Hari ini begitu menyenangkan. Begitu senang sampai ingin rasanya menghentikan waktu. Hujan pun tak lagi turun. Mungkin tanah masih basah pertanda belum lama hujan itu turun. Sedikit genangan air terlihat disetiap sudut jalan. Mereka yang tadi tengah berteduh mulai melanjutkan aktifitas.

Hujan adalah musibah bagi kebanyakan orang. Menurut mereka, hal itu dapat membuat rutinitas mereka terganggu. Aku juga sama, tapi itu dulu. Sekarang, aku mengharapkan setiap hari turun hujan. Egoiskah?

Hari ini ujian. Bagaimana ini?. Aku mungkin sudah belajar semalaman. Namun, aku masihh tak mengerti kenapa rasannya otakku tidak dapat menangkap pelajaran apapun. Mungkin hasil ujian kali ini akan jadi buruk seperti sebelumnya.

Aku akan berusaha. Lagipula, Hinata sudah mengajariku. Terserah bagaimana hasilnya nanti yang pasti aku harus menunjukkan hasil yang maksimal.

"Naruto!" ,terdengar suara langkah kaki mendekati Naruto, "aku terkena flu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Hinata sambil merangkul Naruto.

"Eh? Hinata. Aku baik-baik saja,tapi apa yang kau lakukan?" tanya Naruto bingung.

Selalu saja begitu. Bukankah Hinata sering melakukan hal yang sama setiap mereka pertama kali bertegur sapa. Sifat pemalu Naruto tak bisa disembunyikannya. Ia selalu merasa canggung setiap Hinata berada di dekatnya. Padahal yang dia tahu, dia tidak memiliki perasaan pada Hinata.

"ada apa?", Hinata menyentuh dahi Naruto denan telapak tangannya, "apa kau sakit?. Lihat! Wajahmu merah. Bagaimana ini? Kau jadi sakit gara-gara aku." Nada suara Hinata mendadak panik.

"Ah?! Hinata! Ini-ini bukan seperti yang kau pikirkan. Aku ha-ha-hanya..." Naruto tak menyelesaikan kalimat karna lonceng tanda masuk sudah berbunyi.

"ayo masuk Naruto, bukankah kau ada ujian?"

"Hn." Jawab Naruto sambil menganguk pelan.

" oh, ya! Apa kau sudah belajar?" tanya Hinata sambil mendongakkan kepala kearah Naruto. Sikap Hinata secara otomatis membuat wajah Naruto bersemu merah. Dengan cepat, Naruto menunjukkan reaksi agar dapat menjauhkan diri dari Hinata.

"eh-eh-ehm, aku semalam sudah belajar. Te-ter-ter-terima kasih su-sudah bertanya. Sampai nanti, Hinata." Kata Naruto sebelum menjauh dari Hinata.

Sesaat Hinata menghela nafas, " terserah kau saja, Naruto." Kemudian dia berlalu menuju kelasnya.

Oh,ya. Maaf nyela, sedikit pemberitahuan. Disini sifat Naruto terbalik dengan Hinata. Dan yang lainya disesuaikan. Mungkin cerita per-chapternya pendek. Harap maklum,ya. Soalnya ni fict ngetiknya di warnet. Ok, silakan lanjut lagi!

Bel tanda waktu ujian berakhir sudah dibunyikan. Naruto mengepalkan tangannya erat. Dia gugup. Rasa takut akan gagal ujian dirasakannya. Sudah berulang kali ia ikut kelas tambahan. Tetap saja hasilnya nihil.

"hai, bodoh. Khawatir akan nilaimu." Seseorang dengan tiba-tiba bicara membelakangi Naruto. Rasa penasaran Naruto membuatnya berbalik untuk melihat orang yang bicara padanya.

'siapa itu? Mungkinkah dia...' batin Naruto.

Ekspresi terkejut terukir jelas di wajah Naruto. Murid paling pintar+jenius yang selalu merendahkannya sedang berdiri tepat didepannya.

Uchiha Sasuke, dengan pandangan mengintimidasi, sedang menatap Naruto," Hai, merindukanku?" katanya dengan senyum getir diwajahnya.

'ternyata benar, masalah satu belum selesai, muncul lagi masalah yang lain..' batin Naruto.

"a-ada apa, Sasuke?" tannya ragu.

"ada apa?! Ehmm, aku hanya ingin bersenang-senang DENGANMU.."

"apa salahku, Sasuke?"

"kau tidak salah, idiot. Aku hanya ingin mengganggumu saja. Ada masalah?"

"ta-tapi aku tidak suka.."

Seakan kilat menyambar tepat di hadapannya. Apa yang dipikirkan Naruto?. Berani-beraninya dia menjawab kata-kata Sasuke, sang dewa, murid terpintar+senpai karate di sekolahnya.

Namun, Naruto tidak harus mengalah, kan? Dia harus berani walau saat itu sekelebat ketakutan menyelimuti dirinya.

"Waw, anak idiot, sudah berani rupanya.", Sasuke menarik kerah Naruto sebelum keputusannya untuk melayangkan pukulan demi pukulan andalannya.

Tanpa disangka-sangka, Haruno Sakura, gadis yang Naruto sukai, datang menghampiri mereka. Naruto seakan terpaku pada paras cantik Sakura. Takut yang sebelumnya menguasai dirinya seakan hilang. Muncul harapan dalam benak Naruto bahwa Sakura akan melakukan hal yang sama pada dirinya seperti yang pernah Hinata lakukan sebelumnya.

"hai, sasuke-kun." Sapa Sakura pada sasuke dengan penuh keramahan, seakan Sasuke tak melakukan apapun seperti yang tengah dilakukannya pada Naruto.

"apa yang sedang kau lakukan, sasuke-kun?" tanya Sakura tanpa memandang Naruto.

"seharusnya aku yang bertanya begitu?", Sasuke bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari Naruto.

Mereka terus diam sebelum akhirnya terdengar deru langkah kaki. Sang penyelamat Naruto datang. Siapa lagi kalau bukan Hinata. Gadis yang dia tak pernah tahu kalau dia menyukainya.

" hei, serangga penganggu,"

"HI-HI-HINATA..." Sasuke memekik.

Sesaat setelah itu Hinata sudah berada ditengah-tengah mereka.

"Sasuke..." Hinata berkata lirih, " kau, kenapa Sakura memegang lenganmu?"

"hinata-chan, aku bisa jelaskan.."

"kaliann..."

TBC.