"Hihihi.."
Okey, pemandangan ini memang tidak begitu aneh untuk para readers yang maklum pada pria ini, tapi ini cukup aneh jika dilihat orang-orang di sekitarnya.
"Hihihi.."
Sekali lagi, orang-orang di sekitar situ memandang manusia remang yang sedang berjalan di koridor apartemen pacarnya dengan riang gembira.
"Hihihi.."
Terlebih, makhluk remang itu tidak terlalu peduli pada apa yang dipikirkan orang dan tetap berjalan sambil sesekali melompat-lompat dengan ceria.
"Hihihi.."
Mungkin dia tidak sadar kalau kue yang sedang dijinjingnya bisa saja hancur kalau ia tetap berjalan dengan cara itu.
"Hihihi.."
Atau mungkin dia tidak sadar kalau itu sudah malam, dan kalau ia tetap mengeluarkan bunyi 'hihihi' seperti itu, orang bisa salah mengira kalau ada hantu yang hijrah dari Indonesia.
Cklek.
"Kagamii~ Aku bawa ku….e…"
Hei, lihat, dia berhenti! Rupanya dia sudah mulai sadar diri. Atau dia berhenti karena ada sesuatu seperti….
"Mnggghhhh.. Ah.. Ahhh.."
"Anjrot!"
Oh, tentu saja bukan reader, Kagami tidak berselingkuh. Euuhhhmmm.. Meskipun sebenarnya, bisa juga dibilang selingkuh sih..
Eh? Kagami selingkuh?
.
.
Mission Failed?
.
.
Kuroko no Basuke is Tadatoshi Fujimaki's
A fanfiction from salmoow
.
.
Cast: Full [Aomine Daiki x Kagami Taiga]
Rated: M
Genre: Humor, Romance, Lovey Dovey, Fluffy, dll :v
.
.
Warning!: This chapter is full of mature contents~ So, for underage, please stay back. My first yaoi rated M. Jadi, maafkan saya kalau ceritanya agak abal dan tidak menarik untuk dilihat. Last chapter for lemons. Typos. OOC. Pemilihan bahasa yang tidak tepat. Berpotensi mengakibatkan muntaber, panu, kadas, kurap, dll.
Chapter 7
.
.
Oke, jadi begini, readers, masih ingat cerita di chapter sebelumnya soal Kagami yang mengajak Aomine menghabiskan malam bersamanya di apartemen miliknya? Masih ingat kan? Nah, karena alasan itulah mengapa Aomine kini sudah berada di depan pintu kamar Kagami dan menutupi hidungnya agar tidak terjadi pendarahan.
Sebenarnya, ia yang mesumpun tidak pernah sampai membayangkan hal ini. Melihat pacarnya melakukan hal ini. Menurutnya, hal ini sangat diluar kelapa—eh, kepala. Pasalnya, Kagami itu seorang yang sangat maji, unyu, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, patuh kepada orang tua dan guru, serta rentetan do'a di upacara hari senin. Terlebih, meskipun dia adalah uke segala umat, tapi dia adalah manusia yang setahu Aomine sangatlah polos. Namanya juga maji tenshi.
Ya, Kagami itu polos, tidak seperti Aomine yang mesumnya to the infinity and beyond. Kalau Aomine melakukan hal ini itu rasanya sudah biasa. Tapi, kalau yang melakukan hal ini adalah Kagami, kesannya seperti 'Oy, Aomine dia sudah berubah karena dekat-dekat denganmu! Menjauhlah darinya!' atau 'Kau itu adalah pengaruh buruk baginya, Aomine.' dan lain-lain yang tak begitu Aomine pedulikan.
Namun, pada akhirnya, ia tetap peduli pada hal yang tengah dilakukan oleh Kagami. Biar Author ulangi, meskipun Aomine mesum, tapi ia sama sekali belum pernah berimajinasi Kagami melakukan hal ini. Karena memang ia tidak bisa membayangkan Kagaminya mendesah-desah di atas kasur dengan mengenakan sweater miliknya sambil memijat-mijat batang kejantanannya.
Ups.
Okey, jadi, 'hal ini' yang author bicarakan sejak tadi adalah hal ini yang ini. Yah, readers pasti tau sendiri lah, soalnya author tau kalau readers yang baca ini mesum semua. Kagami sedang selingkuh bersama anunya.
"Mnnghh.. Angg…" sekali lagi Aomine mendengar suara desahan Kagami. Entah Aomine sudah tertular Kuroko soal hawa keberadaannya yang tipis, atau memang Kagami yang sedang konsentrasi memainkan anunya? Entah. Aomine tidak mengerti. Mungkin ia lelah. Mungkin Kagami juga lelah. Mungkin author lelah. Mungkin reader—
—thor. Plis.
Sebenarnya bukan pikiran mesum Aomine yang dipermasalahkan, namun, semua ini tentang 'apa yang harus dilakukan'. Apa dia harus berdiri disana sampai Kagami menyadari keberadaannya? Atau dia harus menyusul Kagami dan mulai memanjakan miliknya yang juga telah keras? Atau ia harus menyerang Kagami yang sudah siap saji diatas ranjang itu? Entahlah, ia ingin melakukan semuanya—tapi tidak bisa. Jadi ia harus memilih salah satu.
Okey, ini memang aneh. Aomine, ace yang paling malas kalau disuruh berpikir, kini harus dihadapkan oleh pilihan sulit. Kenapa bukan Midorima saja? Atau Kise? Kenapa harus Aomine? Aomine tidak mengerti dengan jalan pikiran author. Aomine hanya ingin hidup tenang bersama Kagami di sebuah desa yang aman dan damai tanpa ada yang mengganggu.
Tapi, yang jelas, semua itu tidak penting. Kini, Aomine tengah menelan ludah dengan susah payah, lalu menjilat bibirnya yang sudah kering, dan berusaha menenangkan kokoronya yang thumping dengan tidak etisnya. Bagian selatannya sudah sangat sempit, minta dikeluarkan. Jadi, bagaimana readers? Keluarkan saja atau dibiarkan saja?
Duh, readers mesum ih. Tapi, Aomine lebih mesum dari readers. Karena sekarang, ia beranjak ke ranjang Kagami dan membiarkan pemuda crimson itu menyadari eksistensi dirinya.
"A-Ao.. mine…" napasnya yang masih tak beraturan berusaha memanggil nama kekasih gelapnya itu. Gelap dalam makna denotasi, readers.. please..
Aomine yang sudah panas dan dibutakan oleh nafsu seolah menghiraukan panggilan Kagami dan langsung menyerang pria crimson itu ketika itu juga.
"Mmh.." Aomine mengeksplorasi seisi mulut Kagami dengan lapar dan panas. Kagami yang tadinya sudah hampir mencapai klimaksnya, kini hanya pasrah ketika anunya dimainkan oleh Aomine. Ia hanya bisa mendesah dan menikmati perlakuan si jago hitam padanya. Kedua tangannya melingkari pundak Aomine yang kekar ketika Aomine merebahkan tubuh Kagami di atas kasur. Ciuman mereka semakin panas ketika penis Kagami sudah mulai twitching di tangan Aomine—Kagami sudah hampir meraih klimaksnya yang pertama.
"Ao.. A-Aku.." Kagami terbata-bata ketika ciuman mereka terlepas.
"Keluarkan saja, babe.." lalu tiba-tiba Aomine sudah berada di bagian selatan Kagami dan mulai menjilati penis Kagami yang sudah memerah dan berdiri dengan gagahnya.
"Hnnnggh.. Ao..mineeee.. I'm gonna.. Ahhhng.. Ahh.." cum pertama Kagami malam ini terasa lezat di lidah Aomine. Aomine duduk dan membiarkan Kagami terengah di atas ranjang—membuatnya semakin terlihat seksi yang membuat ide kotor Aomine merasuk ke dalam akalnya, dan ia pikir itu adalah ide yang bagus. Kemudian ia beranjak turun dari ranjang Kagami dan mengambil kotak kue yang dibawanya tadi.
"Ahh.. Aominehh.. hh.. Kau.. mau kemana..?" Kagami berusaha mengeluarkan suaranya.
"Wait and watch.." dan dengan itu, Aomine mengeluarkan sekaleng whip cream dari dalam kotak kuenya. Kagami memperhatikan gerak-gerik Aomine dengan heran disela-sela napasnya. Ketika Aomine kembali ke ranjang, terjawab sudah rasa herannya. Aomine membuka seluruh baju Kagami—menelanjanginya.
"A-aho! Apa yang sedang kau lakukan?" Kagami berusaha berteriak pada Aomine meskipun yang akhirnya keluar malah suara lemahnya yang seksi. Aomine mulai menyemprotkan whip cream itu di atas tubuh Kagami yang masih lemas. Kagami yang melihat hal itu berusaha menolak, "he-hei! Hen.. hentikan.."
"Aku hanya menghias kue, Kagami," ucap Aomine santai dan kembali meneruskan pekerjaannya. Aomine mulai menyenprotkan whip cream itu ke collar bone milik Kagami dan terus ke bawah melewati nipples dan perut Kagami.
"Ahhn.. Ao.." Kagami kembali mendesah karena whip cream di atas tubuhnya memberikan sensasi dingin. Lalu Aomine sampai di penis Kagami. Ia menggenggam penis pacarnya yang sudah sedikit mengeras itu dan menyemprotkan krim diatasnya. Kagami hanya bisa mendesah dan merasakan apa yang Aomine perbuat. Setelah dirasa cukup, Aomine berhenti dan kembali menahan tubuhnya di atas Kagami.
"Hei, apa kabarmu yang di sana?" ucap Aomine sambil menyembulkan smirknya diantara wajah sempurna yang tampan dengan kulit dim terseksi yang pernah dilihat Kagami.
"Menurutmu..?" Kagami menatap Aomine di atasnya sambil sambil terengah. Wajahnya sudah sangat merah. Bayangkan saja, kini tubuhnya sudah penuh dengan whip cream yang seolah siap disantap. Aomine menyingkir dari atas tubuh Kagami dan menatap hasil karyanya sekali lagi untuk kemudian mencium Kagami yang tergeletak di atas kasur passionately.
Ciumannya kini merambat ke leher Kagami dan membuat beberapa tanda kemerahan di sana. Kagami terus mendesah dan merasakan lidah panas Aomine di lehernya mulai bergerak sembari menjilati whip cream yang menutupi collar bone miliknya.
"Whoa, babe.. Rasamu sungguh lezat," itu dan Aomine mengigit pelan tulang selangka Kagami dan mengundang geliat dari tubuh di bawahnya. Setelah memberi beberapa kissmark, Aomine bangkit dan membuka kaosnya, menampilkan otot dada dan perut yang sempurna dilengkapi dengan kulit seksinya. Aroma tubuh maskulin khas Aomine menguar membuat libido Kagami kembali membabi buta dan menegakkan kembali penisnya yang sempat lemas. Belum cukup membuat Kagami terpana, kini Aomine membuka celana jeansnya dan menyisakan hanya boxer bersamanya. Kagami blusing seketika dan mengalihkan pandangannya.
"Hei.. look at me.. ini milikmu, babe.." Aomine membuat Kagami kembali menatap tubuh sempurna Aomine dengan menaruh tangan Kagami di dadanya. Kagami sungguh-sungguh malu dan bahagia mendengar hal itu. Kagamipun menarik Aomine ke dalam ciuman panas. Bagaimanapun, Aomine tetap mendominasi ciuman itu karena libido tak terbendungnya. Ciuman itupun selesai ketika mereka berdua kehabisan napas.
Melihat whip cream yang masih menunggu, akhirnya Aomine memutuskan untuk berpindah ke dada bidang Kagami yang putih. Dijilatnya whip cream yang menempel disana dengan lapar, hingga ia menemukan nipple berwarna kemerahan di dada Kagami. Tanpa pikir panjang, iapun melahap nipple Kagami—menghisapnya dan menggigit-gigit pelan disana.
"A-aaahhng.." Kagami memegangi kepala Aomine di dadanya dan merasakan sensasi yang ditimbulkan oleh Aomine. Suara kecapan dan desahan terdengar memenuhi ruangan. Aomine mungkin adalah orang yang paling bahagia ketika bisa mendengar desahan indah Kagami di telinganya. Bagaimana tidak, wajah seksi itu bisa membuat semua orang ingin melahapnya saat itu juga. But—no. Aomine ingin kali pertamanya Kagami menjadi indah. Eh.. Kagami masih virgin.. kan?
Aomine tak mau berpikir terlalu banyak, iapun melanjutkan eksplorasinya menuju ke perut—yang membuat Kagami merasa sedikit geli. Lalu, sampailah ia di penis Kagami yang sudah berdiri lagi. Whip cream yang ada di sana mau tak mau ikut meleleh turun menuju ke testicles Kagami yang siap santap. Aomine tak butuh waktu lama untuk menghabiskan whip cream di penis Kagami sambil mendengarkan suara desahan merdu dari bibir pacarnya itu.
Pemuda dim itu memegangi batang kejantanan Kagami dan sedikit meremas-remasnya ketika ia mulai menjilati testisnya. Tangan Kagami yang masih setia memegangi kepala Aomine, kini sudah benar-benar lemas karena kenikmatan yang dapat ia rasakan. Pikirannya seakan hanya bisa digunakan untuk merasakan tiap jilatan dan hisapan Aomine. Tubuhnya terasa panas. Jantungnya berdetak sangat cepat. Sampai akhirnya, ia merasa harus mengeluarkan cum keduanya malam itu.
"Ao.. Aominee.. hnng.. I have to.." Kagami mendesah hebat ketika ia merasa sudah mau datang.
"No, babe.. kau bahkan belum merasakan kenikmatan apapun. Jangan boroskan tenagamu. Karena aku baru akan mulai," namun Aomine menyelanya dan memegangi ujung penis Kagami yang sudah mengeluarkan precum.
"Aaaahh.. don't do that..please.. I can't—aahhn.." Kagami mengerang ketika ia merasakan salah satu jari Aomine yang penuh precumnya memasuki lubang anal miliknya. Kagami menggeliat tak nyaman merasakan sesuatu berada di dalam lubangnya. Well, this is his first time after all.
Ketika Aomine merasa Kagami sudah terbiasa dengan jarinya, ia mulai menggerakkan jarinya keluar masuk sambil mencari-cari sweet spot milik Kagami. Kagami hanya bisa mendesah dan mendesah saat Aomine melakukan hal itu.
Setelah beberapa saat, Aominepun memasukkan jari keduanya ke dalam lubang Kagami.
"Ahh.. i-ttaii.." Kagami meremas seprai yang ada di bawahnya. Keringatnya meluncur begitu deras. Kagami memperhatikan Aomine yang terlihat begitu serius mempersiapkan lubangnya. Ia dapat merasakan dua jari Aomine yang bergerak-gerak merenggangkan seperti gunting.
"Hei, apakah itu sakit?" tanya Aomine dari selatan tubuh Kagami.
"Pikirkan saja sendiri.. uhh.. cepat lanjutkan atau aku berubah pikiran," ancam Kagami yang masih menahan rasa aneh di anusnya.
"Aaah.. Baiklah," Aomine memberi smirk dan memasukkan jari ketiganya ke dalam lubang Kagami. Kagami hanya bisa mengerang sambil sedikit menggeliat ketika ia mulai merasakan perih dilubangnya. Tanpa tau hal itu, Aomine di bawah sana mulai menggerakkan ketiga jarinya di dalam anus Kagami. Berusaha memenetrasi Kagami dengan jarinya. Kagami masih menggeliat tak nyaman sampai—
"Hnnggghh.. aahhh.. A-Ao.." there it is! Akhirnya Aomine menemukan hal yang sedari tadi ia cari. Hal yang membuat jarinya semakin terpijat oleh dinding anus Kagami dan seolah tersedot masuk lebih dalam lagi.
"Ta-tadi itu.. hnng.. apa—ahhh.. Fuck!" sebelum menjawab pertanyaan Kagami, Aomine sudah keburu menyodok titik yang sama dan membuat Kagami kembali mendesah hebat—keenakan.
"Prostat, babe.." Aomine tersenyum nakal dan kembali menyodok titik itu beberapa kali. Hasrat ingin cum Kagami yang tadi sempat tertunda, kini muncul lagi dengan lebih dahsyat.
"Do it agaaiinnhh.. do.. it.. ahh.." Kagami mendesah kecewa karena Aomine berhenti menyodok prostat nya. Namun, tak kalah terkejut di sela-sela nafsunya, ia melihat Aomine mulai membuka boxernya dan menunjukkan betapa gagahnya penis Aomine, itu terlihat lebih besar dari yang terakhir kali dilihat oleh Kagami.
Aomine mengusap penis Kagami yang sudah basah karena precum, dan mengoleskan precum itu di penisnya sendiri. Alhasil, kini penisnya sudah terlihat licin dan mengkilat. Aominepun naik ke atas Kagami dan memosisikan penisnya di depan lubang pacarnya. Ia mengusap-usapkan kejantanannya itu di mulut anus Kagami yang mengatup-atup minta diisi. Kagami yang sudah mendapatkan pegangan, langsung merangkulkan tangannya di leher Aomine.
"Aoo.. just do it.." Aomine yang mendengar pemuda crimson itu kemudian menuruti permintaan pria favoritnya itu. Perlahan, Aomine mulai mendorong masuk kejantanannya ke dalam lubang Kagami.
"Aaaaahnn.." Kagami mencakar punggung Aomine ketika merasakan sesuatu yang besar itu masuk ke dalam tubuhnya. Ia merasa anusnya seperti dirobek oleh benda Aomine. Sakit yang ia rasakan sungguh luar biasa.
Lain halnya dengan Aomine yang merasakan betapa ketatnya anus Kagami. Selain merasakan nikmat, ia juga tau bahwa Kagami sekarang sedang berusaha menghancurkan penisnya.
"Oh.. fuck! Babe.. relaaaaax.. relax.." Aomine menatap Kagami yang menitikan air mata dan mengangguk pelan. Aomine yang tak tahan melihat wajah seksi Kagami; mata yang gelap dan berair, wajah yang sangat merah, bibir plum yang setengah terbuka dengan saliva mengalir keluar, dan peluh yang membasahinya, membuat Aomine tak tahan dan mencium Kagami. Aominepun mencium Kagami tidak tahan, sekaligus berharap agar Kagami melupakan rasa sakit di anusnya.
"Mmmnggh.." Aomine menelusupkan lidahnya dan kembali mengecap rasa Kagami yang nikmat dan tak pernah membuatnya bosan. Tak lupa, Aomine tetap berusaha memasukkan seluruh penisnya ke dalam lubang Kagami.
"Hnnnggg! Mmm!" Kagami yang ingin berteriak, teredam oleh ciuman panas mereka. Penis Aomine akhirnya sudah seluruhnya masuk ke dalam anus Kagami. Mereka berdua terengah.
Kagami merasakan anusnya sangat perih, mungkin saja sudah berdarah. Namun, di dalam hatinya ia sangat bahagia bahwa ia bisa melakukan pertama kalinya dengan Aomine. Dan sekarang, ia sudah seutuhnya milik Aomine. Mereka berdua merasakan satu sama lain.
Penis Aomine yang merasa terpijat oleh dinding anus Kagami, anus Kagami yang merasakan panasnya barang milik Aomine. Mereka seolah merasakan diri mereka menjadi satu. Karena memang begitu.
"Hei.. bolehkah aku bergerak sekarang..?" tanya Aomine menyela keheningan mereka. Kagami hanya mengangguk sambil terengah.
Akhirnya Aomine mulai dengan perlahan memaju mundurkan pinggulnya. Kagami semakin merasakan perih di anusnya, ia kembali menitikkan air mata dan memeluk erat Aomine.
"Tunggu, babe.. Aku akan menemukannya," ucap Aomine sambil mencoba mencari kembali prostat Kagami. Sang pemuda crimson semakin terengah dan benar-benar melupakan rasa sakitnya ketika Aomine berhasil menyodok prostat-nya lagi.
"Hnnngg! Ao! Itu.." Kagami mendesah hebat. Ia semakin erat memeluk tubuh kekar Aomine. Aomine yang sudah menemukan titik kenikmatan Kagami akhirnya bisa melepaskan nafsunya dan tidak menahan lebih lama lagi untuk menyerang titik itu berkali-kali.
Begitu pula dengan Kagami, ia tak henti-hentinya mendesah di bawah Aomine. Rasa perih yang ia rasakan kini sudah tertutupi oleh kenikmatan yang diberikan oleh Aomine. Derit ranjang yang bisa terdengar menunjukkan betapa gila nafsu yang mereka tahan selama ini. Terutama Aomine.
Aomine terus memaju-mundurkan pinggulnya, membuat penisnya keluar masuk di lubang Kagami. Ini adalah lubang tersempit yang pernah ia rasakan. Bagaimana tidak, lubang virgin itu terus berdenyut dan meminta lebih. Penisnya seolah dibawa oleh euforia. Best sex. Tentu saja Aomine terus menambah kecepatan dan kekuatannya.
"Ahh.. haahh.. Ao.. minee.. can.. I.. hnnnggh.." Kagami mendesah tepat di telinga Aomine.
"Yeah.. Kau boleh melakukannya sekarang.." Aomine tidak berhenti membuat kenikmatan Kagami bertambah sambil membuat kissmark di leher pacarnya. Kagami sepertinya sudah tak bisa menahan cumnya lagi karena kini tubuhnya sudah melengkung dan dadanya menempel dengan dada Aomine.
"Ohh! Fuck.. Aaaaahhhng.." erangan panjang Kagami diikuti oleh muncratan cum dari kejantanannya.
Aomine yang masih menahan cum-nya, kemudian menambah kecepatannya.
"Fuck! Fuck! Oohh! Yes! Ahh," Aomine tidak sanggup menahan erangannya dan mengakhiri malam mereka dengan cum di dalam anus Kagami. Kagami bisa merasakan kehangatan cairan di dalam tubuhnya yang mengalir keluar.
Itu adalah malam yang singkat bagi mereka berdua, namun juga yang terindah.
"Happy Birthday, Kagami.. Kau miliku sekarang," Aomine tersenyum hangat pada Kagami sebelum mengeluarkan kejantanannya dari dalam anus Kagami dan terbaring di samping Kagami.
"Wow.. itu.. benar-benar melelahkan.." Kagami terengah sambil menggenggam erat tangan Aomine.
"Yeah.. Aku tau.. Lubangmu sempit sekali, babe.." Aomine kembali membayangkan miliknya di remas oleh dinding anal Kagami.
"Kau harusnya tau itu, Aho," Kagami tersenyum lalu memiringkan tubuhnya. Aomine, secara otomatis mengaitkan tangannya di pinggang dan memeluk Kagami dengan erat. Mereka saling merasakan degup jantung masing-masing.
"Hei, Aomine.." Kagami memanggil Aomine di tengah pelukan mereka. Punggung Kagami bisa merasakan degup dan kehangatan dada bidang Aomine. Entah mengapa kini ia sudah sangat lega. Aomine sudah menjadi miliknya secara official.
"Hng?" Aomine kembali menyesap harum rambut Kagami untuk kesekian kalinya malam ini—memeluknya dengan sangat intim.
"Aku mau memberitahumu sesuatu yang sangat penting," ucap Kagami. Oke, mengatakan sesuatu yang penting? Oh, ayolah, tak ada yang lebih penting dari mendengar desahan Kagami yang penuh dengan krim diatasnya.
"Hng.. Bicaralah."
"Sebenarnya misi kalian gagal."
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Oke, Aomine tidak begitu mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Kagami. Misi? Misi apa? Mission Impossible? Dia tidak sedang bermain di Super Trap kan? Kini Aomine memutar otaknya yang sepantaran dengan bintang laut di laut terdalam.
"Misi Akashi," ucap Kagami tenang, meskipun sebenarnya dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Aomine setelahnya.
"A-apa yang sedang kau bicarakan, Ka-kagami?" tanya Aomine yang kini sudah terduduk menghadap Kagami.
"Yah, aku membicarakan misi kalian di Maji Burger minggu lalu."
Oke. Ini bohong kan?
"Ja-jadi...?"
"Jadi..."
"Jadi..?"
"Haah.. Jadi... aku sudah tau kalau kalian mau melakukan sesuatu padaku. Aku lumayan shock begitu mendengar kalau ternyata kau juga menyukaiku," ucap Kagami sambil tersenyum manis tanpa dosa tanpa tahu kalau Akashi sampai tahu kalau misinya sudah diketahui oleh Kagami, tujuh turunan Kiseki no sedai berada dalam bahaya.
"Tunggu dulu.. juga..? Jadi..." oke, rasa shock Aomine rupanya masih berlanjut.
"Aho! Kau tidak sadar kalau aku sudah lama menyukaimu?" ucap Kagami sambil menjitak kepala kekasih gelapnya yang bodoh itu.
"E-eh?" kini Aomine tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini benar-benar mengejutkan. Jadi, selain selama ini Kagami sudah tahu misi Akashi, tapi ia juga sudah lama menyukainya? Entah semalam ia bermimpi apa bersama Mai-chan sampai-sampai ia bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini.
Smooch.
Tiba-tiba bibir lembut Kagami sudah bersentuhan dengan bibir Aomine.
"Tak perlu kau pikir berat-berat. Yang jelas kini aku sudah bersamamu," ucap Kagami sambil memberikan senyuman lembut pada Aomine.
"Kagami.."
"Ya?"
"Boleh mulai ronde dua?"
"E-eeehhhh?" / / / / / / / /
THE END.
Wkaowkaokwo finally I can end this fic :""D sorry for the late update. Really, I just got write block these past months. Oh, and yes, although it's already late, but, I force myself to end this due to Kagami's birthday 2 days ago. Because I can't online two days ago, so i'll just post this now. Wkwkwk so, Happy Birthday Kagami! Love you soooo much! And for everyone who read this fic, from the begining until this far, I really wanna say thaaaank you! Big thanks for y'all! I can't stand this long without you guys :"")) finally i don't have anymore obligation to all the readers mwehehehehehe xD really, i want to thank you all over agaiiiinnn.. THANK YOU SO MUCH FOR READ AND RESPON THIS FIC :""D
Ah iyaa! Minal aidzin wal faidzin yaaaa, untuk semua yang merayakan. mohon maaf kalo author punya banyak salah selama ini x"D
Terus, maaf banget author nggak bisa bales satu2 review readers karena koneksi internet yang terbatas :""D MAKASIHH BANYAAAK, LOVE YOU ALL xD
Love sign, salmoow
