Chapter III: Lelucon
Hidan tidak bisa memejamkan matanya walaupun hanya sejenak. Pikirannya begitu penuh. Terlalu penuh malah. Apa yang disimpan Hinata benar-benar tidak bisa ia terima begitu saja. Ia boleh menyimpan segalanya, bahkan ditolak ayahnya pun tidak akan sesakit ini.
"Hinata…? Kau tidak salah?"
"Apa aku terlihat seperti orang yang akan dengan senang hati bercanda?"
Hidan menurunkan pandangannya ke meja yang ada di atas siku-siku tangannya. Jemarinya bergerak meremas rambut keperakannya yang bersinar redup ditimpa lampu berampere rendah. Matanya tidak henti mengantarkan kilasan demi kilasan yang mungkin ia lewatkan.
"Kau terlihat frustasi. Ini memang hal yang mendadak, setelah sekian tahun kau dibiarkan dalam ketidaktahuan," Neji melanjutkan.
"Tunggu dulu...," Hidan menghentikan kalimatnya. Kepalanya menegak. "Selama ini Hinata memang begitu saja memutuskan hubungan, tapi… seperti yang kaubilang, aku dibiarkan dalam ketidaktahuan, apa kau tahu alasannya?"
Neji menimbang pertanyaan yang baru didengarnya. "Jika aku tahu, apa aku berkewajiban memberitahukannya?"
Hidan menarik kerah kemeja putih yang berada di sebalik jas Neji. "Jangan buat aku mati penasaran, Brengsek! Aku akan membayarmu dengan uang bulan ini."
Neji menolak tangan Hidan lalu mengatakan, "Aku tidak membutuhkan uangmu dan aku tidak akan memberi tahu alasannya."
Hidan mendengus. "Apa Hinata menikah dengan orang lain?"
"Kalau begitu, kenapa anaknya masih di sini?" Neji mengembalikan pertanyaan.
Pupilnya melebar; diikuti dengan kedua matanya, memperlihatkan betapa terang kedua irisnya. "Dia—anakku—?"
Neji membiarkan pertanyaan itu mengambang di pikiran pria yang duduk sebelahnya. "Juga, kau tidak akan pernah melihat Hinata lagi. Jadi, jangan berharap lebih. Paman Hiashi sudah cukup baik padamu."
"Maksudmu… Hinata sudah—"
"Meninggal," potong Neji. "Tepatnya, sebulan setelah melahirkan Hime. Dia bunuh diri," lanjutnya datar seolah tanpa perasaan.
Hidan menggelengkan kepalanya perlahan; tidak percaya pada dua hal, Hime adalah anaknya dan Hinata telah meninggal dengan bunuh diri. Pikirannya menghampa seketika.
Momennya bersama Neji pagi itu masih begitu melekat dengan ingatannya. Ia menggigit bibir, kuat; mencoba memendam rasa sakit yang amat sangat. Berpikir untuk menangis pun percuma, ia terlalu telat untuk melakukan itu. Meskipun bukan kemauannya untuk tidak mengetahui apa pun tentang labirin rahasia Hyuuga.
Kepalanya seolah akan pecah ketika ingat bait terakhir perkataan Neji. Tidak pernah terpikir olehnya Hinata dapat dengan bodohnya melakukan itu. Tembok yang dibangun Hiashi selama inilah yang menurutnya membuat Hinata nekad melakukan hal itu. Sungguh, jika sudah begini, sulit rasanya memaafkan Hiashi.
Hidan memutar tubuhnya dalam pembaringan. Gorden sama sekali belum ditutup sejak ia memasuki kamar. Tampilan yang tadinya masih memperlihatkan siluet rumpun bambu gelap, sekarang telah sedikit terlihat rupanya. Langit mulai menjelang lembayung sebelum benar-benar menguning di kilasan matanya yang memerah. Waktu begitu cepat bergerak.
Ia meraih ponselnya. Wallpaper ponsel itu menampilkan sosok dirinya dan Hinata dengan sebuah syal merah hati yang melilit leher mereka berdua. Hinata masih dalam balutan seragam sekolahnya. Ia ingat betul itu hari pertama Hinata masuk sekolah setelah melewati liburan caturwulan kedua yang memotong dua minggu musim dingin. Cuaca masih kentara dingin saat itu.
Tidak ingat kapan tepatnya wallpaper itu menjadi penghias di ponselnya. Pastinya sudah cukup lama. Juga, ia tidak pernah mengatur penampilan ponselnya, melainkan Hinata yang melakukannya. Dan setelahnya, pria itu sama sekali tidak berniat mengatur ulang tampilan awal ponselnya, bahkan ketika Hinata telah memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas.
"Mungkin aku harus menghapusnya sekarang." Ia terdiam cukup lama ketika tertampil kata "delete" dan "cancel". Ibu jarinya bergetar saat ia akan menyentuh salah satu dari dua pilihan itu. Walaupun begitu, ia tetap memilih.
Hidan bangkit. Baju yang ia kenakan sama sekali tidak berganti sejak sarapan kemarin. Kepalanya terasa berat ketika ia mencoba mencapai pintu. Dengan sekali tarikan napas, ia menggeser pintu yang membatasi kamarnya dengan lorong kosong.
Masih begitu pagi saat itu, namun ia menangkap suara yang muncul dari arah timur. Hatinya tertarik untuk sekadar melihat apa yang sedang terjadi di sana. Mungkin dengan begini ia dapat sedikit mengurangi bebannya.
Dengan mengintari lorong hingga mencapai ujung, ia kembali memasuki lorong lain yang akan mengantarkannya ke arena memanah. Lorong di sini dibiarkan terbuka; hanya jika ada badai atau topan dinding-dinding kayu akan disatukan kembali dengan lorong ini.
Embun bersama udara dingin menyambut permukaan kakinya yang telanjang hingga terus menjalar mencapai ubun-ubun. Tidak perlu waktu lama bagi udara yang ia keluarkan untuk diubah menjadi kepulan asap tipis.
Neji mulai terlihat sejak ia memasuki lorong di sekitar lapangan memanah. Pria berambut panjang itu berdiri di sebuah ruangan tempat menembak dengan sasaran yang berada di ujung lapangan. Ia tampak begitu fokus hingga tidak menyadari kehadiran Hidan yang telah berdiri di belakangnya.
Suara angin mendesing terdengar begitu halus saat Neji melepaskan tembakannya. Dengan cepat panah panjang itu berpindah ke papan sasaran. Ujung panah bergetar kencang ketika pangkalnya menancap di papan sasaran. Tidak terbidik terlalu tepat, namun cukup dekat dengan titik hitam yang berada di tengah.
"Apa kau sering melakukannya sepagi ini?" tanya Hidan.
Neji menurunkan busurnya yang lumayan panjang. Ia terlihat menyatu dengan pakaian hitam-putihnya itu alih-alih dengan pakaian modern.
"Aku tidak punya waktu lain selain ini."
"Kau hebat juga bisa membidik dalam keadaan redup begini…," Hidan memindahkan pandangan pada papan sasaran, "walaupun tidak begitu tepat sasaran."
Neji menarik sedikit ujung bibirnya. "Kau terlihat membaik… kecuali dengan matamu. Pasti kau tidak tidur semalaman."
"Kau hanya melihat dari luarnya saja. Asal kau tahu, aku ingin memukul wajahmu dan Hiashi sekarang juga."
Kini tercipta seringai dari bibir Neji. "Lebih baik kaulakukan sekarang sebelum aku yang akan melakukannya."
Hidan tidak membalas, meskipun ada keinginan untuk segera mengganti seringai itu dengan rintihan. Tapi setelah melihat Neji, tujuan utamanya bukan untuk itu sekarang. "Di mana Hinata dimakamkan? Aku ingin ke sana."
"Aku akan memberikannya setelah kau selesai pemeriksaan. Siang ini aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
Hidan menahan amarahnya di kedua genggaman tangannya saat pria itu lagi-lagi mengabaikan perkataannya. Neji tidak terlihat gentar sama sekali. Ia memang telah siap dengan apa pun yang akan dilakukan pria menyedihkan di depannya.
Sejurus kemudian, Hidan menarik ujung pakaian memanah putihnya. Pria itu tidak berhasil menahan emosinya, namun ia cukup sadar untuk tidak mendaratkan tinjunya pada wajah pria yang lebih pendek tiga sentimeter darinya itu.
Neji menatap lurus pada mata Hidan yang masih memerah. Saat itulah ia sadar anggapannya salah. Mata itu memerah bukan karena kekurangan tidur, tapi karena apa yang ia inginkan telah lenyap dan muncul hal tidak terduga lain. Neji merasa ia turut memberi andil atas memerahnya mata itu. Sebelumnya, ia tidak sebegitu tahu seberapa Hidan mencintai sepupunya. Ia tidak pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri karena ketika mereka berhubungan, Neji sedang menempuh pendidikannya di luar negeri. Pun begitu, di mata seorang Neji, tidak ada cinta yang benar-benar murni.
"Seharusnya kau tahu tata krama jika ingin meminta sesuatu dari seseorang," gumamnya datar, namun cukup bersimpati dengan pria di depannya.
Hidan membuka genggamannya. Neji merapikan pakaiannya lalu melepaskan sarung tangan memanah yang ada di tangan kanannya. Dengan tangan yang sama, ia menjulurkannya pada Hidan. "Aku butuh ponselmu."
Ia tidak yakin dengan permintaan Neji. Namun pada akhirnya, ponsel itu berpindah tangan juga.
Saat dari sebalik layar LCD datang cahaya terang, air muka Neji seketika agak beriak. Tampilan depan ponsel memperlihatkan Hinata dengan wajah tersenyum dan Hidan dengan wajah yang berpaling dari fokus kamera saling berbagi syal. Fokus mata Neji tertuju pada Hinata. Selama ia tinggal dengan keluarga pamannya, tidak pernah terlihat gadis itu begitu tersenyum.
"Aku ingin menghapusnya, tapi tidak bisa." Itulah ucapan yang ia dengar setelahnya. Suaranya melirih.
Kalimat itu diabaikan. Ia mulai mengetik sesuatu di dalamnya. Sebuah alamat yang Hidan sendiri baru pertama kali mengetahuinya.
—marduk 789—
Hidan membaca baik-baik papan nama vertikal yang menempel di sebelah gerbang masuk. Dari depan pintu gerbang yang tidak tertutup, terlihat deretan batu pusara yang terampelas halus. Sekeliling makam dilingkupioleh pagar besi tiga meter yang setiap pilarnya dililit oleh ukiran spiral berwarna emas. Pemakaman ini jauh di kaki gunung yang sepi dan tenang, tempat yang cocok untuk tidur selamanya. Butuh waktu tiga jam untuknya agar mencapai posisi sekarang.
Hidan melangkah masuk. Ia menghapal di luar kepala blok berapa yang harus ditujunya agar menemukan makam yang ia cari. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk, hanya membutuhkan waktu lima menit berjalan hingga ia berhenti tepat di depan makam seseorang.
Pijakan kakinya melemah ketika membaca nama yang tercetak tegak di dalam batu marmer hitam. Hyuuga Hinata, tertulis di atas batu yang terlihat mahal itu. Benar saja, tidak lama, ia terjerembap hingga wajahnya hampir mencium makam mantan kekasihnya. Tubuhnya terus dibiarkan begitu, walaupun saraf-saraf di tubuhnya telah mengantarkan sinyal untuk segera menyudahinya.
Tidak ada yang menginginkan bertemu kembali dengan cara begini. Hidan pun dapat menerima keberadaan tragedi di dalam kehidupan. Ia siap jika suatu saat nanti pembuluh darahnya pecah karena keseringan meminum alkohol; ia juga siap jika rentenir datang membawa algojonya. Namun ia sungguh belum siap jika tragedi itu telah ada saat ia tidak mengetahui apapun.
Ia menahan hasratnya untuk menangis. Walaupun pandangannya telah mengabur dengan banyaknya cairan yang memenuhi permukaan matanya, ia terus bertahan. Ia boleh menangis di mana pun, kecuali di sini. Hinata tentu sudah terlalu banyak memakan kesedihan dan ia tidak ingin menunjukkannya meskipun itu untuk mewakilkan hatinya yang sedang sungkawa.
"Aku baik-baik saja…. Aku baik-baik saja…." Itulah kalimat yang terus diputar lidah Hidan hanya untuk sekadar menenangkan dirinya yang hancur.
—marduk 789—
Saat Neji memasuki ruangan Hiashi, sosok pria itu sedang berdiri sambil memandang kosong pada taman dari sebalik jendela kaca. Kedua tangannya terkait di belakang tubuhnya.
"Kau membiarkannya pergi?" tanya Hiashi kemudian.
Neji sedikit membungkuk. "Maaf, Paman. Kurang bijak rasanya jika dia dibiarkan tidak tahu apapun lebih lama lagi."
Hiashi memejamkan matanya. "Namun setelah ini, apa akan dapat dikendalikan?" tanyanya dengan suara yang masih tetap tenang dan dalam kendali.
"Aku akan berusaha."
"Aku tidak ingin Hime mengetahui dia adalah ayahnya, cukup dia yang tahu bahwa Hime adalah anaknya. Jika tidak, maka perjanjianku dengan Hinata tidak akan berlaku lagi."
"Aku mengerti." Neji membungkuk untuk yang terakhir kalinya lalu keluar ruangan.
—marduk 789—
Saat Hidan mencapai pintu gerbang kecil depan kediaman Hyuuga, matahari telah habis termakan horizon sejak tiga jam lalu. Ia menatap gerbang itu lama lalu memindahkan pandangannya ke arah dua pohon besar yang berada di sudut. Di sana kosong. Kakinya memutar arah, menuju pintu gerbang besar yang akan kembali mengantarkannya pada jalan.
Mantel hijau tua yang ia kenakan tidak terlalu dapat menahan udara dingin yang menari di sekelilingnya. Malam di musim dingin memang selalu begini; kaku dan kejam. Setelah ia menaikkan leher mantelnya lebih tinggi, kedua tangannya disisipkan pada masing-masing saku yang ada di sisi mantel.
Sepanjang perjalanan, selasar di pertokoan begitu ramai dan hidup. Lampu kecil warna-warni menjalar melilit pohon yang daunnya telah meranggas sempurna. Sesekali ia melihat pasangan muda-mudi melewati langkahnya. Di saat begini, hampir setiap pintu toko akan lebih sering terbuka. Dalam jarak beberapa hari dari sekarang, Natal akan datang. Bagi mereka, Natal tidak lebih dari perayaan kegembiraan daripada perayaan keagamaan yang takzim.
Hidan terus berjalan hingga kakinya memasuki bar yang berada agak tersembunyi di sudut kota. Aroma alkohol dan aroma asap rokok yang menempel di setiap properti bar menyapa penciumannya pertama kali. Kakinya terus melangkah menuju konter yang berada di ujung ruangan. Bartender menyambutnya.
"Seperti biasa," gumam Hidan kepada bartender itu yang memang sudah lama dikenalnya.
Sebuah botol hijau gelap berpindah ke depannya. Tutupnya yang telah dibuka mengantarkan aroma yang ia suka.
Ketika ia menyentuhkan tangannya pada permukaan botol, perjanjian itu melintasi pikirannya. Ia segera menepisnya dengan menggeleng lemah. Sekarang, setelah tujuan utamanya terjawab dengan tidak memuaskan, ia tidak acuh lagi dengan surat-surat itu. Yang ada di pikirannya sekarang hanya untuk segera melepaskan bebannya dengan cara satu-satunya yang ia ketahui.
"Tidak biasanya kau terlihat ragu-ragu. Apa kau baik-baik saja?" tanya bartender bernama Pein itu.
"Menurutmu bagaimana caraku agar terlihat baik-baik saja?"
"Minum."
"Aku setuju untuk yang itu."
Lantas Hidan menenggak isi botol tadi hingga tandas. Pein kembali menyediakan minuman yang sama. Terus berulang hingga empat botol telah kosong dalam hitungan lima menit.
—marduk 789—
Neji terlihat memasuki pintu bar. Pandangannya disebarkan ke berbagai arah. Di satu sudut, ia menemukan orang yang dicarinya sedang duduk di salah satu kursi depan meja konter. Kepalanya menumpu pada meja konter dengan tangan kanan yang masih memegang botol minuman.
Dengan kharismanya yang kuat, ia berhasil menarik perhatian orang yang dilewatinya, termasuk wanita-wanita yang lebih memilih memandang perpindahannya alih-alih pasangannya sendiri. Neji mengabaikan setiap pandangan yang ditujukan padanya. Matanya tetap merangkup pada satu arah. Tampak raut yang harusnya selalu terlihat datar kini mengeruh.
"Apa kau lupa janjimu?" tanyanya dengan nada tajam.
Hidan berusaha menaikkan kepalanya. Wajahnya sempurna menyamai warna tomat. Sayangnya, Neji harus gigit jari karena tujuan pria di sebelahnya mengangkat kepalanya bukan untuk merespons pertanyaannya, melainkan untuk kembali menyeret ujung botol mendekati bibirnya.
Neji menarik paksa botol Hidan. Dengan satu tangannya yang bebas, ia menarik leher mantel Hidan hingga ia terjatuh dari kursinya. Di saat itulah kesadarannya sedikit menormal. Tindakan Neji mengundang tanya dari pengunjung lain, bahkan pemuda yang duduk dua kursi dari Hidan rela melepaskan tempatnya.
"Oh, kau rupanya, hik," ujar Hidan sambil berusaha berdiri. Tangannya menumpu pada ujung meja konter. "Pein, kau tahu, hik, dia yang aku ceritakan, hik, tadi. Tampan, bukan, hik? Dengan wajahnya, hik, ini, dia akan cepat laku di, hik, klub homo itu." Setelahnya terdengar tawa terpatah-patah darinya. Wajahnya dengan cepat berubah, tampak alur sedih di sana. "Tapi, hik, Hinata-ku—"
"Kau mabuk. Aku akan mengantarmu pulang."
Neji merangkul Hidan namun segera ditepis. Pria bermantel hijau tua itu meletakkan tangan kanannya di atas bahu kiri Neji lalu menepukkannya berkali-kali. "Aku tidak mabuk, hik... Aku hanya, hik, cegukan dan kepalaku, hik, agak pusing."
"Kalau begitu, kau tidak lupa dengan perjanjian yang sudah kausetujui, 'kan?"
"Oh, itu, hik… aku mengurungkannya, hik," ucapnya santai. Tangannya ia kibas-kibaskan. "Sekarang, hik, pulanglah. Anggap kita, hik, tidak kenal…."
"Kau tidak bisa melepas begitu saja tanggung jawabmu. Kupikir kau akan bersimpati pada anakmu sendiri. Lagi pula, tidak ada gunanya berbicara pada orang mabuk."
Hidan menatapnya tajam. Dengan mengabaikan kalimat terakhir Neji, ia membalas, "Anakku, hik? Leluconmu lucu sekali, hik. Apa dia, hik, benar anakku…? Bisa saja Hiashi, hik, brengsek itu memaksa, hik, Hinata-ku menikahi orang lain, hik." Hidan segera menggeleng, memberi perkiraan yang baru melintas. "Atau bisa saja, hik, ini hanya akal-akalan, hik, kalian untuk mendapatkan, hik, hatiku."
Neji memejamkan matanya. Ia menarik napas dalam. Entah kalimat yang mana, ia tidak dapat menerima perkataan Hidan. Harga diri seorang Hyuuga ada di tangannya sekarang, ia tidak dapat begitu saja membiarkan orang mabuk berkata sembarangan tentang keluarganya.
Segera saja sebuah tinjuan keras mengarah pada wajah merah Hidan. Pria mabuk itu tersungkur di atas lantai. Setelahnya, iris ungunya menghilang dari sebalik kelopaknya. Terdengar napas halus; alih-alih pingsan, ia tertidur.
Neji mengembuskan napasnya. Begini jauh lebih baik. "Sudah kubilang, lebih baik kau segera memukulku pagi itu sebelum aku yang melakukannya…."
—bersambung—
