Tittle : The Game is On
Disclaimer : semua tokoh di ff ini (kecuali para oc) bukan punya author, saya cuma pinjem nama doang.
Rated : T
Main Pair : Kyusung
Warning : oc bertebaran, typo merajalela, yaoi
A/N : Semua hal dalam ff ini kemungkinan besar bakalan beda jauh sama keadaan sesungguhnya di Korea (soalnya author udah jarang update soal Korsel) dan perawakan tokoh juga seinget author aja hehe (misal, Kris rambutnya masih pirang di ff ini, hehe)
.
Don't like don't read
.
Dorm masih sepi saat Yesung melangkah masuk. Hanya Kyuhyun yang tampak tergeletak tanpa tenaga di depan tv. Penampilannya berantakan, terlihat jelas kalau pria muda dihadapannya ini baru saja terlibat perkelahian.
Yesung hanya mendesah pelan dan bergegas pergi ke dapur. Ia membawa kantung berisi es di tangannya saat kembali ke ruang tv. "Lebih baik kau punya cerita yang hebat untuk menjelaskan ini pada Heechul hyung,"
"Ini demi kasus,"
Lagi desahan pelan keluar dari bibir Yesung. "Apa yang kau lakukan? Melompat kearah kawanan beruang yang marah?"
"Sebenarnya." Kyuhyun bangkit berdiri. Kesan lesu pada dirinya hilang seketika. "Aku tadi sudah berjalan-jalan sedikit ke kantor Tuan Park Min Hoon dan mengambil buku yang tertulis di pesan singkat yang diterima rekan kerja Tuan Park. Dan tebak buku apa itu."
Kyuhyun melempar sebuah kamus English-South Korea bersampul biru dihadapannya. "Kamus?"
"Ya, kamus Bahasa Inggris,"
"Setelah itu?"
"Aku pulang."
"Itu tidak menjelaskan kenapa wajahmu seperti baru saja dihajar 3 orang pria."
"Hanya 2 pria sebenarnya." Kyuhyun sudah akan melanjutkan kemajuan yang diraihnya seandainya Yesung tidak memberinya pandangan bertanya. "Kau benar-benar ingin tahu ya? Oke, begini, aku tidak masuk ke ruang kerja Tuan Park Min Hoon lewat pintu, dan sial bagiku, baru saja aku hendak pergi setelah mendapat kamus itu, sekertaris Tuan Park masuk dan menjerit memanggil keamanan, dan yah, mereka menghajarku, beruntung aku bisa tetap membawa buku ini."
"Dimana kau menyembunyikan kamus ini?"
"Silahkan tebak, sayang," balas Kyuhyun dengan seringai genit di wajahnya. Yesung berusaha sekuat tenaga agar tidak merona.
"Kenapa kau tidak masuk lewat pintu saja?"
Kyuhyun mendesah berat. "Rekan Tuan Park menerima pesan dari Tuan Park pada pukul 23.48, sedangkan Tuan Park baru meninggalkan kantornya pukul 00.07, apa yang bisa kau tangkap sejauh ini?"
Yesung tampak berpikir sebentar—tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dihadapan orang yang dicintainya—sebelum menjawab dengan suara ragu-ragu. "Tuan Park mengirim pesan pada rekannya saat masih di kantor."
"Tepat, kemampuan menarik kesimpulanmu membaik." Yesung diam-diam merasa bangga mendengar ucapan Kyuhyun. "Jadi Tuan Park mengganti seluruh tempat miting, memberi berbagai nomer ruang yang kelihatan tidak berarti, mengirim pesan pada orang yang kemungkinan tidak akan dicurigai oleh siapapun yang mengancam nyawanya, tepat beberapa menit sebelum pulang dan beberapa jam sebelum kematiannya, kenapa?"
Yesung tidak mengatakan apa-apa, memberi Kyuhyun kesempatan untuk menjelaskan seluruh kesimpulan yang sudah diambilnya.
"Siapapun yang membunuh Tuan Park tidak menemuinya di rumah—"
"—tapi di kantor."
"Tepat."
Untuk sesaat tidak ada yang bicara, sampai Yesung memecah keheningan. "Dua pria yang berencana menghabisi nyawanya mungkin menunggunya di rumah namun karena ia tak kunjung pulang mereka akhirnya menghampiri korbannya di kantor, bagaimana car—oh, itu sebabnya kau tidak masuk lewat pintu."
"benar sekali, Yesung hyungku yang manis. Hal yerbaik dalam mencari seorang criminal adalah mencoba berpikir dengan cara yang sama dengannya. Jadi aku datang ke kantornya hari ini, ngobrol sebentar dengan sekertarisnya, dan berkeliling di sekitar gedung. Dan aku dapat kesimpulan yang menarik. Tuan Park sudah merencanakan pesannya sebelum ia dihabisi, apa artinya?"
"Pria malang itu diancam dan ancaman itu sudah berlangsung cukup lama untuknya menyusun sebuah pesan."
"Tepat sekali. Jadi seseorang—atau dua orang—mengancam pria malang ini, mencuri ponselnya, dan akhirnya memutuskan untuk membunuhnya."
"Darimana kau tahu mereka mencuri ponselnya?"
"Tuan Park tidak mengirim pesan menggunakan nomernya yang biasa untuk mengirim pesan pada rekannya ataupun pacarnya—wanita malang yang menemukan tubuhnya pada pagi harinya—malam itu,"
"Mungkin saja dia sengaja menggunakan nomer ponselnya yang lain untuk mengecoh si pembunuh?"
"Dia depresi, Yesung hyung, ia ketakutan, dan bingung, dan itu tidak akan dilakukan oleh orang yang depresi, takut, dan bingung,"
Logis, pikir Yesung. "Apa isi pesan yang diterima kekasih Tuan Park?"
Kyuhyun diam, dan Yesung langsung tahu kalau apapun isi pesan itu benar-benar mengganggu perasaan Kyuhyun dan tidak membantu penyelidikan.
Jadi bukannya mendesak Kyuhyun untuk menjawab, Yesung melihat kembali pesan dari Tuan Park yang tersimpan di ponsel Kyuhyun. Dan mulai mencocokkan angka-angka di pesan itu dengan kata di dalam kamus.
"Wah, sepertinya Tuan Park membantu kita lebih banyak daripada yang kita kira—" Yesung menunjukkan beberapa halaman yang memiliki kata yang dilingkari dengan spidol merah. "halaman 341, save, halaman 219, love, halaman 157, he, tapi tidak ada halaman 1045,"
Kyuhyun menyambar kamus di tangan Yesung dan mulai membolak-balik halamannya. "1 bukan 10 bukan 14 bukan 15 bukan 4 bukan 44 bukan ah! Ini dia halaman 45, come,"
Yesung mengangguk dan mencatat kata baru tadi di samping 3 kata sebelumnya. "Oke, jadi kita punya save, love, he, dan come. Apa maksudnya?"
Kyuhyun mengangkat bahu. "Ada satu yang kutahu pasti, mungkin pembunuhnya berjumlah dua orang, tapi aku yakin hanya satu orang yang harus kita wapadai. Dan apa hubungan semua itu? Itu yang harus kita cari tahu,"
Diam-diam Yesung tersenyum mendengar kata 'kita' bukan 'aku', namun tiba-tiba sesuatu muncul di benaknya. "Kau tahu Kyu, aku akan menelpon Leeteuk hyung sekarang?"
"Apa? Untuk apa?"
Yesung tersenyum lembut sebelum dengan perlahan mendekati kursi tempat duduk Kyuhyun. Jemarinya yang kecil menyusuri wajah Kyuhyun yang sedikit bengkak. "Untuk mengatakan padanya kalau kau tidak sepenuhnya brengsek."
Kyuhyun hanya melempar pandangan bertanya. Jadi Yesung melanjutkan. "Kau menyelidikinya kan?" ucapnya sembari menyelipkan anak rambut Kyuhyun ke belakang telinganya. "Kenapa kau selalu bersikap brengsek, Kyu?"
Kyuhyun diam.
"Kau sayang pada Leeteuk hyung kan? Itu sebabnya tepat saat kau mendengar soal... tragedi itu kau langsung menghubungi Kevin dan memintanya memberimu izin untuk menyelidiki tragedi itu. Kau yang pertama kali mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah Leeteuk hyung. You're not the bad guy, so stop acting like one, okay?"
Kyuhyun mengangguk. Tidak ada yang berbicara setelahnya.
"Kapan terakhir kau bercermin?"
Suara Kyuhyun yang tiba-tiba nyaris membuat Yesung terlonjak. "A-apa?"
"Pernahkah kau menyadari kalau kau benar-benar manis?"
Yesung merona. Dia tidak pernah suka rayuan, namun entah kenapa ucapan Kyuhyun tadi membuatnya senang. Dan jantungnya hampir lompat keluar saat tiba-tiba wajah Kyuhyun sudah ada di depan wajahnya.
Terlalu dekat terlalu dekat, pikir Yesung panik.
Dan hal itu terjadi begitu saja. Kyuhyun menciumnya. Hanya ciuman biasa. Tidak ada saling beraba tubuh satu sama lain. Tidak ada memasukkan lidah ke mulut yang lain. Tidak ada apapun kecuali rasa manis dan kelembutan. Selama sedetik Yesung kaku seperti papan sebelum akhirnya membiarkan dirinya hanyut paca ciuman Kyuhyun yang manis. Pria manis itu bisa merasakan rasa manis tersendiri yang tidak pernah dirasakannya saat berciuman dengan siapapun.
Wajah keduanya merona merah saat tautan bibir mereka terlepas.
"Uh, em… yah," Kyuhyun tampak memilih kata-kata. "Aku harus pergi, kau tahu kan, aku hanya punya waktu satu hari untuk kasus ini, jadi yah… sampai ketemu nanti."
.
.
"Hanya itu?!"
Yesung memutar bola matanya. Ia sudah menduga itu yang akan dikatakan Heechul begitu ia selesai menceritakan apa yang baru saja dialaminya bersama Kyuhyun satu jam yang lalu.
"Kau membiarkannya menciummu dan pergi begitu saja?"
Yesung kembali mengerang kecil. "Hyung, Kyuhyun sedang sibuk, lagipula ciuman tadi belum tentu ada artinya. Mungkin dia hanya sedang… kau tahu, bingung, dan kebetulan sekali aku ada di tempat dan waktu yang salah."
"Atau," Heechul membela diri. "Dia mungkin sudah mencintaimu sejak lama, mungkin Kyuhyun yang brengsek itu diam-diam seseorang yang manis, dan kebetulan sekali kau ada di tempat dan waktu yang benar."
Baru saja Yesung akan membalas, ponselnya sudah lebih dulu memotong ucapannya. Pesan baru dari Kyuhyun.
Kutunggu di depan.
"Kyuhyun mengirimiku pesan, katanya 'kutunggu di depan'"
"Oke, nikmati harimu, manis. Kalau kau mau mendengar saran dari eomma mu ini, jangan dekat-dekatdengan Kasur untuk kencan pertama."
.
.
Hari sudah mendekati malam saat Kyuhyun kembali ke dorm. Semuanya tampak normal. Tidak ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tidak ada yang aneh. Kecuali…
"Hey, ada yang melihat Yesung hyung?"
Setiap pasang mata menatap Kyuhyun dengan pandangan aneh seolah ia baru saja bilang ia melihat mobil terbang. "Aku benci mengatakan ini, tapi kau menakutiku," ucap Heechul. "Yesung keluar denganmu kan? Siang tadi kau mengiriminya pesan, kan?"
"Apa? Aku tidak, ponselku hilang, mungkin jatuh saat ta—Oh Tuhan,"
Seluruh tubuh Kyuhyun serasa disiram air dingin. Seluruh fakta yang ada mendadak memiliki keterkatian dan masuk secara bersamaan ke dalam kepalanya.
Korban kehilangan ponselnya sebelum eksekusi.
Safe, love, he, come. Safe your love, he will come.
Selalu kekasihnya yang menemukan jasad korban.
Setiap korban diancam namun tidak bisa melakukan apapun. Kenapa?
"Karena seseorang yang mereka cintai ada di genggaman si pembunuh."
Kyuhyun nyaris terjatuh saat satu kesimpulan mengerikan keluar dari otaknya. Kyuhyunlah korban berikutnya. Ia akan mati hari ini. Hanya itu pilihannya. Ia yang mati, atau Yesung yang mati.
.
.
Kyuhyun seperti orang kesetanan saat berlari keluar dari dorm. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Oh, dia tahu. Dai harus menyelamatkan Yesung. Tapi bahkan otaknya tidak tahu harus mulai mencari darimana.
Dan saat itulah sebuah taksi melintas di depannya. Berbeda dengan taksi biasanya, taksi ini berkaca gelam sehingga nyaris tidak mungkin melihat siapa yang di dalamnya. Tapi Kyuhyun melihatnya. Yesung ada di dalam taksi itu. Berteriak menangis dan memohon pada Kyuhyun untuk menyelamatkannya.
Taksi itu terasa seperti bergerak dengan lambat di depan Kyuhyun dan langsung bergerak cepat begitu melewatinya.
Butuh sepersekian detik untuk Kyuhyun menyadari apa yang harus dilakukannya. Pria itu langsung memacu langkahnya dan berlari secepat yang ia bisa mengejar taksi itu.
Tapi apa daya, jaraknya dengan taksi itu semakin jauh. Kakinya yang panjang sekalipun tidak mungkin menandingi kecepatan kendaraan bermotor.
Jadi Kyuhyun menutup matanya dan mulai berpikir. Ia hafal dengan pasti setiap jalan di Seoul. Setiap tanda berhenti. Setiap lampu lalu linta. Setiap menit kapan lampu merah akan menyala. Setiap perempatan, pertigaan. Setiap tanda tidak boleh masuk. dan setiap jalan tikus.
Kyuhyun mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memikirkan kemungkinan kemana taksi itu akan melaju dan memikirkan setiap jalan tikus yang bisa dilewatinya agar bisa mengejar taksi itu.
Utara. Pertigaan, tidak boleh belok kiri. Kanan. Menghindari lampu merah. Kanan. Jalan buntu. Kembali. Kanan. Perempatan. Cukum jauh, terjebak lampu merah. Lurus. Tidak, kembali, jalan buntu. Kiri.
Kyuhyun tahu pasti kemana taksi itu akan pergi dan mulai berlari.
.
.
"Nah, nah, manis, bagaimana kalau kau menceritakan sedikit tentang pacarmu ini?"
Yesung tidak berkata apa-apa. Tubuhnya dikiat di kursi sedemikian rupa sehingga ia tidak bisa bergerak sama sekali. Dan satu set bom ber-timer—yang tertutup kaus yang dipakainya—terikat di perutnya. Tidak ada apapun yang menutup mulutnya sehingga—seharusnya—Yesung bisa berteriak meminta bantuan. Tapi ia terlalu takut untuk berteriak.
"Apa dia tampan?"
Tidak ada jawaban.
"Apa dia kasar di Kasur, manis?"
Yesung mengernyit.
"Dia lama sekali,"
Sudah sekitar lima menit semejak pria dihadapannya ini menarik Yesung keluar dari taksi yang membawa mereka ke tempat ini. Yesung tahu pasti tempat apa ini. Gedung ini seharusnya menjadi pusat perbelanjaan sebelum pembangunannya berhenti karena sesuatu yang tidak jelas.
Pria dihadapan Yesung sudah akan bersuara lagi saat suara langkah kaki terdengar dan tak lama Kyuhyun muncul. Napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran dari dahinya, namun Yesung berani bersumpah ada senyum kelegaan terpancar dari wajah Kyuhyun saat melihatnya. Dan itu membuat hati Yesung sakit, ia senang orang yang dicintainya datang, namun ia juga takut Kyuhyun akan terluka.
"Ah, akhirnya kau datang juga Tuan Cho, silahkan duduk,"
Pria tak dikenal tadi mendorong sebuah Kursi di depan Kyuhyun. Kyuhyun menatap pria itu marah namun ia tetap mengikuti permainan pria ini begitu Yesung yang tampak ketakutan.
"Perkenalkan, namaku Lee Sin Hoon."
Kyuhyun tidak berkata apa-apa, namun matanya memperhatikan pria dihadapannya dengan seksama, mencari apa motif dibalik kelakukannya. Ayah 1 anak? Bukan. Bercerai? Bukan. Rumah tangga berantakan? Terlalu dangkal. Pekerja serabutan? Tidak. Penjudi? Bukan. Pemabuk? Tidak ada hubungannya. Pecandu narkoba? Aha.
"Berapa banyak yang diberikan oleh bossmu untuk setiap pembunuhan?"
"Apa?"
"Ohoho, Tuan Lee, kumohon jangan membuat permainan ini lebih berat. Kau pecandu narkoba, namun kau menghabiskan uangmu untuk berjudi dan juga minuman keras, jadi kau harus mendapatkan uang dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat untuk memuaskan rasa hausmu akan narkoba. Jadi kuulangi pertanyaannya, berapa banyak yang kau terima setiap pembunuhan?"
Sin Hoon tertawa. "Luar biasa, Tuan Cho. Untuk menjawab pertanyaanmu, aku mendapat 90.000 won setiap pembunuhan, dan untuk membunuhmu aku mendapat 150.000 won. Aku tidak tahu apa yang sangat special tentang dirimu, tapi aku akan melakukan apapun untuk uang itu, termasuk—" pria itu bergerak ke belakang Yesung dan menempelkan pistol yang di bawanya ke pelipis Yesung. "—membunuh si manis ini."
Yesung seolah tersengat listrik. Ia mulai berontak. Tubuhnya bergerak sebisanya dalam upaya sia-sia menghindari pistol di pelipisnya. Bibirnya terus menerus mengeluarkan suara Antara isakan dan rengekan.
"Lihat diatasmu, Tuan Cho,"
Kyuhyun mengangkat kepalanya. Seutas tambang putih sudah tergantung dengan tenang di atasnya. Yesung semakin berontak. Ia tahu apa artinya ini. Ia tidak bodoh. Dan pria manis itu bingung mana yang lebih ditakutkannya, mati tertembak atau melihat orang yang sangat dicintainya mati digantung.
"Biasanya aku akan membiarkan mangsaku menulis catatan bunuh diri, tapi tidak perlu, terlalu lama, kita persingkat saja ya? kau, Cho Kyuhyun akan menggantung dirimu sendir di tampang itu atau aku akan meledakkan kepala pacarmu yang manis ini dengan pistol kesayanganku."
Rasanya Kyuhyun ingin sekali menghajar wajah Sin Hoon. Ia memperhatikan tambang putih diatasnya lalu pistol yang ada di tangan bajingan dihadapannya. Dan ia menyeringai.
"Aku pilih pistol."
Yesung membeku. Sementara Sin Hoon tampak mengumpat.
"Ada apa? Aku sudah menentukan pilihanku, lakukan."
Yesung menutup matanya. Dan pelatuk pistol pun ditarik. Suara ledakan pistol terdengar nyaring dan hampir membuat Yesung tulis. Tapi tidak ada peluru yang keluar.
"Peluru kosong," ucap Kyuhyun bangga. "Mungkin sebelum kau memutuskan untuk bermain denganku, kau lebih baik mempelajari terlebih dahulu seperti apa aku ini. Aku bisa membedakan mana pistol berisi peluru dan pistol peluru kosong dengan mudah. Jadi, kurasa sudah selesaikan? The game is over."
Sin Hoon tertawa. "Tidak, Tuan Cho, permainan baru saja dimulai."
Pria itu mengangkat kau yang dikenakan Yesung, menampakkan bom ber-timer yang terikan di perutnya. Dan time bom itu berjalan. 1 menit.
Sin Hoon tertawa. Yesung panik. Kyuhyun merasa bodoh.
Kyuhyun benci kalah. Dan ia baru saja dikalahkan. Bukan hanya kalah. Ia kalah dan akan mati. Atau ia kalah dan yesung mati ia juga mati.
Merasa terpojok, Kyuhyun sekali lagi melirik timer pada bom. 47 detik.
Menarik napas panjang, Kyuhyun menaiki kursi yang tadi didudukinya. Ini mudah, pikirnya. Kau hanya perlu meletakkan kepalamu di tambang dan semua akan berakhir.
Kyuhyun sudah meletakkan kepalanya pada ikatan yang tersedia pada tambang. Sekali lagi ia melihat pada timer. 29 detik.
Kyuhyun tersenyum ke arah Yesung yang tampak seperti orang kesetanan. Ia menjerit, berteriak, melakukan apapun yang bisa dilakukannya dalam posisi terikat untuk menghentikan Kyuhyun. Ia tidak peduli kalau ia harus mati ia hanya ingin Kyuhyun segera pergi dan baik-baik saja.
Satu tarikan napas panjang. Kyuhyun sudah akan menendang kursi tempat pijakannya saat terdengar letusan pistol. Lalu suara sesuatu terjatuh.
Dan hanya itu. semua selesai.
Timer di perut Yesung berhenti pada angka 17 detik. Yesung tampak baik-baik saja meskipun ketakutan setengah mati. Dan Lee Sin Hoon tergeletak di genangan darahnya sendiri. mati.
Tidak ada yang bicara. Kyuhyun dan Yesung masih sibuk mencerna kengerian yang baru saja terjadi. Bahkan tidak ada yang menyadari beberapa polisi sudah masuk dan mulai mengiring mereka keluar gedung.
.
.
Kevin tersenyum kecut melihat penampilan Kyuhyun yang berantakan. Demi apapun dia jauh lebih ingin berada di samping Yesung yang masih tampak ketakutan dan bingung. Namun tugasnya sebagai kepala polisi memaksanya mencari bukti sebanyak mungkin. Dan satu-satunya saksi yang mungkin bisa ditanyai adalah Kyuhyun.
Jadi Kevin menghampirinya. Pria dengan surai karemel itu tampak terganggu dengan selimut yang terus diberikan oleh petugas medis untuknya. "Yo, Grace, kenapa mereka terus menyelimutiku? Aku tidak kedinginan."
Kevin mendesah kesal. "Untuk kesekian kalinya, Kyu, namaku Kevin. Dan Grace nama perempuan! Selimut itu bukan untuk menghangatkanmu, itu untuk membuatmu… emm… lebih tenang kurasa."
"Selimut ini melakukan pekerjaannya dengan payah."
Saat itu Kevin menyadari tangan Kyuhyun yang gemetar parah. "Kau tahu Kyu, kau boleh pulang, nikmati sisa hari ini, aku sudah cukup senang kau dan Yesung baik-baik saja."
"Aku tahu siapa yang menembak Lee Sin Hoon."
Kevin menghentikan langkahnya. "Kau mendapat perhatianku, jagoan."
"Tapi aku tidak bisa memberitahumu sekarang, aku akan pulang, busa kau antarkan Yesung hyung pulang? Aku butuh sedikit… udara segar."
Kevin mendesah pasrah. "Terserah padamu, jagoan." Dan Kevin meninggalkan Kyuhyun sendirian.
Merasa sudah benar-benar sendirian dan tidak ada yang memperhatikan, Kyuhyun meninggalkan selimut merah menyedihkan itu dan mulai melangkah meninggalkan kerumunan polisi. Tangannya tak bisa berhenti gemetar namun ia harus menemui orang ini. Pembunuh Lee Sin Hoon.
"Choi Seunghyun,"
Seunghyun yang semejak tadi memperhatikan kerumunan polisi di hadapannya tidak bergerak sama sekali. Hanya matanya yang berkilat senang saat melihat Kyuhyun menghampirinya. "Hai, rekan artis, kau terlihat buruk."
Kyuhyun tersenyum kecut. Ia memang terlihat seperti sampah. Jadi dia hanya mengangkat bahunya.
"Tanganmu gemetar,"
"Yah," Kyuhyun berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Kurasa aku cukup tertekan dengan kasus ini. Satu pertanyaan, Choi Seunghyun, kenapa kau membunuhnya?"
Seunghyun tertawa. Jenis tawa yang akan membuatmu merinding sampai ke tulang. "Kenapa? Tentu saja karena dia sudah tidak kubutuhkan."
Kyuhyun hampir mengernyit jijik mendengar bagaimana mudahnya pria dihadapannya berkata begitu. Belum sempat ia menjawab, Seunghyun sudah mendahului. "Giliranku yang bertanya, bagaimana deskripsiku dari tembakan yang tadi kulancarkan."
"Kau tinggi."
"Bravo."
"Tanganmu kuat."
"Mengagumkan."
"Kau penembak jitu."
"Kesimpulannya?"
Kyuhyun menyeringai. "Ini bukan pembunuhan pertamamu."
Seunghyun balas menyeringai. "Selamat datang di permainanku, Cho Kyuhyun. Oh lihat tanganmu sudah tidak gemetar." Seunghyun menyeringai semakin lebar. "Kau tidak tertekan karena kasus ini, Kyuhyun, kau tahu itu. kau tertekan karena kau tahu kasusmu selesai. Kau tidak takut akan kekalahan, Kyuhyun, kau takut kehilangan permainanmu."
"Apa intinya."
"Intinya adalah, aku mengundangmu masuk ke permainanku. Sebenarnya, aku memaksamu masuk ke permainanku."
Kyuhyun hanya mengangguk. "The game is on, apa peraturannya?"
Seunghyun tertawa senang. "Hanya satu peraturan, yaitu tidak ada yang boleh keluar dari permainan sampai permainan ini selesai. Sampai salah satunya menang dan yang lainnya kalah. Dan, hanya ada satu hukuman bagi yang kalah."
"Apa?"
"Mati."
.
.
TBC
.
Maaf yaaa, updatenya telat, tapi ini lumayan panjang kan
Thanks for reading, seperti biasa kalau ada yang ga ngerti bisa langsung Tanya aja.
Oh, ada yang Tanya, Kevin Lee itu siapa. Jadi, Kevin Lee itu oc punya author.
Oke deh, Review Please ^_^
