First of all, author mau ngebales ripiuw yang cimit cimit dulu :"") here we goo~
.
.
RisaSano Iyalah malu banget Risa-san X)) sampe nangis gitu si Kagami! Wkwkwk dia kan terpaksa ikut ke sana gegara di suruh Akashi X)) orang dianya sendiri aja gamau kok wkwk. Thanks for review :3 keep reading
Seiryuu Rou Kyaaa, sini aku tangkep Ara-san! Jangan klepek-klepek dulu, nanti gabisa baca chap ini X)) wkwk thanks for review Ara-san :3 Keep reading~
Ruki-chan SukiSuki'ssu Jangan ditahan teriakannya, Ruki-chan! Biarkan otou-mu mendengarkan gelegar fujoshi wkwk /apasih. Benar Ruki-chan! AoKaga emang TOP! Unyu kan si Kuroko jadi fudan :3 mwehehe. Thank for review, Ruki-chan :3 Keep reading.
Kai Shadowchrive Kyaaa! Maafkan aku atas kebohongannya, Kai-san! Wkwk obat pembuat demamnya author bikin sendiri dong :v /WOY. Ah, Iya, Kurokonya nontonin live action sambil bercucuran darah :)) wkwk Momoi nggak author bikin jadi nyebelin kok disini, kasian dia kalo makin banyak yang benci /APA. Wkwkw, itu permainannya ga dilanjutin, soalnya authornya males ngejelasin cara mainnya :v /tiduran /apaini. Aaah, iyaaaahhh, tapi kalo menang mini game, mereka bisa dapet hadiah menarik :v wkkwkwwk. Thanks for review, Kai-san :3 Keep reading.
Pichann terimakasih reviewnya Pichann-san X)) Keep reading.
Bolu Kyaaaahh, Bolu-chaaan X)) terimakasih udah nyempetin review! Semangat bikin dojinnya yaaa! Jangan mutung X))
Fish'nchips iya kan! Iya kan! Kagami kostum suster emang unyuu! *fangirling* ahh, author juga minta maap sama fish-san karena di chap ini mungkin humornya agak berkurang :"") author lagi buntu bingiiiittt hehehe. Tapi, terimakasih reviewnya ya fish-san, and keep reading :3
Mey-chan iyanih, ga sampai selesai game nyah :"") kyaaa, Mey-chan jangan ngileer X)) huehueheuehue~ thanks for review Mey-chan~ keep reading ;)
LeoD Aduuuhhh, maap author gabisa ngasih potonya :"")) meskipun author juga kepengen liat wkwkw. Iyaaaps, emang dibikin cliffhanger di sini.. maaf kalau mengecewakan, semoga LeoD-san tetap mau baca lanjutannya~ thanks for review X))
Allennad FireBall iyaaa! Kagami terlalu imut! Sinih, ikutan nonton Kagami roknya sobek! *geser-geser* X)) thanks for review Allennad-san~ keep reading :3
Kiriohisagi Kyaaaaaaaa! Kiriohisagi-saaaannn! Aku penggemar berat semua fic mu yang keren-keren gewlaaak /APAWOY. Sini, nikah sama aku siniiihh ~3 *kabur*kyaa, makasih, ini fic M pertamaku :"") jadi maaf kalo agak nganu /nganu apa woy/ iyaa, Aomine-kun ga pake aphrodisiac nya soalnya dia kan baik hati :"") Ahhh, Itu ide gamenya tiba-tiba mengucur di kepala seperti mimisanku baca fic-ficnya Kiriohisagi san kok o'- aduuuhhhh, jangan kejang-kejang doong, ntar nerusin bacanya gimanaahh X)) wkwk makasih banyak lho Kiriohisagi-san udah nyempetin review gaje iniiihhh *veluk* keep reading ya Kirio-saaaaannnnn :""))
Modochin Kyaaah, Modo-chan repiew :""))) iya, jangan di terusin aja kalo ga kuat :"")) /salah. Yaahh, entar di coba deh bikin drabble :"""")))) soalnya ane paling gabisa bikin drabble :"""))) lop yu tu Modo-chaaaannn *veluk*
.
.
Mission Failed?
.
.
Kuroko no Basuke is Tadatoshi Fujimaki's
A fanfiction from salmoow
.
.
Pair: (Aomine Daiki & Kagami Taiga) Generation of Miracles bumbunya cuma ImaHyu kok :3
Rate: M
Genre: Humor, Romance, Lovey Dovey, Fluffy, dll :v
.
.
Warning!: Ini pertama kali buat saya membuat fic yaoi rate M X)) Jadi, maafkan saya kalau ceritanya agak abal dan tidak menarik untuk dilihat. Typos. OOC. Pemilihan bahasa yang tidak tepat. Berpotensi mengakibatkan muntaber, panu, kadas, kurap, dll.
Chapter 5
.
.
"Oi, Aomine, pass!" Kagami melempar bolanya ke arah Aomine yang terbengong-bengong.
Buak!
"Adudududuhhh.. Kau ini kalau nge-pass liat-liat dong! Orang lagi bengong juga!" Aomine mengelus kepalanya dengan sayang.
"Memangnya kau lagi bengong soal apa?"
"Soal menciumm—" Aomine membelalak. Dia menoleh ke arah Kagami yang kini menatapnya sinis.
"Soal kau yang menciumku, hah? Kau mau bilang itu?" ucap Kagami dengan ketus, "bagaimana rasanya mencium orang ketika ia tidur? Menyenangkan sekali bukan?"
"E-eh? Ka-Kagami.. maafkan aku! Aku tidak sengaja! A-aku—"
"Sudah cukup. Tidak perlu alasan lagi. Aku tidak mau mendengar alasanmu. Mulai sekarang, jangan pernah menemuiku lagi." Ucap Kagami. Lalu Kagami mendrabble bolanya menjauh dari Aomine.
"Kagamii! Tunggu! Kau salah paham! Kembalilah! Kagamiiiiii!" Aomine berteriak memanggil Kagami yang kini menghilang di tengah kegelapan. Kakinya mencoba mengejar Kagami, namun terasa sangat berat. Lalu, tiba-tiba sosok berwarna biru muda muncul entah dari mana.
"Salahkan dirimu sendiri Aomine-kun! Kau tak pernah mendengar perintah Akashi-kun dengan benar. Inilah balasan yang setimpal untukmu!" kemudian, sosok berambut biru muda itu membesar dan kian membesar hingga tinggal terlihat kepalanya saja.
"Te-Tetsu? Jangan salahkan aku! Salahkan wajah Kagami yang minta diserang itu!" ucap Aomine sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
"Salahkan dirimu sendiri, Aomine-kun!" suara Kuroko makin menggema dan berputar di sekeliling Aomine.
"T-tidak.."
"Salahkan dirimu sendiri.."
"TIDAK!"
"Salahkan dirimu sendiri.."
"TIDAAAAAAAKKKKKK!"
Brugh!
"Auch.."
Aomine mengerjap beberapa kali untuk membiasakan matanya dengan cahaya yang perlahan merayap masuk dari jendela kamarnya. Tangan kanannya mengusap pantat yang menjadi korban bunga tidurnya itu. Oh, Ini sudah pagi. Ini sudah hampir lima hari sejak lima hari yang lalu. Dan ini adalah hari keempat libur musim panas. Dan..
"HOLY CRAP! Sudah berapa kali mimpi seperti ini terus!?"
.
.
-Tokyo: Fri, 1stAugust 20xx, 09:45 p.m.-
Oooh, siang yang begitu terik. Matahari, dengan bangga, memperlihatkan seluruh tubuh indahnya yang elips berdiameter 1.392.684 km dan berjarak 149.000.000 km di langit biru yang terlampau cerah tanpa awan itu. Semua orang malas keluar rumah. Termasuk Aomine kita yang malangnya, telah diundang oleh pangeran heterokrom untuk berenang di laut bersama-sama.
Kini, lihatlah, Aomine tampan kita sedang berjalan sendirian di pinggir jalanan kota Tokyo yang ramai dan panas itu menuju tempat mereka janjian. Sebagian wajah tannya tertutup topi yang tidak begitu berguna. Di pundaknya, selampir tas jinjing tengah dibawanya. Sangat terlihat seperti jomblo kesepian. Karena dia memang jomblo kesepian.
Haah.. sudah cukup sampai disini narasinya.
Aomine kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya setelah kembali memutar kejadian saat bermain one-on-one bersama Kagami beberapa hari yang lalu.
Ya, ketika bermain one-on-one bersama Kagami.. dan ia menciumnya.
Gaaaaaahhhhh!
Kali ini, rambut indah berkilaunyalah yang jadi korban. Aomine mengacak rambutnya dengan kasar. Wajahnya merah. Ah, maaf. Cokelat marun. Akibat dari perasaan malunya, rasa bersalahnya, rasa menyesalnya, rasa 'inginnya', rasa cokelatnya, rasa strawberrynya, dan rasa-rasa lainnya yang tidak ada di daftar menu.
Ia kembali berpikir keras. Kenapa ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menyerang 'putri tidur' itu!? Salahkan putri tidur yang wajahnya minta diserang itu! Lagipula, dia terlihat sangat manis..
TIDAK! TIDAK BOLEH! Kau harusnya merasa bersalah, Aomine!
Kembali, Aomine bertarung dengan pikiran dan hatinya. Wajahnya makin lama makin suram. Kulitnya makin lama makin hitam. Aomine-kun, kenapa kau berpikir terlalu keras? Kau tau itu tidak baik untukmu.
Lalu, sekarang apa? Kagami diajak oleh mantan timnya yang sungguh-sungguh sangat nista itu ke laut? Berenang bersamanya? Oh, yeah. benarkah? Setelah beberapa hari tidak bertemu dengan wajah manis Kagami itu? Dan kini ia harus menghadapi, mungkin, amukan Kagami?
Pada kemana coba otaknya! Baru dua hari yang lalu mereka dibuat sengsara, dan kini sudah akan disengsarakan lagi. Mau ditaruh mana muka Aomine, terlebih sejak insiden itu..
Well, Aomine memang pernah menciumnya ketika mereka sedang berada di apartemen Kagami tempo hari. Namun, ciuman itu tidak pernah dibahas! Mereka sama sekali tidak masalah dengan hal itu! Tapi, mungkin.. yang kemarin memang berbeda. Aomine tahu itu. Dia tak seharusnya mencium Kagami saat pria bermanik crimson itu sedang tidur unyu. Karena, itu, tentu saja, akan dianggap 'ciuman-kasih-sayang-dan-penuh-cinta-dari-Aomine-Daiki-kepada-Kagami-Taiga-ketika-Kagami-Taiga-sedang-tidur-dengan-unyunya' atau semacam itu.
Dan, well, Kagami memang pernah melakukan coughblow coughjob padanya waktu ia sakit dulu. Tapi, itu juga mereka sudah tidak pernah membahasnya lagi! Mungkin saja waktu itu Kagami memang sedang tidak membawa akalnya bersamanya atau tidak bisa menahan nafsunya. Terlebih waktu itu Aomine sedang keras dan masih belum orgasme. Tentu saja sebagai teman yang baik, Kagami akan dengan senang hati membantunya. Mungkin saja..
Yeah, atau mungkin itu memang salah Aomine. Tidak. Tidak. Itu MEMANG salah Aomine. Entah dia harus berbuat apa kalau dia harus bertemu manik crimson yang indah itu lagi. Arrrrgggghhh! Semua ini sungguh membuat kepala Aomine rasanya ingin meledak! Kenapa tidak langsung ia katakan saja kalau ia menyukai Kagami saat itu juga!
Tunggu.. harusnya memang ia katakan saja kemarin.. ya.. kenapa tidak dia katakan saja ya..
-flash back-
"A-Apa yang sudah kau lakukan, Aho!" teriak Kagami yang memasang wajah shock di depan wajah Aomine.
"Ma-maafkan aku! Aku tidak—"
"Apanya yang tidak? Je-jelas-jelas kau barusan menciumku! D-dan.. Kau mau bilang tidak sengaja? Bilanglah tidak sengaja! A-Aku tidak akan percaya!" ucap Kagami marah-marah sambil menutupi wajahnya yang sudah menyala.
"Aku tau aku salah, tapi, dengarkan aku dulu! Aku—"
"Apa? Kau apa?" Kagami terdengar makin emosi. Aomine berdecih, dia berdiri kemudian menarik tangan Kagami untuk segera di dorongnya ke dinding pembatas lapangan.
"H-hei! Apa-apan kau!?"
"Dengarkan aku, Ka—"
"Tidak! Cepat lepaskan aku!" mata Kagami menyalang ke arah Aomine.
Deg.
Ya, hanya satu korbannya. Hati Aomine. Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum melihat Kagami yang marah sambil menatapnya dengan tatapan paling sinis yang pernah dilihat oleh Aomine. Dia hanya mencium pria crimson itu dan pria itu harus marah padanya? Oh, benarkah?
"Aomine-kun? Apa yang sedang kau lakukan?"
Shit.
"Kuroko, suruh dia menyingkir sekarang juga." Kagami menoleh ke arah Kuroko yang baru saja datang dan memergoki mereka berdua. Rencananya memang malam ini Kuroko mau datang untuk meminjamkan buku catatan, tapi, pemandangan yang ia lihat barusan bukanlah hal yang menyenangkan untuk dilihat dan tetap dibiarkan.
"Aomine-kun, kau sudah mendengarnya kan? Lepaskan Kagami-kun." Aomine melirik Kuroko, barangkali ini adalah sebagian dari misinya. Tapi, dia tidak melihat kebohongan apapun di mata pria mungil itu. Sepertinya Kuroko serius. Dan Kuroko memang terlihat serius.
"Cih!" Aomine melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan Kagami. Kagami yang sudah terlepas dari Aomine langsung mengambil jarak dan berjalan ke arah Kuroko.
"Pikirkanlah perbuatanmu, Aomine-kun." Dan Kuroko membawa Kagami menghilang dari pandangan Aomine.
"Ck! Siaaall!" rutuknya sambil membawa diri itu pulang.
-end of flashback-
Jadi, ini semua adalah cerita tentang seorang pria tan yang berjalan melalui padang kesengsaraan dan rasa bersalah mendalam dengan rangkaian perjuangan yang harus dilalui untuk mencapai seberang. Dan seorang author yang makin lama makin melankolis.
Kembali kepada pria hot(dalam arti yang sebenarnya) kita. Aomine Daiki kini hanya tinggal beberapa blok dari kuburan kesengsaraan, yang seolah membuatnya merasa bahwa lebih baik langsung masuk neraka daripada di kubur dulu. Waktu janjian mereka masih 15 menit lagi, yang artinya dia masih terlalu cepat.
Jadilah ia berhenti sejenak di sebuah supermarket untuk sekedar mendinginkan kepala, hati, dan tubuhnya dari sinar matahari yang terik tentu saja. Yah, entah apa yang ada di pikiran Akashi itu. Bisa-bisanya mengajak ke pantai disaat cuacanya seindah ini. Yap. Indah dan membakar.
"Selamat datang di Indoapril! Selamat berbelanja!" oh, ya, dan tentu saja sapaan mbak-mbak yang jaga kasir itu cukup ramah dan membuat Aomine lebih dingin.
Bisa gitu ya?
Aomine berjalan sejenak di dalam toko itu dan menemukan kulkas es krim. Yah, sepertinya es krim bisa membuatnya lebih dingin lagi. Alhasil, digesernya pintu kulkas itu dan menemukan sebuah tangan di atas es krim yang ia pilih.
"Ck, es krim itu milikku." Ucap Aomine tanpa melihat sang pemilik tangan.
"Oh, yeah. Ambil saja."
Dan suara itu seketika membuat Aomine menoleh dengan unyu—bukan unyu—ganteng lebih tepatnya. Ah, bukan, maksudnya shock.
"Ka-Kagami!?"
"Aku bukan setan, Aho!"
Bukannya balik menyapa, yang ada malah Kagami memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan Aomine yang mematung.
Oh shit.
Ini memang salahku.
Dan kenapa aku tadi harus kaget?! Kenapa aku tidak minta maaf saja! Siaaaaaal!
Apa bisa lebih buruk lagi?
"Aomine-kun?"
Oh, tentu saja bisa..
"Aomine-kun, kau melihat Kagami-kun? Aku pergi ke bagian sunblock, dan aku berputar-putar mencarinya, namun belum bisa menemukannya juga." Ucap pria mungil bersurai biru yang kini bertanya pada Aomine dengan datarnya.
"Yahh.. Dia tadi lewat sini." Ucap Aomine penuh keputusasaan. Kuroko hanya ber-hmm, dan selangkah untuk beranjak pergi, namun ia berbalik.
"Oh. Bagaimana kalau kita berangkat bersama, Aomine-kun? Kau juga ikut ke pantai kan?" tanya Kuroko yang hampir saja ditolak oleh Aomine yang kemudian berpikir ulang.
Siapa tahu dia bisa bicara pada Kagami, atau semacamnya. Meskipun nanti-nanti juga bisa, ia tetap harus mencoba bicara secepatnya.
"Yeah, tak masalah."
Dan Aomine kembali berakhir di sini, di jalanan kota Tokyo menuju rumah Akashi yang tinggal beberapa blok ditemani sinar matahari musim panas yang terik bersama Kuroko dan Kagami yang kini berjalan mendahuluinya di depannya.
Aomine menghela napas. Kalau begini sih, dia tak akan dapat kesempatan untuk berbicara pada Kagami. Pasalnya, selain karena Aomine sama sekali tidak dianggap, setiap Aomine mau bicara, Kagami selalu mengajak Kuroko mengobrol. Apakah dirinya sehina itu? Rasanya ingin lompat dari gedung bertingkat dua ratus naik roket menuju inti bumi yang paling dalam, terus ikut iklan kopi bad day.
"Oi—"
"Hei Kuroko, lihat itu, adik itu lucu sekali ya!"
Okay. Dan ini sudah hampir ke lima belas kalinya Aomine berusaha memanggil Kagami. Sudah cukup. Dia sudah muak.
"Kagami!" Aominepun mencengkram tangan Kagami dan berusaha menariknya ke suatu tempat.
"He-hei! Apa yang kau lakukan!?" Kagami meronta minta dilepaskan. Namun, tentu saja kalian tahu, Aomine itu lebih kuat daripada Kagami.
"Aomine-kun! Jangan memaksa Kagami-kun!" Kuroko yang baru saja Aomine ingat masih ada disana, akhirnya ikut turun tangan.
"Kalau kau melakukan hal itu lagi, aku tidak segan-segan untuk berteriak." Kagami berakhir mengancam Aomine dengan seluruh tatapan bengisnya.
Aomine kembali shock dengan unyu.
Oh, for God's sake.. He did it again..
.
.
Akashi, serta beberapa anggota GoM lainnya, kecuali Aomine, Kagami, dan Kuroko tentu saja, kini tengah berdiri di lobby rumah Akashi yang amat-sangat mewah. Trip ini diikuti oleh semua anggota GoM dan beberapa tamu undangan, yaitu, Takao Kazunari, Imayoshi Shouichi, Hyuuga Junpei—yang entah mengapa juga ikut diajak, dan tentu saja, Momoi yang membawa serta pelatih seirin, Aida Riko. Teman seperfujoshiannya.
Oh, bertanya-tanya kemana Nijimura dan Haizaki? Kalian akan menemukannya di side story fic ini :v /woy /malah promosi
Bukan bermaksud njodoh-njodohin Imayoshi sama Hyuuga karena author juga ngeship mereka, namun, semua ini tetap dalam kendali Bang Juro yang berdiri dengan gagahnya di pelaminan—maksud saya, di gerbang depan rumahnya, menunggu tiga orang yang sepertinya ketiduran di bawah pohon karena balapan dengan siput.
Dan, beberapa detik setelah Akashi melirik jam terakhir kali, merekapun muncul di ujung jalan dengan hawa yang sangat panas, wajah yang ditekuk, dengan seorang pria mungil menjauhkan sahabatnya yang lebih besar dari sahabat besarnya yang lain yang kulitnya lebih hitam.
Oke, kalimat tadi cukup sulit.
Jadi pada intinya adalah, Akashi yang sudah nyaris berkulit bak Aomine itu berteriak menyuruh mereka agar berjalan lebih cepat tanpa perlu memamerkan adegan 'jangan deketin sahabat gue' dari kejauhan itu.
"Kenapa kalian lama sekali sih? Kalian telat satu menit dari waktu janjian tahu!" ucap Akashi sambil menyuruh mereka masuk untuk berkumpul di lobby terlebih dahulu.
"Maaf, Akashi-kun, tadi kami ada masalah teknis sebentar." Ucap Kuroko sambil melirik Aomine sinis. Aah, poor Aomine. Ia kembali jadi korban. Ah, dia bukan korban, karena dialah pelakunya.
Aomine kembali menghela napas.
"Baiklah, minna. Aku memanggil kalian kesini karena memang ditujukan untuk berlibur. Jadi, aku tidak akan memberi hukuman apa-apa untuk kalian hari ini. Yah, kalau-kalau ada yang melakukan hal yang tidak diinginkan. Dan kuharap, semua masalah pribadi bisa cepat terselesaikan." Ucap Akashi dengan tumbennya. Serius. Tumben sekali Akashi mau sebaik ini pada mantan anggotanya bahkan ia sampai bela-belain bawa undangan non-anggota ke acara trip ini. Well, mungkin dia salah makan. Atau dikutuk Murasakibara karena minta makanannya.
"Oh, iya, malam ini kita akan menginap di villa ku di sana. Jadi, kalian tidak perlu khawatir soal biaya penginapan dan biaya makan." Tambah Akashi sebelum menyuruh semua peserta trip itu mempersiapkan barang bawaan mereka.
Setelah menyiapkan semua barang dan siap berangkat, tepat pukul 10 pagi waktu setempat, mereka berangkat menuju pantai.
.
.
PLAN 4
TUMBAL: LASKAR RAMBUT PELANGI, DAN TAMU UNDANGAN
TARGET: TETAP KAGAMI TAIGA
MISI :MENYATUKAN PAK MIN DAN MAS AGAM
.
.
"Waaaaahhhh, pantaaaaai! Kimochii!" ujar seorang wanita bersurai pink bertubuh sintal dan montok yang kini menikmati segarnya angin laut dari balik balkon villa Akashi yang megah itu.
"Momoi-san, sebaiknya kita bereskan barang-barang kita dulu!" Ucap wanita yang lain, satu-satunya wanita setelah Momoi Satsuki yang mengikuti trip ini, Aida Riko.
"Hai!" Momoipun menyusul wanita lainnya dengan bersemangat.
Oh, lihatlah laut musim panas yang sungguh menawan itu. Warna biru muda dan biru tua bertaut di ujung cakrawala, mempersembahkan keindahan yang sangat mempesona. Tak ayal, keluarga Akashi rela membuat villa di tempat seperti ini, karena memang tak ada ruginya.
Namun, naas, bergeser dari pemandangan laut yang amat sangat indah itu, kita juga dapat melihat pemandangan nista yang cukup tidak mengindahkan pengelihatan, dimana ada beberapa pria yang sedang berdebat soal teman sekamar.
"Oh, kumohon Akashi, aku tidak ingin sekamar dengannya!" ucap seorang pria tamvan berkulit remang pada pria lainnya yang selisih tingginya cukup—sangat—jauh.
AMPUN BANG! AMPUN!
"Maaf, Daiki. Tapi, aku sudah memutuskan bahwa kau harus sekamar dengan Taiga. Kalau kau tidak mau, kau bisa pulang." Ucap sang pemilik villa dengan angkuhnya. Beberapa pria disana hanya berani menonton tanpa menginterupsi, karena mereka tidak mau ambil resiko.
"Hah? Kau pikir aku bisa pulang naik apa kalau supirmu sudah kau suruh pergi tadi!?" Aomine kembali memprotes.
"Jadi, kau mau pulang atau sekamar dengan Taiga?" ckris. Ckris. Kini Akashi yang memojokkan seme malang kita dengan gunting saktinya. Penonton disana hanya menelan ludah. Lebih takut dari pada orang yang berdebat sendiri.
"Cih." Dan yak! Aomine Daiki sudah selesai dengan protesnya dan membawa barang-barangnya masuk ke dalam kamar.
Kamar yang akan digunakan oleh Aomine cukup mewah. Disana terdapat balkon yang mengarah langsung ke laut, kamar mandi dalam, AC, televisi, dan apapun yang bisa kau temukan di hotel bintang lima, termasuk sebuah bed ukuran king yang ada di teng—
Tunggu dulu.
Apa?
.
.
BED UKURAN KING?
AKASHI SUDAH GILA?
DIA MAU MEMBIARKAN AOMINE TIDUR BERSAMA DENGAN KAGAMI DI SATU KASUR? DALAM KEADAAN BEGINI!?
Sepertinya Aomine memang harus memeriksakan kejiwaan mantan kaptennya itu.
Oh. Crap.
.
.
"Dai-chaaaan! Dai-chaaan! Apa yang kau lakukan di situ? Semuanya sudah berangkat ke pantai! Kau tidak mau ikut?" suara Momoi terdengar menggelegar dari pintu kamar Aomine yang terbuka.
"Hnng, kalian duluan saja. Nanti aku menyusul." Balas pria dim itu malas. Dia memang merasa sangat malas. Lihat saja sinar matahari yang terik itu! Bisa-bisa kulitnya tambah hangus.
Sejak kapan kau peduli dengan kulitmu Aomine-kun?
Yah, sebenarnya bukan hanya itu. Ia masih memikirkan cara bagaimana agar ia bisa minta maaf pada Kagami. Bahkan, setelah Kagami menaruh semua barangnya di kamar tadi, pria crimson itu langsung pergi tanpa mau menatap Aomine yang masih shock di pojokan kamar.
Bagaimana ia bisa bersenang-senang kalau begini caranya? Kagami tak bisa lepas dari otaknya! Saat ini yang ada di pikiran Aomine hanya Kagami seorang. Yap. Pria yang kini sedang topless dengan indahnya. Yap. Pria yang kini terlihat sangat berkilauan dari balkon kamar Aomine. Pria yang.. tunggu.. apa? Berenang berdua dengan Kise?
"Ck.. Kise sialaaannn!" dan Aomine hampir saja lompat dari balkon kalau tidak ada akal sehat yang mencegahnya.
Kalau dia lompat dari sana, dia bisa saja mati, karena di bawah itu laut, dan dia tidak bisa berenang. Kalaupun ia menghajar Kise disana, toh nanti Kagami akan memarahinya lagi dan makin membencinya. Meskipun ia ingin menghajar Kise, memangnya dia siapanya Kagami yang boleh melarang-larang pria itu untuk bermain bersama temannya?
Itu dan Aomine mengurungkan niatnya untuk berlari ke pantai dan mengejar Kise. Dia kemudian berjalan ke arah kasur yang akan digunakannya dan Kagami untuk tidur malam ini, dan merebahkan tubuhnya. Kasur itu sungguh empuk, berbeda dengan miliknya di rumah.
Terus kenapa Aomine-kun?
Tidak apa-apa, cuma curhat kok. Ia merasakan hembusan angin yang masuk melalui balkon kamar yang meniup tirai jendelanya. Tak lama kemudian, ia memejamkan matanya.
"Chikuso…"
.
.
"Fuh! Dasar Kise.. pasirnya masuk semua kan.. tapi itu cukup menyenangkan.." ucap seorang pria crimson bertinggi 190 cm yang kini tengah berjalan di pinggir pantai di sore yang hangat itu. Tubuhnya di penuhi pasir yang baru saja digunakan oleh Kise Ryouta, sang pelaku, untuk membenamnya hingga sebatas kepala. Dan tadaa, sekarang ia mencari kamar mandi umum untuk membilas tubuhnya.
"Ah, itu dia." Kagami melihat sebuah palang toilet umum dan mengikuti arah palang itu.
Sudah hampir seharian ini dia bermain di pantai bersama teman-temannya, dan ia juga tidak percaya bahwa kaptennya ada something dengan kapten dari Touou yang sepertinya matanya belekan. Terlebih, ada satu hal yang mengganjal pikirannya sampai sekarang. Dia belum sekalipun melihat Aomine di pantai, dan ini sudah hampir petang.
"Haaahh.. mungkin aku sudah terlalu berlebihan. Aku harus minta maaf padanya nanti." Ucap pemilik rambut merah bata itu sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
..
..
..
Eh..? Terasa.. dingin?
Kagami menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dan yang terlihat hanya pepohonan rimbun dengan sinar matahari sore yang masuk ke celah-clah dedaunan. Gulp.
Bwooosshh.. angin meniup tubuh Kagami yang topless itu. Meniup rambutnya yang basah dan dipenuhi pasir.
"Mati aku…."
.
.
"Nee, Aka-chin, ayo bakar dagingnya sekarang.. aku lapar.." Murasakibara tak henti-hentinya merecoki Akashi yang masih sibuk meracik saus.
"Bakarlah dagingmu sendiri, Atsushi."
"Shin-chaaan! Ayo kita siapkan piringnya."
"Siapkan saja sendiri-nanodayo."
"E-eh, Kurokochiii! Kau dimana!? Aku sudah membeli es young coconut nya nih!"
"Aku di sini, Kise-kun."
"Gyaaaa! Kurokocchi! Jangan mengagetkanku seperti itu-ssu!"
Seperti itulah kira-kira keramaian di balkon luas di samping villa Akashi yang berhadapan langsung dengan laut. Matahari baru saja terbenam, dan kini para anggota trip itu sedang bersiap untuk acara barbekyuan—yang tentu saja dibiayai oleh Bang Juro.
"Nee, Hyuuga-kun! Jangan berduaan dengan Imayoshi-kun terus! Kemarilah, bantu kami!" ucap Aida Riko pada pria berkacamata yang kini tengah duduk di ujung balkon bersama pria berkacamata lainnya yang sepertinya sedang belekan
"A-Apa? Siapa yang berduaan! Kami sedang menyiapkan arang yang akan digunakan tahu!" kilah sang kapten tidak terima.
"Menyiapkan arang atau menyiapkan hati tuh!?" tiba-tiba Momoi Satsuki merangkul pundak Riko dan ikutan nimbrung. Riko cekikikan menanggapi komentar Momoi.
"Ngomong-ngomong soal arang, si Aominecchi kemana ya? Kok nggak keliatan dari tadi?" Kisepun ikut menyahuti. Ucapan Kise sepertinya cukup direspon karena semua orang yang ada disana kini saling pandang.
"Ah, aku ingat! Tadi siang sih Dai-chan masih di kamar.. katanya mau menyusul, tapi sepertinya dia ketiduran." Tebakan yang tepat, Momoi-san.
"Lho, ngomong-ngomong, kok si Kagami juga tidak ada?" kini Takao yang bertanya.
"Tadi dia bilang mau membilas tubuhnya sehabis ku kubur di pasir-ssu. Mungkin sekarang dia sedang berada di kamar, bersama Aominecchi." Ucap Kise yang diikuti seringaian dari orang-orang yang mendengarkan perkataannya.
"Mungkin mereka sudah rujuk. Biarkan saja!" ucap Imayoshi sambil memasukkan arang ke dalam plastik.
"Tapi, tadi pagi mereka masih berantem-berantem aja tuh, masa udah baikan sih?" kali ini Kuroko yang mendapatkan perhatian banyak warga.
"Mereka itu labil-nanodayo. Tapi, menurut oha-asa, hari ini adalah hari sial untuk Leo. Bukannya aku khawatir pada Kagami atau apa-nanodayo, aku hanya memperingatkan kalian."
"Hmm, setidaknya ada yang memanggil mereka ke sini untuk ikut makan malam." Ucap Hyuuga yang diikuti anggukan setuju dari peserta lainnya.
"Kalau begitu, Ryouta, pergilah jemput mereka." Titah Akashi.
"Hai!" dan dengan segera, Kise meluncur masuk ke dalam villa. Sambil sesekali bersiul, ia akhirnya sampai di depan kamar Aomine yang terbuka. Dan benar saja, si pemilik kamar tengah tidur dengan nyenyaknya. Kise memanyunkan bibirnya.
"Dasar Aominecchi pemalas!" Kisepun masuk ke dalam kamar dan mulai mengguncangkan tubuh Aomine.
"Aominecchiiiii! Banguuuunn! Sudah waktunya makan malam!"
"Ngg.. Kagami…?" racau Aomine yang masih setengah sadar.
"Aominecchi, harusnya aku yang bertanya di mana Kagamicchi!" Kise kembali mengguncang tubuh Aomine.
"Tch.. Ngantuuukk.." Aomine malah berbalik memunggungi Kise dan kembali menyamankan dirinya.
"Banguuuunn! Aominechiiii! Kalau kau tidak bangun sekarang juga, kau tidak akan mendapatkan makan malam!" ancam Kise. Terdengar suara geraman dari pemuda bersurai navy yang akhirnya terduduk sambil menggaruk kepalanya.
"Aku sudah bangun! Aku sudah bangun! Hoaaaaahhhhhmmmm.."
"Aominecchiiiii! Ababmu bauuuu! Cepat sikat gigi!"
"Cerewet kau, Kise.." dan sedetik kemudian Aomine masuk kamar mandi. Rupanya ia memikirkan protes dari Kise tadi.
"Dasar Ahominecchi!" rutuk Kise. Kisepun keluar dari kamar Aomine dan kembali ke tempat teman-temannya.
.
.
"Hoooaaahhhhmm!" Aomine meregangkan ototnya yang cukup pegal akibat terlalu lama boci. Dielusnya perut sixpack yang sudah keroncongan minta diisi itu. Yah, dia akhirnya memutuskan untuk bergabung bersama teman-temannya di balkon.
Haah.. Aomine menghela napas. Kira-kira di sana ada Kagami tidak ya? Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan pemuda crimson itu untuk segera minta maaf. Paling tidak, itulah yang sudah ia putuskan. Ia akan minta maaf, baik-baik.
Aomine kembali menghela napas. Kira-kira, apa reaksi Kagami nanti? Apa dia akan marah lagi.. atau ia minta padanya agar tidak usah menampakkan diri dihadapannya lagi?
Ukh. Memikirkannya saja sudah bikin hati nyut-nyutan.
Tidak. Ia tidak boleh menyerah. Kalau memang Kagami tidak mau memaafkannya, ia akan kembali minta maaf sampai pria crimson itu memaafkannya.
Aaaaaarrgghh!
Pemuda navy kita mengacak rambutnya dengan kasar. Ia akhirnya hanya pasrah. yang penting ia sudah minta maaf.
Dan, oh, lihat. Itu balkonnya sudah bisa terlihat. Sebaiknya ia bergegas kesana dan menemui Kagami.
"Heei, Aominecchi! Kau sudah sikat gigi?" ini adalah pertanyaan paling absurd yang didapatkan Aomine begitu ia melihat keramaian di balkon yang luas itu.
"Ck, berisik kau, Kise." Gerutu Aomine yang kemudian diikuti cekikikan dari peserta trip lainnya. Ia kemudian melongokkan kepalanya dan menyapukan pandangannya ke segala arah. Mencari pria bersurai merah. Ah, ketemu!
"Jangan memandangku begitu, Daiki. Itu menjijikkan." Ckris. Oh, ternyata salah orang. Kembali ia mencari orang yang dicarinya, namun nihil, tak ada pria crimson itu.
"Oi, Midorima, kemana Kagami?" Tanya Aomine pada akhirnya. Midorima yang sedang menyusun piring menaikkan kacamatanya yang tidak turun.
"Kenapa tanya padaku-nanodayo? Bukankah kau harusnya sedang bersamanya?"
"Haaah? Sejak kapan aku bersama Kagami?"
"Mana aku tau-nanodayo."
"Ck, tidak berguna." Aomine akhirnya beralih ke Momoi yang sedang asyik memotong daging bersama Riko.
"Oi, Satsuki, mana Kagami?"
"Lho, bukankah Kagami sedang bersamamu di kamar?" rupanya reaksi Momoi tidak beda jauh dari Midorima.
"Ck, aku dari tadi tidur di kamar tahu! Dan aku sama sekali tidak melihatnya!"
"Yakan kau tidur, Aominecchi! Masa bisa lihat?" tiba-tiba Kise ikutan nimbrung. Benar juga perkataan si Kise. Tapi tetap saja!
"Arrgghh! Memangnya tadi dia bilang mau kemana?" Aomine akhirnya kesal juga karena teman-temannya menganggapnya sedang bersama Kagami. Mana bisa dia sedang bersama Kagami sedangkan ia dan Kagami sedang dalam kondisi 'hubungan kritis' seperti itu.
"Terakhir kali sih, dia bilang dia mau membilas tubuhnya. Kalau benar, dia pasti membilas di kamarnya kan? Dan kamar Aominecchi adalah kamarnya juga!" ucapan Kise diikuti anggukan setuju dari semua orang disana, termasuk yang tadinya nggak ikutan.
"Tapi yang jelas sekarang aku tidak bersamanya! Puas!" kini Aomine dilanda panik.
"Daiki, tenanglah. Lebih baik kau mengecek kamarmu dulu. Siapa tau dia ada di kamar mandi?" Akashi akhirnya turun tangan.
"Dia tidak ada di kamar mandi, Akashi! Aku baru saja dari kamar mandi!" Aomine kembali mengacak rambutnya.
"Ah, mungkin dia membilas badannya di kamar mandi umum? Apakah di sekitar sini ada kamar mandi umum?" Riko menanggapi.
"Ada. Tapi jaraknya lumayan jauh. Kau harus melewati jalan setapak di dekat hutan sebelah sana. Kalau sudah malam begini biasanya sudah tidak ada yang lewat situ, karena sudah ada jalan raya, dan kalaupun lewat sana, pasti mereka akan tersesat." Ucap Akashi menjelaskan. Semua orang mengangguk sambil berpikir. Penjelasan itu memang cukup masuk akal kalau..
"KAGAMI TERSESAT!" dengan teriakan horror dari semua orang itu, Aomine langsung berlari meninggalkan gerombolan lewat tangga di ujung balkon.
"Oi, Aomine! Jangan ceroboh! Kembali kesini!" Imayoshi meneriaki Aomine yang sudah berlari kian menjauh.
"Dai-chan! Belum tentu dia kesana!"
"Aominecchi! Tunggu!"
Namun tak ada satupun suara yang mampu memanggil kembali Aomine.
"Minna-san! Tetap tenang! Aku tidak yakin apa dia benar disana atau tidak, karena penunjuk jalannya sudah cukup usang." Ucap Akashi.
"Tapi bagaimana kalau dia mengikuti petunjuk jalan itu? Dia kan bodoh!" ucap Hyuuga yang sudah terlihat frustasi seperti ditinggal oleh anaknya sendiri.
"Baiklah kalau begitu. Atsushi, Ryouta, Satsuki! Coba cari Taiga di dalam villa." Perintah Akashi, "Aida, Junpei dan Shouichi, aku minta kalian untuk menyusul Daiki, aku akan mencarikan senter dan kompas. Shintarou dan Kazunari, cari di wilayah sekitar villa. Aku akan menelpon bantuan jika Daiki dan Taiga tidak ditemukan."
Dan dengan titah itu, mereka semua segera melakukan tugas masing-masing tanpa mengingat daging yang naasnya dilupakan di atas meja.
.
.
Meanwhile..
.
.
"Cih.. Siaaaaalll.. Hatchu!" Kagami masih berjalan sambil memeluk tubuhnya sendiri. Angin malam di musim panas memang tidak terlalu dingin, namun tetap cukup dingin untuk menusuk tubuhnya yang tidak menggunakan apapun kecuali celana pendek yang sudah hampir kering dan penuh pasir, "bisa-bisanya aku nyasar malam-malam di tengah hutan seperti ini."
Kagami kembali mengelus tubuhnya yang sudah sejak tadi kedinginan. Dia yakin sepulangnya dari sini, dia akan kena flu dan masuk angin. Itupun kalau dia yakin ditemukan dan bisa pulang. Kalau tidak… entahlah. Haaaaaahhh.. mana besok ulang tahunnya lagi. Benar-benar sial.
Pemuda crimson itupun meneruskan perjalanannya mencari titik terang. Maksudnya, lampu. Siapa tau ada yang tinggal di dalam hutan ini dan bisa dimintai tolong. Namun, nihil, sudah beberapa lama Kagami kembali berjalan, dan tak ada siapapun di luar sana.
"Hatchuu! Ck.. siaaaal. Siapapun! Tolong!" Kagami berteriak, berharap ada yang mendengar teriakannya. Kepalanya sudah semakin pening. Tubuhnya sudah sangat lelah. Terlebih dia belum makan apapun sejak siang.
Wooosshh..
Angin kembali bertiup dengan kencangnya. Kagami yang kedinginan akhirnya hanya duduk di salah satu pohon, pasrah.
"Hhh.. Aominee.. Tolong aku.." sudut matanya menggenangkan air yang siap tumpah. Ia duduk sambil memeluk kakinya, sampai...
"Kagamiiiii! Kau dimana Kagamiiiiiii!" sebuah suara yang sangat familiar di telinga Kagami itu memaksa mempertajam pendengarannya.
"Ah.. Aomine!" teriaknya dengan suara parau. Ia berusaha mencari asal suara Aomine.
"Kagamii! Kau bisa mendengarku!? Kau dimanaaa?"
"Aomine, aku disini!" ucap Kagami, yang bahkan dia sendiri yakin Aomine tidak akan bisa mendengarnya, sambil mencoba berdiri, "ukh.. kepalaku.." ia kemudian mengerjapkan matanya yang tiba-tiba berkunang-kunang.
"Kagamiiii!" ah, itu dia! Kagami bisa melihat Aomine yang.. kelihatan sangat panik. Kagami tersenyum, ia berjalan terseok-seok sambil mengambil kerikil dan melemparkannya ke arah Aomine.
Sekali. Tidak berhasil.
Dua kali. Hampir kena.
Tiga kali..
"Auch!" wow, tepat di jidatnya! Dengan demikian, Aomine menoleh mencari arah lemparan batu itu, dan menemukan Kagami yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kaga..mi.." wajah Aomine terlihat sangat lega. Sangat bahagia. Ah, bahkan lihat, air matanya sudah mengalir sebelum milik Kagami. Kagami menyukai wajah sekali dia bisa melihat Aomine yang menangis. Aominepun berlari menuju pemuda topless itu dan langsung memeluknya.
"Ka-Kagami, kau baik-baik saja? Ada yang sakit? Kumohon, jangan ceroboh seperti itu lagi…" ucap Aomine di ceruk leher Kagami. Kagami tertawa renyah.
"Aku baik-baik saja, Aho." Itu dan mereka tidak mengatakan apapun. Hanya berpelukan. Hanya itu yang mereka butuhkan, hingga Aomine melepaskan pelukannya dan melepaskan sweater yang dikenakannya.
"Pakailah ini. Maaf, aku hanya membawa ini." Ucapnya sambil menyodorkan sweater itu pada Kagami.
"T-terimakasih." Kagami blushing. Ah, lihat.. betapa unyunya uke kita. Sang ukepun mengenakan sweater dari semenya dan merasakan kehangatan yang masih berbekas. Wangi khas Aomine yang menguar dari sweater yang ia kenakan, membuatnya merasa nyaman dan aman.
"Aku juga minta maaf, aku tidak tau bagaimana cara kita keluar dari sini." Aomine duduk di bawah salah satu pohon. Merasa bersalah karena dia merasa sama sekali tidak berguna.
"Tak apa.." balas Kagami yang juga ikut duduk di sebelah Aomine. Tak ada satupun dari mereka yang bicara, mereka menikmati keheningan itu. Namun, ada satu orang yang fangirlingan di luar sana, yaitu authornya.
Ganggu banget sumpah lu thor /tabok
"Euhmm.. Kagami.." akhirnya Aomine bersuara. Kagami menoleh.
"Hmm..?"
"Maaf aku menciummu kemarin.. Aku tau.. Aku memang salah.." ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
"Hmm.. lalu? Hanya itu?"
"Lalu.. aku menyukaimu Kagami.. Karena itu aku menciummu. Aku tak tahan melihatmu yang tanpa pertahanan itu.. jadi.. aku minta maaf.." Aomine yang berada di kegelapan itu makin gelap saja karena wajahnya yang blushing. Dan reaksi yang diberikan Kagami sungguh-sungguh diluar dugaan. Tebak apa? Menampar Aomine? Hebukan, tapi kuman yang berevolusi—ups, maksud author…
"Pfffttttttt! Hahahahahahahaha! Huahahahaha!" Kagami tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling di tanah.
Aomine cengo. Kagami… tertawa?
"Coba lihat wajahmu itu, Aho! Huahahahaha! Kau harus berkaca!"
Okay.. ini tidak lucu.
"Oi. Aku serius tahu, Bakagami!" ucap Aomine mulai kesal. Tawa Kagami mulai mereda, dan sama sekali berakhir ketika ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Aomine. Lalu ia memegangi kedua pipi Aomine dengan tangannya dan duduk dihadapan Aomine sambil tersenyum.
"Aku juga serius, Aomine." Masih dengan senyuman di wajahnya, Kagamipun menempelkan bibirnya di bibir Aomine. Singkat. Lalu ia melepaskannya.
"A-apa yang..?!" kini giliran Aomine yang bingung. Bukankah Kagami seharusnya masih marah padanya? Tapi.. kenapa..
"Maafkan aku sudah membuatmu khawatir, Aomine.. Aku juga menyukaimu kok." Ucap Kagami sambil tersenyum dan memperlihatkan pipinya yang merah terkena sinar bulan.
Oh shit!
Tuhan.. bolehkah Aomine menyerangnya? Dia begitu.. begitu maniiiiss! Tuhan, kalau masih belum boleh, tolong tahan napsu hambamu yang ngeres ini.. Kalau boleh, berikan hambamu ini petunjuk..
Dan saat itu juga Kagami memejamkan matanya.
Fuck!
Apakah ini tandanya Aomine sudah boleh menyerangnya? Apakah sudah halal?
Bathump.
Bathump.
Aomine mendekatkan bibirnya.
Bathump.
Bathump.
Sedikit lagi..
Bathump.
Ah, napas hangat Kagami sudah terasa..
Bathump.
"Ah! Hyuuga-kun! Mereka ada disana!"
.
JEGER.
.
Bibir yang hampir menyatu itu kini menjauh secepat sonic yang dipakein jet.
"Cih. Sialaaaaaaannnnnnnnn.." bisik Aomine yang kini sudah sematang arang. Tak terkecuali Kagami yang sudah tepar dengan wajah yang sangat panas.
"Kagami, Aomine, kalian tak apa?" Hyuuga berlari ke arah mereka sambil panik.
"Hmm.." Aomine menanggapi dengan malas.
"Huuuhhh.. Syukurlah kalian baik-baik saja.." Imayoshi ikut menghela napas lega.
"Yoooossshh! Kalau begitu, ayo kita kembali ke villa!" Aida Riko bersemangat.
.
.
"Yattaaaaa..!" Imayoshi meregangkan ototnya begitu mereka melihat jalan keluar dari pepohonan itu.
"Nee, Aomine-kun.. Kagami-kun.. jadi, kalian sudah baikan?" Aida Riko menggoda dua orang yang kini tengah bergandengan tangan dengan mesranya.
"Cih.. tak usah mengurusi urusan kami. Urusi urusanmu sendiri." Ucap Aomine dengan ketus diikuti oleh injakan kaki dari Kagami.
"Auch! Kenapa kau menginjak kakiku!?" Aomine mengaduh sambil meloncat-loncat memegangi kakinya yang nyut-nyutan.
"Kalau ditanya orang harus dijawab dengan sopan, Ahomine!" nasehat mami Kagami.
"Jadi kau mau aku menjawab apa hah?"
Blush.
"E-ettoo.. A-anoo.."
"Hihihi.. Sudahlah Kagami-kun, tidak apa-apa.. Tidak usah memaksakan dirimu." Ucap Riko sambil tertawa kecil.
"Hehehe.. maaf couch.." ucap Kagami yang menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Aomine tersenyum melihat Kagami yang masih blushing itu. Rasanya sangat bahagia melihat orang yang disayanginya bisa sebahagia itu.. terlebih lagi, di sisinya. Aomine tak pernah membayangkan bahwa Kagami bisa menjadi miliknya..
Eh..
Tunggu dulu..
Mereka pacaran kan?
.
.
"Eh, lihat! Itu Aominecchi dan Kagamicchi! Akashicchi, kemarilah Akashicchi!"
Ckris.
"Kau berisik sekali Ryouta, aku juga bisa melihat mereka dari sini. Dasar Daiki dan Taiga sialan. Merepotkan saja."
Ckris.
"Waaaah, mereka terlihat sangat akrab ya, Shin-chan!"
"Memangnya aku peduli-nanodayo."
"Ahhh, syukurlah sepertinya mereka sudah akur.."
"Kau benar Momoicchi! Lihat! Mereka bergandengan tangan!"
"Nee, Aka-chin, ayo kita bakar dagingnya.. aku sudah lapar."
"Ah, kau benar Atsushi. Cepat siapkan dagingnya, kita akan makan malam sekarang."
"Yeeeaaaahhh.. Aka-chin, aku mencintaimu. /ketjup klomoh/"
"Atsushi, hentikan. Itu sangat menjijikkan."
Ckris.
Aahh, pemandangan yang sungguh menyenangkan melihat semua orang tersenyum.. Termasuk pemandangan Aomine dan Kagami yang kini diam-diam masuk ke dalam villa setelah semuanya selesai makan malam..
.
.
Tbc~
A/N: Boci: Bobok Ciang :3 dan, yataaa~ akhirnya update juga~ maaf reader, authornya lagi hobi ngerusuh di fb, terus lupa sama update X"")) Maaf juga karena chap ini humornya ga banyak-banyak amat :"") author lagi broken nih hehe :"")) Keep reading ya minna-san~ terima kasih mau membaca :"")
At last but not least, review onegaishimasuuu~~
