Tittle : The Game is On
Disclaimer : semua tokoh di ff ini (kecuali para oc) bukan punya author, saya cuma pinjem nama doang.
Rated : T
Main Pair : Kyusung
Warning : oc bertebaran, typo merajalela, yaoi
A/N : Semua hal dalam ff ini kemungkinan besar bakalan beda jauh sama keadaan sesungguhnya di Korea (soalnya author udah jarang update soal Korsel) dan perawakan tokoh juga seinget author aja hehe (misal, Kris rambutnya masih pirang di ff ini, hehe)
.
Don't like don't read
.
Kyuhyun benar-benar dalam suasana hati yang baik saat kembali ke dorm super junior. Seunghyun sudah sepakat tidak akan menempatkan Yesung dalam posisi yang berbahaya selama mereka bermain. Kevin juga sudah memastikan kalau Yesung sudah tiba di dorm dengan selamat. Yesung baik-baik saja dan mungkin mereka bisa berkencan kapan-kapan. Intinya adalah, Kyuhyun sedang senang.
Namun semua perasaan senangnya lenyap seketika saat menyadari betapa ramainya dorm super junior. Seluruh member super junior—dan saat Kyuhyun bilang seluruh itu artinya seluruh. Menager super junior. Keluarganya dan keluarga Yesung. Kyuhyun tidak tahu bagaimana mungkin dormnya yang sempit ini bisa menampung begitu banyak orang.
Sesaat tidak ada yang bersuara saat Kyuhyun memasuki dorm. Seakan semuanya seolah bergerak dengan lambat saat Kyuhyun melangkahkan kakinya dan perlahan menutup pintu di belakangnya. Namun sebelum ia sempat mengatakan apapun, ibunya sudah lebih dulu memeluknya dengan erat.
"Kyu… anakku… Oh Tuhan, kau baik-baik saja, kan?"
Kyuhyun terlalu kaget untuk menjawab atau bahkan mencerna apa yang baru saja diucapkan ibunya. Dan diamnya Kyuhyun justru membuat Mrs.Cho semakin panik. Bahkan ayah dan kakaknya juga mulai mengerumuninya.
"Tentu, ah… eomma, tentu aku baik-baik saja," ucap Kyuhyun pada akhirnya. Matanya memandang lembut ke arah ibunya yang tampak sudah akan menangis. Kyuhyun tahu jawaban itu tidak akan memuaskan ibunya, jadi pria tinggi itu segera memeluk ibunya dan mengecup keningnya. Sebrengsek apapun Kyuhyun, ia tidak tahan melihat ibunya ketakutan seperti ini.
Kyuhyun mungkin akan lebih lama memeluk ibunya seandainya perhatiannya tidak teralihkan oleh suara pintu yang terbuka. Jantungnya seolah jungkir balik saat melihat Yesung keluar dari kamarnya. Penampilannya sedikit berantakan, sorot matanya pun masih tampak waspada, tapi lepas dari semua itu, dia baik-baik saja.
Kyuhyun berhutang pada Kevin untuk itu.
"Hei," ucap Yesung diselingi senyum. Senyumnya lemah dan lelah, tapi paling tidak dia tersenyum dan senyumnya tetap manis seperti biasanya. Kyuhyun mati-matian menahan agar wajahnya tidak memerah.
Tidak mempercayai suaranya untuk menjawab, jadi Kyuhyun hanya mengangkat tangannya dengan gugup. Ia bisa melihat Heechul, Sungmin, dan Ryeowook terkikik melihat tingkahnya yang jelas tampak gugup.
Yesung melangkah mendekati Kyuhyun. Kejadian beberapa saat yang lalu masih menghantuinya. Semuanya. Tambang. Bom. Pistol. Seluruh hal mengerikan yang baru saja dialaminya terus berputar di otaknya. Namun yang paling mengganggu Yesung adalah fakta bahwa ia hampir saja kehilangan Kyuhyun. Kyuhyun memang selamat tapi ia mendadak pergi begitu saja dari tempat kejadian. Yesung tahu ini terdengar bodoh, Kevin sudah meyakinkannya kalau Kyuhyun baik-baik saja, tapi ia harus memastikan kalau Kyuhyun benar-benar baik-baik saja. Di saat seperti ini, Yesung tidak menginginkan apapun selain memeluk Kyuhyun dan memastikan pria bersurai karamel di hadapannya tidak akan pergi kemanapun.
Tapi sial baginya, adiknya tercinta sudah lebih dulu berada di depan Kyuhyun. Menonjoknya di wajah.
Butuh beberapa detik bagi Yesung untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Jong Jin menonjok Kyuhyun. Kyuhyun kesakitan di lantai. Mrs. Cho menjerit. Mrs. Kim juga menjerit. Jong Jin terus berusaha menghajar Kyuhyun. Damn.
"STOP! FUCKING STOP IT!"
Yesung segera berlari ke samping Kyuhyun dan memeluknya begitu melihat kalau Kyuhyun sama sekali tidak melakukan perlawanan. Beruntung beberapa orang—entah siapa, Yesung tidak peduli—sudah menarik Jong Jin menjauh sehingga Yesung tidak harus terkena pukulannya.
Kyuhyun hanya menatap Jong Jin dengan pandangan tidak bersemangat sementara Yesung terlihat akan menangis saat melihat wajah Kyuhyun yang babak belur. Selama beberapa saat tidak ada suara sama sekali, sebelum suara tawa Kyuhyun memecah suasana.
Setiap pasang mata yang melihat Kyuhyun bangkit perlahan hanya dapat memandangnya aneh. Orang ini gila. Mungkin itu yang ada di pikiran mereka. Sedetik Kyuhyun tertawa seperti orang gila dan detik berikutnya ia tampak marah.
"Apa maumu anak kecil?"
Dengan perlahan Kyuhyun mendekati Jong Jin, tidak memperdulikan Mrs. Kim yang mulai menyadari hawa berbahaya Kyuhyun. Sementara Jong Jin masih menatap Kyuhyun tajam, tidak terpengaruh sama sekali dengan hawa membunuh yang dipancarkan Kyuhyun.
"Kau seharusnya melindunginya," ucap Jong Jin yang lebih terdengar seperti geraman. Detik itu Yesung sadar dirinyalah yang menyebabkan Jong Jin menghajar Kyuhyun tadi. Di saat seperti ini Yesung tidak tahu harus marah atau terharu atas sikap adiknya.
"Aku melindunginya,"
"Wah, kau melakukan tugasmu dengan sangat baik." Jong Jin tampak semakin marah melihat wajah Kyuhyun yang tampak bingung. "Yesung hyung hampir mati, kau tahu itu kan?! Hyungku. Hampir. Mati. Dan tebak salah siapa itu?"
"Jong Jin-ah…" Yesung mencoba menengahi pertengkaran Antara adiknya dan calon kekasihnya. Meskipun usahanya sia-sia.
"Well, mungkin kau lupa satu detail panting, anak manis, aku juga hampir mati."
"Aku tidak peduli apa kau hampir mati atau tidak? Silahkan kalau kau mau bermain detektif sampai mati, tapi jangan bawa-bawa hyungku kalau kau tidak bisa menjaganya dengan benar!"
"Apa-apaan itu?! maksudmu Yesung akan lebih baik jika kau yang melindunginya?!"
"Bukan begitu maksudku—"
"Lalu apa?! Dengar, kalau bukan karena aku, mungkin Yesung hyungmu tercinta ini sudah menjadi korban bajingan-bajingan di luar sana!"
Yesung meringis mendengar penjelasan Kyuhyun. Tapi itu memang benar, kalau bukan karena Kyuhyun yang selalu disampingnya, mungkin Yesung sudah menjadi santapan empuk bagi para penjahat.
"Dan dengarkan ini, bajingan kecil," mulai Kyuhyun dengan suara serendah dan semenakutkan mungkin. "Aku tidak perlu otot seperi Siwon untuk bisa menghabisimu, kalau aku mau, aku bisa menhabisimu sekarang juga. Aku bisa mempermalukanmu, aku bisa menghabisimu dengan perlahan, aku bisa—"
Sebelum Kyuhyun bisa menyelesaikan pidatonya, Mrs. Kim sudah bangkit dan menamparnya dengan keras. "Dengan segala hormat, Mr. Cho, saya tahu anda jenius, tapi anda tidak punya hak sama sekali untuk bicara seperti itu pada anak saya."
Kyuhyun terdiam sejenak, sebelum kembali membuka mulutnya. Yesung berdoa semoga apapun yang akan dikatakan tidak akan memperburuk keadaan. "Intinya adalah," ucap Kyuhyun dengan lembut, matanya sesekali melirik ke arah Yesung. "Aku bersumpah aku akan melindungi Yesung dengan nyawaku."
Belum sempat siapapun bereaksi, Kyuhyun sudah—lagi-lagi—mendahului. "Lagi pula," mulainya, sorot batanya tampak sangat senang sekaligus bingung secara tiba-tiba. "Kita sedang berkumpul bersama, tidak baikkan kalau kita justru bertengkar. Kibum, tumben sekali kau main kemari,"
Kibum hampir tampak seperti rusa yang dikejar serigala. "Ah, kudengar sedang ada masalah, jadi… em… aku datang, lagipu—apa yang sedang kau lihat?"
Bukannya memperhatikan ucapan Kibum, perhatian Kyuhyun justru tertuju pada jendela—bukan—tepatnya apa yang dilihatnya dari jendela. Sudah hafal dengan sikap Kyuhyun yang seperti ini, Yesung berdiri, melihat sendiri apa yang begitu menarik perhatian Kyuhyun, dan mau tidak mau ikut merasa penasaran.
Dari jendela tampak Kevin yang sedang mondar-mandir dengan membawa kotak yang cukup besar. Jelas sekali polisi berbadan besar itu sedang mempertimbangkan apakan ia harus masuk atau tidak. Dan pada akhirnya, dia memutuskan. Dia masuk.
"Nah, semuanya," lagi-lagi Kyuhyun buka suara. "Mungkin kalian sering bertanya-tanya apa yang sebenarnya kulakukan selain menjadi badut di atas panggung. Nah, sekarang, aku punya jawabannya, hadirin sekalian, kuperkenalkan pada kalian, polisi raksasa yang selama ini selalu memberiku permainan yang menarik—"
Kyuhyun membuka pintu dorm dan Kevin masuk dengan mulut terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu.
"—David Lee,"
Apapun yang hendak dikatakan Kevin hilang begitu saja saat mendengar ucapan Kyuhyun. "Kau memanggilku apa barusan?"
Seolah tidak mendengar apapun, Kyuhyun terus mengoceh. "Nah, David, kau punya apa untukku di malam yang cerah ini?"
Kevin memandang Yesung, meminta penjelasan atas kelakuan aneh Kyuhyun. Yesung hanya mengangkat bahu. "Well," mulai polisi tinggi tersebut. "Pertama-tama, namaku Kevin dan malam ini tidak cerah sama sekali. Anyway, maaf aku mengganggumu seperti ini, tapi benda ini ada di kantorku,"
Benda yang dimaksud Kevin adalah kotak yang sejak tadi masih berada di tangannya. Di depan kotak itu tertulis 'untuk temanku yang baik, Cho Kyuhyun'. Tulisannya sangat jelek hingga Yesung sendiri takjub bagaimana bisa ia membacanya.
Kyuhyun merebut kotak itu dari Kevin dengan kasar namun setelah itu memperlakukan kotak tersebut dengan sangat lembut dan hati-hati seolah kotak itu bisa pecah. Ia meletakkan kotak itu di lantai dengan hati-hati sebelum mulai mengelilingi kotak itu. matanya terus memperhatikan kotak tersebut dari segala sisi sementara otaknya merancang berbagai kemungkinan alasan kotak itu diberikan padanya.
"Boleh kutanya satu hal, Kyu?"
Kyuhyun hanya mengangkat bahunya sedikit sebagai jawaban dari pertanyaan Kevin.
"Kenapa kau tidak pernah bisa mengingat nama depanku tapi bisa mengingat margaku?"
Kyuhyun mengeluarkan suara seperti rengekan. "Soalnya, margamu mudah diingat."
Kevin menampilkan wajah nama-depanku-juga-mudah-diingat-seberapa-sulit-sih-untuk-mengingat-kevin?
"Maksudku," lanjut Kyuhyun. "Banyak orang bernama Lee, Lee Donghae, Lee Min Ho, Lee Seung Gi, Lee Siwon,"
"Margaku bukan Lee," protes Siwon.
"Oh, benarkah? Lalu siapa?"
"Choi,"
"Oh ya? kenapa kau tidak pernah memberitahuku? Senang bekerja denganmu Mr. Choi,"
Yesung bingung antara harus memarahi Kyuhyun karena tidak sopan atau tertawa melihat wajah Siwon yang tampak bingung. Akhirnya ia memilih untuk diam dan memperhatikan Kyuhyun yang masih memperhatikan kotak dihadapannya dengan perhatian yang diberikan anak kecil pada sekotak permen.
Kyuhyun berdiri, lalu jongkok, lalu tiarap. Dan setelah merasa puas dengan apa yang ada di luar kotak—meskipun kelihatannya tidak ada apa-apa, tapi siapa yang bisa menebak pikiran Kyuhyun?—pria berambut karamel itu kembali berdiri dan menghampiri polisi tinggi yang sempat dilupakannya. "Berikan aku sarung tangan lateks mu."
Kevin menatap Kyuhyun aneh, berusaha mencerna maksud terselubung dari ucapannya yang tiba-tiba. "Apa?"
"Aku mau kau memproses kotak ini di lab mu yang suram itu dan aku tidak mau sidik jariku ditemukan di kotak ini."
"Tapi kau sudah menyentuh kotak itu tadi," protes Kevin meskipun akhirnya ia tetap memberikan sepasang sarung tangan lateks yang belum pernah digunakannya.
Kyuhyun, tentu saja, tidak memperdulikan ucapan Kevin karena dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Jadi dia kembali melakukan kegiatannya. Dengan hati-hati ia mengenakan sarung tangan barunya dan dengan sangat perlahan membuka kotak itu.
Tidak jarang Kyuhyun memarahinya karena dianggap terlalu mengganggu padahal ia hanya penasaran, namun kali ini Yesung benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dan rasa penasaran Yesung tidak berkurang sedikitpun saat melihat Kyuhyun mengeluarkan sebuah toples berisi lumpur dari dalam kotak itu. Toples itu terbuat dari plastik dan cukup besar, mungkin cukup untuk meletakkan kepala pria dewasa dewasa di dalamnya. Tapi bukan toples atau lumpurnya yang menarik perhatian Yesung.
"Darah."
Setiap orang yang ada di ruangan itu tampak terkejut sekaligus jijik saat melihat salah satu sisi toples itu tertutup sepenuhnya oleh darah. Mrs. Cho tampak sudah akan muntah namun tetap berusaha menguatkan dirinya karena mau tidak mau ia penasaran dengan apa yang selama ini dilakukan anaknya.
Kyuhyun benar-benar berkonsentrasi pada toples di tangannya, bahkan tidak menyadari Yesung yang sudah beranjak dari tempatnya, pergi ke kamarnya dan kembali dengan sarung tangan lateks miliknya sendiri. Kyuhyun dan Yesung sudah menyepakati secara tidak langsung kesepakatan tentang kapan Yesung harus mulai masuk ke pengamatan. Dan inilah saatnya.
Mengenyampingkan rasa mualnya melihat darah sebanyak itu, Yesung memulai pekerjaannya. "Darahnya kering," ucapnya sembari memperhatikan noda merah besar yang mengotori toples.
Merasa kalau Kyuhyun akan lebih senang mempelajari toplesnya sendiri, Yesung mengalihkan perhatiannya pada bagian dalam kotak. Bagian dalam kotak juga dilumuri darah kering, persis seperti yang melumuri salah satu sisi kotak. Tapi ada hal lain yang menarik perhatian Yesung. "Kevin," panggil Yesung.
Kevin mendekati Yesung perlahan, memberi pandangan meminta maaf pada orang tua Yesung dan Kyuhyun karena merasa merusak waktu bersama mereka. Bahkan dalam posisi jongkok Kevin masih tampak tinggi. Dan tubuhnya yang besar membuat Yesung semakin terlihat kecil.
Kevin melihat ke dalam kotak yang masih diproses oleh Yesung, bertanya tanpa suara apa yang menarik perhatian Yesung.
"Menurutmu apa ini?," Tanya Yesung sembari menunjuk butiran mirip kristal yang tersebar di sisi kotak yang tidak dilumuri darah kering.
"Aku tidak tahu," jawab Kevin, sementara Yesung sudah memindahkan butiran tadi ke dalam plastik kecil dan memberikannya pada Kevin. "Akan kubawa ini ke lab untuk di proses, ada lagi yang harus kubawa ke lab?"
Sebelum Yesung bisa menjawab, Kyuhyun sudah lebih dulu mendahuluinya. "Tentu saja ada," ucapnya dengan suara mendekati kesal. "Katakan padaku pendapatmu, polisi raksasa, apa ini?"
Jari kyuhyun yang tertutup lateks menunjuk noda berbentuk jemari yang setengah tertutup oleh darah. Noda itu berwarna merah muda yang lumayan mencolok seperti warna mawar. Yesung tidak tahu apa yang aneh dari noda itu, tapi Kyuhyun selalu punya jalan pikiran yang berbeda dengan kebanyakan orang.
Kevin hanya diam, mulutnya beberapa kali membuka seolah akan menjawab, meskipun pada akhirnya dia hanya diam.
"Tidak ada masalah dengan berkata kau tidak tahu," ucap Kyuhyun acuh tak acuh. "Itu alasan kau punya lab dengan puluhan ilmuanmu yang membosankan itu,"
Yesung hanya meringis mendengar ucapan Kyuhyun, sedangkan Kevin hanya mendesah kasar. Dulu, saat pertama kali bekerja sama dengan Kyuhyun, sering kali rekan sesama polisinya harus menahannya agar tidak menghajar Kyuhyun sampai mati. Tapi sepertinya dia mulai terbiasa sekarang.
Tidak ada percakapan lagi setelahnya, Yesung dan Kevin masih memperhatikan bagian dalam kotak dan baru berhenti setelah merasa tidak ada yang bisa mereka dapatkan lagi. Sementara Kyuhyun masih memperhatiakan toples di tangannya dan berhenti hampir bersamaan dengan Yesung dan Kevin.
Masih dengan kehati-hatian yang menakjubkan, Kyuhyun meletakkan toplesnya di lantai dan dengan perlahan membuka tutupnya. Kyuhyun memasukkan tangannya ke dalam lumpur karena dengan lumpur sepekat itu sangat tidak mungkin untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Kyuhyun tersenyum puas saat merasa menemukan sesuatu. Dengan senyum puas, ia mengangkat benda yang ditemukannya.
Reaksi setiap orang di sekeliling mereka sangat keras. Yesung bisa mendengar suara jeritan wanita, suara orang yang muntah, dan suara tubuh yang terduduk lemas. Tapi ia tidak bisa melepaskan perhatiannya sama sekali dari apa yang detemukan Kyuhyun di dalam lumur.
Kevin sudah bertahun-tahun bekerja sebagai polisi dan bukan pertama kali melihat hal yang aneh. Tapi kali ini ia harus berusaha mati-matian agar tidak muntah atau yang terburuk, pingsan.
Tidak ada yang bersuara sama sekali untuk beberapa menit. Sebelum suara Kibum yang terdengar gemetar memecah kesunyian. "What the heck is that?!"
Kyuhyun tersenyum lebar. jemarinya yang tertutup lateks terus menyurusi helaian rambut yang ternodai lumpur di tangannya. Suaranya tenang saat menjwab, tak ada jejak rasa jijik, takut, atau apapun.
Ingat saat Yesung mendeskripsikan ukuran toples itu? Kepala pria dewasa pasti dapat dengan mudah masuk ke dalamnya. Dan siapapun pelakunya, benar-benar memilih toples dengan tepat, kerena di tangan Kyuhyun, sepotong kepala pria diwasa sedang menatap setiap orang di ruangan itu dengan kosong.
"This is my new toy."
.
.
TBC
.
Maaf yaaaa baru update, baru dapet inspirasi nih, hehe
Thanks for reading
Review please? ^_^
