Chapter V: Hangat

"Baru menaiki tangga ketiga puluh saja kau sudah tidak kuat!"

Dari mata lelahnya, Hidan menatap tajam pada Neji. Tangan kanannya memegang pada pegangan tangga yang semuanya disusun dari batu. Pompaan jantungnya yang begitu cepat membuatnya harus menggambil banyak napas. Kontras dengan asap tipis yang melayang keluar dari mulutnya, permukaan kulitnya memproduksi peluh hingga merembes pada kaus hitam yang terpasang di dalam jaketnya.

"Diam kau, Brengsek…. Kau kira ini mudah untuk orang sepertiku?!"

Neji menghela napas. "Lima menit."

Hidan yang mengerti maksud dari perkataan Neji langsung menjatuhkan diri pada buku-buku tangga. Ia merebahkan tubuh dengan tangan melipat di belakang kepala. Sudut-sudut anak tangga menimbulkan rasa sakit di punggung, namun tidak ia acuhkan. Warna lembayung terpantul dari kedua iris violetnya. Awan tinggi tipis yang berarak pelan menyambut sulur matahari menjadi ornamen pelengkap di kedua ain itu. Samar, terlihat asap yang ia keluarkan.

Berbeda dengan pria yang sedang berbaring di sebelahnya, Neji masih konstan bergerak. Setidaknya sekarang sudah agak melambat, sekadar untuk menormalkan detak jantungnya.

"Kau belum menyelesaikan kalimatmu kemarin," Hidan bergumam yang langsung memperoleh atensi Neji.

"Kupikir, setelah kejadian tadi, kau akan percaya dia memang anakmu." Lantas kalimat Neji mendapat tatapan dari Hidan. "Aku melihatmu bersama Hime."

Hidan mendudukkan tubuhnya. Pandangannya turun pada permukaan tangga lembap yang ada di bawah sol sepatunya. Tatapan itu terlihat nanar seolah akan kehilangan sumber kehidupan. "…Aku ingin memercayainya, tapi di lain sisi, masih ada keraguan…."

Neji turut mengisi kekosongan di sebelah Hidan. Ia mengeluarkan botol minuman dari saku jaketnya lalu meminum sebagian isinya. Matanya terfokus pada ranting-ranting pohon yang basah.

"Kau tahu kenapa Hinata bunuh diri?"

Dalam tundukan kepalanya, ia sedikit mengarahkan ujung penglihatannya pada Neji sebelum kembali terpaku pada permukaan tangga. "Karena Hiashi mengu—"

"Sebenarnya Hinata memohon padanya untuk tidak membunuhmu karena kau telah menghamili anaknya." Jantung Hidan berdegup kencang. Tentu hal ini bukan karena ia belum melakukan pendinginan seperti yang dilakukan Neji. "Sulit baginya untuk menerima permohonan itu karena kehormatan seorang Hyuuga adalah segalanya. Meskipun begitu, dia akhirnya luluh dengan syarat Hinata harus memutus hubungannya denganmu. Dengan begitu, Hime tetap mendapat beberapa persen saham Hyuuga Club."

Hidan terlalu gemap untuk sekadar mengeluarkan satu peri hingga tampak di mata Neji bayangannya yang sedang tergagu mencoba mencerna kalimat si pengacara itu. Jelas pria itu ingin mengatakan sesuatu, namun tikaman tidak terduga dari Neji dapat langsung melumpuhkan impuls otaknya.

Neji melanjutkan, "Inilah jawaban dari alasan yang pernah kautanyakan waktu pertama kali kita bertemu malam itu. Dan seharusnya aku tidak memberitahukan ini." Ia lalu tersenyum kecut seolah ada kegetiran yang terkecap di lidahnya.

Tangan Hidan merambat naik hingga ke dada lalu meremasnya kuat, berharap rasa sakit yang dihasilkan dapat menyamarkan luka hatinya. Namun tidak demikian, rasa ditusuk itu terasa semakin tajam. Terlebih Hiashi turut menjadi biang dari segala jejasnya, juga dirinya sendiri.

"Kenapa… kenapa aku harus percaya…?" Itulah ucapan pertamanya setelah ia dapat mengendalikan perasaannya. "Hiashi dan kau cukup pintar untuk membangun plot yang begitu sempurna ini. Semua sudah kalian atur, 'kan?!" Tangannya menarik ujung jaket Neji. Dapat terlihat amarah yang membara dari kedua bandul ungu itu. Neji hanya bergeming. "Kenapa kau tidak menjawabku, Brengsek?! Apa kau ingin wajahmu membiru?!"

Neji mengeluarkan tawa getir. "Aku tidak mengerti menapa Hinata bisa menyukai orang sepertimu. Tapi percayalah, Paman Hiashi tidak seburuk yang kauduga."

"Lalu kenapa dia melakukan semua itu padanya?!"

"Dia seorang ayah. Hanya cara itu yang diketahui Paman Hiashi untuk melindungi anaknya." Mata Hidan membulat, genggamannya mengendur. Tidak perlu waktu lama bagi ujung jaket itu terlepas dari tangannya. "Kau juga tidak dapat mengelak karena kau juga seorang ayah—walaupun kau belum memercayainya. Tapi jika aku jadi kau, aku juga akan merasa bersalah."

"Sial…. Apa yang telah kulakukan selama ini," lirih Hidan pada dirinya sendiri. Hatinya terlalu kusut sekarang. Begitu banyak perasaan yang akhir-akhir ini mengunjungi kehidupannya.

"Jangan buat dirimu tidak lebih berguna dari kemarin. Ada masa depan yang tersisa untukmu dan Hime." Neji berdiri, pandangannya menatap pada Hidan yang masih mencoba menginterpretasikan setiap perasaannya. "Perasaan sakit yang kaurasakan belum seberapa." Hidan mengangkat wajahnya. "Ada hal lain yang akan membuatmu lebih terkejut dari sekarang, alasan sebenarnya kenapa Hinata bunuh diri."

Ia bersumpah, untuk sesasat tidak ada oksigen yang dapat masuk melalui rongga pernapasannya. Tubuhnya membeku seperti ranting-ranting kaku yang dibalut dingin. "Alasan… sebenarnya?"

Neji mengangguk. "Jika kau memang ingin mengetahuinya, susul aku di atas." Lalu ia pergi meninggalkan lawan bicaranya.

marduk 789—

Hidan menatap ragu pada kemasan transpran yang baru saja diberi Neji. Di dalamnya berisi cairan berwarna cokelat gelap. Jelas itu bukan produk yang dijual bebas di minimarket.

"Apa ini?" tanyanya.

"Obatmu. Kau harus meminumnya setiap hari agar hatimu cepat membaik."

Ia meraihnya. Tidak lama tangannya meremas-remas isinya. Terasa agak kental. Ia lalu membuka tutupnya. Di saat yang sama, tercium bau menyengat; bahkan lebih menyengat daripada minuman beralkohol.

Ia mencicipinya sedikit. Seketika kerutan mengaluri wajahnya. Itulah pertama kalinya ia meminum sesuatu yang lebih pahit dari alkohol.

"Ini pahit sekali! Bahkan dari aromanya sudah tercium pahitnya!"

Neji tidak membalas. Ia lebih menunggu lawan bicaranya segera menuntaskan obatnya. Hidan mengerti untuk tidak mengulur waktu karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.

Ketika iris violet itu tersembunyi di antara kelopaknya, percakapan beberapa jam lalu datang menyapa ingatannya. Neji masih belum mengganti pakaiannya dengan kemeja dan blazer hitam saat itu, jaket masih membaluti tubuh proposionalnya. Pohon cemara dan bangunan kuil masih menjadi latar yang dominan.

Sejak pagi itulah Hidan memantapkan diri untuk tidak terlalu menjadi pengeluh, alasan sebenarnya yang membuatnya lebih percaya bahwa Hime adalah anaknya.

"Sejak lahir, Hime didiagnosa mengidap penyakit langka, wilson's disease. Hinata merupakan agen yang membawa penyakit itu. Di situlah ia mulai merasa bersalah pada Hime dan berniat mendonorkan hatinya. Tapi saat ia mengetahui hatinya tidak cocok dengan Hime, ia semakin tidak dapat memaafkan dirinya sendiri.

"Dengan menanggung beban yang sebegitu berat, sebulan kemudian ia ditemukan meninggal di dalam kamarnya karena overdosis obat tidur. Tidak ada yang menyangka Hinata akan mati dengan cara sesedih itu…." Hidan menggigit bibir bawahnya—bahkan ia hampir lupa bernapas saat Neji kembali menjelaskan, "Tapi masalah sebenarnya, wilson's disease tidak begitu saja dapat tercipta jika hanya Hinata yang membawanya, kecuali jika kau juga memiliki benih penyakit yang sama. Dari tes laboratorium kemarin, kau memang memiliki benih penyakit itu. Lucu sekali… kalian terpisah, tetapi di waktu yang bersamaan tetap dapat menyatu, dalam artian… yah—kau tahu sendiri…," tutup Neji dengan menggantung kalimatnya.

Hidan masih terpaku pada posisinya ketika Neji telah berdiri. Pria Hyuuga itu menyapukan tangannya pada bagian belakang celananya. Sebenarnya itu tidak perlu dilakukan karena musim dingin tidak identik dengan debu, juga tidak ada salju.

"Waktu aku bilang aku akan membantumu, aku tidak sedang bercanda mengatakannya. Daripada kau terus merusak hatimu, lebih baik kau memberikannya pada anakmu. Tidakkah kau merasa bertanggung jawab?"

marduk 789—

Dia benar-benar anakku?

Terus bergelut dengan pertanyaan yang sama di setiap kali matanya menangkap kehadiran Hime. Ia bertanya, namun tidak begitu membutuhkan jawaban. Sebagian besar raganya telah menerima kenyataan itu, hanya sebagian kecil yang masih skeptis sehingga masih ada saja keraguan yang lolos dari pikirannya. Jika sudah begitu, ia akan menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan keraguan itu.

"Apa tidak ada yang bisa dilakukan nona Hyuuga ini selain mewarnai? Kau membosankan," keluh Hidan.

Hime mengangkat wajahnya. Hidan terlihat sedang berbaring di sofa dengan meletakkan kedua lipatan tangan di belakang kepala sebagai bantalan. Walaupun matanya menghadap langit-langit, sesekali—tanpa sepengetahuan Hime—pria itu akan memandang lamat-lamat pada gadis cilik itu.

"Ta-tapi hanya ini yang terus kulakukan."

Hidan memutar kedua bandulnya. Dengan mengeluarkan napas berat—bahkan Hime dapat mendengarnya, Hidan bangkit. "Ayolah… kau bisa bermain di luar. Bermain bersama serangga atau cacing, mungkin."

"Hum—" Hime memainkan jemarinya. Terkadang ia terlihat percaya diri (ingat, betapa antusiasnya ia ketika memberikan tiket perjanjian) dan terkadang terlihat ragu-ragu (seperti sesaat tadi). "Kak Tenten pasti tidak—eh?" Hidan menarik tangannya sebelum kalimatnya sempat tuntas. Tarikan itu mau tidak mau membuat Hime bangun dari duduknya.

"Tenten tidak akan memarahimu." Ketika Hidan akan berjalan, tubuh mungil itu tidak bergerak, membuatnya kembali harus berpaling padanya. "Tidak akan ada yang berani memarahimu—aku janji."

Lantas mata itu membulat besar, penuh binar, seolah kalimat Hidan menjawab permasalahan utamanya. Ia mengulas senyum pada Hidan yang sekarang tidak lagi menatapnya.

marduk 789—

Hidan hanya terbalut kaus cokelat yang dilapisi satu baju penghangat tipis. Meskipun begitu, tetap terasa kehangatan lain yang bersumber dari dalam dadanya. Melihat Hime tertawa lepas, atau sesekali cemberut, atau wajah kosong polosnya, atau hal lain yang tertampil, cukup ampuh menahan rasa dingin yang harusnya menusuk hingga menembus tulang.

Sedangkan Hime, pakaiannya cukup tebal. Berlapis-lapis. Karena itulah, sebagian besar perjalanannya dihabiskan dengan menempel di punggung Hidan.

Pria itu mengatakan dengan lantang kalau pergerakan Hime yang lebih lambat dari siputlah yang membuatnya harus menggendong gadis itu—dan jika tidak ingin kantong emosinya turut jebol. Tapi alasan utamanya adalah ia tidak ingin gadis itu lelah berjalan. Siapa pun yang memiliki penyakit, pastilah akan mudah kehabisan tenaga.

"Paman…."

"Hm?"

"Bagaimana ibuku?"

Hidan merasa pelukan Hime pada lehernya mengerat. Mata Hidan refleks bergerak hingga ke ujung sebelum kembali pada jalanan basah. Instingnya mengatakan bahwa gadis itu belum cukup siap mendengar tentang ibunya sekarang.

"Aku belum mau membayar tiketmu."

"Ta-tapi—"

Hidan mendengus pelan. "Kalau kau ingin melihat ibumu, kau cukup bercermin. Bedanya, rambutnya lebih panjang."

"Paman Neji juga bilang begitu, tapi aku ingin tahu le—kyaaa!"

Dengan gerakan cepat, Hidan memindahkan gendongannya ke depan. Wajahnya dibuat seolah sedang kesal. Raut bersalah yang ditampilkan Hime menggoda Hidan untuk mencubitnya. Ia berusaha tetap menahan hasratnya itu.

"Ma-maaf, Paman…," lirihnya, hampir menyamai bisikan.

Hidan pura-pura tidak mendengarnya. "Apa? Kau barusan ngomong apa?"

"Maaf, Paman!"

"Jangan coba-coba membuatku lebih marah dari tadi, oke?" Tertampil lengkungan di wajah Hidan. Senyuman tulus yang sempat menghilang dari wajahnya.

Hime mengangguk pelan, membalas senyuman itu.

"Apa kau pernah berlari?" tanya Hidan kemudian.

"Be-belum."

Hidan mengeratkan gendogannya. "Pegangan yang kuat. Lebih menyenangkan melihat sekeliling ketika berlari, daripada melihat dari dalam mobil." Dan semoga saja aku tidak mati kehabisan napas setelahnya.

Hime membenamkan wajahnya pada leher Hidan. Tercium aroma yang masih asing. Aroma yang cukup aneh untuk dihirup oleh anak-anak sepertinya. Tapi tak mengapa, ia tidak keberatan.

.

Ketika mereka sampai di pekarangan kediaman Hyuuga, matahari telah terbenam dan Hime telah tertidur di gendongan Hidan. Senyum sepanjang perjalanan pulangnya lantas luntur begitu saja saat melihat satu mobil polisi terparkir di sebelah mobil Neji.

Perasaan Hidan mulai tidak enak. Ia mudah sentimen dengan segala hal yang berbau polisi karena masa lalunya terlalu penuh dengan warna.

Benar saja, Hiashi, Neji, Tenten, dan dua orang polisi menatap dirinya tajam ketika ia muncul dari sebalik pintu geser.

"Kenapa melihatku begitu?" tanyanya tidak kalah tajam.

Neji menurunkan ponsel dari telinganya. "Darimana saja kau, Bodoh? Aku meneleponmu dari tadi!" teriaknya tertahan karena melihat Hime sedang tertidur di tangan Hidan.

Hidan memutar matanya. "Ponselku mati. Lagian aku hanya mencari udara segar."

"'Aku' kau bi—"

"Maaf atas kesalahpahaman ini." Perkataan Neji terputus oleh ucapan tidak terduga Hiashi pada kedua polisi. Pria separuh baya itu membungkuk. Neji dan Tenten lantas mengekor tindakan Hiashi. Hanya Hidan yang tetap anteng. Ia tidak merasa bersalah.

Satu polisi mengatakan beberapa patah kata sebelum pergi meninggalkan kediaman Hyuuga. Sesekali mata mereka tertuju pada Hidan yang mendengus kesal. Jelas pria itu ingin kedua polisi itu segera pergi sebelum sentimennya mencapai titik tertinggi.

"Tenten." Hiashi memberi kode pada si pemilik nama. Tenten mengerti untuk segera mengambil alih Hime dari tangan Hidan. Gadis itu lantas memasuki lorong menuju kediaman utama.

Mereka tinggal bertiga. Nejilah yang bergerak pertama kali, menggelengkan kepala, frustasi.

"Apa kalian berpikir aku akan menculiknya lalu menjualnya?"

"Bukan itu, Bodoh! Kau tidak tahu apa yang akan terjadi di luar sana!" Neji membalas.

"Nyatanya dia baik-baik sa—"

PLAK!

Tamparan penuh tenaga mendarat di wajah Hidan. Selain pipinya memanas, dinding mulutnya terkoyak hingga darah segar keluar melewati sela bibirnya. Bahkan Neji terkejut melihat apa yang telah dilakukan pamannya. Hiashi yang selalu bertindak tenang, dapat tersulut juga hatinya, walaupun amarah itu tidak tertampil di wajahnya.

"Aku akan menjaganya dengan caraku." Itulah yang terucap oleh kepala keluarga Hyuuga. Ia berbalik untuk meninggalkan Hidan dan Neji sebelum jawaban lolos dari mulut Hidan.

"Aku juga akan menjaganya dengan caraku! Dia anakku!" Meluncur begitu saja. Tanpa keraguan. Tidak ada penyesalan yang tertinggal.

Hiashi melanjutkan langkahnya yang tertunda. Sedikit pun tidak melihat ke belakang, seakan-akan apa yang dikatakan Hidan tidak dapat dipercaya.

Pria itu berang. Ia akan mengejar Hiashi, sayangnya bahunya ditahan Neji. Ia berpaling, matanya masih membara.

"Percuma saja, dia tidak akan mau mendengarmu." Lalu ia menepuk pipi lebam Hidan dan itu berhasil membuatnya meringis hebat.

'Brengsek….' Hanya kata itu yang dapat ditelan Hidan malam itu.

bersambung—