Chapter IV: Cincin Kayser-Fleischer
Beberapa hari setelah Hidan menjalani rangkaian tes di rumah sakit milik Hyuuga Club, hari mulai berjalan begitu lambat. Sebagian besar hari-harinya hanya dihabiskan di kediaman Hyuuga sejak kejadian mabuk parah itu. Hiashi sama sekali tidak memarahinya, hanya saja tatapannya menjadi semakin menusuk, bahkan lebih menusuk dari tatapan penolakannya dulu. Bukan Hidan namanya kalau pria 29 tahun itu menggubrisnya.
"Kamarmu akan dipindahkan."
Hidan memutar kepalanya, mendapati Neji telah berdiri di dalam kamarnya, salah satu tangannya memegang amplop berwarna cokelat. Ia bangkit dari keheningannya menatap rumput di bawah telapak kakinya. Dengan sekali helaan napas berat, ia beranjak mendekati Neji melalui pintu yang membatasi kamarnya dengan suasana luar.
"Dipindahkan? Aku harap tempatnya jauh dari sini."
"Jika itu maumu, maka harapanmu tidak akan pernah terkabul. Paman Hiashi mengizinkanku memindahkan kamarmu ke kediaman utama Hyuuga agar kau dapat terawasi," responsnya datar. "Atau setidaknya, ketika aku dan Paman Hiashi sedang di kantor, Tenten masih dapat mengawasimu."
"Tenten?"
"Dia pengasuh Hime."
Terbayang di benaknya sosok gadis bercepol dua yang sering terlihat bersama Hime. Terkadang, ketika mereka berpapasan di lorong, gadis itu sering melemparkan senyum ramah padanya sebelum membungkuk pendek. Setiap itu terjadi, Hidan tidak pernah memberikan senyumnya. Pun begitu, Tenten masih memberinya senyuman. Yang sempat terpikir oleh Hidan, mungkin itulah salah satu tugasnya sebagai pengasuh Hyuuga Hime.
"Kalau kau tidak mau membereskan pakaianmu, aku akan menyuruh salah satu pelayan." Kalimat Neji berhasil membangunkan lamunannya. "Tapi sekarang ada yang ingin kubicarakan."
Hidan menaikkan satu alisnya. Neji mengerti untuk tidak terlalu lama membuatnya penasaran. Ia lalu duduk dengan meletakkan amplop yang ia bawa ke atas meja persegi berkaki pendek itu. Tidak lama, Hidan mengambil posisi duduk di hadapannya. Matanya menilai amplop yang lumayan besar itu sebelum mengeluarkan isinya.
Neji melihat kerutan muncul di dahi Hidan. Jelas pria di depannya tidak mengerti maksud dari tabel-tabel berisi singkatan huruf dan angka serta lembaran lain yang tidak jauh berbeda isinya. Yang terbaca olehnya hanya judul besar di setiap kertas, hasil tes laboratoriumnya.
"Seperti yang diduga, darahmu memang cocok dengan Hime. Tapi hatimu terlalu kotor untuk didonorkan."
"Ternyata memang tidak berjodoh." Hidan melepaskan seringainya. "Siapa pun bisa memiliki golongan darah yang sama, tapi bukan berarti aku ayahnya, 'kan? Dengan begini aku akan lebih cepat mendapatkan kebebasanku."
"Kalau begitu, tidak mungkin aku menyuruhmu pindah kamar. Lagipula, dokter mengatakan bahwa hatimu masih dapat disehatkan kembali. Mulai sekarang, kau benar-benar tidak diizinkan mengonsumsi makanan yang dapat memperparah hatimu. Juga, seperti yang tertulis di poin keempat, kau harus menjalani hidup sehat."
Sungguh Hidan tidak pernah mendapat mimpi yang lebih buruk dari ini. Mendengar kata hidup sehat saja membuatnya berdesir. Selama ini ia hanya mengerti hidup, tanpa diikuti sehat. Dan baginya, hidup itu akan tetap mudah asal ia masih dapat melakukan hobinya.
"Aku menolaknya."
"Kau sudah menandatanganinya."
"Persetan dengan itu! Kau dapat merobeknya atau bahkan membakarnya. Aku tidak peduli lagi dengan imbalannya!"
"Tidak bisa. Namamu telah tercatat di Hyuuga Club sebagai pemilik 20% saham Hyuuga. Kau tahu, perusahaan mana pun akan menjaga sahamnya agar tidak turun; jadi akan sulit bagimu untuk begitu saja melepas tanggung jawab." Kini Neji tidak dapat menahan ujung bibirnya untuk tidak terangkat. Dan itu membuatnya kesal. "Kau sudah terperangkap di labirin Hyuuga. Hanya ada satu jalan keluar di antara bercabang-cabang jalan. Jika kau tidak ingin menemui jalan buntu; maka ikutlah bermain, aku akan membantumu."
Hidan tidak bisa melihat ketulusan di antara seringai yang terpatri di wajah cenderung pucat Neji. Napasnya menderu untuk segala kebuntuan yang diberi Neji. "Kalian menjebakku!" tukasnya tajam.
"Pada dasarnya, sulit menegakkan kebenaran jika kau adalah pengacara, tapi aku tidak menjebakmu. Orang seperti Paman Hiashi tidak ingin ada orang luar terutama saingan bisnisnya tahu, di antara pilar-pilar kokoh beton yang ia bangun terdapat kecacatan di dalamnya. Makanya kau satu-satunya yang terpilih. Walaupun kau bermulut besar, aku yakin—sejak pertama kali melihatmu, kau tidak akan tertarik mengatakan kecacatan pamanku karena kau salah satu yang menyebabkan kecacatan itu."
"…Maksudmu?"
"Hime mengidap wilson's disease, salah satu penyakit yang jarang ditemui. Hinata merupakan agen pembawa penyakit itu…. Kalau kau tidak percaya dia anakmu, tidak mungkin—" Seketika itu juga, ponsel Neji berdering. Satu panggilan masuk. Tidak lama, pria itu berpamitan tanpa berniat melanjutkan kalimatnya, meninggalkan Hidan yang masih penuh tanya.
—marduk 789—
"Kak Tenten…."
Tenten menaikkan pandangannya ketika Hime berhenti menggoreskan krayon kuning pada gambar bunga di buku menggambarnya. Akhir-akhir ini gadis pengasuh itu lebih sering mendapati raut nona kecilnya bersedih. Tiga tahun ia bekerja di sini, tentu saja membuatnya hapal dengan gestur Hime.
Entah kapan tepatnya sifat itu mulai terbentuk pada diri Hime, namun ia merasa Hime telah tumbuh bersama sifat dan sikap yang membuatnya berbeda dengan anak sepantarannya. Gadis kecil satu-satunya milik Hyuuga itu terkesan lebih dewasa untuk anak seusiannya. Bukan berarti ia tidak pernah menangis. Tidak jarang ia melakukan itu, tapi tidak dengan rengekan yang menyebalkan.
Dan ketika raut sedih itu datang, alih-alih menangis, ia terlihat lebih tegar. Di titik inilah ia menjadi Hime yang melankolis, menanyai apa pun yang mengganjal di hatinya, seperti sekarang.
"Kenapa kuning?" pertanyaan itu terlontar halus dari lidahnya.
Alis Tenten hampir bertaut. Menghadapi Hime tidak akan semudah perkataan orang yang menganggapnya anak yang kalem. Di dalam keheningan itulah berbagai pertanyaan tersimpan hingga di satu waktu akan keluar juga. Tidak jarang ia akan melemparkan pertanyaan yang bersifat ambigu.
Walaupun Tenten tahu sasaran pertanyaannya, namun ia mencoba membalas dengan jawaban yang akan dengan umum diterima anak-anak.
"Karena kelopak bunga matahari hanya memiliki warna kuning," responsnya dengan nada ceria sambil pandangannya mengarah pada bunga yang ada di buku gambar.
"Bukan itu maksudku…." Tenten menelan liurnya. "Kenapa tubuhku berwarna kuning…? Ibu, Kakek, dan Paman Neji tidak begitu. Apa karena itu tahun ini aku tidak bisa masuk TK?"
"Ah… itu—" Satu perjanjian yang harus ia patuhi: jangan katakan apa pun tentang penyakit Hime, membuatnya bingung untuk menjawab. "Mungkin—"
"Kalau tubuhmu memang kuning, lalu kenapa?"
Mata Tenten membuka lebar. Jelas bukan ia yang mengatakan itu. Suara yang ia dengar lebih berat.
Saat ia membalikkan tubuhnya, sosok Hidan terbayang di irisnya juga Hime. Ia melangkah mendekati sofa hitam panjang dengan satu tangannya memegang gelas berisi teh hangat. Setelah mendudukkan tubuhnya, ia menyetel TV berlayar tipis di depannya.
Sejak kemarin, kamar Hidan resmi berpindah. Di sini, ia dapat dengan santai melakukan apa pun yang ia mau seolah ini rumahnya, namun hanya terbatas ketika kepala keluarga sedang tidak di rumah.
"Tu-Tuan Hidan!"
Tanpa mempedulikan Tenten, ia menyesapi tehnya. "Tidak semua orang memiliki kulit seperti ibu, kakek, dan pamanmu itu. Jika kau diberi kesempatan untuk mengunjungi negara yang ada di selatan, kau akan menemukan kulit mereka lebih gelap. Menurutku, kau tidak terlalu kuning. Yah, katakanlah seperti kulit buah pir," ucapnya sambil mata terfokus pada tayangan.
"Benarkah?"
"Kalau menurutmu aku berbohong, kau tidak perlu memercayainya."
Hime menatapnya selama beberapa detik. Dari iris violetnya, entah apa dari wajah Hidan yang membuatnya tersenyum. Ia mulai menyukainya. Sayangnya pria itu sama sekali tidak memerhatikan matanya yang berkilat senang.
—marduk 789—
Hidan membuka matanya. Hari ini ia hanya bisa tidur selama tiga jam. Seberusaha apa pun ia menutup matanya, beberapa menit kemudian akan kembali terbuka, seperti yang terjadi saat ini.
Ia menyingkap selimut tebalnya lalu bangkit duduk di atas kasur lipatnya. Jarum pendek jam baru saja melewati angka lima, masih terlalu subuh untuk bangun. Ia merutuk. Sejak tinggal di sini, ia jadi sulit tidur. Jika saja ia bisa meminum beberapa kaleng alkohol, pasti tidak akan serumit ini.
Ia menepuk pipinya berkali-kali sambil berkata, "Jangan pikirkan itu lagi. Jangan, jangan, dan jangan!" Lalu mengembuskan napasnya kuat-kuat.
Ia bangun dari duduknya. Tidak ada yang dapat dilakukannya sekarang melainkan keluar kamar. Beberapa lampu tidak menyala dan beberapa lagi diredupkan ketika ia menyusuri setiap jengkal kediaman utama Hyuuga. Rumah ini paling besar dibanding empat rumah lainnya. Bentuk dalamnya tidak jauh berbeda dengan rumah tradisional lainnya, hanya saja lebih berkelas. Dari luar terlihat ketinggalan zaman, namun perabot di dalamnya tetap mengikuti perkembangan zaman sehingga tidak ada persepsi kolot ketika memasukinya.
Ketika ia berbelok menuju ruang keluarga, terlihat cahaya dari arah dapur yang tampak begitu kontras dengan cahaya lain. Ia tertarik untuk melihat siapa yang berada di sana.
Hime terlihat membawa kursi plastik pendek mendekati konter. Setelah meletakkannya di bawah, ia menaikinya. Hidan terus memerhatikan gadis kecil berpiyama ungu itu dari mulut dapur. Keingintahuannya terjawab ketika Hime kesulitan meraih gagang lemari gantung yang ada di atasnya.
"Perlu bantuan, Nona?"
Hime memutar tubuhnya. Pandangan mereka berserobok. Hime mengedipkan matanya refleks. Di lain sisi, Hidan menelan salivanya. Sesaat ia seperti melihat sosok Hinata di sana. Mata itu terpejam untuk sedetik sebelum kembali terbuka.
Hidan sedang bersandar dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Setelah kesadarannya kembali, ia mendekati Hime meskipun belum dijawab.
"Lemari yang ini, bukan?"
Hime mengangguk. Matanya terus menilai pria yang kini telah berdiri di sebelahnya. Ia merasa dirinya terlihat begitu kecil.
"Apa yang mau kaucari?" tanya Hidan kemudian.
"Su-susu bubuk…."
Pria itu menaikkan alisnya, tapi tidak ada pertanyaan yang meluncur. Ia mengambil kotak susu lalu memberikannya pada Hime.
"Terimakasih…. Suatu saat nanti aku akan tinggi seperti Paman Hidan."
Hidan tanpa sadar mengulas senyum tipis. "Bagus, aku suka semangatmu. Setidaknya kau harus sejengkal lebih tinggi dari ibumu."
Iris keunguan gadis kecil itu berbinar. Ekspresi yang jarang tertampil di depan Hyuuga lain dan Tenten. "Paman mengenal Ibu?"
"Hm…," pria itu mengusap dagu, sengaja membuat Hime penasaran dengan jawabannya, "ya, aku mengenalnya."
"Ibu orangnya seperti apa?"
"Apa kakek atau pamanmu tidak pernah mengatakannya?"
Ia menggeleng pelan. Air wajahnya berubah dengan cepat dan Hidan sama sekali tidak menyukai itu bahkan sejak pertama kali melihatnya. "Padahal Kakek dan Paman Neji sudah kuberi tiket…," lirihnya.
"Tiket?"
"Iya… ah, Paman Hidan juga harus mendapatkannya. Pegang ini dulu."
Hime lantas memindahtangankan kotak susu yang tadi ia pegang pada Hidan. Tentu ini membuat pria itu bingung. Apalagi ketika gadis Hyuuga itu pergi berlari meninggalkannya. Hidan hanya bisa menghela napas. Ia menatap kotak susu di tangannya. "Ada apa dengan anak itu…," ujarnya pelan pada dirinya.
Tidak lama, ia mendengar derap kaki yang sama. Hime kembali membawa sesuatu di tangannya. Sebuah kertas berwarna ungu seukuran kartu nama ia sodorkan pada Hidan.
"Paman harus berjanji akan menceritakannya." Gadis itu menarik tangan kanan Hidan lalu meletakkan kertas itu di atasnya.
Dengan ekspresi bingung, Hidan menilai kertas di tangannya. Di bagian atas tertulis nama perusahaan Hiashi; di bawahnya berisi pernyataan bahwa ia harus menepati janjinya. Semua itu ditulis dengan tangan. Deretan huruf warna-warni membuatnya pening sejenak.
Awalnya cukup sulit untuk dapat membacanya karena memang ada beberapa tulisan yang salah ataupun huruf yang terbalik. Dan ketika ia berhasil membaca hingga tuntas, pria itu tertawa.
"Tulisanmu jelek sekali," guraunya. Hime menggembungkan pipinya. Hal itu lantas membuat Hidan semakin ingin menggodanya. "Bahkan tulisanku tidak sejelek ini dulu." Ia masih tertawa. Namun sesungguhnya ia tertawa bukan karena tulisan Hime, tapi hal lain. Sayangnya ia tidak mendapatkan jawaban untuk hal lain itu, selain hatinya yang dapat menghangat di akhir Desember ini.
"Aku sudah berusaha menulisnya dengan huruf yang kuingat," gumamnya dengan nada kecewa.
Hidan mengangguk memaklumi. "Tapi tidak terlalu buruk juga untuk anak yang belum bersekolah sepertimu." Ia tersenyum, atau lebih tepatnya menyengir. "Kenapa aku harus menerima ini?"
"Karena Paman sudah berjanji." Hidan mengingat-ngingat percakapan sebelumnya. Ia yakin tidak berjanji apapun. "Itu bukti kalau Paman sudah berjanji. Paman harus membayarnya. Sudah kutulis di situ kalau Paman berjanji menceritakan tentang ibuku. Kalau sudah dibayar, aku akan memberi 'bintang'. Dengan tanda 'bintang' itu, artinya Paman telah menepati janji dan sebagai imbalannya, Paman boleh meminta sesuatu padaku."
Hidan terdiam. Entah mengapa ia merasa urusan janji-berjanji ini mengingatkannya pada Hiashi. Agaknya Hime turut kecipratan sifat menyebalkan kakeknya. Tapi pria itu tidak ingin terlalu mempermasalahkannya.
"Kau terlalu manis untuk ditolak," ujarnya. Sengiran itu belum menghilang. Dan untuk sesaat ia seperti terseret arus masa lalu. Dalam kilasannya, ia pernah mengatakan kalimat yang sama, waktu Hinata mengutarakan perasaannya padanya.
Ketika ia terbangun dari renungannya, Hime sedang menatapnya dengan kedua mata besarnya. Di titik itulah untuk pertama kalinya Hidan dapat melihat jelas lingkaran kuning yang mengelilingi iris luarnya.
"Paman kenapa?" tanyanya setelah sengiran pria itu menghilang beberapa detik lalu.
"Ah, tidak… tidak apa-apa. Bagaimana dengan susumu?" Ia teringat dengan kotak susu yang dipegangnya.
"Aku sudah tidak ingin minum lagi. Terimakasih, Paman!" Ia membungkuk sebelum melenggang meninggalkannya yang masih terpaku dengan kotak susu dan sebuah tiket di masing-masing tangannya.
Untuk yang terakhir kalinya, Hidan melepaskan tawanya. Sepanjang yang ia ingat, ia lebih sering tertawa karena ejekan yang ia lontarkan pada orang yang tidak disukainya.
Perlahan, tangan yang memegang tiket bergerak naik menuju dadanya. Masih terasa hangat di sana. Sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan. Namun, bayangannya pada lingkaran kuning di sekitar mata gadis kecil itu, entah mengapa membuat hatinya terasa nyeri di saat yang sama. Manusia normal tidak akan memiliki lingkaran itu.
Ketika ia kembali ke kamarnya, Neji telah duduk di salah satu kursi. Dahi Hidan mengerut. Bukankah ini masih terlalu pagi untuk membangunkan orang?
"Mau apa kau?" tanyanya dengan nada curiga. Agak aneh melihat Neji dalam balutan kaus putih berlapis jaket biru gelap dan celana olahraga hitam. Tapi tampaknya pria yang lebih muda lima tahun darinya itu tidak terlalu mempedulikan penampilannya.
"Kita mulai dari sekarang."
"Mulai apa maksudmu?"
"Usaha penjernihan. Lari pagi. Menurut prakiraan cuaca, hari ini akan cerah, jadi jangan disia-siakan. Di sekitar sini ada kuil dengan total seratus tangga. Cepat ganti pakaianmu! Aku akan menunggumu di luar."
"Tapi sebelum itu, aku mau memastikan sesuatu." Neji tidak membalas. Hidan melanjutkan, "Lingkaran di mata anak itu…."
"Cincin Kayser-Fleischer. Orang yang memiliki masalah dengan hatinya akan memiliki cincin itu."
Hidan terpaku. Neji meninggalkannya. Hatinya semakin nyeri.
—bersambung—
A/N: Inginnya bercerita sesuatu di sini, tapi ending-nya malah tidak tahu mau bilang apa.
