Kedua pria humu itu berjalan santai di koridor sekolah mereka yang ramai. Satunya agak tinggi, satunya agak pendek. Satunya berambut merah, satunya berambut biru. Yang satu Kagami Taiga, dan yang satu lagi Kuroko Tetsuya.

Kebetulan, karena hari ini tidak ada latihan, Kuroko akan menjalankan misinya. Akankah ia berhasil?

.

.

.

Mission Failed?

.

.

Kuroko no Basuke is Tadatoshi Fujimaki's

A fanfiction from salmoow

.

.

Pair: (Aomine Daiki & Kagami Taiga) Generation of Miracles

Rated: M

Genre: Humor, Romance, Lovey Dovey, Fluffy, dll :v

.

.

Warning!: Ini pertama kali buat saya membuat fic yaoi rate M X)) Jadi, maafkan saya kalau ceritanya agak abal dan tidak menarik untuk dilihat. Typos. Pemilihan bahasa yang tidak tepat. Berpotensi mengakibatkan muntaber, panu, kadas, kurap, dll.


.

.

PLAN 2:

TUMBAL : KUROKO TETSUYA

KORBAN : MASIH KAGAMI TAIGA

MISI : MENTRAKTIR KAGAMI DI MAJI BURGER, DAN "LAIN LAIN"

.

.

"Etto.. Kagami-kun..?" ucap Kuroko.

"Hnng?" Kagami yang sedang berjalan di sebelahnya hanya menanggapi seadanya.

"Ayo temani aku ke Maji burger! Aku akan mentraktormu! Ah, maksudku, mentraktir!"

Kagami langsung berbinar di depan Kuroko.

"AKU MAU, KUROKO." Ucapnya. Kuroko tidak begitu terkejut dengan respon yang diberikan oleh humuannya sahabatnya yang Maji Tenshi itu.

Dari belakang mereka, sudah siap segerombolan pelangi yang menguntit dan amat sangat menarik perhatian. Kuroko menoleh ke belakang dan memberikan tanda 'oke' yang diikuti menghilangnya pelangi itu dari pandangan.

Nahlo!

.

.

"Aku pesan burger 20 buah. Tak apa kan Kuroko?" Tanya Kagami yang sedang memesan burger di depan kasir bersama Kuroko.

"Tentu saja Kagami-kun. Kau boleh memesan sebanyak yang kau inginkan!" ucap Kuroko.

Dan pesanan Kagami itu membuat merinding seseorang yang kini berdiri di belahan dunia lain. Ah, bukan belahan dunia lain, belahan dada Mai-cha—ah, bukan itu maksud author, maksudnya di sebelah Kagami. Siapa yang ada disana?

"Kau mau pesan apa, Aomine?" Tanya Kagami yang sudah selesai dengan pesanannya sambil berbinar-binar.

"A-ahh.. Aku pesan burger jumbo satu saja." Ucap pria biru tua, ah, coklat tua itu. Kalo biru tua, nanti dikira avatar.

Setelah mereka semua selesai dengan sesi pesan-memesan, kini mulailah mereka dengan sesi cari-mencari meja yang nyaman dan dilanjutkan dengan sesi cakap-bercakap-antar-siswa-SMA-yang humubahagia.

"AH! ASTAGA! Aku lupa kalau hari ini ada janji dengan teman-teman SMP! Kagami-kun, Aomine-kun, maafkan aku, aku pulang duluan." Tiba-tiba pria berbadan pendek itu langsung pergi.

"O-oi, Kuroko!" Kedua pria disana, ah, bukan, salah satu pria disana yang tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi hanya terdiam cengo melihat orang yang tadi mengajaknya dan mentrakto—mentraktirnya tiba-tiba pergi dari tempat kejadian.

"Lalu semua burger ini siapa yang akan membayarnya?! Kuroko sialaaannn!" Kagami merutuk sembari mengunyah burgernya.

"Haaahh.. Biar aku yang mentraktirmu. Ini ucapan terimakasihku karena kau sudah menjagaku saat demam kemarin." Ucap Aomine yang membuat Kagami blushing seketika. Tentu saja mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya….

.

"Ahhh, Ahh-ahomineeeee! Mnggghh.."

"Kau sangat panas, Kagamiihhh.."

"Aaaaaaaaaaaahhhhhnnng!"

.

BLUSH!

"A-aa.. T-terimakasih.." Ucap Kagami masih sambil mengunyah dan blushing akut.

"Kau kenapa, Kagami? Mukamu merah. Jangan-jangan kau tertular demamku?" Tanya Aomine yang kemudian menempelkan dahinya ke dahi Kagami. Demi Dewa Maji, Ahomine! Mengingatkan Kagami dengan kejadian tempo hari itu saja sudah membuatnya.. Blush.. turn on.. Kagami refleks menarik diri.

"Ah, maafkan aku." Ucap Aomine yang kaget karena reaksi Kagami. Adudududududuh.. Awkward banget nih! Sumpah deh!

Semenit..

Dua menit..

"Anoo/Kagami.."

Ucap mereka bersamaan. DOENG. Inginnya sih memulai topik lain agar tidak awkward, tapi kalo begini sih malah tambah awkward. Mereka berdua sweatdrop.

"Kau dulu saja, Kagami. Ada apa?" Tanya Aomine kemudian dengan sok tenang sambil menyeruput milkshake cokelatnya.

"Ah, tidak apa-apa. K-kau sudah baikan?" Tanya Kagami tidak berani menatap lawan bicaranya. Masih blushing lho reader, ingat..

"Hngg.. sudah lumayan. Memangnya apa saja yang kau lakukan saat itu? Aku tidak begitu ingat. Mungkin karena demamku yang cukup tinggi."

JEGEEEERRR! KUDU JAWAB APA LO MI! BAKMI! AH, MAKSUD AUTHOR, KAGAMI!

"E-eh.. Anu.. U-unnggg.. Duh.."

"Kenapa?" Aomine mulai memojokkan Kagami.

.

.

.

Aomine dan Kagami yang duduk berdua di Maji Burger itu terlihat sangat akrab—aiiiiihhh! Alih-alih akrab, awkward oy!

Kini, Aomine tengah berada di dalam misi yang dipimpin oleh Akashi. Dan saat ini, bisa kita lihat, Aomine sedang memojokkan Kagami perihal suster dadakan—Suster Seksi Kagami—yang merawat Aomine tempo hari.

Sebenarnya, Aomine 150% sadar dan tahu apa yang dilakukan Kagami saat itu. Namun, ia menyembunyikan fakta itu dari Kagami. Jahat ih ya si Aomine teh.

OY OY, jangan fitnah dulu dong! Selain agar dia bisa fanboyingan sendiri, ia menyembunyikannya karena tidak ingin Kagami—dan dirinya tentu saja—menanggung malu yang lebih dari ini! Wooo.. makanya jangan langsung tuduh-tuduh orang. Aomine tuh, meskipun nggak peka, nggak pinter, nggak manis, dan yang nggak-nggak lainnya,

MA-MAAP BANG!

Tapi dia masih punya hati untuk tidak membiarkan calonnya ini malu.

Eh, tapi tunggu dulu, kalo gitu kenapa dia mojokin Kagami ya?

"Kau kenapa, Kagami?" Tanya Aomine yang masih sibuk dengan milkshakenya. Sok tenang.

"Engg—tidak apa-apa. Sudahlah, tidak usah dibahas, hehe." Kagami ketawa garing. Garrriiiiing banget. Bikin suasananya makin aneh.

"Oh, yasudah." Aomine pengertian sekali yah! Untung percakapannya dihentikan. Pengen tau kenapa? Karena Aominepun kini sudah tertular blushingnya Kagami. Meskipun tidak terlihat karena kulit dakian Aomi—

Ah, maaf. Sekedar live report, saat ini sudah ada kepalan tangan di sebelah author. Biar author ulang Aominecchi, Author ulang!

Meskipun blushing Aomine tidak terlihat karena kulit tan seksinya—udah noh!—dan karena saat ini dia juga pura-pura menunduk dan main hp.

Saat ini, mereka berdua tampak seperti pasangan humu sehidup semati, yang lagi kencan di Maji Burger karena tak sanggup pergi ke rumah makan padang atau ke angkringan. Dan tak ayal, ada bisikan-bisikan nista di sekitar mereka yang lagi pada blushing di dunia sendiri-sendiri dan sama sekali nggak denger bisikan-bisikan nista itu:

'Eh, itu mas-masnya yang dakian tu lagi nyari duit jatoh ya?' yang ini masih logis.

.

'Duh, pasangan corethumucoret serasi ya.' Yang ini langsung to the point.

.

'Ahh.. Anak muda..' yang ini masa remaja kurang bahagia.

.

'Kyaaaaaaa! Liat ada cowok-cowok macho lagi berduaan! Pasti Yaoi tuh!' yang ini fangirl.

.

'….' Yang ini Mitobe.

.

.

O-oi Mitobe, keluar dulu! Kamu belum waktunya masuk! Aduh..

Dan setelah beberapa lama mereka saling berdiam diri, akhirnya Kagami telah menghabiskan biji burgernya yang ke-duapuluh.

"Oi, Aho, mau main PES 2014 di apartemeku?" Tanya Kagami akhirnya. MEMBERANIKAN DIRI. Yah, ini lebih baik daripada suasana awkward di maji burger. Mending awkward di kamar Kagami. Level ke-awkward-annya bisa lebih privasi. Eh?

"Hng? Boleh.. kapan?"

"Sekarang saja."

.

.

"Akashicchi! Akashicchi! Lihat! Mereka berdua sudah pergi! Kau lihat tidak! Tadi Kagami yang inisiatif duluan! Aominecchi memang hebat-ssu!" pria bersurai keemasan itu sudah loncat-loncat dari balik gedung Maji Burger.

"Diamlah, Ryouta. Tetsuya, cepat ikuti mereka."

"Hai!"

"Atsushi, tadi kau sudah mengecek kamera di kamar Taiga?"

"Sudah Aka-chin. Apa aku boleh makan snackku sekarang?"

"Makanlah sepuasnya. Shitarou, cepat nyalakan kamera di kamar Taiga."

"Sudah-nanodayo."

.

Dari mana mereka tahu Kagami yang berinisiatif duluan? Tentu saja karena sang pemimpin sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang—karena alat penyadap sudah di selipkan baik di baju Aomine maupun Kagami. Poor couple.

.

.

"Tadaimaa~" Kagami berteriak begitu pintu apartemennya terbuka.

"Oakeri.." ucap Aomine.

"Oi, kenapa kau yang menjawab, kan kita datang bersama." Kagami melirik Aomine.

"Anggap saja aku suamimu yang menunggu di rumah."

BLUSH!

OI KAGAMI, STOP BLUSHING! KAMU KOK GAMPANG BANGET BLUSHING SIH!

"B-bodoh! Kalaupun kita bersama, aku yang akan jadi suamimu tahu!" ucap Kagami membela diri.

"Benarkah? Tapi sepertinya aku lebih cocok jadi suamimu."

"Apaa? Jadi kau mau bilang kalau aku yang akan jadi istri dan memasak di rumah, menyapu, mengepel, mencuci baju? Begitu?" Kagami protes.

"Wah, rupanya kau sudah tau apa yang harus kau lakukan. Baguslah kalau begitu. Aku turut senang." Ucap Aomine kemudian langsung menyamankan diri di atas sofa.

"O-oi! Ahomine! Jangan bersikap seenaknya di rumah orang!" Kagami mulai kesal.

"Araaa, kau ini kenapa sih? Sedang PMS ya? Biasanya juga begini." Aominepun menyalakan TV.

"Arrgghh! Dasar Ahomine!" Kagami mengacak rambutnya sendiri sampai sesuatu menarik lengannya.

Syut!

Bruk!

"A-AHO! APA YANG KAU LAKUKAN!?" Kagami memekik kaget begitu sadar dirinya sudah berada di atas sofa dan Aomine yang tengah menindihnya dengan tubuh kekarnya.

Lalu dengan cepat, Aomine mencium Kagami.

"Mnnggghhh!" Aomine menjilati bibir bawah Kagami dan menciumnya selama beberapa saat.

Fuwa!

"Jangan berisik, Kagami. Kalau tidak, aku akan menciummu lagi. Ayo, sekarang kita main PES! Aku akan mencari camilan di dapur." ucap Aomine santai lalu menyingkir dari tubuh Kagami dan pergi.

Kagami masih mematung di tempat mencerna semuanya. Meskipun ia sudah pernah berciuman dengan Aomine, namun rasanya tetap saja berbeda kalau orangnya sedang sadar! Apa yang Aomine pikirkan sih! Mau membuat Kagami 'berdiri' lagi, hah? Atau mau membuat Kagami mati karena doki-doki?

.

Di balik dinding dapur, yuhuuuu~, pangeran kita sedang berjongkok dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat seperti sosis gosong yang diberi saus. Blushing. Tentu saja blushing! Baru saja ia menyerang Kagami! MENYERANG KAGAMI!

Udah Thor, nggak usah alay.

"Aomineee.. Apa yang kau lakukaann.. Kalau dia marah bagaimanaaa.." Aomine merutuki dirinya sendiri.

"Tidak, Aomine-kun. Dia tidak akan marah."

..

..

..

"WHOAAAAAA!" Aomine berteriak cukup kencang akibat hampir-saja-serangan-jantung-dadakan karena seseorang yang tiba-tiba sudah menemaninya berjongkok di sebelahnya.

"O-oi! Ada apaa?" Kagami tiba-tiba muncul dari arah ruang tengah. Aomine yang gelagapan langsung berdiri.

"Ti-tidak ada apa-apa! Hanya kecoak.. Haha.. Iya, kecoak.." iya om, kecoak Mbahmu punya rambut warna biru muda.

"Oh, yasudah.. Aku mau ke supermarket sebentar.. Kau mau titip apa?" Tanya Kagami yang cukup curiga.

"Ah, aku pesan cappuchino saset saja. Tapi jangan kebalik beli shampoo rasa cappuchino saset lho ya! Bisa-bisa aku masuk rumah sakit nanti. Hahaha.." Aomine bercanda garing. Saking garingnya sampai gosong. Seperti kulitnya. Tak ada yang tertawa. Semua hening kecuali tawa Aomine yang garing.

Kagami yang melihat tingkah Aomine itu hanya mengangkat bahu.

"Okay, kalau begitu aku berangkat. Jaga rumah ya, Aho!" dan iapun pergi dari TKP.

Setelah bunyi suara pintu berdebam dari arah depan terdengar, langsung saja Aomine mengambil kecoak biru muda itu dari balik meja dapur.

"Sejak kapan kau di sini, Tetsu!?" Aomine beringas.

"Aku masuk dari pintu depan bersama kalian tadi. Aku juga melihat kalian berciuman lhooo.. Hayooo.. Aku juga lihat yang kemarin itu lhooo.. Hayooo.." ucap Kuroko menggoda Aomine dengan penampakan wajahnya yang tanpa ekspresi seperti biasanya yang lebih mengerikan dari [Masih] Dunia Lain episode GoM*.

"Te-Tetsu! Berhenti bicara seperti itu dengan wajah datar! Itu mengerikan!"

Yaelah, Min.. Kirain mau protes soal Tetsu yang ngeliat adegan kalian berdua, taunya malah ngomen mukanya Tetsu..

"Ma-maksudku, berhentilah menguntit seperti itu!" ralat Aomine kemudian.

"Bukan hanya aku kok yang menguntit. Tapi memang hanya aku yang menguntit secara live action, sih. Ah, iya Aomine-kun, berikan ini pada minuman Kagami-kun nanti. Bersemangatlah!" ucap Kuroko.

"Apa maksudm—"

"Aku pulaaang~" glek. Kagami sudah sampai rumah? Cepet amat! Pergi ke supermarket mana tuh!?

"Tetsu, sebaiknya kau cepat per..gi.." yak, dan Kuroko sudah tidak ada disana. Entah saat ini dia sedang berada dimana. Masih menguntit live action atau tidak. Aomine hanya facepalm.

"Oi, Aomine, ini cappuchino sasetmu.. aku juga membeli banyak camilan." Kagami menuangkan semua hasil belanjaannya di meja dapur.

"K-kau cepat sekali Kagami!" Aomine gelagapan.

"Ah, aku beli di supermarket di basement." Ucap Kagami santai. WOW! Ada ya apartemen yang di basement nya punya supermarket? Ya ada lah, buatannya Author gitu lho..

"O-oh, yasudah, cepat siapkan PS mu, aku akan membuat minuman!" ucap Aomine yang kemudian mendorong Kagami keluar dapur.

"Kau yakin tidak ingin dibantu?" Tanya Kagami polos.

"Ya! Tidak perlu dibantu!"

"Baiklah.." Kagamipun pergi dari TKP dan Aomine menghela napas panjang. Ia mengambil bungkusan yang diberi oleh Kuroko dan mencium baunya sedikit.

Sedetik..

Dua detik..

OMFG! INI KAN OBAT PERANGSANG! DARIMANA KUROKO BISA MENDAPATKANNYA? WADUH, AKASHI NGGAK BAIK NIH, NGASIH BOCAH BEGINIAN!

Aomine menelan ludah. Ia sedang dilema. Masukkan obatnya atau tidak ya? Kalau dimasukkan, bisa saja ia tak dapat menahan dirinya melihat Kagami. Kalau tidak dimasukkan, ia akan kehilangan kesempatannya!

Masukkan atau tidak ya..

.

.

.

"Aku ingin kau.. Taigaah.. Aku sudah tidak dapat menahannya lagi.." ucap Aomine yang masih menciumi leher Kagami.

"A-Ahooo.. Mnngghhhh.." Kagami merasa tubuhnya semakin panas, seolah memang sengaja dipanaskan oleh Aomine. Ia merasa sangat berdebar dan mafasnya tidak beraturan. Tak beda jauh dengan Aomine. Ia semakin beringas menciumi leher Kagami. Yang dicium hanya mendesah desah tak jelas menikmati perlakuan dari pria diatasnya.

Ciuman Aomine berpindah ke bibir Kagami. Ciuman yang awalnya hanya berupa lumatan lembut, berubah menjadi lebih ganas dan agresif. Mereka berdua saling melumat bibir satu sama lain, seolah bibir masing-masing adalah sesuatu yang sangat lezat dan sangat berharga untuk dilepaskan.

Kini, giliran lidah Aomine yang bermain. Lidah miliknya berusaha memasuki mulut Kagami sembari bibirnya terus melumat bibir Kagami. Kagami yang sudah terbawa oleh ciuman panas Aominepun membuka mulutnya dan membiarkan lidahnya bermain dengan lidah panas Aomine. Daging tak bertulang itu dengan lincah bermain-main di dalam mulut Kagami, berusaha mendominasi, yah, tentu saja karena sifatnya yang tak pernah mau kalah.

Sambil berciuman dengan panasnya, tangan Aomine mulai meraba-raba tubuh Kagami di balik kemeja putih seragamnya.

Bret!

"Mnngghh.. Ah-aho.. apa yang kau lakukan pada seragamku! Bodo—nhh! Ahhnng.." Kagami memprotes Aomine yang telah merobek baju seragamnya sambil terus mendesah. Kini baju itu tengah bersedih ria di ujung ruangan karena dicampakkan pemiliknya.

"Bajumu sangat mengganggu sayang.." Aomine sepertinya sudah tertutup nafsu karena ia semakin ganas menciumi Kagami. Tak lama, Kagami sudah polos tak berlapiskan apapun.

Ciuman Aomine terus turun ke bawah, menuju dada Kagami, memainkan, menjilat, dan menghisap nipple merah muda Kagami yang terlihat sangat.. uh.. menggoda. Tangan Aomine yang lain memainkan milik Kagami yang terekspos, meremasnya, menarik-narik, dan memijatnya sehingga membuat pemiliknya mendesah terus menerus. Sampai akhirnya, Kagami keluar dan membanjiri perutnya dan perut Aomine, juga karpet ruang tengah Kagami.

"Ahh.. Nnghh.. Ahooo.."

Ternyata, tak hanya Aomine yang sudah tertutup nafsu, rupanya Kagamipun juga sudah tertular. Kagami tanpa sadar membantu Aomine sang seme dan membukakan celana Aomine. Aomine terdiam, membiarkan Kagami melakukan aksinya. Aomine kemudian menyunggingkan senyum nakal.

"Anak pintar.."

Aomine mengecup bibir Kagami singkat dan duduk di sofa. Sedangkan Kagami, tanpa butuh panduan, ia duduk di bawah dan menghadap dengan milik Aomine yang besar. Libido Kagami semakin bertambah begitu melihat penis Aomine yang menjulang di hadapannya. Iapun segera memasukkan benda keras itu ke dalam mulutnya, mengulumnya.

"Ohhh.. Ahhh.. Ssshh.." Aomine mendesah dan merasakan mulut Kagami yang panas dan lembab. Sembari menikmati blow job dari Kagami, tangan Aomine mencengkram rambut Kagami dan sesekali mengelusnya sayang.

"Ngghhh.. Mmmphhhh.. Slrup.. Mmmhhh.." Kagami memaju-mundurkan kepalanya. Aomine mendesah semakin hebat, terlebih ketika Kagami mulai menggunakan lidahnya untuk bermain di ujung kejantanan Aomine. Tak hanya itu, tangan Kagami juga mulai bermain di dua bola milik Aomine dan menyebabkan pemiliknya semakin mendesah keenakan.

Author mimisan pemirsa /GANGGU BANGET SIH LU THOR!

"Ngghh, Kagamiiihhh.. Aahhhhnnggg.." Aomine, tak tahan, mulai memaju-mundurkan pinggulnya.

"Ugghhh.. Ahhkk.." Kagami bertahan agar tidak tersedak.

"Aaahh.. Shit.." Aomine menghentikan blowjob Kagami. Kagami yang memang masih awam soal seks sesama jenis, cukup kebingungan.

"Kemari, duduklah di pahaku." Ucap Aomine yang kemudian langsung dituruti oleh Kagami.

"Lumuri jariku dengan liurmu." Aomine menyuguhi mulut Kagami tiga jarinya.

"U-untuk apa?" Tanya Kagami tergagap.

"Lakukan sajaahh.." Aomine kembali memberi tanda kemerahan di leher Kagami.

"Ngghh.. B-bodoh.." Kagami yang menggerutu tetap saja menuruti perkataan Aomine dan mulai mengulum jari Aomine sambil menahan gemetar akibat perlakuan Aomine saat ini; tangan Aomine yang lain menggesek-gesekkan penis mereka berdua dan bibirnya menciumi dada Kagami.

"Cukup.." Ucap Aomine. Kagami kemudian memeluk erat Aomine dan menikmati permainan tangan Aomine di penisnya. Lalu tiba-tiba sesuatu menembus anus Kagami.

"Aahh! Ngghhhh.." Aomine sudah memasuki Kagami dengan jari tengahnya. Rupanya ia cukup sadar untuk tidak menyakiti Kagami dan melakukan penetrasi terlebih dahulu. Namun, Kagami yang memang baru pertama kali merasakan menjadi uke, hanya bisa menggeliat tak nyaman.

"Ssshh.. Tenang saja.. aku akan pelan-pelan.." ucap Aomine yang melakukan gerakan in out dengan jarinya masih sambil mencium dan sesekali menjilat nipple Kagami, dan membuatnya mendesah. Terlebih tangannya yang lain masih berada di kejantanan mereka semakin membuat Kagami terbuai nikmat.

Setelah Kagami terlihat lebih tenang—mulai terbiasa, Aomine memasukkan jari kedua, melebarkannya dan meregangkan anus Kagami.

"Nggghhhhh! Aomineee….!" Kagami makin terasa tak nyaman, namun kemikmatan yang diberikan Aomine di bagian tubuhnya yang lain membuatnya lupa akan rasa tak nyaman itu.

Akhirnya, sampai pada puncak acara. Aomine menelungkupkan tubuh Kagami dan menaikkan bokong pria berambut merah tua itu.

"Ahh.. Ahh! S-sakiittt..!"

"A-ahooo.."

"Mnnggg.."

"A-aaaaahhhhhh!"

.

.

.

HOLY SHIT!

AKU NGGAK AKAN MEMASUKKANNYA!

Jadi, saudara-saudara, yang tadi itu hanya pikiran mesum Aomine. Tidak usah ditanggapi dengan serius.

Aomine menelan ludahnya dengan susah payah dan memasukkan bungkusan yang diberikan oleh Kuroko ke dalam saku celananya sambil gemetaran, dengan wajah yang sangat merah.

"Oi, Aho! Kenapa kau lama sekali sih?"

FOR GOD SAKE! Aomine terlonjak panik mengetahui orang yang ada di pikiran mesumnya kini telah ada di hadapannya. Kokoro nya berdebar dengan sangat cepat. Napasnya tak beraturan.

"E-ee-eh? Ti-tidak a-apa apa! K-kau kembali saja, a-aku akan s-segera selesai! I-iya!" ucap Aomine gugup disertai wajah panik yang lumayan mirip gorilla. Lubang hidung yang kembang kempis, mata melotot, dan sebagainya.

"Kau yakin?" tanya Kagami penasaran sekaligus curiga ada sesuatu yang disembunyikan oleh Aomine.

"Benar! Tenang saja!" ucap Aomine kemudian mendorong Kagami keluar dapur sambil menepuk-nepuk kantongnya, memastikan barang nista itu masih ada di batas aman.

.

-Di sudut lainnya-

.

"Maaf Akashi-kun, sepertinya tidak berhasil.. Aomine-kun masih membawanya.. Baik.. Baiklah, aku akan segera kesana.. Tidak perlu, lewat pintu depanpun mereka tidak akan sadar.. Baik."

Pip.

Mission uncompleted.

.

.

"Dasar Daiki bodoh! Sudah kubilang dia harus memanfaatkan kesempatan.. Kenapa malah disimpan!" gerutu Akashi sambil mengayunkan guntingnya ke kanan dan kiri. Gatal.

Anggota lainnya hanya mematung tegang. Takut gunting itu meleset dari tangan Akashi. Saat ini, hidup mati anggota Kisedai ada pada Aomine. Mereka semua kini tengah berkumpul di ruang monitor yang terdiri atas sebuah layar raksasa utama, dan beberapa layar kecil di sekitarnya. Tentu saja untuk memantau kegiatan poor couple kita.

"Lihat saja.. Misi ini pasti berhasil. Karena aku selalu menang, dan aku selalu benar." Ucapnya sambil menyunggingkan senyum sadisnya.

GULP!

"B-bagaimana ini! Aominecchi memang bodoh, kenapa dia tidak menurut saja sih!" ucap Kise berbisik di sebuah lingkaran yang terdiri dari semua anggota Kisedai, kecuali Akashi tentu saja, yang masih memperhatikan layar raksasanya.

"Hari ini bukan hari keberuntungan Virgo nanodayo. Kurasa ia takkan selamat." Ucap Midorima dengan yakin sambil menaikkan kacamatanya.

"Kurasa Mine-chin butuh snack. Mungkin besok akan kukirimi dia snack."

"Semoga aku juga selamat. Karena misi ini akulah yang membawanya." Ucap Kuroko datar, namun terlihat sekali wajahnya pucat.

Ctak. Sebuah gunting menempel di tembok di sebelah kepala Midorima yang hari ini keberuntungannya ada di peringkat pertama.

"Kalian sedang bicara apa, hah?"

"BU-BUKAN APA-APA!" ucap pelangi tanpa merah itu serempak.

"Kalau begitu, ayo tentukan rencana selanjutnya." Ucap sang emperor masih dengan nada angkuhnya.

"Muahahahahahahahahahahaha! Bersiaplah!"

.

.

.

Brrr..

"Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa.. Hanya saja, perasaanku tak enak.."

.

.

Tbc~


CIAAAAATTTT! Maaf sekali kalau ceritanya makin abal dan nggak jelas :") yang terpenting adalah, saya sangat menghargai setiap review dan favs yang ada :") dan kali ini, saya akan membalas para reviewers yang hanya sejumput namun memberikan saya motivasi moral dan material /APA SIH THOR! okaay, kalau begitu teher it is..

.5872682 ini tisu, nih tisuuuu! Gomennasaaai! Karena saya, Anda jadi mimisan seperti ini :"" /TABOK! Gimana Mey-chan? Ini makin gaje atau makin panas ya? Mwehehe :3 Terimakasih reviewnyaah X))

The Tsubasa Yuki ini sudah lebiih X)) kelebihan, sampe tumpeh-tumpeh X)) /APASIH terimakasih sudah review qaqa :")

Psychoarea Kyaaa, terimakasih qaqa psychoarea yang asli(?) karena sudah menyempatkan diri merieview fic nista ini :"") ikutin terus yaa :"")

Dominic Stratford I-iyanih! Rate eMu-desu! *ikutan speechless* karena ini rate eM pertama saya :" karena Akashi memang tidak ada kerjaan :" /lalu saya gundul /gampar. ikutin terus ya kaaak X))

kisafuuma iyanih! Kisedai lagi selo habis winter cup, lol :v tentu saja lantuj kakak.. ikutin terus yaaah X))

Nah, berhubung yang review hanya segelintir itu saja, saya langsung pamit undur diri :"")

Arigataou Gozaimashita!


At last but not least, review onegaishimasu! *sujud*