.

.

.

A story

by

AllHearts

'Pain'

CHAPTER 3 : Run Away

.

.

BEGIN

FLASHBACK ON

Pada kenyataannya, hidup itu memang hanyalah sebuah perantara antara benar dan salah – seperti yang diucapkan Sehun. Orang-orang hanya memilih jawaban antara benar dan salah sesuka hati mereka. Mereka menganggap sesuatu benar dalam satu keadaan, dan menganggapnya salah di keadaan lainnya. Manusia yang egois. Dengan pilihannya yang juga egois.

Seharusnya Jongin bisa memilih, untuk tinggal di rumah Sehun yang terasa seperti rumah, atau ke rumah keluarganya yang terasa seperti neraka. Rumah keluarganya masih terasa nyaman, namun tidak terasa seperti rumah lagi sejak ayahnya memintanya menikah dengan gadis cantik dari keluarga Jung. Itu mulai terasa seperti neraka sejak Jung bersaudara sering datang ke rumahnya. Sejak si adik Jung mulai sering menggandeng tangannya di depan umum, lalu mempertontonkan dadanya di klub malam.

Keluarga Jung adalah keluarga yang hebat. Tuan Jung adalah seorang inventaris yang memiliki saham besar di salah satu agensi musik ternama yang telah bekerja sama dengan agensi musik asal Jepang dan Amerika Serikat. Nyonya Jung sendiri adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus pemilik butik yang telah beberapa kali meluncurkan produk mereka ke acara fashion show akbar di Paris. Si kakak Jung – Jessica Jung – adalah seorang penyanyi berbakat sekaligus penerus sang ibu di butik mereka. Sedangkan si adik Jung – Krystal Jung – adalah seorang model sekaligus mahasiswa semester lima di Universitas Korea.

Keluarga mereka menjodohkan Jongin dengan Krystal Jung sejak kecil. Dan mereka menganggap Jongin dan Krystal berpacaran sejak Krystal memasuki SMA tingkat pertama. Pada saat itu, Jongin masih belum terlalu menyadari semuanya dan menganggap Krystal seperti adiknya sendiri. Jadi Jongin hanya megiyakan ketika ibunya meminta Jongi untuk membawa Krystal berkujung ke rumah mereka.

Krystal itu adalah gadis yang cantik. Namun tidak manis. Wajahnya yang cantik dan keluarganya yang kaya membuatnya memiliki hati yang tinggi. Teman-temannya berasal dari golongan atas. Dan mereka suka menghabiskan waktu mereka di klub malam dengan pakaian minim. Itu adalah poin utama yang membuat Jongin semakin menjauhi Krystal.

Namun, secara tiba-tiba, keluarga Jung datang, dan menawarkan pertunangan.

Jongin lari dari rumahnya di malam pertunangannya. Ia masih ingat pada jeritan histeris ibunya saat tak menemukan Jongin di kamarnya. Juga panggilan dari ayahnya bahwa namanya bisa saja dicoret dari pewaris tunggal keluarga Kim karena pembatalan pertunangan yang begitu tiba-tiba. Tapi Jongin tak benar-benar peduli. Ia hanya terus berlari dan melompat sejauh mungkin dari rumahnya.

Jongin sama sekali tidak memiliki tujuan waktu itu. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah berlari dan berlari. Walau tak dapat dipungkiri, air matanya terus mengalir membayangkan namanya yang akan tercoret dari daftar keluarga dan jeritan pilu ibunya yang tengah kehilangan putra kesayangannya. Jongin ingin berbalik dan kembali, menenangkan ibunya bahwa ia masih ada di sini menjadi Jongin kecil yang pendiam dan menurut. Hanya saja Jongin tau ini tak akan lagi sama. Ia telah membuat langkah besar yang akan sangat merubah hidupnya.

Jongin benar-benar tidak memiliki tujuan di antara jalanan dengan dedaunan maple yang berguguran. Saat tiba di rumah Sehun pun, Jongin tidak benar-benar sadar bahwa rumah mungil inilah yang membuatnya merasa ingin benar-benar hidup. Rumah inilah yang selalu menjadi tujuannya saat ia ingin pulang. Sehun membuka pintu dengan sambutan hangat yang selalu membuat Jongin merasa benar-benar dibutuhkan. Pemuda itu selalu saja bersikap hangat seolah rumah mungil itu memang milik mereka berdua.

Sejak hari itu, Jongin mulai tak peduli pada marganya. Entah marga Kim itu masih ada pada dirinya atau tidak, ia tak begitu peduli. Lagipula itu tak akan mengubah keadaan bahwa Jongin lebih suka untuk pulang ke rumah Sehun. Ia menukar nomor ponselnya dan tak pernah lagi menghubungi keluarganya. Ia tak pernah lagi pergi ke kantornya yang tak lain dan tak bukan adalah kantor keluarganya dan mencari pekerjaan sebagai seorang penulis lepas di perusahaan percetakan milik Sehun. Ia bahagia dengan itu. Walau mereka hanya tinggal berdua, tetapi semuanya sudah lebih dari cukup. Rumah mungil yang menyajikan kehangatan keluarga itu sudah memenuhi lebih dari apapun yang dibutuhkannya.

Hari itu Sehun sedang mengadakan rapat redaksi untuk rencana event menulis karya novel untuk para penulis pemula. Itu dilakukan untuk gebrakan menumbuhkan bibit-bibit penulis baru yang berbakat. Jongin yang hari itu mengantarkan naskah tulisannya memilih untuk kembali ke rumah terlebih dahulu. Ia ingin membereskan rumah dan memasak makanan agar saat Sehun tiba di rumah, rasa lelah pemuda itu bisa sedikit terobati.

Jongin memutuskan untuk mampir ke supermarket terlebih dahulu. Membeli beberapa bungkus makanan untuk menemaninya mengetikkan satu-dua halaman sembari menunggu Sehun pulang. Kemudian berjalan santai melewati jalan memutar dari taman. Sedikit menyegarkan pikiran untuk mulai mengetik inspirasi di dalam pikirannya. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah kotak telepon umum yang terlihat kesepian di dekat taman. Pikirannya menyuruhnya untuk menghubungi keluarganya.

Sebagai seorang Jongin dewasa hasil dari pertumbuhan Jongin kecil yang penurut membuat Jongin sadar, ia begitu merindukan keluarganya. Walau Sehun lebih terasa sebagai rumah daripada keluarganya sendiri, tetapi ia tak isa berbohong bahwa ia juga merindukan rumahnya sendiri. Bagaimanapun, ibunya lah yang telah melahirkannya ke dunia yang egois ini. Ayahnya lah yang telah memantau pertumbuhannya hingga ia bisa menjadi Jongin dewasa yang hebat seperti ini.

Itu adalah kali kedua saat Jongin tidak bisa mengontrol tindakannya. Ia berjalan masuk perlahan ke dalam kotak kaca itu. Jarinya sedikit bergetar saat menekan nomor telepon rumahnya yang masih terhafaldi luar kepala. Jantungnya berdegup dengan terlalu cepat saat nada sambung terdengar dari seberang sana.

"Yeoboseyo?"

Jongin terkesiap.

Itu suara ibunya.

Matanya mulai berkaca. Tubuhnya bergetar pelan saat suara ibunya di seberang sana masih terdengar selembut seperti yang didengarnya terakhir kali. Hanya saja kali ini, suara ibunya itu terdengar lebih lelah. Apakah ia yang telah membuat ibunya seperti itu? Oh, Jongin adalah anak yang kejam. Meninggalkan orangtuanya tanpa pamit dan diam-diam merindukan mereka.

"Maaf, ini siapa?"

Suara ibunya di seberang sana masih saja terdengar. Membuat Jongin semakin bergetar. Ia merindukan ibunya, sungguh. Pada kelembutan dan kesabaran wanita itu. Pada setiap senyuman yang diberikan wanita itu di setiap saat Jongin menatap matanya yang jernih. Ingin rasanya ia kembali bersujud di kaki ibunya. Karena bagaimanapun, ia telah menjadi seorang anak kesayangan ibu yang membuat ibunya menderita. Ia bukanlah seorang anak yang baik.

"Ini aku, bu" ucap Jongin pelan. "Ini aku"

"Ya Tuhan! Jongin! Kau Kim Jongin, kan? Astaga! Bagaimana keadaanmu, nak? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau telah mendapatkan apa yang kau cari? Ya, Tuhan. Maafkan ibu, nak. Ibu tak tau apa yang kau butuhkan. Ibu hanya terus menganggap apa yang kau butuhkan telah kami berikan. Kami benar-benar tidak memikirkan perasaanmu waktu itu"

Jongin tak lagi dapat menahan air matanya. Ia hanya terus menangis tanpa isakan. Ia tak ingin ibunya tau bahwa hatinya begitu teriris setiap mendengar ungkapan maaf dari wanita yang telah melahirkannya. Seharusnya ialah yang meminta maaf dan bersujud. Tetapi apa yang kini tengah dilakukannya? Tak ada permintaan maaf yang keluar dari bibirnya. Ia hanya diam dan menahan setiap isakan yang ingin keluar dari bibirnya. Mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan terus menangis setiap mendengar suara lembut sang ibu.

Sambungannya kini beralih ke ayahnya. Suara ayahnya juga masih sama seperti dulu, masih tegas dan berwibawa. Hanya saja suara itu kini terdengar sarat akan rasa lelah. Pria itu juga terdiam di seberang sana, hanya menggumamkan sebuah kalimat pembukaan untuk menanyakan kabar Jongin. Hanya saja itu mampu membuat isakan Jongin yang sedari tadi ditahannya keluar dengan sendirinya.

"Hey, nak! Apakah hidupmu sekarang menyenangkan? Kenapa kau tidak pernah lagi pulang? Maafkan ayah, tapi kembalilah sesekali ke rumah. Kami merindukanmu"

Dan kalimat itu ternyata memang mengubah semuanya.

Rumah Sehun tetap menjadi rumah tempat Jongin menuju. Rumah Sehun tetap menjadi rumah mungil hangat tempat Jongin pulang. Tetapi rumah keluarganya tetap menjadi kampung halamannya. Seberapa lamapun Jongin pulang ke rumah Sehun, rumah keluarga tetap menunggunya.

Jongin tau ia tak pernah sendiri. Selalu ada Sehun di sampingnya. Jongin hanya tak pernah tau bahwa orangtuanya juga selalu ada di sampingnya. Menyemangatinya dalam selimut kenyamanan yang tak pernah Sehun sadari. Marganya tidak pernah hilang, seberapa besarpun ia memberontak. Orangtuanya tetap sama. Menerimanya sebagai Jongin kecil mereka yang mereka sayangi.

Jongin tak lagi dapat menahan semua itu. Setiap gejolak kerinduan di dalam hatinya terus memaksa Jongin untuk berkunjung ke rumah keluarganya. Jadi di sinilah Jongin di keesokan paginya. Meninggalkan secarik pesan untuk Sehun tentang jajangmyeon yang ditinggalkannya di dalam kulkas dan keterangan tentang dirinya yang sedang keluar sebentar. Dan kini Jongin berakhir di depan pintu rumah keluarganya.

Jongin tidak pernah tau bahwa saat pintu rumah itu terbuka, saat ibunya terpekik kaget akan kedatangannya yang tiba-tiba, saat ayahnya berlari kencang dari dalam rumah untuk melihatnya dalam keadaan utuh di depan rumah, saat ia bersujud di kaki kedua orangtuanya dan meminta maaf, saat orangtuanya merangkulnya sambil menangis seolah begitu kehilangan dirinya, adalah saat yang sama di saat secarik pesan di pintu kulkas itu berakhir semu. Pada kenyataannya Jongin tak pernah lagi kembali ke rumah itu. Ia tak pernah lagi kembali ke rumah tempatnya berpulang. Semua menghilang begitu saja tanpa sisa. Hanya torehan sakit di dalam dadanya dan kerinduan yang diam-diam ditunjukkanya pada pesan-pesan di pohon maple.

Ada keadaan di saat Jongin tak mungkin lagi pulang ke rumah mungil yang hangat itu. Tetapi Jongin tak akan sanggup untuk melihat Sehun walau hanya sekilas, karena ia pasti akan kembali pulang. Ia tak pernah lagi datang ke penerbitan. Naskah di dalam laptopnya tak pernah lagi berlanjut. Naskah itu hanya berhenti sampai di sana tanpa pernah dilanjutkan, seperti ia tak pernah lagi pulang ke rumah.

FLASHBACK OFF

Ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Ada dada tempatnya bersandar. Ada kehangatan yang membalut tubuhnya. Ada kenyamanan yang membuatnya ingin terus memejamkan mata walau mentari sudah mengusiknya.

Tiga tahun sudah Jongin kehilangan apa yang sedang melingkupi tubuhnya saat ini. Tangan yang hangat, dada yang bidang, kenyamanan yang terasa seperti selamanya. Jongin mengakui, ia kecanduan dengan itu semua. Ia kecanduan atas apa yang diberikan Sehun di rumah mungil milik pria itu. Tapi ia terlanjur kehilangan segalanya begitu saja. Hanya dengan melangkahkan kaki ke rumah keluarganya, ia telah kehilangan apa yang telah menjadi candunya. Dan kini, kenyataan akan terlihat semakin nyata bahwa Jongin telah kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah rumah mungil dan Sehun, yang ternyata masih menunggunya setelah sekian lama.

Memikirkannya hanya membuat kepala menjadi pusing. Memikirkannya hanya membuat air mata memaksa keluar di antara kelopak mata Jongin yang dipaksanya untuk tetap tertutup. Jongin bergerak sedikit. Menelasakkan kepalanya ke dada Sehun sehingga pemuda itu tak akan dapat melihat apa yang terjadi di antara kelopak matanya. Tubuh Sehun bereaksi cepat. Pemuda itu langsung merengkuh tubuh Jongin dan membuat Jongin merasa semakin nyaman untuk terus ada di sisinya.

Dengan tangannya yang membelai punggung Jongin dengan gerakan lembut, Jongin menjadi tau bahwa pemuda itu entah sejak kapan terbangun dari tidurnya. Sepertinya Sehun juga lelah dengan kenyataan – sehingga pemuda berkulit pucat itu masih menetap di atas ranjang di antara teriknya sinar matahari musim semi pagi ini. Yang Jongin tidak mengerti adalah, bagaimana caranya pemuda itu tetap tersenyum di hadapannya dengan ucapan selamat datang yang terdengar hangat? Apakah itu tidak menyakitkan? Sedangkan Jongin yang bisa menyesal dan terus bertarung di dalam permainan takdir samil mengeluh dan menangis. Mungkin memang Jongin yang terlalu lemah, atau Sehun yang terlalu kuat. Atau memang Sehun yang bertahan untuknya. Mungkin saja. Maksudku, semga saja.

"Selamat pagi, Jongin. Apakah tidurmu nyenyak hingga kau igin tertidur terus seperti ini?" ucap Sehun pelan. Entah kekuatan apa yang mendorong Sehun hingga masih mampu mengucapkan kalimat selamat pagi yang begitu dirindukan Jongin.

"hm" gumam Jongin singkat. Ia hanya tak ingin berbicara sekarang. Rasanya terlalu lelah.

"Kenapa kau menangis, sayang?"

"Aku lelah, Hun"

Sehun tersenyum tipis. Walau ia tau Jongin tak akan bisa melihat senyumannya itu.

"Aku juga" sahut Sehun pelan. Tangannya masih terus mengusap punggung Jongin pelan. "Karena itu.. biarkan kita tidur hari ini. Tidak usah memikirkan hal lain. Biarkan saja seperti ini dulu"

Jongin menghela nafasnya. "Ya. Biarkan seperti ini saja" jawab Jongin sambil membenamkan kepalanya di dada Sehun semakin dalam. Sehun ikut merengkuh tubuh Jongin hingga rasanya agak sesak untuk bernafas. Namun mereka tidak peduli. Inilah yang mereka butuhkan untuk saat ini. Suasana pagi yang tenang tanpa gangguan, dan tetap tertidur agar tak ada yang dapat memisahkan mereka. Agar tak ada yang dapat mengusik kebersamaan mereka. Agar tak ada lagi kenyataan hampa yang terasa seperti neraka.

Matahari terbit, menyinari Bumi dengan sinarnya yang hangat, lalu menjadi terik saat telah mencapai tengah hari, mengubah sinarnya menjadi jingga di kala senja, lalu terbenam meninggalkan permukaan Bumi dalam kegelapan. Itu disebut siklus matahari. Sesuatu yang terjadi setiap hari tanpa bisa dihindari.

Manusia tidur di malam hari, terbangun di pagi hari, melakukan aktivitas melelahkan yang hanya akan membuatnya mengkonsumsi karbohidrat lagi dan lagi, lalu kembali tertidur di malam hari. Itu juga disebut siklus. Siklus harian. Hanya saja, siklus ini bisa dihentikan semaunya. Tentunya dengan beberapa ketentuan yang membuat manusia harus berpikir sejuta kali untuk melakukannya.

Namun, siklus harian itu tidak akan berlaku untuk hari ini. Tidak untuk Jongin ataupun Sehun. Mereka tidak akan peduli apakah matahari telah menyengat indahnya hari atau bahkan telah meninggalkan hari. Mereka juga tidak peduli tentang ketentuan bahwa manusia tidur di malam hari atau beraktivitas di pagi hari. Tidak juga peduli bahwa sesungguhnya mereka membutuhkan nutrisi dan vitamin D dari cahaya matahari. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa keduanya ingin terus tertidur, beristirahat, untuk satu sampai seratus tahun lagi. Atau mungkin menjadi revisi legenda terbaru untuk kisah 'Putri Tidur' yang berubah judul menjadi 'Pangeran Tidur'. Atau setidaknya hanya untuk memiliki satu hari penuh untuk mengistirahatkan seluruh perasaan yang ada dibalik seluruh kenyataan yang menyiksa.

Di saat Sehun terbangun, lalu menatap raut lelah Jongin yang tertidur pulas, tersenyum kecil saat menyadari bahwa pemuda manis itu masih terus ada di dalam pelukannya, di saat itulah Sehun kembali jatuh cinta. Lagi, lagi, lagi, dan lagi. Sehun selalu jatuh cinta setiap mendapatkan Jongin di dalam pantulan retina matanya. Jatuh cinta saat pemuda itu tertawa. Lalu jatuh cinta lagi saat pemuda itu memanggil namanya. Jatuh cinta saat pemuda itu tersenyum lebar. Apapun yang dilakukan oleh pemuda itu selalu membuat Sehun jatuh cinta. Seperti siklus matahari yang tak akan berhenti sebelum kiamat tiba, seperti itulah Sehun akan jatuh cinta pada Jongin, lagi dan lagi. Sehun bukanlah matahari, ia hanyalah bunga matahari dan Jonginlah mataharinya. Ia hanyalah sebatang bunga matahari yang hanya mampu melihat ke arah mataharinya tanpa bisa menoleh ke arah lain. Merindukan sinar sang matahari saat malam tiba, ketika tubuhnya terlelap, lalu kembali jatuh cinta saat mataharinya kembali menghiasi harinya.

Detakan jam dinding, suara hembusan nafas, dan bunyi detakan jantung menggema di setiap alunan angin musim semi. 13.45. Itulah angka yang ditunjukkan jam digital di atas nakas. Jongin sudah terbangun sejak satu jam yang lalu, sementara Sehun telah terbangun sejak satu jam lewat lima belas menit yang lalu. Namun sepertinya salah satu atau keduanya dari mereka sama sekali tidak berminat untuk makan, atau menyiapkan makan siang, atau setidaknya bangkit dari ranjang yang telah mereka tiduri selama lima belas jam lamanya.

Diam berbaring di antara keheningan yang menyergap tak pernah semenyenangkan ini sebelumnya. Menghiraukan raungan lambung yang berteriak meminta nutrisi. Dan hanya mendengar detakan jantung yang meminta untuk tetap berada di sini selamanya. Kulit kecoklatan, mata kecil dengan manik cokelat, rambut cokelat halus, pipi yang agak chubby, semuanya. Semuanya terlihat begitu sempurna. Apa lagi yang lebih sempurna di dunia ini saat.. kau mendapatkan setengah bagian dari nyawamu kembali?

Hati manusia sebenarnya bukan terletak di dalam dada bagian kiri. Organ di dada bagian kiri adalah jantung, yang terus berdetak dan berdetak kencang dengan segala ketidak tau maluannya saat orang yang kau cintai datang mendekat, atau tersenyum, atau apapun. Organ hati sendiri sebenarnya terletak di bagian perut sebelah kanan atas. Dengan bentuk yang sama sekali tidak sama seperti simbol-simbol hearts, atau love, atau apapun kau menyebutnya. Simbol itu terbentuk dari dua hati yang disatukan. Namun, dua hati yang menyatu itu begitu rapuh, mudah rusak, dan harus dijaga dengan sepenuh hati. Cinta adalah kuncinya, cintalah yang akan menjaga kedua hati itu agar tetap melekat, mendekat, menyatu dalam keabadian. Tetapi apa yang harus dilakukan saat cinta tak lagi bisa menjaga kedua hati itu. Di saat-saat terakhir dari sebuah pertemuan yang mengharuskan seseorang mengucapkan kalimat-kalimat selamat tinggal yang memisahkan dua hati yang menginginkan kebersamaan. Apalah daya manusia, itu kuasa Yang Maha Pencipta. Manusia hanya menjalani takdir, menikmatinya, atau jatuh ke dalam takdirnya sendiri.

Jongin mengerjapkan matanya beberapa kali. Matanya menatap Oh Sehun penuh selidik. Berusaha merekam bagaimana wajah, perawakan, dan cirri khas pemuda itu dengan seksama. Menyimpan setiap detik yang dilaluinya bersama Oh Sehun secara khusus di memori terdalamnya. Agar ia tak perlu takut melupakan pemuda itu dan segala kenangan tentangnya. Kisah mereka harus tersimpan rapi di dalam hatinya. Tidak peduli bahwa ratusan milyar umat di dunia menganggapnya terlarang, tidak peduli gadis Jung si pengunjung diam-diam klub malam mencemoohnya, tidak peduli apakah ini adalah zaman kuno yang membuatnya harus terbunuh karena dianggap penyihir akibat mencintai seorang pria. Tidak ada yang terlalu membuat Jongin peduli. Rasa cinta, keinginan, dan keegoisan telah menyingkirkan segalanya. Akal sehat tak pernah setidak-berharga ini sebelumnya.

"Kau lapar?" sahut Jongin pelan di antara bunyi hembusan angin musim semi yang hangat.

"Tidak"

"Sebaiknya kita sarapan"

"Baiklah"

"Atau.. bisakah disebut makan siang?"

Setidaknya lambung tidak lagi berteriak karena sepertinya dua porsi mi instan sudah cukup untuk mengatasi asam lambung berlebih yang sedari tadi berteriak meminta jatah nutrisi. Mangkuk dan wajan kotor berdiam diri di dalam wastafel. Sementara cangkir-cangkir latte yang belum tandas sepenuhnya masih hangat di dalam genggaman tangan dua orang pemuda yang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Sebenarnya waktu itu aku bisa saja kembali ke sini" gumam Jongin memulai cerita semalam yang sempat tertunda.

"Tetapi itu tidak mungkin mengingat ibuku yang memiliki riwayat penyakit jantung" sambungnya lagi, sangat mengerti bahwa Sehun tak akan pernah mengganggunya bercerita. "Untung saja dia tidak meninggal karena terkejut saat aku lari"

Jongin menatap ke dalam cangkirnya yang telah kosong separuhnya. Cairan coklat susu dengan rasa pahit dan agak manis itu memantulkan wajah kacaunya pagi ini.

"Aku kembali ke sana karena aku merindukan ibu dan ayah. Dan mereka kembali menerimaku dengan tangan terbuka, ayah bahkan sempat bertanya tentang alasanku berlari pada malam itu. Dan dia tidak memintaku bertunangan dengan gadis Jung itu lagi setelahnya"

Jongin menghela nafasnya sesaat sebelum kembali memulai. "Sayangnya tuan Jung datang ke rumah kami malam itu. Dan dia meminta pertunangan kembali dilangsungkan. Ayahku sudah berusaha menentang, tetapi tidak bisa. Karena seharusnya kami memang sudah bertunangan kalau saja aku tidak lari waktu itu"

"Jadi…" kaget Sehun dan dengan refleks menutup mulutnya sendiri.

"Ya. Aku sudah bertunangan dengan si Jung itu, dan kami akan… menikah. Bulan depan"

Jongin tertunduk lesu. Dan Sehun terdiam kaku.

Dua hati itu telah patah. Hancur.

"Aku bilang pada ibu bahwa aku mencintaimu. Aku menceritakan semuanya tentangmu. Aku menceritakan bagaimana aku membutuhkanmu. Dan ibu senang mendengarnya. Jadi kali ini, aku telah meminta izin pada ibu, agar kau membawaku lari. Kemanapun"

"Kemanapun?"

"Ya. Asalkan itu bersamamu. Kumohon"

"Kita tidak akan mungkin lari dari kenyataan, Jong" gumam Sehun pelan membuat Jongin semakin tertunduk dalam. "Tapi jika memang inilah takdir kita, kita harus melaluinya, kan?"

Malam itu Jongin pulang ke rumah keluarganya lagi. Dengan di antar oleh Sehun dengan pesan Oh Sehun untuk menunggu pemuda itu kembali ke sana untuk menjemputnya. Jongin melalui malam sunyi itu tanpa tertidur. Menunggu dan hanya menunggu. Sesekali disesapnya latte di cangkir kesayangannya. Tetapi Sehun tak kunjung kembali.

Malam ini. Lalu malam besoknya. Dan esoknya lagi.

Sehun tak pernah kembali untuk menjemputnya.

Hingga suatu hari di masa penantiannya, Sehun akhirnya kembali. Tidak kembali ke depan rumah keluarga Jongin dengan mantel abu-abu. Namun kembali ke layar kaca dengan sebuah berita.

Diberitakan sebuah mobil dengan plat nomor XXXX jatuh ke dalam jurang di distrik C. Seorang pengemudi tewas dalam kejadian ini. Diduga, pengemudi yang berhasil diidentifikasi sebagai Oh Sehun (28) tidak dapat mengendalikan laju mobilnya di jalanan licin akibat hujan di malam hari kemarin.

Dan saat itulah Jongin tau bahwa dirinya kini benar-benar sendirian. Di saat itulah Jongin benar-benar mengerti bahwa dirinya telah kehilangan setengah dari nyawanya.

Jongin sangat tau rasanya hidup seperti orang mati. Mengharapkan kehadiran orang yang dicintainya ada bersamanya, namun orang itu tak ada di sisinya. Ia tak mau lagi hidup seperti itu. Tak ada harapan lagi, Sehun tak lagi hidup di dunia yang sama dengannya. Dan Jongin tak ingin hidup di dunia yang berbeda dengan Sehun. Ia tak mau hidup sendirian tanpa Sehun.

Jadi, tiga hari dari sana, Jongin kembali muncul. Tidak di rumah Sehun. Tidak di rumah keluarganya. Namun di layar kaca.

Diberitakan seorang pemuda tewas di kamarnya di distrik A. Korban berhasil diidentifiksi sebagai Kim Jongin (25). Diduga korban tewas akibat kekurangan darah karena menyayat urat nadinya sendiri

END

Kan udah saya bilang alurnya crack :p
terserah deh mau nyebut ini happy-end or sad-end, haha

Maaf deh ya, bahasanya nyampur gini antara puitis sama alay, haha

Yang penting saya happy karena akhirnya ini selesai walau dengan ending yang tidak saya prediksi, hihi

Sampai jumpa di fanfict selanjutnya^^