Tittle : Lady in Red
MAIN CAST :
ALL MEMBER EXO
Disclaimer : EXO belong to themselves but this story original by me!
Genre : Horror, mistery, dark
Author : Ririn Cross
Rated : T
Warning : Horror inside, so becareful if there "Someone Behind You"
In the dark I stand up…
I need someone to follow me…
To accompanied me in the deepest of dark…
+++ - Lady in Red Part 2 -+++
+++ - Beautiful Girl in White -+++
~XXX~
+++ - KRIS POV -+++
Aku berlari tak mempedulikan apapun. Kunaiki tangga dengan cepat. Chanyeol yang dibelakangku terlihat menyusul. Ia sedikit tertinggal di belakang. "Kris hyung, ada apa?" tanyanya namun kuabaikan. Sampai di lantai dua kulihat Suho tengah berdiri disana.
"Kyungsoo-ya ada apa!?" Namun tak ada jawaban.
"Dobrak!" Seruku kesal. Suho terpaku menatapku. Ia seperti baru saja melihat hantu.
"I..iya.." ucapnya cepat. Ia segera mendorong tubuhnya menubruk pintu kayu jati itu. Aku menyusulnya, kemudian diikuti Chanyeol di belakangku. Dalam hitungan beberapa saat pintu kamar itu terbuka dan menjeblak keras.
Kulihat wajah ketakutan Dio, dengan bingkai foto yang berserakan di sekitarnya. Itu foto kami ber-12 dan ia membuangnya begitu saja? Ah bukan membuangnya, tapi ada hal lain yang membuatnya seperti itu. Aku melihat bayangan putih itu menghilang dan transparan.
"Kyungsoo-ya apa yang kau lakukan!?" sentak Suho. Namun namja kecil itu hanya menggeleng dengan tangan gemetar.
"Bicaralah…" Chanyeol memegang pundak Dio. Ia mencoba memberikan sugesti positif.
"Wanita itu.. wanita itu ada disana.." Dio menunjuk-nunjuk sudut ruangan. Namun ia tak berani menatapnya. Tempat yang sama seperti saat tadi aku melihat sosok wanita itu yang menghilang. Dia tidak berbohong.
"Kau bicara apa sih?" Suho menggertakan giginya frustasi. Aku tahu, Suho bukan orang yang ingin percaya dengan hantu. Ah lebih tepatnya dia memang tidak ingin ada hal yang kaitannya dengan hantu. Rasa takutnya kurasa akan melebihi reaksi dari Tao saat berada di kegelapan dan melihat hantu itu secara langsung.
Sementara itu pandanganku kembali mengamati lantai itu. Kupunguti pecahan kaca yang berserakan secara perlahan. Apa ini? Tiba-tiba tanganku menjadi gemetar.
"Hyung, biar aku.." Baekhyun sudah di sampingku. Ia tersenyum seperti biasa. "Tanganmu gemetar," bisiknya.
Aku langsung tersadar. "Gomawoyo Baekkie.."
+++ - KRIS POV END -+++
~XXX~
+++ - AUTHOR POV -+++
02:00 AM
Ke-12 pemuda tampan EXO itu pun berkumpul di ruang tengah setelah insiden teriakan Kyungsoo dan cederanya Kai. Lebih parahnya lagi jatuhnya lukisan itu. Mereka telah berada disana kurang lebih sudah setengah jam dan masing-masing masih terbalut kebisuan. Wajah mereka terlihat pucat namun tidak lebih pucat dari Kyungsoo yang bahkan sepertinya gagu mendadak.
"Tenangkan dirimu hyung.. Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan," bisik Sehun pada Kyungsoo. Kyungsoo menatap Sehun dengan mata bulat besarnya. "Itu cara termanjur untuk rileks." Sehun tersenyum lagi dan kini bisa ditebak, matanya hilang dibalik senyuman manisnya.
Kyungsoo mengangguk dan mencoba mempraktekkannya. Ia menghirup nafas dalam-dalam, menyimpannya sejenak di perut, lalu menghembuskan pelan-pelan. Seolah itu memang terapi psikologis untuk menenangkan pikiran.
Luhan terdiam di tempatnya. Mengabsen tiap member satu persatu. Hal yang ia takutkan sepertinya benar terjadi. Rumah ini sangat aneh. Tatapan matanya kemudian tertumbuk pada Kai yang masih meringis kesakitan, cederanya yang tadi telah dikompres dengan es kini dibalut Lay dengan kain kasa.
Sementara itu Kris terdiam di samping Baekhyun dan Chen. Luhan merasakan aura gelap seperti menyelimuti pemuda itu. Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan Kris?
Ah wanita itu!
Luhan tercengang. Ada di belakang Kris. Yeoja dengan gaun merah darah berdiri tepat di belakang Kris. Tersenyum mengerikan ke arahnya. Darah menetes dari wajah dan setiap tubuhnya. Tangan dan kuku-kukunya yang panjang mulai mendekati leher Kris. Seolah ia memang bermaksud membawa Kris ke dalam genggamannya. "Menjauh!" sentak Luhan.
Seketika semua menatap pada Luhan. Pemuda penggila soccer itu terengah-engah setelah berhasil melemparkan benda berwujud butiran-butiran kecil ke arah Kris. Membuat namja tampan itu seketika berubah seperti panci untuk membuat sup.
"Asin.." desis Kris frontal. Ia terlihat kesal karena dilempari serbuk garam secara mendadak. Namun, cara luhan itu berhasil. Wanita tadi menghilang.
Seketika Luhan tersenyum. "Maaf Kris, ini demi kebaikanmu," bisiknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Xiumin.
Luhan hanya tersenyum dan seraya menggeleng. "Kau mungkin tidak akan percaya.." Ia mengangkat bahu.
"Memangnya apa, Luhan? Jangan berteka-teki seperti itu dong?!" sentak Xiumin.
Luhan mendecak kesal. Xiumin melongo. Namun seketika wajah Luhan berubah serius lalu membisikkan sesuatu pada namja chubby itu. Xiumin langsung ternganga. "Tidak mungkin…" desisnya.
"Aku akan bercerita.." interupsi dari suara Dio membuat Luhan mengalihkan fokus dan mengabaikan Xiumin.
Namja kecil itu sepertinya telah dapat mengendalikan emosi. Ia menatap jam dinding kuno yang berada di ruangan itu. Sudah pukul setengah 3 dini hari. Dan mereka belum tidur karena kejadian menakutkan semalam. Tepatnya dia yang mengalaminya langsung.
"Sekitar pukul setengah 2 tadi, aku melihat sesuatu..." Dio berhenti. Ia sedikit ragu melanjutkan karena pikirannya masih begitu takut. Itu masih sangat jelas di dalam pikirannya. "Suatu penampakan.." Semua orang yang ada disana menahan nafas, suasana menjadi tegang. Terkecuali Kris dan Luhan, mereka telah mengetahui itu. "Sesosok yeoja berambut panjang, tapi aku tidak melihat wajahnya karena dia menunduk dan tangannya ke belakang."
Suho terlihat gemetar menggenggam tangannya sendiri. Ia harap yang Dio ceritakan bohong dan hanya lelucon saja. Namun tidak, namja kecil itu melanjutkan. "Dia memakai mini dress putih lengan panjang. Ia berdiri di pojok kamar."
Sehun yang mendengar cerita Dio tiba-tiba saja merasakan hawa dingin dan sensasi yang aneh di tengkuknya. Sepertinya memang benar adanya dan penglihatan Dio tadi bukan hanya ilusi, Dio terlihat tidak berbohong. "Aku mencoba menolaknya dengan ayat-ayat suci tapi karena aku tak bisa membaca dengan benar sosoknya masih ada. Kucoba tutup mataku dan membukanya lagi dia masih berdiri disana. Aku benar-benar ketakutan saat itu. Sangat takut." Gemeretak gigi Dio terdengar jelas.
"Itu benar hyung? Kau tidak bohong?" Tao terlihat menggenggam kedua tangannya. Ia gemetar. Entah karena apa tiba-tiba sebagian dari mereka merasakan hawa dingin dan sensasi aneh itu mulai menyerbu ruangan ini. Luhan yang merasakan ada sesuatu yang besar akan terjadi segera siaga. Lay sendiri yang telah selesai mengobati Kai mencoba mempersiapkan sesuatu entah apa.
"Akhirnya kulempar bingkai foto ke arahnya. Dia memang menghilang karena transparan tapi bingkai foto kita akhirnya melayang sudah, pecah berkeping-keping." Dio tertunduk. Chen mengelus pundak rekan sesama main vocalnya itu. Tentu saja Dio merasa menyesal, bingkai foto yang ia lempar adalah saat mereka berfoto bersama di Disneyland waktu SM Town in Paris. Itu kenang-kenangan yang tak terlupakan namun seketika hancur berkeping-keping karena penampakan hantu itu.
Xiumin menghela nafas dalam. Mungkin apa yang dikatakan Dio itu benar. Tidak mungkin ia berbohong di saat seperti ini. Bahkan Xiumin melihat ada yang aneh dari Luhan dan Kris, walaupun dia masih ragu. "Baiklah. Kita akhiri pertemuan ini karena hampir menjelang pagi." Xiumin sebagai yang tertua berinisiatif menghilangkan kecanggungan akibat cerita Dio. Setidaknya ia telah berusaha untuk menenangkan member yang lain. "Dio, kau perlu banyak istirahat. Dan Kai, bagaimana dengan kakimu? Kau juga harus istirahat." Xiumin tersenyum. "Anggaplah tidak terjadi apa-apa hari ini. Rileks, OK?" Xiumin berkedip.
Suasana menjadi sedikit tenang akibat kesegaran yang diberikan Xiumin. Suho sedikit menyunggingkan senyumnya dan segera mengambil alih situasi. "Oke. Kita harus kembali ke kamar masing-masing dan lanjutkan tidur."
Masing-masing dari mereka mengangguk dan segera beranjak dari tempat tidur. Lay memapah Kai, sedangkan Sehun menepuk pundak Dio. Mereka mulai berjalan ke kamar masing-masing.
PRANGGGGG
Suara benda pecah itu mengubah fokus mereka. Langkah seluruh namja tampan itu terhenti. Ketakutan yang sempat menyelinap mulai muncul kembali, namun kini ditambah dengan rasa penasaran akibat suara benda itu. Apalagi ini?
"Aku akan melihatnya." Chanyeol memutar langkah.
"Aku ikut!" Baekhyun mengikuti di belakang sang namja jangkung dengan senyum menawan itu, ia mengikuti sahabatnya. Namun, teriakan Lay membuat langkah mereka terhenti. "Jangan!"
"Kenapa?" tanya Chanyeol tak mengerti.
"Duduklah kembali. Biar aku yang memeriksa.." bisik namja kalem itu sambil menampakkan dimple manisnya. Chanyeol mengerutkan alis, merasa aneh.
"Kau yakin tidak ingin ditemani?" tanya pemuda bermarga Park itu. Lay menggeleng.
"Lay..." Luhan bergumam dan pandangannya terus melekat pada Lay.
"Percaya padaku.." bisiknya sambil lalu. "Dan lebih baik kalian mengungsi di kamar kami. Ya kan, Kris?" Lay memberi kode. Kris yang tadinya tidak fokus hanya bisa mengangguk. "Sekarang cepat!" perintahnya.
Mereka semua menahan nafas ketika Lay mulai menghilang dan menuju ruang belakang. Arah suara benda itu dari dapur atau dari ruangan yang berada di dekat dapur? Entahlah…
"Kajja!" komando Luhan. Semua meninggalkan tempat itu. Namun, Kris masih duduk disana. Ia tak mungkin meninggalkan Lay begitu saja.
+++ - AUTHOR POV END -+++
~XXX~
+++ - KRIS POV -+++
Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi. Semua begitu cepat. Saat Luhan melempariku dengan garam aku tahu, pasti ada sesuatu yang ada di dekatku, mungkin setan itu. Tapi sedekat itukah ia denganku?
Lay.. dimana dia?
Aku menelusuri lorong menuju ruang belakang yang ternyata sangat panjang. Maklum rumah bergaya klasik ini memang benar-benar sangat luas dan mempunyai banyak lorong. Pantas saja berhantu, selain terlihat suram, mewah, tapi sebenarnya rumah ini mempunyai aura yang mengerikan.
DEG
Jantungku seolah berhenti berdetak. Sekarang terlihat jelas sosok itu. Tapi kali ini dengan dress putih. Ia cantik seperti yang ada di dalam lukisan itu. Namun wajahnya sangat pucat dan penuh keputusasaan. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mendekatinya? Kami terdiam beberapa lama. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada kata yang keluar dari bibir pucatnya. Sedangkan aku, masih cukup shock dengan pemandangan di depanku ini. Ia menunduk dan memutuskan untuk menghilang secara perlahan.
"Tunggu…" bisikku.
Ia menegakkan wajah dan menatapku. "Temanmu.. dalam bahaya.." bisiknya sangat halus bahkan aku tak yakin itu suaranya. Namun seketika aku langsung berlari dari tempat itu. Lay, Lay dalam bahaya?
Saat aku mencoba berbalik white lady itu menghilang.
~XXX~
Kudobrak pintu dapur. Aku melemparkan pandangan ke berbagai sudut. Keadaannya benar-benar sangat kacau, semua barang pecah belah berserakan di lantai. Lay, dimana Lay?! Kuteliti tiap sudut ruangan. Tidak ada! Aish!
Dimana-dimana?
Aku menguatkan pendengaran. Terdengar seperti suara gaduh di ruangan sebelah. Bukankah itu gudang dekat dapur? Aku segera mengayun langkahku ke ruangan itu. Dan benar saja. Kulihat Lay terpuruk di pojok ruangan dengan nafas tersengal. Ia memegang bahunya, ada luka sayatan yang cukup terlihat disana. Astaga. Apa yang terjadi?
"Kris lari!" pekiknya.
Wanita berdarah itu melayang-layang dan langsung melempar fokusnya padaku. Aku hanya berdiri diam di ambang pintu. Ia membawa pisau daging yang sangat besar. Sial.
"Kau harus ikut denganku…" ucapnya dengan suara datar tanpa ekspresi. Ia kemudian perlahan mendekatiku dan menunjukkan pisau tajamnya tepat di depan wajahku. Aku sempat melihat wajahnya. Sangat mirip dengan yeoja putih yang kutemui tadi, namun, ia lebih bengis, lebih mengerikan, dan sama sekali tidak cantik. Ia berlumuran darah.
Aku memejamkan mata. Apakah aku akan mati disini?
Kau tidak boleh mati disini… Kau harus hidup untuk menolongku..
Seketika aku membuka mata. Sebelum pisau tajam itu menusukku, aku menghindar dengan melompat keluar. Ia menebas udara kosong. Cih. Ternyata aku hebat juga. Tapi apa yang harus kulakukan setelah ini?
Kutengok belakang. Hanya ada tembok. Dan ia menghampiriku. Ia menebaskan pisaunya lagi. Aku sedikit terlambat sehingga pundakku menjadi korban. Darah mengucur dari sana. Nyeri.
Dia datang lagi. Belum puas ia menyayatku, huh? Gaun merah darahnya berkibar menimbulkan bau anyir, atau entah ini karena bau anyir dari darahku sendiri? Yang jelas disini menjadi penuh genangan.
Kris, rolling like a buffalo! Aku mengingat syairku di 'Two Moons' yang terdengar kekanakan itu, tapi itu cara yang mudah untuk melarikan diri dan mendekati Lay. Aku berputar dan menggelinding melewatinya. Terengah-engah kuhampiri Lay.
"Are you okay?" tanyaku terengah.
"Kau bodoh! Mengapa kembali kesini dan tidak meminta bantuan Luhan!?" Lay menoyor kepalaku. Appoyo. Aku mendengus kesal. Dia ingin membuatku bodoh sepertinya.
"Takut sesuatu terjadi padamu.." ucapku skeptis.
"Tidak masalah." Dia menutupi lukanya. "Oh astaga.. Dia datang lagi.." bisik Lay. Jantungku seketika berdegup kencang. Hantu pembunuh itu sangat mengerikan. Ia telah berada di depan pintu dengan pisaunya. Aish. Apa yang harus kami lakukan?
Dengan susah payah Lay mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. "Lemparkan salib ini ke arahnya!" teriak Lay. Aku mengangguk dan melakukan instruksinya dengan cepat.
Tepat di wajahnya aku lemparkan benda itu.
"Arrgghhh…" Ia berteriak seperti kebakaran. Jeritannya melengking, semakin mengerikan. Beberapa saat kemudian ia sudah tak ada di sana. Ia menghilang meninggalkan salib milik Lay yang terjatuh.
Aku terduduk dan bernafas lega.
"Aku berhasil?"
"Belum…" Lay berujar.
"Maksudmu?"
"Dia akan segera kembali cepat atau lambat."
"Kenapa?" Namun Lay telah menarikku cepat menjauh dari ruangan itu.
+++ - TO BE CONTINUED-+++
Annyeong~~ *lambai2 kolor Kris* Mianhae ini lama banget postnya T.T gara2 aku hiatus… T-T
Semoga chapter 2 ini lebih baik ya? Sebagai tanda bahwa aku akan mulai menulis FF lagi ^^ Gomawo bagi yang udah mau baca~~Jangan lupa RCL ya untuk segera lanjut ke part 3… Di blogku update-an udh lebih dari chap ini sih .-.
Kalau kalian punya pengalaman mistery bisa ceritakan sama author, untuk inspirasi chap berikutnya/? '-' gomawo ^^
