Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto. Ane, pinjem bentar char nya ya om?
Warning : Newbie, EYD abal banget, typo's?,OOC, ide pasaran tapi gak plagiat
yamanakavidi Present
Sekuel of kamu jahat
°Destiny°
Special thanks for all reader
Hinata terdiam. Seperti mimpi dia mendapat kabar itu seketika itu tiba-tiba tangannya melemah. Tapi, dia berusaha untuk mempertahankan kendi tanah itu agar otou-sama nya tidak curiga dengan sikapnya ini.
"Pyaar!"
Hinata kaget dengan suara itu. Bukankah kendi tanahnya masih ia pegang?
Hinata menoleh ke samping. Tepat di sumber suara itu. Dia melihat Gaara yang menatap Hiashi dengan tatapan yang sulit diartikan tapi, cenderung kosong. Bahkan kendi tanahnya yang telah pecah pun tak ia hiraukan.
Hiashi kaget dengan sikap Gaara itu sedangkan Hinata yang tidak ingin melihat ayahnya salah paham dengan sikap Gaara langsung angkat bicara, "aku akan membereskan pecahan ini"
Dengan cekatan, Hinata memunguti pecahan itu dengan tangan gemetar seperti menahan tangis. Gaara yang melihat tangan Hinata bergetar langsung membantunya mengambil pecahan kendi tanah itu. Sedangkan Hiashi menatap mereka dengan bingung.
Hiashi tetap menatap mereka sampai pelayan Hyuuga memanggilnya untuk menemui para tetua. Hiashi hanya mengangguk dan langsung pergi tanpa memikirkan peristiwa yang baru terjadi.
Setelah Hiashi pergi, dua sosok manusia itu terdiam. Bahkan, ketika para maid Hyuuga datang untuk membantu mereka pun tak ada yang berani membuka percakapan. Hanya tatapan mata mereka tak putus kontak seakan mata mereka mengerti perasaan hati mereka.
"Em.. Gaara-san anda boleh pergi. Para pelayan akan membereskan ini" ujar Hinata berubah.
"Hinata, kau tak perlu canggung begitu. Ka-kau hanya akan menikah dan kita tetap berteman" ucap Gaara sambil menatap Hinata sendu. Hinata yang mendengar itu hanya tersenyum miris. "Iya, menikah dengan orang yang telah membohongiku" ucap Hinata sembari pergi. Dan Gaara hanya mencoba untuk tegar kali ini.
Melupakan seseorang yang telah berani mengukir nama di hatinya, itu sulit dan sangat sulit.
~Skip Time
Jalanan di pertokoan Konoha mulai ramai. Apalagi setelah sang Rokudaime Konoha sendiri yang datang untuk membeli sesuatu.
Naruto melihat ratusan cincin di lemari kaca toko perhiasan itu.
Matanya tetap mencari mana yang pantas untuk calon istrinya nanti.
"Ada yang bisa saya bantu tuan" ujar seorang pelayan toko itu kepadanya.
"Ah, ya tolong carikan cincin untuk pernikahan" jawab Naruto sembari menoleh ke arah pelayan itu. Pelayan toko itu kaget karena yang mengunjungi tokonya adalah sang Rokudaime sendiri. Dia pun langsung memilih beberapa cincin yang menurutnya sangat cantik dan mewah.
"Sepertinya aku harus mengalah" gumamnya.
Naruto masih memandangi cincin di toko itu sampai ada orang yang mengetuk pundaknya. Pria bersurai kuning itu menoleh ke arah belakang
"Jyuuken," ujar Hinata sambil mengeluarkan jurusnya. Naruto pun terbanting di lantai marmer toko mewah itu. Semua orang di toko itu diam tak berkutik melihat kejadian di depan mereka.
"Kau kenapa, Kenapa tiba-tiba menyerahku?" Tanya Naruto sambil berusaha bangkit. Dia merasakan sakit di dadanya akibat ulah Hinata.
"Itu hukuman karena kau ingin masuk ke dalam hidupku lagi" ujar Hinata yang langsung pergi menghilang di hadapan Naruto.
Sedangkan, sang Namikaze langsung berlari menemui Hinata setelah terdiam beberapa saat untuk mencerna perkataan Hinata.
°Destiny
Taman kota yang baru dibuka beberapa tahun yang lalu itu, menjadi tempat yang penuh dengan cinta dan kasih. Banyak para pasangan muda-mudi yang memadu kasih di tempat ini, karena itu, di setiap kursi taman pasti tidak sepi dengan para pasangan kekasih. Bahkan, para pasangan pengantin akan melakukan foto pernikahan di taman ini.
"Hiks…"
Tunggu.!
Bukankah di taman ini adalah taman yang banyak cinta dan kasih?
Kenapa ada suara tangis?
Hinata duduk di salah satu kursi taman kota itu, dia menunduk sambil menutupi wajah ayunya yang bersimbah air mata.
"Hinata," ucap Naruto sendu sekaligus bingung. Sedangkan, yang dipanggil langsung menoleh ke arah suara. Tangannya refleks menghapus air mata yang sudah mengalir sedari tadi, dan menggeser duduknya agar sang Hokage bisa duduk disampingnya.
"Kau," Hinata mulai membuka percakapan. "Kenapa kau masuk dalam hidupku? Kenapa kau selalu membuatku gelisah. Kau tahu, aku berusaha melupakanmu. Tapi, setelah melihatmu hari dimana aku kembali, semuanya hancur. Usahaku melupakanmu seperti dandelion yang ditiup angin. Semudah itu kau menghilangkan semua usahaku."
Air mata Hinata yang tadi dia hapus, mulai datang lagi. Penjelasan panjang Hinata membuat Naruto merasa bersalah.
"Harusnya aku tidak melakukan itu" ujar Naruto sambil menatap Hinata.
Rasanya, dia ingin membunuh orang yang membuat heirees Hyuuga ini menangis. Tapi, bukankah yang membuat gadis cantik ini menangis adalah dirinya? Apa dia juga akan menyerang dirinya sendiri?
"Ya, kau benar. Harusnya kau tidak melamarku" ujar Hinata dengan suara seraknya.
"Melamar? Aku tidak pernah melamarmu, Hinata. Setidaknya belum"
Perkataan Naruto membuat Hinata tersentak.
"Lalu, kalau bukan kau, siapa yang telah melamarku kemarin?" Tanya Hinata. Naruto pun hanya menghendikan bahu.
Naruto benar-benar kaget akan perkataan Hinata. Kemarin, Shikamaru memang memberinya ide untuk menikahi Hinata. Tapi, setelah si Nara keluar dari ruangannya, dia berfikir apakah cara itu bisa mengembalikan Hinata kepadanya?
Mungkin dia akan mendapatkan Hinata selamanya tapi, tidak untuk hatinya. Dan, Naruto pun memilih untuk mendapatkan Hinata secara perlahan. Toh, kalau jodoh takkan lari kemana.
"Lalu, apa maksudmu mengatakan harusnya kau tidak melakukan itu?" Tanya Hinata. Nampaknya deritanya telah digantikan oleh rasa perasaan yang amat atas perkataan Naruto.
Naruto tersenyum ngilu, "Harusnya, aku tidak memacarimu karena rasa kasihan. Harusnya aku melakukan pendekatan denganmu sebelum memutuskan berpacaran. Dengan begitu, tidak ada yang menyesal dikemudian hari." Penjelasan Naruto itu mampu membuat Hinata mematung seketika. Memorinya membawa pada kejadian 3 tahun lalu.
Dimana dia mendengar pengakuan Naruto tentang perasaan yang sebenarnya antara pria kuning itu dengan dirinya.
Naruto yang melihat Hinata diam mematung, langsung berinisiatif memegang tangan porselen milik Hinata dan menggegamnya erat.
"Dengar Hinata, perasaan kasihanku yang dulu telah berubah. Kau tahu aku selalu menunggumu pulang saat kau tak ada di Konoha. Aku selalu menunggu" Naruto menghela nafas panjang. Rasanya sesak jika harus mengulang memori dimana dia merasa sangat sangat rindu dengan Hinata. "Aku bahkan tidak masuk selama seminggu hanya untuk memastikan perasaan apa yang sebenarnya ada dalam diriku ini" Naruto tetap melanjutkan ucapannya. Tak peduli bahwa Hinata hanya memandang lurus ke depan tanpa menunjukkan reaksi apapun ketika mendengar pengakuan Naruto.
"Dan, ketika kau pulang. Aku sangat menunggu hari itu, hari dimana kupikir.. kupikir kau akan kembali padaku. Kukira aku akan mendapatkan kau kembali dengan mudah. Ternyata tidak, kau yang sekarang terlalu jauh untuk kucapai" Naruto menunduk. Dia merasa akan ada sebutir air dari matanya yang turun.
Hampir..
Kalau saja tangan Hinata tidak membalas genggaman eratnya, mungkin dia sudah menangis tersedu sedari tadi. Surai kuning kebanggaanya itu ikut bergerak ketika sang empunya mengangkat wajah tannya. Naruto melihat wajah Hinata yang sedang tersenyum kearahnya.
"Maaf," ucap Hinata sembari menguatkan genggamannya pada tangan Naruto.
Tes! Setetes air mata itupun turun dan jatuh ke tangan porselen Hinata yang ada di atas tangannya.
Biarlah! Biarlah hari ini dia menjadi dirinya. Menjadi Naruto yang sebenarnya rapuh. Dia sudah lelah berusaha tegar akan menghadapi keriduannya ini. Dia ingin sesekali menjadi dirinya yang ingin sekali dikasihi dan dicintai. Bukan karena rupa, tapi karena hati.
"Tidak Hinata. Kau tidak boleh berkata seperti itu padaku. Aku yang sudah menyakitimu. Aku yang sudah membohongimu. Aku Hinata.. Aku yang menggores luka itu dihatimu" ujar Naruto sambil terhisak. Dia benar-benar ingin Hinata tahu berapa dalam penyesalan yang telah lama menghantuinya itu.
Hinata hanya terdiam sambil terus mengeratkan genggamannya pada Naruto.
"Bolehkah aku memelukmu, hime?" Tanya Naruto pelan. Dia tidak mungkin meminta hati sang heiress Hyuuga ini, tapi meminta pelukan hangat dari Hinata hanya itu yang dia harapkan. Itupun, tidak 100% karena tak mungkin Hinata mau memeluk tubuh yang telah menyakitinya ini. Tapi, sungguh Naruto butuh itu sekarang. Rasanya, dia sudah tidak kuat menanggung derita itu selama ini.
Hanya pelukan. Sungguh, hanya sebuah pelukan dari Hinata yang mungkin bisa membuat sebagian deritanya lenyap. Meskipun hanya sebagian, itu tak masalah untuk Naruto yang rindu akan kasih dan sayang.
Hinata tersenyum, "Jika itu membuatmu tenang. Tak apa" Naruto langsung memeluk erat tubuh mungil Hinata, dia benar-benar bahagia sekarang. Hinata gadisnya yang dulu dia sakiti, kini sudah mau menganggapnya lagi. Tak apa jika nanti hanya sebagai sahabat.
Sekarang yang terpenting, Hinata sudah mau membuka pintu maaf untuknya. Mungkin, dia akan bersyukur jikalau Hinata juga mau membuka pintu hatinya lagi untuknya. Mengharap eh,?!
°Destiny
Malam sudah menggantikan siang beberapa jam yang lalu. Angin pun mulai bertiup kencang, tapi itu bukan sesuatu yang bisa membuat Gaara pergi dari halaman belakang mansion Hyuuga. Gaara menatap bulan yang redup karena tertutup awan, dia harus menjaga jarak dengan Hinata yang sudah akan menikah, membuang jauh-jauh perasaan yang telah dipendamnya selama ini.
"Kau tidak masuk, Gaara-kun?" Tanya Hinata yang langsung duduk di samping Gaara.
"Sebaiknya kita jangan bertemu Hinata. Aku akan pindah dari rumahmu ini besok, aku tidak mau ada gosip tentang keluargamu yang memberikan tempat untuk pria lain dirumahnya, sedangkan gadis keluarga itu akan menikah" ucap Gaara panjang.
"Aku tidak akan menikah" ucapan Hinata itu mampu membuat Gaara jantungan seketika.
"Maksudmu?" Tanya Gaara sambil berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Ternyata, bukan Naruto-kun yang melamarku waktu itu"
"Lalu, siapa?" Gaara benar-benar bingung dengan pernyataan Hinata.
"Entahlah, tapi Naruto-kun akan segera mengerahkan ANBU untuk menyelidikinya"
Gaara yang mendengarnya langsung sumringah. Wajahnya yang tadi tertekuk, kini mulai kembali tersenyum. Dia lalu, mengikuti langkah Hinata masuk ke mansion Hyuuga. Hatinya sudah mantap untuk tetap mencintai Hinata, dan mungkin sebentar lagi dia akan mewujudkan impiannya untuk menjadikan Hinata teman hidupnya selamanya.
~Skip Time
Naruto masuk ke kantor Hokage dengan wajah sumringah, sesekali dia menyapa beberapa pekerja sesama Shinobi yang sedang berjalan di koridor yang sama. Dia masih teringat akan perlakuan Hinata padanya kemarin. Tapi, hatinya juga masih bingung dengan kabar yang dibawa Hinata, dibenaknya masih terpikir siapa yang berani melakukan Henge no jutsu dan berubah menjadi Naruto serta melamar Hinata, Apa maksud dibalik semua ini. Pikirannya terus mencoba mencari jawaban tentang apa yang menjadi pertanyaannya saat ini, sampai telinganya menangkap suatu pembicaraan antar Shinobi yang menurutnya sangat ganjil.
"Bagaimana bisa anda mengelabuhi si Hiashi itu, nona Tsunade?" Tanya Shizune kepada wanita yang sedang meminum sakenya itu. Tsunade, hanya terdiam lalu tertawa, "Aku berubah menjadi Naruto menggunakan Henge lalu melamar Hinata, aku ingin dia menjadi milik Naruto karena sepertinya Naruto sangat menyukainya. Apalagi waktu itu, aku sempat mendengar si Nara memberi ide kepada Naruto untuk melamar putri Hiashi itu"
Naruto yang mendengar dengan jelas di balik pintu kayu itu mulai menggeram marah. Dia tidak menyangka Tsunade tega melakukan ini kepadanya terlebih kepada Hinata.
"Aku juga ingin menang judi sesekali, para tetua itu akan memberiku banyak uang asal klan Hyuuga mau bersatu dengan Klan Namikaze yang sudah punah. Mereka ingin klan yang punah dihidupkan kembali"
NANI? Mereka memanfaatkan perasaan manusia untuk membangun klan? Dasar Tetua tak berguna..
BRAAK.. Kedua wanita yang sedang bercakap itu menengok kearah pintu ketika mendengar hentakan keras yang dibuat oleh seorang pemuda yang sudah berpangkat Hokage itu. "BAA-CHAN.. APA MAKSUDMU MENGGUNAKAN HINATA DAN AKU SERTA PERASAAN KAMI UNTUK KEPENTINGAN KLAN?" Naruto langsung berteriak di depan Tsunade dengan emosinya yang meluap membuat sang Hokage ke-5 terdiam tak berkutik. "APA KAU TAHU?" Naruto menarik nafas sebentar "Itu membuat kami terasa makin jauh. Dia menjadi lebih tidak menyukaiku" Naruto menunduk ketika mengucapkan kalimat itu. "Naruto?" Tsunade berjalan pelan ke arah Naruto dan mengelus surai kuning yang nampak mirip dengan sang ayah, Minato.
"Aku minta maaf atas tindakan lancangku. Akan aku perbaiki semua, aku akan bicara pada Hinata" Ujar Tsunade sambil berjalan keluar dari ruangan di salah satu kantor Hokage itu. "Tidak perlu. Aku akan bicara sendiri" Naruto langsung mengeluarkan jurusnya membentuk satu bunshin yang ditugaskan menemui Hinata.
°Destiny
Mata cantik milik gadis keturunan Hyuuga ini membelalak lebar mendengar pernyataan Gaara, dia tidak percaya akan apa yang didengar jelas oleh telinga mungilnya itu. "Aku mencintaimu" Ucapan yang berasal dari mulut pria panda itu terus terngiang di pikiran Hinata. Sedangkan, sang gadis hanya diam berkutat dengan pikiran serta hatinya. Lalu, yang dia rasakan selanjutnya adalah pelukan hangat di tubuhnya. Gaara memeluknya
Gaara memeluknya erat. Sangat erat. Seperti takut jika terlepas barang sebentar. "Jadi, Apa kau mencintaiku juga?" Tanya Gaara yang entah keberapa kalinya. Hinata menangis bahagia, ternyata perasaan yang dimilikinya tidak bertepuk sebelah tangan. Pria itu juga mencintainya, dengan tulus. Tidak seperti seseorang dimasa lalunya yang menganggap cinta sebagai ajang balas budi semata. Dia ingin mengganguk mengiyakan, tapi ketika ia memejamkan mata yang ada dipikirannya adalah seorang lelaki bertubuh kekar dengan surai kuningnya, bukan merah. Hinata pun ragu akan cintanya. Sebenarnya, hatinya sedang mencintai siapa sekarang?
"Maaf menggangu, nona. Di depan ada Tuan Hokage yang ingin bertemu anda" Ucap seorang pelayan Hyuuga. Hinata pun langsung melepaskan diri dari pelukan Gaara dan segera menghapus air matanya.
.
.
"Ada apa Naruto-kun?" Tanya Hinata yang sudah menemui Naruto di depan halaman Mansionnya. "Aku bukan Naruto. Aku hanya bunshin, Nanti pergilah ke taman kota. Ada yang ingin dibicarakannya denganmu. Tentang siapa sebenarnya yang telah melamarmu" Sehabis mengucapkan itu, bunshin Naruto langsung menghilang menjadi kepulan asap putih. Hinata yang mendengarnya langsung tercetak dan terdiam. "Aku pasti datang" Ucapnya.
.
.
.
Seorang gadis cantik bermata violet berjalan ke arah taman kota. Matanya menatapa taman yang dibuat oleh Hokage muda itu kagum. "Kau, sudah hebat Naruto-kun. Jangan lupakan janjimu" Ucapnya.
Hinata sudah sampai di taman kota, di sore hari seperti ini, sulit sekali mencari kursi taman yang masih kosong karena ramainya para pasangan kekasih yang menikmati pemandangan sore ciptaan yang pencipta disini.
Ah.. Mata Hinata berbinar, ketika melihat kursi kosong. Kakinya langsung berjalan ke arah kursi itu. Setelah, memposisikan tubuhnya dengan nyaman Hinata langsung menatap taman yang menjadi tempat pertemuannya dengan Gaara, tempat menangisnya dan tempat dimana Naruto akan menjelaskan masalah yang sedang membelit dirinya dan mungkin Naruto juga.
Seseorang duduk di sebelah Hinata tergesa. Mata Hinata langsung menengok ke arah samping melihat siapa yang sedang duduk itu. Seorang gadis. Bukankah, Naruto yang mempunyai janji dengannya? Kenapa yang datang seorang gadis? Pertanyaan itu terus muncul seiring munculnya gadis itu secara tiba-tiba.
"Kau Hinata Hyuuga, kan? Kekasih dari Naruto-kun?" Tanya gadis itu, tanpa menatap Hinata. Hinata yang masih kaget akan kedatangan sang gadis, hanya terdiam bingung. Bagaimana gadis ini tahu siapa dia. Dan, kekasih Naruto? Apakah gadis ini ketinggalan berita sehingga kabar putusnya Hinata pun tidak sampai padanya? "Dengar ya. Naruto-kun pernah menolongku dan berkata dia akan membantuku untuk meneruskan keturunan klanku. Sebelumnya, perkenalkan aku Shion, aku adalah seorang miko. Dan, kau pasti pernah dengar tentang misi Naruto untuk membantu desaku kan?" Perkataan gadis yang bernama Shion itu membuat Hinata tercekat.
"Begini, aku kesini untuk memperingatkanmu kalau sang tuan Hokage terikat janji padaku. Jadi, kau menyerah saja. Cari pria lain yang mencintaimu dan tinggalkan Naruto-kun" Ujar Shion yang kini menatap nyalang kearah Hinata.
"Ga-Gaara-kun" Hinata langsung teringat akan pria yang sudah mengatakan isi hatinya itu beberapa jam yang lalu di taman belakang Mansionnya.
"Ya..Ya..Ya.. Lebih baik, kau bersama dengan Gaara atau siapapun yang kau sebut tadi. Karena itu lebih baik daripada Naruto" Shion tetap menatap Hinata yang tubuhnya mulai bergetar menahan tangis. "Kau, m-mencintai N-Naruto-kun S-Shion-san?" Tanya Hinata terbata. Suaranya sedikit serak karena menahan tangis sedari tadi.
Shion yang melihatnya tersenyum miris. Matanya menatap Hinata lekat lalu menggeleng, "Tidak. Aku hanya mencintai kekuataannya yang begitu besar. Dia memiliki Kyuubi di tubuhnya, dan kudengar ketika perang dia mendapat kekuatan dari Rikudo Sennin dan berteman dengan 9 bijuu sekaligus. Bukahkah hebat jika aku menjadi istri seorang Shinobi terhebat di daratan Ninja ini? Jika aku jadi istrinya, aku bisa memanfaatkannya untuk membangun desaku agar lebih besar dan kuat"
Hinata membelalak lebar, air mata yang sedari tadi dia tahan sudah mengalir deras ketika mendengar penuturan Shion tentang alasan kenapa dia menginginkan Naruto menjadi miliknya.
~Skip Time
Pintu gerbang Konoha adalah tempat bagi para ninja Konoha untuk pergi menjalankan misi ataupun pulang membawa kabar gembira karena berhasil menjalankan misi. Dulu, inilah tempat kesukaan Naruto karena di tempat ini dia bisa memperjuangkan dirinya agar dilihat dan diakui oleh warga konoha. Agar dia tidak dianggap sebagai monster. Tapi, itu dulu. Dulu sekali. Kalau sekarang, itu adalah tempat yang ia benci. Itu adalah satu satunya tempat yang ingin ia hancurkan.
Karena tempat itu telah membuat gadisnya berubah.
Mata Shappire birunya menatap langit yang mulai berubah warna menjadi orange hampir sewarna dengan surainya itu. Sudah berjam-jam dia berdiri di depan gerbang desa kebanggaannya, desa yang menjadi saksi bisu berkembangnya kemampuan yang ada pada dirinya. Desa yang menjadi tempatnya membuktikan diri kalau dia adalah seorang Shinobi bukan monster. Dia berdiri di depan gerbang itu, mengingat tentang semua yang telah dia lakukan dan berfikir apa yang akan dia lakukan di masa depan. "Aku akan memulai dari awal" Naruto menatap langit sore dengan senyuman. "Hinata-chan, Tunggu aku"
°Destiny
Hinata menatap pohon Itosugi yang menjulang tinggi didepannya, matanya masih tetap sayu setelah mendengar penuturan Shion tadi. "Maaf, Hinata. Aku terlambat ya" Ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepala yang tak gatal.
Hinata yang mendengar dengan jelas suara Naruto itu langsung menggeser duduknya menjadi lebih ke tepi sembari tersenyum manis dan bergumam tak apa.
"Umn.. Hinata, aku minta maaf ya datang terlambat. Apa kau menunggu cukup lama?" Ujar Naruto sembari duduk di samping Hinata.
Hinata menggeleng. Naruto pun langsung menceritakan semuanya, siapa dan mengapa seseorang berubah menjadi dirinya dan melamar Hinata. "Maafkan Baa-chan, ya Hinata. Dia hanya ingin menang dalam berjudi dengan para tetua dan mempertaruhkan kita hanya untuk klan." Ucap Naruto sembari duduk di samping gadis keturunan Hyuuga itu.
"Tak apa" Ucap Hinata. Dia memang tidak lagi memikirkan siapa yang sebenarnya telah melamarnya setelah tadi bertemu dengan Shion di sini. Tempat yang sama seperti tempat dimana dia dan Naruto duduk sekarang. Dia sedang memikirkan sesuatu yang mungkin akan merubah hidupnya.
"Hinata, aku ingin kita bersama lagi. Aku mencintaimu dengan tulus" Ucap Naruto dengan sedikit terbata. Jujur, dia masih sedikit ragu apakah permintaannya ini akan diterima dengan baik atau tidak oleh Hinata.
"Maaf," Ucap Hinata.
Sial! Kenapa yang keluar dari mulut mungil Hinata malah sesuatu yang tidak diinginkan Naruto? Apa kami-sama benar-benar marah padanya? Begitu besarkah kesalahannya dimasa lalu?
"Kenapa?" Tanya Naruto hampir menangis. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan linangan air mata yang siap keluar.
"Aku memilih Gaara-kun" Ucap Hinata tanpa menatap Naruto. Hatinya sakit saat harus mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia katakan. "Bulan depan kami akan menikah" Hinata langsung beranjak pergi dari taman itu meninggalkan Naruto yang masih diam mematung.
~TBC
Itosugi: Pohon Cemara
Huwa... Gomenne lama update. Ini juga ketik di sekolah karena lagi nyari Wifi.. Gomenne Vidi malah update cerita baru buat pairing lain.. Huwaaa.. Terus ane jadi Tutor buat author baru. Eh, bukannya ane juga newbie ya? Hah.. entahlah.. Disini flashback sudah selesai. Masih ingat di chapter pertama ada tulisan flashback On? Nah, di chapter ini flashbacknya udahan. Alurnya emang kayak film India yang sering ane tonton sih. Hehe,, lagi tergila-gila sama aktor tampan dari negeri bollywood.
Yang review pake akun, ane balas di PM..
Dor.. Dor
Un.. Akhirnya Hinata sama... Tunggu chapter depan ya.. Arigatou sudah RnR! Ditunggu Review berikutnya ya..^O^
Diane Ungu
Oohh.. Lagi sensitif? Sama, ane juga. Dari kemarin kerjaannya marah dan badmood.. Arigatou sudah RnR! Ditunggu Review berikutnya..^O^
Akhir kata, seperti biasanya
RnR, Please?
Salam,
yamanakavidi (august, 2014)
