Membuka matanya secara perlahan, gadis berambut pirang panjang yang sudah lebih dari tiga hari tertidur dalam masa kritis itu pun terbangun dari tidurnya. Mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali guna membiasakan sinar cahaya yang memasuki retina matanya, kedua bola mata beriris sapphire itu kemudian mulai menelusur ruangan yang nampak terasa sangat asing banginya tersebut.

Mengernyit, Naruto menggerakan sebelah tangannya menuju keningnya yang terasa berdenyut sakit. Namun gerakannya pun terhenti seketika, sesaat dirinya menyadari ada sesuatu yang menahan gerakan lengannya. Memusatkan pandangannya ke arah lengan kanan dan kirinya yang terasa mengganjal secara bergantian, mata beriris indahnya pun sontak melebar.

'Jarum infus?'

'Perban?'

Deg...

Detak jantungnya terasa berhenti sesaat ketika seluruh ingatannya telah terkumpul di dalam memori otaknya.

Ngilu.

Rasa itu kembali terasa. Naruto merasa sesak di dalam dadanya. Denyutan perih itu kembali menyiksa dirinya.

Menatap miris pergelangan tangan kirinya yang nampak terbalut perban, air mata pun perlahan mengalir membasahi wajahnya.

Sasuke...

Nama itu kembali memenuhi hati dan pikirannya, membuat dirinya kembali hancur seketika.

'Bahkan kematian pun rupanya masih enggan menghampiri diriku.' Batinnya miris

Kenapa? Kenapa dirinya tidak mati saja? Bukankah rasa sakit itu tak akan kembali diingatnya bila kematian benar-benar menghampirinya?

Dan suara isakan pun terdengar mendominasi ruangan sepi tersebut.

.

.

.

.


BROKEN HEART?

Chara selalu milik Masashi Kishimoto Sensei, tapi fict ini tulisan Sao.

Warning : AU, OOC, FemNaru, Typo's yang selalu nyelip dengan bandelnya, cerita monoton, alur cepat dan maju mundur , dll.

Pairing : SasuFemNaru, slight other.

Fict ini Sao dedikasikan untuk my birthday dan semua yang berkenan dengan fict ini. Tak ada keuntungan materil yang Sao peroleh dari fict ini. Adapun chara yang OOC, itu hanya untuk berjalannya cerita dan sama sekali tidak ada niat untuk menyinggung fihak manapun, serta sama sekali tak ada niatan untuk membuat jelek suatu chara atau karya aslinya.

Don't like, don't read. Pilihlah bahan bacaan dengan bijak. Flame dipersilakan selama membangun.

Happy reading and happy birthday to me...

.

.

.

.

"Bagaimana? Bukankah yang berwarna ungu pucat ini terlihat elegan, Sasuke-kun?"

Terdiam, pemuda raven tersebut menatap kosong kertas tebal yang berada dalam genggaman tangan Shion.

.

.

"Ck ... yang benar saja? Aku tidak setuju dengan oranye."

Mengerucutkan bibirnya, gadis cantik bermata senada dengan langit musim panas yang tengah duduk di hadapannya menatap penuh ketidaksukaan. "Kenapa tidak? Oranye bagus, kok."

"Oranye itu terlalu terang dan terkesan norak, Dobe." Sasuke meraih kertas lain yang berada di atas meja kaca. "Hitam lebih baik."

"H-Hitam?" Menatap Sasuke penuh horor, gadis tersebut seolah melihat Sasuke seperti memiliki dua kepala. "Astaga, Suke. Ini surat undangan untuk pesta pernikahan kita, bukan untuk pemakaman."

"Memang apa salahnya dengan hitam? Hitam bukan hanya untuk segala macam berbau kematian atau pemakaman saja, Dobe." Ungkapnya ketus.

"Hitam itu terlalu suram, Teme." Pekik Naruto dengan ekspresi berlebihan, gadis tersebut sama sekali tak ingin kalah. "Oranye menurutku lebih bagus dari pada hitam, Teme." Dipeluknya surat undangan dalam genggamannya dengan begitu erat. " Aku ingin mereka yang menerima undangan kita menjadi bersemangat untuk mendatangi acara pernikahan kita nantinya."

"Apa hubungannya oranye dengan semua itu, Dobe?"

"Tentu saja ada. Warna cerah itu membawa kesan ceria." Sahutnya bersemangat.

Menghela napas pelan, Sasuke pun kemudian mengulum senyum simpul. "Terserah kau saja lah."

Menatap kekasihnya dengan mata berbinar, Naruto pun tersenyum dengan begitu lebarnya. "Kyaaa ... begitu, dong. Arigatou, Suke."

"Hn."

.

.

"Sasuke-kun?"

"Oranye."

"Oranye?" Beo Shion bingung, "Kau yakin, Sasuke-kun?"

Tersentak, Sasuke memijit ujung pangkal batang hidungnya. Menghela napas lelah, pemuda berambut hitam kebiruan tersebut kembali mengarahkan pandangannya pada wanita hamil di hadapannya yang nampak menantikan jawaban darinya. "Aku lelah," Sasuke bangkit dari tempat duduknya, "kau pilihlah yang menurutmu terbaik. Aku akan menjemputmu nanti malam. Aku harap kau siap untuk acara pertemuan keluarga kita."

Mengangguk, Shion kemudian mendongak dan menyunggingkan senyumnya pada Sasuke. "Tentu. Aku akan menunggu kau menjemputku nanti malam."

"Hn. Aku pergi." Dan Sasuke pun berlalu pergi meninggalkan Shion seorang diri.

Menatap kosong ke arah depan, Shion hanya bisa mendesah pelan ketika apartementnya kembali menjadi semakin hening.

"Semuanya akan berjalan lancar, bukan?" Tanyanya lirih seraya mengelus permukaan perutnya yang tak rata.

.

.

.

.


"Kau harus makan, Naruto."

Sosok gadis berambut pirang panjang yang sedari tadi menatap kosong ke arah luar jendela, menoleh sejenak saat sebuah suara familliar terdengar dalam pendengarannya. Menegakan punggungnya, duduk bersandar pada dinding di belakang tempat tidur dan kembali mengarahkan pandangan kosong ke arah luar jendela.

Sementara sosok lain yang memiliki rambut berwarna merah, hanya bisa menatap nanar sambil meletakan piring di atas meja di samping tempat tidur.

"Naruto ... kau tidak bisa terus menyiksa dirimu seperti ini, Naruto. Kau harus sembuh." Akhirnya setelah cukup lama bertahan dalam keheningan yang menggantung, pemuda berambut merah itu pun kembali membuka suara.

"..." Diam, Naruto sama sekali tak breaksi.

Tersenyum pahit saat melihat dengan jelas kekosongan pada ekspresi wajah yang biasanya selalu ceria tersebut, Sasori pun hanya bisa berharap sang adik sepupu akan segera melewati ini semua.

Sungguh rasa begitu sakit ketika melihat sosok yang begitu kau sayangi layaknya seperti adik kandung sendiri kini hancur terpuruk. Ingin sekali rasanya Sasori mendatangi sang akar masalah dan melenyapkan keberadaannya. Namun Sasori tahu dengan sangat jelas, tindakan itu hanya akan semakin memperumit masalah dan menambah parah rasa sakit yang diderita sosok pirang tersebut. Karena Sasori begitu tahu betapa besarnya rasa cinta yang dimiliki Naruto untuk sang mantan kekasih ravennya tersebut.

'Lalu ... apa yang bisa dan harus kulakukan?'

.

.

.

.


"Aku sangat tidak menyangka kalau kita benar-benar akan berbesan." Ungkap seorang wanita berambut coklat keemasan bermata lavender dengan seulas senyum simpul yang terkulum.

"Hn."

Berdecak, wanita cantik berusia empat puluh tahunan tersebut kemudian mengusap mulutnya dengan serbet khusus yang tersedia di atas meja makan. "Kau dengan irit bicaramu benar-benar menyebalkan, Fugaku."

"Hn."

Mendengus pelan saat lagi-lagi hanya mendapat gumaman tak jelas dari lawan bicara tersebut, Miroku pun mengalihkan pandangannya ke arah sang puteri dan calon suaminya yang tengah memakan hidangan pencuci mulut. "Ne ... Sasuke-kun," Kembali mengulas senyumnya ketika sang calon menantu mengarahkan tatapan matanya ke arahnya, "apa kau sudah menemukan tempat yang cocok untuk berbulan madu?"

Pemuda raven tersebut mengelap mulutnya dengan serbet, "Kami sama sekali tidak merencanakan untuk bulan madu, Bibi."

"Huh ...?" Wanita tersebut mengerutkan keningnya dan menatap puterinya dan Sasuke secara bergantian. "Apa maksudmu, Sasuke-kun?"

"Kandungan Shion sudah mencapai usia lima bulan, terlalu riskan untuk melakukan perjalanan jauh."

"Jadi kalian ak—"

"Okaa-sama, bisakah kita menghentikan pembicaraan tak penting ini?" Tanya Shion jengah, menyela ucapan sang Ibu.

"Ha—ah ... baiklah. Padahal aku hanya penasaran saja."

"Berhentilah mencampuri urusan mereka, Miroku." Ucap Sang kepala keluarga Uchiha tiba-tiba.

"Ck ... kau tidak asyik, Fugaku." Cibir Miroku.

"Hn." Balas Fugaku seraya menatap rekan bisnis dan calon besannya tersebut datar. Mengalihkan pandangannya ke arah Shion, Ayah dari dua orang putera tersebut kembali membuka suara. "Kau menginap lah kembali di rumah ini."

"Tidak, Paman. Shion sudah terlalu sering menginap di sini sehingga mengabaikan apartement kami hingga terbengkalai."

"Tapi ada baiknya kau segera pindah dari sana, Shion. Apart—"

Kembali memotong ucapan sang Ibu, Shion menatap wanita yang telah melahirkannya tersebut dengan mata mendelik tidak suka. "Berhentilah memintaku untuk pindah, Okaa-sama. Sampai kapan pun aku tak akan pergi dari sana, Okaa-sama."

"Tapi semua itu hanya akan membuatmu terus merasakan sakit dan kehilangan, Shion." Seru sang Ibu sarat akan emosi.

Terdiam.

Bukan hanya Shion saja yang terdiam ketika mendengar seruan wanitaberambut coklat keemasan tersebut, bahkan sang Uchiha senior dan Uchiha bungsu pun ikut terdiam.

Menghapus tetesan air mata yang menetes tanpa disadarinya, Shion bangkit dari tempat duduknya. "Sudah malam. Aku permisi." Ucapnya datar seraya berlalu.

Menghembuskan napasnya pelan, Sang bungsu Uchiha pun ikut bangkit dari tempat duduknya. "Aku harus mengantarkan Shion." Ungkapnya dan kemudian melangkahkan kakinya menyusul wanita berambut pirang pucat tersebut.

Hening.

Kedua sosok lainnya yang tersisa, hanya saling melemparkan pandangan ke arah satu sama lain. Dan kegiatan tersebut terhenti ketika sang Uchiha senior akhirnya memutuskan kontak mata mereka.

"Seharusnya kau jangan menyinggung Shion dengan segala hal yang berkaitan dengannya."

Menundukan wajahnya, Miroku tersenyum pahit. "Aku lelah menunggu, Fugaku." Ungkapnya getir, "Bahkan aku pun mulai ragu akan keberhasilan putera bungsumu untuk menggantikan posisi Itachi sebagai calon suami dan calon ayah untuk anak yang ada di dalam kandungannya. Meninggalnya Itachi benar-benar menjadi mimpi buruk yang sangat menyakitkan."

"Hn."

.

.

.

.


Naruto memandang ke arah luar jendela, memperhatikan dengan jelas bulan sabit yang nampak dikelilingi ratusan bintang di sekitarnya. Menghembuskan napas berat, gadis pirang tersebut menyentuh bagian dadanya yang terasa begitu sakit.

"Sasuke ... " Panggilnya begitu lirih, sorot matanya semakin nampak kosong. Kilau matanya yang selalu memancarkan semangat pun akhirnya benar-benar pudar dan menghilang tertelan luka.

Sementara itu di ambang pintu masuk ruangan, berdiri Sasori yang menatapnya penuh khawatir. Berdoa agar sang adik sepupu akan segera pulih dan bangkit dari keterpurukannya.

.

.

.

.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke setelah mereka terdiam cukup lama dalam keheningan yang menggantung di dalam mobil.

Mengalihkan pandangannya dari pemandangan jalanan yang terlihat dari balik kaca mobil, Shion menatap Sasuke melalui kaca spion depan mobil. "Apanya yang apa? Aku baik-baik saja."

"Begitukah?"

"Tentu saja," Shion mengulas senyum tipis, "selama kau terus berada di sisiku, aku akan selalu baik-baik saja."

"Hn."

"Kau tak akan pernah meninggalkanku 'kan, Sasuke-kun?"

"..." Diam, Sasuke hanya fokus melihat ke arah jalanan.

"Sasuke, kau tak akan pernah meninggalkanku 'kan?" Shion mengulangi pertanyaannya dan menatap pemuda yang tengah fokusmenyetir tersebut penuh harap.

"Hn." Jawabnya kemudian.

Tersenyum. Shion meraih sebelah tangan Sasuke dan mengelusnya pelan. "Aku dan bayiku sangat membutuhkanmu, Sasuke-kun. Jangan pernah berpikir untuk mengingkari janjimu pada Itachi, karena kami berdua akan mati tanpa keberadaanmu." Tersenyum perih, Shion mengeratkan pegangan tangannya pada telapak tangan Sasuke. "Mulai saat ini kuputuskan untuk menjadi egois, Sasuke-kun. Tak peduli kau tidak menginginkan semua ini, kami tak akan pernah melepaskanmu."

.

.

.

.


Menghembuskan napasnya berat ketika sang adik sepupu kembali menolak untuk menyentuh makanannya, Sasori pun meletakan piring berisi sarapan gadis pirang panjang tersebut.

"Kau akan lama sembuh bila terus begini. Ayolah, Naruto. Kau harus makan, sedikit saja."

"..." Diam. Selalu saja begitu. Naruto sama sekali tak pernah mau membuka mulutnya pada Sasori semenjak gadis tersebut terbangun dari masa kritisnya.

"Naruto ... ayolah, aku mohon padamu. Setidaknya makanlah walau hanya satu suap." Ucapnya putus asa.

Menolehkan kepalanya sejenak untuk menatap Sasori, Naruto pun kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Gadis bermata sapphire tersebut menatap gorden kamar berwarna hijau yang nampak melambai-lambai tertiup angin, "Aku mau pulang." Akhirnya Naruto pun membuka suaranya setelah beberapa hari tak pernah mengeluarkan suaranya di hadapan Sasori maupun Dokter dan para perawat yang menangani dirinya.

Mendengar permintaan bernada lirih tersebut membuat Sasori menghela napasnya berat. Pemuda tersebut menatap Naruto yang masih saja menatap ke arah luar jendela, "Kau akan pulang setelah kondisimu memungkinkan."

Naruto menatap ke arah sang kakak sepupu, "Tapi aku mau pulang." Ucapnya keras kepala.

"Naruto ... "

"Aku mohon, Sasori-nii. Aku tak mau lebih lama lagi berada di sini." Ucapnya penuh permohonan.

"Baiklah ... kau tunggu sebentar. Aku akan menemui dokter yang menanganimu." Pemuda berambut merah tersebut bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Naruto. "Aku akan memintanya melakukan perawatan di rumah saja."

Mengangguk, Naruto kemudian menutup matanya saat Sasori menepuk puncak kepalanya sebelum benar-benar pergi meninggalkannya di ruangan tersebut.

Hening.

Hanya suara denting jam dinding lah yang mendominasi kesunyian ruangan tersebut. Setelah cukup lama berdiam diri dalam kesendiriannya, Naruto bergerak melepas jarum infus yang terpasang pada pergelangan lengan kanannya. Mengusap darah yang tampak menetes dari bekas lubang jarum infus tersebut dengan jemari tangan kirinya.

Kemudian secara perlahan Naruto bergerak menuruni tempat tidur yang selama beberapa hari ini ditempatinya. Merasakan dinginnya permukaan lantai pada telapak kaki telanjangnya, Naruto pun merubah posisinya menjadi berdiri.

Terhuyung untuk sejenak karena tenaganya yang lemah, gadis berambut pirang itu pun merapatkan dirinya pada permukaan dinding. Lalu mulai melangkahkan kakinya secara perlahan dengan tangan yang menopang tubuhnya pada dinding, berjalan merambat semampu yang dia bisa.

.

.

.

.


"Kau tunggulah di sini. Ada seseorang yang harus kutemui terlebih dahulu."

"Aku ikut, ya?" Shion merajuk dan menatap melas pada Sasuke.

"Hn. Aku hanya sebentar." Ucapnya sambil lalu, sama sekali tak mengindahkan tatapan nelangsa dari wanita hamil tersebut.

Mendesah pelan ketika dirinya ditinggalkan begitu saja oleh sang calon suami di tengah koridor rumah sakit, Shion pun melangkahkan kakinya menuju kursi yang tersedia tak jauh dari tempatnya berdiri. Mendudukan dirinya kemudian, wanita berambut pirang pucat itu mengelus perutnya penuh sayang. "Papamu meninggalkan Mama, sayang. Kejam sekali."

Tap... tap... tap...

Menolehkan kepalanya ke arah samping saat mendengar langkah kaki yang terdengar menggema di koridor sepi tersebut, mata indahnya melebar saat melihat sosok gadis berambut pirang panjang yang nampak tengah berjalan merambat pada bermukaan dinding.

"G-Gadis itu ... "

.

.

.

.


Menatap nyalang pemuda berambut raven di hadapannya, Sasori berusaha sekuat mungkin untuk tidak melayangkan pukulan pada wajah berekspresi datar tersebut.

Sasori tentunya sangat terkejut ketika sebuah suara familliar secara tiba-tba memanggil dirinya dari arah belakang, sontak membuat langkahnya menuju ruangan dokter terhenti. Dan setelah dirinya membalikkan badannya, Sasori benar-benar merasa ingin sekali membunuh sosok berambut hitam kebiruan bermata onyx tersebut.

"Apa maumu?" Tanya pemuda berambut merah tersebut begitu sinis.

Masih dengan tatapan datarnya, Sasuke menatap lurus tepat kemata hazel sang kakak sepupu mantan kekasihnya. "Bagaimana keadaannya?"

Mendengus sinis, Sasori menatap Sasuke dengan dengan senyuman mencemooh yang tersungging pada wajah tampannya. "Kenapa? Mengkhawatirkannya, ahn?"

"..." Diam, Sasuke hanya tetap melayangkan tatapan datar.

"Bagaimana pun keadaannya, bukankah sudah tak ada urusannya lagi denganmu?" Tanyanya begitu sinis.

"..." Masih diam.

"Tak perlu merepotkan dirimu dengan hal yang tidak penting, kau urusi saja pernikahanmu yang akan berlangsung dua minggu lagi." Senyum puas terpatri pada wajahnya saat melihat ekspresi terkejut dari sang pemuda minim ekspresi di hadapannya. "Kau pikir dengan siapa kau berurusan. Jangan pernah remehkan siapa pun yang masih berhubungan dengan Namikaze. Kupastikan kau akan hancur sehancur-hancurnya, Uchiha Sasuke." Berbalik, Sasori kembali melangkahkan kakinya.

"Aku terpaksa."

Menghentikan langkahnya kembali secara tiba-tiba ketika mendengar ucapan bernada putus asa di belakangnya, Sasori terhenyak seketika.

"Aku tidak mungkin menolak permintaan sekali seumur hidup dari Aniki-ku sendiri." Sasuke mengeratkan kepalan lengannya, "Dia hamil. Di dalam kandungannya terdapat Uchiha junior yang membutuhkan pertanggung jawaban. Ditambah keadaan Shion yang sangat terpuruk atas kepergian Aniki yang secara tiba-tiba mengharuskanku menggantikan posisinya." Pemuda berambut raven tersebut menggelengkan kepalanya. "Lalu aku harus bagaimana ketika Aniki menitipkan mereka kepadaku disaat hembusan napas terakhirnya? Masih bisakah aku bersikap egois dengan mempertahankan hubungan kami berdua?"

Membalik badannya menghadap kembali ke arah Sasuke, Sasori menghela napas pelan. "Tapi kau hampir membuat Naruto mati karena bunuh diri. Kau menghancurkannya, Sasuke."

Menggigit bibir, Sasuke menatap Sasori penuh emosi. Sama sekali tak lagi mempedulikan kesan stoic yang selama ini selalu ditunjukannya pada siapa pun, minus Naruto— yang selalu berhasil membuatnya menunjukan berbagai macam ekspresi. "Itu lah yang tidak pernah aku kira akan terjadi. Ternyata aku belum mengenal dirinya secara keseluruhan. Gadis yang selama ini begitu kuat, ternyata begitu rapuh di dalam."

"Lalu sekarang kau mau apa? Bukankah kau tidak mungkin membatalkan pernikahanmu dengannya seperti kau membatalkan rencana pernikahanmu dengan Naruto?" Tanya Sasori bertubi-tubi.

"Jaga Naruto untukku."

"Tsk ... tanpa kau minta pun aku pasti akan menjaganya." Ucapnya sinis.

"Bukan sebagai kakak ... tapi sebagai orang mencintai dia."

Melebarkan mata beriris hazelnya, Sasori kemudian menatap Sasuke begitu tajam. "Apa maksudmu?" Desisnya.

"Aku sangat tahu bagaimana perasaanmu pada Naruto selama ini. Kau sangat mencintainya." Sasuke tersenyum datar. "Bukan sebagai kakak."

"Kau?" Pemuda berambut merah tersebut kehabisan kata-katanya.

"Karena itu ... aku percayakan Naruto padamu." Ucapnya sebelum akhirnya berbalik arah dan berjalan meninggalkan Sasori yang nampak terpaku.

Terkekeh tertahan, Sasori tersenyum miris. Tatapan matanya masih terarah pada sosok Sasuke yang perlahan semakin menjauh dari pandangannya. "Astaga ... ini konyol, bukan?"

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.


A/N.

Kyaaa... akhirnya tanggal 28 tiba juga. Sebenarnya Sao harusnya update sekalian, tapi ... ternyata Sao belum bisa menyelesaikan fict ini tepat waktu, selalu saja begitu. Aku tahu pasti ada yang merasa jengah dengan Sao yang selalu PHP, tapi ... Gomen ne.

Sao usahakan untuk update chap terakhirnya sesegera mungkin.

Sao mohon maaf karena pasti banyak typo bertebaran dan juga kata hilang, Sao bener-bener lagi dalam keadaan down. Padahal Sao hari ini ulang tahun dan nanti malam akan ada pesta, tapi ternyata Sao sakit minna. Jadi gak tahu deh nanti malam kuat atau gak.

Oke, arigatou untuk semua yang telah berpartisifasi pada fict ini. Arigatou untuk reader, silent reader, reviewer, guest, follower dan yang telah memfav fict ini.

.

.


Balasan review :

Funny bunny blaster : arigatou. Suka sama Saso? Akan kelihatan sebentar lagi. Wkwk... Sao makin tua.

Guest : review anda benar-benar membuat saya merinding. Please, jangan kirim review seperti itu lagi.

Gothiclolita89 : kyaaa... bukan, senpai. Sasu setia kok. Ehehe... maaf ya udah buat salah paham.

Riena. Okazaki89 : doanya manjur. Itu anak Itachi. Ehehe...

Mifta cinya : iya, abis kalau SakuHina udah terlalu sering. Lagi pula Shion 'kan biasanya dipasangin sama Itachi klo pair straight. Sempat kepikiran konan, tapi nanti kesannya tua kalau sama Sasuke. Kalau dijelasin kenapa Shion hamil nanti rated M dong. Hiii... belum siap buat lemon Itachi sama pair lain, ehehe.

Arnygs : kyaaa... maaf harus menunggu sebentar lagi untuk tamatnya fict ini. Gomen... Uhm... bagaimana, ya? Sao semester lima sekarang.

Kazekageashainuzukaasharoyani : ikutan smile deh, ehehe... flashback? Ada ga ya? Hmp...

Guest 1 : yaps... seratus. Tebakan anda akurat.

Hanazawa kay : arigatou.

Aichan 14 : ehehe... ga apa-apa kok. Sudah terjawab 'kan siapa dia yang dimaksud? Ehehe...

Guest 2 : bukan kok. Itu anak Itachi. Hehe... gomen ne, terpisah atau tidak, itu tergantung Shion.

Alta0sapphire : arigatou... kyaaa... makin tuwir aja deh Sao. Bukan kok, itu anak Itachi. Hmp... entahlah? Tapi kemungkinan besar sad ending deh.

Iyes Zayyana : dugaan Nee-san benar, aku gagal nyelesain fict ini. Sasuke gak gila, Nee. Dia Cuma galau. Pokoknya aku mau sesuatu yang berwarna biru dan ungu dari Nee-san.

Aiko Michishige : di sini gak sedih, dong? Ehehe... udah ga direstui dua kubu, eh ... ada Shion lagi. Yosh... arigatou.

Babylin9090 : arigatou...

UzumakiDesy : Shion terpaksa harus dinikahin Sasuke karena Itachi meninggal, padahal Shion lagi hamil. Fugaku? Hmp... kita akan lihat seperti apa dia nanti. Yosh... arigatou.

All : sekali lagi Sao bener-bener mohon maaf. Sao dapat pembelajaran supaya gak ngomong sembarangan, Sao tahu pasti ada yang kecewa. Mohon maaf juga untuk reviewer yang terlewat atau salah dalam penulisan nama.


Silakan sampaikan segala hal yang anda pikirkan di dalam kotak review. Sao terima kok kalau pun ada flame, karena Sao memang punya salah.