The Pain of Unforgettable

Chapter 4

Midorima Shintarou x Takao's Mom (OC)

Warning: Death Takao, Pedo, Shota, 15 age gap, etc.

Sebelum mulai, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Midorima Shintarou :D meskipun saya nggak buat birthday ficnya :')

Enjoy Reading!

.

.

.

Dengan hati-hati Shintarou membersihkan luka Yuzuki dan kemudian mengolesinya dengan obat. Tidak ada rintihan kesakitan atau sebagainya dari Yuzuki. Dia hanya tetap tenang hingga sang pemuda hijau menyelesaikan tugasnya.

"Terima kasih Shin-chan.. Sekarang biarkan aku mengobati lukamu.."

Kini peralatan p3k beralih pada Yuzuki. Nalurinya sebagai wanita untuk mengobati juga tidak kalah dengan Shintarou yang mewarisi kemampuan medis ayahnya. Disaat Kazunari masih kecil, Yuzuki sering mengobati lukanya seperti ini. Mereka berdua beruntung Yuzuki masih menyimpan alat-alat medis seperti ini. Shintarou hampir tidak percaya jika wanita yang tidak memperhatikan dirinya itu masih menyimpan kotak p3k seperti ini.

"Sudah selesai, Shin-chan!"

"Ah.. Arigatou, Takao-san.."

"Eehh? Kenapa kau memanggilku 'Takao-san'? Panggil aku Yuzuki seperti tadi, Shin-chan!" Ada nada menggoda khas Kazunari didalamnya. Meskipun selama ini wajah Yuzuki sangat murung, namun terkadang wanita itu juga bisa menggoda pemuda didepannya ini.

Kali ini Shintarou benar-benar merasa gugup. Dalam hati dia merutuki dirinya yang bisa-bisanya memanggil 'Yuzuki-san' tanpa sadar tadi. Sebenarnya apa yang ada didalam pikirannya? Kenapa dia bisa tanpa sadar memanggilnya seperti itu?

Tampaknya sifat ke-tsundere'an miliknya sudah kembali seperti semula. Entah apa yang akan dilakukan pada dirinya sendiri jika dia ingat kejadian tadi. Disaat dirinya memeluk Yuzuki dengan erat. Merasakan betapa rapuhnya wanita yang sempat di rangkulnya tadi.

"Yu... Y-Y-Yu.. Yu-Yuzu...ki...san..." Ucapnya terbata-bata sambil menahan malu. Dan betapa gelinya Yuzuki sekarang melihat rona merah yang menghiasi wajah Shintarou.

"Santai saja, Shin-chan! Yuzuki!" Kata Yuzuki lagi dengan semangat. Sepertinya hari ini hatinya terhibur. Meski masih tidak bisa tersenyum dan tertawa lepas seperti saat Kazunari masih ada, tetapi ini masih jauh lebih baik daripada biasanya.

Dan Shintarou berjanji pada dirinya sendiri akan mengobati luka hati wanita itu.

"Yu-zu-ki, Shin-chan!"

"Y-Yu.. Yu-yu-yuu.. Yuzu-"

GROWL.

Tiba-tiba saja bunyi yang berasal dari lambung Yuzuki membuat Shintarou berhenti melafalkan nama wanita itu. Kini dia memandang lurus dan serius wanita didepannya. Sepertinya dia harus berterima kasih pada bunyi perut Yuzuki barusan.

"Kau tidak makan lagi?"

"Ehehe.. Begitulah.. Aku.. Lupa.." Jawab Yuzuki yang jelas-jelas adalah bohong. Dirinya bahkan belum makan sejak kemarin. Entah kenapa dirinya masih kuat berjalan kearah rel kereta api.

Shintarou menghela nafas. Dia melirik sebentar kearah kantong plastik belanjaannya. Terdapat sebuah ramen instant ukuran jumbo yang sebenarnya untuk dirinya. Tangan Shintarou segera mengambilnya.

"Aku pinjam dapurnya, Yuzuki-san.." Dan tanpa menunggu persetujuan dari wanita itu Shintarou segera beranjak ke dapur. Karena buruk dalam memasak, yang bisa Shintarou lakukan hanya ini.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk memasak air. Shintarou segera mencampurkan bumbu instant dan menunggu hingga ramen itu matang dalam beberapa menit. Sebenarnya ini bukanlah menu yang bagus untuk Yuzuki, mengingat wanita itu jarang sekali memperhatikan kesehatannya. Namun yang dipikirkan Shintarou sekarang adalah agar perut Yuzuki terisi.

"Itadakimasu, Shin-chan.."

Shintarou terus memperhatikan bagaimana wanita itu menyantap ramen instantnya. Memperhatikan setiap detik bagaimana ramen instant itu masuk kedalam bibir mungilnya. Memperhatikan setelah itu tangan Yuzuki akan menyeka sedikit kuah yang menetes dari bibirnya.

Oh.. Tampaknya seorang Midorima Shintarou kini menjadi orang mesum..

Beberapa waktu kemudian mata mereka saling bertemu. Kedua manik hijau Shintarou bertemu dengan iris hitam milik Yuzuki. Dan detik berikutnya Shintarou memalingkan wajahnya. Entah sejak kapan sesuatu yang ada didalam dadanya itu berdetak dengan sangat kencang.

"Shin-chan.." Yuzuki tersenyum. "Aku benar-benar berterima kasih padamu.."

"Tidak perlu berterima kasih nanodayo, Yuzuki-san." Jari-jari lentiknya kembali membenarkan posisi kacamatanya yang sama sekali tidak berubah itu.

"Soal pekerjaanmu.." Yuzuki menunggu pemuda didepannya selesai bicara. "Aku akan membantumu mencari pekerjaan."

Yuzuki menggeleng pelan. "Tidak perlu, Shin-chan.. Aku akan mencarinya. sendiri. Lagipula.." Yuzuki menoleh sejenak. "Aku berencana untuk menjual rumah ini. Dengan begitu aku akan mendapat uang yang lumayan banyak."

Shintarou tersentak. "Kenapa begitu nanodayo?"

"Rumah ini membuatku terus terkenang dengan Kazu-kun.. Dan juga, aku sudah tidak muda lagi.. Mencari pekerjaan disaat aku hanyalah lulusan SMP saja benar-benar susah kau tahu?" Jelas Yuzuki lagi.

Memang benar. Selama ini Yuzuki hanya bekerja sebagai pegawai di sebuah toko roti. Mungkin penghasilannya tidak sebanyak ayah Shintarou yang berprofesi sebagai dokter, namun itu cukup untuk menghidupi dirinya beserta Kazunari dan menabung untuk masa depan anaknya. Sebenarnya Shintarou cukup heran, bagaimana dulu Yuzuki bisa membeli rumah? Bagaimanapun juga tanah dan rumah di Jepang tidaklah murah.

"Apa kau yakin, Yuzuki-san?" Tanya Shintarou meyakinkannya. Shintarou mengerti jika rumah ini menjadi saksi atas pertumbuhan Kazunari. Beberapa guratan-guratan di kayu yang menjadi pengukur tingginya, beberapa foto Kazunari yang dipajang di dinding sejak dia bayi, hingga beberapa penghargaan yang pernah diraih oleh Kazunari. Semua menjadi saksi atas kehidupan yang pernah Kazunari jalani.

Yuzuki mengangguk sambil tersenyum pahit. "Mungkin.. Aku bisa memulai usahaku sendiri nanti? Meskipun aku ini bodoh.. Bahkan aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan nantinya.. Aku ini hanya orang tidak berguna, Shin-chan.. Hehehe."

Shintarou ingin protes. Dia ingin mengatakan pada wanita didepannya kalau dia bukanlah orang bodoh. Tetapi lidahnya kelu. Jadi yang dilakukannya sekarang hanyalah diam. Dia akan membuktikan padanya jika dirinya bukanlah orang yang tidak berguna. Dirinya bukan orang yang bodoh.

Kalau dia bodoh dan tidak berguna.. Kenapa Shintarou sampai jatuh hati seperti ini padanya?

Tiba-tiba saja ringtone standar dari ponsel hijau milik Shintarou berbunyi. Dan ketika dia menjawab panggilan tersebut, didengarnya sebuah teriakkan dari sana.

"SHIIINNN/ONIII-CHANN!"

Shintarou langsung menjauhkan jarak ponselnya dari telinganya. Yuzuki yang mendengarnya juga menghentikan makannya sejenak. Memandang kearah ponsel Shintarou yang mengeluarkan suara membahana barusan itu.

"Shinn! Kau dimana saja? Sejak tadi aku dan adikmu menunggumu! Apa ke supermarket membutuhkan waktu selama itu?"

"Onii-chan! Kau lama sekali! Aku ingin segera makan maiubo yang kau belikan tetapi kenapa kau tidak kunjung kembali?!"

Shintarou menghela nafas sejenak. Dia membenarkan posisi kacamatanya yang sama sekali tidak merosot. "Tidak perlu berteriak nodayo! Aku akan pulang. Sekarang." Katanya singkat dan segera mematikan ponselnya itu.

"Shin-chan.. Nee-san menyuruhmu belanja?" Tanya Yuzuki pada pemuda lumut itu. Hubungannya dengan keluarga Midorima cukup baik. Karena itu Yuzuki memanggil ibu Shintarou dengan sebutan Nee-san.

"Shin-chan.." Yuzuki tersenyum lembut pada pemuda didepannya. "Kau bisa pulang sekarang. Mereka berdua mengkhawatirkanmu.." Kata Yuzuki lagi.

"Baiklah.." Shintarou berdiri. Lalu dia segera berjalan kearah pintu keluar sambil diiringi Yuzuki.

"Tapi berjanjilah padaku nodayo."

"Eh? Berjanji apa, Shin-chan?"

"Jangan pernah lakukan hal bodoh seperti tadi." Katanya serius. Matanya tajam. Dan ada sedikit nada mengancam disana.

Yuzuki mengangguk mantap sambil tersenyum. "Tenang saja. Aku tidak akan melakukannya. Aku juga tidak akan membuat Shin-chan repot lagi.."

"Baiklah kalau begitu. Oyasuminasai, Yuzuki-san. Ittekimasu.."

"Itterasshai.." Kata Yuzuki sambil melambaikan tangannya. Setelah itu dia menutup pintu kayu rumahnya tersebut. Menguncinya lalu kembali ke ruang tamu. Ramen instant miliknya tadi masih belum dihabiskan. Namun dia memilih untuk singgah sebentar ke depan altar anaknya.

"Konbanwa, Kazu-kun.." Yuzuki menyentuh frame foto yang berisikan foto ceria putra yang disayanginya itu.

"Sepertinya untuk sekarang kita masih belum bisa bertemu, Kazu-kun.."

Air mata Yuzuki keluar. Seperti biasanya, dia akan mencurahkan semua isi hatinya didepan altar anaknya.

"Nee.. Kazu-kun.. Maafkan Okaa-sanmu yang bodoh ini ya? Maaf kalau selama ini Okaa-san selalu merepotkanmu.. Okaa-san benar-benar bodoh."

Dipeluknya frame foto itu. "Apa kali ini.. Okaa-san masih memiliki harapan, Kazu-kun?"

.

.

.

.

.

.

.

"Tadaima."

"Shinn! Akhirnya kau pulang! Darimana saja? Kau tidak bertemu preman lalu disandra mereka bukan?" Seorang wanita dewasa yang adalah ibunya menyambutnya dengan khawatir.

"Onii-chan! Apa yang Onii-chan lakukan sejak tadi?"

Shintarou menghela nafas malas. Dia benar-benar lupa jika ibu dan adiknya ini akan cerewet kalau dirinya pulang terlambat.

"Tadi supermarketnya ramai nanodayo. Dan ini." Shintarou memberikan kantong plastik belanjaannya pada ibunya. "Oyasuminasai.."

Ibu dan adiknya hanya bisa tertegun melihat Shintarou yang perlahan berjalan meninggalkan mereka. Wajah khawatir ibunya pun sudah digantikan oleh wajah heran.

"Kaa-san.. Apa ada hal yang baik ya terjadi pada onii-chan?"

"Entahlah. Tetapi wajah bahagianya itu membuat Okaa-san sedikit merinding.."

Perubahan drastis sikap seorang Midorima Shintarou tadi sore dan sekarang benar-benar membuat ibu serta adiknya kebingungan.

BRAAKKK

Dan untuk yang kedua kalinya ibu serta adiknya hanya bisa saling pandang setelah mendengar suara tersebut dari kamar Shintarou.

.

.

Shintarou membenturkan kepalanya ke tembok. Tidak cukup sekali, dia membenturkannya lagi dua hingga tiga kali. Wajahnya memerah. Baru saja dia mengingat semua apa yang terjadi hari ini.

Awalnya Shintarou memang berusaha mengingat apa yang terjadi hari ini. Dan disaat kejadian dimana dirinya memeluk Yuzuki dengan erat..

Shintarou kembali membenturkan kepalanya ke tembok sebelum membaringkan tubuhnya. Menutup wajahnya dengan bantal. Sesuatu yang ada didalam dadanya juga tiba-tiba saja bergerak dengan sangat cepat. Sungguh, tingkahnya kali ini seperti gadis-gadis yang ada didalam Shoujo manga.

Beberapa menit kemudian akhirnya Shintarou kembali kedalam kenyataan. Dia teringat jika Yuzuki baru saja dipecat dari pekerjaannya. Dan meskipun wanita itu menolak bantuannya, Shintarou tetap akan berusaha mencarikannya pekerjaan.

Tiba-tiba saja Shintarou teringat dengan sosok merah yang menjadi partnernya semasa SMP dulu. Bukankah dia orang kaya yang membangun beberapa lapangan pekerjaan? Tidak lama kemudian Shintarou mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang dimaksud.

"Shintarou?" Jawab orang yang ada disebrang sana.

"Akashi, konbanwa."

"Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?"

"Aku ingin meminta tolong padamu Akashi."

"Eh?"

Akashi Seijuurou. Mengenal seorang Midorima Shintarou kurang lebih empat tahun. Dan inilah yang pertama kalinya Shintarou meminta tolong padanya.

.

.

.

.

.

Siang itu Akashi Seijuurou kembali ke Tokyo selama semalam karena panggilan ayahnya. Namun selain itu ada tujuan lain yang membuatnya kembali ke Tokyo.

Permintaan Shintarou kemarin.. Entah kenapa Shintarou sampai memohon padanya untuk memberikan suatu pekerjaan pada seorang wanita tiga puluh tahunan yang hanya lulusan sekolah menengah pertama. Akashi tidak terlalu memusingkan permintaan Shintarou tersebut karena dengan mudah ayahnya bisa memberikan pekerjaan pada wanita yang dimaksud oleh Shintarou. Tetapi yang membuatnya heran, kenapa Shintarou sampai segitunya? Inilah yang pertama kalinya Akashi tahu kalau Shintarou memperdulikan seseorang.

"Konnichiwa, Otou-san.." Ujar Akashi sopan pada ayahnya yang sedang berada di ruangan kerjanya itu.

"Seijuurou.. Akhirnya kau datang."

Pria paruh baya itu meletakkan dokumennya sejenak dan duduk di sofa dekat anaknya. "Jadi ada apa? Kemarin kau meminta tolong sesuatu padaku bukan?"

"Begitulah.. Pertama-tama aku ingin menunjukkan ini.."

Akashi menunjukkan tabletnya pada ayahnya. Memperlihatkan isi e-mail yang sempat dikirim oleh Shintarou tadi pagi.

"Takao Yuzuki.. Tiga puluh satu tahun.. Lulusan SMP dan pernah bekerja di sebuah toko roti.. Hmmmm.."

Sejujurnya Akashi sendiri juga bingung. Apakah wanita ini meminta tolong pada Shintarou untuk mencarikannya pekerjaan? Kenapa dia tidak datang saja sendiri ke perusahaan Akashi? Dan yang lebih aneh lagi kemarin Shintarou sampai memohon padanya agar memberi pekerjaan pada wanita ini.

Sayangnya Akashi dan ayahnya itu tidak tahu jika itu adalah data yang dibuat sendiri oleh Shintarou. Setelah beberapa lama menjadi 'stalker' dari Yuzuki, tidaklah sulit untuk mengetahui riwayat hidupnya dan juga mengambil satu atau beberapa fotonya.

"Takao.." Ayah Akashi berguman. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu."

"Eh?"

"Aku pernah melihat wajahnya.. Dan juga.. Nama Takao terdengar tidak asing."

Dan salah satu misteri tentang seorang Takao Yuzuki, sepertinya akan terpecahkan..

.

.

.

.

Tbc

THANKYOU SO MUCH EVERYONE! :'))))))

Makasih yang udah baca :') makasih yang udah review :') makasih yang udah fave :') dan juga makasih yang udah follow :')

Saya meminta maaf jika ada kesalahan yang saya buat dalam fic ini. Saya juga minta maaf atas kesintingan otak saya yang bisa-bisanya membuat fic seperti ini. Sudah menistakan si Shin-chan, buat dia suka sama tante-tante, takaonya mati pula :') *minta maaf lagi buat fans takao*

Terima kasih buat semuanya yang selalu mendukung saya :) smoga fic ini bisa terus berlanjut sesuai keinginan reader sekalian hehehehe xD

Please wait for next chapter!