pada malam hari." Kiba mengangguk paham seraya menunggu Nenek Chiyo melanjutkan kalimatnya.

"Kiba, apa pernah ada gadis asing yang beberapa malam ini masuk ke kediaman Namikaze?" tanya nenek masuk ke intinya.

Kening Kiba mengernyitkan, pertanda pertanyaan nenek itu mengundang keheranannya.

"Tidak ada," sahut Kiba apa adanya, yang lalu dibalas dengan helaan napas dari Nenek Chiyo. "Memangnya kenapa Baa-san bertanya seperti itu?" lanjutnya lagi.

"Ah tidak, aku hanya sedang memastikan tidak ada seorang gadis pun yang pernah memasuki kamar Naruto," ujar nenek yang merasa lega karena prasangkanya memang tidak terbukti. Ia tidak menyadari ucapannya itu telah membuat pemuda di hadapannya bertambah bingung.

Jangan heran jika Kiba bingung, ia hanya sedang berpikir untuk lelucon apa tuan mudanya memasukkan seorang gadis ke kamarnya. Walau hanya seorang tabib pun rasanya itu tidak mungkin karena keluarga Namikaze selalu mengandalkan Nenek Chiyo untuk mengobati anggota keluarga dan pelayan yang sakit.

Mau berpikir tuan mudanya bermain wanita, rasanya semakin tidak mungkin. Lama mengenal Naruto membuat hal itu terdengar aneh jika Naruto yang melakukannya. Sementara Nenek Chiyo bukan tanpa alasan bertanya seperti itu. Beberapa hari ini pikirannya terganggu oleh prasangka sepihak seorang wanita pelayan cuci.

Semua bermula saat seorang pelayan cuci menemukan noda darah beserta sperma yang mengering di alas futon dari kamar Naruto. Pelayan cuci yang menemukan itu telah menikah sehingga ia sangat yakin bahwa itu memang noda sperma yang mengering, tapi pelayan yang lainnya tidak mau percaya sehingga terjadilah perdebatan di antara mereka.

Di tengah perdebatan, lewatlah Nenek Chiyo yang melihat itu kemudian menghampiri ketiganya. Salah seorang dari mereka menjelaskan semuanya dan nenek yang diminta membuktikan pun dibuat sangat terkejut. Ia tidak menyangkal bahwa itu memang noda bekas sperma. Tapi nenek tidak bisa menerima prasangka mengenai Naruto yang pernah diam-diam membawa seorang gadis ke kamarnya. Mereka tidak bisa menuduh semudah itu tanpa bukti.

Berkali-kali Nenek Chiyo menegaskan bahwa bisa saja kejadiannya tidak seperti itu. Pembelaannya hanya sebatas itu karena ia juga tidak memiliki bukti yang kuat untuk meyakinkan hal itu. Ia juga meminta para pelayan cuci itu agar tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun.

Di dalam hati, Nenek Chiyo bertekad untuk menyelidiki hal itu. Bagaimanapun Naruto sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri. Ia sendiri yang membantu kelahiran dan ikut membesarkan pemuda itu, sehingga rasanya sangat tidak mungkin pemuda yang dikenalnya luar dalam itu tumbuh menjadi pria hidung belang.

"Aa Baa-san, tapi rasanya ada sesuatu yang kuingat," lanjut Kiba tiba-tiba.

Nenek Chiyo kembali tersadar, kemudian bertanya, "Apakah ini ada hubungannya dengan gadis yang dibawa Naruto ke kamarnya?"

"Entahlah aku sendiri tidak yakin karena sedang berusaha mengingatnya," sahut Kiba.

Nenek Chiyo mulai gelisah mendengar perkataan terakhir Kiba. "Ayo Kiba, cepat katakan apa yang kautahu."

Kiba sudah berusaha mengingat tapi masih belum berhasil juga, ia mengurut pelan keningnya, sesuatu yang mengganjal pikiranku karena berhubungan dengan keheranan nenek ya.. ia masih tampak berpikir hingga tiba-tiba, "Aa."

.

To Be Continued

.

A/N: Gomenasai, atas keterlambatan author dalam meng-update chapter ini.

Author juga minta maaf tidak bisa membalas review yang masuk karena modem author lagi bermasalah. Jadi saat mengetik ini author lagi gak bisa melihat kotak review utk dibales-balesin. Chapter ini juga di-update dengan meminjam modem adik dulu. Nah, bagi yang me-review menggunakan akun, in sya Allah akan author balas via PM ya.

Oh ya, author juga mengubah rate fict ini menjadi rate M, bukan karena akan ada scene lemon tetapi karena tema fict-nya yang menurut author bersifat mature. Untuk lemon eksplisit, mohon maaf karena author sudah memutuskan tidak akan membuatnya. Jadi, jangan kecewa ya ;)

Na, minna-san, author mengucapkan hontou ni arigatou gozaimasu karena sudah berkenan membaca dan mendukung kelanjutan fict ini :). Author sangat menghargai setiap review, favorite, dan alert yang masuk. Dukungan kalian akan selalu menyemangati author. Dan author harap chapter ini tidak terlalu mengecewakan.

And then, my last words are ..

Mind To Review? ;)