The Pain of Unforgettable

Chapter 6

Midorima Shintarou x Takao's Mom (OC)

Warning: Death Takao, Pedo, Shota, 15 age gap, etc.

Enjoy Reading!

.

.

.

Sudah genap sepuluh hari sejak Yuzuki bekerja di perusahaan Akashi. Tidak membutuhkan waktu lama agar wanita itu kembali memiliki beberapa teman dari tempat kerjanya. Bahkan setelah seminggu Yuzuki bekerja disana, rekan-rekan kerjanya diam-diam menyiapkan sebuah pesta 'selamat datang' untuknya walau sedikit terlambat.

Namun sayangnya, Yuzuki masih belum bisa menunjukkan sebuah senyuman tulus dari dalam dirinya. Tidak jarang Yuzuki melamun dan memandang iri rekan-rekan kerjanya yang didatangi oleh anak mereka. Dan saat itulah Yuzuki akan teringat dengan Kazunari.

"Takao-san."

Apalagi saat dia melihat putra direktur utama.

"Takao-san."

Pemuda yang sangat tampan, tegas, pintar, serta bijaksana. Dalam usianya yang masih muda pun, dia sudah terlihat dapat memegang perusahaan Akashi kedepannya.

"Takao-san."

Enam belas tahun, Akashi Seijuurou.

"Takao Yuzuki-san?"

"Eehh?"

Dan baru saja Yuzuki kembali melihat sosok anaknya pada pemuda didepannya. Padahal semua orang mengerti jika Takao Kazunari dan Akashi Seijuurou benar-benar berbeda. Sangat berbeda. Namun entah kenapa Yuzuki malah memikirkan anaknya disaat yang berdiri didepannya adalah anak dari bossnya.

"S-sumimasen, Akashi-san. Ada apa?" Kata Yuzuki gugup. Bagaimanapun juga dia sempat melamun didepan anak bossnya (yang suatu saat akan menjadi bossnya di kemudian hari).

"Kuharap kau tidak melamun saat bekerja, Takao-san. Untung saja cafetaria ini sedang sepi." Ujar Akashi sedikit tegas. Namun pemuda itu mengulas sebuah senyuman lembut agar wanita didepannya tidak ketakutan. "Bisa kita bicara sebentar? Berdua saja."

Badan Yuzuki langsung tegang. Mengapa seorang Akashi Seijuurou sampai mau berbicara berdua saja dengannya? Apa ini sudah waktunya dia untuk dipecat? Padahal Shintarou sudah susah payah mencarikannya pekerjaan.

"Bukan tentang pemecatan. Hanya interview yang tertunda, Takao Yuzuki-san." Katanya lagi seakan-akan mengerti isi pikiran Yuzuki. "Ikut aku ke ruanganku, Takao-san."

Akhirnya Yuzuki mengikuti tubuh tegap dari pemuda bersurai merah tersebut. Memang benar, dirinya langsung diterima tanpa interview atau test. Tetapi sepertinya tidak ada masalah jika dirinya diwawancara sebentar.

Sesampainya di ruangan pribadi milik Akashi Seijuurou sang direktur muda, Yuzuki segera dipersilahkan duduk di sebuah sofa merah yang mewah. Sambil Akashi sendiri menyediakan beberapa minuman yang akan menemani perbincangan mereka. Tidak lupa membawa tabletnya untuk membaca CV yang dikirimkan oleh Shintarou nantinya.

"Pertama, aku ingin mengatakan kalau aku menggantikan ayahku untuk mewawancarai anda, Takao-san. Kuharap kau tidak keberatan." Akashi membaca sebentar CV yang dikirimkan oleh Shintarou. "Jadi umur anda baru tiga puluh tahun?"

"Benar, Akashi-san."

Akashi mengangguk mengerti. Usia yang cukup muda untuk menjadi seorang ibu. Bahkan memiliki anak yang seumuran dengannya. Tetapi Akashi akan mengesampingkan hal itu. Ada sebuah hal yang lebih 'penting'. Namun sebelumnya dia akan memancing Yuzuki perlahan-lahan..

"Disini tertulis anda lahir di Sapporo. Kalau begitu sejak kapan anda pindah ke Tokyo?"

"Tujuh belas tahun yang lalu. Saat usia saya masih empat belas tahun." Jawab Yuzuki lirih. Sepertinya menjawab pertanyaan ini membuat hatinya sedikit pedih.

"Dalam usia empat belas tahun anda bisa hidup di kota besar yang penuh bahaya seperti Tokyo ini.." Guman Akashi dengan nada penuh arti. "Sungguh hebat. Apakah saya boleh tahu bagaimana anda menghidupi diri anda sendiri di kota ini? Atau saat itu anda masih mempunyai relasi dengan seseorang?"

Yuzuki menggeleng pelan. "Saya... Kabur dari rumah ke Tokyo dengan membawa sejumlah uang. Dan untuk hari-hari berikutnya, saya mulai mencari pekerjaan. Meskipun yang bisa saya lakukan hanyalah pekerjaan ilegal karena masih dibawah umur."

Sapporo, Hokkaido. Kabur dari rumah. Membawa sejumlah uang. Dan juga, hamil diluar nikah.

Semua rangkaian kalimat tersebut membuat Seijuurou yakin..

"Tetapi dalam umur empat belas tahun anda bisa membeli sebuah rumah di Tokyo. Padahal harga tanah di Tokyo sama sekali tidak murah, Takao-san." Kata Akashi dengan nada sedikit sindiran. Akashi bukannya merendahkan wanita didepannya, hanya saja dia terus memancingnya. "Pasti kau membawa uang yang sangat banyak saat kabur."

Yuzuki tertawa garing. Berusaha meladeni kata-kata Akashi sebagai candaan semata. "Itu tidak benar, Akashi-san. Ada seseorang yang sangat baik hati mengerti kondisi saya. Dan dia memberikan harga rumah tersebut dengan jumlah yang sangat murah. Sehingga saya bisa mencicil, dan melunasinya dengan bekerja keras."

Akashi mengangguk. Seakan-akan dirinya mengerti. "Dan yang terakhir. Apakah sekarang anda sudah tidak memiliki kerabat atau keluarga sama sekali?"

Kali ini Yuzuki mengangguk mantap. "Keluarga saya hanyalah anak saya yang sudah tiada."

"Baik. Anda bisa kembali bekerja, Takao-san." Akashi berdiri sambil tersenyum. "Terima kasih atas waktunya. Semoga kau bisa betah bekerja di perusahaan ini."

"Tentu saja. Terima kasih banyak, Akashi-san." Dan setelah itu Yuzuki berlalu untuk kembali bekerja.

Akashi kembali duduk di sofa merahnya. Meraih ponselnya sambil kembali melihat CV yang dikirimkan Shintarou didalam tabletnya.

"Otou-san, semua pemikiranmu sangat tepat."

Akashi menyeringai.

"Takao Yuzuki. Dia adalah wanita yang seharusnya dijodohkan dengan adikmu, dan juga Ojou-sama yang dicari-cari oleh salah satu rekan bisnis kita."

.

.

.

.

.

"Otsukare!"

"Otsukaresama deshita!"

"Aku pulang dulu, minna-san!"

"Itterasshai~"

Itulah sapaan-sapaan yang setiap hari Yuzuki dengar disaat jam kerja usai. Semua akan kembali ke sebuah ruangan penuh loker dan mengambil barang-barang mereka serta mengganti seragam. Tampaknya banyak sekali yang menunggu jam seperti ini.

Yuzuki menutup lokernya setelah selesai berganti baju dan mengambil tas miliknya. Dengan segera dia pamit pada beberapa rekan kerjanya. Yuzuki harus bergegas agar tidak tertinggal kereta. Dia tidak ingin harus menunggu dua jam lagi untuk pulang ke rumahnya.

Yuzuki harus segera pulang.. Yuzuki harus segera mengunjungi makam Kazunari. Dan setelah itu barulah pulang ke rumahnya untuk meletakkan makanan dan berdoa didepan altar Kazunari.

"Y-Yuzuki-san.."

Mendengar suara yang sangat farmiliar baginya, Yuzuki menoleh. Dan mendapati pemuda berambut hijau megane yang sedang berdiri tidak jauh dari pintu gerbang tempatnya bekerja.

"Shin-chan.." Yuzuki segera berjalan mendekati pemuda itu. "Kenapa kau disini?"

Shintarou memalingkan wajahnya sebentar sambil berpura-pura membenarkan letak kacamatanya. "I-ini hanya kebetulan nodayo. Aku kemari untuk membeli sesuatu."

Yuzuki mengangguk mengerti. Entah dirinya yang terlalu bodoh menanggapi pemuda tsundere didepannya atau berpura-pura mengerti. Yang pasti ada senyuman kecil terulas di bibirnya saat pemuda itu datang.

"Kalau begitu kita pulang bersama saja, Shin-chan." Ajak Yuzuki pada Shintarou. Yang tentu saja dijawab dengan anggukan singkat oleh pemuda tersebut. Sepertinya dia merasa puas karena 'modus' mengajak Yuzuki pulang bersama berhasil. Wanita itu tidak tahu jika Shintarou telah menunggunya selama satu setengah jam. Bahkan menaiki kereta untuk sampai ke perusahaan Akashi.

Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Pada dasarnya Shintarou bukanlah orang yang memulai pembicaraan sedangkan Yuzuki sepertinya sudah kehilangan hasrat untuk memulai pembicaraan. Namun hal tersebut merupakan keuntungan tersendiri bagi Shintarou. Dengan keadaan seperti itu, dia bisa lebih memperhatikan Yuzuki dengan seksama. Bagaimana rangkaian wajah sempurna wanita itu yang dihiasi oleh kesedihan..

Hal tersebut kembali membuat otak Shintarou berpikir keras. Bagaimana caranya agar kesedihan itu hilang dari wajah cantik wanita yang dicintainya. Karena setelah semua yang dilakukan oleh Shintarou, Yuzuki masih belum bisa menunjukkan senyuman tulusnya.

"Shin-chan? Shin-chan?" Yuzuki melambai-lambaikan tangannya didepan pemuda itu. Sepertinya Shintarou benar-benar terlarut dalam pikirannya. Dan saat itu Shintarou dengan sok elitnya membenarkan posisi kacamatanya. "Ada apa nodayo?"

"Aku akan turun disini. Sampai jumpa, Shin-chan. Hati-hati di jalan.." Pamit Yuzuki pada Shintarou dan melambaikan tangannya.

Yuzuki memang sengaja turun di stasiun ini. Padahal untuk menuju rumahnya serta rumah Shintarou, mereka masih harus singgah satu stasiun lagi. Namun wanita itu sudah memutuskan untuk kembali mengunjungi makam anaknya. Makam Kazunari tercinta.

Dan hal yang mengejutkan kembali membuat Yuzuki tertegun..

Mungkin Yuzuki sudah turun dari kereta sendirian jika Shintarou tidak mengikutinya. Berada di sampingnya. Dan mengatakan. "Ke makam Takao bukan? Aku juga akan pergi kesana." Ujarnya sambil mendahului wanita itu beberapa langkah. "Ini hanya kebetulan nanodayo. Aku hanya ingin kesana. Bukannya mengikutimu."

Andai saja jika Yuzuki adalah wanita yang peka, mungkin dia sudah mengerti tujuan Shintarou yang sebenarnya. Bahkan harusnya sudah bisa mendeteksi ke-tsunderean pemuda tersebut. Yuzuki hanya 'sekedar' mengetahui jika pemuda itu tsundere dari almarhum putranya.

Mereka berdua kembali berjalan bersama. Bahkan singgah di sebuah toko bunga untuk memberikannya pada Kazunari. Dan hari ini pilihannya jatuh pada bunga anggrek. Mungkin memang bukan bunga untuk melayat, namun mengingat sifat Kazunari pasti dia tidak akan mempersalahkannya dari atas sana.

"Konnichiwa, Kazu-kun. Hari ini Okaa-san datang bersama Shin-chan.." Ucap Yuzuki mengawali pembicaraannya sendiri dengan batu nisan. "Hari ini Okaa-san dan Shin-chan membawakanmu bunga anggrek. Tidak apa-apa kan? Oh ya, Okaa-san ingin bilang padamu kalau hari ini genap seminggu Okaa-san bekerja di perusahaan Akashi. Dan semua itu berkat Shin-chan.."

Shintarou memilih untuk berpura-pura menutup mata dan tidak mendengarkan. Walaupun semua ucapan dan nada lirih yang keluar dari bibir wanita itu cukup membuat hatinya tersayat. Shintarou hanya menunggunya hingga selesai.

"Bagaimana keadaanmu disana? Maafkan Okaa-san kalau akhir-akhir ini jarang mengunjungimu. Setelah mulai bekerja, Okaa-san jarang punya waktu untuk kemari." Tangan mungil Yuzuki mengelus nisan tersebut. "Apa kau disana bahagia, Kazu-kun?"

Setetes air mata mulai mengalir. "Ahh.. Maaf, Okaa-san bodoh. Kau pasti bahagia disana, Kazu-kun.." Suaranya mulai bergetar. "Pasti disana sangat indah ya? Apa Kazu-kun juga sudah memiliki teman disana? Tetapi dengan sifatmu yang supel, seharusnya kau mempunyai banyak teman.." Katanya lagi.

Angin musim dingin kembali berhembus. Namun tidak ada satupun dari mereka yang merapatkan jaket atau syalnya. Shintarou hanya terus memandangi Yuzuki, dan wanita tersebut tetap berbicara pada nisan didepannya. Mungkin seperti orang gila, namun itulah kenyataannya. Yuzuki masih belum bisa sepenuhnya menerima kepergian anaknya.

"Kenapa kau harus pergi secepat ini, Kazu-kun?" Wanita itu tetap terisak. "Sebentar lagi musim semi. Dan itu artinya, kau akan menjadi murid tahun kedua bukan di Shuutoku? Okaa-san masih ingat disaat-saat kau berjuang untuk masuk ke Shuutoku. Namun kenapa dirimu berakhir begini.."

Shintarou tetap diam. Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menunggu wanita itu menyelesaikan semuanya hingga dia lega. Yuzuki sudah terlalu rapuh, dan Shintarou tidak ingin membuatnya hancur lebih dari itu.

"Okaa-san sangat merindukanmu, Kazu-kun. Hari-hari Okaa-san sangat hampa tanpamu.." Yuzuki tetap terisak. "Tanpa buah hati Okaa-san.. Rasanya sudah tidak ada lagi gunanya Okaa-san hidup di dunia ini. Kapan kau akan menjemput-"

"Yuzuki-san, busnya sudah datang. Kalau kita melewatkannya, kita tidak akan bisa pulang nodayo." Kata Shintarou memotong ucapan Yuzuki barusan.

Sengaja. Shintarou melakukan hal itu dengan sengaja. Semua dilakukannya agar Yuzuki tidak melanjutkan semua kata-katanya. Shintarou tidak pernah suka dengan ucapan negatif wanita tersebut. Namun Shintarou juga tidak bisa memarahinya.

Yuzuki akhirnya menuruti pemuda itu. Mengikutinya berjalan hingga bersiap naik untuk masuk kedalam bus. Namun baru saja kakinya melangkah untuk masuk, Yuzuki langsung terdiam sebentar. Dan tidak lama kemudian dia turun dari bus itu.

"E... Etto.. Shin-chan.. Aku bisa pulang sendiri.. S-sampai jumpa!"

Dan belum sempat Shintarou mengejar atau mencegahnya, pintu bus telah tertutup terlebih dahulu dan berjalan membawanya pulang.

.

.

.

.

.

Esok paginya Yuzuki tetap bekerja seperti biasanya. Bahkan dia berangkat menggunakan kereta dan jalan kaki saja, menghindari untuk naik bus agar hal kemarin tidak terulang.

Gawat. Itulah yang dipikirkannya sejak kemarin. Bagaimana bisa dia bertemu dengan 'orang itu' saat hendak memasuki bus? Dan juga.. Apa kini wajahnya telah diingat?

Apakah Yuzuki akan menjadi buronan sebentar lagi?

Terlalu lama melamun membuat Yuzuki akhirnya ditegur oleh salah satu rekan kerjanya. Hal tersebut cukup menyadarkan Yuzuki. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk lebih berkonsentrasi dan fokus bekerja. Dia tidak boleh menghawatirkan hal itu sekarang.

"Takao-san, tolong antarkan pesanan untuk meja 7."

Yuzuki langsung mengambil baki berisi makanan serta minuman. Bersiap-siap untuk mengantar ke meja pesanan. Sekali lagi Yuzuki meyakinkan dirinya, kalau dia harus bekerja sungguh-sungguh. Dia tidak boleh mengecewakan Shintarou atau Akashi yang sudah berbaik hati memberikannya pekerjaan.

"Maaf menunggu lama, silahkan pesanan anda.." Yuzuki memasang senyumnya. Sembari meletakkan makanan yang dipesan oleh orang yang sedang membaca koran itu.

"Ahh.. Te-" Pria yang baru saja meletakkan korannya melotot. "O.. Ojou-sama?"

Yuzuki langsung menegang. Pria itu.. Pria yang dilihatnya kemarin saat akan memasuki bus.

Kenapa dia ada disini?

"M-maaf.. Anda salah orang.." Dan Yuzuki segera berbalik pergi kalau saja pria tua itu tidak menahannya.

"Tidak.." Pria itu benar-benar terlihat syok. Namun dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah. "Yuzuki Ojou-sama.."

DEG

Panggilan itu..

Panggilan yang telah dilupakan oleh Yuzuki selama tujuh belas tahun..

Mimpi buruk Yuzuki seakan-akan kembali padanya.

"Yuzuki Ojou-sama.. Selama ini anda kemana saja? Kami semua mencarimu.. Kami semua selalu berusaha menemukanmu.." Senyum kelegaan yang sedikit dipaksakan terpancar dari wajah pria tua itu. Bagaimanapun juga, dia juga menjadi salah satu orang yang telah turun tangan dalam membesarkan Yuzuki. "Ayo pulang, Ojou-sama. Semua mencarimu.."

Yuzuki menarik tangannya sekuat tenaga. Wajahnya mendadak pucat dan menjadi sangat panik. Dan setelah itu, dirinya langsung memaksa kedua kakinya untuk berlari. Berlari sekencang yang dia bisa, berlari sekuat tenaganya. Karena yang ada dipikirannya sekarang hanyalah lari. Lari entah kemana, yang penting ke suatu tempat yang jauh.

Ya, Yuzuki harus segera pergi dari tempat ini.. Dari kota ini...

.

.

.

.

Siang itu latihan basket Shuutoku ditiadakan. Persiapan untuk kelulusan dan menyambut musim semi, membuat beberapa pihak sekolah mendekorasi ruang auditorium. Tidak lupa beberapa murid yang akan lulus juga bergladi bersih untuk persiapan acara kelulusan.

Oleh sebab itulah kini Shintarou berdiri di stasiun. Bersiap-siap memilih tiket yang akan dibelinya. Dan tangannya sudah bersiap untuk memencet prefektur Edogawa. Tempat dimana perusahaan pusat Akashi berdiri. Sudah bisa dipastikan jika dia akan pergi menemui Yuzuki. Lagi.

Namun, belum sempat jemari lentik itu memencet tombol, dirinya sudah dikejutkan oleh wanita yang dikenalnya terlebih dulu.

"Yuzuki-san.."

Yuzuki masih saja terus berlari. Berlari seakan-akan tidak memperdulikan arah. Wajahnya masih saja panik. Dan hal tersebut membuat Shintarou membatalkan jemarinya untuk memencet tombol. Beralih untuk ikut mengejar wanita tersebut. Hingga akhirnya dia melihat Yuzuki akan memasuki sebuah gerbong kereta secara acak. Dan Shintarou tahu pasti wanita itu tidak memiliki tiketnya.

GREP

Tangan Shintarou berhasil menahan Yuzuki. Berhasil menahan tangan kecil yang berkeringat itu. Dan ketika menoleh kebelakang, Yuzuki sudah gemetaran. Ia semakin membesarkan matanya ketika menyadari siapa yang sedang memegang tangannya kini.

"Shi.. Shin-chan.."

"Apa yang kau lakukan nodayo?"

Pintu kereta tertutup. Dan kedua penumpang gelap tersebut tampaknya lupa jika mereka tidak memiliki tiket. Bahkan mereka tidak tahu kereta ini akan membawa mereka entah kemana.

"Dan siapa pria tua yang mengejarmu sejak tadi? Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Shintarou sekali lagi. Menatap lurus Yuzuki. Matanya mengatakan jika dia ingin penjelasan.

Yuzuki menunduk sejenak. Mengepalkan tangannya erat untuk memberanikan dirinya membalas tatapan pemuda hijau itu.

"Shin-chan.. Aku akan menceritakan semuanya padamu.." Katanya pelan.

"Mulai dari siapa itu Takao Yuzuki, bagaimana Kazu-kun lahir, dan juga keluargaku yang sebenarnya.."

.

.

.

.

.

.

Haloo semuanya? Apa kabar? Apa masih ada yang ingat sama saya? :')

Untuk yang menunggu fic ini (jika ada), saya meminta maaf yang sebesar-besarnya :')

Dikarenakan kesibukan saya pada real life membuat saya tidak ada waktu untuk buka ffn, bahkan browsing aja nggak. Menyedihkan ya? :')

Dan yang terakhir,

Terima kasih buat semua reader maupun yang aktif atau silent :') buat para reviewers yang selalu mendukung saya baik yang memiliki akun atau tidak :') dan tidak lupa untuk yang memfollow dan fave :') semua benar-benar memberikan semangat buat saya. Saya berhutang budi pada kalian semua (?)

See you next chapter! :D

And please keep support me from now.

Yoroshiku onegaishimasu xD!