"Aomine, apa nggak apa-apa kita pergi duluan? Nggak enak sama yang lain nih.." Kagami mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Aomine.
"Sudahlah, memangnya siapa yang peduli.." ucap Aomine ngawur seperti biasanya.
"Hei, kau tidak boleh begitu.. Mereka sudah baik-baik mau menolong kita tadi.." ucap Kagami lagi. Duh, Mas Agam, apa nggak ngerasa kalo Aomine udah napsu abis? Liat tuh mukanya yang makin item.
Tiba-tiba, tubuh Kagami terasa terhempas dan kini punggungnya sudah menempel di dinding dengan lengan Aomine mengurung di kedua sisi.
"A-Aomine? Ada apa?" tanya Kagami dengan polosnya. Aomine facepalm. Tapi dia facepalmnya nggak pake tangan. Kan tangannya dipake buat ngurung Kagami. Nanti kalo dia pake tangan, Kagaminya bisa kabur, terus dia ga jadi—
Thor, lanjutin aja.
Okey. Dengan wajah memerah, Aomine hanya memandang Kagami, berharap Kagami mengerti. Dan sebenarnya Kagami sama sekali tidak mengerti.
"Kau tau Kagami, tadi itu, mereka mengganggu.. bukannya menolong.." ucap Aomine dengan tidak tau diuntungnya.
Blush.
Bodohnya, Kagami juga telah setuju dengan munculnya blushing di wajahnya. Melihat reaksi Kagami itu, Aominepun menggapai dagu Kagami dan memaksanya untuk melihat ke mata Aomine. Seolah tersihir, Kagami terkunci oleh mata Aomine dan mereka saling menatap keindahan satu sama lain. Pemuda dim itupun kemudian dengan bego bertanya, "hei, cantik.. bolehkah.. aku menciummu?"
Kagami yang ditanya tentu saja makin blushing dengan mulusnya. Wajahnya panas-dingin. Sebenarnya ia sudah tak tega kalau harus menolak. Lagipula, ia memang mau banget dicium Aomine.. Tapi, ini terlalu awkward! Masa mau nyium aja pake minta sih? Langsung aja kelleus..
Ntar kalo langsung serang, malah marah, Mas?
Kalo sekarang kan keadaannya udah beda.
Gulp.
Anggukan pelan Kagami disambut senyum lembut oleh Aomine. Kagami hanya bisa menatap mata Aomine yang kini makin menggelap. Udah kulit gelap, mata gelap, iapun jadi tak terlihat. Meskipun begitu, hanya Mas Agam yang mampu melihat betapa indahnya warna sapphire yang memantul dari iris mata pemuda bersurai navy di depannya. Sungguh indah seakan dapat menariknya ke dunianya. Terlebih senyumannya yang kini Aomine sunggingkan.. betapa inginnya Kagami menjadi satu-satunya orang yang diberi senyum selembut itu dari Aomine.
"A-aho.. kenapa kau harus berta— mnghh.."
Itu, dan yang kini Kagami rasakan adalah sesuatu yang lembut di bibirnya. Sesuatu yang hangat dan sangat nyaman. Ya, Aomine sedang menciumnya, dengan sangat lembut, sampai-sampai ia berpikir, benarkah orang yang menciumnya ini adalah Aomine? Seingatnya, ciuman dari Aomine itu selalu ganas dan sangat menggai—ups. Aib.
Mereka hanya saling menempelkan bibir selama beberapa saat, sampai ketika Aomine mulai melumat bibir Kagami perlahan dan sangat lembut. Kagami merasakan wajahnya sudah panas ketika ia membalas ciuman dari Aomine. Kedua tangannya yang mulai terasa lemas, menggapai kaos Aomine seadanya.
Malu dan bahagia, mungkin itulah yang dirasakan Kagami saat ini. Cengkraman Kagami di kaos Aomine semakin erat ketika lumatan Aomine kian mengganas.
"Mmhh.." Kagamipun meloloskan erangan pertamanya. Aomine tersenyum singkat di sela-sela ciuman mereka, namun, segera ia lumat kembali bibir nikmat Kagaminya itu. Betapa bahagianya Aomine bisa mendengar suara itu lagi setelah 'ciuman game' mereka di taman bermain tempo hari. Terlebih, ia sudah sangat merindukan rasa bibir plum Kagami yang sangat menggairahkan itu.
Aomine yang sudah semakin panas itu kemudian menjilat bibir pemuda di hadapannya, berusaha memberi tahu pemuda crimson itu bahwa ia ingin mencicipinya lebih jauh lagi. Pemilik bibir yang dimintai izin hanya bisa mengerang, namun mengerti apa yang dimaksud oleh pemilik lidah. Perlahan, Kagami membuka mulutnya untuk Aomine. Tanpa basa-basi, Aomine menyelipkan lidahnya masuk ke dalam mulut Kagami dan kembali menciumnya dengan ganas.
Kagami yang sudah merasakan rasa Aominepun tanpa butuh waktu lama, juga berusaha mengimbangi sapuan lidah Aomine di dalam mulutnya. Mereka berduapun menari-nari bersama lidah mereka di dalam mulut Kagami. Saliva mereka bercampur. Bahkan ada yang mengalir dari sudut bibir Kagami.
Oh. God.
Aomine is a good kisser.
Tangan Aomine yang tadinya memegangi pipi Kagami, kini sudah berada di belakang lehernya, berusaha menarik Kagami lebih dekat lagi, dan memperdalam ciuman mereka.
Namun, kebutuhan akan oksigen tidak akan dipungkiri oleh kedua makhluk Tuhan yang paling seksi itu. Mereka melepaskan ciuman mereka dan membuat seuntai benang saliva yang kemudian terputus dan menempel di dagu Kagami.
Oh, reader.. betapa manisnya uke kita. Lihatlah, wajah erotisnya yang seolah berkata 'Aomine, aku mau lebih' itu. Suara napas Kagami yang terengah-engah dan terputus-putus itu bagaikan pompa nafsu untuk Aomine yang kini sudah tidak sanggup lagi menahan gairahnya. Kembali Aomine menyerang bibir Kagami dengan ganas.
"Mnnghh.." Kagami mendesah merasakan lidah Aomine yang lagi-lagi menerobos masuk ke dalam mulutnya. Mengobrak-abrik isinya dan berusaha merasakan lebih banyak rasa Kagami. Satu tangan Aomine yang awalnya menganggur, kini sudah mulai gatal untuk sesekali menelusup masuk ke dalam kaus yang sedang Kagami kenakan, dan mengelus pinggang sang crimson.
"Nnggghhmmm.." desah Kagami lagi dengan seksinya.
Aomine hanya tidak tau kalau sebenarnya itu desahan kegelian.
.
.
Mission Failed?
.
.
Kuroko no Basuke is Tadatoshi Fujimaki's
A fanfiction from salmoow
.
.
Cast: (Aomine Daiki & Kagami Taiga) Generation of Miracles, hints: MidoTaka, ImaHyu, AkaKuro.
Rated: M
Genre: Humor, Romance, Lovey Dovey, Fluffy, dll :v
.
.
Warning!: This fiction contains mature contents~ So, for underage, please stay back. My first yaoi rated M. Jadi, maafkan saya kalau ceritanya agak abal dan tidak menarik untuk dilihat. Humor sangat kurang. Typos. OOC. Pemilihan bahasa yang tidak tepat. Berpotensi mengakibatkan muntaber, panu, kadas, kurap, dll.
Chapter 6
.
.
Ding. Dong. Ding. Dong.
.
Oke. Ini sudah tengah malam. Selain waktunya bagi cinderella untuk segera bertransformasi, ini juga waktunya bagi Aomine untuk kembali menggoda Kagami.
Cup.. suara decakan bibir yang berpisah menggema di koridor itu.
"Mau melanjutkan di kamar?"
Blush!
.
.
.
"Mgh.. A-Aomine.." Kagami mendesah keenakan ketika Aomine membuat tanda di lehernya sambil sesekali menarik-narik, mengelus, dan memainkan nipple dengan tangan dimnya. Setelah beberapa saat bermukim di leher, lidah Aomine beralih untuk membuat jejak saliva menuju dada putih Kagami. Dijilatnya nipple yang sudah menjadi bekas mainan tangannya.
"Ahhnn.." Kagami kembali mendesah sambil menutupi wajahnya yang semerah saus tomat curah. Aomine yang melihat hal itu tentu saja semakin ingin menggoda Kagami.
"Hei, jangan kau tutupi wajahmu.. Aku ingin melihatnya," ucap Aomine menghentikan permainan mereka.
"A-Aho, ja-jangan lihat!" Kagami menolak untuk menyingkirkan tangannya. Aominepun menarik satu tangan Kagami yang ternyata dengan mudah tersingkir dari wajahnya yang..
"Kau manis sekali, sayang.." Aomine menjilat bibir bawahnya.
"U-urusaaaaaiii!" Kagami setengah berteriak, karena sebenarnya berteriakpun ia sudah tak sanggup, saking lemasnya.
"Ah, satu lagi.. aku ingin diriku menjadi yang pertama mengucapkannya.." Aomine kemudian merundukkan wajahnya untuk mengecup singkat bibir Kagami untuk segera berbisik ke telinga Kagami.
"Happy birthday, Taiga.." ucap Aomine dengan nada paling seduktif yang pernah terdengar oleh telinga pria crimson itu. Sekali lagi, the man on top itu menjilat dan mengecup cuping telinga Kagami yang sudah amat sangat merah sekali. Mereka bertatapan sejenak. Kagami tersenyum ke arah Aomine yang menatapnya intens.
"Arigatou.." merekapun kembali berciuman, menyesap rasa satu sama lain..
Namun, semua berubah ketika..
"Selamat ulang tahun Kagami Taiga!"
..Negara pelangi menyerang..
..
..
Oh, yah.. Tentu saja..
Apa mereka semua benar-benar bodoh?
Atau mereka memang tidak tau waktu yang tepat untuk muncul?
Lihat saja pose Aomine yang kini tengah menindih Kagami dengan mata yang berkabut penuh nafsu, yang tinggal sedikit lagi sudah bisa ia salurkan—namun gagal, tentu saja. Oh, dan lihat Kagami! Wajahnya dan telinganya sangat merah! Sorot matanya tak beda jauh, hanya saja ekspresinya yang membedakan. Kalau Aomine terlihat seperti singa kelaparan yang siap terjang, maka Kagami terlihat seperti mangsa yang siap diterjang. Bahkan, wajahnya yang merah dan terengah itu semakin terlihat seksi dengan saliva kenikmatan yang meleleh sampai di dagunya. Dan Oh, kalian pasti sadar kalau kini Kagami sedang topless dengan nipples yang merah muda dan menegang. Itu benar-benar sangat—
Thor. Sepertinya tidak perlu dijelaskan terlalu detail.
Yang jelas, pintu yang terbuka bersama sebongkah kue ulangtahun dilengkapi lilin berbentuk angka 17 yang sudah menyala itu diikuti oleh wajah-wajah mesum serta komentar-komentar yang sangat tidak bermutu, seperti..
"Uhuk! Aominecchi sudah ambil langkah."
"Ehem.. Sepertinya kita memilih waktu yang salah-nanodayo.."
"Eeeehhhh! Dai-chan! Maaf kami mengganggu kalian!"
"Aku tidak percaya ini.. Momoi-san.." dan Aida Riko pamit ke kamar mandi untuk menghentikan kucuran darah dari hidungnya.
"Kyaaaa! Aomine-san berani sekalii! Kau juga harus mencobanya kapan-kapan, Shin-chan!"
"Co-coba saja sendiri-nanodayo!" blush.
"Ka-Kagami-kun….?"
"Mine-chin makan Kaga-chin? Aku juga mauu.."
"Hooo, kau sudah berani rupanya Aomine.."
"Kouhai, kau sudah dewasa.."
"Daiki, menyingkirlah dari Taiga, biarkan kami merayakan ulang tahunnya terlebih dahulu."
..
..
"KALIAN YANG MENYINGKIR, SIALAAAANNN!" dan pangeran feromon kita kembali gagal me-rape ukenya yang padahal sudah siap di nganu-nganu lahir batin.
"A-aho! Cepat banguuunnn! Kau mau semuanya melihat kita seperti ini!?" ucap Kagami dengan frustasinya. Wajahnya seperti ingin menangis karena menanggung malu. Akhirnya Aomine menyerah, dan mengecup bibir Kagami singkat sebelum ia menyingkir dari atas tubuh Kagami yang masih lemas itu untuk kemudian pergi ke kamar mandi, meninggalkan Kagami sendirian di atas kasur.
"Kyaa.. Kagamiiinnn! Bagaimana kabarmu?!" tiba-tiba Momoi langsung nyelonong masuk ke dalam kamar dan parkir di depan Kagami. Kagami yang masih tanpa baju atasan, cepat-cepat mengenakan kembali kaos yang sempat dibuka oleh Aomine. Oh, ya, author lupa bilang kalau sebelum makan malam, si Kagami sempet mandi dulu, makanya udah ganti baju.
"A-aku baik-baik saja, Momoi-san," ucapnya ragu masih ditemani wajah yang merah.
"Hei, Kagami.. papa bangga sama kamu.." kini Hyuuga yang sudah sampai di dalam kamar dan menepuk-nepuk punggung Kagami, disusul seluruh pasukan pengganggu dadakan termasuk Kuroko yang bertugas membawakan kue ulangtahun.
"Hey, minacchi! Ayo kita bernyanyi dulu untuk Kagamicchi!" ucap Kise yang kemudian disetujui oleh yang lainnya.
"Happy birthday to you~ happy birthday to you~ happy birthday~ happy birthday~ happy birthday to yoouu, Kagamiii!" semua orang di sana ikut bernyanyi.
"Terimakasih, minna.." ucap Kagami yang masih duduk di pinggiran kasur dan menerima kejutan dari teman-temannya dengan wajah bahagia.
"Sekarang, tiup lilinnya dan buat permohonan," mimik Akashi melembut. Sepertinya ia juga ikut merasakan kebersamaan itu.
Kagami tersenyum. Ia memejamkan mata sejenak untuk kemudian meniup lilin yang ada di atas kue ulangtahun itu.
"Yeeeeeaaaayy! Sekarang potong kuenyaa!" Kise jingkrak-jingkrak sambil membawa pisau, dan membuat takut semua orang.
Malam itu dihabiskan semua orang untuk bersenang-senang.
.
.
The End
.
.
Maaf, bercanda. Jadi, apa author diharuskan untuk memberikan detail atas apa yang sedang mereka lakukan di kamar AoKaga? Oh, ayolah, ini sudah malam dan waktunya tidur.
Eiiiittttss! Jangan panggil bapak-bapak ronda dong! Iya, ampun! Author ceritain deh..
Jadi, malam itu, setelah mereka potong-potong kue bersama Kise, mereka memakannya bersama-sama, termasuk Aomine yang awalnya mojok yang kemudian ditarik-tarik disuruh gabung. Oh, tentu kalian sudah tahu kalau yang menghabiskan kue paling banyak. Dan kini raksasa itu sudah molor di sofa di dekat pintu balkon.
"Hei, minnacchi! Bagaimana kalau sekarang kita berikan kado kita-ssu?"
"Ah, benar! Tumben kau pintar, Kise!" sahut yang lainnya.
"E-eh? Minna, apa kalian yakin itu tidak merepotkan?" tanya Kagami.
"Tentu saja tidak, Kagami-kun. Kami akan memberimu hadiah," ucap Kuroko langsung to the point. Sang manly uke hanya bisa nyengir-nyengir. Tidak, bukan nyengir yang harus diperiksakan kok. Tenang saja.
Gulp.
Seseorang di sofa lainnya menelan ludah—gugup, sambil memijat-mijat anuny—ah, pelipisnya maksud author. Yap, benar sekali, orang itu adalah orang paling murung dan gelap—tentu saja, di dalam kamar itu karena kegagalannya me-rape sang uke.
"Nee, minna, mulai dari aku yaa! Kagamicchi, ini kadomu! Otanjobii!" Kise maju mendekati Kagami dan memberikan kadonya yang berbungkuskan kertas kado berwarna kuning. Kagami menerimanya dan tersenyum.
"Bukalah, Kagamicchi!"
"Eh? Tak apa? Baiklah.." dan Kagami tidak begitu terkejut menemukan sebuah syal bekas Kise yang sudah ditandatangani olehnya sendiri.
Semua orang sweatdrop.
"Arigatou, Kise," Kagami nyengir kuda. Iyasih ngasih kado, tapi kok nggak bener.
"Ini punyaku dan Shin-chan, Kagami. Buka di rumah saja ya!" kali ini Takao yang maju untuk memberikan kadonya, yang ukurannya cukup kecil. Entah, apa isinya di dalam sana.
"Ini dariku dan Riko, Kagamin! Kau bisa membukanya sekarang!" Momoi memberikan sebuah kotak yang kemudian dibuka oleh Kagami.
"E-etoo.. Buku?"
"Iyaa! Itu buku resep masak khusus dari kami, Kagami-kun. Coba lihat, ada sup penambah stamina, lalu bla- bla- asdfghjkl~"
Kali ini lebih banyak yang sweat drop, meskipun orangnya tidak bertambah.
Ah, baiklah.. Mari kita beralih pada pangeran dim kita. Sebenarnya, selama dia tidak bertemu Kagami, ia menyiapkan sesuatu untuk hari ini. Yah, paling tidak kado yang dimilikinya masih bisa diterima akal sehat. Penasaran reader?
Sama, Author juga!
Jadi, sembari para manusia-manusia itu satu persatu memberikan kado mereka, Aomine yang masih gugup berjalan mendekati Akashi yang juga hanya melihat dari jauh.
"Oi, Akashi.. Kau punya gitar tidak?" tanya Aomine.
"Memangnya kenapa?" tanya Akashi lurus.
"Ck, sudahlah! A-ada atau tidak?" kini Aomine tengah blushing sambil bercucuran keringat yang wanginya sungguh seme dan khas Aomine. Akashi melirik Aomine dengan keji. Ckris. Ckris.
"Ada. Kau ambil sendiri saja. Ada di kamarku, di pojok ruangan," dan dengan itu, segera Aomine cus menuju ke kamar Akashi untuk mencari gitar yang dimaksud. Setelah menemukan gitar classic yang entah itu milik Akashi atau bukan itu, ia kembali ke kamarnya yang masih saja ramai. Hanya saja, kali ini keramaiannya berbeda, mereka ramai-ramai mencari Aomine untuk di eksekusi. Yap! Benar, dan begitu Aomine masuk, mereka semua langsung memburu Aomine dengan ribuan pertanyaan seperti ' apa kadomu Aomine-kun' atau 'kau dari mana saja sih, Dai-chan! Lama sekali' atau 'Grooookkk~' oh, maaf, itu suara ngorok Astuti yang lagi tidur. Eh, Atsushi maksudnya.
"Ck, urusaaai.." Aomine makin hitam saja. Namun, kehitamannya juga tidak begitu saja memudar meskipun ia melihat Kagami yang sedang duduk manis di kasur dengan rona kemerahan di wajahnya dan terlihat seperti menunggu kado dari Aomine.
"Nee, Kouhai, cepat berikan kadonya.." kini Imayoshi ikut menggoda adik kelasnya itu. Helaan napas kemudian terdengar dari bibir pemuda yang sedang membawa gitar itu.
"Okay! Tapi jangan ada yang tertawa.."
"Oooh! Dai-chan mau memberi lagu untuk Kagamin? So sweeeettt~" Momoi melompat-lompat kegirangan. Aominepu kemudian menarik sebuah kursi untuk di taruh di hadapan Kagami. Aomine duduk dan memosisikan gitarnya.
"Ck, diam dan dengarkan saja!"
Lalu semua orang diam dan…
.
Jreng..
Wow, genjrengan gitar Aomine cukup merdu. Tak salah ia berlatih dengan giat minggu lalu.
"Ekhem.."
.
Jreng..
.
There's a shop down the street, where they sell plastic rings,
For a quarter a piece, I swear it..
.
Semua orang mendengarkan Aomine yang bernyanyi dengan suara seadanya itu. Termasuk Kagami.
.
Yeah I know that it's cheap, not like gold in your dreams,
But I hope that you'll still wear it..
Yeah, the ink may stain my skin, and my jeans may all be riped..
I'm not perfect..
.
Aomine menoleh ke arah Kagami dan tersenyum.. Senyum lembut yang kini untuknya dan hanya ada untuk dirinya.
.
but I swear, I'm perfect for you..
.
Jreng..
.
And there's no guarantee, that this will be easy,
It's not a miracle you need, believe me..
I'm no angel, I'm just me, but I will love you endlessly.
Wings aren't what you need, you need me..
.
Aomine kembali menggenjreng gitarnya sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah Kagami yang dengan wajah surprised nya mendengarkan Aomine yang bahasa inggrisnya sangat seadanya.
.
There's a house on the hill, with a view of the town,
And I know how you adore it..
So I'll work everyday, through the sun and the rain, until I can afford it.
.
Aida dan Momoi mulai menitikkan air mata mereka.
.
Yeah, your friends may think I'm crazy, Cause they can only see,
I'm not perfect, but I swear I'm perfect for you.
.
Blush.. wajah Kagami memerah saking bahagianya.
.
And there's no guarantee, that this will be easy,
It's not a miracle you need, believe me..
I'm no angel, I'm just me, but I will love you endlessly.
Wings aren't what you need, you need me..
.
Semua orang yang ada disana speechless mendengarkan lagu dari Aomine.
.
There's a shop down the street, where they sell plastic rings,
For a quarter a piece, I swear it..
.
Jreng..
.
Yeah I know that it's cheap, not like gold in your dreams,
But I hope that you'll still wear it..
.
Hening.
.
"Fyuh.. Kagami.. lagu ini kubuatkan untukmu.. versi Jepangnya sih, aku meminta temanku untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.. Tapi.." kemudian pria dim itu melangkah pelan ke arah Kagami, mengecup pelan bibir sang pria crimson dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Otanjobi Omedeto..." ucap Aomine. Oh, lihat.. Aomine melepaskan kalung milik Himuro dan memasangkan sebuah kalung lain dengan cincin berwarna silver dengan ukiran 'Daiki's' di bagian dalamnya, tak begitu indah seperti sebelumnya, namun lebih berkenang dari sebelumnya.
Kagami merasa seperti orang yang paling bahagia saat ini. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya. Senyum cerahnya mengembang secerah langit musim panas. Benar-benar momen yang sungguh membahagiakan.
"Arigatou.. Aomine.. Kadomu indah sekali.. Tentu saja aku akan selalu memakainya," ucap Kagami yang kemudian memeluk Aomine di depan seluruh audience.
"Kyaaaaa! Aomine-kun!"
"Omedeto.. futari-tomo.."
"Ukh.. Kapan kau mau jadi keren seperti itu, Shin-chan..?"
"U-urusai!" dan pasangan MidoTaka menghilang dari ruangan itu.
"Dai-chan, aku turut bahagia.."
"Hiks.. Aominecchi dan Kagamicchi serasi sekali.. aku jadi iri.."
"Lagumu bagus, Daiki. Tapi aku bisa membuat yang lebih bagus."
.
.
.
.
-Akashi's Villa: 2nd August 20xx, 07.20 a.m.-
Byuuussshhhh..
Brassshhh..
Suara ombak terdengar jelas dari kamar yang kini sudah sepi itu. Kamar itu berantakan bukan main, dengan banyak jasad-jasad bergelimpangan dimana-mana. Yak.. pesta kecil-kecilan di kamar AoKaga itu kian beringas kesananya ketika Kise mengeluarkan liquor miliknya dari dalam tas dan menggunakannya untuk bermain. Alhasil, semua orang mabuk malam itu, kecuali pasangan MidoTaka yang sudah pergi dari sana untuk melakukan ritual nganu-nganu mereka dan Momoi serta Riko yang memutuskan untuk langsung tidur setelah Aomine memberikan kadonya.
"Hoaaarrgggggmmmhhnnyyanmnmnasdfghjkl.." seseorang membuka matanya yang masih lengket dipenuhi belek. Ia memutar rusuknya ke kanan dan ke kiri untuk relaksasi. Badannya pegal karena tidur di lantai. Digaruknya rambut kusut merah batanya. Sambil menyesuaikan mata dengan sinar matahari yang masuk dari arah balkon, ia mengerjap dan menyapukan pandangan ke segala arah sebelum.
"Oh.. fuck.." Kagami memijati kepalanya yang pening karena mabuk semalam. Ia kembali memperhatikan satu persatu wajah teman-temannya yang masih teler.
Shit!
Dia melihat Akashi tertidur dengan anggun di kasur. Bahkan saat mabuk dia masih bisa menjaga sikapnya. Benar-benar seperti Akashi. Ah, teman-temannya memang tau cara bersenang-senang.. yang salah.. dan merepotkan.
.
-flash back-
.
"ABC lima daasar!" semua orangpun menaruh jari mereka di atas meja.
"..J.. K.. L.. M!" Kise menghitung jumlah jari yang ada di atas meja.
"Murasakibara-kun."
"Mine-chin!"
"Momoicchi!"
"Mitobe!"
"Mibuchi."
"Miyaji!"
"Midorima!"
"Lho! Aomine curaaang! Kan aku sudah menyebutkan yang ituu!" ucap Kagami sambil mengusap-usap hidungnya yang sudah memerah.
"Kau belum, Kagami.. dan kau sudah sangat mabuk.." ucap Aomine sambil mengelus punggung Kagami pelan.
"Urusaaai!"
"Naah, Kagamicchi minum lagi-hik!-ssu!" Kise menyodorkan botol liquor itu ke arah Kagami. Kagami yang sudah tidak sadar langsung saja merampas botol milik Kise dan meminumnya, diikuti tepuk tangan dari peserta lainnya.
"Nah, sekarang ayo lagii! ABC lima daaasar!"
"..P.. Q.. R.. S.. T!"
"Tetsuya."
"Taiga!"
"Tumpah se-aeee~"
"Itu bukan nama-hik, Aomine-kun.."
"Titan-chin-hik!"
"Ah, Murasakibambangcchi menyebutkan namanya sendiri-ssu.."
"Teiko!"
"Itu nama SMP kita, Aka-chin."
"—dan itu nama. Terimakasih Astuti-hik." Ckris.
"Tuberkulosis!"
"Eh? Kenalanmu ada yang namanya tuberkulosis? Keren sekali-hik!"
"Tdaiki!"
"Kau tidak boleh curang, Aho! Kau tidak boleh menambahkan T di depan namamu!"
"Biarlaaaahhhh~"
Itu dan malam mereka sangatlah indah.
.
-end of flashback-
.
"Kenapa manusia-manusia itu bisa tahan bermain ABC lima dasar sampai malam sih.." kau sepertinya perlu berkaca Kagami-kun. Kagami kemudian kembali merenggangkan tubuhnya untuk kedua kalinya sebelum ia bangkit dan berjalan keluar kamar.
"Kau mau kemana, Kagami?" tiba-tiba sebuah suara yang sangat familiar di telinganya terdengar dari balik punggungnya. Kagami menoleh dan menemukan Aomine yang menguap sambil mengucek-ngucek matanya.
Sungguh manis. Rasanya Kagami ingin berlari ke arahnya lalu memeluknya. Tapi tidak, dia gengsi.
"A-Aku mau ke dapur.. Aku lapar.." ucap Kagami seadanya sambil memperhatikan Aomine yang sudah berdiri dan berjalan ke arahnya.
"Hoaaaaahhmmm.. Aku ikut," ucapnya kemudian memeluk Kagami dari belakang dan menaruh kepalanya di pundak Kagami. Kagami tertawa kecil.
"Ayo.. Biar kubuatkan sesuatu untukmu.." dan mereka berdua menghilang dari bingkai pintu.
..
..
"Hei, Astuticchi, kau lihat itu?"
"Iya, Kise-chin! Aku melihatnya!"
"Baru saja semalam akur.. Sekarang sudah mesra-mesraan.. dasar Kouhai."
"Jangan begitu, Hyuuga.. Aku bisa membantumu kalau kau mau."
"Wh-what th—mnggh! He-hentikan Imayoshi! Jangan sekarang!"
"Jadi kau tidak mau..?"
"Ck.. Si-sialan.. Kemarilah.."
Ckris.
"Kalian juga sama saja. Dasar kapten-kapten mesum tak berguna."
"Apa Akashi-kun iri?"
Ckris.
"Apa? Aku? Iri? Yang benar saja, Tetsuya."
Ckris.
"Tidak apa-apa kalau kau iri, Akashi-kun. Kau berhak untuk iri."
"Kuperintahkan kau untuk diam, Tetsuya!"
"Aku tidak akan diam sampai Akashi-kun jujur pada perasaannya sendiri."
"Cih. Kau berani ya, Tetsuya.. Tapi, itulah yang kusuka darimu.."
"Jadi kau menyukaiku, Akashi-kun?
Ups.
"Hiks.. Masa aku jomblo sendirian-ssu… Kasamatsu-senpaaaaiii~"
"Tenang saja Kise-chin, masih ada aku..." rana Astuti.
.
Meanwhile, in the kitchen~
.
"Ngghhh.. Aomine…. Jangan di sini… bagaimana kalau ada orang yang lewat.. hh.. hh.." Kagami berpegangan sekuat tenaga pada pinggiran meja bar di dapur villa Akashi. Belum ada 12 jam, Aomine sudah merasa libidonya naik hanya karena melihat Kagami yang masih bed face memakai apron dan memasakkan sesuatu untuknya.
"Sshh.. Tak akan ada yang datang.. mereka semua masih tidur.. cuph.." Aomine kembali menciumi leher belakang Kagami.
"Aominee.. Aku sedang memasak.." Kagami berusaha menjauhkan Aomine darinya dan kembali fokus pada masakannya yang sudah dimasukkan ke dalam penggorengan, namun siapa yang tak tahu bahwa tenaga Aomine itu memang kuat.
"Tak apa, sayang.." ucap Aomine lagi sambil menyingkap kaos Kagami dan mengelus perut berotot milik pacarnya.
"A-Aominee.."
"Ssstt.. tenanglah.." Aomine tak menghiraukan panggilan Kagami.
" Daiki!" Akhirnya, Kagami yang sudah tak tahanpun kelepasan dan membentak Aomine yang kini tangannya sudah berhenti bergerilya di tubuhnya.
"Ck.." Aominepun melepaskan pelukannya dan duduk di salah satu kursi yang tersedia disana. Kagami menatap Aomine yang terlihat sangat bad mood karena kegiatannya dihentikan. Namun ia memang merasa risih, terlebih ia sedang memasak. Bagaimana kalau masakannya gosong?
Tapi, ia juga merasa bersalah pada Aomine karena sudah beberapa kali mereka gagal nganu-nganu. Alhasil, Kagami hanya bisa memasak sambil memandangi Aomine sekali-sekali.
"Ada apa?" Aomine akhirnya buka mulut melihat Kagami menekuk wajahnya sambil membolak-balikkan omeletnya.
"Maafkan aku.."
"Tak masalah.."
"Jangan marah.."
"Aku tidak marah."
"Ja-jadi.. Nanti mau menghabiskan malam ini bersamaku di apartemen?" tanya Kagami memberanikan diri. Aomine akhirnya menampakkan senyum lembutnya.
"Aku yang akan membawa kue," ucap pria dim itu sambil menggapai tangan Kagami dan mencium punggung tangannya.
TBC~
A/N: Oke readers, maafkan saya, tapi ini bukan last chapter. Saya janji chapter depan saya adalah yang terakhir :"") terimakasih sudah membaca minna :"") Ah, itu yang diatas lagunya The Cab- Endlessly~ recommended banget buat didengerin! fluffy nggak nahan deh! sekarang saya mau bales ripiu yang cimit-cimit dulu :3
BadTouch wkwkw, dan maafkan saya full ret em AoKaganya ada di chap setelah ini :"") thanks for review~
RisaSano wkwk, Akashi-kun sama Kuroko kok X)) thanks for review~ keep reading X))
Ruki-chan Kyaaaa Ruki-chaaaaann~ maap ane jarang on yak :"")
aishi thank you Aishi-saan X)) keep reading yak :3
mey-chan tenang aja, di chapter terakhir nanti akan terkuak kok, sebenernya ada sesuatu yang bikin mission ini failed X)) thanks for review Mey-chaan~ keep reading :))
Bakagami Thank you Bakagami-san X)) saya akan terus berusaha, terimakasih reviewnya yah :3 keep reading~
Seiryuu Rou terimakasih Ryou-san X)) nanti biar author buatin yang lebih mengharukan lagi deh /woy /janji palsu thank you for review~ keep reading yak!
Mo Iya kan? Iya kan? Kagami kan emang uke segala umat X)) eh? gasabar scene nganuannya? Wkwkw, Mo-san mesuuuuummmm! Gomeen, baru ada di chapter depan nih X)) jadi keep reading sajooo~
Allennad *Kagami bales cubit pantat Allennad-san**author digampar* wkwk, gomen kalo adegan Momoinya kebanyakan :"") thanks for review~ keep reading~
ShizukiArista Gimana chapter ini Shizuki-san? gomeeeennnn, si astuti sama akashi nggak ada apa-apa kok :""") ini saya sudah update sangat-sangat fast lho X)) wkwk, thanks for review, keep reading :)
Next chapter, final chapter: Alasan kenapa fic ini dinamai 'Mission Failed'! Keep reading minna X))
At last but not least, review onegaishimaaasu X))
