"Begini, Shin-chan.. Kau tidak perlu merasa terbebani dengan semua itu.. Kau tidak perlu lagi mengawasiku, bahkan memastikanku makan seperti ini."

"Kau tidak perlu datang lagi kemari,Shin-chan.. Aku berjanji akan makan dengan baik.. dan juga aku bisa merawat diriku.. Karena itu, Shin-chan tidak perlu memikirkanku lagi.. Jangan terbebani dengan kata-kata Kazu-kun, oke?"

.

.

The Pain of Unforgettable

Chapter 3

Midorima Shintarou x Takao's Mom (OC)

Warning: Death Takao, Pedo, Shota, 15 age gap, etc.

Enjoy Reading!

.

.

.

Semua kalimat dan ucapan Yuzuki itu masih saja memenuhi otaknya. Meskipun tampaknya Shintarou baik-baik saja, mengikuti pelajaran dengan benar, serta latihan basket seperti biasanya, dalam pikirannya hal yang terjadi beberapa hari lalu masih saja terus berputar didalam otaknya. Dia dan Yuzuki tidak pernah bertemu lagi setelah itu.

'Jangan terbebani dengan kata-kata Kazu-kun, oke?'

Salah. Yuzuki benar-benar salah. Shintarou tidak terbebani dengan kata-kata Kazunari. Dia melakukan semua ini atas keinginannya. Dia melakukan semuanya tulus dari dalam hatinya. Dia ingin wanita itu bisa lepas dari belenggu kematian anaknya dan kembali ceria seperti dulu.

Namun apa yang bisa dilakukannya?

(Shin..)

Apa yang bisa membuat wanita itu lepas dari bebannya?

(Onii-chan..)

Kazunari. Jika Kazunari kembali, pasti wanita itu akan bahagia.

(Shintarou.)

(Onii-chan.)

Tetapi.. Sangat tidak mungkin bukan untuk mengembalikan Kazunari kembali ke dunia?

"SHINTAROU/ONII-CHAN!"

Suara triakan dari ibu serta adiknya itu membuyarkan Shintarou dari lamunan nistanya. Sejenak dia membenarkan posisi kacamatanya sebelum bertanya ada apa.

"Onii-chan! Kau jadi aneh! Sejak tadi aku dan Kaa-san memanggilmu!"

"Benar, Shin! Apa yang terjadi padamu? Kau terus melamun disaat kami memanggilmu!"

"Apa Onii-chan habis ditolak?"

JLEB

Kata-kata adiknya barusan cukup menusuk kedalam hati Shintarou. Sebenarnya ucapan adiknya itu tidak sepenuhnya betul, namun juga tidak salah. Memang rasanya Shintarou seperti baru saja ditolak.

"Shiinnnn?" Ibunya melambai-lambaikan tangannya didepan Shintarou. Kembali memastikan apa putranya itu baik-baik saja.

"Ah.. Ada apa nodayo?"

"Jadi kata-kata adikmu itu benar ya? Kau baru saja ditolak?"

Wajah Shintarou langsung memerah. "T-tentu saja tidak nodayo!"

"Ahahahahahaha! Wajah Onii-chan merah!"

"Diamlah! Jadi ada apa kalian memanggilku?"

"Awalnya Kaa-san ingin meminta tolong padamu untuk membeli beberapa bahan makanan di supermarket... Tapi rasanya kau sedang dalam kondisi yang tidak baik ya? Apa kau sakit?" Ibu Shintarou memeriksa kening putranya itu, namun suhunya normal-normal saja.

"Aku tidak sakit nodayo." Sekali lagi Shintarou membenarkan posisi kacamatanya yang sebenarnya tidak berubah. "Akan kubelikan."

"EEEHHH?!"

Tentu saja adik Shintarou dan ibunya itu terkejut. Selama ini Shintarou tidak pernah begitu saja menyetujuinya. Tetapi kali ini pemuda hijau itu langsung menyetujuinya tanpa basa-basi tsunderenya seperti biasa. Akhirnya beberapa lembar uang serta daftar belanjaan sampai di tangan Shintarou. "Onegaishimasu, Shin.. Itterasshai.."

"Onii-chan, jangan lupa belikan aku maiubo seperti biasanya!"

Shintarou segera menuju pintu keluar rumahnya dan memakai sepatu. Setelah itu segera berjalan menuju supermarket sesuai tujuannya. Mungkin dengan berjalan-jalan sebentar itu akan membuat pikirannya sedikit jernih.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Shintarou untuk sampai ke supermarket. Hanya dengan berjalan kaki saja sepuluh menit maka dirinya akan sampai ke supermarket dimana ibunya belanja biasanya. Shintarou segera mengambil keranjang belanjaan dan berjalan kearah tempat-tempat yang menjual barang sesuai daftar belanjaan ibunya.

Sampai...

"Shin-chan?"

Yuzuki menyapanya. Wanita itu sedang belanja beberapa macam sayuran yang sepertinya untuk bahan makanan yang akan dimasaknya. Walau jumlahnya tidak banyak, namun dari porsinya itu lebih dari cukup untuk dirinya.

"Konbanwa, Takao-san."

"Kebetulan sekali kita bertemu disini, Shin-chan! Sedang belanja untuk makan malam?"

"Begitulah.."

Shintarou masih saja tidak bisa melupakan kata-kata wanita didepannya beberapa hari lalu. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu berkata untuk tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Berkat itulah dia masih saja bingung bagaimana menghadapi Yuzuki.

"Kalau begitu sampai jumpa, Shin-chan! Sampaikan salamku untuk keluargamu.." Yuzuki pun kembali berjalan ke kasir dan meninggalkan pemuda itu.

Shintarou hanya bisa diam dan membeku untuk sesaat. Wanita itu adalah orang yang sedang tidak ingin ditemuinya sekarang. Lebih tepatnya, dia tidak tahu wajah apa yang harus dipasangnya ketika bertemu Yuzuki. Namun hatinya juga lega. Melihat wanita itu tidak apa-apa dan berbelanja bahan makanan disini, membuat hati Shintarou sedikit lega. Setidaknya wanita itu benar-benar melakukan apa yang diucapkannya beberapa hari lalu.

Yuzuki mulai mengurus dirinya sendiri...

.

.

.

.

.

.

"Tadaima.."

Yuzuki masih saja mengucapkan hal itu meskipun kini tidak ada siapapun di rumahnya. Dia melepas sepatunya dan segera berjalan memasuki ruang tamunya. Dimana altar Kazunari berada disana. "Tadaima, Kazu-kun.." Ucapnya lagi.

"Okaa-san membeli bahan makanan kesukaanmu lagi. Jadi tunggu sebentar ya.."

Yuzuki segera pergi ke dapur sambil membawa kantong plastik supermarket tadi. Memasak makanan kesukaan putranya seperti biasanya yang berujung hanya diletakkan didepan altar.

"Omatase, Kazu-kun.." Yuzuki meletakkan semangkuk kimchi yang dibawanya dan diletakkan didepan altar Kazunari. Setelah itu dirinya ikut duduk didepannya.

Masakan yang baru saja dibuatnya itu, hanya untuk Kazunari. Bukan untuk mengisi perutnya..

"Nee, Kazu-kun.. Tadi Okaa-san bertemu dengan Shin-chan.. Setelah beberapa hari ini Okaa-san tidak bertemu dengannya.." Ada tawa kecil yang terdengar dipaksakan dari suaranya.

"Tapi syukurlah.. Dengan begini Shin-chan tidak akan terbebani oleh Okaa-san lagi.. Shin-chan terlalu baik, benar begitu bukan?"

Yuzuki tetap tersenyum didepan altar anaknya itu sambil berbincang-bincang. Tidak merasakan lapar meskipun sejak tadi pagi dirinya belum makan sama sekali.

"Jujur.. Okaa-san tidak mengerti.. Kenapa Shin-chan mau mengurus wanita merepotkan seperti Okaa-san? Padahal dia bisa menggunakan waktunya itu untuk belajar atau hal yang lainnya daripada untuk mengurus Okaa-san. Benar begitu bukan?"

Foto Kazunari yang dibingkai dengan frame foto berbahan kayu itu diambil oleh Yuzuki. "Tetapi teman-teman Kazu-kun yang lain juga baik.. Kimura-san dan anaknya masih tetap menyapa Okaa-san meskipun Okaa-san sudah tidak pernah membeli buah disana lagi. Selain itu Miyaji-kun juga menyapa Okaa-san disaat kita bertemu di suatu tempat.. Teman-teman Kazu-kun benar-benar baik ya?"

Air mata kembali keluar dari pelupuk mata wanita itu. Namun bibirnya masih melengkung keatas. Menunjukkan senyumannya yang benar-benar dipaksakan.

"Karena itu.. Kenapa Kazu-kun harus pergi terlebih dahulu? Padahal... Kau mempunyai banyak teman.. Dan juga.. Kamu masih bisa meraih mimpimu.. Kenapa kau pergi secepat itu.. Okaa-san sudah tidak punya siapa-siapa lagi.." Katanya lagi dengan isak tangis yang semakin deras.

"Nee.. Kazu-kun.. Sebentar lagi, kita akan bertemu bukan?"

.

.

.

.

.

.

.

Sore itu Shintarou berjalan pulang kearah rumahnya seperti biasa setelah kegiatan klub basket. Dirinya masih mengingat jelas kejadian beberapa hari lalu disaat dirinya bertemu dengan Yuzuki. Teringat saat Yuzuki membeli bahan makanan saat itu.

Semua itu.. Untuk dirinya bukan?

Saat itu Shintarou cukup lega karena dia kira wanita itu mulai memperhatikan dirinya. Namun beberapa saat kemudian kekhawatiran mulai menggerogoti otaknya. Apa benar Yuzuki membeli semua itu untuk dirinya?

Sial. Seharusnya Shintarou meletakkan CCTV diam-diam di rumah Yuzuki dan memantaunya. Memikirkannya hanya semakin membuat dirinya khawatir. Apa setelah ini dia harus mengunjunginya lagi? Tetapi saat itu Yuzuki mengatakan padanya kalau dia tidak perlu datang lagi. Apa wanita itu tidak senang dengan kehadirannya?

Dan untuk yang kedua kalinya keajaiban terjadi..

Lamunan Shintarou terhenti karena melihat sosok wanita yang dipikirkannya selama ini, sedang berada didepannya.

"Takao-san?"

"A-aah.. Konbanwa, Shin-chan.."

Shintarou memperhatikan wanita dewasa itu yang membawa kardus berisikan beberapa barang. Apa jangan-jangan...

"Takao-san.. Itu.."

"Begitulah. Aku baru saja dipecat dari tempat kerjaku.." Kata Yuzuki sambil tersenyum pahit.

Dugaan Shintarou benar. Orang yang membawa pulang barang-barang seperti itu biasanya dia mengalami pemecatan. Shintarou juga dapat membayangkan apa yang membuat wanita ini dipecat. Pasti karena pikirannya yang sangat terbebeani itu.

"Takao-san.."

"Kalau begitu aku duluan, Shin-chan! Aku harus membereskan semua ini. Jaa-nee.." Dan wanita itu kembali meninggalkan Shintarou.

Dan lagi-lagi Shintarou hanya bisa diam sambil melihat wanita itu berjalan membelakanginya dan menjauh..

.

.

.

.

.

.

Ditengah-tengah kegiatannya yang tidak melakukan apa-apa, Shintarou merasa ponselnya bergetar. Dan saat melihat layarnya, dia jadi ragu mengangkatnya atau tidak karena sang penelpon adalah senpai yang berulang kali mengancamnya akan melempar kepalanya dengan nanas. Kali ini ada apa gerangan? Akhirnya Shintarou memilih untuk mengangkatnya daripada dia harus dilempar nanas. Setidaknya yang menelpon bukanlah pemuda kuning pengganggu dari kaijou itu.

"Ada apa, Miyaji-san?"

"Kau titip dua buah postcard miu-miu-chan bukan? Tadi aku sudah membelinya!"

"Ah, begitu. Terima kasih banyak. Besok pagi aku akan mengambilnya dikelasmu karena itu merupakan lucky itemku besok nodayo."

"Oke..! Oh ya, Midorima.. Apa akhir-akhir ini kau tidak pernah bertemu dengan Yuzuki oba-san?"

JLEB

Pertanyaan Miyaji serasa menusuk hatinya kembali. Kenapa hal itu yang harus dipertanyakan olehnya?

"K-ke-kenapa kau menanyakan itu nodayo?!"

"Ah tidak apa-apa.. Hanya saja tadi aku bertemu dengannya saat membeli merchandise miu-miu. Dia hanya terus berdiri didepan palang penjaga rel kereta api.."

Shintarou membesarkan matanya. Dekat rel kereta api katanya?

"Dia hanya terus diam.. Tetapi saat aku menyapanya, dia juga membalas sambil tersenyum. Kira-kira apa yang dilakukannya disana ya? Apa dia mau membeli okono-"

"Miyaji-san. Ada didekat rel kereta api dimana?"

"E-eeh? Didekat kedai okonomiyaki langanan kita.."

"Arigatou gozaimasu."

Shintarou segera menutup telepon genggamnya. Beberapa detik kemudian kaki jenjangnya yang panjang itu sedikit berlari dan turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Sepatu perginya dengan cepat dipakainya dan langsung keluar dari rumahnya. Berlari secepat mungkin kearah sebuah rumah tradisional jepang yang ternyata tidak ada seorang pun di rumah itu. Shintarou segera beralih ke tempat yang diberitahukan oleh Miyaji sambil berharap wanita itu masih ada disana.

Shintarou terus berlari. Dalam hati dia juga terus berdoa pada Kami-sama yang berada diatas agar selalu melindungi wanita itu. Memang Shintarou tidak ingin berpikir negatif. Namun bisa saja Yuzuki berada didekat rel kereta api untuk..

Dan dugaannya benar..

Yuzuki sedang berdiri diatas rel kereta api dengan senyuman yang sangat menyakitkan di wajahnya.

Portal pembatas berwarna kuning sudah ditutup, dan lampu yang bertujuan untuk memberi tahukan kereta segera lewat juga terus berkedip. Sudah dapat dipastikan tidak akan membutuhkan waktu lama kereta akan segera melewati rel itu.

Shintarou tidak peduli lagi dengan sekitarnya atau orang yang mencegahnya melewati pembatas itu. Kakinya terus berlari dan mendorong tubuh wanita yang berada diatas rel itu hingga tubuh mereka berdua jatuh ke tanah. Dan dapat dipastikan jika ada sedikit luka lecet di tubuh keduanya.

Yuzuki membuka matanya. Angin yang berasal dari laju kereta api dapat dirasakannya dengan jelas. Dan betapa terkejutnya saat melihat sosok yang mendorongnya ke tanah itu.

"Sh.. Shi-Shin-chan?"

Pemuda itu tidak menjawab. Dia masih saja diam diatas tubuh Yuzuki. Membuat Yuzuki takut jika terjadi apa-apa pada Shintarou..

Lagi-lagi pemuda itu menyelamatkannya...

"Shin-chan?! Apa kau tidak apa-apa? Shin-chan?!"

"BODOH!"

Suara berat dari pemuda itu kini berteriak. Dari suaranya Yuzuki bisa tahu jika Shintarou kini sedang marah. Tetapi juga ada nada kekhawatiran didalam suaranya..

"Shi.. Shin-chan.. Maaf.."

"Bodoh! Kenapa kau lakukan ini?! Kenapa kau ingin membunuh dirimu sendiri disaat orang yang kehilangan nyawanya saja masih ingin hidup?! Kenapa kau begitu bodoh?!"

Air mata Yuzuki kembali mengalir. Dia memang ingin mengakhiri semuanya.. Tetapi tidak pernah terbesit di otaknya jika pemuda diatasnya kini akan terlibat.

"Aku... Hidupku sudah tidak berguna, Shin-chan.. Bukankah sudah kubilang? Jangan terbebani oleh Kazu-kun.."

"BODOH!" Dan lagi-lagi Shintarou berteriak. "Kau pikir aku melakukannya karena Takao yang memintanya?!"

Mata Yuzuki membesar mendengarnya. Jadi.. Shintarou memperhatikannya selama ini atas keinginannya sendiri?

"Tetapi.. Aku sudah tidak berguna, Shin-chan.. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.." Yuzuki semakin terisak. "Bahkan... Keluargaku membuangku.. Aku sendirian, Shin-chan.. Aku.. Aku ingin bertemu dengan Kazu-kun.."

"Masih ada aku disini, Yuzuki-san!"

Suara teriakan Shintarou barusan kembali mengejutkan Yuzuki. Itu adalah yang pertama kalinya Shintarou memanggilnya dengan Yuzuki..

"Masih ada aku disini.." Shintarou mempererat tangannya yang menahan tubuh Yuzuki seraya memeluknya. "Kau tidak sendirian.. Aku disini, Yuzuki-san.."

'Aku disini..'

Apa maksudnya itu?

Setelah sekian lama, inilah yang pertama kalinya ada yang mengatakan padanya jika dia tidak sendirian..

Apa Yuzuki bisa sedikit berharap?

"Shin-chan.." Kedua tangannya dilingkarkannya pada leher Shintarou. "Gomenasai.."

Dan itu akan menjadi awal baru untuk keduanya...

.

.

Tbc

Saya mngucapkan SANGAT AMAT BANYAK TERIMA KASIH bagi yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca, bahkan di fave review hingga follow :')

Untuk penyebab kematian Takao blm saya britau skrg ya hehehe :'D

Please wait for next chapter :)

Thankyou!