.

.

.

A story

by

AllHearts

'Pain'

CHAPTER 2 : He's Back

.

.

BEGIN

Angin musim semi datang dengan aroma cherry blossom yang bermekaran. Udara musim dingin yang beku telah tergantikan oleh hawa hangat musim semi. Jejeran bunga mawar dan Baby's Breathedi taman rumah mulai bermekaran membuat puluhan kupu-kupu dan lebah sibuk mendatanginya.

Jika biasanya taman di depan rumah dipenuhi oleh orang-orang yang bermain ice skate sambil tertawa di musim dingin lalu, maka di musim semi orang-orang itu menggelar karpet lalu menikmati hidangan piknik di bawah naungan pohon cherry blossom. Di salah satu sisi taman, pohon maple tetap di tempatnya dan diabaikan. Seolah hijaunya daun maple di musim semi tidak ada indahnya. Beberapa anak memang bermain di sekitar pohon maple itu. Tapi anak-anak itu segera berlari mengejar kelopak cherry blossom yang berjatuhan.

Sehun diam di beranda jendela rumah dengan bertemankan segelas kopi hitam dan bir dengan kadar alkohol rendah. Sejujurnya, Sehun tidak pernah suka kopi–terlebih kopi hitam–dan Sehun tidak pernah menjadi orang yang bertipe pemabuk. Sehun pernah meminum kopi. Dan itu adalah kopi latte, kopi yang dicampur dengan susu full cream. Sementara untuk alkohol, Sehun sendiri tidak ingat ia pernah menyentuh benda itu sebelumnya. Ini bukan yang pertama kali, tapi Sehun tidak pernah menyentuhnya sejak ia mengenal Jongin. Benar-benar tidak pernah, karena jika itu terjadi, maka Jongin akan memarahinya.

Dan kini, Sehun justru membiarkan dirinya mengkonsumsi dua hal yang awalnya tidak disukainya itu. Bahkan beberapa hari yang lalu Sehun mulai mengkonsumsi rokok yang Sehun tau cukup berbahaya dari peringatan di bungkusnya. Tapi Sehun tidak peduli. Jikapun Sehun mati karena rokok sialan itu, apa yang terjadi akan tetap sama. Lagipula mati lebih baik dibanding hidup seperti orang mati.

Jika awalnya kopi hitam dapat membuatnya kembung, maka kini tidak. ia tak merasakan apapun di dalam perutnya. Dan alkohol seharusnya membuat Sehun merasa pusing, tapi kini tidak. Sehun tidak merasakan apapun yang menghantam kepalanya.

Tampilannya semakin kacau dibanding kekacauannya di tiga tahun ini. Rumah semakin berantakan, kali ini dengan pecahan beling yang berserakan di lantai. Sampah-sampah masih tetap berserakan. Meja di ruang keluarga penuh dengan bungkusan plastik, kaleng minuman dan botol-botol bir. Ada sebuah piring lebar di tengahnya yang sudah dihiasi oleh abu dan puntugan rokok. Piring-piring kotor dibiarkan begitu saja di atas wastafel. Tak ada bagian yang tersisa kecuali sofa di ruang tengah, ruang tamu dan kamar Jongin. Selama ini Sehun tak pernah lagi tidur di kamarnya sendiri. Ia begitu merindukan Jongin dan memilih untuk tidur bersama aroma tubuh Jongin yang mulai berbaur dengan aroma tubuhnya di bantal milik Jongin.

Akhir-akhir ini Sehun selalu duduk terdiam di beranda. Memandangi buket bunga terakhir yang diletakkannya di bawah naungan maple. Sehun sengaja meletakkannya di sana agar saat Jongin melihatnya, pemuda itu bisa menyimpannya sebagai kenangan cinta tulus yang gila dari Oh Sehun.

Namun hari-hari yang berlalu seakan mengatakan bahwa Jongin benar-benar tak akan kembali lagi. Padahal Sehun tau Jongin merindukannya dari surat-surat yang Jongin tinggalkan di naungan pohon maple selama tiga tahun ini. surat-surat yang Sehun baca hingga menangis hebat setiap membacanya. Surat-surat yang membuat Sehun berjalan keluar dengan mantelnya untuk sekedar membeli makanan di hari-hari kematiannya.

Seringkali Sehun tertidur di berandanya dan terbangun di pagi harinya dalam keadaan kedinginan. Wajahnya terus memucat dari hari ke hari. Tanggungjawab perusahaannya telah ia serahkan sepenuhnya kepada sepupunya yang menjabat sebagai bawahannya di kantor. Ia tak peduli apakah sepupunya itu justru akan menggulingkannya untuk turun dari jabatannya atau bangkrut sekalipun – walau pada kenyataannya sepupunya tidak melakukannya dengan bukti meningkatnya keuntungan perusahaan di saat Sehun tengah sibuk mencari Jongin selama tiga tahun penuh.

Pagi inipun, saat Sehun tengah terbangun dari tidurnya yang terasa sangat tidak nyaman, buket itu masih ada di sana. Tergeletak begitu saja di antara rerumputan hijau, kelopak cherry blossom dan embun-embun basah.

Seulas senyum yang sesungguhnya tak pernah sanggup ditampilkannya lagi kini terlihat kembali. Terlihat terpaksa dan berat untuk dilakukan. Rasa sakit yang bersarang di dalam hatinya kembali memberontak. Membuat air mata yang tertahan di balik bola matanya terurai begitu saja seperti embun di pagi yang basah.

"Selamat pagi, Jongin. Ternyata pagi ini aku tetap mati. Apa selamanya akan begini?" lirihnya pelan. Seulas senyuman masih terus ada di sana seiring air matanya yang tak juga terhenti seberapa kuat pun ia menahan. Hatinya menjerit dalam, namun bibirnya terus terbungkam membentuk seulas senyuman.

Dilangkahkannya kaki kurusnya ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang semakin tidak terurus. Janggut-janggut pendek mulai tumbuh menghiasi dagunya. Kantung matanya semakin menghitam dan wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Namun Sehun tak pernah peduli dengan itu. Yang lebih penting dari segalanya adalah memastikan Jongin datang kembali dan menyimpan rasa cinta dari Oh Sehun dalam bentuk buket mawar dan Baby's Breathe itu.

Sehun kini kembali dengan baju kaus biru yang dibeli Jongin untuknya dalam rangka ulangtahun pertemuan mereka lima tahun yang lalu. Tubuh Sehun yang justru semakin kurus membuat Sehun dapat memakainya kembali. Di pundaknya tersampir selimut kecil milik Jongin yang selalu Jongin gunakan saat kedinginan. Aroma tubuh pemuda cantik itu masih tersisa di sana. Dan Sehun membutuhkan itu untuk menghangatkan diri dan menghangatkan hatinya bahwa Jongin masih ada di sini bersamanya – walau Jongin bukan ada di sini, di sisinya. Di tangan kanannya ada segelas air putih dan di tangan kirinya ada segelas kopi hitam. Sementara kedua bibir pucatnya mengapit sebuah batang nikotin yang dibakar.

Sehun kembali duduk di tempatnya dengan lesu. Sama sekali tidak terusik dengan piring di meja di dekatnya yang sudah penuh dengan punting-puntung rokok dan abu sisa pembakaran nikotin. Diselimutinya tubuhnya dengan selimut milik Jongin lalu menghirup aroma manis yang penuh kehangatan milik pemuda itu dari sana. Pada kenyataannya, Sehun masih sangat merindukan Jongin. Bahkan di dalam hari-harinya yang telah mati.

Pada saat itulah matanya yang telah meredup terbuka dengan lebar. Aliran darahnya terhenti sesaat. Seluruh urat syarafnya menegang. Dan dalam waktu sepersekian detik saja, Sehun telah melupakan puntung rokoknya yang masih menyala di atas tumpukan puntung rokok lainnya di atas piring bertemankan abu-abu nikotin. Membiarkan uap panas dari kafein dalam kopi hitam menguap begitu saja di samping gelas air putih. Membiarkan selimut kecil yang terlihat hangat dengan aroma yang dapat memanjakan indra penciuman terjatuh begitu saja pada sandaran kursi yang rela 24 jam diduduki olehnya.

Tubuhnya terasa melayang di atas angin musim semi yang hangat. Beberapa kali ia menendang-nendang kaleng minuman yang berserakan di lantai membuat ruangan semakin terlihat kacau. Tapi Sehun tak begitu peduli. Bahkan pada orang-orang yang melihatnya berlari tanpa alas kaki ia tak begitu peduli. Pada orang-orang dewasa dengan kumis putih di wajahnya yang memandangnya aneh seolah dirinya adalah orang gila Sehun tak peduli.

Hanya satu hal yang perlu diketahuinya sekarang. Dimana buket itu berada? Apakah Jongin mengambilnya?

Langkah Sehun terhenti begitu saja saat ia berada tepat di seberang jalan masuk ke taman. Padahal hanya tinggal menyeberang jalanan yang sepi oleh kendaraan berpolusi itu ia akan tiba di taman. Tapi Sehun tak mampu melakukannya. Lututnya terasa begitu lemas. Tenaganya menguap entah kemana. Angin musim semi yang hangat tak lagi terasa. Dan untuk kesekian kalinya, Sehun mati rasa.

Seseorang di seberang sana menatap Sehun dengan iris cokelatnya. Matanya berbinar cerah di antara raut lelah yang begitu kentara. Helaian rambut cokelatnya bergerak-gerak seiring dengan hembusan angin hangat yang terasa begitu nyaman. Ada sebuket bunga di tangannya. Itu bunga kesukaannya, bunga mawar yang dirangkai dengan Baby's Breathe. Senyumannya masih manis seperti tiga tahun yang lalu, kali ini dengan garis terpaksa yang begitu mendalam. Ingin rasanya Sehun memeluk tubuh itu, namun Sehun tahu ia tak bisa karena pemuda itu sendiri yang mengatakan bahwa ia tak bisa kembali ke sisi Sehun.

Seiring dengan berjalannya detik-detik yang penuh dengan kesesakan, lutut Sehun terus melemas dan melemas. Sehun memang tak pernah lagi memakan asupan gizi yang cukup untuk tubuhnya yang terus mengurus. Satu-satunya sumber karbohidrat yang masuk ke dalam tubuhnya hanyalah roti-roti gandum protein sedang. Selain itu hanya ada air putih, dan segelas kopi yang berbahaya untuk lambungnya. Tapi, berbeda dengan beberapa menit sebelumnya, kini asupan karbohidrat yang belum sempat dikecapnya untuk hari ini menguap entah kemana. Sisa-sisa energy hasil metabolisme tubuhnya yang kemarin seharusnya masih sedikit bersarang di setiap sendi sel-selnya. Tapi tidak. kekuatan itu hilang dibawa oleh angin hangat musim semi.

Sehun benar-benar jatuh ke atas trotoar saat Jongin tiba di hadapannya. Kembali seperti saat itu, Sehun kembali berlutut dalam isakan tangisnya yang mengharapkan Jongin kembali. Yang berbeda hanyalah tentang salju dan hangatnya angin musim semi. Orang-orang yang tengah berbahagia di sana tetap saja tidak mempedulikan mereka. Mereka hanya menganggap Sehun dan Jongin seperti patung yang memang sudah seharusnya ada di sana.

Sehun terus terisak. Namun kali ini tanpa permintaan untuk meminta Jongin kembali. Sebenarnya itu permintaan bodoh, karena Jongin tak akan pernah kembali. Buket bunga mawar dengan Baby's Breathe itu masih kelihatan indah walau telah layu termakan hari-hari beku di musim dingin dan hangatnya musim semi. Kelopak-kelopak cherry blossom melesak di antara sela kelopak mawar dan Baby's Breathe yang telah layu, membuat rangkaian bunga itu terlihat sedikit lebih berwarna. Seharusnya Sehun bersyukur karena Jongin masih mau kembali dan mengambil satu dari sejuta buket layu yang Sehun beli khusus untuknya. Tapi apa yang tengah dilakukan oleh pemuda pucat itu? Bahkan Sehun tak lagi pantas disebut sebagai seorang pemuda. Tubuhnya terlalu ringkih. Dan kisahnya terlalu pilu.

"Hey, kau kenapa, Sehun?"

Sehun masih terdiam di kaki Jongin. Enggan menyingkir dari hadapan Jongin. Terus berlutut dengan sejuta godaan untuk mencium kaki Jongin agar Jongin tahu bahwa ia begitu menginginkan Jongin untuk kembali. Jika diharuskan untuk menyembah, pun, akan Sehun lakukan. Tetapi tidak. Karena Jongin benci orang yang menyekutukan Tuhan.

"Hey, kenapa kau berlutut seperti itu? Apa kakimu sakit? Atau perutmu sakit? Ayo kita pulang!"

Sehun terpekur untuk sesaat. Segera ditegakkannya tubuhnya saat Jongin menuntunnya untuk berdiri. Sehun menatap Jongin dengan penuh rasa kaget, sementara Jongin tengah berusaha menenangkan degup jantungnya dan raut sedih dari wajahnya. Itu terlihat begitu kentara di antara gurat-gurat lelah dan wajah bahagianya yang tidak biasa.

Sehun terlalu mengenal Jongin dengan begitu baik. Ia hafal setiap ekspresi terpaksa yang tak begitu kentara di wajah pemuda itu. Sehun tak mengerti apa yang terjadi, tetapi ia tak dapat memungkiri rasa senangnya saat pemuda cantik itu memapahnya kembali ke rumah dengan ocehan-ocehan tentang pentingnya-memakai-alas-kaki-di-luar-rumah.

Sehun tersenyum kecil, setidaknya Jongin yang bawel telah kembali ada di hadapannya. Dan mungkin ucapan tentang Jongin yang tak akan bisa hidup bersamanya lagi itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Entah itu yang merupakan mimpi buruk atau ini yang hanya mimpi indah – Sehun tak peduli. Baginya, melihat Jongin dengan raut wajah bahagia yang memancarkan kepalsuan pun – sekali pun misalnya itu hanyalah mimpi – itu sudah lebih dari sekedar kata cukup.

Sehun terduduk diam di hadapan meja makannya yang kini sudah bersih dari benda-benda yang awalnya memenuhinya. Kini benda-benda itu tergeletak begitu saja di atas lantai, berbaur dengan sampah-sampah yang memang sudah ada di lantai setelah sekian lama.

Jongin datang dari arah dapur dengan aroma uap nasi rumahan yang mengepul hangat. Tak lama kemudian, kepulan hangat ramyeon dan telur dadar hangat ikut meramaikan permukaan meja makan yang berpelitur. Segelas air mineral dan secangkir apple tea beraroma segar tersaji dengan begitu indah di dekat Sehun. Sementara di sisi hadapannya hanya tersaji secangkir lagi apple tea yang menguarkan aroma menyegarkan.

"Selamat makan!" sahut Jongin semangat setelah menuangkan sekepal nasi ke mangkuk milik Sehun. Tak lupa disodorkannya sepasang sumpit yang sudah lama tak disentuh oleh Sehun lagi. Sumpit itu adalah sumpit kesukaan Jongin, tetapi Jongin tak pernah benar-benar memakainya. Sumpit itu seolah khusus dibuat untuk Oh Sehun. Jongin hanya menggunakannya untuk Sehun atau untuk menyuapi Sehun. Sehun sungguh merasa begitu istimewa dengan perlakuan itu. Tetapi hal itu jugalah yang juga membuat Sehun tak ingin menyentuh sumpit itu lagi.

Sehun tersenyum kecil. Sudah lama ia tak menyentuh sumpit itu. Ia sungguh merindukan saat-saat seperti ini – saat makan bersama Jongin dengan sumpit di tangannya. Kepulan uap panas dari nasi kepal membuat Sehun dapat merasakan sensasi rasa lapar setelah tiga tahun lamanya rasa itu menghilang. Tubuh ringkihnya seolah menginginkan karbohidrat dengan sangat. Padahal baru beberapa jam yang lalu Sehun tidak berniat memakan nasi, atau ramyeon, terlebih bimbimbap. Jongin seolah menghipnotisnya – untuk mengkonsumsi makanan yang jauh lebih baik dibanding kopi, alkohol dan roti-roti rendah protein.

"Kau harus makan yang banyak. Kau sudah kurus sekali, Sehun" ujar Jongin dengan senyuman. Gurat-gurat lelah di wajahnya mulai menghilang tergantikan oleh matanya yang meyipit oleh seulas senyum. Tangannya meraih cangkir di dekatnya yang berukuran sedikit lebih besar dari cangkir milik Sehun. Jongin sangat menyukai teh, terlebih dengan aroma apel yang menguar manis – dan Sehun tahu itu.

"Kau juga seharusnya makan, Jong" sahut Sehun menanggapi.

"Tidak. Aku kenyang"

"Tapi kau juga mengurus"

"Baiklah. Aku juga makan.. tapi nanti saja, ya?"

Sehun menatap Jongin yang sudah mulai menikmati hangatnya apple tea. Sehun sangat hafal kebiasaan pemuda itu. Pemuda itu sangat suka dengan kegiatan kunyah-mengunyah disamping kegemarannya menari, membaca buku, dan menjelajahi dunia mimpi. Namun, jika sudah mengatakan bahwa dirinya sudah kenyang, atau akan makan tapi nanti, itu artinya Jongin benar-benar akan makan nanti – dalam artian nanti yang tidak akan pernah berujung di dalam waktu.

Karena itu, dengan gerakan lembut, Sehun menyumpit nasi kepalnya dan mengangsurkannya ke depan Jongin. Membuat Jongin merasa agak kaget walau ini sudah sering terjadi sebelum ia menghilang selama tiga tahun. Ia masih merasa agak kaku untuk ini. Sebuah rongga di dada kirinya terasa hangat dan rasa hangat itu terus menjalar hingga ke pipi dan mencapai telinganya. Dan dengan perlahan, Jongin membuka mulutnya untuk memasukkan gumpalan nasi itu ke dalam mulutnya. Mereka terus makan dalam hening. Dengan Sehun yang sesekali menyuapi pemuda kesayangannya itu. Suasana canggung yang hadir begitu saja tidak terasa mengganggu. Debaran debi debaran jantung datang dengan perlahan. Melahirkan rasa bahagia yang tak pernah tergantikan.

Jongin menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa. Tubuhnya terasa agak pegal setelah membereskan rumah yang lebih kacau dibandingkan kapal yang baru saja dihadang badai. Sehun yang baru saja kembali dari perjalanannya membuang berkarung-karung sampah ikut menyenderkan dirinya di samping Jongin.

"Kau lelah?" tanya Sehun pelan. Tangannya tergerak untuk menyisir rambut yang menempel di dahi Jongin.

"…" Jongin tidak menjawab. Pemuda itu justru menikmati lembutnya sentuhan jemari pucat Sehun di dahinya. "Kenapa kau bisa bertahan dalam kondisi sekacau itu?"

"Mau bagaimana lagi?" jawab Sehun di antara helaan nafasnya. "Aku harus bertahan agar bisa mencarimu, jadi aku harus bertahan walau dengan kekacauan seperti ini. Tapi sebenarnya aku sudah mati sejak beberapa hari yang lalu"

"Aku tidak suka mendengarmu mengatakan kematian semudah itu"

"Karena itu jangan pergi lagi. Aku mati tanpamu, Jong"

"Kau kira aku nyawamu? Berpikirlah sedikit lebih realistis, Hun"

"Kau memang bukan nyawaku. Tapi aku memang tak bisa hidup dengan benar tanpamu. Aku hidup, tapi aku merasa mati. Apakah kau tahu bagaimana rasanya itu?"

Jongin menghela nafas pelan. Setiap gas karbon dioksida yang ingin keluar dari tubuhnya terasa tertahan di tenggorokan. Lalu mulai menceritakan apa yang tak ingin ia ceritakan. Mengeluarkan semua yang mengganjal di dalam hati dan pikirannya. Dengan mata berkaca, air mata yang sesekali keluar, rengkuhan hangat Oh Sehun, dan belaian lembut di dahinya.

Ini yang selalu Jongin butuhkan. Belaian hangat, tempat untuk bercerita, tempat berbagi air mata, rengkuhan yang sarat akan kasih sayang, dan perhatian yang menenangkan. Sehun selalu mau mendengar celotehan Jongin dan selalu mengingatnya – bahkan untuk hal tidak penting yang tidak diingat oleh Jongin sekalipun. Tapi Sehun tak akan pernah mengungkitnya jika itu akan membuat Jongin bersedih. Jongin tahu Sehun begitu mengkhawatirkannya dari pancaran mata Sehun saat menatapnya. Dan Jongin sangat menyukai pancaran hangat yang selalu menginginkan Jongin tersenyum itu. Jongin percaya padanya dengan sepenuh hati. Jadi Jongin tak pernah ragu untuk bercerita. Tentang pertemuan mereka. Tentang keluarganya. Tentang apa saja yang telah terjadi. Tentang alasannya. Tentang perasaannya.

Di malam sebelum malam ini, Jongin selalu membayangkan sebuah ketakutan yang teramat besar. Jongin tahu Jongin telah melalui jalur yang salah, namun setelah melalui jalan gelap yang menurutnya adalah jalan menuju ke kebenaran, Jongin justru mendapati bahwa jalannya yang pertama adalah yang benar-benar membuatnya nyaman. Sebuah jalan yang mungkin orang lain anggap tabu, tetapi sangat dibutuhkannya.

Ibu Jongin selalu ingin anaknya menikahi seorang gadis cantik putri konglomerat. Bahkan sedari kecil, Jongin didekatkan pada si gadis itu. Dan akhirnya Jongin bertemu dengan Sehun yang sudah mulai membantunya dari awal pertemuan mereka. Lama-kelamaan, Sehun mulai membantu Jongin mencari objek lukisan yang bagus lalu menjual lukisan Jongin itu ke kenalannya. Sehun tahu Jongin sangat suka melukis, dan Sehun juga tahu orang tua Jongi tidak pernah menginginkan anaknya menjadi seorang pelukis. Bahkan Sehun tahu masa depan Jongin hanyalah tentang perusahaan keluarganya. Namun pemuda berkulit pucat itu masih saja mendukungnya untuk melanjutkan hobi sekaligus impiannya tersebut.

Itulah yang membuat Jongin terus berjalan di atas angan dan mimpinya, yang sebenarnya sangat jauh dari ujung jemarinya. Hanya berjalan dan terus berjalan menganggap jalan di depannya itu adalah yang terbaik. Tak peduli akan bebatuan tajam yang menghadangnya lalu membuatnya terluka. Di ujung jalan sana ada Sehun, dan saat itu Jongin tahu Sehunlah tujuannya. Ia berjalan di jalan itu untuk dirinya sendiri, juga untuk Sehun.

Tak peduli seberapa salah pun jalannya hari itu, Jongin hanya terus berjalan di jalan itu bersama Sehun. Bergandengan tangan mengarungi waktu yang mencekam. Menganggap jalan itulah yang paling benar dari segala belokan yang menghadang. Membiarkan orang lain berpikiran itu salah. Membiarkan orang lain menatapnya dengan penuh kesinisan. Membiarkan Oh Sehun mendekapnya dengan penuh kehangatan.

Jongin masih sangat ingat saat ia kabur dari rumah. Ayahnya pasrah dan ibunya meraung kesakitan. Ayahnya sudah tahu ini akan terjadi, karena sesungguhnya ayahnya tak terlalu ingin memaksa Jongin. Namun ibunya menginginkan segala sesuatu yang sempurna untuk Jongin. Memaksa Jongin mengambil kuliah jurusan manajemen dengan teman-teman keren yang memiliki mobil seharga lebih dari satu milyar won. Mendekatkan Jongin dengan seorang gadis cantik bertubuh langsing dan berdada besar yang berasal dari keluarga terpandang dan suka berbelanja barang mahal dengan gaunnya yang hanya menutupi setengah paha. Tanpa mau mengerti bahwa sebenarnya Jongin hanya membutuhkan kanvas, kuas, cat, ketenangan, kasih sayang, orang tua, dan Oh Sehun di dekatnya.

Jongin muak dengan semua itu. Jadi Jongin kabur dari rumah saat malam pertunangannya dengan gadis cantik yang malam itu mengenakan terusan satin yang menunjukkan punggungnya yang–Jongin akui–mulus dan halus. Jongin akui malam itu gadis itu terlihat sangat cantik. Tetapi isi kepala Jongin telah teracuni oleh lukisan dan senyuman Oh Sehun. Jongin selalu berpikir kalau gadis itu cantik. gadis yang itu juga cantik. gadis di sana juga cantik. dan walau Sehun tidak cantik – malahan sangat tampan – Jongin justru merasa Sehun lebih memukau. Jongin bahkan lebih memilih bersandar di dalam pelukan hangat Sehun dibanding memiliki seorang gadis di dalam pelukannya.

Malam itu Jongin berlari dengan tuksedo hitam dan kemeja putih. Berlari di antara dedaunan maple yang berguguran tanpa peduli seberapa dinginnya angin malam musim gugur. Dengan kotak cincin pertunangannya yang dilapisi kain beludru merah. Kotak itu masih bersarang di dalam sakunya dan Jongin berniat membuangnya ke dasar sungai agar dapat menjadi harta karun kecil suatu hari nanti. Langkahnya terhenti di depan rumah mungil yang terlihat sangat hangat dan nyaman. Rumah itu terletak begitu jauh dari rumah Jongin yang terletak di komplek perumahan Gangnam. Entah bagaimana cara Jongin berlari lalu menaiki bus dan berlari lagi hingga bisa tiba di rumah ini dalam waktu kurang dari satu jam.

Jongin segera mengetuk pintu rumah itu lalu langsung menghambur ke dalam pelukan seorang pemuda yang membuka pintu. Membiarkan si pemuda kebingungan dengan gerakan tiba-tiba dari Jongin. Tapi pemuda itu – Oh Sehun – bahkan tidak melakukan apapun, selain membiarkan Jongin memeluknya di depan pintu, lalu meminta Jongin melepaskannya sesaat untuk masuk ke dalam bilik rumah yang jauh lebih hangat dibanding berpelukan di depan pintu dengan angin musim gugur di malam hari. Pemuda itu bahkan tidak mengatakan apapun selain belaian hangat yang menyenangkan di punggung Jongin. Hanya membiarkan Jongin terus memeluknya setelah memberikan Jongin segelas teh hangat.

Malam itu Jongin tertidur di dalam pelukan Sehun dengan tuksedonya yang belum dilepaskan di atas sofa. Namun pagi harinya ia terbangun dengan tuksedonya di atas ranjang di kamar Sehun. Sehun tertidur di sampingnya. Sebelah tangannya memeluk pinggang Jongin dan sebelahnya lagi terbujur diam di atas kepala Jongin – sepertinya Sehun tertidur saat mengelus kepala Jongin. Matanya terpejam kuat – sepertinya benar-benar nyenyak. Nafasnya terdengar begitu teratur dengan senyuman tipis di bibirnya. Sehun benar-benar tampan, dan Jongin tak mau menyangkal itu.

Jongin menghabiskan waktunya untuk menatap Sehun. Melupakan fakta bahwa tertidur dengan tuksedo sangatlah tidak nyaman. Dan saat Sehun terbangun, kalimat yang keluar dari bibirnya bukanlah ucapan tentang kenapa Jongin bisa ada di kamarnya, atau apa yang sedang Jongin lakukan dengan menatapnya seperti itu, atau bahkan kenapa Jongin datang di malam yang sangat dingin lalu tertidur dengan tololnya.

Selamat pagi. Apakah tidurmu nyenyak?

Sederhana.

Jongin hanya mendapat kalimat sesederhana itu di pagi hari setelah malam yang telah menjadi malam paling kacau yang telah dibuatnya. Sehun tidak meminta Jongin bercerita sama sekali. Sehun justru memberikan Jongin beberapa pakaiannya yang sedikit kekecilan dengannya untuk Jongin, mempersilahkan Jongin memakai kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, memasakkan makanan untuk mereka, lalu menemani Jongin menonton televisi di hari minggu dengan sejuknya angin musim gugur. Sehun sama sekali tidak bertanya tentang hal-hal yang terjadi semalam. Justru Jonginlah yang membuka semuanya dan Sehun hanya mendengarkannya tanpa interupsi. Tanpa pandangan kasihan atau apapun. Hanya sambutan hangat di dalam rengkuhannya yang nyaman di akhir cerita. Jongin suka Sehun yang seperti ini. tidak memandangnya dengan pandangan kasihan, tidak mengganggunya saat ia sedang ingin mengeluarkan isi hatinya, dan memahami apa yang dia butuhkan untuk saat-saat tertentu.

Jongin tak begitu tahu apa yang terjadi, namun sejak itu, Sehun tak pernah lagi menyebutkan kata 'rumahku' untuk menyebut rumahnya sendiri. Sehun justru lebih suka memakai kata 'rumah kita' atau 'rumahku dengan Jongin' untuk menyebutkan tentang rumahnya. Bahkan Sehun selalu meminta pendapat Jongin saat ia ingin membuat atau membeli sesuatu di rumahnya sendiri. Seolah-olah rumah itu memang rumahnya bersama Jongin. Jujur, Jongin sangat suka itu. Karena dengan begitulah Jongin merasa bahwa dirinya kini benar-benar ada di rumah.

"Aku benar-benar senang tinggal bersamamu, sungguh. Aku terus menanggap jalan itu benar dan aku hanya terus semakin jatuh dan jatuh ke dalam pesonamu. Aku hanya terus jatuh cinta padamu setiap hari. Padahal aku sudah jatuh cinta padamu di hari sebelumnya, namun ternyata di dalam lubang cintamu itu, aku jatuh lagi ke dalam lubang yang lebih dalam. Aku tahu ini terlalu puitis, tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu, Hun. Aku terus menganggap perasaan itu benar. Kalau kau bagaimana? Apa menurutmu perasaan itu benar?"

"Tentu saja itu benar"

"Tapi itu salah, Hun. Apa yang kita lakukan sebenarnya salah"

"Dari mana kau tahu itu salah, Jong?"

"Banyak, Hun. Banyak orang yang mengatakan itu salah. Perasaan kita sebenarnya salah, Hun. Aku tidak mau ini salah, tapi ini menjadi benar-benar salah, Hun"

"Banyak juga yang mengatakan perasaan itu benar, Jong. Lagipula, aku tak terlalu peduli apakah orang-orang bilang perasaan kita salah atau benar. Bagiku, hal yang paling benar adalah mencintaimu sampai akhir"

"Tapi, Sehun.."

"Hidup hanyalah tentang benar dan salah, Jong. Percayalah padaku"

Jongin mengangguk ragu, namun pada akhirnya anggukannya berubah mantap.

"Aku mengantuk, Hun. Bolehkah kita tidur saja? Aku akan melanjutkan ceritaku besok"

"Aku tak akan memaksamu bercerita, sayang. Tidurlah, kau pasti lelah. Selamat malam. Mimpi indah"

Jongin mengangguk pelan. Kemudian merapatkan dirinya pada Sehun untuk menikmati hangatnya pelukan Oh Sehun. Pikirannya masih melayang dalam kata-kata benar dan salah tentang sebuah perasaan besar di dalam hatinya. Hingga akhirnya jatuh tertidur dengan membayangkan tangan Sehun yang menggenggamnya erat seolah tak ingin melepaskannya. Sayup-sayup didengarnya suara Sehun yang terdengar agak lirih.

"Aku mencintaimu, Jongin. Sangat. Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi. Aku akan melakukan apapun agar kau bahagia. Tapi tinggallah di sisiku"

Aku juga mencintaimu, Sehun. Tapi apakah ini benar?

Lalu semua gelap begitu saja. Hilang. Seluruh beban pikirannya hilang sudah. Digantikan oleh sebuah padang rumput dengan angin musim semi yang hangat, kanvas, kuas, cat, dan Oh Sehun yang tersenyum.

To Be Continued

Well, sebenarnya author gak ada rencana lanjutin fanfict ini. tapi berhubung pada gak ngerti yaudah deh. Maaf kalo pertanyaan tentang kenapa Jongin pergi belum terjawab di sini. mungkin di chapter depan bisa terungkap. Dan maaf kalo banyak typo, saya ngantuk banget waktu nulis ini.

At least,

Mind to RnR?

AllHearts and EXO united(?)