The Pain of Unforgettable
Chapter 5
Midorima Shintarou x Takao's Mom (OC)
Warning: Death Takao, Pedo, Shota, 15 age gap, etc.
Enjoy Reading!
.
.
.
"Ini, Yuzuki-san."
"Eh?"
Yuzuki memandang lembaran bermaterai itu. Terdapat tulisan didalamnya bahwa dia diterima kerja di suatu perusahaan. Namun seingat Yuzuki dia tidak pernah melamar pekerjaan di perusahaan tersebut.
"Shin-chan.. Aku tidak melamar di perusahaan ini."
"Benar. Tetapi saat aku bertanya pada anak pemilik perusahaan, dia langsung menerimamu nodayo." Kata Shintarou berbohong. Mana mungkin dia akan mengatakan jika dirinya telah mengirimkan surat lamaran pekerjaan Yuzuki yang dibuatnya diam-diam? Bisa-bisa kegiatan stalkernya selama ini akan ketahuan.
"Eeh.. Tapi.." Yuzuki memandangi kertas itu sebentar. Perusahaan Akashi? Sebenarnya Yuzuki sama sekali tidak keberatan menjadi penjaga cafetaria disana, mengingat pendidikannya yang memang rendah. Pekerjaan seperti ini sudah lebih dari bagus untuknya. Namun.. Sepertinya Yuzuki pernah mendengar nama perusahaan tersebut.
Akashi.. Nama itu terdengar tidak asing baginya.. Tapi dimana Yuzuki pernah mendengarnya?
"Tenang saja. Direktur utama serta putranya adalah orang yang sangat bertanggung jawab nodayo." Kata Shintarou lagi sambil membenarkan posisi kacamatanya. Berusaha meyakinkan Yuzuki bahwa perusahaan tersebut baik-baik saja.
"Hmmm.. Baiklah kalau begitu. Arigatou, Shin-chan!" Yuzuki kembali membaca kertas tersebut. Berusaha menghilangkan pemikirannya yang rumit. Mungkin saja Yuzuki memang pernah mendengarnya karena perusahaan Akashi cukup terkenal? "Disini dikatakan jika aku bisa mulai bekerja pada awal februari.."
"Begitulah nanodayo. Kau bisa bekerja secepatnya." Tambah Shintarou lagi.
Yuzuki menopang kepalanya pada kedua tangannya sambil memandang Shintarou. "Nee, Shin-chan.. Selama ini kau sudah sangat baik padaku dan selalu membantuku.. Meskipun aku hanyalah seorang tante-tante yang menyusahkan.."
Shintarou menunggu wanita itu menyelesaikan kata-katanya sambil meminum sekaleng Oshiruko yang dibelinya. Apa yang akan dikatakannya? Jangan sampai dia berkata akan mengakhiri hidupnya atau semacamnya.
"Apa ada yang bisa kulakukan untukmu, Shin-chan? Untuk membalas semua kebaikanmu selama ini.." Kata Yuzuki.
BRUSHHHH
Shintarou terbatuk-batuk setelah menyemburkan minumannya. Membuat Yuzuki khawatir dan segera menepuk punggung pemuda itu. "Shin-chan! Daijoubu?"
Shintarou masih saja batuk. Apa yang baru saja terjadi? Apa yang baru saja didengarnya? Mengapa Yuzuki berkata seperti itu? Mengapa Yuzuki berkata dengan wajah polosnya begitu? Semua itu membuat Shintarou terkejut. Jangan lupakan warna merah yang mulai mendominasi wajahnya sekarang.
"Shin-chan?"
"A-aah.. Maafkan... Aku nodayo.. Uhukk."
Yuzuki segera menyodorkan segelas air pada Shintarou. Memandang pemuda itu sedikit cemas karena tiba-tiba saja dia batuk setelah menyemburkan minumannya. "Minumlah, Shin-chan.."
Shintarou segera meminum segelas air tersebut sambil berusaha menenangkan dirinya. Yuzuki bertanya apakah ada sesuatu yang bisa dilakukannya untuk membalas budi? Sebenarnya Shintarou tidak butuh balas budi Yuzuki, dia melakukan semua ini dengan ikhlas.
Namun.. Melihat Yuzuki bertanya seperti itu padanya.. Entah kenapa membuat jantung Shintarou berdegup semakin kencang.
Untung saja Shintarou adalah orang waras (menurut dirinya sendiri) sehingga dia tidak mungkin akan meminta yang aneh-aneh pada Yuzuki. Tetapi bagaimana jika itu orang lain? Shintarou tidak akan pernah rela membiarkan Yuzuki melakukan sesuatu untuk membalas budi. Apalagi kalau hal tersebut melebihi batas.
Namun tiba-tiba saja Shintarou mendapat ide. Jari-jari lentiknya kembali membenarkan posisi kacamatanya sebelum dia berbicara apapun. "Kau akan melakukan apapun, Yuzuki-san?"
"Eeh? Uumm.. Aku akan melakukan apapun." Jawab Yuzuki polos.
"Yuzuki-san.." Shintarou menggenggam kedua tangan mungil Yuzuki. "Berjanjilah.. Jangan pernah mencoba bunuh diri lagi.. Dan berusahalah untuk terus menjalani hidup sesusah apapun nodayo. Aku.. Ada disini.." Kata Shintarou serius.
"Aah.. Uhhm.." Yuzuki mengangguk setuju. Membuat pemuda hijau itu kini terlihat lebih tenang. Berusaha percaya pada wanita didepannya dan berharap dia benar-benar tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya lagi.
"Ano.. Shin-chan.. Sampai kapan kau mau memegang tanganku?" Tanya Yuzuki lagi dengan polosnya.
"UAAAA!"
Entah kenapa tiba-tiba saja Shintarou berteriak seperti gadis. Wajahnya memerah dengan sempurna. Dalam otaknya dia mengutuk dirinya sendiri, apa yang baru saja dilakukannya? Kenapa dia menggenggam tangan Yuzuki seperti itu?
"Eh? Shin-chan? Wajahmu memerah.. Apa kau sakit?" Saat itu juga Yuzuki berusaha menyentuh kening dari pemuda tersebut. Namun Shintarou terus menghindari wanita itu. "Shin-chan?"
Dan saat tangan Yuzuki hampir dekat dengan kening Shintarou, tangan pemuda hijau itu menepisnya. Membuat diri Yuzuki kehilangan keseimbangan dan jatuh terbaring. Begitu juga dengan Shintarou yang masih salting serta gila sendiri itu.
Dan kini hal itu sukses membuat posisi mereka begitu absurd. Shintarou berada diatas tubuh Yuzuki dan menggunakan tangan serta lututnya untuk menopang badannya.
"Yu..Y-Y-Yu.. Yuzu-zu.. Yuzuki-san.."
Shintarou terus memperhatikan wanita yang kini sedang ada di bawahnya. Betapa cantik dan mulusnya wajah wanita berumur tiga puluh tahunan itu. Dan oh.. Mungkin inilah ciptaan Tuhan yang paling sempurna bagi Shintarou. Kedua manik hitam keabu-abuan dengan bulu mata yang lentik, hidung mancung, pipi mulus tanpa noda, dan warna merah yang menggoda dari bibir mungilnya yang lembab itu. Membuat Shintarou ingin menyentuh dan merasakan itu semua.
Shintarou yang masih terbawa suasana itu tidak sadar jika ada sebuah telapak tangan mungil berkapal halus yang menempel di keningnya. Setelah itu yang Shintarou dengar adalah helaan nafas lega dari wanita dewasa itu.
"Syukurlah kau tidak sakit, Shin-chan! Yokatta yokatta.." Kata Yuzuki sambil tersenyum tulus.
Cepat-cepat Shintarou berdiri dan menyingkir dari atas tubuh Yuzuki. Dalam hati dia terus mengumpat. Sebenarnya apa yang terjadi hari ini? Apakah hari ini adalah hari keberuntungan cancer? Atau hari sialnya? Setahu Shintarou hari ini posisi cancer berada di tengah. Namun mengapa sejak tadi dia terus-terusan mengalami hal yang membuatnya sport jantung?
Gawat. Berada disini terus-terusan bisa membuat Shintarou semakin gila. Bisa-bisa saat pulang nanti ayahnya memasukkannya di rumah sakit jiwa. Karena itulah Shintarou kembali berdiri. Namun tetap berusaha agar tidak menatap Yuzuki.
"K-kalau begitu aku pulang dulu nodayo. Oyasuminasai, Yuzuki-san."
"Aah! Oyasuminasai, Shin-chan. Itterasshai.."
Seperti biasanya Yuzuki akan mengantar pemuda itu sampai ke depan rumahnya. Melambaikan tangannya dan melihat Shintarou berjalan beberapa langkah dari rumahnya. Barulah setelah itu Yuzuki kembali masuk. Dan seperti biasanya lagi, Yuzuki akan kembali duduk didepan altar Kazunari setelah Shintarou pergi.
"Konbanwa, Kazu-kun.." Beberapa buah-buahan yang sempat dibelinya tadi diletakkannya tepat didepan altar Kazunari. "Okaa-san sudah mendapat pekerjaan lagi. Dan kau tahu? Lagi-lagi semua itu berkat Shin-chan! Entah sudah berapa kali Okaa-san merepotkannya.. Bagaimana caranya Okaa-san membalas budinya ya?"
Sebuah senyuman tulus terbentuk dari bibir mungil Yuzuki. Entah sejak kapan terakhir dirinya tersenyum seperti ini.
"Arigatou, Shin-chan.. Hontou ni arigatou.. Dan juga.. Maafkan aku.."
.
.
.
.
.
"Oute."
Shintarou sebenarnya cukup geram. Lagi-lagi dirinya diinjak oleh si emperor merah didepannya. Namun dirinya juga tidak bisa apa-apa. Pemuda merah tersebut sangatlah kuat dan tidak terkalahkan.
"Baiklah. Aku mengaku kalah, Akashi." Ucap Shintarou meskipun sebenarnya dia tidak ingin mengucapkannya.
Akashi melipat tangannya didepan dada. Pose unggulannya yang selalu dia tampilkan dengan anggun. "Jadi sebenarnya ada apa, Shintarou?"
"Apa maksudmu nodayo?"
"Apa tujuan sebenarnya kau memanggilku kemari? Kau pikir aku bodoh? Tidak mungkin kau hanya bertemu denganku untuk bermain shogi setelah aku tiba di Tokyo."
Seringai andalan Akashi Seijuurou kembali dimunculkan. Rasanya baru saja Akashi menjadi orang yang kembali baik dan tidak kejam setelah winter cup. Namun setelah itu seringai khas hingga tatapan tajamnya terkadang dikeluarkan. Mungkin memang inilah sifat Akashi Seijuurou yang sebenarnya bercampur menjadi satu. Meskipun dapat dipastikan Akashi tidak akan seextreme dulu-menggores wajah seseorang dan berjanji mencungkil matanya jika kalah.
Shintarou menghela nafas. Seperti biasa, Akashi tau segalanya. "Soal yang waktu itu..."
"Ibu dari Takao Kazunari?"
"Benar. Aku harap perusahaan Akashi bisa menjadi tempat yang cocok untuknya nanodayo. Dan juga.." Shintarou menatap Akashi serius. "Tolong jaga dia, Akashi."
"Aku bukan direktur utama, Shintarou. Kenapa kau berkata seperti itu padaku?" Diam-diam Akashi tertawa dalam hati. Sebenarnya dia mengerti apa maksud kata-kata Shintarou. Hanya saja dia ingin sedikit menggodanya sebelum mengatakan inti yang sebenarnya.
"Yuzuki-san masih belum bisa sepenuhnya melupakan Takao nodayo. Meskipun sekarang perlahan-lahan dia lebih berusaha untuk tetap menjalani hidupnya. Namun tidak hanya sekali dua kali saja dia berpikir untuk mati." Jelas Shintarou.
"Hmmm.." Tangan kanan Akashi digunakannya untuk menopang dagu. "Jadi kau memberi perusahaan ayahku pekerja dengan resiko 'bunuh diri' yang besar. Begitu?"
Shintarou langsung berteriak. "Tentu saja tidak nodayo!"
Merasa beberapa pengunjung cafe tersebut memperhatikannya, Shintarou menunduk. Diam-diam mengutuk kebodohannya sendiri dalam hati. Namun karena harga diri yang selalu dijunjungnya tinggi itu, Shintarou hanya membenarkan posisi kacamatanya yang tidak berubah. "Bukan begitu maksudku, Akashi."
"Tenang saja. Aku tahu apa maksudmu, Shintarou." Kata Akashi disertai tawa kecil karena melihat mantan partnernya seperti itu. "Perusahaan Akashi akan menjaganya. Aku juga akan berbicara dengan ayahku nantinya agar wanita itu tidak melakukan hal-hal yang berbahaya."
Shintarou tersenyum tipis. "Aku percayakan padamu nanodayo."
Akashi hanya membalas dengan anggukan serta senyuman. Mungkin ini saatnya dia melakukan kebaikan untuk menutup kesalahannya di masa lalu. Bagaimanapun juga Akashi pernah menyakiti Shintarou di masa lalu. Dan sebenarnya Akashi sendiri tidak keberatan membantu Shintarou dengan menjaga wanita yang diam-diam disukai oleh pemuda hijau itu. Akashi mengerti dengan jelas bagaimana perasaan pemuda tsundere didepannya terhadap Takao Yuzuki.
Tetapi saat ini Akashi hanya diam. Sebenarnya banyak sekali yang ia ingin tanyakan pada Shintarou. Mengenai siapa Takao Yuzuki sebenarnya, keluarganya, dan asal-usulnya. Karena tidak biasanya ayahnya tertarik dengan seseorang yang akan bekerja ditempatnya. Apalagi saat ayahnya berkata jika dia sepertinya mengenal nama Takao.
Siapa Takao Yuzuki sebenarnya?
.
.
.
.
.
Hari itu Yuzuki memutuskan untuk membersihkan rumahnya. Sudah lama sekali Yuzuki mengabaikan rumah tua tersebut hingga terlihat usang. Setidaknya sekarang dia harus membersihkannya.
Yuzuki memulai dari membersihkan dapurnya. Kemudian berlanjut ke ruang tamu, kamar tidurnya hingga kamar tidur yang pernah digunakan Kazunari.
Wanita itu kembali tersenyum pahit. Namun dia harus kuat. Yuzuki akhirnya sadar jika putranya tercinta pasti akan sedih jika melihat ibunya seperti ini. Akhirnya Yuzuki berjalan dan mulai membersihkan kamar tersebut. Setelah itu meletakkan barang-barang Kazunari kedalam kardus. Dia berniat menyimpannya di gudang setelah ini.
"Yosh!" Dengan semangat Yuzuki membawa dua buah kardus tersebut menuju gudang. Yuzuki tidak akan membuang barang-barang anaknya sedikitpun meskipun itu telah rusak. Yuzuki berniat terus menyimpannya.
Namun langkah kaki Yuzuki tiba-tiba saja tertunda saat melihat sebuah album biru yang berada diatas meja belajar Kazunari. Yuzuki tahu jelas album apa itu. Akhirnya Yuzuki meletakan sebentar kardus yang tadi dibawanya. Beralih untuk melihat-lihat album foto berwarna biru yang menarik perhatiannya tadi.
Halaman-halaman awal menunjukkan foto Kazunari saat masih bayi. Berlanjut hingga saat Kazunari mulai berjalan, balita, memasuki taman kanak-kanak sampai sekolah dasar. Setelah itu juga terdapat foto Kazunari yang mulai beranjak remaja.
"Kazu-kun.." Yuzuki berguman lirih sambil tersenyum tipis. Hanya album itulah yang dimilikinya sebagai album keluarga. Tidak ada kakek nenek, sepupu atau yang lainnya. Album tersebut cuma berisi foto Kazunari dan dirinya.
"Gomenne Kazu-kun.. Okaa-san belum sempat memberitahukan soal kakek nenekmu.." Katanya lagi sambil mengelus salah satu foto Kazunari. Namun tiba-tiba saja Yuzuki menggeleng. Dengan serius dia memandang foto mendiang anaknya tercinta itu.
"Tidak. Keluargamu hanya Okaa-san, Kazu-kun. Okaa-san tidak akan pernah.. Menganggap orang yang ingin membunuhmu sebagai kakek nenekmu. Meskipun dia adalah orang tua kandung Okaa-san sendiri.." Yuzuki memeluk album itu. "Tolong bersabar hingga Okaa-san menyelesaikan semuanya dan menyusulmu segera, Kazu-kun.."
.
.
.
.
Tbc
THANKYOU SO MUCH EVERYONE! :'))))))
Makasih yang udah baca :') makasih yang udah review :') makasih yang udah fave :') dan juga makasih yang udah follow :') DAN JUGA TERIMA KASIH BANYAK UNTUK YANG SELALU SETIA MEMBACA FIC INI SEJAK AWAL :'):'):') mau saya kasih hadiah? #bohong
Maaf kalo updateannya SANGAT lama :') saya sudah mulai disibukkan semester baru, kehidupan baru dan beban hidup(?) Baru :'). Smoga fic ini tetap bisa memuaskan hati para pembaca
Terima kasih banyak buat yang senantiasa selalu membaca dan mengikuti fic gaje pedo ini :') saya bener-bener terharu :') mohon bantuannya mulai sekarang, minna-san :')
See you in next chapter^^!
And please keep supporting me from now :')
Yoroshiku onegaishimasu! XD
