Chapter ini ane persembahkan buat EnvyandVanity reviewnya buat ane semangat, langsung ane download lho lagunya. Thanks ya, jadi dapat inspirasi lagi deh. Oh, iya pastinya buat seluruh reader yang menyempatkan waktu untuk review, mau untuk memasukan cerita abal ini di alert nya, serta juga follower, thanks semuanya. Maaf, gak bisa balas review kalian satu per satu. Gomenne, dan chapter ini adalah permintaan maafku untuk para reader yang sudah mereview tapi tidak bisa kubalas. Sekali lagi, Gomenne minna.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto. Ane, pinjem bentar char nya ya om?

Warning : Newbie, EYD abal banget, typo's?,OOC, ide pasaran tapi gak plagiat

yamanakavidi Present

Sekuel of kamu jahat

°Destiny°

Gaara menatap Hinata tak percaya, tadi dia hanya mengutarakan perasaan yang telah bersarang dihatinya selama ini, dia juga tidak terlalu mengharap banyak akan apa yang menjadi jawaban Hinata nanti. Karena dia tahu di hati Hinata masih ada Naruto meskipun prosentasi kehadiran Naruto di hati Hinata yang notabennya pernah menyakiti Hinata itu sangat kecil, tapi meskipun kecil masih tetap ada, kan?

"A-apa? Bisa kau ulangi?" Tanya Gaara, dia benar-benar belum percaya kalau Hinata menerimanya, menerima pernyataan cintanya.

"Aku juga mencintaimu, Gaara-kun, aku sadar hanya kau yang bisa mengerti aku sepenuhnya. Jadi, apakah aku harus mengulang lagi perkataanku ini Gaara?" Ujar Hinata ceria dan tanpa gagap. Nampaknya dia sudah yakin akan pilihannya itu, meskipun wajah cantiknya tidak bisa berbohong kalau dia sehabis menangis tadi. "Kau tidak apa-apa? Kau seperti habis menangis Hinata" Ucap Gaara sambil mengelus pipi chubby milik Hinata, jarinya menelusuri bekas air mata Hinata yang sudah kering di wajah porselen milik gadis Hyuuga itu.

Hinata tersenyum, dia tahu kalau Gaara pasti akan menanyakan ini karena Gaara adalah pria yang selalu memperhatikannya. "Aku tidak apa-apa. Ini tangis bahagia, aku senang Gaara-kun mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Arigatou" Ujar Hinata sambil tersenyum.

"Kau sudah tahu siapa yang sebenarnya melamarmu, Hinata?" Tanya Gaara penasaran. Gadis itu hanya mengangguk, "Naruto-kun, bilang kalau Tsunade-sama yang melakukannya untuk memenangkan perjudiannya dengan para tetua. Em.. Tsunade-sama bertaruh kalau dia bisa menyatukan klan Hyuuga dan Namikaze dia akan diberi uang yang cukup besar." Hinata menatap Gaara yang sedang menahan amarah. "Ta-tapi, Naruto-kun bilang Tsunade-sama sudah menyadari kesalahannya"

"Lalu, kau memaafkannya?" Tanya Gaara. Hinata pun hanya mengangguk sambil menunduk gugup. Dia takut kalau Gaara marah atas tindakannya. Gaara hanya menghela nafas, dia sudah tahu kalau jadinya begini. Hinata pasti akan memaafkan orang dengan mudah. Lalu, dia menyeringai, "Hinata, kau tidak jadi menikah dengan Hokage" Ujar Gaara. Hinata langsung mendongakkan kepala mungilnya menatap Gaara sendu. Dia jadi teringat alasan kenapa dia memilih Gaara, karena mendengar pengakuan Shion akan janji Naruto.

"Tapi sebagai gantinya, maukah kau menikah dengan Kazekage?" Tanya Gaara yang langsung menggengam tangan Hinata. Gadis Hyuuga itu tercekat, ini terlalu cepat tapi dia takkan mungkin menolak permintaan Gaara karena tadi di taman, dia terlanjur berkata akan menikah dengan Gaara bulan depan kepada Naruto. Hinata pun mengangguk menyetujui permintaan Gaara.

"Aku ingin kita menikah bulan depan" Ujar Hinata sambil tersenyum. Gaara yang awalnya terbelalak kaget karena permintaan Hinata langsung menyeringai dan langsung memeluk Hinata.

"Ehm.., Bisa tidak acara kalian dilanjutkan didalam? Kalian menghalangi pintu masuk" Ucapan Hanabi langsung membuat kedua insan yang tengah merasakan kehangatan tubuh dari masing-masing pasangan langsung melepaskan diri dan menengok ke arah sumber suara.

"Jadi, kapan kau akan menghadapku tuan Kazekage?" Tanya Hiashi yang ternyata sudah mendengar percakapan dua insan ini sedari tadi. Gaara pun tersenyum kikuk mendengar perkataan calon mertuanya itu, sedangkan Hinata jangan ditanya mukanya sudah diselimuti rona merah sejak Hanabi memergoki mereka.

°Destiny

Langit telah berubah menjadi gelap. Titik-titik di langit pun mulai memeriahkan warna indah ciptaan tuhan. Angin malam mulai membelai setiap insan yang sedang menikmatinya.

Hinata, gadis cantik ini selalu menghabiskan malam musim dinginnya di atas atap Mansionnya melihat ribuan bintang yang menghiasi juga menemaninya dengan setia. Tapi, hari ini dia juga sedang menikmati bintang di musim panas.

Saat ini, cukup keheningan yang dia inginkan. Cukup malam yang jadi temannya, tanpa seorang yang ada disampingnya seperti dulu. Mata atmethysnya setia menatap langit yang sudah tak berwarna, kecuali gelap dan hitam karena bintangnya tertutup oleh awan.

"Hinata," seseorang memanggilnya, dan langsung duduk disampingnya. Gadis Hyuuga itu tak perlu menengok lagi untuk memastikan siapa yang ada disampingnya sekarang karena hanya satu orang yang tahu akan kebiasaannya memandang langit di atas atap. Dan, orang itulah yang membuat Hinata duduk terdiam disini, orang itulah yang sedang ada dalam pikirannya sekarang.

"Naruto-kun, ada apa kesini?" Tanya Hinata, tanpa menatap lawan bicaranya, dia sedang asyik memandang bintang atau dia memang tidak bisa menatap lelaki yang sudah ada dihatinya sejak kecil ini, mungkin dia takut perasaan itu akan terulang lagi.

"Kau, belum menjawab pertanyaanku tadi" Ujar Naruto. Matanya lurus ke arah Hinata yang sedang menatap bintang, dia tampak tak memperdulikan banyaknya bintang yang sedang berkelap-kelip menjadi saksi pembicaraan mereka. Karena bagi Naruto, Hinata adalah obyek yang lebih indah daripada bintang surga sekalipun.

"Pertanyaan itu, jawabannya karena Gaara-kun orang yang selalu berada disisiku ketika aku membutuhkannya, senang dan susah pernah kita lewati bersama. Ketika aku mendengar kenyataan kalau kau hanya mempermainkanku waktu itu, dia adalah orang pertama yang menenangkanku. Dia pria yang baik dan pantas untuk dicintai" Hinata menatap surai kuning Naruto lalu tersenyum. Dia masih belum siap menatap Lazuardi sebening Shapirre itu, dia takut air matanya tumpah dan mulutnya akan mengatakan yang sejujurnya, mengatakan yang sebenarnya ingin hatinya katakan.

Naruto hanya terdiam mendengar jawaban Hinata, "Hinata, tatap mataku dan katakan kalau kau memilih Gaara" Ucap Naruto. Tangan tannya langsung menarik wajah Hinata untuk menatap mata Shappirenya. "Katakan," Perintah Naruto langsung membuat Hinata tercekat dan terdiam. Dia ingin menangis sekarang, dia sudah menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Dia ingin mengakuinya kepada Naruto.

"Sebenarnya a-aku memilih…"

.

"Hinata nee-chan, kau dimana?" Teriak Hanabi sambil mengelilingi taman belakang mansion itu. "Eh, Gaara-nii, kau melihat Hinata-nee?" Hanabi langsung menanyai Gaara yang sedang berdiri bersandar di dinding kayu itu sambil memasang baik-baik telinganya untuk mendengar kebenaran apa yang akan diucapkan oleh Hinata.

Sedangkan Hinata yang mendengar teriakan Hanabi itu langsung menoleh ke bawah. "Pergilah," Usir Hinata kepada Naruto yang telah melepas tangan tannya dari wajah mungil Hinata. "Jawab dulu, Hinata-chan" Naruto langsung mengikuti Hinata yang ingin turun dari atap itu. "Dengar, aku harus pergi dan selamat tinggal" Hinata memberi Naruto jawaban yang abstrak dari pertanyaannya. "Hinata-nee" Teriak Hanabi, sebenarnya dia ingin bertanya lagi dengan Gaara tapi sepertinya pria merah itu sedang tidak ingin diganggu. Buktinya saja, dia langsung pergi setelah ditanyai tentang keberadaan Hinata oleh Hanabi.

"Iya, Hanabi-chan aku sedang ada di atap" Teriak Hinata menjawab panggilan Hanabi. "Tou-san memanggilmu, katanya ditunggu di taman samping" Hanabi yang selesai mengatakan itu langsung pergi begitu saja. Hinata langsung turun dari atap mansionnya yang megah itu, tak sengaja matanya menangkap sesosok pria berambut merah yang sedang duduk menatap langit malam. "Gaara-kun?" Ujar Hinata sambil mendekat kearah Gaara. "Kau sudah lama disini?" Tanya Hinata lagi, dia takut kalau Gaara mendengar percakapannya dengan Naruto. "Baru saja aku ingin menjemputmu untuk menemui tou-sama. Tapi, langitnya indah sampai aku lupa akan tujuanku" Jawab Gaara yang langsung menggenggam tangan Hinata dan membawanya masuk ke dalam mansion. Tapi, genggaman Gaara berbeda kali ini, karena malam ini Gaara menggengam Hinata terlalu erat seperti akan ada sesuatu yang membuat Hinata pergi dari sisinya.

~Skip Time

Jalanan di sekitar kedai ramen Ichiraku terlihat cukup ramai untuk hari ini, karena sang idola para kunoichi sedang menikmati ramen special buatan paman Teuchi dengan lahap. "Tambah," Ujar Naruto sambil mengacungkan tangannya. Sungguh, meskipun levelnya sekarang adalah Hokage tapi kalau dihadapkan dengan makanan tercintanya ini, pasti dia akan kembali seperti waktu masih genin.

Gadis berambut indigo itu memasuki kedai ramen dengan langkah pelan, matanya menelusuri setiap kursi yang ada di kedai kecil itu. Dia mencari kursi kosong, "Ada yang bisa kubantu?" Tawar Ayame, anak dari paman Teuchi. "Satu ramen special" Ucap Hinata sembari tersenyum. Dia masih belum sadar kalau ada sesosok pria yang memperhatikannya sedari tadi, bahkan ramen tambahannya pun tidak ia hiraukan.

"Dimakan disini?" Tanya Ayame lagi. Hinata menggeleng lalu tersenyum, "Tolong antar ramennya ke depan kedai, aku harus membeli beberapa cinnamon rolls dulu. Permisi, Ayame-san" Ujar Hinata yang langsung pergi dari hadapan gadis itu dan dari pandangan Naruto.

.

Hinata menunggu Ayame membawakan pesanannya di depan kedai Ichiraku. Dia bersandar di dinding kayu kedai ramen yang terkenal sebagai tempat favorite sang Hokage. Angin siang di musim panas yang menjadi obat dari panasnya matahari hari ini membuat Hinata menutup matanya, menikmati setiap hembusan angin yang sedang memainkan rambut panjangnya.

Baru hari ini, si pemilik manik biru itu memandang suatu obyek tak berkedip. Pertama kali dalam hidupnya, dia melihat ciptaan tuhan yang menurutnya tidak ada makhluk lain yang seindah itu. Hari ini, dia menatap Hinata dengan pandangan yang berbeda.

Dia sudah dewasa.

Itulah yang sekarang ada dipikiran Naruto, sang Hokage menatap Hinata yang masih menikmati hembusan angin itu dengan tatapan yang diberikan seorang lelaki kepada seorang perempuan. Rasa itu mulai muncul lagi dihatinya, padahal dia sudah mati-matian tidak tidur tadi malam karena takut akan memimpikan Hinata lagi. Dia juga berusaha tetap ceria didepan orang lain padahal harinya menjerit minta tolong. Naruto yang segera sadar bahwa perasaan itu sudah tidak pantas ada dihatinya lagi langsung menggelengkan kepalanya.

Tidak boleh, Naruto. Dia akan menikah. Dia akan menikah dengan sahabatmu sendiri, Gaara. Tangan tannya mengepal kuat hingga terlihat bercak merah jika kepalan itu dibuka, dan itu selalu terjadi padanya jika ia mengingat dengan siapa Hinata nanti akan menikah.

Kelopak mata gadis indigo itu terbuka ketika ada sebuah tangan yang memegang bahu kirinya, Hinata menoleh untuk memastikan kalau yang sedang memegang bahunya itu adalah Ayame yang sedang membawa pesanannya. Tapi, sepertinya doanya tidak terkabul untuk hari ini buktinya yang sedang dilihatnya bukan gadis cantik penjual ramen, tapi seorang lelaki berambut jabrik yang membawa ramen ditangannya.

"Naruto? Bukankah kubilang kalau…" Ucapan Hinata berhenti ketika melihat seplastik ramen Naruto yang diberikan kepadanya. "A-apa ini?" Tanya Hinata tidak mengerti. Bukannya dia tadi sudah memesan ramen, kenapa Naruto juga memberikannya ramen, dan dimana Ayame yang harusnya membawa ramen pesanannya.

"Ini pesananmu. Ayame-chan sedang sibuk didalam, jadi dia menyuruhku untuk menyerahkan ini padamu" Ujar Naruto sambil menyerahkan sebungkus ramen kepada Hinata. "Menyuruhmu?" Tanya Hinata bingung. Seorang Hokage seperti Naruto mau untuk disuruh seorang anak penjual ramen? Ya meskipun Ayame sudah kenal dekat dengan Naruto, bukan berarti dia bebas menyuruh Naruto untuk melakukan apa saja. Dan pasti Ayame pun akan berfikir dua kali untuk menyuruh seorang Hokage.

"Baiklah.. Baiklah.. Aku yang memintanya untuk memberikan pesananmu" Ujar Naruto jujur. Dia lupa sedang berbicara dengan siapa sekarang, seorang gadis yang pandai dan tidak pernah menyerah. Mana mungkin Hinata bisa tertipu sebegitu mudahnya dengan ucapannya. Lagipula, siapa yang percaya seorang anak penjual ramen berani memerintah seorang Hokage.

Damn! Dia memuji Hinata lagi. Bagaimana perasaannya akan hilang kalau dia selalu begini, selalu menganggap gadis didepannya ini begitu indah dan dia menganggap gadis inilah yang selalu mempertebal ukiran nama Hinata dihatinya.

°Destiny

Ruangan luas Hokage selalu dipenuhi dengan selembaran yang mengatasnamakan kerja sama dari berbagai pihak dan juga dari segala aspek kepemimpinan yang berguna untuk mensejahterakan para penduduknya itu selalu dibaca Naruto dengan semangat Rock Lee dan juga Guru Guy. Mungkin, akan ada beberapa yang tidak ia mengerti tentang maksud tulisan itu, untung saja ada sahabatnya yang bersedia membantu meringankan bebannya untuk mengurus desa. Sekretarisnya yang selalu mengatakan mendokusai itu memiliki peran besar dalam membantunya mengatur pemerintahan di desa besar seperti, Konoha.

Tapi, kali ini ada satu lembar perkamen yang tak kunjung ia buka sedari tadi. Tangannya tetap sibuk membuka tiap perkamen yang ada didepannya, tapi tidak dengan perkamen berlapis sutra itu. Pikirannya sedang tidak fokus, buktinya saja hanya perkamen kosonglah yang menjadi bacaannya sedari tadi, sebenarnya juga pikirannya sedang terbang menuju memory ketika dia dan sahabatnya sedang menikmati ramen special di kedai Ichiraku.

Dia pernah berjanji pada sahabatnya itu ketika diantara mereka akan ada yang menikah, undangan pertama harus diberikan kepada dirinya ataupun sahabatnya itu. Dan mereka akan saling membantu untuk mempersiapkan pernikahan. Bukan, sama sekali bukan yang seperti semua orang pikirkan. Sahabat yang dimaksud Naruto bukanlah Sasuke. Lagipula, Sasuke mana mau berjanji seperti itu dengan Naruto, dia terlalu stoic untuk soal seperti itu.

Sahabatnya yang telah berjanji seperti itu adalah Gaara. Ya! Dia akan menikah 3 minggu lagi dengan Hinata. Dan, itulah alasan yang membuat Naruto terdiam diruangannya, alasan itulah yang membuatnya tak kunjung membuka dan membaca isi dari perkamen yang dikirim oleh Gaara pagi tadi, dan alasan itulah yang membuat Naruto tak kunjung menjawab teriakan Shikamaru sedari tadi.

"NARUTOOOOO" Teriak Shikamaru yang kesekian kalinya. Didalam hatinya kalau Naruto tak kunjung menyahut pada panggilan kali ini, dia akan langsung memukul kepala Hokage itu dengan tongkat besi. Naruto yang sudah tersadar dari lamunannya pun langsung melirik Shikamaru yang tengah terengah karena energi yang baru dia isi pagi tadi langsung habis setelah meneriaki sang Hokage.

"Ada apa, Shika. Kenapa kau berteriak seperti itu?" Tanya Naruto malas. Dia berfikir, apa Shikamaru itu terlalu bodoh atau bagaimana di radius 1 meter dari dirinya saja dia harus berteriak seperti memanggil seseorang yang berada di lantai 30.

Shikamaru mulai geram. Kalau bukan karena Naruto adalah seorang Hokage, mungkin ucapan yang ada dihatinya tadi sudah dia laksanakan setengah jam yang lalu, "Dari tadi aku memanggilmu bodoh. Ada yang mencarimu setengah jam yang lalu, cepat temui" Ujar Shikamaru yang langsung keluar dari ruangan yang menurutnya sangat mendokusai dalam hidupnya, dan kenapa dia harus bekerja ditempat yang sangat mendokusai ini.

.

Sepeninggal Shikamaru, masuklah seorang perempuan yang memakai baju berwarna peach dengan aksen bunga di bagian bawah baju itu. Baju yang panjangnya hanya selutut gadis itu nampak sangat serasi dengan keadaan kulitnya yang putih tapi tidak terlalu pucat. Mata violetnya menatap Naruto yang terbelalak kaget atas kedatangannya dengan senyuman manis khas seorang Shion.

"Apa kabar, Naruto-kun?" Tanya Shion sambil terus melangkah hingga dia berdiri tepat di depan meja kerja Naruto.

"Baik. Bagaimana denganmu? Kenapa tidak kabari aku tentang kunjunganmu ke Konoha, aku pasti akan menjemputmu" Pertanyaan beruntun dari Naruto itu mampu membuat Shion tersenyum. Dia masih perhatian dengan orang lain. Dan tidak menaruh curiga. Heh, dasar bodoh.

"Aku ingin membuat kejutan untukmu. Bagaimana keadaan desamu? Sudah berkembang sampai kemana? Dan, kekuatanmu banyak yang bilang kalau kau berteman dengan 9 Bijuu sekaligus, apa itu benar?" Shion langsung menanyakan apa yang ingin dia tanyakan sedari tadi. Tepatnya, memastikan yang didengarnya selama ini itu benar. "Ya. Begitulah" Ucap Naruto, yang secara tidak langsung menjawab semua pertanyaan Shion serta memantapkan hati Shion untuk tetap melanjutkan misinya itu.

°Destiny

Langkah kaki jenjang sang gadis Hyuuga mulai melemah, kepalanya tertunduk menatap jalan yang sedang di tapakinya. Gendang telinga yang masih dapat mendengar dengan sangat baik itu tak berfungsi hari ini. Suara berisik dari obrolan para warga Konoha, serta gelegar tawa dari para shinobi mungil yang sedang berlarian kesana-kemari tak didengarnya, yang ia dengar adalah suara Gaara tadi pagi yang mengatakan bahwa undangan pernikahan mereka sudah dikirim ke Naruto.

Matanya memanas, tetes demi tetes air bening telah keluar dari mata khas klannya itu. Hatinya belum siap dengan semuanya, mungkin selamanya pun dia tidak akan siap. Kepala mungilnya menggeleng menggoyangkan surai indigonya yang halus.

Tidak! Ini adalah keputusannya sendiri, dia memutuskan untuk menerima Gaara dan melupakan Naruto. "Hei, Hinata" panggil Sakura. Sang gadis yang dipanggil langdung menoleh cepat, serta langsung mengubah raut mukanya menjadi ceria "Ada apa Sakura-san" Tanya Hinata sambil menghampiri Sakura yang duduk di kursi taman. "Duduklah. Aku ingin berbagi cerita" Ujar Sakura sambil menepuk tempat duduk kosong yang ada disebelahnya.

"Hinata," Sakura mulai bercerita setelah melihat Hinata duduk di sampingnya. "Aku akan menikah dengan Sasuke-kun kau harus berjanji akan datang ketika pembabtisan kami, kan?" Wajah Sakura yang putih mulai dihiasi rona merah tipis ketika dia bercerita tentang pernikahannya yang tinggal delapan minggu lagi.

Hinata hanya tersenyum, dia ikut merasa bahagia jika sahabat dari Naruto itu juga bahagia. "Aku pasti akan datang" Ucap Hinata sambil tersenyum, tapi tiba-tiba dia melihat ke arah jari manis Sakura, dia melihat cincin dengan dihiasi batu permata milik wanita cantik berambut pink itu. Matanya terbelalak melihat cincin cantik itu, "Bukankah, itu cincin yang dibeli Naruto-kun kenapa Sakura-san memakainya?"

Sakura yang melihat raut wajah Hinata yang awalnya ceria menjadi sulit diartikan ikut melirik kemana arah pandang Hinata saat ini. Saat Sakura tahu kemana Hinata memandang ke arah cincin yang dipakainya, dia pun berkata, "Cincin ini yang membelikan Naruto lho, Hinata. Sasuke-kun, yang menyuruhnya. Dia lelaki yang baik, kau beruntung sekali bisa mendapatkan hati Naruto"

Sejenak, perkataan Sakura membuat hati Hinata sakit, mulai saat ini, dia harus belajar melupakan Naruto dan hatinya hanya untuk Gaara, calon suaminya. "Kau tahu Hinata, Naruto selalu membeli cinnamon rolls saat kau pergi. Saat aku tanya mengapa, dia bilang ini adalah kesukaan Hinata" Seakan tak peduli bahwa perkataannya membuat gadis keturunan klan Hyuuga itu harus menahan rasa sakit dari hatinya ketika harus dipaksa mengingat pria berambut kuning itu.

"Dan, dia pernah berkata padaku dan juga Sasuke-kun, bahwa dia akan pergi ke acara pernikahanku denganmu. Kalau tidak, dia rela berlari keliling Konoha sambil berteriak Aishiteru Hinata" Sudah cukup Sakura. Perkataanmu benar-benar membuat Hinata bimbang, sebentar lagi dia aka ln menikah dengan orang yang akan ia cintai. "Jadi, kau harus datang bersama Naruto, ya!" Perintah Sakura yang disertai dengan senyuman manis gadis pinky itu.

Hinata hanya tersenyum miris, "Aku akan datang dengan Gaara-kun, kita akan menikah.. Tiga minggu lagi"

Sontak perkataan Hinata membuat Sakura terbelalak kaget. Dia baru saja pulang dari misi di Amegakure dengan Sasuke, tentu saja dia tidak tahu berita kedekatan Hinata dengan Gaara dan kabar bahagia mereka. "Apa? Benarkah itu? Hh.. Kasihan Naruto. Kau tahu, dia bilang kau adalah mimpinya yang sedang dia coba raih. Dan, Naruto selalu berdoa agar kau bisa menjadi teman hidupnya. Kau tahu Hinata, setelah kejadian tiga tahun lalu Naruto menjadi pribadi yang berbeda. Dia bangun pagi-pagi sekali, sering ke onsen, menolak semua ajakan para kunoichi Konoha untuk makan bersama, dan terlihat sangat murung. Meskipun, di depan orang lain dia bisa terlihat ceria. Aku adalah sahabatnya dalam jangka waktu yang cukup lama, jadi aku sudah tahu bagaimana dia yang sebenarnya"

Sakura menatap Hinata dengan sedih, dia tidak menyangka bahwa sahabat kuningnya harus mengalami perjalanan cinta yang rumit seperti ini. "Unn.. Hinata, tapi jika kau sangat mencintai Gaara, tidak apa-apa. Aku hanya mengatakan yang aku ketahui tentang Naruto. Sudah dulu ya, aku harus mempersiapkan beberapa keperluan untuk pernikahanku." Sakura langsung menghilang setelah mengatakan itu kepada Hinata.

.

Mission Complete. Sakura rasanya ingin menangis ketika melihat Hinata yang tersedu di balik pohon besar itu. Sebenarnya, tujuannya mengajak Hinata berbincang adalah misi tambahan yang diberikan oleh Tsunade-sama kepadanya. Misinya adalah mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya Naruto rasakan ketika pria jabrik itu kehilangan Hinata. Tsunade ingin meminta maaf pada Hinata karena keegoisannya, jadi itulah cara Tsunade meminta maaf yaitu menyatukan Naruto dan Hinata, dengan cinta bukan lagi karena pemaksaan. Sedangkan, Hinata yang sedari setelah Sakura meninggalkannya hanya bisa menangis, dia benar-benar tidak menyangka jikalau Naruto begitu menunggunya. Hinata tidak tahu, kalau luka yang ia berikan pada pria itu begitu dalam bahkan lebih dalam dari luka yang diberikan pria itu kepadanya.

"Seperti aku harus mengalah" Sayup-sayup suara Naruto terdengar di telinganya, jadi tarugan konyol itu yang membuat Naruto harus rela menyempatkan waktu sekedar membeli cincin untuk sahabat yang sering dia panggil teme itu. "Kami-sama, apa yang harus aku lakukan? Naruto-kun begitu mencintaiku. Tapi, aku tidak mungkin menghianati Gaara-kun" Hinata menangis lagi. Buliran air mata gadis cantik itu semakin lama semakin deras mengalir. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Apakah dia harus melepaskan Naruto, atau menghianati Gaara?

°Destiny

Jalanan yang dia tapaki benar-benar panjang, beberapa lembar kertas sudah dia berikan kepada warga Konoha, harusnya dia menyuruh bawahannya untuk melakukan tugas ini. Tapi, dia benar-benar tidak mau tinggal lama di ruangan yang membuat dadanya sesak. Setelah Shion pergi, Naruto langsung bergegas mengambil selembaran tentang festival Hanabi untuk dibagikan kepada para masyarakat desa Konoha. Dia melakukan ini agar pikirannya bisa teralihkan untuk sementara.

"Oi, Naruto" Ujar Gaara.

Sial. Naruto rela berjalan panjang seperti ini agar tidak bertemu dengan pria merah itu. Tapi, kenapa sekarang dia bertemu dengan pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu.

"Hei, Gaara." Sapa Naruto, mau bagaimanapun Gaara adalah salah satu sahabatnya. Jadi, dia harus terlihat ceria di depen sahabatnya itu. "Kau sudah baca undanganku?" Tanya Gaara.

Kenapa pria ini menyinggung soal undangan? Apakah dia mau pamer bahwa Hinata akhirnya memilihnya daripada Hokage Konoha ini? Pemikiran itu terus menggerayangi otak Naruto.

"Ah, maaf Gaara. Aku belum sempat, aku sangat sibuk sekali" Jawab Naruto agak kikuk. Kejadian yang sebenarnya adalah dia berusaha untuk terlihat sibuk sehingga itu bisa jadi alasannya untuk tidak membuka perkamen dari Gaara.

"Baiklah kalau begitu. Ini bacalah, aku ingin tahu pendapatmu" Ujar Gaara sambil menyerahkan perkamen berlapis sutra kepada Naruto. Mau tidak mau, disini Naruto harus membaca perkamen yang mungkin bisa merobek hatinya menjadi kepingan kecil yang sulit dirangkai kembali. Dengan, sedikit gemtar dia membuka perkamen itu. Membacanya pelan sesekali memejamkan mata takut jika setetes air mata jatuh dari mata biru yang sangat disukai Hinata.

"Ini tidak mungkin, Gaara." Ujar Naruto kaget. Karena nama pengantin yang ada di perkamen itu bukanlah Sabaku Gaara, melainkan Namikaze Naruto.

Sedangkan, Gaara hanya tersenyum sembari berkata, "Bagaimana menurutmu?"

WAKTU BERCERITA SUDAH HABIS,, DISAMBUNG BESOK YA.. SAATNYA BILANG

TBC

A/N : Mau bilang apa ya? Oh, iya untuk ayah Hinata, Naruto sudah menjelaskannya ketika malam sebelum dia menemui Hinata diatap, dia sudah menjelaskan siapa yang sebenarnya melamar Hinata kepada Hiashi Hyuuga.

Setelah ini, ada chapter terakhir yang akan menjadi penentu dengan siapa nanti Hinata bersama. Sebenarnya, ane punya beberapa versi. Reader mau yang apa? NaruHina, Gaahina, atau tidak ada yang mendapatkan Hinata alias Hinata nanti mati karena pertarungan? Tolong kasih Vidi saran.

Sudahlah ya, waktunya ane berfikir bagaimana kelanjutan fic yang lain, karena akan ada satu fic yang akan ane discontinued karena ane sibuk banget. Takut nanti malah ngePHPin para reader.

Thanks for : Dark Naruto, Dor.. Dor.., NamikazeARES, Gray Areader, blackschool, Ricardo. , EnvyandVanity, dan semua reader. Thanks for your suport.

See you again, in the last chapter..

Akhir kata, huh.. semoga reader gak bosen ya..

Biasa lah.. REVIEW?

Salam, yamanakavidi

(Sep, 2014)