Thanks for u all..
hqhqhq, utsukushi hana, juwita, andryramenboy, Guest(2): Ok sudah NH nih. Thank for u'r review
virgo24, Guest(1): Duh, maaf ya endingnya aku buat NH masalahnya dari hasil votting banyak yang minta NH. But, I wanna say thanks for u'r review.
inukagome9193: Ok, ini Naruhina kok. Tapi, masih ada kejutan lagi, tuh. Jadi baca sampai habis ya?!
nico2883: Eum, maksudnya cacat finish Naruhina itu gimana, ya? Apa mungkin kamu salah ketik?
Gray Areader: Oke, Gaara sebenarnya juga cinta sama Hinata. Tapi, dia ngerasa cuma Naruto yang bisa membahagiakan Hinata sepenuhnya. Dan, makasih lho karena udah mau mengerti akan jalan cerita fic ini.
aris: Waduh, kamu belum baca prekuel dari Destiny ya? Kan, ceritanya Destiny ini adalah perubahan Hinata setelah Naruto mencampakannya. Tapi, it's ok. Thank for u'r review.
EnvyandVanity: Iya sama-sama. Lagunya sering aku putar dan udah masuk salah satu lagu favorite. Thank for review Envy.
blackschool: Ok. Thank for review
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto. Ane, pinjem bentar char nya ya om?
Warning : Newbie, EYD abal banget, typo's?,OOC, ide pasaran tapi gak plagiat
yamanakavidi Present
Sekuel of kamu jahat
°Destiny°
Last chapter : Until You
"Akhirnya, sang waktu mempertemukan sang matahari dan si bulan. Mempertemukan mereka ketika hujan mulai menyingkir dari langit Konoha. Mempertemukan mereka di depan tuhan, mengucapkan janji bersama. Janji suci mereka."
…
…
…
Hiasan lampu jalan di dekat taman kota itu mulai bersinar ketika malam menyelimuti tanah Konoha. Dedaunan mulai berisik karena tertiup angin yang sedikit kencang. Jalanan sedikit berair ketika seseorang berambut indigo melewatinya. Matanya basah, sebasah jalan yang baru dilewatinya. Perang telah berakhir. Didalamnya pun tersimpan luka yang dalam, kakaknya hilang tertelan lautan darah. Kakaknya hilang dengan jasa besarnya, dia sendirian sekarang. Dia terduduk di bahu jalan, terisak lirih tapi menyesakkan bagi siapapun yang mendengar. Termasuk Namikaze Naruto.
Pria berambut pirang itu menatap sendu sesosok gadis berbaju hitam yang sedang menunduk dan terisak. Hari ini dia akan mengunjungi makam Neji dan meminta persetujuannya untuk menjawab pernyataan cinta Hinata beberapa tahun silam. Namun, niatnya berubah ketika melihat gadis itu sekarang.
"Nii-san, aku sendirian. Hiks.."
Naruto terdiam. Entah kenapa dia merasakan sakit yang dirasakan Hinata. Mungkin, karena Neji yang telah mengorbankan nyawanya untuk melindunginya. Otaknya berjalan, dia ingin membalas jasa Neji kepadanya melalui Hinata. Meskipun itu akan menyakitinya, dia yakin hanya itu yang mampu dia lakukan untuk membalas jasa besar Neji.
Kakinya melangkah pelan, berjalan mendekati sang objek tatapannya. "Hinata," Panggilnya. Gadis itu menghapus air matanya tergesa, mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang telah memanggilnya. Mata bulannya melebar, menatap objek berbentuk manusia berambut blonde bermata shappire.
"Na-naruto-kun," Spontan dia berucap gugup ketika tahu yang memanggilnya tadi adalah sang cinta pertamanya.
"Hinata," Ucap Naruto sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Hinata yang sedang duduk. Hatinya pecah, tapi dia harus lakukan ini. "Jangan berkata kau sendiri saat ini," Untuk sahabatnya. Dia lakukan ini, untuk sahabatnya Neji Hyuuga.
Hinata menatap Naruto serius. Dia hanya terdiam saat Naruto berbicara seperti itu. Dia bahkan terdiam ketika kedua tangan Naruto memegang pundaknya. Hilang sudah kebiasaannya memerah ketika bertemu Naruto. Kini, kebiasaan itu terganti oleh kenangan pahit kematian Neji saat perang.
"Bukankah masih ada Team 8, Kurenai-sensei, Hanabi, Ayahmu Hiashi Hyuuga, dan…" Naruto menghela nafasnya. Memejamkan matanya lalu berucap, "Dan aku. Aku juga ada disampingmu Hinata-chan"
Nafas Hinata tercekat. Ini mustahil, Naruto orang yang ia kagumi berkata seperti ini kepadanya hanya berdua dan ini saat malam. Hinata harus mencubit pipinya sampai merah untuk membuktikan ini mimpi atau bukan.
"Semuanya bersamamu Hinata. Aku juga ingin bersamamu, aku ingin melindungimu," Naruto bernafas lagi. Oke, sekarang hanya satu langkah lagi. "Aku," Naruto memejamkan matanya. Menganggap objek didepannya ini adalah seseorang yang ia dambakan. "Mencintaimu," Naruto akhirnya berucap setelah beberapa menit terdiam.
Gadis indigo itu rasanya ingin menangis sekarang. Perasaannya terbalas pada akhirnya. Tak salah dia menunggu selama itu. Sekarang ia sudah dapatkan balasan yang setimpal, Naruto mencintainya juga.
Naruto tersenyum kikuk. Inilah, caranya untuk membalas budi atas kebaikan Neji. Meskipun, dengan mengorbankan perasaannya sekalipun. Biarlah, dia yang terluka. Tunggu, kalau salah satu dari pasangan kekasih tidak jujur, bukankah dampaknya akan dirasakan bersama? Bukankah yang merasakan sakit adalah mereka berdua.
Setelah itu, mereka menjadi sepasang kekasih. Para sahabat juga sudah mengetahui. Naruto dan Hinata adalah pasangan yang serasi. Itulah yang mereka pikirkan. Tapi, setelah Naruto diangkat menjadi Hokage, dia lupa akan Hinata. Pekerjaan itu juga yang selalu menjadi alasan ketika Hinata ingin bertemu. Sampai pada saat malam awal musim dingin. Sudah dua tahun hubungan ini berlangsung. Dia ingin jujur pada Hinata, dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Akhirnya, dia datang ke mansion Hyuuga melewati atap, tak disangka Hinatanya ada disana. Terbawa suasana, dia mencium Hinata. Ciuman pertamanya. Awalnya, dia membayangkan sedang mencium Sakura, tapi setelah dia mulai menginvansi mulut Hinata dan mengecap rasa manis khas dari bibir seorang puteri Hyuuga. Dia sudah mulai kehilangan akal, jantungnya bergemuruh hebat. Bayangan Sakura tergantikan dengan gadis indigo yang ada dibawah pengaruhnya itu.
Malam pesta keberhasilan misi, dia mengundang seluruh temannya. Termasuk Gaara. Dia dan Gaara meminum vodka berakohol rendah. Tapi, pria merah itu ingin membuktikan sesuatu hingga mencampurkan vodka alkohol tinggi dengan vodka milik Naruto. Dia jujur pada Gaara, akhirnya Hinata memutuskannya. Hari itu, hatinya benar-benar terasa tercabik oleh sekerumpulan Juubi ganas. Dia terdiam, tak bergerak. Menyuruh semua orang keluar dan meninggalkan dirinya sendiri di apartemennya. Mulai hari itu, dia tahu bahwa hatinya benar-benar sudah mencintai Hinata dengan sepenuhnya.
^^^^…^^^^^^
"Jadi, aku melihat Hinata menangis saat kukatakan undangannya sudah sampai padamu. Beruntung, kau belum membaca undangan yang itu. Karena, aku langsung menyuruh sekretarisku untuk membuat perkamen berisi undangan pernikahanmu dengan Hinata. Percayalah, bahwa dia pun masih menunggumu. Hanya saja, kejadian malam tiga tahun yang lalu yang menjadi penyebabnya. Jadi, bagaimana menurutmu?" Gaara berujar panjang. Tekadnya bulat, kalau dia ingin sahabatnya dan orang yang dicintainya bahagia bersama. Walaupun dia harus tersakiti karena itu.
Naruto terdiam. Dia takut kalau Hinata tidak bisa menerimanya lagi, tapi dia juga tidak bisa tidak mempercayai Gaara. "Jadi?" Gaara mengulangnya. Naruto menutup matanya mengingat tujuan hatinya dan dia pun yakin dengan pilihannya. Biarlah dia sakit lagi, asal bisa tersenyum sekali karena Hinatanya.
"Gaara, aku…,"
...
Last Chapter: Until You
...
Ruangan bercat putih itu mulai terdengar sapuan make-up di tengah ruangan. Gadis itu akan menyandang nama baru dari marga suaminya. Rambut panjangnya mulai dipermainkan oleh para perias yang sibuk merias dirinya. Kepalanya menunduk, terbayang dari konsekwensi atas pilihannya. Tak terasa, air matanya turun.
"Jangan menangis, Hinata-chan. Kau membuat make-up nya luntur. Ini masih yang dasar Hinata, dan masih luntur jika terkena air," Ujar Ino sambil menghapus air mata Hinata dengan tisu. Tangan Ino mengambil tas birunya dan mengeluarkan beberapa alat perias. "Maaf," Ucap Hinata lirih.
Ino tersenyum maklum. Ini adalah pernikahan Hinata tentu saja dia masih sedih ketika mengingat keluarganya. Karena sebentar lagi, gadis indigo itu akan hidup bersama suaminya. "Tidak apa. Sekarang, coba tutup matamu. Aku akan meriasnya," Hinata menutup matanya, menyembunyikan kelopak indah berwarna bulan itu didalam kelopaknya.
"Begini, aku kesini untuk memperingatkanmu kalau sang tuan Hokage terikat janji padaku. Jadi, kau menyerah saja. Cari pria lain yang mencintaimu dan tinggalkan Naruto-kun,"
.
"Kau tahu Hinata, Naruto selalu membeli cinnamon rolls saat kau pergi. Saat aku tanya mengapa, dia bilang ini adalah kesukaan Hinata,"
.
"Tidak. Aku hanya mencintai kekuatannya yang begitu besar. Dia memiliki Kyuubi di tubuhnya, dan kudengar ketika perang dia mendapat kekuatan dari Rikudo Sennin dan berteman dengan 9 bijuu sekaligus. Bukahkah hebat jika aku menjadi istri seorang Shinobi terhebat di daratan Ninja ini? Jika aku jadi istrinya, aku bisa memanfaatkannya untuk membangun desaku agar lebih besar dan kuat,"
.
"Hinata, aku ingin kita bersama lagi. Aku mencintaimu dengan tulus,"
.
Tubuh Hinata bergetar. Ucapan Shion di taman, Ucapan Sakura, serta ucapan Naruto tentang perasaannya yang sebenarnya membuatnya semakin bingung. Nafas Hinata naik turun tak beraturan, dadanya sesak, rasanya dia ingin berteriak sangat kencang agar dia bisa merasakan apa itu lega. Mata indahnya langsung terbuka ketika tak terasa ada sapuan di kelopak matanya. Dia menatap tajam cermin dihadapannya, meskipun begitu, Ino sama sekali tidak sadar akan perubahan raut muka si gadis Hyuuga itu.
"Nah, sudah selesai. Lihatlah dirimu Hinata-chan, cantik bukan?" Ujar Ino sambil memperhatikan Hinata yang kagum akan hasil riasan Ino. "Arigatou, Ino-san," Ino pun keluar dari ruangan itu. Membiarkan Hinata sendiri dengan gaun berwarna putih panjang itu.
"Hinata," Seseorang masuk ke ruangan itu. Hinata menoleh, sontak dia langsung berdiri ketika tahu yang mengunjunginya adalah ayah serta adiknya.
"Otou-san", Ujar Hinata sembari mendekati ayahnya yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitamnya. Kontras sekali dengan gaunnya yang putih bersih.
"Hinata. Kau akan menikah hari ini, hari ini kau akan mempunyai keluarga baru. Tanggung jawabmu bukan di mansion Hyuuga lagi, tetapi di rumah suamimu nanti." Hiashi menatap puteri sulungnya sendu. Kulit tangannya yang sudah berkerut terangkat membelai rambut panjang Hinata yang telah tersanggul.
"Hari ini juga, aku sudah bebas akan tugasku sebagai ayahmu. Maafkan aku jika selama ini aku terlalu mengkekangmu dan tidak menganggapmu,"
"Otou-sama," Hinata menatap ayahnya sendu. Tangan kirinya meraih tangan keriput sang ayah yang sedari tadi mengelus surai indigonya. "Aku masih anakmu. Jangan berkata seperti itu Otou-sama," Dia menggenggam erat tangan keriput ayahnya. Tangan yang mendidiknya sampai menjadi seperti ini, tangan itu juga yang membuatnya mengerti apa itu kasih dalam keluarga meskipun jarang diperlihatkan.
"Setelah ini, kau menjadi tanggung jawab suamimu. Buatlah suamimu bahagia akan dirimu, semoga kau dan suamimu selalu diberkati kebahagiaan oleh tuhan," Luntur sudah pertahanan Hiashi. Air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah seketika saat Hinata memeluknya erat. Gadis kecilnya yang akan dia lepas itu berulang kali mengucapkan terimakasih dan maaf kepadanya.
"Hinata, kau adalah permata di keluarga ini. Meskipun, masih ada Hanabi, kenanganku denganmu tidak akan terlupakan. Maafkan tou-san ya?" Hiashi hanya mampu membalas pelukan pilu Hinata. Ini adalah pelukan terakhir sebelum dia menikah.
"Tidak. Aku yang harusnya berkata maaf, Otou-sama. Aku bukanlah puteri yang baik. Mungkin, aku akan jarang ke rumah kita ini setelah bersuami. Tapi, bolehkah aku sesekali menginap untuk mengenang masa lalu?" Hinata mengeratkan lagi pelukannya. Berusaha menyimpan pelukan hangat ini ke memorinya. Karena sebentar lagi, dia akan meninggalkan ayahnya untuk pergi ke rumah suaminya.
"Tentu saja, tentu kau selalu diterima dirumah ayahmu ini. Terimakasih, telah menjadi puteriku. Hinata," Hiashi membalas pelukan Hinata sangat erat. Hanabi yang melihatnya pun tak kuasa menahan tangis. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidup Hanabi dapat melihat ayahnya menangis haru akan puterinya.
"Nee-chan," Ucapan lirih Hanabi mampu membuat Hinata menatap adik tercintanya itu. "Hanabi," Hinata berucap sambil mengayunkan sebelah tangannya, mengajak Hanabi untuk lebih dekat dengannya. Si bungsu Hyuuga langsung menghambur ke pelukan Hinata.
Mereka bertiga merasakan apa itu kasih yang hangat, dan perpisahan yang menyedihkan dalam satu waktu. "Maafkan Hanabi ya, Nee-chan," Bisik Hanabi sambil mengeratkan pelukannya.
"Selalu, Hanabi-chan,"
... .. _. ._ _ ._
Gereja yang berada di dekat mansion Hyuuga itu mulai ramai dipenuhi oleh para sahabat serta warga non ninja Konoha. Para sahabat Hinata datang secara berpasang-pasangan. Ada Sakura dan Sasuke yang sangat serasi dengan busana merah yang dipakai Sakura dengan busana berwarna putih yang dipakai Sasuke. Ada juga Ten-Ten yang hari ini tidak menyanggul rambutnya tapi mengikatnya satu seperti ekor kuda. Ino dan Sai menjadi sorotan juga di upacara pembabtisan ini, mereka benar-benar cocok dengan busana formal mereka.
"Hei, kau lihat Naruto?" Ujar Lee. Hari ini dia mencukur habis rambut uniknya, bertanya pada setiap orang yang ada disana.
"Iya. Aku juga tidak melihatnya. Bukankah harusnya dia sudah siap untuk hari ini?" Shizune ikut berkomentar.
"Sudahlah. Nanti dia juga datang," Gaara datang ke ruang altar itu dengan busana berwarna merah sesuai dengan warna rambutnya.
"Wah, kau tampan sekali Gaara," Ujar Ino.
"Tentu. Hari ini kan pernikahan k-" Gaara tidak melanjutkan ucapannya setelah suara piano berdenting.
Semuanya duduk di tempatnya. Gaara pun mengambil posisi yang khusus untuknya. Dalam hati dia bersyukur Naruto mengambil keputusan itu.
"Kau siap, Hinata?" Tanya ayahnya sambil kembali merapikan jas hitam yang melekat ditubuhnya.
"Iya," Hinata menunduk tak berani menatap sang ayah. Genggaman pada lengan ayahnya semakin erat ketika pintu altar terbuka.
Pintu altar terbuka, suara dentingan piano menggema di seluruh sudut Gereja ini. Para undangan terdiam, mereka terlalu terpesona akan penampilan pengantin wanita dari keluarga Hyuuga itu.
Mereka berdecak kagum, gaun panjang berwarna putih milik Hinata dengan sedikit sentuhan manik-manik rubby itu mampu memikat perhatian para undangan. Sedangkan yang diperhatikan sedari tadi hanya menunduk, mencoba fokus.
"Oke, Hinata. Kau harus tenang. Hari ini hari bahagia. Ingat itu! Jangan pikirkan yang lain,"
Ucapan itu terus diulangnya sampai tak terasa tangannya bukan lagi digenggam ayahnya tetapi telah beralih ke tangan calon suaminya.
"Hinata. Kau benar-benar harus fokus. Tidak ada yang menyeramkan. Jangan gemetar,"
Meskipun Hinata mengulang kata-kata itu terus menerus. Dan berusaha membuatnya tidak gugup, nyatanya tangannya tetap gemetar dengan kepala yang terus menunduk ke bawah. Tak mendengar apapun yang diucapkan oleh sang pendeta. Tangannya terasa hangat. Calon suaminya menggenggam tangan dinginnya erat, Hinata mulai tenang. Rasa ini pernah ia rasakan, ini seperti genggamannya. Hangatnya pun sama. Hinata masih ingat, meskipun telah lama tak terulang. Dia masih dapat merasakan walaupun lama tak berbekas. Semuanya sama seperti dahulu. Pelukan dan tangan ini sama hangatnya.
Ini …
"Kau tau Gaara, saat aku menciumnya hik..yang kuingat hanya wajah Sakura chan hik,"
Saat itu, yang Hinata rasakan adalah sakit yang teramat. Yang perempuan indigo itu rasakan adalah rasa yang bercampur aduk. Marah, sedih, kecewa, semuanya menjadi sebuah emosi yang meluap-luap dalam hatinya.
Berlari. Ya, dia berlari. Padahal radius tempat dia berdiri dengan tempat Naruto hanya terhalang beberapa meja.
Plaak. Dia menampar wajah tan Naruto sedikit keras. Meskipun, pria itu telah mencabik hatinya, tapi tetap saja Hinata tidak bisa menyakitinya. Hinata berusaha tegar, walaupun hatinya ingin menangis. Pasti begini hasilnya, dia sudah diberitahu beberapa kali oleh rekan setimnya, Kiba bahwa Naruto hanya mempermainkannya saja. Dia sudah diperingatkan berkali-kali. Entah, dia bodoh, dungu, atau terlalu lugu dan polos. Yang jelas, dia tidak pernah percaya pada semua itu.
Dan, hari itu dia tahu bahwa dia benar-benar sangat bodoh.
Melarikan diri? Setelah masalah itu?
Bukan. Hinata tidak melarikan diri. Dia hanya diajak oleh Gaara untuk pindah sementara ke Suna. Saat malam perayaan itu, Gaara menenangkannya yang menangis tersedu. Pria merah itu memeluknya lembut, dan membisikkan kata-kata penenang kepadanya. Alhasil, Hinata terdiam dan agak baikan.
Tentu. Menghapus rasa sakit itu sangat sulit. Jadi, sebuah pelukan tidak bisa langsung menghapus luka dalam begitu saja.
...
Kesadarannya telah kembali sepenuhnya. Dia siap akan pernikahan ini, meskipun harus merelakan semuanya setelah ini. "Naru…," Entahlah, Hinata juga tidak tahu kenapa nama itu yang dia gumamkan ketika upacara pembabtisannya. Dan, yang ia rasakan adalah rasa hangat yang tadi ia rasakan perlahan menghilang. Hinata merutuki kebodohannya, Gaara pasti merasa kecewa jika yang dipikirkan gadis indigo itu adalah seseorang yang telah menyakiti hatinya dan telah disakiti juga oleh Hinata.
"Hyuuga Hinata. Apakah kau akan selalu berada disisi suamimu, kala sedih, maupun senang?…"
Air mata itu menetes, dia takut sekarang. Tapi, sudah terlambat untuk semuanya. Takutnya harus dilawan, dia mendongakkan kepalanya menatap sang pendeta yang tengah membacakan janji suci mereka.
"Ya. Aku bersedia," Ucapnya tegas. Lalu, kembali menunduk. Bahkan, ketika pendeta bilang sudah saatnya ciuman suci yang akan mengikat cinta abadi mereka, Hinata hanya bisa terdiam, menunduk pasrah.
Cuup!
Suaminya menciumnya. Resmi sudah dia bersamanya. Bersama seseorang yang…
"Hinata, buka matamu,"
Suara ini. Suara yang selalu bergema di kepalanya, suara yang selalu ada dipikirannya, suara yang selalu ada sebagai penyemangatnya, suara yang selalu ada di…
Hatinya.
Mata indigo Hinata terbuka, menatap sesosok pria yang telah resmi menjadi suami sahnya sekarang. Pria itu memakai baju putih dengan ornamen shappire diamond yang sangat serasi dengan warna matanya. Rambut pirang jabriknya yang telah dipotong rapi serta menjadi terlihat lebih pendek.
Tunggu!
Rambut pirang? Mata biru? Kulit tan?
"Na-naruto-k-kun,"
"Ya? Ada apa Hinata?" Naruto takut jikalau Hinata akan menamparnya. Bahkan, dia yang awalnya menggengam erat tangan Hinata karena ingin menenangkan isterinya itu mulai ketakutan saat Hinata menggumamkan namanya. Dia takut jikalau Hinata sudah tahu siapa yang sebenarnya telah ada di sampingnya saat pembabtisan.
Plaak!
Para undangan menarik nafas serempak. Mereka semua kaget dengan kelakuan Hinata yang notabennya adalah anak dari keluarga Hyuuga. Sedangkan Naruto hanya terdiam, yang dia takutkan benar-benar terjadi. Hinata marah akan dirinya. Harusnya dia tidak boleh menyetujui begitu saja dan ikut pada arus permainan Gaara. "Maaf, aku memang egois. Aku sangat mencintaimu, aku ingin bersamamu. Karena itu, aku setujui usulan Gaara untuk menikah dengan-"
"Naruto-kun," Hinata hanya memastikan kalau yang ada di depannya ini bukanlah mimpi semata. Dia menampar Naruto, karena ingin tahu ini benar Naruto apa hanya imajinasinya saja. Tetapi, ketika kulit tangannya bersentuhan dengan kulit wajah Naruto, dia bisa merasakan bahwa ini benar-benar Naruto, inilah Naruto pria yang dicintainya. Dulu, kini, dan selamanya.
"Maaf, aku hanya memastikan ini benar kau atau bukan," Ujar Hinata sembari menundukkan kepalanya takut. Dia tidak pernah seberani ini setelah insiden tiga tahun lalu untuk menampar seseorang di depan umum. Wajah tan Naruto melembut, dia menatap istrinya yang sedang menunduk dengan sayang. "Jadi kau masih mencintaiku?" Tanya Naruto. Hinata mengangguk pelan sembari berujar maaf karena telah menampar Naruto.
Pria berkulit tan itu merasa lega ketika melihat anggukan dari Hinata, dirinya telah diakui dan sekarang seringai muncul di wajah eksotisnya menggantikan raut takut dan lega.
"Kalau kau ingin memastikan ini aku atau bukan, kau tidak perlu menamparku," Ujar Naruto menggantung. Hinata mendongakkan kepalanya memandang Naruto, "Lalu aku harus apa?" Tanya Hinata polos. Dia bahkan tidak menyadari seringai Naruto semakin lebar.
"Cium saja aku. Kau 'kan sudah merasakan bagaimana ciumanku," Naruto yang berujar seperti itu langsung disambut oleh tawa keras dan tepuk tangan dari para sahabatnya yang menyaksikan mereka sedari tadi. Hinata menundukkan lagi wajahnya untuk menyembunyikan rona merah yang telah menyelimuti wajah putihnya.
Prook..
Prook..
Prook..
Seseorang bertepuk tangan dengan jeda, kakinya berjalan mendekati pasangan pengantin yang sedang tertawa bahagia. Semuanya menoleh ke sumber suara yang telah berada jauh di belakang Hinata. Mata Hinata terbelalak kaget, "S-Shion-san" Ujar Hinata tanpa sadar melepas genggaman Naruto dari tangannya.
"A.. Kau mengingatku, Hinata? Semoga saja kau masih ingat akan janjimu, ya?" Ujar Shion sinis. Hinata terdiam, semuanya bingung. Suasana menjadi sedikit teggang disini. Tubuh mungil yang berbalut gaun mewah itu bergetar ketika tahu apa maksud dari ucapan Shion.
"Janji apa?" Tanya Naruto. Dia sebenarnya yang mengundang Shion datang ke pernikahannya, tetapi dia tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Hinata menoleh ke arah Naruto, menatap manik shappire khas lelaki berambut pirang itu dengan sendu. Sedangkan, Naruto yang ditatap seperti itu semakin tambah tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau juga lupa akan janjimu Naruto-kun?" Ujar Shion membuat Naruto semakin bingung. "Kau akan membantuku meneruskan keturunanku," Semuanya tercekat, Hiashi memandang Naruto tajam. Dia tak menyangka bahwa Hokage muda itu berani mempermainkan anaknya. "Bukankah setelah aku diberitahu arti sesungguhnya oleh Sakura-chan, aku langsung menarik kembali ucapanku, kan?"
Hiashi masih menatap tajam Naruto, matanya bergulir menatap Hinata yang masih bergetar hebat. Anaknya itu sampai terduduk lemas di lantai altar. Naruto ikut berjongkok, mengelus pundak Hinata lembut. Berusaha untuk menenangkan istrinya, pria itu langsung menyuruh seseorang untuk mengambil kursi untuk duduk Hinata.
Shion yang melihatnya langsung marah, dia tidak pernah ditolak sebelumnya. Dan, sekarang seorang bodoh seperti 'Naruto' MENOLAKNYA. Kuulangi MENOLAKNYA. Gadis berambut pirang panjang itu berlari dengan emosi yang cukup tinggi. Tangannya merapal jurus ninja untuk menyerang pasangan itu. Pria merah itu langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia berlari menuju Shion dan memegang tangan gadis itu.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" Teriak Gaara marah. "Hari ini adalah pernikahan Konoha, ini sangat membahagiakan untuk semua orang. Kenapa kau merusaknya?" Gaara mencengkram tangan Shion erat. "Hei, kau yang kenapa. Kenapa kau rela menyerahkan orang yang kau cintai untuk orang 'bodoh' seperti dia?" Shion terkekeh saat mengetahui raut wajah Gaara berubah karena ucapannya. Nafas Gaara menggebu, tangannya langsung terangkat, pasir telah berkumpul di telapak tangannya. Shion terdiam, tak takut apapun yang akan terjadi. Tangan Gaara sudah hampir menyerang Shion kalau saja Hinata tidak menghentikannya.
"Berhenti Gaara-kun. Kau sedang berada di dalam Gereja, tidak baik jika kau menggunakan senjatamu disini," Hinata berdiri dari duduknya, ucapannya membuat tangan Gaara kembali turun. Para undangan mulai berhamburan keluar, kecuali para ninja yang masih menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sakura dan Ino mendekati Hinata, menenangkannya dari keadaan ini.
"Kau lihat Naru, dia masih menuruti apa kata Hinata. Dia masih menyimpan cintanya kepada istrimu itu. Kau ingat siapa yang selalu ada untuk Hinata sekarang, hm? Naru, Gaara sahabatmu itu masih sangat mencintai Hinata Hyuuga. Eh, namamu sudah menjadi Namikaze ya? Atau sebenarnya namamu itu Sabaku? Atau ada yang lain selain itu?"
"SHION!" Sakura berteriak kencang. Dia sudah tidak tahan dengan segala ucapan yang keluar dari mulut gadis bengis itu. Sedangkan, Naruto dia hanya diam. Terdiam, karena dia sedang membandingkan apa yang telah dia lakukan untuk Hinata lebih sedikit daripada sakit yang telah dia berikan untuk gadis itu. Dan, mungkin Gaara lebih baik darinya.
…
Last Chapter : Until You
…
Taman kota itu telah menjadi saksi atas segala yang terjadi antara Naruto dan Hinata. Kisah mereka bermula disini, berakhir disini, dimulai lagi disini. Hinata menangis setelah malam perayaan misi di apartemen Naruto dan bertemu Gaara di taman kota yang indah ini. Hinata mendengar pengakuan Shion, pernyataan dari perasaan Naruto, ucapan Sakura yang meyakinkannya juga disini. Naruto bertemu Hinata, kehilangan Hinata, merangkul Hinata, menggenggam Hinata, disini. Dan, sekarang taman ini pun menjadi saksi akan pertarungannya dengan seorang yang telah dia anggap sebagai sahabat dulu.
Pria berambut merah serta pengantin baru pria yang masih menggunakan pakaian formal lengkap untuk upacara pernikahannya itu berdiri tidak jauh dari seorang gadis berkulit putih pucat berambut pirang panjang.
.
Hinata langsung berdiri dari kursinya ketika Gaara, Naruto, dan Shion menghilang dengan jutsu Naruto. Dia tahu bahwa mereka akan bertarung di suatu tempat. Baru saja beberapa langkah dia berjalan, tangannya langsung ditahan oleh Sakura. "Sakura-san tolong lepaskan. Aku harus menolong Naruto-kun," Hinata berujar sembari berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Sakura yang makin lama makin erat saja.
"Tidak Hinata. Hari ini adalah hari pernikahanmu, kau tidak boleh bertarung," Sakura berucap tegas sembari mengeratkan genggamannya.
"Ta-tapii…"
"Sakura benar Hinata. Tidak baik jika pengantin perempuan yang baru menikah ikut bertarung," Kini Hiashi yang angkat bicara dalam masalah ini. Hiashi tidak tega jika melihat air mata lagi yang keluar dari mata indah Hinata.
"Tapi Otou-sa…, Sasuke-san bisakah kau membantu Naruto-kun?"
Awalnya Hinata ingin mengucapkan ketidaksetujuannya tentang apa yang telah diucapkan oleh Hiashi. Tetapi, ketika melihat pria berambut raven yang berdiri di samping ayahnya itu, dia langsung berinisiatif untuk meminta bantuan kepadanya.
Sakura yang langsung menatap Sasuke ketika Hinata mengucapkan nama calon suaminya itu, berfikir apabila Sasuke membantu Naruto mungkin bisa membuat Hinata tidak terlalu merisaukan keadaan suaminya.
"Tolonglah Sasuke-kun," Sakura juga ikut membujuk Sasuke sekarang. Melihat raut memohon dari wajah sang kekasih, pria raven itu langsung menuju ke tempat pertarungan sahabat pirangnya.
.
Suasana memanas, mereka hanya saling melempar tatapan benci. Sampai sang perempuan bercucap, suasana menjadi berubah. Menjadi lebih menegangkan.
"Tak disangka. Kazekage dan Hokage bersatu untuk bertarung demi seorang gadis," Senyum sinis dan meremehkan mulai terlihat di wajah porselen milik Shion.
"Eum, kalian kenapa lebih memilih untuk mencintai dia yang hanya bisa menunduk dan menangis? Dia kan hanya anak dari seorang ketua klan ter-be-sar di Konoha yang tidak diakui. Dia lemah, kalian tahu itu. Tetapi, kalian masih tetap mencintainya,"
Naruto mengepalkan tangannya kuat sampai terlihat darah yang mengalir, hatinya sangat sakit ketika mendengar Shion berucap seperti gadis itu tahu segala soal Hinata.
"Dan, dia kan tidak mampu membunuh satu semut pun. Apalagi untuk membunuh musuhnya? Dia terla-"
"DIAM! DIAM KAU PEREMPUAN GILA!" Naruto sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dia tidak suka, dan tidak akan pernah suka jika seseorang menghina istrinya.
Shion tersenyum, dia langsung memanggil para ANBU yang menjadi pengawalnya untuk maju bersama menyerang Naruto dan Gaara. "Bunuh mereka," Suruh Shion kepada ketua pasukan ANBU itu.
"Serang," Teriak ketua ANBU yang langsung dipatuhi oleh para anak buahnya.
Naruto tersenyum, lalu membentuk klonnya untuk menyerang pasukan ANBU itu. Sementara Gaara langsung merapalkan jurus pasirnya dan menembakannya ke pasukan kecil itu.
…„„„…
Pria raven itu datang tepat pada waktunya. Dia tiba saat Naruto dan Gaara berhasil menumpas habis pasukan Shion.
Sasuke berjalan mendekati dua orang pria itu dengan langkah angkuh seorang Uchiha. Dia berhenti di samping kanan Gaara, mata hitamnya menatap datar wajah Shion yang masih syok akan hilangnya seluruh pasukan terbaiknya. Dia tidak menyangka bahwa kekuatan Naruto benar-benar sangat berkembang.
"Dia itu sangat 'bodoh', 'dungu', 'tak tahu malu'. Kenapa kau mengejarnya? Kau masih normal, kan?" Sasuke bertanya kepada Shion yang masih saja terdiam. Naruto yang merasa Sasuke mengejeknya langsung angkat bicara meskipun akhirnya diam karena Gaara menutup mulut berisiknya.
"Cukup hanya Hinata saja yang mencintai orang bodoh ini," Naruto tersenyum. Benar kata Sasuke, cukup Hinata saja.
"Cih, siapa yang mencintainya. Aku hanya mencintai kekuataannya dan 9 bijuu yang dia miliki. Aku hanya mengincar itu saja," Shion tersenyum sinis dengan tatapan tajam yang dia arahkan ke Sasuke hanya dibalas datar oleh pria raven itu.
"Kalau kau ingin kekuatanku, cobalah untuk merasakannya. Ayo bertarung," Naruto langsung merapalkan jurusnya ketika Shion mengangguk setuju akan tawarannya. "Dan, kalau kau kalah. Jangan salahkan aku untuk membunuhmu," Lanjut Naruto. Tangannya membentuk sebuah rasengan mini untuk menyerang Shion.
"Kalian lebih baik panggil ANBU untuk menjaga Hinata, dan jangan membantuku," Naruto menyuruh kedua sahabatnya untuk tidak membantunya sama sekali di pertarungan ini. Padahal, Gaara sudah mulai merapal jurus saktinya.
"Rasengan," Jurus Naruto mampu dipatahkan dengan mudah oleh Shion. Perempuan itu tersenyum penuh kemenangan. Tetapi, Naruto juga tersenyum ketika sebuah kunai tertancap di dada kiri Shion. Dia merencanakan ini, Shion akan menganggap remeh rasengan kecil yang dia buat hingga sebuah kunai yang sedang melayang kearahnya tidak dia perhatikan.
"Pantas saja ya, kalau kau sangat ingin kekuatanku. Kau benar-benar lemah. Dan, aku tidak suka pada gadis lemah sepertimu. Aku tidak akan membunuhmu, kau hanya perlu disini untuk menjalani hukuman penjara Konoha,"
Naruto meninggalkan Shion dengan kloningnya yang membawa gadis keji itu ke panjara bawah tanah Konoha.
Sekarang, tujuannya adalah Hinata.
…
Last Chapter : Until You
…
"Itadakimasu," Ucap keduanya bersamaan. Kini, mereka sedang menyantap makan malam di rumah sederhana mereka. Rumah ini hanya terdiri dari dua lantai. Dimana, disetiap lantai dihiasi marmer putih, dinding dengan wallpaper menawan yang dipilih langsung oleh sang istri.
"Masakanmu sangat enak, Hinata-chan," Naruto memuji masakan yang dibuat oleh Hinata sebagai makan malam mereka. Hinata pun langsung memerah malu ketika dipuji seperti itu oleh suaminya.
"Arigatou," Ucapnya sembari menaruh teh hijau hangat diatas meja sofa yang sedang Naruto duduki. Dia pun ikut duduk di samping suaminya.
"Hinata, waktu aku melamarmu di depan ayahmu. Waktu itu aku sangat takut sekali," Ucap Naruto mengawali ceritanya.
Hinata menyimak dengan baik. Dia mendengar setiap detail cerita Naruto. Bahkan, tak jarang dia tertawa akan cerita Naruto yang menurutnya sangat lucu.
"Dan, ketika Otou-sama berkata 'kau boleh menikah dengan putriku,' rasanya aku ingin langsung berteriak panjang saat itu juga"
Hinata tertawa sambil menutup mulut mungilnya dengan kedua tangannya untuk menjaga volume suara tawanya.
"Sudah?" Naruto merasa kesal bercampur gemas ketika Hinata menertawakan ceritanya.
"Gomen, masalahnya cerita Naruto-kun sangat lucu. Apalagi ketika Naruto-kun berkata seperti Otou-sama," Hinata langsung menghentikan tawanya ketika melihaat raut wajah Naruto yang seperti terlihat kesal kepadanya.
"Eum, bolehkah aku bertanya Naruto-kun?"
"Tanyalah apapun,"
"Apa benar kalau Naruto-kun…" Hinata menceritakan apa yang diucapkan Sakura tentang taruhan Naruto dengan Sasuke. Wajah Naruto langsung berubah merah karena malu dengan pertanyaan Hinata.
"I-iya," Naruto akhirnya menjawab dengan kepala menunduk. Sebelah tangannya langsung merangkul Hinata. "Ya, itu taruhan bodoh. Tapi, kalau kau inginkan aku seperti itu lihat besok pagi, ya?"
Hinata terkikik ketika mendengar ucapan Naruto. Dia menganggap bahwa suaminya itu sedang bercanda dengannya. Wanita itu menaruh kepalanya di dada bidang Naruto. Tangan Naruto merangkul Hinatanya, dia lalu merapal jurus membuat kloning dirinya.
Kedua kloning itu membuat lelucon dengan tingkah kocak mereka. Hingga Naruto dan Hinata tertawa dibuatnya.
Tangan Naruto mengelus kepala Hinata lembut dan mengecupnya beberapa kali. Dia benar-benar bahagia bisa bersama Hinata selama sebulan ini, dia ingin seterusnya juga seperti ini.
Selamanya dia hanya ingin bersama Hinata serta anak-anaknya kelak. Dia ingin melihat cucu, serta cicitnya kelak bersama Hinata.
**Owari**
Aku baru menyadarinya. Bahwa kau sangat berarti bagiku.
Tidak ada yang pernah mengenalku hingga kau mengenalku. Kau yang pertama mengakuiku. Hingga perlahan, semua orang melakukan hal yang sama.
Tidak ada seorang pun yang mencintaiku sebelumnya. Bahkan, mereka cenderung membenciku. Sampai kau mencintaiku, perlahan semua orang juga menyayangiku.
Kau yang pertama kali menyentuhku. Meskipun, banyak kata yang terucap dariku untuk menyemangati seseorang, kau bisa menyentuh hatiku dengan satu kalimatmu.
Ah…
Cinta, dan hidup memang tidak bisa dipisahkan. Seperti kita yang tidak akan terpisahkan. Semua hal yang pernah terjadi dan yang akan terjadi dalam hidup ini akan menjadi cerita indah bagi siapa yang membacanya.
Kau pernah menungguku, aku pun begitu.
Aku pernah menyakitimu, dan kau membalasnya.
Kau mencintaiku, dan tentu saja aku juga sangat mencintaimu.
Hei, Hidup baru saja dimulai. Temani aku menulis cerita perjalanan kita mulai saat ini dan seterusnya.
•Naruto
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
A/N : Holla Minna, eum.. Ane sangat menelantarkan fic ini ya? Gomen, gomen. Ane lagi banyak tugas banget. Mana habis sakit lagi, ini aja nulisnya sembari terkapar dalam kesakitan yang mendalam. Hehe, Lebay amat yak? Akhirnya ane memutuskan untuk endingnya adalah Naruhina. Mana suaranya NHL's? #siingg Lho kok sepi? Duh, pasti lagi pada menangis haru akan chapter 700 ya? Hehe, sebenarnya keputusan untuk membuat ending Naruhina di fic ini juga bergantung akan Masashi Kishimoto menentukan akhir cerita. Jadi, ane ngikut aja mau dibawa kemana. (LagunyaArmadadong)
Buat para reviewer, silent reader, yang sudah memasukan cerita ini di alert nya, dan segala macam yang telah membantu ane menyelezaikan fic ini. Arigatou.
Terima kasih, ini adalah fic multichapter pertama yang telah complete jadi harunya gak kekira. Saya mau minta maaf untuk para Shion lovers, karena saya membuat Shion menjadi antagonis di fic ini. Sekali lagi maafkan atas ketidaknyamanan ini. Dan lagi, terima kasih bagi para reader yang tidak suka pada fic saya ini, tidak menghakimi saya akan flame tak berdasar.
Terima kasih atas dukungan dari para pembaca. Maafkan saya yang selalu telat update fic karena kemalasan saya serta kesibukan saya di dunia nyata.
Tolong dukung saya di fic selanjutnya ya?! #berojigi
.
.
.
.
Salam,
yamanakavidi
(NOV, 2014)
